Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Catatan dari Bacaan

ReviewReviewReviewReviewSeratus Tahun Haji Agus SalimAug 14, '07 12:39 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Tim Penyusun
Seperti terbaca dari judulnya, buku ini ditulis untuk memperingati 100 tahun sejak kelahiran Agus Salim. Buku ini diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1984).

Pada bagian awal buku ditulis biografi singkat tentang beliau oleh Kustiniyati Mochtar. Ada beberapa catatan yang saya dapatkan saat membaca biografi singkat Haji Agus Salim. Yang paling mengesankan adalah kegigihan beliau dalam memperjuangkan kemuliaan bangsa di hadapan penjajah dan pemerintahan kolonial Belanda. Inilah yang menjadi motivasi utama mengapa beliau akhirnya memilih keluar dari pekerjaan sebagai ambtenaar. Beliau lebih memilih hidup mandiri dengan pekerjaan yang tidak bergantung kepada Belanda. Sikap ini adalah sikap yang aneh dan berani kala itu. Bahkan sikap beliau ini tidak sedikit mendapat penentangan dari keluarga dekat beliau sendiri dan dari keluarga istrinya.

Keputusan untuk tidak menyekolahkan anak-anak beliau di sekolah-sekolah pemerintahan kolonial juga bentuk non-koperatifnya terhadap Belanda. Akan tetapi dengan kepandaian dan kesabaran serta kesabaran dan kesetiaan istri beliau, anak-anak mereka tetap memiliki wawasan yang luar bisa, terutama pada penguasaan berbagai bahasa asing: Belanda, Jerman, Perancis dan Jepang.

Agus Salim sendiri tumbuh dalam pendidikan sekular. Karenanya sampai usia 22 tahun banyak sekali kekritisan beliau terhadap ajaran agama Islam yang membuat beliau syak. Barulah saat beliau bertugas di Jeddah (pada interval usia 22-27 tahun), beliau berkesempatan mempelajari Islam secara mendalam terutama di bawah bimbingan paman beliau yang bernama Ahmad Khatib. Mulai saat itulah keyakinan beliau akan kesempurnaan ajaran Islam tumbuh semakin subur.

Kepulangan beliau ke tanah air kembali dilanjutkan dengan pertemuan dengan HOS Tjokroaminoto dan pergerakan dakwah dan perjuangan kemerdekaan melalui Sarikat Islam. Inilah awal aktualisasi Haji Agus Salim dan merebaknya berbagai potensi besar yang ada pada beliau.

Haji Agus Salim terus berjuang memerdekakan bangsanya lewat lisan dan tulisan-tulisannya yang amat tajam. Disamping itu beliau terus menggalang persatuan diantara sesama pejuang dan pemikir kemerdekaan di masanya. Beliau pun tercatat sebagai anggota penting dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan RI. Pada saat itu usiannya 61 tahun. Bung Karno cs yang saat itu pada kisaran usia 30-45 tahun). Itu sebabnya Bung Karno dengan rasa hormat menyebut beliau dengan "the grand old man"

Dan pasca proklamasi beliau tercatat dalam sejarah sebagai diplomat piawai yang menjadi penyebab dukungan banyak negeri-negeri Islam untuk mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

***

Buku yang bagus untuk dibaca anak muda bangsa Indonesia yang semakin hari semakin butuh etos kepahlawanan dalam membangun kepribadian. Kita semua butuh model-model kepribadian yang jauh dari sikap mementingkan diri sendiri. Dan salah satu model itu adalah Haji Agus Salim.

Bogor, 14 Agustus 2007.
Adi J. Mustafa

Note: Alhamdulillah buku di atas bisa saya temukan dan pinjam di perpustakaan kantor. Buat saya sendiri bacaan seperti ini menambah semangat dalam jiwa.

ReviewReviewReviewPartai Islam Perlu Menata DiriMar 19, '07 7:17 AM
for everyone
Category:Other
Mutammimul Ula, anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS, menulis sebuah opini pada harian Republika berjudul Partai Islam dan Pemilu 2009.

Tulisan ini cukup menarik karena mengangkat penyusunan RUU Penyelenggaraan Pemilu yang belum juga selesai. Implikasi keterlambatan tersusunnya RUU ini adalah persiapan Pemilu 2009 yang akan sangat pendek. Ini bisa menurunkan kualitas pemilu, sebab masa sosialisasinya akan pendek. Pada gilirannya penyelenggaraannya di berbagai tingakat akan lemah. Rakyat juga akan punya waktu sangat singkat untuk memahami aturan pemilu nanti.

Sub-bahasan "aturan belum selesai" ternyata menyimpan gagasan yang agak meloncat atau bahkan berbelok, yaitu tentang elitisnya parta-partai (Islam) yang bermain di panggung kekuasaan saat ini. Partai-partai ini belum mampu mensejahterakan mayoritas rakyat. Nampaknya pembicaraan tentang Islam dan kekuasaan, dimaksudkan untuk menghadirkan partai-partai yang berbeda dengan partai-partai elitis tersebut.

Selanjutnya diangkat permasalahan yang sebenarnya tidak terlalu orisinal. Penulis mengingatkan tema-tema lama yang terjadi pada partai-partai Islam, seperti terjadinya konflik internal, terlibat dalam kekuasaan tanpa memiliki visi yang kuat dan kinerja yang hebat, dan kelemahan penyiapan SDM untuk memasok birokrasi. Meskipun ini tema-tema lama, sepertinya penulis menganggap tetap relevan untuk diangkat dan untuk mengingatkan partai-partai Islam tentang kelemahan-kelemahan ini.

Yang patut kita hargai dari tulisan ini adalah, walaupun penulis berasal dari Fraksi PKS, akan tetapi permasalahan yang diangkat adalah permasalahan partai Islam secara umum. Bisa jadi sebagian permasalahan yang diangkat pun merupakan otokritik bagi PKS. Kita berharap ada konsolidasi yang mantap, cerdas dan tulus dari segenap pimpinan partai Islam. Bagaimana pun lemahnya prestasi partai-partai Islam merupakan kerugian bagi proses membangun keadilan dan kemakmuran di tanah air. Jika partai-partai berbasis relijius tidak tampil dengan elegan, maka kita kehilangan kesempatan melihat tampilnya good and clean governance di tanah air.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help