Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntryBerbagai Bencana Alam itu Mengingatkan KitaJan 16, '07 10:54 PM
for everyone
Pada dua posting terdahulu, meminjam intisari pemikiran Fritjop Capra, saya mengangkat pentingnya kita belajar dari alam untuk dapat menjaga kelestarian lingkungan hidup dan juga untuk dapat hidup dalam harmoni dalam komunitas besar umat manusia. Berbagai prinsip bekerjanya alam seperti saling keterkaitan dan kebergantungan, mengimplikasikan pentingnya umat manusia menjalin persahabatan dan kerja sama. Beginilah sistem kemasyarakatan mesti tumbuh.

Ada satu faktor kunci yang amat besar pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat ini, yaitu faktor kepemimpinan. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang memiliki kekokohan moral, kecerdasan pikiran dan keterampilan manajerial. Terkait hal ini, Gatra online menyajikan sebuah reportase Nasional dalam sub-topik Bencana Alam dengan judul: PBNU: Bangsa Indonesia Harus Tobat. Berikut ini petikan reportase tersebut:

"Beruntunnya bencana sosial dan bencana alam yang sampai hari ini belum ada tanda-tanda peredaan menurut perhitungan rasional sudah berada di atas batas kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasinya," katanya [kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi].

Karena itu, tambah Hasyim, tidak ada cara lain kecuali meminta pertolongan Tuhan yang dimulai dengan bertobat secara nasional. "Ada ketidakberesan di negara ini yang dimulai secara kolektif yang oleh karenanya harus diakhiri secara kolektif pula," kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Hasyim mengaku telah berusaha mencari literatur mengenai asal-muasal bencana dan jawaban yang pas dengan situasi yang terjadi di Indonesia justru terdapat di kitab suci Alquran.

Ia lantas mengutip Alquran, Surat An Nahl, ayat 112. Di situ disebutkan "Dan Allah memberikan contoh sebuah negeri yang aman tenteram, rizki melimpah datang di negeri itu dari segala tempat, kemudian penduduk negeri itu durhaka dan ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat sendiri".

Dalam terminologi Alquran, kata Hasyim, ada dua macam bencana. Pertama, bencana yang memang semata-mata kehendak Allah. Kedua, bencana akibat kesalahan manusia, baik kesalahan fisik seperti perusakan hutan yang mengakibatkan banjir dan kekeringan serta kesalahan moral seperti kemaksiatan yang merajalela, pengkhianatan terhadap amanat, hukum, kebohongan dan kepura-puraan.

***

Seruan KH. Hasyim Muzadi agar kita berintrospeksi sudah sangat tajam dan melingkupi berbagai sisi kehidupan. Bahkan beliau sudah mengangkat sisi transendental, yaitu perlunya kita memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Penyayang atas berbagai kelalaian dan kesalahan kita. Saya hanya ingin lebih menekankan satu dari sekian kelalaian itu, yaitu permasalahan kebijakan perekonomian yang seringkali tidak ramah lingkungan.

Pada dimensi kesadaran dan pemikiran kolektif, masih banyak orang yang menganggap alam ini "wajar" dieksploitasi, sebab untuk itulah ia ada. Karenanya seringkali perhitungan bisnis dan ekonomi mengabaikan "pembayaran" terhadap alam yang telah dieksploitasi itu. Hal yang sama juga terjadi ketika berbagai kegiatan bisnis, industri dan ekonomi menghasilkan sampah (waste). Masih belum muncul kesadaran kolektif, bahwa membuang sampah itu menjadi beban bagi alam. Karenanya alam, setelah dieksploitasi habis-habisan, juga dipaksa menjadi tong sampah raksasa dengan berbagai polusi di dalamnya. Inilah yang terjadi pada pencemaran udara, sungai, tanah dan lautan.

Jared Diamond menyimpulkan dalam bukunya Collapse: How Societies Choose to Fail or to Succeed, bahwa diantara faktor yang membuat punahnya satu masyarakat adalah kerusakan lingkungan yang melewati ambang batas dan kelemahan kepemimpinan dalam menentukan pilihan-pilihan kebijakan.

Kiranya berbagai bencana alam yang datang silih berganti, khususnya yang disebabkan ulah tangan-tangan manusia, menyadarkan kita untuk lebih arif lagi dalam bersikap dan bertindak. Dan untuk para pemimpin, semogalah mereka lebih jujur dan bersungguh-sungguh menjalankan amanah di pundak mereka.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Alquran Surat al-A'raaf (7):56]


Chiba-Japan

mizakisakina wrote on Jan 17, '07
Merusak alam adalah termasuk dosa jari'ah yang akan berjalan terus walaupun kita telah meninggal dunia..sepanjang akibatnya masih terus dirasakan oleh ummat manusia...begitu pemaparan Agus Mustofa dalam salah satu bukunya; "Ternyata akhirat tidak kekal" atau ...yang lainnya saya lupa...dan memang setelah ditelaah dosa juga bisa berubah menjadi dosa jari'ah (bukan amal jari'ah saja). Merusak alam termasuk dosa besar karena akibatnya dirasakan oleh begitu banyak umat manusia...dan akan berlangsung dalam jangka yang sangat lama...Naudzubillahi min dzalik...
Allah menginformasikan kepada kita dalam surah al-baqarah bahwa akan ada orang yang mengatakan bahwa saya beriman kepada Alloh dan hari kemudian tetapi Alloh membantahnya dan mengatakan bahwa mereka itu bukan orang-orang yang beriman...salah satu ciri-ciri mereka adalah mereka suka membuat kerusakan di muka bumi; tapi perbuatannya itu malah dianggapnya mengadakan perbaikan di muka bumi.
Orang-orang seperti ini banyak terdapat di negeri kita...dengan mengantongi HPH yang diperoleh dengan cara licik mereka membabat habis hutan-hutan untuk memperkaya diri dan koleganya; dan mengatakan untuk menambah devisa negara...sementara anak bangsa kita menagis karena kehilangan tempat tinggal dan kehilangan keluarga mereka ...sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan...
adijm wrote on Jan 17, '07
Terima kasih Ummi Zaki untuk tambahannya. Jazakillahu bil khair.
murazza wrote on Jan 17, '07
adijm said
sisi transendental, yaitu perlunya kita memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Penyayang atas berbagai kelalaian dan kesalahan kita.
Saya tertarik dengan paragraf ini Pak Adi.
Bagaimana bencana ini dapat memperbaiki hubungan kita dengan Allah yang menciptakan alam.
Awal tahun ini godaan yang luar biasa buat muslim.
Tahun baru masehi, bertepatan dengan hari Tasyrik, hari-hari dimana kita harus memperbanyak dzikir (sesuai HR Ahmad), mengagungkan Pencipta.
Tapi, kenyataannya, Acara Tahun baru semarak dimana-mana.
Di pantai ada konser pop dan rock, di tempat hiburan nasional ada konser dangdut.
Bagaimana itu Pak Ustadz? Mungkin ombak besar di pantai-pantai Nusantara di awal tahun itu untuk mengingatkan kita. Wallahu'alam.
adijm wrote on Jan 17, '07
Mas Oki, saya memang melihat secara umum kita masih mesti terus meningkatkan kondisi kekhusyuan beragama. Ini tercermin pada ketekunan beribadah, kesucian hati dan mengurangi gebyar-gebyar yang melalaikan. Sayangnya suasana terakhir tadi justru lebih banyak ditonjolkan dan menarik hati kebanyakan kita, seperti disinggung Mas Oki.

Tugas para pemberi peringatan adalah mengingatkan, agar suasana khusyu beragama itu tercipta secara merata. Ketika para pemberi peringatan ini pun lalai menjalankan tugasnya, maka bencana itu yang menjadi pengingat. Seperti disebutkan dalam satu ayat: "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS. 8:25). Wallahu a'lam.
abuluthfia wrote on Jan 17, '07
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang menguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 29: 40)
adijm wrote on Jan 18, '07
Terima kasih untuk tambahannya, Aba Luthfia.
Add a Comment