Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Blog EntryPerempuan-perempuan TeguhAug 15, '06 11:21 PM
for everyone

Kebanyakan kita tidak hidup di suasana perang, seperti pada generasi kakek-nenek kita yang melalui masa-masa perang kemerdekaan, seperti masa-masa perjuangan di Afghanistan, seperti suasana di Palestina hingga saat ini, dan seperti suasana di masa Rasulullah saw dan para sahabatnya hidup.

Dalam sebuah buku sirah yang memenangkan satu lomba penulisan Sirah Nabi Muhammad saw yang diadakan Rabithah 'Alam Islamiy, dipaparkan bahwa dalam kurang lebih 10 tahun masa kehidupan Nabi di Madinah, tidak kurang terjadi 83 kali peperangan atau ekspedisi militer. Artinya setiap satu setengah bulan sekali terjadi peperangan atau ekspedisi.


Bayangkan bagaimana kekuatan jiwa para shahabiyyah dalam menghadapi suasana seperti itu. Setiap kali melepaskan suami atau anak laki-laki mereka, para istri dan para ibu itu siap untuk menerima kepergian orang yang dicintainya untuk selamanya. Setidaknya begitulah kesiapan yang mereka miliki dalam dimensi kehidupan dunia. Begitu juga jiwa-jiwa para perempuan Palestina begitu teguh melepaskan suami dan anak-anak mereka berjuang merebut kemerdekaan negerinya dari penjajahan Israel.

Allah swt telah melebihkan mereka dengan momentum waktu dan peristiwa yang membuat jiwa mereka teguh. Cita-cita mendapatkan suami atau anak-anak yang pejuang dan menjadi syuhada, pahlawan yang gugur di jalan Allah, adalah cita-cita yang nyata bagi mereka. Cinta mereka kepada suami dan anak-anak tidaklah dibatasi pada sentuhan fisik di dunia semata. Mereka telah melambungkan cintanya ke kehidupan yang lain, yang kekal abadi. Mereka telah membingkai cintanya dalam fikrah yang tinggi, ideologi yang menghantarkannya pada puncak kemanusiaan. Fikrah yang diserap dari taujih Rabbani, pengajaran dan pengarahan dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana

Pada medan perjuangan bangsa Afghan saat mengusir agresor Rusia, seorang istri pejuang pernah ditanya wartawan,"Apakah Ibu tidak takut, jika suami Ibu meninggal. Bagaimana Ibu akan hidup dan menghidupi anak-anak kelak?" Si Ibu hanya tersenyum. Tapi dari sorot matanya terpancar keyakinan yang dalam. Ia menjawab,"Suami saya hanyalah seorang pemakan rizki dan bukan Pemberi Rizki!"

Dalam buku "Ghirah", Buya Hamka pernah berkisah. Salah satu perkampungan di Tanah Minang diserbu Belanda. Pasukan mendapatkan seorang perempuan sedang menumbuk padi di depan sebuah rumah gadang. Seorang tentara Belanda menghardiknya dan menanyakan apakah di rumah ada orang laki-laki. Dengan tegas si perempuan menjawab,"Tidak ada!" Toch pasukan memeriksa rumah itu dan ternyata didapati ada seorang lelaki bersembunyi di dalam rumah. Perempuan itu pun dihardik lagi oleh tentara Belanda,"Kamu sudah berdusta ya ... Tadi kamu bilang tidak ada orang laki-laki, ternyata ada!" Perempuan itu tidak menunjukkan wajah gentar sedikitpun. Dia malah menjawab lantang,"Yang kalian temukan itu bukan lelaki, sebab para lelaki adalah mereka yang berjuang di hutan-hutan, bukan pengecut yang bersembunyi di rumah!"

***

Bapak saya bercerita, bagaimana kondisi desanya di Cidahu-Kuningan saat dikabari akan ada serangan dari Belanda [entah berapa kali Bapak menceritakan kisah ini kepada saya]. Suara letusan dan desing peluru mulai terdengar, pertanda tengah terjadi pertarungan seru antara para pejuang melawan penjajah Belanda tidak jauh dari desa. Tapi kekuatan pasukan pejuang tak mampu menghadang serbuan, hingga beberapa utusan pejuang datang ke desa dan memerintahkan para perempuan dan anak-anak untuk segera meninggalkan desa.

Bapak mengatakan, saat itu terlihat bagaimana Enin [panggilan saya untuk nenek yang tak pernah saya jumpai, karena wafat saat Bapak masih remaja] begitu teguh dan berusaha setenang mungkin mengurus anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk pergi mengungsi. Bapak saya adalah anak terbesar. Usianya baru sekitar 13-14 tahunan. Ia mesti membantu Enin dengan sekuat tenaga. Lalu di mana Engki, kakek saya? Saat itu ia tak ada di tengah keluarga, karena tengah bergerilya di hutan-hutan atau mungkin tengah terlibat pertempuran sengit di seberang perbatasan desa sana.

Suasana begitu mencekam menjelang pengungsian itu. Enin telah berusaha mempersiapkan segalanya. Tak ada waktu santai. Semua persiapan mesti dilakukan serba cepat. Serempak bersama anak-anaknya, termasuk Bapak saya, Enin berjalan dan berlari meninggalkan desa. Ketika telah beberapa kilometer meninggalkan desa, Enin tiba-tiba berteriak,"AstagfirulLaah ... Ujang, si Otong tertinggal ...!"

Bapak saya, si Ujang yang dipanggil Enin, segera diperintahkan Enin untuk kembali ke desa mengambil si Otong, yang tak lain adik bungsunya. Paman saya Harits alias si Otong, alhamdulilLah, bisa temukan dan diselamatkan. Meskipun Bapak menceritakan dengan sedih, bahwa seorang bapak di kampung yang menemaninya saat hendak keluar desa lagi, di tengah jalan tertembak peluru pasukan Belanda dan meninggal di tempat. Bapak melihat langsung kejadian ini.

Saya tidak bisa membayangkan betapa teguhnya perempuan-perempuan segenerasi Enin. Dalam kondisi berat ditinggal suaminya yang lebih banyak bergerilya, Enin tak pernah terlihat mengeluh kepada Engki. Gambaran khidmat-nya pada suami digambarkan Bapak saya dalam kalimat,"Engki itu tak pernah makan ikan, kecuali duri-durinya sudah Enin pisahkan ..."

***

Saya membayangkan, jika perempuan-perempuan teguh seperti para shahabiyyah, seperti istri para pejuang di Palestina atau Afghanistan, seperti perempuan penumbuk padi di Tanah Minang, seperti generasi Enin hadir di masa ini, maka mereka akan menjadi penyejuk dan penyemangat para suami yang tengah berjuang.

Medan perjuangan saat ini memang bukan di tengah desingan peluru. Ada desingan-desingan lain yang tak kalah dahsyatnya, yaitu desingan peluru yang meluluhlantahkan moralitas. Peluru dusta dan peluru penghianatan kepada kebenaran dan kepada orang banyak. Peluru yang membuat orang rakus dan lupa kepada mereka yang papa.

Tantangan yang dihadapi saat ini, bukanlah medan perang gerilya di hutan-hutan. Medan perjuangan saat ini ada di dunia birokrasi, ada di dunia bisnis dan ada di tengah-tengah masyarakat. Atau bahkan medan perjuangan itu ada dalam diri sendiri; Melawan segala nafsu jahat yang setiap saat terus dihasut syaitan.

Pada medan juang yang berbeda ini tetap dibutuhkan perempuan-perempuan teguh. Mereka pandai memaknai medan juang kontemporer, sehingga jiwanya disiapkan untuk berjuang. Mereka tak akan rela suaminya hanya menjadi pecundang peradaban materialisme. Mereka akan dukung perjuangan suaminya, meskipun kehidupan yang dihadapi menjadi berat. Mereka akan besarkan anak-anaknya untuk menghadapi tantangan zaman. Karena itu mereka harus cerdas, sekaligus sabar dan memiliki jiwa kasih sayang yang besar.

***

Dipersembahkan secara khusus untuk para istri yang mesti terpisah jauh dari suami mereka yang tengah merantau untuk satu misi mulia. Semoga Allah teguhkan kesabaran pada mereka. Dan semoga Allah mencatat kondisi ini sebagai kondisi perjuangan di jalanNya.

Juga dipersembahkan untuk para perempuan yang terus menempa diri dalam berjuang, bahu membahu bersama suaminya (kelak) dalam membangun peradaban yang mengusung kebenaran dan keadilan.
[added 16 Agustus 2006]

===

Terposting pada Oase-Iman Eramuslim, 19 Januari 2006.

Semoga tulisan ini menjadi salah satu renungan yang bermanfaat menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-61 besok, 17 Agustus 2006.


17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
intanriva wrote on Aug 15, '06
Wanita Muslim di Lebanon dan Palestina.. Kalian adalah Panutan kami... Sabarlah wahai Saudaraku..
papaemarvel wrote on Aug 15, '06
Di Iraq juga kan?
adijm wrote on Aug 15, '06, edited on Aug 16, '06
Wanita Muslim di Lebanon dan Palestina.. Kalian adalah Panutan kami... Sabarlah wahai Saudaraku..
Semakin banyak wanita berjiwa "pejuang" hadir, semakin besar energi sebuah masyarakat terkumpul untuk meraih kejayaan ... insya Allah.
adijm wrote on Aug 15, '06, edited on Aug 15, '06
Di Iraq juga kan?
Benar, di Iraq dan tentu saja yang masih sangat hangat di Libanon ... di mana pun perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan ditegakkan. Penghargaan kita untuk mereka.
shafiyyah115 wrote on Aug 16, '06, edited on Aug 16, '06
"Yang kalian temukan itu bukan lelaki, sebab para lelaki adalah mereka yang berjuang di hutan-hutan. Bukan pengecut yang bersembunyi di rumah!"

=> Mashallah.. ini sebuah sentilan plus cambukan buat orang2 yang tdk mau pergi ke medan laga atau bangkit dari keterpurukan.... Suatu saat nanti akan terbina sebuah generasi yang terdepan di segala bidang.. ekonomi, politik, budaya, intelektual dan sebagainya... inshallah.. Allahu akbar!!! Sebagaimana di katakan oleh Yusuf Qardhawi kepada presiden SBY kita, bahwa kepemimpinan umat Islam akan muncul di Indonesia. Bisa jadi diri kita, anak-anak kita atau generasi setelahnya.... Amin ya Rabbana
adijm wrote on Aug 16, '06, edited on Aug 16, '06
Sebagaimana di katakan oleh Yusuf Qardhawi kepada presiden SBY kita, bahwa kepemimpinan umat Islam akan muncul di Indonesia. Bisa jadi diri kita, anak-anak kita atau generasi setelahnya.... Amin ya Rabbana
Amiin, yaa Allah ... Sebuah ekstrapolasi yang tepat dari apa yang dipesankan tulisan di atas, mbak Iis. Dan peran kaum perempuan amat besar untuk kebangkitan ini!
deeyand wrote on Aug 16, '06
adijm said
Dia malah menjawab lantang,"Yang kalian temukan itu bukan lelaki, sebab para lelaki adalah mereka yang berjuang di hutan-hutan, bukan pengecut yang bersembunyi di rumah!"
Wahh, aku juga jadi inget cerita papa, Pak Adi.
Subhanallah ya para perempuan tsb. Duhh, bisa gak ya saya termasuk barisan perempuan tangguh tsb??
Makasih Pak Adi tulisannya.
adijm wrote on Aug 16, '06
deeyand said
Wahh, aku juga jadi inget cerita papa, Pak Adi.
Ditunggu sharing ceritanya, mbak Dee. Dalam rangka HUT-RI kan ... :)
deeyand wrote on Aug 16, '06
adijm said
Ditunggu sharing ceritanya, mbak Dee
maksudnya papa pernah cerita ttg wanita minang yang berani ama belanda itu, pak, hehe (yg aku quote itu kalimatnya :)
dulu papa sering cerita2 gitu ttg perjuangan, beliau juga pernah ikut PRRI/Permesta soale (pemberontak :D)
deeyand wrote on Aug 16, '06
kata syaikh yusuf qaradhawi juga, perempuan itu setengah potensi umat.
sayangnya banyak perempuan yg gak sadar dia punya potensi segueeede itu yak...
wirdayanti wrote on Aug 16, '06
adijm said
Semoga tulisan ini menjadi salah satu renungan yang bermanfaat
Sangat bermanfaat Pak Adi, terutama untuk saya pribadi. Jazakallah khoir sudah mengingatkan..
Semoga Allah senantiasa membimbing saya...
adijm wrote on Aug 16, '06, edited on Aug 16, '06
Jazakallah khoir sudah mengingatkan..
Semoga Allah senantiasa membimbing saya...
Wa jazakillahu bi ahsanil jazaa, mbak Wirda. Semakin berat perjuangan, memang kita semakin butuh bimbingan, bantuan dan pertolonganNya.
adijm wrote on Aug 16, '06
deeyand said
kata syaikh yusuf qaradhawi juga, perempuan itu setengah potensi umat.
sayangnya banyak perempuan yg gak sadar dia punya potensi segueeede itu yak...
terkadang kita butuh bantuan untuk membaca potensi diri sendiri. pada skala komunitas, memang diperlukan penyadaran berskala besar juga untuk mengingatkan peran besar kaum perempuan ini ...
dimyati wrote on Aug 17, '06
adijm said
Dipersembahkan secara khusus untuk para istri yang mesti terpisah jauh dari suami mereka yang tengah merantau untuk satu misi mulia. Semoga Allah teguhkan kesabaran pada mereka. Dan semoga Allah mencatat kondisi ini sebagai kondisi perjuangan di jalanNya.
Amin. smg Allah selalu menjagaNya dan mencurahkan rahmatNya . syukran ustadz atas jurnalnya
adijm wrote on Aug 18, '06
dimyati said
syukran ustadz atas jurnalnya
sama-sama mbak Ica. terima kasih juga buat doanya, jazakillahu khairan.
banyumili wrote on Aug 20, '06
Medan perjuangan saat ini ada di dunia birokrasi, ada di dunia bisnis dan ada di tengah-tengah masyarakat. Atau bahkan medan perjuangan itu ada dalam diri sendiri; Melawan segala nafsu jahat yang setiap saat terus dihasut syaitan.

Benar sekali pak Adi, ini memang jauh lebih berat karena tidak tampak kadang kita tidak menyadarinya.
adijm wrote on Aug 20, '06
Benar sekali pak Adi, ini memang jauh lebih berat karena tidak tampak kadang kita tidak menyadarinya.
Mbak Yati, dalam pembacaan saya menciptakan clean and smart governance (termasuk juga dunia kampus) akan menjadi tantangan besar bagi masyarakat kita pada tahun-tahun mendatang. Mudah-mudahan keluarga kita termasuk yang mempersiapkan diri sebaik-baiknya menyongsong tantangan ini ... Amiin.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help