Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntryMembangun Semangat Pembelajar (2)May 14, '08 11:21 PM
for everyone

Kelengkapan Pengetahuan Muslim*

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya tentang membangun semangat pembelajar [1]. Diantara pemacu semangat dalam proses pembelajaran adalah pemahaman tentang peta pengetahuan atau kelengkapan pengetahuan. Inilah yang akan menjadi pengarah bagi pribadi muslim untuk terus melengkapi akalnya dengan pengetahuan yang mampu memandu jalan hidupnya. Pembicaraan tentang kelengkapan pengetahuan ini terkait erat dengan pengetahuan tentang klasifikasi pengetahuan [2]. Beberapa ilmuwan muslim lain menggagas masalah kelengkapan ilmu bagi seorang muslim secara praktis dan dalam kerangka dakwah. Ustadz Sa’id Hawwa misalnya menulis buku Jundullah Tsaqafaatan wa Akhlaaqan [3]. Demikian juga Ustadz Yusuf al-Qardhawi pernah menulis buku tentang kelengkapan tsaqafah bagi para pendakwah Islam.

Saya sendiri tertarik dengan pengklasifikasian pengetahuan (ats-tsaqafah) menjadi tiga kelompok, sebagai berikut [4]:

  1. Ats-Tsaqafah adz-Dzatiyyah (pengetahuan inti/utama)
  2. Ats-Tsaqafah al-Ijtima’iyyah (pengetahuan sosial)
  3. Ats-Tsafaqah at-Takhashushiyah (pengetahuan khusus).

Ats-tsaqafah adz-dzatiyyah adalah pengetahuan yang menjadi bekal paling penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan. Ini pengetahuan tentang hakikat-hakikat terbesar dalam hidup, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, “siapakah saya?”, “dari mana saya berasal?”, “untuk apa saya hadir di alam wujud ini?” atau “apa misi dan tugas saya dalam hidup ini?”, “bagaimana saya memahami keseluruhan wujud yang ada di alam raya ini?” dan “apa yang akan saya alami setelah saya meninggalkan kehidupan ini?”. Ini yang disebut para ulama dengan haqaaiqul kubra, atau hakikat-hakikat terbesar dalam kehidupan. Ketika manusia gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan hampalah kehidupannya. Sebaliknya bila permasalahan ini telah tergambar dalam benaknya, telah difahami dengan baik, dan telah mewarnai sikapnya, maka akan sukseslah manusia dalam hidupnya.

Bolehlah diringkas, bahwa pengetahuan inti ini akan menjawab pertanyaan “who am I?” secara tuntas. Dan sebuah ungkapan hikmah menyatakan “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu”, barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Rabb-nya. Jadi pengenalan jati diri ini akan menghantarkan pada pengenalan hakikat ketuhanan atau tauhid (pengesaan Allah), yang merupakan inti dari ajaran agama Islam. Di atas hakikat inilah terbangun seluruh sistem dan ajaran keagamaan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab tuntas dalam Quran dan pada Hadits-hadits Rasulullah saw. Karenanya bagi seorang muslim, merupakan kewajiban untuk memahami isi Quran dengan sebaik-baiknya dan juga merupakan keutamaan yang besar untuk memahami hadits-hadits Rasulullah saw. Isi Quran yang memuat jawaban-jawaban hakikat terbesar itu terutama ada pada ayat-ayat Makiyyah. Maka dapat difahami bahwa selama hampir 13 tahun Rasulullah saw menyampaikan risalahnya di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah, wahyu yang beliau terima dan beliau ajarkan kepada umat Islam sebagian besar menyangkut masalah aqidah atau keyakinan yang menjawab permasalahan terbesar kehidupan manusia.

Ats-tsaqafah al-ijmima’iyyah adalah pengetahuan yang menyangkut manusia sebagai makhluk sosial. Quran dan Sunnah juga menyampaikan panduan bagi muslim untuk dapat menyelenggarakan kehidupan masyarakat secara harmonis. Diajarkan kepada umat manusia untuk saling mengenal dan menjadi manusia-manusia paling berbakti kepada Allah, Tuhan sekalian manusia. Diajarkan kepada orang beriman untuk hidup saling menyayangi, saling menolong dan saling memikul beban dalam menegakkan kebenaran.

Dalam peristilahan kontemporer, pengetahuan yang mencakup ats-tsaqafah ini adalah sosiologi, ekonomi, politik, dan sejarah serta keilmuan humaniora lainnya. Termasuk dalam pengetahuan ini juga psikologi, komunikasi, kepemimpinan, organisasi dll yang akan menjadi bekal penting agar terampil menjalani kehidupan bermasyarakat.

Pengetahuan sosial ini menjadi hajat kebutuhan muslim untuk melakukan positioning yang tepat dalam kehidupan. Dengan demikian ia akan dapat bersikap secara tepat dalam hidup ini. Pada setiap permasalahan sosial, ia mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang memiliki perhatian, sikap dan kesiapan untuk memecahkan masalah tersebut dengan tepat.

Jadi pengetahuan sosial ini akan menjawab pertanyaan “where am I?”. Dan sebagaimana pentingnya alat navigasi dalam sistem transportasi, pengetahuan sosial ini akan menjadi alat navigasi kehidupan muslim dalam melangkah.

Adapun ats-tsaqafah at-takhashashiyyah adalah pengetahuan spesialisasi yang ditempuh seseorang. Ia bisa menjadi ahli, tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli kejiwaan, hingga menjadi arsitektur ahli, akuntan ahli, insinyur ahli, dan lain sebagainya. Masing-masing orang bisa memilih, spesialisasi apa yang ia ingin miliki.

Pengetahuan spesialisasi ini akan menjadi bekal penting bagi seorang muslim untuk memberikan kontribusi terbesar bagi umat manusia. Jadi pengetahuan ini akan menjawab pertanyaan “what can I do for others?”.  Dengan kata lain, melalui pengetahuan ini seorang muslim berpotensi besar mengikuti ajaran hikmah yang diungkapkan Nabi Muhammad saw "khayrunnaasi anfa'uhum linnaas", sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak kontribusi kebaikannya kepada sesama manusia.

***

Yang jadi permasalahan orang muslim saat ini adalah ketika menghadapi sistem pendidikan yang memisahkan ketiga kategori pengetahuan di atas. Adapun generasi muslim yang pernah membangun peradaban tinggi di dunia ini, menjalani proses pendidikan yang utuh. Apakah dia seorang yang menjadi ahli fiqih atau ahli sosiologi, mereka sama-sama hafal Quran di masa kanak-kanaknya [5]. Mereka pun sama-sama menyerap ilmu hadits secara optimal di masa kanak-kanak dan remajanya.

Oleh karenanya, menjadi tugas bagi kita semua untuk terus melengkapi diri dengan pengetahuan-pengetahuan di atas secara seimbang. Wa bil khusus, bagi kita yang sudah menjadi orang tua, menjadi kewajiban untuk merencanakan secara matang pendidikan anak-anak kita agar mereka memperoleh pengetahuan-pengetahuan di atas secara tepat sejak masa kanak-kanaknya.

Hanya kepada Allah sajalah kita memohon bimbingan dan pertolongan.

WalLaahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, 16 Mei 2008,
Adi Junjunan Mustafa

Catatan:
* Pointers taushiyah pada acara penyerahan beasiswa prestatif kepada beberapa siswa dan juga mahasiswa alumni SMA 2 Kuningan, Jawa barat, di MQ-Cafe, Jln. Citarum, Bandung, Sabtu, 10 Mei 2008. Juga pada acara Ta’lim Bulanan Biotek, LIPI-Cibinong, Kamis, 15 Mei 2008.

[1]
http://adijm.multiply.com/journal/item/299/Membangun_Semangat_Pembelajar

[2] Ada banyak tulisan tentang klasifikasi pengetahuan dalam Islam. Yang sederhana misalnya ulama seperti Imam al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu pada dua kelompok: ilmu yang fardhu 'ain dan ilmu yang fardhu kifayah. Tentu saja ada pengklasifikasian yang lebih rinci. Sebagai bahan rujukan awal silakan membuka link di bawah ini, diambil dari resensi buku tulisan Dr. Osman Bakar: http://www.fonsvitae.com/islamic-science-bakar.html

[3] Dalam buku Jundullah Tsaqaafatan wa Akhlaaqan (Keadaan Pengetahuan dan Akhlak Prajurit Allah), Sa’id menyebutkan bahwa tsaqafah seorang muslim harus mencakup materi-materi itu bisa diringkas menjadi sepuluh: ilmu Al-Qur`an, ilmu hadis, ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fiqih, ilmu akidah, ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu sejarah, ilmu tentang tiga pokok (Allah, Rasul, dan Islam), dan ilmu fiqih dakwah.

[4] Klasifikasi ini saya serap dari sebuah forum dialog dengan budayawan muslim Anis Matta, pada kunjungannya ke Eropa pada pertengahan tahun 90-an. Seingat saya, Anis menisbahkan klasifikasi ini dari seorang ilmuan terkemuka Mesir, Mahmud Abbas al-‘Aqad. Saya belum sempat menggali langsung klasifikasi pengetahuan ini dari sumbernya, walaupun sudah mencoba browsing di internet.

[5] Salah satu contoh ilmuwan muslim yang dikenal sebagai ahli filsafat, juga ahli kedokteran di dunia Barat adalah Ibnu Rusyd atau Averroes (1126-1198M). Beliau juga adalah penulis kitab berjudul Bidayat al-Mujtahid, yang masih digunakan sebagai buku referensi mahasiswa yang hendak mempelajari fiqih syariah Islam.


agustianwar wrote on May 16
"Siapa saya; di mana dan apa yang dapat dilakukan untuk orang banyak"? dalam konteks keberislaman memang akan sulit sekali diterapkan tampaknya Mas Adi. Yang terjadi lebih sering barangkali ketika konsepsi terakhir sampai, bukan karena pembelajaran Islami, tetapi malah membawa kepada dua pertanyaan lebih awal. Sarjana-sarjana berpendidikan Barat atau lainnya, mungkin lebih sering mengalami jalan ini. Tidak ideal memang, tetapi tetap sangat baik....imho, salam...
ardian923 wrote on May 16
adijm said
Apakah dia seorang yang menjadi ahli fiqih atau ahli sosiologi, mereka sama-sama hafal Quran di masa kanak-kanaknya. Mereka pun sama-sama menyerap ilmu hadits secara optimal di masa kanak-kanak dan remajanya.
Perancang kurikulum di negara muslim mestinya punya wawasan seperti ini Pak Adi.
Semoga ketika menjadi orang tua, saya bisa mendesign pendidikan anak2 saya seperti ini. Amiin..
adijm wrote on May 16
Sarjana-sarjana berpendidikan Barat atau lainnya, mungkin lebih sering mengalami jalan ini. Tidak ideal memang, tetapi tetap sangat baik....imho, salam...
Wa'alaikumussalaam, Mas Anwar. Termasuk saya mungkin yang mencoba menempuh jalan seperti ini *smile*. Seperti Mas Anwar sampaikan, tidak ideal, tapi lumayanlah sebagai langkah adjustment ... Memang paparan di atas erat sekali kaitannya dengan rekonstruksi kurikulum pendidikan yang bertujuan puncak "membangun manusia yang bertakwa", sebagaimana sebetulnya sudah termaktub pada sistem pendidikan nasional kita. Saat ini sudah dimulai eksperimen2 pendidikan seperti ini, meskipun para orang tua mesti "mensubsidi" proses pendidikannya. Masih jauh dari sempurna, tapi kalau tidak dimulai "saat ini", kapan lagi kita bangkit dalam mendesain peradaban.
adijm wrote on May 16
Perancang kurikulum di negara muslim mestinya punya wawasan seperti ini Pak Adi.
Semoga ketika menjadi orang tua, saya bisa mendesign pendidikan anak2 saya seperti ini. Amiin..
Mas Ardi, seperti saya tulis pada tanggapan kepada Mas Anwar, eksperimen kurikulum seperti ini sudah dimulai. Ini tidak lain sebegai bentuk kesadaran kembali intelektual muslim dalam menyumbangkan pemikiran untuk kaum muslimin dan umat manusia umumnya. Kalau praktisnya saya bisa sebutkan sekolah2 Islam Terpadu atau bentuk-bentuk ponpes modern (islamic boarding school) adalah bagian dari usaha besar ini.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help