Saya membuka-buka lagi file di folder yang saya beri nama "Sastra Pendidikan Psikologi". Salah satu rangkaian permasalahan yang memang saya minati. Saya buka folder ini, karena mencari lagi tulisan lain budayawan muda muslim, Anis Matta, tentang cinta dan keluarga.
Dan ya, saya menemukan satu tulisan lain yang inspiratif. Judul tulisan ini "Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga". Tulisan ini sempat jadi obrolan hangat di beberapa mailing-list. Saya pun mendapatkannya dari salah satu milist. Membacanya mengingatkan saya pada rangkaian tiga tulisan yang pernah saya tulis: Suami sebagai Mitra, Suami sebagai Kekasih dan Suami sebagai Pembimbing.
Saya tersenyum menelusuri jejak-jejak pemikiran tentang keluarga, tentang bersuami-istri ini, terutama tentang perlunya suami mendukung istri untuk terus berkembang. Harus saya akui, ada dua orang orang yang cukup mempengaruhi saya berpikir pada persoalan ini: Ustadz Yusuf al-Qardhawi dan Anis Matta.
Ustadz YQ banyak menulis tentang perlunya kepercayaan kaum lelaki untuk memberikan kesempatan kepada kaum perempuan mengurus masalah-masalah sosial terkait diri mereka. Beliau banyak mengeritik pandangan yang mengekang kaum perempuan. Tentu saja beliau pun mengemukakan batas-batas ajaran Islam yang mesti diperhatikan kaum perempuan dalam menjalankan berbagai aksi sosialnya.
Dan Anis Matta, ia punya kemampuan artikulasi bahasa yang baik. Ia sering mengungkapkan satu permasalahan dari sudut pandang yang "mengejutkan". Dan ini adalah buah dari bacaannya yang kaya dan perenungan serta pemaknaannya yang matang; Ia mampu menghubungkan bacaannya dengan realitas yang ada di sekelilingnya. Wa bil khusus, caranya mengungkapkan masalah cinta. Saya pikir ia cukup kuat dipengaruhi tulisan-tulisan Ibnul Qayyim dalam masalah ini; Ketika saya membaca buku "Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Dirundung Rindu" tulisan Ibnul Qayyim, saya temukan warna-warna yang mempengaruhi tulisan-tulisan Anis. Ia pun pengkonsumsi puisi. Dalam satu kolomnya, ia menyebutkan adanya korelasi yang kuat antara kepahlawanan seseorang dengan kesukaannya terhadap sastera. Itu karena pada keduanya ada irisan yang sama: kelembutan hati dalam menangkap permasalahan sekeliling.
Oya, balik ke masalah peran suami bagi istrinya. Pada tulisan di bawah ini, Anis Matta kembali mengingatkan para suami untuk menyadari peran pentingnya dalam membina dan membuka sebesar-besar peluang bagi perkembangan kepribadian istri mereka. Yang paling saya sukai adalah ketika ia menyimpulkan peran para pencinta pada empat hal: pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan; Hingga kuncup bunga itu mekar menjadi bunga, seperti dipinjamnya dari puisi Iqbal.
Selamat membaca dan mengambil pelajaran yang baik dari tulisan ini.
Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan
===
Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga
oleh Anis Matta
Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta. Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya saya juga mengatakan, mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya. Jadi obrolan kita belum selesai.
Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menjawab pertanyaan ini: apa itu cinta? Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini: bagaimana seharusnya anda mencintai? Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.
Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu
adalah kebenaran. Apa yg dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yg bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.
Maka begitulah seharusnya anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini: menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini; bagaimana istri anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.
Bila anda ingin mencintai dengan kuat, maka anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawatnya... menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.
Apakah anda telah mengenal isteri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya?
Apakah anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah anda mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksinya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya? Apakah anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya?
Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rosululloh saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, "Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Rosulullah! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Muhammad!. Apakah beda antara Rosululloh dan
Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu saja? Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa yang lain. Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dlm proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau "obsesi" yang berlebihan terhadap fisik.
Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerima apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yg ia harap dari bayi kecil itu ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya? Apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak. Semua yg ada dlm jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang utk berubah dan berkembang. Dan karenanya ia menyimpan harapan besar dlm hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yg akan menjadikan segalanya lebih baik. Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya; pengembangan.
Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yg tertutup. Ketika ia memasuki rumah anda, memasuki wilayah kekuasaan anda, menjadi istri anda, menjadi ibu anak-anak anda; Andalah yg bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yg harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yg akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi.
Dan ungkapan "Aku Cinta Kamu" boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik (dan tidak menyenangkan). Apa yg harus anda berikan kepada istri anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas anda terganggu. Ini tidak berarti anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yg ia butuhkan.
Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dlm keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang anda perlu memotong sejumlah (ranting atau cabang) yg sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni. Hidup adalah simponi yg kita mainkan dengan indah.
Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri: Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan anda?
Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya:
DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU ...
MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA ...
===