Prolog Buku-buku fikih menyebutkan bahwa salah satu kewajiban suami adalah mendidik istri mereka. Seperti di dunia pendidikan umum, ada saja para suami yang kurang tepat memaknai tugas ini. Sebagian mereka bersikap sebagai "guru yang galak". Di sisi lain, para suami yang mencoba menjalankan fungsi pendidik dengan baik di rumah pasti merasakan betapa khasnya tugas itu; Kalau bukan menyebutkan satu tugas yang sulit. Jika terlalu serius, istri pasti tak nyaman. Jika terlalu lemah, kadang terjadi hal-hal yang dirasakan kurang pada para istri itu.
Saya pernah dapat cerita, seorang istri meminta suaminya yang pandai membaca Quran untuk mengajarinya tilawah dengan indah (tahsin). Pada hari pertama yang disepakati, sang suami mengajari sungguh-sungguh. Beberapa kali makhraj (cara pengucapan) bacaan istrinya ia koreksi. Merasa diajari dengan serius, sang istri pun mencubit paha suaminya sambil merengek manja,"Maaas ... jangan serius-serius gitu donk ngajarnya! Aku kan jadi takut ..." *smile*.
Sementara itu, ketika proses pendidikan tidak berjalan, betapa banyak kasus suami kerepotan menghadapi tingkah polah istri mereka. Sampai-sampai secara guyonan disebutkan ada ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri ... Atau ada pameo di tanah air "di atas jenderal itu ada atasan jendral"; Dan ini merefer pada istri jenderal ... *smile-lagi*.
Setelah menyampaikan posisi suami sholih sebagai kekasih dan sebagai mitra*, kali ini suami sholih sebagai pembimbing bagi istrinya. Saya memilih kata pembimbing instead of pendidik. Entahlah, mungkin karena saya melihat tak sedikit para istri yang memiliki kecerdasan lebih daripada para suaminya, hanya saja mereka sering lemah mengelola sisi-sisi kestabilan emosi mereka. Yang pasti saya terinspirasi ayat al-Ahzab:34 yang akan saya sampaikan di bawah ini ... Saya melihat para istri ini mesti terpacu belajar, bukan karena dipaksa suami. Mereka belajar, karena mereka adalah pembelajar. Karenanya fungsi suami adalah sebagai supervisor
=== * Ini links ke dua tulisan terdahulu: Sebagai Kekasih dan Sebagai Mitra ===
(pembimbing) atau malah menjadi teman yang sama-sama saling belajar. Suami Sholih: Pembimbing bagi Istrinya
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Melihat." (al Quran, surat Al Ahzab:34)
Yang diajak berdialog pada ayat di atas adalah para istri Nabi Muhammad saw. Akan tetapi pelajarannya bisa dipetik oleh para perempuan muslimah, sebab pelajaran (‘ibroh) sebuah ayat itu tidak hanya terbatas pada sebab turunnya. Menarik sekali, Nabi saw sebagai suami yang menjadi pembimbing para istrinya, tidak disebutkan secara eksplisit pada ayat ini (kalimat ayat ini berbentuk pasif, ketika menyebut "yang dibacakan di rumahmu"). Seolah dimaksudkan dengan cara pengungkapan ini, bahwa para istri Nabi menjalani proses pembelajaran aktif terhadap dua sumber utama ilmu dan hikmah, yaitu al Qur’an dan as Sunnah.Tersirat juga dari ayat ini, bahwa peran suami dalam proses ini adalah membangkitkan kekuatan self-learning para istri mereka.
Penyebutan dua sifat Allah swt yang senantiasa Mahalembut (lathiifan) dan Maha Melihat (khabiiran) pada akhir ayat menjadi muatan aqidah dalam proses pembelajaran seorang istri muslimah. Kelembutan dan pengawasan yang menjadi warna proses pembelajaran ini.
Perempuan dalam fitrahnya adalah sosok makhluk yang lembut. Kerenanya instrument kejiwaan perempuan lebih mudah disentuh dengan sensasi atau kejadian emosional; Suasana yang diliputi kelembutan (lathiifan). Perhatikanlah sosok perempuan seteguh ratu negeri Saba saja tersentuh instrument emosionalnya melalui sepucuk surat berhiaskan "bismilLaahi ar-Rahmaani ar- Rahiimi" dari Nabi Sulaiman as. Ratu Saba mengapresiasi surat ini dengan ungkapan, "Sebuah surat yang mulia telah dilayangkan kepadaku". Dengan diawali sentuhan emosional inilah, surat itu menyampaikan seruan da’wah ke dalam Islam (QS. an Naml:28-31). Sang Ratu pun menimbang ajakan Islam dari Nabi Sulaiman melalui musyawarah dengan para menterinya. Karena sifat lembutnya pula dia menghindari pertumpahan darah dan dengan penuh kesadaran menerima Islam, tunduk patuh kepada Allah swt.
Sikap memberikan perhatian serta pengawasan (khabiiran) juga mesti diperhatikan dalam bimbingan terhadap para istri. Kita tidak meragukan kelembutan dan kasih sayang Nabi saw dalam membina para istrinya. Betapa beliau senantiasa berwajah manis dalam keseharian di rumah bersama para istrinya. Akan tetapi sikap lembut ini tetap berada dalam kerangka kebenaran dan kerangka da’wah. Dalam beberapa kasus, al Quran memberikan pengarahan kepada Nabi untuk bersikap tegas dalam membina kepribadian istri. Perhatikan ayat ke-28 dari surat al Ahzab ini,"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepada kalian mut’ah (pemberian kepada perempuan yang diceraikan sesuai kesanggupan suami) dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik."
Kemudian ditegaskan bahwa ciri utama kematangan kepribadian istri ini adalah ketika keridhaan Allah, kesesuaian langkah dengan ajaran ar-Rasul dan kehidupan akhirat menjadi orientasi kehidupan (ayat ke-29). Sesungguhnya sikap tegas suami ini dilandasi dengan tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga untuk menjaga diri dan keluarganya dari kesengsaraan siksa api neraka di akhirat kelak. "Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (QS. at Tahriim:6)
Pembangunan pribadi istri muslimah lewat proses pembelajaran Quraniy dan hikmah sunnah Nabi ini sangat diperlukan untuk menyongsong berbagai tugas kehidupan yang mesti dipikul komunitas muslimah. Setelah mengarahkan para istri Nabi dengan proses self-learning di ayat ke-34 surat al Ahzab, al Quran melanjutkan pengarahan kepada seluruh muslimin dan mu’minin, lelaki dan perempuan, dalam ayat ke-35 untuk bahu membahu menegakkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan, yang terangkum dalam sikap ta’at, bersifat shiddiq (jujur dan benar), bersabar, bersikap khusyu’, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan dan berzikir kepada Allah swt. Kemudian menutup kesempurnaan kepribadian ini dengan totalitas ketundukan kepada ketetapan Allah dan RasulNya dalam seluruh aspek kehidupan (ayat ke-36).
Dalam asbab nuzul ayat ke-35, diantaranya melalui riwayat at Tirmidzi, disebutkan bahwa Ummu ‘Imarah, seorang shahabiyah Anshar, datang kepada Nabi saw. dan mengatakan,"Kami tidak menemukan pengarahan dalam al Quran kecuali untuk kaum laki-laki; Dan kami tidak mendapatkan kaum perempuan disebutkan di dalamnya."; Maka turunlah ayat ini. Ada juga sebab yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad dari Qatadah, sebagian shahabiyah menanyakan mengapa ayat-ayat di atas hanya turun kepada para istri Nabi. Kalau saja pada kami ada kebaikan, tentu kami pun akan disebutkan dalam ayat al Quran, begitu kata para shahabiyah; Maka turunlah ayat ini.
Maka lengkaplah kita melihat bagaimana Islam menjadikan proses pembelajaran para istri muslimah ini dalam membangun kekuatan umat secara utuh. Di dalamnya terdapat komunitas muslimah yang tak pernah mau ketinggalan dari kaum laki-laki dalam berbuat kebajikan di tengah masyarakatnya. Demikianlah keutuhan pembinaan kepribadian muslimah di rumah berpaut erat dengan kontribusi kebaikan mereka di tengah masyarakatnya. Para istri Nabi yang menjadi ummahatul mu’minin (ibu orang-orang beriman) menjadi contoh teladan bagaimana istri muslimah berkiprah dalam berbagai aspek kebaikan. Di antara mereka ada yang menonjol dengan ketekunan ibadahnya, dengan kecintaannya kepada orang miskin, dengan keberhasilannya mendidik anak-anak, dengan ketekunannya menimba ilmu pengetahuan, hingga keikutsertaan aktif dalam kancah da’wah dan sosial-politik. Ke arah ini pula para istri muslimah dikembangkan kepribadiannya sesuai dengan potensi masing-masing.
WalLaahu a’lamu bish shawwaab.
 | hm...sy ingin mempelajari jg nih (u/ prsiapan) |
 | adijm wrote on Jul 6, '06 hm...sy ingin mempelajari jg nih (u/ prsiapan)  mari Dee ... dan selamat bersiap2 *smile*. |
 | assalamu'alaikum. Salam kenal pak Adi. Duh, baca tulisan bapak di atas jadi makin merasa kurang ilmu nih. Mari Belajar!!! |
 | adijm wrote on Jul 7, '06, edited on Jul 7, '06 assalamu'alaikum. Salam kenal pak Adi. Duh, baca tulisan bapak di atas jadi makin merasa kurang ilmu nih. Mari Belajar!!!  Wa'alaikumus salaam ... Iya, mari sama-sama semangat belajar! Salam kenal juga "gurun biru" atau "birunya gurun" *smile*. |
 | Ustad Sholih, pembimbing Suami yang Sholih ^_^ |
 | adijm wrote on Jul 7, '06 Ustad Sholih, pembimbing Suami yang Sholih ^_^  Salam kenal Abu Syamil. Semoga kita semua termasuk suami-suami yang sholih. Amiin. |
 | Ass, Pak Adi,. teman saya kebetulan mempunyai suami yang cara mendidiknya keras dan kadang terlihat diktator,.. bagaimana cara istri menghadapinya,... Wass,.
|
 | adijm wrote on Mar 7, '07 Wa'alaikumus salam wr wb.
Zahra, ini tanggapan singkat saya: - Sang istri mesti sabar menghadapinya. Kekerasan kalau dihadapi dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. - Dicari waktu-waktu yang tepat di mana sang istri bisa mengajak suaminya dialog. Bisa disampaikan kepadanya bahwa caranya yang keras dan diktator itu tidak membuat ia nyaman. Karenanya sang istri bisa meminta suaminya sedikit demi sedikit merubah style-nya. - Jika sifat pemarah itu cukup kuat pada suami, maka sang istri mesti punya stock kesabaran untuk menunggu perubahan. Sebab perubahan karakter itu membutuhkan waktu. - Jika setelah sekian lama tetap tak ada perubahan, mintalah bantuan kepada seseorang untuk mengingatkan dan meluruskan sikap suami itu.
Sekian. Mudah2an membantu. Kalau perlu diskusi lebih jauh, silakan disampaikan. Kalau terlalu spesifik masalahnya, silakan disampaikan lewat personal message.
Salam. |
| |