Quran mengungkapkan kisah-kisah puncak keteladanan yang dilakukan manusia. Dan diantara puncak perilaku teladan adalah sikap dermawan. Salah satu cuplikan mengesankan tentang puncak kedermawanan ada pada kisah sebuah keluarga yang memberikan makanan kepada orang yang memerlukan.
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (QS. 76:8)
Ya ... makanan yang disukainya, karena mereka pun sebenarnya amat membutuhkan makanan itu dan bahkan hanya itulah makanan yang tersisa bagi keluarga itu. Demi melihat orang lain berada dalam keadaan membutuhkan, tersentuhlah relung hati mereka untuk membantu dan memberi. Mula-mula sepertiga makanan mereka diberikan kepada orang miskin. Tak lama kemudian datanglah anak yatim dan mereka pun memberikan sepertiga makanan yang lain. Lalu tatkala mereka siap menikmati sepertiga makanan terakhir, datanglah seorang bekas tawanan perang yang tak punya sesuatupun untuk dimakan. Makanan terakhir pun mereka berikan kepada tawanan perang itu*.
Hati seperti apakah yang berada di balik perilaku mulia itu? Perilaku yang hampir-hampir orang tidak percaya bisa dilakukan oleh manusia ...
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah ... (QS 76:9). Itulah perilaku yang lahir dari hati yang telah menjadikan keridhaan Allah sebagai puncak tujuan hidupnya.
... kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. 76:9); Hingga hati mereka telah terbebas dari pamrih dan ingin mendapatkan pujian manusia. Itulah ketulusan hati dalam menolong sesama.
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (QS. 76:10). Dan itulah hati dan akal yang amat mengenal betapa sebentarnya kehidupan di dunia ini. Dan kehidupan kekal abadi adalah di akhirat kelak. Maka mereka amat menjaga jangan sampai kehidupan yang amat sebentar ini ditukar dengan duka panjang tiada bertepi di akhirat nanti ...
***
Dan kebahagiaan telah Allah siapkan bagi mereka:
Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (QS. 76:11). Dan ayat-ayat yang menggambarkan keindahan taman-taman surga Allah sampaikan setelah ayat itu.
Chiba-Japan
===
* Ayat ini menggambarkan bahwa jiwa kebaikan bahkan diberikan kepada tawanan perang. Satu sikap yang diajarkan Nabi Muhammad saw, agar umat Islam memperlakukan tawanan perang dengan baik. Dan ini berbeda dengan perlakuan ahli syirik (kamu musyrikin) yang seringkali menghukum tawanan perang dengan kejam (Asbabun Nuzul as-Suyuthi, sebagaimana diriwayatkan Ibnu al-Mundzir dari Ibnu Jarir).
Saya pernah membaca, bahwa ayat ini turun kepada keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, termasuk juga kisah bahwa itu adalah makanan terakhir yang mereka miliki. Akan tetapi saya tidak mencatat periwayatannya. Wa Allah a'lamu bish shawwab.