Assalaamu'alaikum.
Dalam banyak kesempatan,
termasuk komentar untuk postingan makalah saya sebelum blog entry ini,
saya sering ditanya, kenapa yang lebih sering diangkat dalam diskusi
keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah itu adalah tugas istri atau
pembicaraan tentang istri sholihah. Dalam satu sesi Kajian Muslimah
(Kamus) pertanyaan yang sama pernah dilontarkan. Waktu itu kalau tidak
salah saya menanggapi," ... bisa jadi ini tugas khas perempuan yang
memang Allah karuniai keindahan dan sifat kasih sayang lebih daripada
kaum lelaki. Karenanya sifat-sifat mulia pada perempuan ini mesti terus
diingatkan lebih banyak ..." Baru kemarin saya membaca di satu milis
seorang ibu yang menggugat, apakah pada forum para bapak juga sering
dibahas tentang kriteria suami yang sholih
dalam kehidupan rumah tangga?! Membaca ini saya terkejut dan hanya bisa
menulis "... Honestly, sejauh yang saya alami, forum bapak-bapak jarang
atau bahkan tak pernah membicarakan hal ini." Saya pun berjanji akan
lebih mengangkat masalah suami sholih dalam rumah tangga pada forum bapak-bapak.
Tulisan sederhana di bawah ini bukan seutuhnya mengangkat kriteria suami sholih. Tulisan ini dibuat sejujurnya untuk membuat posisi balance suami
di hadapan istrinya yang dituntut untuk menjadi kekasih. Saya sudah
berusaha memperkaya tulisan ini dibandingkan tulisan awal, meskipun
saya merasa di sana-sini masih kurang tajam ... Tapi biarlah ini saya
sodorkan kepada sahabat semua. Bukankah bila tak ada rotan, akarpun
jadi?
Suami Sholih: Kekasih bagi Istrinya
“Sebab itu maka perempuan yang
shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka” (al Quran, surat an Nisa:34)
Perempuan shalihah adalah
sebaik-baiknya perhiasan bagi seorang suami dalam kehidupan di dunia.
Setelah ketaqwaan, tidak ada kebaikan yang lebih besar yang
dikaruniakan Allah kepada seorang hamba mukmin, kecuali istri yang
shalihah. Mereka jika dipandang menarik hati. Senantiasa menjaga
kehormatan dirinya dan suaminya. Tutur katanya lembut menawan penuh
ketaatan karena Allah semata. Penuh kesabaran menghadapi ujian
kehidupan. Mereka pelipur lara dikala duka. Kawan menyenangkan dalam
keceriaan. Ketajaman jiwanya dapat merasakan kapan suami mereka
berbahagia dan kapan dalam keadaan gundah gulana. Dan mereka menjadi
penyemangat selalu dalam menjunjung kebenaran.
Berbahagialah seorang suami yang
mendapatkan istri shalihah. Ia adalah kekasih sejati. Akan sempurna
kebahagiaan ini jika perannya sebagai suami semakin mengokohkan peran
istri sebagai kekasih sejati.
Siapakah istri yang menjadi kekasih
sejati? Kekasih sejati itu ada pada ketaatannya kepada Allah dan
sikapnya memelihara cinta kepada suami baik ketika berdekatan ataupun
ketika berjauhan. Ini adalah cinta murni yang tak berkurang karena
ruang memisahkan dan tak surut seiring berjalannya waktu. Cinta sejati
hanya tumbuh jika disemai di atas ladang subur kecintaan kepada Allah ar Rahman.
Cinta yang tumbuh di atas iman. Dua orang yang saling mencinta karena
Allah semata akan mendapatkan kelezatan iman. Pastilah ketentuan ini
berlaku bagi pasangan suami-istri.
Seorang suami memiliki peran penting
dalam membantu menumbuhkan peran istri sebagai kekasih. Ia pun mesti
menjadi kekasih sejati. Senantiasa memelihara hatinya untuk mencinta
karena Allah semata. Secara kejiwaan, ia mesti memelihara sikap lembut
dan kasih sayang. Karenanya memelihara dzikruLlaah menjadi
prasyarat utama dalam memelihara cinta dan kasih sayang. Mengingat
Allah membuat hati tentram. Dan tentramnya hati akan melahirkan sikap
lembut dan kasih.
Senyum adalah shadaqah, maka istrinya
menjadi orang yang paling berhak memperoleh senyum termanis yang ia
miliki. Aisyah ra, istri yang manja, cerdas dan paling disayangi Nabi
saw, ketika ditanya bagaimanakah keadaan suaminya di rumah
mengungkapkan,” … senantiasa terpancar senyuman di wajahnya …” Ini
sebuah rahasia besar bagi para suami, untuk terus memelihara kestabilan
jiwa dan kelembutan hati dalam kondisi apapun. Sungguh senyuman itu tak
bisa dibuat-buat. Senyum bukanlah produk imitasi. Senyum adalah cermin
ketenangan jiwa dan lembutnya hati.
Membantu orang lain adalah perbuatan
mulia; Allah akan membantu seorang hamba, manakala ia membantu
saudaranya. Maka bagi seorang suami, istri adalah orang yang paling
patut mendapatkan uluran tangannya dalam mengerjakan berbagai tugasnya,
termasuk dalam mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Mendengarkan dengan seksama adalah sikap komunikatif terpuji dan
didambakan siapapun; Maka mendengarkan cerita suka dan atau kisah
gundah istri adalah realisasi kebaikan terindah dalam akhlak muslim.
Sebaik-baik muslim adalah yang paling baik perilakunya kepada istri
mereka.
Memberikan fasilitas bagi istri untuk
merawat tubuh dan kecantikannya adalah bagian dari nafkah yang patut
diberikan suami. Sebagaimana ia menyukai istrinya berpenampilan cantik,
ia pun mesti berpenampilan menarik. Menariknya penampilan adalah bagian
dari shadaqah seorang muslim buat saudaranya yang lain, maka
berpenampilan menarik dihadapan istri adalah bagian dari shadaqah yang
diutamakan. Telitilah, pakaian seperti apa dan warna apa yang paling
disukainya. Sebaliknya sampaikanlah penampilan mana yang paling disukai
padanya.
Ada catatan menarik dalam hal
penampilan suami ini. Ibnu ‘Abbas ra yang menjadi referensi para ahli
tafsir pernah mencukur janggutnya sedemikian, sehingga membuat beberapa
sahabatnya bertanya-tanya tentang perbuatannya itu, karena dianggap
tidak lazim bagi seorang fakih seperti dirinya. Ternyata Ibnu ‘Abbas
melakukan hal ini sebagai upaya berhias bagi istrinya, seraya menyitir
sebuah ayat Quran,” Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.”
(QS 2:228). Tentulah Ibnu ‘Abbas mengingat salah satu arahan gurunya
tercinta, Nabi Muhammad saw, agar para sahabatnya senantiasa berpakaian
rapi dan juga merapikan rambut mereka. Beliau saw saat itu
mengungkapkan salah satu fenomena sosial, yaitu banyaknya kaum
perempuan Yahudi yang berselingkuh, karena kaum lelakinya yang tidak
memelihara penampilan yang baik.
Dan sebagaimana suami menyukai istrinya merawat tubuhnya, ia
pun patut menjaga kestabilan, kebugaran tubuh serta stamina yang prima,
sehingga ia memiliki kemampuan yang baik dalam memberikan kepuasan dan
memelihara hangat cinta bagi istrinya. Bahkan referensi iman memandu
suami yang sholih menjadikan segenap usahanya memelihara hangat cinta
sebagai shadaqah, sebagai bukti kebenaran imannya.
Ketajaman sensitifitas suami dalam
membaca suasana jiwa istrinya amat diperlukan dalam interaksi
suami-istri. Begitu kenalnya RasuluLlaah saw akan suasana jiwa
istrinya, Aisyah ra, hingga beliau mengetahui kapan istrinya ini senang
dan kapan marah, hanya dengan pilihan kata yang diucapkan sang istri.
“Jika kau senang kau pasti berkata tidak demi Rabb Muhammad, tapi jika kau marah kau berkata tidak demi Rabbnya Ibrahim …” Aisyah hanya tersenyum dan menjawab,”Benar ya Rasulullah, aku hanya ingin menghindari menyebut namamu.”
Dalam bertutur kata, suami sholih akan memanggil istri dengan panggilan sayang yang disukainya. Istri tentu suka dirinya dipanggil, dan bukan selalu dipanggil sebagai ibu dari anak-anaknya. Saling memberi hadiah akan merekat persaudaraan, maka min baabil aulaa*
untuk mempersembahkan hadiah-hadiah yang menyenangkan hati istri. Suami
sholih akan menyatakan cinta kepada istri pada banyak kesempatan secara
tulus dan jujur. Ini bagian dari sunnah dari Nabi saw, yang mengajarkan
seseorang menyatakan cintanya karena Allah kepada saudaranya. Diantara
cara mengungkapkan cinta tanpa ucapan ‘aku cinta kamu’ adalah dengan
apresiasi dan pujian yang tulus. Rangkaian kalimat di bawah ini adalah
contoh ungkapan verbal dalam memberitahu pasangan hidup kita akan
kebaikannya. Beri tahukan keindahan yang patut disyukuri yang ada
padanya. Ini akan meningkatkan rasa cinta kasih diantara suami-istri.
“Istriku tahukah kamu, semakin lama
kita bersama semakin banyak aku menemukan butir-butir mutiara kebaikan
pada dirimu. Ternyata kamu seorang yang lembut. Kamu mengerti kapan dan
bagaimana cara mengingatkan aku saat semangat ini melemah. Dan caramu
mendengarkan luapan rasa senangku, sungguh membuat diriku berarti. Aku
tahu kamu begitu lelah memikul tugas di rumah dan di luar rumah. Namun
kamu mengisahkan langkah-langkahmu menjalani segenap amanah da’wah ini
dengan penuh suka cita. Istriku, semoga Allah membalasmu dengan
kebaikan yang melimpah …”
WalLaahu a’lamu bish shawwab.
Chiba, 27 Juni 2006 (revisi dan
pengayaan materi)
=====
* Frase min baabil aulaa
ini salah satu frase yang kerap digunakan dalam ushul fiqh,
pengertiannya "adalah hal/perilaku yang lebih utama" atau kalau secara letterlijk artinya "di antara pintu yang lebih diprioritaskan".
Saya
teringat dengan satu taujih yang diberikan Ustadz Abdurraqib tentang
adab suami-istri. Beliau menyampaikan beberapa dalil umum tentang
fadha-il (keutamaan-keutamaan) menyampaikan cinta karena Allah,
bersalaman, saling memberi hadiah, saling menolong yang disampaikan
Nabi Muhammad saw dalam kaitan membina ukhuwwah islamiyyah. Yang
membuat saya terkesan adalah ketika Ustadz Abdurraqib menghantarkan
perilaku akhlak karimah tersebut pada kehidupan suami istri dengan
kaidah min baabil aulaa.
Seorang
teman saya dari Mesir pun terkejut mendengar satu kebiasaan di rumah
kami, yaitu ketika saya pulang kantor istri akan menyambut di pintu
depan rumah dengan wajah berseri dan bersalaman serta mencium tangan.
Dia bilang kebiasaan seperti itu tak ada di Mesir. Saya bilang,"...
bukankah hadits tentang bersalaman dan terhapusnya dosa dengan
bersalaman itu applicable untuk suami istri?" Dia bilang,"Of course it
is applicable. But we never do that ... Oke, I will start to do that
with my wife." (rev. 28 Juni 2006)
=====
Tulisan versi awal dari artikel di atas sebelumnya pernah disampaikan pada:
- Kajian Muslimah (Kamus)
http://kajian-muslimah.blogspot.com/2006/02/istri-sebagai-kekasih.html
- Sorotan KAMMI-Jepang:
http://kammi-jepang.net/sorotan.php?id=51