Saya menengok Fafa yang baru mengikuti UAN untuk SMP tanggal 4-7 Mei lalu. Dia bilang lumayan bisa mengerjakan soal-soal ujian. Dia optimis untuk Matematika dan Bahasa Inggris. Yang agak sulit adalah Bahasa Indonesia dan IPA. Begitu laporan singkatnya.
Di tengah obrolan itu Fafa bercerita bahwa soal-soal latihan dari DKI-Jakarta amat dekat dengan soal-soal yang keluar di UAN. Dia merasa beruntung bisa berlatih dengan soal-soal yang dibawa salah seorang temannya. Sampai di sini saya merasa senang mendengarkan ceritanya, sebab usaha-usaha yang dilakukan masih dalam koridor bekerja dan belajar. Saya dan istri amat mengikuti hari-hari persiapan Fafa menjelang UAN. Kami sangat tahu betapa intensif bimbingan ujian diberikan di sekolahnya.
Fafa punya cerita yang sedikit mengganjal. Dia mensinyalir ada juga teman-temannya yang dapat bocoran jawaban soal ujian. Tanda-tandanya, beberapa temannya (terutama yang pria), begitu cepat keluar dari ruang ujian. Ujian dimulai jam 8 pagi. Jam 8:30 atau jam 9-an teman-temannya sudah pada keluar. Mendengar bagian ceritanya yang ini, saya pun merasa tidak nyaman. Timbul rasa kesal dalam diri saya.
Saya mencoba menenangkan diri dan terutama menenangkan Fafa. Kepada Fafa, dan Hasan adiknya yang ikut mendengar, saya sampaikan, "Fafa, jangan merasa iri dengan teman-teman yang berbuat curang seperti itu. Kita punya keimanan kepada Allah. Bisa jadi mereka yang curang merasa senang dan sukses. Bisa jadi mereka tak pernah mendapatkan hukuman. Tapi kita yakin, Allah akan mengadili mereka. Bukankah kita tidak selamanya hidup di dunia ini? Bukankah kita akan mengalami kehidupan kekal abadi di akhirat kelak ...?"
Saya kemudian memberikan apresiasi kepada Fafa atas kerja kerasnya dalam belajar menjelang UAN dan dalam mengerjakan ujian yang baru lalu itu.
***
Obrolan tentang kecurangan UAN memang menyesakkan dada. Siswa yang jujur pasti kesal melihat teman-temannya bisa lulus UAN dengan mudah dengan cara tidak jujur. Orang tua pun demikian. Yang berbahaya adalah bila akhirnya mereka yang jujur menyerah kalah dengan arus kecurangan. Mereka berpikir, kalau jujur terus pasti tidak bisa lulus.
Dalam skala yang lebih besar, kecurangan yang terjadi pada UAN akan melahirkan ketidakpercayaan pada sistem pendidikan. Ini terjadi pada fase akhir pendidikan yang diintrodusir pemerintah, yaitu UAN. Kalau masyarakat tidak lagi mempercayai institusi pendidikan, maka hancurlah salah satu pilar penting sebuah bangsa. Bukankah pendidikan adalah sebuah proses penting dalam membina generasi muda pelanjut pelaku peradaban sebuah bangsa?
Di sisi lain, kecurangan UAN yang dibiarkan secara tidak langsung meluluskan manusia-manusia picik. Manusia-manusia yang terus akan melanjutkan kehidupan dalam kebohongan dan dusta. Mereka yang tidak berani melalui kegagalan, kalau memang mereka mesti mengalaminya. Dan manusia-manusia jenis ini bukan saja para siswa, tapi juga segenap aparat pemerintah (khususnya yang berada di dunia pendidikan). Mereka yang karena takut dianggap "gagal", dengan culas melakukan berbagai manipulasi untuk meluluskan anak didik mereka sendiri dengan cara tidak jujur.
Bagaimana kira-kira perasaan kita ketika mendengar bahwa di antara para guru antar sekolah melakukan kecurangan "mengkatrol" nilai anak-anak didik mereka? Apakah yang mereka lakukan adalah ungkapan sayang kepada murid, ataukah mereka secara sadar telah menjerumuskan murid mereka ke dalam jurang kehancuran? Bagaimana pula perasaan kita ketika mendengar bahwa para guru melakukan itu akibat tekanan kepala dinas pendidikan, yang takut konditenya turun kalau di kabupatennya banyak siswa yang tidak lulus UAN? Kalau bagi mereka yang secara tersembunyi atau terang-terangan membuat kisi-kisi jawaban atau bahkan jawaban, lalu menjualnya, saya tidak tahu lagi, hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada mereka?
***
Kita tentu merasa bersyukur dengan adanya tindakan-tindakan hukum yang tegas terhadap para pelaku kecurangan UAN. Tapi kita masih terus berharap aparat pemerintah di dunia pendidikan, para guru, para orang tua dan tentu saja para siswa untuk tetap berpegang pada nilai-nilai profesional dan kejujuran.
Para guru dan aparat pendidikan, mestinya bisa melakukan investigasi pada hasil UAN. Ketika beberapa siswa bisa memperoleh nilai spektakuler, bisa saja capaian ini dibandingkan dengan prestasi rata-rata yang mereka peroleh dalam ulangan-ulangan harian. Begitu juga penilaian secara kolektif pada sekolah atau kawasan tertentu, bisa dilakukan dengan referensi penilaian prestasi yang ada selama ini. Ini beberapa contoh saja, bagaimana hasil UAN bisa divalidasi dengan penilaian prestasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Saya sempat ngobrol dengan seorang saudara yang bekerja di bisnis informasi dan telepon selular. Apakah mungkin para pengusaha telepon selular melakukan filter bila ada kiriman SMS yang punya pattern aneh? Bukankah aneh pesan yang isinya: abbcd ddcea acdbe ...? Saya yakin teknologi komunikasi bisa melacak pesan ber-pattern janggal itu. Maka Depdiknas dan Depkominfo bisa saja membuat kerjasama untuk mencegah penyebaran jawaban bocoran soal lewat SMS.
Berbagai cara bisa dipikirkan untuk mencegah kecurangan UAN. Akan tetapi saya sepakat dengan pendapat beberapa pakar dan orang tua; Cara paling ampuh adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah kepada semua pengelola pendidikan, kepada para orang tua dan juga kepada para siswa. Selanjutnya dibangun pendidikan yang betul-betul berkualitas, secara adil di seluruh negeri ini. Dan akhirnya dipikirkan sistem ujian yang baik. Ujian yang betul-betul telah memperhatikan keseluruhan proses pendidikan yang telah diberikan kepada para siswa.
WaLlaahu a'lamu bish shawwab.
Salam, Adi Junjunan Mustafa.
 | benar, pak adi. Waktu dulu (satu tahun yang lalu) saya sempat tanya adik begitu selesai UAN di salah satu SMP di Jkt. Memang, sebagian besar dari mereka merasa soal UAN jauh lebih mudah dari soal-soal latihan yang diuji sebelumnya di sekolah. Jadi, ketika mengerjakan soal tersebut, adik dan kawan-kawannya memang merasa tidak tertantang. Bahkan adik saya begitu optimis-nya matematik mendapat 10. Dan ternyata itu menjadi kenyataan. Bahkan rata-rata nilai satu kelasnya berada dalam kisaran 9. Bisa jadi yang keluar lebih awal dari kelas tersebut memang merasa sangat yakin atas apa yang telah dikerjakan. Allohu'alam. |
 | axo..kalau ternyata memang ada selentingan bocornya soal, memang itu wajib dipermasalahkan.
Point yang saya angkat sebelumnya juga memang satu kenyataan yang terjadi di lapangan, khususnya DKI Jakarta. Saya melihat adanya ketidak-merataan struktur pendidikan di Indonesia. Di satu sisi, ada beberapa kota yang memiliki indeks nilai yang luar biasa tinggi (hampir sempurna), namun di sisi lain, banyak kota yang mempermasalahkan soal yang terkesan sangat sulit. Datanya bisa pak Adi lihat di dikmentidki.
Adapun nilai-nilai yang drastis tinggi tersebut tidak semata karena kisi-kisi atau latihan yang mendekati soal sesungguhnya. Namun berdasarkan cerita orang tua dan adik saya sendiri (sebagai murid) mengatakan, bahwa soal UAN dengan soal uji kemampuan (tryout) di bimbingan belajar / di sekolah tingkat kesulitannya memang tidak sebanding. Biasanya di try-out, siswa lebih merasa sulit untuk mengerjakannya.
Dan saya pikir, memang permasalahan utamanya lebih terletak pada ketidak-adilan dan ketidak-pemerataan.
|
 | antara "nama baik" sekolah dan kejujuran...... hmmmm |
| |