Assalaamu'alaikum wr wb.
Masih
melanjutkan obrolan tentang suami sholih. Kali ini pada posisi sebagai
mitra bagi kerja-kerja sosial dan da'wah yang terpikul di pundak sang
istri. Saya termasuk yang mempercayai adanya dimensi panggilan tugas
bagi seorang perempuan di hadapan masyarakatnya. Ini melengkapi dimensi
tugasnya di rumah.
Cukup
banyak kejadian yang saya saksikan, para muslimah yang sebelum menikah
adalah para aktifis yang produktif, setelah menikah tiba-tiba seperti
kehilangan energi gerak. Dalam satu personal discussion,
seorang peneliti muslimah yang melakukan penelitian dengan objek para
istri yang menemani suami mereka melakukan tugas belajar di luar
negeri, mengungkapkan kecenderungan para istri merasa potensi dirinya
tak termanfaatkan secara optimal.
Saya pikir memang mesti diangkat satu posisi suami yang khas untuk mendukung peran sosial istrinya. Meskipun lebih hanya berupa pointers of idea, semoga tulisan ini menjadi salah satu sumbangan untuk menyuburkan diskusi seputar dimensi:
Suami Sholih: Mitra bagi Istrinya
Dan
orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka
(adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. (al Quran, surat at Taubah:71)
Ayat di atas mengajarkan kemitraan
lelaki dan perempuan dalam perjuangan menegakkan kebenaran secara utuh.
Tak ada perbedaan hakikat tugas diantara keduanya. Yang ada adalah
pemilahan-pemilahan tugas sesuai tuntunan ajaran Islam yang
mencerminkan fitrah penciptaan lelaki dan perempuan. Demi
malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang
benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan; Sesungguhnya (peran)
usaha kamu memang berbeda-beda. (QS al Lail:1-4). Rahmat
Allah akan secara adil terbagi untuk lelaki dan perempuan yang
berjuang. Penyebutan dua nama Allah yang mulia: Maha Perkasa dan Maha
Bijaksana pada ayat at-Taubah di atas, seakan menyiratkan bahwa
keseimbangan peran lelaki dan perempuan dalam kehidupan akan melahirkan
kekuatan yang diselimuti sifat bijaksana.
Pasangan suami-istri adalah
representasi terkecil dari kemitraan dalam perjuangan di atas. Saat ini
perempuan muslimah memiliki peran sosial yang berat. Di hadapannya
terpampang seribu satu masalah pemberdayaan perempuan di masyarakat.
Seorang suami yang bijak akan menempatkan diri sebagai mitra dalam
perjuangan istrinya. Ia pun, insya Allah, akan menemukan pesona pada
salah satu sisi peran istrinya ini.
Pada penunaian tugas sosial dan
da’wah ini istri akan menemukan peran penting pada jatidirinya. Menjadi
seorang yang memberi manfaat kepada orang lain adalah satu kebutuhan;
Bagian dari need of achievement.
Dalam peran-peran sosial, ia dapatkan tantangan untuk berpikir,
berdialog, membaca, bekerja dan berkarya. Ini akan membuat
kepribadiannya terus bekembang dan terus merasa lebih berarti dalam
kehidupannya.
Begitu banyak permasalahan sosial
membutuhkan sentuhan tangan perempuan. Bidang pendidikan sangat
membutuhkan jiwa yang penuh perhatian dan kesabaran. Pencerdasan para
ibu pada hakikatnya adalah pencerdasan masyarakat keseluruhan. Sebab
hanya ibu yang cerdas dan terampil yang dapat menciptakan suasana
kondusif bagi pertumbuhan dan pendidikan anak-anak. Penanganan
kesehatan sangat dipengaruhi sikap kasih sayang, ketelitian dan
kelembutan. Sudah pasti penanganan medis bagi perempuan, seperti masa
kehamilan hingga melahirkan, dalam tuntunan ajaran Islam menuntut
tenaga-tenaga terampil dokter, bidan dan perawat perempuan.
Bagi suami sholih, menempatkan diri
sebagai mitra istri berarti menjadi kawan dialog yang menyenangkan.
Memberikan apresiasi yang kreatif dan tulus atas prestasi-prestasi
kerjanya. Selalu menyediakan waktu untuk berbincang tentang
permasalahan yang dihadapi istri. Mengajukan pendapat yang mungkin bisa
membantu kesuksesan tugasnya. Membantu mempertajam bahan makalah,
ketika misalnya istri mendapat tugas untuk mengisi seminar atau
ta’lim-ta’lim tertentu.
Di sisi lain, suami sholih sebagai
mitra juga akan meringankan beban tugas istri di dalam rumah. Di
saat-saat kebutuhan alokasi waktu istri di masyarakat agak lebih dari
biasanya, bisa saja suami menawarkan untuk memasak buat keluarga, atau
sesekali makan di luar. Secara rutin mengajak anak-anak bermain di luar
rumah untuk memberikan waktu-waktu luang bagi istri dalam meningkatkan
kemampuannya dengan membaca, menulis, berkomunikasi di internet dengan
rekan-rekannya atau hanya untuk sekedar menikmati kesendiriannya.
Setiap orang butuh melakukan perenungan, untuk berdialog dengan diri
sendiri.
Semua tugas suami terhadap istri sebagai pekerja untuk masyarakatnya mesti diperankan dengan posisi mitra. Ini membutuhkan ketulusan dan kematangan bersikap. Posisi pemimpin rumah
tangga kadang secara tidak disadari mendominasi seluruh interaksi suami
terhadap istrinya dengan sikap yang kurang dialogis. Ketika sang istri
mulai bercerita dengan penuh semangat tentang pengalamannya di luar
rumah, suami bersikap acuh tak acuh. Kalau pun mendengarkan tidak
dengan perhatian dan penghargaan yang sungguh-sungguh. Atau bahkan
dalam kasus yang tidak bijak, cerita istri dipotongnya dengan
kata-kata, “Ah … nanti aja ya Bu ceritanya. Bapa udah laper nih. Tolong
siapkan makan dulu!?” Sikap seperti ini jelas tidak mendukung peran
sosial istri. Jika perlakuan seperti ini sering dilakukan, jangan
salahkan siapa-siapa kalau perlahan tapi pasti istri menjadi pribadi
yang apatis, tak mau tahu dengan masalah sekelilingnya. Ia akan
mengalami kejenuhan-kejenuhan karena monotonnya kehidupan. Ia pun akan
kehilangan kegesitan dan kecerdasannya. Sayang bukan, jika pesona
gesit, cerdas, kritis dan terampil hilang dari istri?
WalLaahu a’lamu bish shawwab.
***
Setelah revisi minor dari versi sebelumnya pada kolom Sorotan Kammi-Jepang: http://kammi-jepang.net/sorotan.php?id=50