Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntrySuami Sholih: Mitra bagi IstrinyaJun 30, '06 4:02 AM
for everyone

Assalaamu'alaikum wr wb.

Masih melanjutkan obrolan tentang suami sholih. Kali ini pada posisi sebagai mitra bagi kerja-kerja sosial dan da'wah yang terpikul di pundak sang istri. Saya termasuk yang mempercayai adanya dimensi panggilan tugas bagi seorang perempuan di hadapan masyarakatnya. Ini melengkapi dimensi tugasnya di rumah.

Cukup banyak kejadian yang saya saksikan, para muslimah yang sebelum menikah adalah para aktifis yang produktif, setelah menikah tiba-tiba seperti kehilangan energi gerak. Dalam satu personal discussion, seorang peneliti muslimah yang melakukan penelitian dengan objek para istri yang menemani suami mereka melakukan tugas belajar di luar negeri, mengungkapkan kecenderungan para istri merasa potensi dirinya tak termanfaatkan secara optimal.

Saya pikir memang mesti diangkat satu posisi suami yang khas untuk mendukung peran sosial istrinya. Meskipun lebih hanya berupa pointers of idea, semoga tulisan ini menjadi salah satu sumbangan untuk menyuburkan diskusi seputar dimensi:

Suami Sholih: Mitra bagi Istrinya

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al Quran, surat at Taubah:71)

Ayat di atas mengajarkan kemitraan lelaki dan perempuan dalam perjuangan menegakkan kebenaran secara utuh. Tak ada perbedaan hakikat tugas diantara keduanya. Yang ada adalah pemilahan-pemilahan tugas sesuai tuntunan ajaran Islam yang mencerminkan fitrah penciptaan lelaki dan perempuan. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan; Sesungguhnya (peran) usaha kamu memang berbeda-beda. (QS al Lail:1-4). Rahmat Allah akan secara adil terbagi untuk lelaki dan perempuan yang berjuang. Penyebutan dua nama Allah yang mulia: Maha Perkasa dan Maha Bijaksana pada ayat at-Taubah di atas, seakan menyiratkan bahwa keseimbangan peran lelaki dan perempuan dalam kehidupan akan melahirkan kekuatan yang diselimuti sifat bijaksana.

Pasangan suami-istri adalah representasi terkecil dari kemitraan dalam perjuangan di atas. Saat ini perempuan muslimah memiliki peran sosial yang berat. Di hadapannya terpampang seribu satu masalah pemberdayaan perempuan di masyarakat. Seorang suami yang bijak akan menempatkan diri sebagai mitra dalam perjuangan istrinya. Ia pun, insya Allah, akan menemukan pesona pada salah satu sisi peran istrinya ini.

Pada penunaian tugas sosial dan da’wah ini istri akan menemukan peran penting pada jatidirinya. Menjadi seorang yang memberi manfaat kepada orang lain adalah satu kebutuhan; Bagian dari need of achievement. Dalam peran-peran sosial, ia dapatkan tantangan untuk berpikir, berdialog, membaca, bekerja dan berkarya. Ini akan membuat kepribadiannya terus bekembang dan terus merasa lebih berarti dalam kehidupannya.

Begitu banyak permasalahan sosial membutuhkan sentuhan tangan perempuan. Bidang pendidikan sangat membutuhkan jiwa yang penuh perhatian dan kesabaran. Pencerdasan para ibu pada hakikatnya adalah pencerdasan masyarakat keseluruhan. Sebab hanya ibu yang cerdas dan terampil yang dapat menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan dan pendidikan anak-anak. Penanganan kesehatan sangat dipengaruhi sikap kasih sayang, ketelitian dan kelembutan. Sudah pasti penanganan medis bagi perempuan, seperti masa kehamilan hingga melahirkan, dalam tuntunan ajaran Islam menuntut tenaga-tenaga terampil dokter, bidan dan perawat perempuan.

Bagi suami sholih, menempatkan diri sebagai mitra istri berarti menjadi kawan dialog yang menyenangkan. Memberikan apresiasi yang kreatif dan tulus atas prestasi-prestasi kerjanya. Selalu menyediakan waktu untuk berbincang tentang permasalahan yang dihadapi istri. Mengajukan pendapat yang mungkin bisa membantu kesuksesan tugasnya. Membantu mempertajam bahan makalah, ketika misalnya istri mendapat tugas untuk mengisi seminar atau ta’lim-ta’lim tertentu.

Di sisi lain, suami sholih sebagai mitra juga akan meringankan beban tugas istri di dalam rumah. Di saat-saat kebutuhan alokasi waktu istri di masyarakat agak lebih dari biasanya, bisa saja suami menawarkan untuk memasak buat keluarga, atau sesekali makan di luar. Secara rutin mengajak anak-anak bermain di luar rumah untuk memberikan waktu-waktu luang bagi istri dalam meningkatkan kemampuannya dengan membaca, menulis, berkomunikasi di internet dengan rekan-rekannya atau hanya untuk sekedar menikmati kesendiriannya. Setiap orang butuh melakukan perenungan, untuk berdialog dengan diri sendiri.

Semua tugas suami terhadap istri sebagai pekerja untuk masyarakatnya mesti diperankan dengan posisi mitra. Ini membutuhkan ketulusan dan kematangan bersikap. Posisi pemimpin rumah tangga kadang secara tidak disadari mendominasi seluruh interaksi suami terhadap istrinya dengan sikap yang kurang dialogis. Ketika sang istri mulai bercerita dengan penuh semangat tentang pengalamannya di luar rumah, suami bersikap acuh tak acuh. Kalau pun mendengarkan tidak dengan perhatian dan penghargaan yang sungguh-sungguh. Atau bahkan dalam kasus yang tidak bijak, cerita istri dipotongnya dengan kata-kata, “Ah … nanti aja ya Bu ceritanya. Bapa udah laper nih. Tolong siapkan makan dulu!?” Sikap seperti ini jelas tidak mendukung peran sosial istri. Jika perlakuan seperti ini sering dilakukan, jangan salahkan siapa-siapa kalau perlahan tapi pasti istri menjadi pribadi yang apatis, tak mau tahu dengan masalah sekelilingnya. Ia akan mengalami kejenuhan-kejenuhan karena monotonnya kehidupan. Ia pun akan kehilangan kegesitan dan kecerdasannya. Sayang bukan, jika pesona gesit, cerdas, kritis dan terampil hilang dari istri?

WalLaahu a’lamu bish shawwab.

***

Setelah revisi minor dari versi sebelumnya pada kolom Sorotan Kammi-Jepang: http://kammi-jepang.net/sorotan.php?id=50


19 CommentsChronological   Reverse   Threaded
deeyand wrote on Jun 30, '06
Bagus artikelnya, Pak Adi.
Saya juga menemui beberapa kasus seperti yang Pak Adi sebut. Di satu sisi sang suami memang kelihatan kurang bisa menjadi mitra bagi istrinya, namun di sisi lain muslimahnya sendiri saya lihat kurang proporsional dalam menyikapi kesibukannya sbg istri (wallahu'alam, terlalu lancang rasanya saya yang belum menikah mengomentari hal ini, soale belum ngerasain gimana pontang-pantingnya IRT, baru melihat :).
Saya yakin, kalo para suami menyadari + punya pemikiran (juga action) kayak pak Adi, wah pasti begitu banyak potensi yang teroptimalkan :). Pak Adi kayaknya harus banyak dikloning nih, hehe.
laurakhalida wrote on Jun 30, '06
semoga saya dapat suami sholeh, doakan ya
aql1nd4 wrote on Jun 30, '06
semoga saya dapat suami sholeh, doakan ya
Amin....
fadlan wrote on Jun 30, '06
Bahagianya para istri andaikan suami-suami mereka penuh pengertian dan sabar dalam membimbing dan menjadi pemimpin di dalam keluarga. Semoga para bapak turut membaca tulisan Ustadz dan menerapkannya dalam keseharian:)
adijm wrote on Jun 30, '06, edited on Jun 30, '06
Terima kasih mbak Dee utk apresiasinya. Memang mungkin banyak faktor yang membuat energi gerak para istri ini berkurang drastis. Yang pasti pengalokasian waktu dan konsentrasi berubah ya ... Cuma pada tulisan kali ini memang fokusnya pada posisi mitra suami untuk tetap menyemangati istri.
adijm wrote on Jun 30, '06, edited on Jun 30, '06
amiin. mbak Laura mana komentarnya? silakan lho, kalau mau ada masukan2 atau kritikan ...
adijm wrote on Jun 30, '06, edited on Jun 30, '06
Wah, senengnya dikunjungi dan dapat komen dari Hani-sensei. Apa kabar?

Iya nih, para bapak silakan baca-baca *smile*. Baru 12%-an pembaca tulisan ini dari kalangan bapak or calon bapak.
adijm wrote on Jul 1, '06, edited on Jul 1, '06
Ada tambahan dari mitra saya. Dia bilang, memang bagi seorang ibu, saat anak-anak masih balita, mau tidak mau alokasi waktu untuk mereka cukup menyita. Dan itu memang konsekuensi dan tugas mulia bagi seorang ibu. Bukankah Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak? Nah, waktu mereka mulai masuk sekolah SD dan seterusnya, akan lebih banyak waktu yang bisa dimanfaatkan seorang ibu muslimah untuk beraktifitas bagi masyarakatnya ... Begitu katanya.

Nampaknya justru pada masa2 di mana perhatian seorang perempuan muslimah lebih terfokus ke rumah itulah peran suami untuk tetap memelihara semangat istrinya amat besar.
ichifar wrote on Jul 1, '06
insya Alloh fadlan
darititik4 wrote on Sep 2, '06
tulisan yang bagus Pak Adi, mudah-mudahan para suami bisa belajar menjadi mitra bagi istrinya ya... dan harapannya para istri juga tetap ikhtirom sama suaminya, "Adil, sederhana dan proporsional"
adijm wrote on Sep 3, '06
terima kasih. benar, salah satu prinsip kemitraan memang adanya rasa saling menghormati secara tulus.
jundi20 wrote on Jul 31, '07
Jazakallah atas tadzkirahnya semoga saya dan istri bisa menjadi mitra yang baik, btw tolong donk pak dijelaskan mengenai pilar2 rumah tangga
adijm wrote on Aug 6, '07
jundi20 said
Jazakallah atas tadzkirahnya semoga saya dan istri bisa menjadi mitra yang baik, btw tolong donk pak dijelaskan mengenai pilar2 rumah tangga
Wajazakumullahu khairan, bang Jundi. Saya sendiri enggak ngerti persisnya ttg pilar2 rumah tangga yang dimaksud. Apakah terkait dg kematangan agama, kematangan ilmu, kematangan kejiwaan, kematangan fisik dan kematangan sosial-ekonomi?
andhikasmiley wrote on Aug 28, '07
emmmm ....
dzikrina22 wrote on Jan 28
Bagus sekali tulisannya,,,,kalau para suami mendampingi sang istri dalam meningkatkan potensinya bahkan labih dari sebelum menikah, maka akan banyak wanita muslim yang muncul sebagai negarawan, ilmuan, cendekiawan, diah, subhanallah.........
adijm wrote on Jan 28
para suami mendampingi sang istri dalam meningkatkan potensinya bahkan labih dari sebelum menikah, maka akan banyak wanita muslim yang muncul sebagai negarawan, ilmuan, cendekiawan
begitulah seharusnya, mbak ...
phyton1980 wrote on Apr 7
very inspiring,temen saya terharu bgt
phyton1980 wrote on Apr 7
sangat bagus dan inspiratif sekali pak adi, semoga sy bisa mencapai tahapan suami sholih,amin
adijm wrote on Apr 7
very inspiring,temen saya terharu bgt
lha, mas Tom-nya terharu enggak ... weleh weleh ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help