Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntryMenjalin Harmoni Komunikasi dalam KeluargaJul 21, '06 12:47 PM
for everyone

Menjalin Harmoni Komunikasi dalam Keluarga*

oleh Adi Junjunan Mustafa**

Prolog 1

Diantara karunia terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kemampuan bayan, “Ar Rahmaan, Dia mengajarkan al Quran, Yang menciptakan manusia, mengajarnya bayan” (QS. Ar Rahman: 1-4). Bayan itu bukan sekedar kemampuan berbicara. Ia mencakup seluruh kemampuan untuk mengungkapkan sebuah makna dan maksud. Kemampuan ini dikaitkan langsung dengan penciptaan manusia, pengajaran al Quran dan sifat kasih sayang Allah, menyiratkan pentingnya manusia memanfaatkan potensi bayan ini dalam eksistensi dan kehidupannya dalam menebarkan kasih sayang.

Prolog 2

Dalam kehidupan suami-istri sering kita menyaksikan atau mungkin mengalami riak-riak gelombang yang mengganggu ketenangan keluarga. Seorang suami pulang ke rumah dalam keadaaan lelah, tiba-tiba uring-uringan tak menentu. Tak ada pancaran ramah pada wajahnya. Kesalahan kecil yang disaksikannya di rumahnya, entah itu cucian di dapur yang masih berantakan atau ruang tamu yang belum sempat dirapikan, tiba-tiba mendorongnya untuk mengungkapkan kritikan yang tidak proporsional pada istrinya. Sang istri yang pada sore hari sudah dalam keadaan lelah juga, tidak terima kritikan suaminya. Dia balas mengucapkan kata-kata yang "tidak merdu”. Jika dua orang ini terus mengikuti dorongan emosionalnya percekcokan ini akan terus memuncak. Riak itu semakin membesar menjadi ombak yang merusak …

Fragmen di atas bisa muncul kapan saja dalam varian pemicu yang seribu satu macam, sekompleks variabel kehidupan dan sifat manusia.

adakah waktu mendewasakan kita
kuharap masih ada hati bicara
mungkinkah saja

terurai satu per satu
pertikaian yang dulu
bagai pintaku
sebenarnya kuingin
menggali hasrat kembali
kuharap agar kau mengerti

semoga

[a]


Tanda Harmoni?

Ketika Bunda ‘Aisyah ra ditanya bagaimana keadaan Rasul saw di rumah dia menjawab tak lepas dari senyum. “Beliau adalah orang yang paling banyak tersenyum kepada istri-istrinya.” (diriwayatkan Ibnu Asakir dari Anas). Senantiasa berkomunikasi dengan hati yang tenang adalah tanda harmoni. Senyum pada raut wajah adalah pancaran hati yang tenang. Hati yang terjaga baik dalam kesadaran yang utuh akan makna kehidupan. Hati yang senantiasa khusyu’ dan ikhlas dalam ketaatan kepada Allah, bersih dari riya, nifak dan kekufuran, qalbun saliimun (QS Asy Syuaraa:89).

Tapi mungkinkah seorang manusia senantiasa dalam kondisi prima? Tentu saja tidak. Hati adalah tempat berbagai gejolak jiwa berkecamuk. Seperti juga keimanan yang dinamis, bisa bertambah dan berkurang, begitu pula kondisi hati ketika berkomunikasi.

Keluarga Nabi pun sesekali mengalami gejolak. Justru pada kisah-kisah yang langsung dikabarkan al Quran ini, orang beriman dapat mengambil pelajaran berharga. Para istri beliau, sebagai manusia biasa, dilanda kebutuhan materi semisal uang belanja atau dilanda rasa cemburu, tetapi dengan naungan hidayah Allah dan kepemimpinan suami mereka Muhammad saw, mereka pun senantiasa kembali kepada jalur yang tepat. “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ahzab:34).

***

Komunikasi adalah kebutuhan dan santapan hati dan akal buat manusia. Sebagaimana makanan, ketika fisik dan selera lidah pas, maka akan terasa kelezatannya. Ketika isi komunikasi “enak” dan pada saat itu hati dan pikiran pun fit, maka akan terasalah kelezatan komunikasi. Karenanya harmoni komunikasi suami-istri membutuhkan proses pengenalan diri dan pengenalan pasangan hidup. Berkomunikasi itu ibarat memainkan simphony, masing-masing peka dengan irama dan ritme yang sedang dimainkan pasangannya. Dalam term psikologi, proses ini disebut juga mempertajam empati [1]. Seperti pada ungkapan indah seorang istri bagi suaminya, yang mampu membaca senyum, tatapan dan bahkan bahasa kalbu ...

kau satu terkasih
kulihat di sinar matamu
tersimpan kekayaan batinmu

di dalam senyummu
kudengar bahasa kalbu

mengalun bening menggetarkan

kini dirimu
yang selalu bertahta di benakku
dan aku kan mengiringi
bersama di setiap langkahmu

percayalah
hanya diriku paling mengerti
kegelisahan jiwamu kasih
dan arti kata kecewamu

kasih yakinlah
hanya aku yang paling memahami
besar arti kejujuran diri
indah sanubarimu kasih ...
percayalah

[b]


Dan seperti pada ungkapan seorang suami yang senantiasa memupuk cinta bagi istrinya ...

adinda
oh sayang adinda
namamu tiada duanya
adinda
oh sayang adinda
engkau intan permata

sejuknya embun dini hari
sesejuk tutur senyum kau beri
hangatnya sinar matahari
sehangat cinta yang kau beri

[c]


Perspektif Kecerdasan Interpersonal

Dalam perspektif kecerdasan interpersonal, komunikasi yang harmonis dalam keluarga antara lain dicirikan dengan [2]:

  1. Membentuk dan menjaga hubungan yang mesra di keluarga (QS. Ar Ruum:21);
  2. Mengetahui dan menggunakan cara-cara beragam untuk berhubungan dengan pasangan;
  3. Merasakan perasaan, pikiran, motivasi, tingkah laku dan gaya hidup pasangan [3];
  4. Berpartisipasi dalam kegiatan kolaboratif dan menerima bermacam peran yang perlu dilaksanakan dalam berumah tangga (lihat bagian “Tentang Peran”);
  5. Mempengaruhi pendapat dan perbuatan pasangan;
  6. Memahami dan berkomunikasi secara efektif, baik dengan cara verbal maupun non-verbal;
  7. Menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan grup yang berbeda di sekitar pasangan dan juga terhadap umpan balik dari pasangan.

Dalam kaitan butir ke-3, suami-istri mesti memahami waktu-waktu kritis secara kejiwaaan dalam berkomunikasi, diantaranya pada kondisi lelah, marah, rewelnya anak-anak, perjalanan yang melelahkan, pada saat merawat pasangan ketika sakit (khususnya buat para suami saat istri mereka sakit), menjelang atau pada saat siklus menstruasi istri, kesibukan pekerjaan (atau studi), dll. Suami dan istri hendaknya memahami saat-saat kritis ini dan masing-masing pihak saling menjaga perasaan lebih sungguh-sungguh.


Tentang Peran

Dalam kehidupan berumah tangga, seorang istri memiliki empat peran besar: sebagai kekasih, sebagai mitra, sebagai pendidik dan sebagai pembelajar [4]. Tabel di bawah ini menggambarkan tugas pada masing-masing peran, dilengkapi juga dengan sikap yang suami mesti dilakukan suami pada masing-masing peran:

Sebagai Kekasih

  • Taat kepada Allah
  • Berpenampilan indah dan menarik laksana perhiasan
  • Menjaga kehormatan diri dan suaminya
  • Pelipur dikala duka, ceria bersama senangnya suami
  • Penyemangat suami dalam menegakkan kebenaran

Sikap Suami

  • Taat kepada Allah
  • Memberi nafkah kepada istri untuk merawat diri
  • Lembut dan penuh kasih sayang
  • Kreatif dalam mengungkapkan apresiasi dan cinta (termasuk sikap-sikap humoris)

Sebagai Mitra (dalam Da’wah)

  • Aktif dan berprestasi dalam aktifitas sosial dan da’wah
  • Intensif berpikir, berdialog, dan membaca dalam meningkatkan potensinya
  • Memilih peran-peran sosial dengan tepat
  • Dengan tepat berdialog dengan suami seputar peran sosialnya

Sikap Suami

  • Menjadi mitra dialog dan membantu peran sosial istri
  • Menyampaikan apresiasi yang tulus atas prestasi istri
  • Membantu pekerjaan di rumah
  • Memberi istri waktu yang cukup dalam memenuhi perannya di masyarakat

Sebagai Pendidik

  • Meningkatkan pengetahuan seputar pendidikan anak (termasuk masalah kesehatan dan psikologi anak)
  • Intensif mengikuti perkembangan akademis dan perilaku anak
  • Menyiapkan anak-anak agar tumbuh sehat, cerdas dan memiliki life skills yang baik
  • Memiliki kesadaran yang baik untuk mencetak generasi rabbani

Sikap Suami

  • Berdiskusi intensif dengan istri seputar pendidikan anak
  • Membantu dan mengisi peran pendidikan dari ayah (misal: sisi-sisi ketegasan dan jiwa pemberani)
  • Memberikan nafkah khusus untuk pertumbuhan dan pendidikan anak

Sebagai Pembelajar

  • Terus bersemangat membina akal, hati dan jasadnya
  • Senang membaca atau menghadiri majelis ilmu
  • Memelihara amalan ketaatan kepada Allah (tilawah dan tahfizh al Quran, shalat nawafil, shaum dll)

Sikap Suami

  • Membimbing
  • Mendukung dan memfasilitasi kebutuhan belajar
  • Menjadi partner

Epilog

Pernikahan [5]

1. Sebuah Syair Renungan Singkat bagi Perempuan

pernikahan ataupun perkawinan,
membuka tabir rahasia.

suami yang menikahi kamu,
tidaklah semulia Muhammad,
tidaklah setaqwa Ibrahim,
pun tidak setabah Ayub,
ataupun segagah Musa,
apalagi setampan Yusuf,

justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
yang punya cita-cita
membangun keturunan yang soleh ....

pernikahan ataupun perkawinan,
mengajarkan kita kewajiban bersama.
suami menjadi pelindung, kamu penghuninya,
suami menjadi nahkoda kapal, kamu navigatornya,
suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun kenakalannya.

saat suami menjadi raja, kamu nikmati anggur singgasananya,
seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya.
seandainya suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya ....

pernikahan ataupun perkawinan,
mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,

untuk belajar meniti sabar dan ridha,

karena memiliki suami yang tak segagah mana,
justru kamu akan tersentak dari alpa,

kamu bukanlah Khadijah,

yang begitu sempurna di dalam menjaga,

pun bukanlah Hajar,

yang begitu setia dalam sengsara,

cuma wanita akhir zaman,

yang berusaha menjadi solehah ....

amien.


2. Sebuah Syair Renungan Singkat bagi Pria

pernikahan atau perkawinan,
menyingkap tabir rahasia.
isteri yang kamu nikahi,
tidaklah semulia Khadijah,
tidaklah setaqwa Aisyah,
pun tidak setabah Fatimah.
justru isteri hanyalah wanita akhir zaman,
yang punya cita-cita menjadi solehah ...

pernikahan atau pun perkawinan,
mengajar kita kewajiban bersama.

isteri menjadi tanah, kamu langit penaungnya,
isteri ladang tanaman, kamu pemagarnya,
isteri kiasan ternakan, kamu gembalanya,
isteri adalah murid, kamu mursyidnya,
isteri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya.

saat isteri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya,
seketika isteri menjadi racun, kamulah penawar bisanya,
seandainya isteri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya.

pernikahan atau perkawinan,
menginsyafkan kita perlunya iman dan taqwa,
untuk belajar meniti sabar dan ridha.
karena memiliki isteri yang tak sehebat mana,
justru kamu akan tersentak dari alpa,

kamu bukanlah Rasulallah (saw),
cuma suami akhir zaman,
yang berusaha menjadi soleh ...
amien.



* Disampaikan sebagai bahan Seminar pada acara Perkenalan Forum Silaturahmi Muslimah (FAHIMA)-Jepang, Tokyo, 6 Juni 2004 [Dengan sedikit modifikasi di beberapa bagian]

** Peminat masalah pengembangan diri. E-mail: adijm2001@yahoo.com

[1] Untuk pembanding dalam kaitan da’wah, dapat dibaca tulisan saya berjudul “Menumbuhkan Empati” pada Sorotan KAMMI-Jepang, lihat index-nya pada: http://kammi-jepang.net/sorotan.php

[2] Untuk penjelasan yang lebih deskriptif dapat dibaca tulisan Edi Sukur pada Sorotan KAMMI-Jepang berjudul “Cerdaskah Anda?”, yang mensarikan masalah kecerdasan interpersonal dari tulisan Howard Gardner (1983)

[3] Untuk para istri yang suaminya lama tinggal di Jepang (sejak lulus SMA hingga lulus S3 bahkan), tulisan Femiga Sagita Buroalogo berjudul “Bekerja dan Hangat: Sebuah Ilustrasi tentang Keluarga Jepang dan Keluarga Indonesia” pada Sorotan KAMMI-Jepang menjadi bekal wawasan menarik untuk komunikasi di keluarga.

[4] Tiga peran pertama dikupas pada tulisan saya berjudul “Istri sebagai Kekasih”, “Istri sebagai Mitra” dan “Melahirkan Pejuang dan Hamba Allah Sejati” pada Sorotan KAMMI-Jepang.

[Pada jurnal MP ini saya sudah tuliskan tiga artikel dari perspektif suami dengan judul: (1) Suami Sholih: Kekasih bagi Istrinya, (2) Suami Sholih: Mitra bagi Istrinya dan (3) Suami Sholih: Pembimbing bagi Istrinya]

[5] Pengirim: senja; Sumber: pribadi, http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.baca&id=1262 [Dengan sedikit modifikasi.]

***

[a] dari lirik Semoga, karya Katon

[b] dari lirik Bahasa Kalbu, karya Titi DJ

[c] dari lirik Adinda, karya Bimbo


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
pangerans wrote on Jul 22, '06
wah..terkesan nih. salam buat teman-teman di Jepang...Pak Doktor
adijm wrote on Jul 22, '06, edited on Jul 22, '06
terima kasih, kang Cepy ... ayo atuh iraha ka Jepang?

OOT dikit nih. kelihatannya bagus kalau ada kawan2 dari Indonesia yang secara khusus mempelajari standard operasional procedure (SOP) yang ada di Jepang untuk antisipasi dan penanggulangan gempa. untuk masalah praktis di tingkat masyarakat lho. belakangan aktif banget kan gempa tektonik (plus kemungkinan tsunami) di tanah air ...
pangerans wrote on Jul 22, '06
adijm said
terima kasih, kang Cepy ... ayo atuh iraha ka Jepang?

OOT dikit nih. kelihatannya bagus kalau ada kawan2 dari Indonesia yang secara khusus mempelajari standard operasional procedure (SOP) yang ada di Jepang untuk antisipasi dan penanggulangan gempa. untuk masalah praktis di tingkat masyarakat lho. belakangan aktif banget kan gempa tektonik (plus kemungkinan tsunami) di tanah air ...
saya terakhir ke Jepang (Tokyo) terakhir kali tahun 1992 akhir, saat pelatihan dari kantor saya yang pertama (bursa dan efek).

pengennya sih ke sana lagih, atau kang adi bikin seminar SOP penanggulangan bencana gempa yah kang
adijm wrote on Jul 22, '06, edited on Jul 22, '06
pengennya sih ke sana lagih, atau kang adi bikin seminar SOP penanggulangan bencana gempa yah kang
wah ini ide bagus. mungkin kang Cepy bisa kontak ISTECS (institute for science and technology studies, http://istecs.org/ ) di Jkt yang punya chapter Japan juga. oke lah, kita japrian ya ngobrolkan hal ini.
rielakelinci wrote on Jul 25, '06
bagussssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss
adijm wrote on Jul 25, '06
terima kasih ... "s"-nya sedikit lagi bisa nyaingin sobu-yokosuka-line atau seperti jarak antara anyer dan jakarta ... *smile*.
hifizahn wrote on May 28, '07
saya copas juga yang ini ya Pak Adi..
adijm wrote on May 28, '07
silakan, Bu.
sricita wrote on Apr 23
dahsyat. semoga memberi banyak manfaat
adijm wrote on Apr 23
sricita said
dahsyat. semoga memberi banyak manfaat
aamiin. terima kasih.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help