Membangun Semangat Pembelajar*
Allah swt menyatakan bahwa Dia akan mengangkat beberapa derajat kedudukan sebagian orang-orang beriman dan orang-orang yang menggali ilmu (QS. Al Mujadilah:11). Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di balik kewajiban ini ada jaminan pahala dan kedudukan mulia bagi mereka yang menjalankannya. Bagaimana tidak, dengan ilmulah umat manusia akan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya [1]. Maka amat mulialah mereka yang terus-menerus gigih menggali ilmu untuk kemashalahatan umat manusia.
Diantara profil pembelajar yang luar biasa adalah Imam Syafi'i [2]. Beliau adalah salah satu dari empat imam dalam mahdzab fiqih Islam, yang pemikirannya hingga saat ini menjadi ilmu yang terus bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya.
Imam Syafi'i terlahir dalam keadaan yatim pada tahun 150H. Kehidupan beliau di masa kecil relatif sulit. Akan tetapi beliau sudah hafal Qur'an pada usia 9 tahun. Imam Syafi'i pun tetap gigih belajar ilmu tafsir dan ilmu hadits kepada para imam/ulama di Makkah, seperti Imam Sufyan bin Unayyah dan Imam Muslim bin Khalid al-Zinji [3]. Untuk mencatat ilmu yang dipelajarinya, beliau sering memungut kertas-kertas bekas di kantor pemerintahan kala itu. Pada akhirnya catatan-catatan ini pun tidak lagi beliau perlukan, sebab dengan kebulatan tekadnya beliau berhasil menghafal semua ilmu yang beliau pelajari.
Pada usia 15 tahun Imam Syafi'i sudah memiliki ilmu yang amat mendalam, hingga sudah memperoleh ijazah untuk memberikan fatwa bersama para imam di Masjidil Haram. Beliau ditawari menjadi mufti di Makkah, tetapi menolak. Bahkan beliau sampaikan kepada para gurunya untuk mengijinkan beliau belajar ke Madinah, untuk berguru kepada Imam Malik yang amat termashur. Para guru dan juga Walikota Makkah pun merestui keinginan Imam Syafi'i. Imam Syafi'i memang memiliki obsesi untuk menjadi murid penulis kitab Al-Muwaththa yang amat terkenal. Bahkan sebelum beliau berangkat ke Madinah, dengan meminjam kepada sahabatnya, beliau telah berhasil menghafalkan al-Muwaththa di luar kepala [4].
Demikianlah, ketika Imam Malik yang amat berwibawa itu menerima kunjungan pertama dari Imam Syafi'i, Imam Malik pun berkata, " ... datanglah lagi besok untuk aku bacakan al-Muwaththa." Imam Syafi'i pun menjawab, "Saya sudah menghafalnya di luar kepala." Imam Malik pun meminta Imam Syafi'i membuktikan hafalannya. Itu lah kisah pertemuan dua imam terkemuka di kalangan umat Islam.
Imam Syafi'i pun mereguk ilmu dari Imam Malik selama beberapa tahun. Beliau amat dicintai gurunya. Beliau pun mendapatkan kedudukan khusus, karena ketekunan dan kecerdasannya, hingga seringkali menggantikan Imam Malik dalam mengajarkan al-Muwaththa kepada para ulama yang datang ke Madinah seiring perjalanan haji mereka. Dari sini lah nama Imam Syafi'i semakin dikenal oleh para ilmuwan dari berbagai negeri, termasuk Mesir.
Setelah belajar dari Imam Malik, Imam Syafi'i pun meminta ijin kepada gurunya untuk meneruskan belajar ke Kuffah (Baghdad saat ini), karena di sana pernah hidup seorang imam terkemuka, Imam Hanafi. Di Kuffah, Imam Syafi'i selama beberapa waktu saling belajar dengan dua orang murid dan sahabat Imam Hanafi, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.
Demikianlah seterusnya Imam Syafi'i tak pernah berhenti belajar dan mengamalkan ilmunya. Tercatat bahwa beliau mengembara lagi ke Yaman, lalu kembali ke Kuffah, ke Mekkah dan ke Madinah dan lagi ke Kuffah, pusat kekhalifahan Islam saat itu, hingga akhirnya beliau pergi ke Mesir hingga wafatnya pada tahun 204H. Pada setiap halte pengembaraannya, beliau terus produktif belajar dan menghasilkan pemikiran-pemikiran keilmuan cemerlang yang menerangi umat untuk dapat memutuskan berbagai masalah kehidupan berlandaskan syariah Islam.
Demikianlah sekilas kehidupan Imam Syafi'i, sang pembelajar. Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah kehidupan beliau.
Untuk terus membangun jiwa pembelajar, kita perlu mengetahui peta pengetahuan yang mesti memenuhi akal kita. Insya Allah permasalahan ini akan disampaikan pada tulisan mendatang [5].
Salam, Adi Junjunan Mustafa.
Catatan: * Pointers taushiyah pada acara penyerahan beasiswa prestatif kepada beberapa siswa SMA 2 dan juga mahasiswa alumni SMA 2 di MQ-Cafe, Jln. Citarum, Bandung, Sabtu, 10 Mei 2008. Beasiswa diberikan oleh Dr. Edi Siswadi, salah seorang alumni SMAN 2 Kuningan. Hadir pada acara ini pengurus Ikatan Alumni SMAN 2 Kuningan (Ikasmanda), termasuk ketuanya Fajar dan Ade Kadarisman, dosen FIKOM-Unpad, yang amat gigih membesarkan Ikasmanda. Kepala SMAN 2 Kuningan, Pak Bambang Sri Sadono, juga berkesempatan hadir di tengah acara workshop beliau di Lembang.
[1] Semakin hari saya semakin menyadari bahwa untuk mengelola berbagai masalah kehidupan, mulai dari masalah pribadi, masalah keluarga, hingga masalah negara kita amat berhajat dengan ilmu pengetahuan. Diperlukan aturan-aturan dan kebijakan yang tepat dan jitu untuk mengatur negara dan pemerintahan. Ini semua memerlukan SDM yang memiliki bidang keahlian pada masing-masing persoalan. Mereka semua pun mesti dikoordinir oleh orang-orang yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang handal.
[2] Dalam perjalanan mengantar Hasan dan sekaligus menengok Fafa di Husnul Khotimah, Kuningan, saya membawa bekal buku berjudul "Biografi Empat Serangkai Imam Mahdzab" karya K.H. Moenawir Cholil. Isi buku yang amat inspiratif ini jadi teman saya di perjalanan. Sebagian isinya saya sampaikan pada acara di atas. Silakan juga dibuka link berikut: http://islam.blogsome.com/2006/01/26/riwayat-hidup-imam-syafii/ http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Syafi'i
[3] Saya membayangkan kedudukan para imam saat itu ibarat para professor di masa kini. Adapun keilmuan yang saat itu tengah dibangun pesat pada peradaban muslim meliputi ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih. Di samping itu terdapat juga perkembangan ilmu sastra, dengan pelajaran bahasa yang direpresentasikan dengan kemahiran bersya'ir. Pada saat itu institusionalisasi ilmu mengacu pada para imam sesuai bidang keahliannya. Pusat belajar mereka di masjid. Bandingkan dengan penyebutan laboratorium modern saat ini yang juga sering dinisbahkan pada nama professor, seperti di Jepang, dengan tempat-tempat studi di universitas.
[4] Terbayang betapa hebatnya budaya keilmuan saat itu. Imam Syafi'i telah menghafal al-Muwaththa sebelum beliau langsung belajar dari penulisnya. Ini ibarat kita akan belajar keilmuan tertentu dari seorang professor, padahal ilmunya itu sudah kita fahami secara utuh sebelum berjumpa professor yang dituju. Tentu waktu-waktu belajar akan diisi dengan pendalaman dan pengembangan keilmuan yang dipelajari. Bisa jadi Imam Malik pun banyak mendapatkan masukan berarti selama proses belajar Imam Syafi'i ini.
[5] Pada kesempatan acara di atas, saya memang sempat sampaikan masalah piramida ilmu untuk melengkapi akal muslim.
 | Ok, saling belajar dan mengajarkan ya.. |
| |