Muhasabah dalam pengertian bahasa adalah proses menghitung-hitung. Adapun di dalam khazanah keislaman, muhasabah ini dimasukkan dalam usaha seorang muslim dalam melakukan tazkiyyatun nafs atau penyucian jiwa, sebagaimana isyarat pentingnya difirmankan Allah SWT:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat.” (QS. 87:14-15)
“… dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:7-10)
Muhasabah berarti memperhitungkan amal perbuatan diri; Apabila ia mendapati dirinya melakukan perbuatan baik (‘amal shalih) dalam mentaati Allah (tha’ah), maka ia akan bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya apabila ia mendapati perbuatan dosa dan melanggar aturan Allah (ma’shiyat), maka ia akan menyesali perbuatan tersebut dengan memohon ampun kepada Allah atas kesalahannya (beristigfar) dan kembali kepadaNya (bertaubat) serta kemudian melakukan kompensasi kesalahan itu dengan memperbanyak perbuatan baik.
Muhasabah ini dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan seorang muslim. Sebagian ulama mengajarkan muhasabah harian seiring dengan amal-amal harian (amalan yaumiyyan) yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti shalat malam (qiyamul lail), tilawah Quran, dzikir di waktu pagi dan petang dll. Muhasabah ini semakin banyak dilakukan akan semakin baik, sebagaimana dzikir yangbanyak itu diperintahkan Allah SWT.
Hidup adalah Perniagaan dengan Allah SWT.
Untuk merenungkan masalah muhasabah ini marilah kita mulai dengan kehidupan yang di dalam beberapa tempat dilambangkan sebagai perniagaan oleh Allah SWT:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (QS. 35:29)
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. 61:10-12)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka … (QS. 9:111)
Sungguh perniagaan yang ditawarkan Allah SWT ini adalah perniagaan yang amat menguntungkan bagi kita. Tiada lain yang dapat kita rasakan di dalam hati ini, kecuali bahwa Allah Maha Pemurah kepada hamba-hambaNya yang taat. Bagaimana tidak, semua yang ada di langit dan di bumi adalah milikNya termasuk diri kita. Akan tetapi karena kemurahan dan kasih sayangNya, segala usaha kita akan diridhaiNya dan diberiNya ganjaran kebahagiaan surga yang penuh kenikmatan.
Maka kesadaran akan adanya janji perniagaan dengan Allah ini membuat kita senantiasa menghitung-hitung modal, keuntungan dan kerugian kehidupan kita. Ketika kita melakukan amal perbuatan, maka selalu diperhitungkan, apakah perbuatan ini memberikan keuntungan ataukah kerugian. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengumpamakan modal adalah kewajiban-kewajiban, keuntungan adalah amalan sunnah dan kerugian ada pada perbuatan-perbuatan dosa.
Penyempurnaan Kewajiban
Sebagaimana diibaratkan Imam Ghazali, pelaksanaan kewajiban adalah modal utama dalam hidup. Oleh karena itu hendaknya kita tunaikan segenap kewajiban kita kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Dalam hal peribadahan kita sempurnakan tata caranya (kaifiyat-nya) sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi Muhammad SAW, sebab mengikuti contoh Nabi ini menjadi syarat diterimanya ibadah kita. Adapun dalam hal perbuatan baik yang sifatnya bukan ibadah ritual, hendaknya kita mengikuti (ittiba’) kepada Nabi Muhammad SAW dalam ajarannya yang utuh. Sesungguhnya sunnah Nabi ini akan menghantarkan kita pada akhlak mulia pada seluruh aspek kehidupan, sebagaimana sabdanya: ”Sesungguhnya hanyalah aku ini diutus (sebagai Rasul) untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Allah SWT akan memberikan balasan yang baik atas amal kebaikan yang telah kita lakukan. Kemudian hendaknya kita memohon ampun kepadaNya atas segala kekurangan kita dalam menunaikan kewajiban kepada Allah.
… maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 73:20)
Khawatir dengan Perbuatan Dosa
Ada hadits shahih yang membuat kita khawatir dan berhati-hati dalam perhitungan ini, yaitu hadits riwayat Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah yang menyebutkan pernyataan Rasulullah SAW: “Orang-orang yang benar-benar bangkrut—di antara umatku—ialah mereka yang datang di hari Kiamat dengan membawa (seabrek) pahala shalat, puasa, dan zakat; tapi mereka datang setelah (di dunia) mencaci ini, menuduh itu, memakan harta si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah pahala-pahala kebaikan mereka kepada si ini dan si itu. Jika habis pahala-pahala kebaikan mereka sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungan mereka, maka diambillah dari dosa-dosa orang-orang yang pernah mereka salahi dan ditimpakan kepada mereka, kemudian dicampakkanlah mereka ke api neraka.” Na’udzu billah min dzaalik, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kebangkrutan seperti itu.
Kekhawatiran seperti ini menjadi bagian dari muhasabah kita. Apalagi kita mengetahui bahwa Allah SWT akan memperhitungkan semua amal perbuatan kita hingga sekecil apapun:
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. 99:6-8)
Waspada dalam Perbuatan Mubah
Selain pada penunaian kewajiban dan pada perbuatan dosa, muhasabah juga diperlukan dalam memandu kita menyikapi perbuatan-perbuatan yang boleh kita lakukan. Dalam terminologi hukum fiqih inilah yang disebut perbuatan mubah. Termasuk dalam perbuatan mubah adalah menikmati suasana bahagia di dalam rumah, makan dan minum, tidur, dan jalan-jalan menikmati pemandangan alam. Asal hukum perbuatan di atas adalah mubah. Perbuatan ini akan menjadi perbuatan berpahala ketika disertai dengan niat kebaikan karena Allah. Misalnya, membahagiakan keluarga dalam rangka memenuhi kewajiban memberi nafkah kepada mereka; Makan, minum dan tidur agar tubuh menjadi sehat dan mampu mengerjakan amal kebaikan; Menikmati pemandangan alam untuk memikirkan kekuasaan dan kebaikan Allah kepada manusia (tafakur).
Pada perbuatan-perbuatan mubah ini tempat muhasabah adalah menjaga jangan sampai perbuatan-perbuatan ini dilakukan secara berlebihan.
Seorang sahabat yang bernama Hanzalah r.a. mengisahkan tentang dirinya sebagai berikut. Abu Bakar r.a. telah menemui aku. Ia pun bertanya, “Bagaimana (keadaan iman) engkau ya Hanzalah?” Aku pun menjawab, “Hanzalah telah munafik.” Abu Bakar pun menyebutkan, “Subhanallah, apakah yang engkau katakan (ya Hanzalah)?!” Aku berkata, “Kita ketika berada di sisi Rasulullah SAW, beliau itu mengingatkan kita tentang surga dan neraka, kita seolah-olahnya melihat (surga dan neraka itu) dengan mata kepala. Kemudian bila kita berpisah dari Rasulullah SAW, kita pun sibuk dengan isteri-isteri, anak-anak dan kerja-kerja kita. Maka kita lupa semuanya (tidak bisa ingat akhirat seperti berada di hadapan beliau lagi).” Abu Bakar berkata, “Demi Allah kami pun mengalami seperti (cerita engkau) ini.” Mereka berdua pun menghadap Rasulullah SAW dan beliau menanggapi dengan mengungkapkan bahwa bisa mereka bisa mempertahankan kondisi ingat akan akhirat seperti pada majelisnya niscaya para malaikat akan menyalami mereka. Akan tetapi keadaan iman manusia itu memang berubah-ubah dari waktu ke waktu, sambung beliau.
Pelajaran yang ingin kita petik dari kisah di atas adalah, bagaimana para sahabat senantiasa waspada jangan sampai perbuatan mubah mereka menyeret pada kelalaian mengingat Allah, apalagi sampai melakukan perbuatan dosa. Karenanya di antara gambaran para penghuni surga adalah:
Mereka berkata, "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)." Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS. 52:26-28)
Muhasabah dan Hari Hisab
Di antara sarana bermuhasabah yang penting bagi kita adalah dengan mengingat yaumil hisab atau Hari Perhitungan; Yaitu hari ketika kita akan menerima catatan amal perbuatan kita selama hidup di dunia. Begitu banyak Allah SWT mengingatkan kita pada Kitab al-Quran akan hari pembagian rapor kehidupan ini, di antaranya:
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS. 18:49)
Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)". Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal ang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". (QS. 69:18-24)
Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfa'at kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku." (QS. 69:25-29)
Demikianlah Allah SWT menggambarkan penghuni neraka adalah mereka yang selama hidupnya lalai dari mengingat hari penghisaban amal perbuatan, sebagaimana ditegaskan pada firmanNya:
Sesungguhnya neraka jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sungguh-sungguhnya. Dan segala sesuatu sudah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. Dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. (QS. 78:21-30)
Penutup
Melakukan muhasabah pada hakikatnya adalah cara untuk menyayangi diri kita sendiri, agar jangan sampai mengalami kerugian tiada tara di akhirat nanti. Muhasabah adalah upaya mengingatkan diri secara sungguh-sungguh agar selalu melakukan amal kebaikan dan menghindari diri dari amal buruk. Karena itu para ulama yang shalih mengatakan, hari penghisaban itu akan Allah ringankan bagi mereka yang sering bermuhasabah di dunia. Dan hari penghisaban akan amat berat bagi mereka yang lalai melakukan muhasabah dalam hidupnya. Umar bin Khattab r.a. mengatakan, ”Hisablah dirimu sendiri, sebelum kelak engkau dihisab.” Ketika mendeskripsikan perihal orang yang cerdas, Rasulullah SAW mengatakan, ”Orang yang cerdas adalah ialah yang mampu menundukkan hawa nafsunya (kepada kebenaran) dan beramal untuk (waktu) setelah kematiannya.”
Wa Allahu a’lamu bish shawwab.
Chiba, 15 Muharram 1427
Adi J. Mustafa
http://kmii.jp/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=74