Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntrySuami Sholih: Kekasih bagi IstrinyaJun 27, '06 2:20 AM
for everyone

Assalaamu'alaikum.

Dalam banyak kesempatan, termasuk komentar untuk postingan makalah saya sebelum blog entry ini, saya sering ditanya, kenapa yang lebih sering diangkat dalam diskusi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah itu adalah tugas istri atau pembicaraan tentang istri sholihah. Dalam satu sesi Kajian Muslimah (Kamus) pertanyaan yang sama pernah dilontarkan. Waktu itu kalau tidak salah saya menanggapi," ... bisa jadi ini tugas khas perempuan yang memang Allah karuniai keindahan dan sifat kasih sayang lebih daripada kaum lelaki. Karenanya sifat-sifat mulia pada perempuan ini mesti terus diingatkan lebih banyak ..." Baru kemarin saya membaca di satu milis seorang ibu yang menggugat, apakah pada forum para bapak juga sering dibahas tentang kriteria suami yang sholih dalam kehidupan rumah tangga?! Membaca ini saya terkejut dan hanya bisa menulis "... Honestly, sejauh yang saya alami, forum bapak-bapak jarang atau bahkan tak pernah membicarakan hal ini." Saya pun berjanji akan lebih mengangkat masalah suami sholih dalam rumah tangga pada forum bapak-bapak.

Tulisan sederhana di bawah ini bukan seutuhnya mengangkat kriteria suami sholih. Tulisan ini dibuat sejujurnya untuk membuat posisi balance suami di hadapan istrinya yang dituntut untuk menjadi kekasih. Saya sudah berusaha memperkaya tulisan ini dibandingkan tulisan awal, meskipun saya merasa di sana-sini masih kurang tajam ... Tapi biarlah ini saya sodorkan kepada sahabat semua. Bukankah bila tak ada rotan, akarpun jadi?

Suami Sholih: Kekasih bagi Istrinya

Sebab itu maka perempuan yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka” (al Quran, surat an Nisa:34)

Perempuan shalihah adalah sebaik-baiknya perhiasan bagi seorang suami dalam kehidupan di dunia. Setelah ketaqwaan, tidak ada kebaikan yang lebih besar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba mukmin, kecuali istri yang shalihah. Mereka jika dipandang menarik hati. Senantiasa menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Tutur katanya lembut menawan penuh ketaatan karena Allah semata. Penuh kesabaran menghadapi ujian kehidupan. Mereka pelipur lara dikala duka. Kawan menyenangkan dalam keceriaan. Ketajaman jiwanya dapat merasakan kapan suami mereka berbahagia dan kapan dalam keadaan gundah gulana. Dan mereka menjadi penyemangat selalu dalam menjunjung kebenaran.

Berbahagialah seorang suami yang mendapatkan istri shalihah. Ia adalah kekasih sejati. Akan sempurna kebahagiaan ini jika perannya sebagai suami semakin mengokohkan peran istri sebagai kekasih sejati.

Siapakah istri yang menjadi kekasih sejati? Kekasih sejati itu ada pada ketaatannya kepada Allah dan sikapnya memelihara cinta kepada suami baik ketika berdekatan ataupun ketika berjauhan. Ini adalah cinta murni yang tak berkurang karena ruang memisahkan dan tak surut seiring berjalannya waktu. Cinta sejati hanya tumbuh jika disemai di atas ladang subur kecintaan kepada Allah ar Rahman. Cinta yang tumbuh di atas iman. Dua orang yang saling mencinta karena Allah semata akan mendapatkan kelezatan iman. Pastilah ketentuan ini berlaku bagi pasangan suami-istri.

Seorang suami memiliki peran penting dalam membantu menumbuhkan peran istri sebagai kekasih. Ia pun mesti menjadi kekasih sejati. Senantiasa memelihara hatinya untuk mencinta karena Allah semata. Secara kejiwaan, ia mesti memelihara sikap lembut dan kasih sayang. Karenanya memelihara dzikruLlaah menjadi prasyarat utama dalam memelihara cinta dan kasih sayang. Mengingat Allah membuat hati tentram. Dan tentramnya hati akan melahirkan sikap lembut dan kasih.

Senyum adalah shadaqah, maka istrinya menjadi orang yang paling berhak memperoleh senyum termanis yang ia miliki. Aisyah ra, istri yang manja, cerdas dan paling disayangi Nabi saw, ketika ditanya bagaimanakah keadaan suaminya di rumah mengungkapkan,” … senantiasa terpancar senyuman di wajahnya …” Ini sebuah rahasia besar bagi para suami, untuk terus memelihara kestabilan jiwa dan kelembutan hati dalam kondisi apapun. Sungguh senyuman itu tak bisa dibuat-buat. Senyum bukanlah produk imitasi. Senyum adalah cermin ketenangan jiwa dan lembutnya hati.

Membantu orang lain adalah perbuatan mulia; Allah akan membantu seorang hamba, manakala ia membantu saudaranya. Maka bagi seorang suami, istri adalah orang yang paling patut mendapatkan uluran tangannya dalam mengerjakan berbagai tugasnya, termasuk dalam mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mendengarkan dengan seksama adalah sikap komunikatif terpuji dan didambakan siapapun; Maka mendengarkan cerita suka dan atau kisah gundah istri adalah realisasi kebaikan terindah dalam akhlak muslim. Sebaik-baik muslim adalah yang paling baik perilakunya kepada istri mereka.

Memberikan fasilitas bagi istri untuk merawat tubuh dan kecantikannya adalah bagian dari nafkah yang patut diberikan suami. Sebagaimana ia menyukai istrinya berpenampilan cantik, ia pun mesti berpenampilan menarik. Menariknya penampilan adalah bagian dari shadaqah seorang muslim buat saudaranya yang lain, maka berpenampilan menarik dihadapan istri adalah bagian dari shadaqah yang diutamakan. Telitilah, pakaian seperti apa dan warna apa yang paling disukainya. Sebaliknya sampaikanlah penampilan mana yang paling disukai padanya.

Ada catatan menarik dalam hal penampilan suami ini. Ibnu ‘Abbas ra yang menjadi referensi para ahli tafsir pernah mencukur janggutnya sedemikian, sehingga membuat beberapa sahabatnya bertanya-tanya tentang perbuatannya itu, karena dianggap tidak lazim bagi seorang fakih seperti dirinya. Ternyata Ibnu ‘Abbas melakukan hal ini sebagai upaya berhias bagi istrinya, seraya menyitir sebuah ayat Quran,” Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.” (QS 2:228). Tentulah Ibnu ‘Abbas mengingat salah satu arahan gurunya tercinta, Nabi Muhammad saw, agar para sahabatnya senantiasa berpakaian rapi dan juga merapikan rambut mereka. Beliau saw saat itu mengungkapkan salah satu fenomena sosial, yaitu banyaknya kaum perempuan Yahudi yang berselingkuh, karena kaum lelakinya yang tidak memelihara penampilan yang baik.

Dan sebagaimana suami menyukai istrinya merawat tubuhnya, ia pun patut menjaga kestabilan, kebugaran tubuh serta stamina yang prima, sehingga ia memiliki kemampuan yang baik dalam memberikan kepuasan dan memelihara hangat cinta bagi istrinya. Bahkan referensi iman memandu suami yang sholih menjadikan segenap usahanya memelihara hangat cinta sebagai shadaqah, sebagai bukti kebenaran imannya.

Ketajaman sensitifitas suami dalam membaca suasana jiwa istrinya amat diperlukan dalam interaksi suami-istri. Begitu kenalnya RasuluLlaah saw akan suasana jiwa istrinya, Aisyah ra, hingga beliau mengetahui kapan istrinya ini senang dan kapan marah, hanya dengan pilihan kata yang diucapkan sang istri. “Jika kau senang kau pasti berkata tidak demi Rabb Muhammad, tapi jika kau marah kau berkata tidak demi Rabbnya Ibrahim …” Aisyah hanya tersenyum dan menjawab,”Benar ya Rasulullah, aku hanya ingin menghindari menyebut namamu.”

Dalam bertutur kata, suami sholih akan memanggil istri dengan panggilan sayang yang disukainya. Istri tentu suka dirinya dipanggil, dan bukan selalu dipanggil sebagai ibu dari anak-anaknya. Saling memberi hadiah akan merekat persaudaraan, maka min baabil aulaa* untuk mempersembahkan hadiah-hadiah yang menyenangkan hati istri. Suami sholih akan menyatakan cinta kepada istri pada banyak kesempatan secara tulus dan jujur. Ini bagian dari sunnah dari Nabi saw, yang mengajarkan seseorang menyatakan cintanya karena Allah kepada saudaranya. Diantara cara mengungkapkan cinta tanpa ucapan ‘aku cinta kamu’ adalah dengan apresiasi dan pujian yang tulus. Rangkaian kalimat di bawah ini adalah contoh ungkapan verbal dalam memberitahu pasangan hidup kita akan kebaikannya. Beri tahukan keindahan yang patut disyukuri yang ada padanya. Ini akan meningkatkan rasa cinta kasih diantara suami-istri.

“Istriku tahukah kamu, semakin lama kita bersama semakin banyak aku menemukan butir-butir mutiara kebaikan pada dirimu. Ternyata kamu seorang yang lembut. Kamu mengerti kapan dan bagaimana cara mengingatkan aku saat semangat ini melemah. Dan caramu mendengarkan luapan rasa senangku, sungguh membuat diriku berarti. Aku tahu kamu begitu lelah memikul tugas di rumah dan di luar rumah. Namun kamu mengisahkan langkah-langkahmu menjalani segenap amanah da’wah ini dengan penuh suka cita. Istriku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang melimpah …”

WalLaahu a’lamu bish shawwab.

Chiba, 27 Juni 2006 (revisi dan pengayaan materi)

=====

* Frase min baabil aulaa ini salah satu frase yang kerap digunakan dalam ushul fiqh, pengertiannya "adalah hal/perilaku yang lebih utama" atau kalau secara letterlijk artinya "di antara pintu yang lebih diprioritaskan".

Saya teringat dengan satu taujih yang diberikan Ustadz Abdurraqib tentang adab suami-istri. Beliau menyampaikan beberapa dalil umum tentang fadha-il (keutamaan-keutamaan) menyampaikan cinta karena Allah, bersalaman, saling memberi hadiah, saling menolong yang disampaikan Nabi Muhammad saw dalam kaitan membina ukhuwwah islamiyyah. Yang membuat saya terkesan adalah ketika Ustadz Abdurraqib menghantarkan perilaku akhlak karimah tersebut pada kehidupan suami istri dengan kaidah min baabil aulaa.

Seorang teman saya dari Mesir pun terkejut mendengar satu kebiasaan di rumah kami, yaitu ketika saya pulang kantor istri akan menyambut di pintu depan rumah dengan wajah berseri dan bersalaman serta mencium tangan. Dia bilang kebiasaan seperti itu tak ada di Mesir. Saya bilang,"... bukankah hadits tentang bersalaman dan terhapusnya dosa dengan bersalaman itu applicable untuk suami istri?" Dia bilang,"Of course it is applicable. But we never do that ... Oke, I will start to do that with my wife." (rev. 28 Juni 2006)

=====

Tulisan versi awal dari artikel di atas sebelumnya pernah disampaikan pada:

- Kajian Muslimah (Kamus)
http://kajian-muslimah.blogspot.com/2006/02/istri-sebagai-kekasih.html

- Sorotan KAMMI-Jepang:
http://kammi-jepang.net/sorotan.php?id=51


26 CommentsChronological   Reverse   Threaded
payraf wrote on Jun 27, '06
Subhanallah. Kalo semua suami kayak gini, pasti para feminists khan berhenti mengkritik laki-laki n lembaga keluarga. Jazakillah
adijm wrote on Jun 27, '06, edited on Jun 27, '06
Semoga banyak suami yang baik; Kalau ini terjadi kan jadi parameter makin banyak manusia-manusia terbaik ...
murazza wrote on Jun 27, '06
Nuhun Pak Adi..bahan bacaan buat suami muda nih :)
annidalucu wrote on Jun 27, '06
jazzakallah tulisannya pak, saya forward ke milis yg saya ikuti ya..
adijm wrote on Jun 27, '06
mangga nyanggakeun mas Oki. iya, buat para suami muda yang biasanya masih rada bubudakeun (kekanak-kanakan) ... hehehe. juga buat suami tua donk. emang yang muda aja yang boleh bercinta ... *smile*
adijm wrote on Jun 27, '06, edited on Jun 28, '06
waiyyaki, ummi Nida. silakan menyampaikan di milis itu. kalau ada feedback mohon di-forward ya ...
annidalucu wrote on Jun 28, '06
insyaallah tambahannya akan saya forward juga pak :)
rahmirizal wrote on Jun 29, '06
subhanallah...indah sekali...
lagi-lagi saya copy y pak...jazakallah :)
adijm wrote on Jun 29, '06, edited on Jun 29, '06
benar, memang indah sekali. meskipun saya yang menulis, saya sering bertanya-tanya, kapan bisa menjadi suami seperti itu ...? oya, silakan mbak Amy. tulisan itu copy all-right kok.
keluargayusuf wrote on Jun 29, '06
wah setuju sekali pak Adi tulisannyha... Memang tanggung jawab menjadikan keluarga SAMARA tidak 100% di pundak isteri. Justru para suami lah yang juga menjadi kontributor utamanya.
adijm wrote on Jun 29, '06
Iya, mbak Wiwied ... Saya masih menyimpan tulisan Suami Sholih, Sahabat dan Mitra bagi Istrinya. Insya Allah akan saya share juga.
wirdayanti wrote on Jun 30, '06
Subhanallah.. Tulisan yang "indah" sekali Pak Adi...

Saya tunggu tulisan Pak Adi berikutnya.. :)
adijm wrote on Jun 30, '06
Terima kasih, mbak Wirda. Hmm ... ini tanggapan sebagai istri muslimah atau sebagai penulis senior, mbak? *smile*
wirdayanti wrote on Jun 30, '06
Hehe.. Pak Adi bisa saja.. :D
Tentu saja, saya sebagai istri Pak... *smile*
ulyaz wrote on Jul 6, '06, edited on Jul 6, '06
Alhamdulillah, jazakallah khair atas sharing tulisannya, Pak Adi. Jadi bisa `mengimbangi` wacana2 yang sering saya baca/dengar...habis, memang seringnya dengar tausiah untuk para istri....jarang yang dari sisi suami. Udah di-forward juga ke suami dan keluarga :) Tulisan yang menampakkan kesholihan suami juga saya temukan di buku Ayat-Ayat Cinta. Jadi, kapan tulisan2 tentang suami sholih ini dijadikan buku?
adijm wrote on Jul 7, '06
ulyaz said
Alhamdulillah, jazakallah khair atas sharing tulisannya, Pak Adi. Jadi bisa `mengimbangi` wacana2 yang sering saya baca/dengar...habis, memang seringnya dengar tausiah untuk para istri....jarang yang dari sisi suami. Udah di-forward juga ke suami dan keluarga :) Tulisan yang menampakkan kesholihan suami juga saya temukan di buku Ayat-Ayat Cinta. Jadi, kapan tulisan2 tentang suami sholih ini dijadikan buku?
Wa jazakiLlahu khairan sudah menyampaikan tulisan ini buat bang Ismet, adik dan sahabat saya ... *smile*, juga buat keluarga. Semoga wacana dan obrolan tentang suami sholih bisa terus makin mengimbangi wacana istri sholihah.

Hmm ... tipe Fachri pada AAC memang tipe menawan buat perempuan. Selain sisi-sisi kepribadian terkait langsung dengan masalah pengetahuan keagamaan, Fachri adalah seorang yang memiliki empati amat dalam dan sangat ringan tangan (penolong) bagi orang lain, wa bil khusus pada perempuan di sekelilingnya pada cerita itu.
rachmadjr wrote on Jul 19, '06
Subhanallah bang, tulisan sangat bagus buat rachmad lho
adijm wrote on Jul 19, '06, edited on Jul 19, '06
Subhanallah bang, tulisan sangat bagus buat rachmad lho
alhamdulillah jika tulisan ini menjadi inspirasi baik. terutama buat pasangan yang tergolong pengantin baru seperti Rachmad dan istri. semoga terus terbina suasana cinta dan kasih sayang. amiin.
namakuide wrote on Oct 2, '06
iya nih kang .. kadang kita terlalu menggembar-gemborkan istri shalihah :) . padahal justru mungkinyang lebih penting adalah suami shaleh, karena dia adalah kepala dan nahkoda di rumah tangganya. bukankah setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Allahu alam.
adijm wrote on Oct 3, '06
bukankah setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
Leres pisan ... *smile*. Ya biar klop lah, suami sholih ketemu istri sholihah.
maswiy wrote on Jan 11, '07
saya juga pingin nich....mohon doa dan dukungannya biar cepet menggenapkan yang satu ini....
adijm wrote on Jan 11, '07
aamiin. mas Wiy saya ikut mendoakan dan mendorong, insya Allah.
ibeck wrote on May 6, '07
assalamu'alaikum wr.wb.
pak adji saya mohom diizinkan untuk meng-copy
syukron..

wasalamu'alaikum wr.wb.
adijm wrote on May 8, '07
ibeck said
assalamu'alaikum wr.wb.
pak adji saya mohom diizinkan untuk meng-copy
syukron..
wa'alaikumus salam wr wb. silakan ... semoga bermanfaat.
umiathirah wrote on Nov 2, '07
salam kenal pak..assalamu'alaykum wr.wb...saya senang membacanya dan rencananya mau di kopi untuk suami tercinta.pak kapan-kapan saya mau mengenalkan bapak ke beliau.
adijm wrote on Nov 4, '07
salam kenal pak..assalamu'alaykum wr.wb...saya senang membacanya dan rencananya mau di kopi untuk suami tercinta.pak kapan-kapan saya mau mengenalkan bapak ke beliau.
Wa'alaikumus salam wr wb. Salam kenal juga, Bu. Juga salam untuk suami ibu. Semoga jadi bacaan yang bermanfaat.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help