Seperti terbaca dari judulnya, buku ini ditulis untuk memperingati 100 tahun sejak kelahiran Agus Salim. Buku ini diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1984).
Pada bagian awal buku ditulis biografi singkat tentang beliau oleh Kustiniyati Mochtar. Ada beberapa catatan yang saya dapatkan saat membaca biografi singkat Haji Agus Salim. Yang paling mengesankan adalah kegigihan beliau dalam memperjuangkan kemuliaan bangsa di hadapan penjajah dan pemerintahan kolonial Belanda. Inilah yang menjadi motivasi utama mengapa beliau akhirnya memilih keluar dari pekerjaan sebagai ambtenaar. Beliau lebih memilih hidup mandiri dengan pekerjaan yang tidak bergantung kepada Belanda. Sikap ini adalah sikap yang aneh dan berani kala itu. Bahkan sikap beliau ini tidak sedikit mendapat penentangan dari keluarga dekat beliau sendiri dan dari keluarga istrinya.
Keputusan untuk tidak menyekolahkan anak-anak beliau di sekolah-sekolah pemerintahan kolonial juga bentuk non-koperatifnya terhadap Belanda. Akan tetapi dengan kepandaian dan kesabaran serta kesabaran dan kesetiaan istri beliau, anak-anak mereka tetap memiliki wawasan yang luar bisa, terutama pada penguasaan berbagai bahasa asing: Belanda, Jerman, Perancis dan Jepang.
Agus Salim sendiri tumbuh dalam pendidikan sekular. Karenanya sampai usia 22 tahun banyak sekali kekritisan beliau terhadap ajaran agama Islam yang membuat beliau syak. Barulah saat beliau bertugas di Jeddah (pada interval usia 22-27 tahun), beliau berkesempatan mempelajari Islam secara mendalam terutama di bawah bimbingan paman beliau yang bernama Ahmad Khatib. Mulai saat itulah keyakinan beliau akan kesempurnaan ajaran Islam tumbuh semakin subur.
Kepulangan beliau ke tanah air kembali dilanjutkan dengan pertemuan dengan HOS Tjokroaminoto dan pergerakan dakwah dan perjuangan kemerdekaan melalui Sarikat Islam. Inilah awal aktualisasi Haji Agus Salim dan merebaknya berbagai potensi besar yang ada pada beliau.
Haji Agus Salim terus berjuang memerdekakan bangsanya lewat lisan dan tulisan-tulisannya yang amat tajam. Disamping itu beliau terus menggalang persatuan diantara sesama pejuang dan pemikir kemerdekaan di masanya. Beliau pun tercatat sebagai anggota penting dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan RI. Pada saat itu usiannya 61 tahun. Bung Karno cs yang saat itu pada kisaran usia 30-45 tahun). Itu sebabnya Bung Karno dengan rasa hormat menyebut beliau dengan "the grand old man"
Dan pasca proklamasi beliau tercatat dalam sejarah sebagai diplomat piawai yang menjadi penyebab dukungan banyak negeri-negeri Islam untuk mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
***
Buku yang bagus untuk dibaca anak muda bangsa Indonesia yang semakin hari semakin butuh etos kepahlawanan dalam membangun kepribadian. Kita semua butuh model-model kepribadian yang jauh dari sikap mementingkan diri sendiri. Dan salah satu model itu adalah Haji Agus Salim.
Bogor, 14 Agustus 2007. Adi J. Mustafa
Note: Alhamdulillah buku di atas bisa saya temukan dan pinjam di perpustakaan kantor. Buat saya sendiri bacaan seperti ini menambah semangat dalam jiwa.
fithab wrote on Aug 14, '07, edited on Aug 14, '07
Sepakat, Pak Adi...beliau ini salah satu pahlawan favorit saya, selain sebagai diplomat ulung, juga karena kemampuan multilingual-nya, dan yang pasti...nasionalismenya itu, lho! Semoga masih banyak tokoh2 seperti ini di negeri kita, Amiiin.
dan yang pasti...nasionalismenya itu, lho! Semoga masih banyak tokoh2 seperti ini di negeri kita, Amiiin.
Sisi baru yang saya temukan adalah pemikirannya ttg Islam yang cukup konprehensif pada masanya. Haji Salim bekerja di Jeddah pada interval 1904-1909. Pada saat itu dinamika pemikiran Islam di dunia tengah merosot (Ingat 1928 kekhilafahan Turki Usmani runtuh). Akan tetapi rupanya Ahmad Khatib, paman beliau, termasuk diantara ulama yang terus mengikuti pemikiran yang maju. Agus Salim-lah yang berada di garda terdepan dalam menyampaikan gagasan-gagasan Islam di tengah banyak tokoh kemerdekaan yang cukup terpengaruh life-style kebarat-baratan, dengan pemikiran kapitalis atau sosialis.
Agus Salim-lah diantara mereka yang sangat mempertahankan untuk memasukkan kalimat "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa" dalam pembukaan UUD-45, yang menjadi landasan filosofis pendirian negara RI ini. Maknanya, bangsa ini harus terus mengisi kehidupannya dengan menjadikan ibadah kepada Allah sebagai puncak tujuan.
Haji Agus Salim memang sosok yang hebat, saya mengagumi banyak pemikiran beliau yang telah maju melebihi zamannya. Alangkah beruntungnya negeri ini bila pemuda sekarang mampu meneladani pribadi beliau ini.
alhamdulillah, trimakasi banyak atas postingannya akhi. Kebetulan kakek saya ketua tim penyusun buku "Seratus Tahun HAS", sekaligus menantu beliau. Buku ini rasanya udah sulit sekali dicari di pasaran. Semoga suatu hari bisa dicetak kembali.
Senang sekali berkenalan dengan akhi Nurman. Apalagi setelah tahu kakek akhi memiliki andil besar dalam penulisan buku ini. Semoga Allah limpahkan pahala yang besar kepada beliau dan rekan2nya. Salam hangat kembali dan semoga silaturahim kita senantiasa terjaga ...