Pada dua posting terdahulu, meminjam intisari pemikiran Fritjop Capra, saya mengangkat pentingnya kita belajar dari alam untuk dapat menjaga kelestarian lingkungan hidup dan juga untuk dapat hidup dalam harmoni dalam komunitas besar umat manusia. Berbagai prinsip bekerjanya alam seperti saling keterkaitan dan kebergantungan, mengimplikasikan pentingnya umat manusia menjalin persahabatan dan kerja sama. Beginilah sistem kemasyarakatan mesti tumbuh.
Ada satu faktor kunci yang amat besar pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat ini, yaitu faktor kepemimpinan. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang memiliki kekokohan moral, kecerdasan pikiran dan keterampilan manajerial. Terkait hal ini, Gatra online menyajikan sebuah reportase Nasional dalam sub-topik Bencana Alam dengan judul:
PBNU: Bangsa Indonesia Harus Tobat. Berikut ini petikan reportase tersebut:
"Beruntunnya bencana sosial dan bencana alam yang sampai hari ini belum
ada tanda-tanda peredaan menurut perhitungan rasional sudah berada di
atas batas kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasinya,"
katanya [kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi].
Karena itu, tambah Hasyim, tidak ada cara lain kecuali meminta pertolongan Tuhan yang dimulai dengan bertobat secara nasional. "Ada ketidakberesan di negara ini yang dimulai secara kolektif yang
oleh karenanya harus diakhiri secara kolektif pula," kata pengasuh
Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.
Hasyim mengaku telah berusaha mencari literatur mengenai asal-muasal
bencana dan jawaban yang pas dengan situasi yang terjadi di Indonesia
justru terdapat di kitab suci Alquran.
Ia lantas mengutip Alquran, Surat An Nahl, ayat 112. Di situ disebutkan
"Dan Allah memberikan contoh sebuah negeri yang aman tenteram, rizki
melimpah datang di negeri itu dari segala tempat, kemudian penduduk
negeri itu durhaka dan ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah
menimpakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka
perbuat sendiri".
Dalam terminologi Alquran, kata Hasyim, ada dua macam bencana. Pertama,
bencana yang memang semata-mata kehendak Allah. Kedua, bencana akibat
kesalahan manusia, baik kesalahan fisik seperti perusakan hutan yang
mengakibatkan banjir dan kekeringan serta kesalahan moral seperti
kemaksiatan yang merajalela, pengkhianatan terhadap amanat, hukum,
kebohongan dan kepura-puraan.
***
Seruan KH. Hasyim Muzadi agar kita berintrospeksi sudah sangat tajam dan melingkupi berbagai sisi kehidupan. Bahkan beliau sudah mengangkat sisi transendental, yaitu perlunya kita memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Penyayang atas berbagai kelalaian dan kesalahan kita. Saya hanya ingin lebih menekankan satu dari sekian kelalaian itu, yaitu permasalahan kebijakan perekonomian yang seringkali tidak ramah lingkungan.
Pada dimensi kesadaran dan pemikiran kolektif, masih banyak orang yang menganggap alam ini "wajar" dieksploitasi, sebab untuk itulah ia ada. Karenanya seringkali perhitungan bisnis dan ekonomi mengabaikan "pembayaran" terhadap alam yang telah dieksploitasi itu. Hal yang sama juga terjadi ketika berbagai kegiatan bisnis, industri dan ekonomi menghasilkan sampah (waste). Masih belum muncul kesadaran kolektif, bahwa membuang sampah itu menjadi beban bagi alam. Karenanya alam, setelah dieksploitasi habis-habisan, juga dipaksa menjadi tong sampah raksasa dengan berbagai polusi di dalamnya. Inilah yang terjadi pada pencemaran udara, sungai, tanah dan lautan.
Jared Diamond menyimpulkan dalam bukunya
Collapse: How Societies Choose to Fail or to Succeed, bahwa diantara faktor yang membuat punahnya satu masyarakat adalah kerusakan lingkungan yang melewati ambang batas dan kelemahan kepemimpinan dalam menentukan pilihan-pilihan kebijakan.
Kiranya berbagai bencana alam yang datang silih berganti, khususnya yang disebabkan ulah tangan-tangan manusia, menyadarkan kita untuk lebih arif lagi dalam bersikap dan bertindak. Dan untuk para pemimpin, semogalah mereka lebih jujur dan bersungguh-sungguh menjalankan amanah di pundak mereka.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik. [Alquran Surat al-A'raaf (7):56]Chiba-Japan