Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntryAt-Takaatsur, Materialisme dan Budaya KorupsiJul 7, '08 12:18 AM
for everyone
Ada banyak kejadian dan fenomena yang membuat saya sangat khawatir dengan masa depan bangsa ini. Krisis energi yang melanda negeri ini, padahal masih banyak porsi sumber daya energi yang justru diekspor ke luar negeri. Melambungnya harga BBM yang melilit anggaran belanja negara yang nampaknya telah lalai menggagas dan menggulirkan kebijakan energi yang mantap. Sementara itu, seperti diangkat majalah Swa, segelintir pebisnis minyak dalam negeri justru meraih keuntungan berlipat ganda dengan melambungnya harga jajaan mereka. Seorang ekonom, yang pernah jadi birokrat, mengangkat statistik adanya komisi 2 US-dollar untuk setiap barrel impor minyak. Kalau negeri ini perlu impor 300.000 barrel per hari, maka angka komisi ini hampir senilai 6 milyar sehari! Yang menyedihkan adalah bahwa sebagian besar proses eksplorasi sumber daya mineral dilakukan oleh pihak asing. Dalih yang dipakai adalah, karena kita tidak punya uang untuk mengeksplorasi dan mengelolanya [1].

Di tengah krisis energi yang melanda negeri ini, ada badai lain yang mencuat ke tengah ruang publik; Terbelinya anggota legislatif dan penegak hukum pada lembaga puncaknya dengan uang. Benar, ini terkait kasus penyuapan dan korupsi. Kebanyakan masyarakat umum, termasuk saya, bertanya-tanya, apa sih yang dicari para anggota dewan yang penghasilannya perbulan ada pada kisaran 40-50 juta rupiah?! Apa juga yang masih dicari para penegak hukum, apalagi sudah duduk di eselon I, dengan menjual harga dirinya pada penjahat-penjahat yang jelas-jelas merugikan dan membuat negeri ini terus terpuruk perekonomiannya?!

Setelah masalah energi dan masalah korupsi di atas, saya mengamati masalah lain yang justru lebih membuat saya khawatir: pendidikan di dalam negeri. Di sini tercium arus komersialisasi dunia pendidikan. Tanyakanlah kepada para orang tua yang sibuk mencari jalan agar anak-anak mereka masuk sekolah berkualitas untuk tingkat SMP dan SMA, apa sih sekolah RSBI itu? Jawaban spontannya, "Oh, itu kan yang kelasnya ber-AC!" Maka sekolah rintisan bertaraf internasional pun diplesetkan menjadi bertarif internasional. Beberapa praktisi pendidikan pun mengakui, hingga saat ini RSBI masih berlatar prestise dan bertumpu pada sarana dan prasarana pendidikan yang berstandar global (istilahnya memilih standar internasional by class bukan by subject ). Akibatnya biaya sekolah RSBI itu memang dirasakan mahal. Disamping masalah biaya, pada tataran filosofis, RSBI pun diragukan kejelasan tujuannya dan bahkan menjadi cerminan rendahnya self-confidence untuk membangun sistem pendidikan yang menjunjung tinggi budaya nasional [2].

Masih di dunia pendidikan, ujian masuk perguruan tinggi pun tidak lepas dari tuntutan bayaran yang tinggi. Ini terjadi pada ujian-ujian mandiri yang dilakukan kampus-kampus. Masih ada yang murah? Oya ada yang relatif murah. Masih ada ujian masuk "reguler". Hanya patut jadi catatan, kursi yang diperebutkan hanya sekitar 10-20% dari seluruh bangku yang tersedia.

Ada yang menggagas, kalau mau ada keadilan dalam proses seleksi, mestinya jadual ujian itu dibalik. Pertama ujian bagi para lulusan SMA dengan betul-betul mengandalkan kemampuan akademis. Kalau proses ini selesai, barulah dibuka ujian-ujian yang mensyaratkan bayaran lebih tinggi bagi pesertanya. Ini nampaknya lebih appropriate untuk menjaga kewibawaan dunia pendidikan. Kalau para pebisnis sudah terbeli dengan uang, anggota dewan dan para penegak hukum juga demikian, maka janganlah dunia pendidikan pun tergadaikan dengan arus materialisme dan kapitalisme yang saat ini begitu dahsyat melanda.

***

Dalam gejolak perenungan ini, saya sampai pada sebuah surat pendek pada al-Quran. At-Takaatsur namanya. Alhakum at-takaatsur. Begitu bunyi ayat pertama. Pendek, tapi menyimpan pesan yang amat hebat. Ada perlombaan dalam berbanyak-banyakan, dalam bermegah-megahan yang telah melalaikan manusia dari sesuatu yang lebih hakiki.

Surat itu tidak menyebutkan secara eksplisit, apa jenis berbanyak-banyakan yang melalaikan itu. Akan tetapi ayat-ayat lain menjelaskan tentang hal ini lebih jauh. Ada gambaran, "Laki-laki yang perniagaan dan bisnis mereka tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah" (QS an-Nuur:37). Berarti perniagaan dan bisnis itu bisa termasuk objek dalam bermegah-megahan. Sebab pada sebagian orang harta dan bisnis ini bisa membuat lalai dari mengingatNya. Nabi Muhammad saw pernah mengungkapkan, "Andaikata anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia masih menginginkan dua lembah lagi. Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat." (HR Bukhari).

Ada arahan Ilahi, "Biarkanlah  mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui"  (QS al-Hijr:3). Berarti angan-angan kosong dan bentuk-bentuk kesenangan yang berlebihan termasuk objek dalam bermegah-megahan. Dan inilah yang nampaknya saat ini terus dipromosikan ke dalam jiwa kebanyakan manusia, terutama lewat tontonan-tontonan dan bacaan-bacaan yang merebak ke ruang publik.

Ada bentuk peringatan, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kami dari mengingat Allah."  (QS al-Munafiqun:9). Berarti harta dan anak-anak, dan menurut sebagian ulama juga masalah pengikut, bisa menjadi objek dalam bermegah-megahan.

Semua perkara yang membuat manusia bermegah-megahan itu melalaikan dari sesuatu yang lebih hakiki, yaitu mengingat Allah swt. Mengingat Allah ini ada kristalisasi dari mengingat dan menghayati tujuan hakiki kehidupan. Untuk mengabdi kepadaNya dan menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia serta kepada lingkungan. At-takaatsur, bermegah-megahan, membuat manusia membangkang dan melabrak aturan Ilahi serta merasa tidak bersalah ketika membuat orang lain menderita. At-takaatsur juga membuat manusia merasa tak berdosa ketika merusak alam dan lingkungan.

Pesan pada surat at-takaatsur ini terasa begitu hidup dalam menjelaskan faktor paling mendasar pada fenomena kerakusan energi, korupsi, komersialisasi pendidikan dan permasalahan-permasalahan lain bangsa ini. Ada jiwa-jiwa yang dirasuki penyakit bermegah-megahan. Dan penyakit ini akan terus merasuki jiwa "hingga mereka mengunjungi kubur" ; Hingga maut menjemput.

Maka bagi yang ingin melakukan perbaikan. Melakukan pengobatan massal bagi penyakit at-takaatsur yang melanda bangsa ini, hendaknya meningkatkan kontemplasi tentang hari-hari Akhirat. "Jangan berbuat begitu, kelak mereka akan mengetahui (akibatnya). Kemudian jangan berbuat begitu, kelak mereka akan mengetahui."

Perenungan dan penghayatan terhadap pengetahuan yang Allah berikan sesungguhnya akan menyampaikan manusia pada 'ilmul yaqin, agar mengetahui adanya Neraka Jahim. Dan manusia pasti akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.

Dan manusia pasti kelak akan ditanyakan tentang nikmat-nikmat yang diberikan Allah selama hidupnya.

***

Bagi yang belum terkena ujian kesenangan dan keberlebihan dalam kehidupan dunia, surat at-Takaatsur menjadi pelajaran yang amat penting. Jangan sampai nanti terjebak dalam kondisi bermegah-megahan. Bagi yang sudah merasakan ada keterjebakan dalam diri dan keluarganya, masih ada kesempatan untuk melakukan koreksi. Sesungguhnya nikmat yang Allah berikan itu merupakan potensi besar bagi mereka untuk lebih banyak berbuat kebajikan kepada sesama. Dan meninggalkan kecurangan, keculasan, kezhaliman dalam segenap perbuatan, termasuk dalam berbisnis dan berbirokrasi, kemudian menggantinya dengan kejujuran, ketulusan dan kasih sayang kepada sesama, ada wujud nyata mengingat Allah dalam kehidupan ini. Ini adalah jalan kebahagiaan yang hakiki.

WalLaahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

[1] Silakan baca kolom Resonansi, Republika, tanggal 1 Juli 2008, yang ditulis Ahmad Syafii Maarif berjudul "Bangsa yang Kehilangan Rujukan Budaya", untuk menelusuri akar berbagai masalah sosial negeri ini.

[2] Untuk memahami kelemahan metoda pendidikan RSBI, silakan membaca tulisan pada link berikut: http://satriadharma.wordpress.com/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/


yayansuyanto wrote on Jul 7
Jazakalah untuk artikelnya, semoga kita semakin bijak dalam mensyukuri nikmat pemberian Allah Swt.
dmertani wrote on Jul 7
Semakin sedih membaca cerita kondisi di tanah air yang makin materialistik....
Terimakasih untuk selalu menulis, mengingatkan dan berbagi ilmu, Pak Adi...
adijm wrote on Jul 7
Jazakalah untuk artikelnya, semoga kita semakin bijak dalam mensyukuri nikmat pemberian Allah Swt.
Aamiin. Terima kasih, Mas Yayan.
adijm wrote on Jul 7
Semakin sedih membaca cerita kondisi di tanah air yang makin materialistik....
Terimakasih untuk selalu menulis, mengingatkan dan berbagi ilmu, Pak Adi...
Sama2, Mbak Dian. Saya cuma bisa menulis spontan. Oya di atas saya sudah tambah link tulisan dari praktisi pendidikan yang mengkritisi masalah sekolah RSBI. Mudah2an jadi info tambahan yang bermanfaat.
fithab wrote on Jul 7
Paling prihatin dengan pendidikan jaman sekarang ini, Pak...kok semakin lama semakin tidak ada sekolah yang bisa menerima siswa yang tidak mampu, padahal jargon pendidikan sekarang 'kan 'pendidikan untuk semua'... ironis banget...:(. TFS, Pak Adi... semoga segera ada perbaikan untuk negeri ini, Amiiin.
adijm wrote on Jul 7
fithab said
kok semakin lama semakin tidak ada sekolah yang bisa menerima siswa yang tidak mampu, padahal jargon pendidikan sekarang 'kan 'pendidikan untuk semua'
Ini memang memprihatinkan. Kesenjangan sosial dan ekonomi pasti menyebabkan kesenjangan kesempatan dalam memperoleh pendidikan berkualitas. Nah, hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang salah kaprah. Nampaknya kebanyakan pengambil kebijakan memiliki empati yang sangat lemah kepada kebanyakan masyarakat yang masih tertinggal taraf ekonominya ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help