Adi Junjunan's posts with tag: cinta
Hari Jum'at hingga Sabtu lalu kami menengok, Fathimah dan Hasan, anak-anak kami yang bersekolah di Ponpes Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Sungguh satu kebahagiaan yang sulit dilukiskan ketika kami bersua dengan Fafa dan Hasan. Apalagi sudah hampir satu setengah bulan kami tidak berjumpa mereka. Setiap kali berjumpa, agenda kami sederhana saja. Ada waktu ngobrol-ngobrol santai. Ada acara belanja beli makanan. Pastinya jadi keasyikan tersendiri buat anak pondok: pergi ke supermarket, pilih-pilih makanan, dan ... dibayarin sama orang tua *smile*. Ada pelaporan kebutuhan barang khusus. Yang satu butuh ikat pinggang dan pengen kaos untuk main bola. Yang satu lagi perlu jam tangan. "Kan penting buat menghadapi UAN ...!" Begitu celotehnya. Ada yang spesial pada kunjungan kali ini. Tepat hari Sabtu, 26 April 2008, Qanita berulang tahun ke-11 dan Maryam, meskipun agak telat, berultah ke-8 pada tanggal 2 April lalu. Jadilah acara belanja juga jadi acara cari kado buat Qanita dan Maryam. Tentu Fafa dan Hasan mesti sembunyi-sembunyi pesan kadonya, supaya surprise buat adik-adik mereka. Acara ngobrol-ngobrol bisa di mana saja. Di pelataran parkir Husnul yang sejuk ditumbuhi pepohonan rindang; Di dalam mobil dalam perjalanan ke sana ke mari; Atau di rumah paman dan bibi saya di Cijoho-Kuningan, tempat kami menginap setiap kali berkunjung ke Kuningan. Fafa melaporkan, alhamdulillah dia pada pra-UN ke-3 sudah melampaui batas kelulusan dengan nilai yang baik. Dia sempat memperlihatkan daftar nilai pra-UN seluruh santri-santriwati Husnul. Kami menyarankan agar dia jangan berpuas hati, tapi terus berusaha meningkatkan lagi penguasaan pelajaran yang masih ditingkatkan. Fafa sempat bilang, ingin punya rata-rata 9 pada UAN nanti. Kami mengaminkan harapannya dan mendorong untuk itu. Hasan relatif tidak banyak bicara. Tapi dia menyampaikan bahwa program khusus hafalan Quran-nya terus mengalami kemajuan. Sekarang hafalan juz 28-nya sampai surat at-Taghabun. Grup "olimpiade" matematika juga dia ikuti. Ini istilah untuk grup yang disiapkan sekolah untuk mengikuti lomba-lomba matematika. Selain itu dia masih terus asyik mengikuti kegiatan olah raga, terutama sepak bola (futsal), baik yang formal atau yang main-main bersama teman-temannya. Kami mengingatkan agar Hasan menjaga kondisi tubuh dengan baik untuk menopang berbagai kegiatan yang melelahkan fisik dan pikiran. Khusus untuk masalah ini kami belikan Hasan (dan juga Fafa), vitamin C dan multivitamin yang bisa mereka konsumsi. Jum'at malam, selepas belanja kebutuhan anak-anak, kami tiba di rumah paman. Sebelum makan malam, saya meminta anak-anak semua berkumpul dan berdoa bersama. Paman dan Bibi ikut menyaksikan acara ini. Dengan memohon keberkahan surat al-Fatihah, berturut-turut kami berdoa untuk: 1. Kebaikan Qanita dan Maryam. Semoga mereka menjadi anak sholihat dan cerdas; 2. Buat Fathimah, semoga Allah memudahkannya dalam menempuh UAN. Semoga bisa mencapai nilai yang bagus sesuai cita-citanya; Buat Hasan semoga juga terus berprestasi bagus dalam pendidikan di Husnul Khotimah. 3. Untuk para orang tua kami, termasuk Paman dan Bibi, juga para nenek dan kakek kami yang telah tiada, yang telah membimbing kami semua, semoga Allah berikan kebaikan dan kesehatan di dunia ini dan juga kelak di akhirat. Kemudian kami bacakan doa kami kepada Allah swt. Kami yakin Allah Maha Mendengar segala doa. Dia bahkan mengetahui segala hasrat dan bisikan hati kami. Selesai itu kami saling bersalaman. Kami peluk dan sun anak-anak untuk mengokohkan jiwa mereka. *** Seperti berkali-kali kami sampaikan, menitipkan anak-anak ke pondok pesantren telah menjadi pilihan kami. Di sela-sela waktu keterpisahan dengan anak-anak sering kali merasa rindu. Kadang terpikir, apakah ini adalah jalan terbaik buat pendidikan anak-anak. Lalu setiap kali kami menengok mereka, kami saksikan anak-anak pondok riang gembira berolah raga. Kami saksikan bagaimana mereka serempak menuju masjid kala adzan memanggil. Kami saksikan pula prestasi-prestasi belajar anak-anak yang membanggakan baik sisi keagamaan dan sisi pengetahuan umum. Kami dengarkan bagaimana mereka menceritakan kehidupan pondok. Mereka bercerita dengan biasa-biasa saja, tapi bagi kami banyak hal unik di dalamnya. Setelah kami renungkan ulang, kami sadar betul bekalan pendidikan akhlak dan keagamaan (termasuk bahasa Arab di dalamnya) itu sangat mahal harganya. Maka kami pun memantapkan lagi hati untuk melepas anak-anak belajar, meskipun untuk menengok mereka kami mesti menempuh lebih dari 300 km perjalanan. Hari Sabtu lalu, kami tidak pulang jam 9 pagi dari Husnul, seperti biasa. Kami hadir lagi ke pondok jam 13:30. Kami sempatkan mengobrol lagi dengan anak-anak sebelum meluncur ke Bandung dan lalu ke Bogor. Kami biarkan mereka melepaskan kangen lebih lama. Kami teguhkan lagi doa-doa yang selalu dipanjatkan untuk kebaikan mereka. Jam 15:30an, barulah kami tinggalkan anak-anak. Kami tahu rasa rindu untuk bersama tidak akan pernah hilang. Tapi kami juga sadar, keterpisahan dalam menuju cita-cita pastilah menyimpan banyak hikmah. Untuk keteguhan jiwa anak-anak dan kemandirian mereka. Juga untuk keteguhan jiwa kami sebagai orang tua dalam mendukung sukses mereka dalam pendidikan. Bogor, 28 April 2008, Adi Junjunan Mustafa & Liawati Pridi
Diantara prinsip penting dalam pendidikan anak adalah rasa kasih sayang yang harus kita berikan kepada mereka [1]. Ketika kita sebagai orang tua memiliki keinginan dan harapan terhadap anak, maka kita harus sampaikan keinginan itu dalam bentuk dialog yang nyaman. Kita harus beri ruang kepada mereka untuk juga dapat mengutarakan keinginan mereka.
Saya teringat bagian dari puisi Gibran "mereka memang lahir melaluimu, tapi mereka bukan milikmu/ kau dapat berikan tempat bagi raga mereka, tapi bukan bagi jiwa mereka ..." [2] Begitulah, pesan-pesan yang ingin kita sampaikan pada akhirnya mesti keluar dari lubuk hati mereka sendiri. Sebab merekalah yang kelak akan menjalani hari-hari penempaan jiwa dan kepribadian mereka sendiri.
Kemampuan orang tua untuk berdialog dengan tenang, bahkan pada permasalahan yang amat berat digambarkan Allah swt pada kisah Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Ismail [3]. Saat itu Ibrahim diperintahkan Allah swt untuk mengorbankan Ismail dengan cara menyembelihnya demi membuktikan kecintaan dan ketaatan kepada Allah swt melebihi kecintaan kepada selainNya. Ibrahim, sang ayah, menyampaikan hal ini dalam bahasa yang amat indah dan lembut, "Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, aku menyembelihmu. Maka sampaikanlah bagaimana pendapatmu?" Pada kalimat sang ayah ini ada dialog yang paling tidak mencakup tiga hal: a) ungkapan sayang dengan panggilan "yaa bunayya", b) substansi masalah "perintah Allah untuk mengorbankan anaknya", dan c) membuka ruang bagi anak untuk menyatakan pandangan dan sikapnya.
Ismail pun menjawab, "Wahai ayahku sayang, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah). Insya Allah engkau akan dapati aku termasuk diantara mereka yang bersabar!" Demikianlah sikap Ismail, seorang yang masih muda belia, tapi telah matang jiwanya untuk mendukung ayahnya mentaati Allah swt [4].
Maka orang tua yang baik memberi ruang kenyamanan dan keceriaan kepada anak pada proses pendidikan mereka. Nuansa pendidikan semestinya jauh dari membuat anak tertekan secara kejiwaan. Mendidik mereka untuk tahan memikul beban kehidupan adalah bagian dari pendidikan. Akan tetapi membuat mereka tertekan bukanlah cara yang yang baik.
***
Pada saat kami berkunjung menengok anak-anak yang mondok di pesantren, kami sempat menyaksikan seorang ayah yang sedang menasihati anaknya (teman putri kami). Ada hal yang buat kami agak ganjil. Ayah ini duduk terpisah di satu kursi. Di seberangnya, kira-kira berjarak satu setengah meter duduk putrinya, istrinya dan anaknya yang masih kecil. Kami bisa mendengar jelas ucapan-ucapan sang ayah, karena memang duduk agak dekat. Nasihat-nasihat yang disampaikan sangat bergaya ceramah. Betul-betul seperti seorang yang berceramah. Intonasi kata-katanya amat tegas. Tidak terasa suasana hangat dialog antara ayah dan anak. Di tempat duduk seberang tampak sang putri berwajah tegang. Begitu juga ibunya.
Putri kami nampaknya tidak betah dengan suasana di tempat itu. Ia meminta saya dan istri untuk pindah ke tempat lain. Kami pun berpindah sebagian-sebagian, agar tak terlalu mencolok. Di tempat baru, putri kami bercerita kalau temannya yang sedang dinasihati tadi sehari-harinya sering berwajah murung. Malah pernah temannya itu cerita, kalau dia baru saja menutup telepon dari ayahnya saat mereka berbincang di telepon. Suatu gambaran ada pola komunikasi yang kurang tepat antara ayah dan anaknya.
Buat saya fragmen di atas jadi sebuah pelajaran. Lagi, saya menemukan benarnya pengajaran dari Allah swt dan dari RasulNya tentang pentingnya rasa kasih sayang dan kelembutan dalam mendidik anak. Saya ingin sekali menasihati ayah putri teman putri kami itu. Sayangnya saya tidak berkesempatan, sebab waktu kami pun amat terbatas. Insya Allah satu saat saya akan sampaikan pesan kepada pihak ponpes, agar mereka memfasilitasi orang tua santri untuk belajar tentang psikologi pendidikan dalam mendidik anak.
Alangkah indahnya kalau dialog orang tua dan anak dilakukan dengan penuh keceriaan. Biarkan anak mencerna pelajaran-pelajaran kehidupan dengan suasana hati yang terbuka. Dialog itu disampaikan dalam suasana kedekatan hati, bukan dengan menjaga jarak hati. Dan tatapan mata penuh kasih sayang pasti lebih baik daripada tatapan dan sorot mata yang tegang.
Sungguh indah sikap Nabi Muhammad saat mendidik anak-anak, cucu dan anak-anak sahabat beliau. Anas berkisah selama lebih dari 10 tahun menyertai Nabi, tak pernah ia mendapatkan teguran Nabi yang menyinggung hatinya. Beliau sering menggunakan cara-cara permainan untuk mendidik anak-anak, sebab jiwa anak-anak memang masih senang dengan keceriaan.
Salah satu kebahagiaan terbesar orang tua adalah ketika anak-anak bisa merasakan betapa kita mencintai mereka. Lalu mereka mengucapkan kata, "Terima kasih yaa Ummii. Terima kasih yaa Abii ..." Pesan kasih sayang itu insya Allah akan membantu mereka tumbuh cerdas. Cerdas ruhaninya, cerdas jiwanya, cerdas pikiranya dan juga cerdas untuk menyehatkan tubuhnya.
Yaa Allah, karuniakanlah kami dari istri-istri dan anak-anak kami sesuatu yang menyejukkan hati kami. Dan jadikanlah kami pimpinan orang-orang yang bertakwa kepadaMu.
Bogor, 10 Maret 2008, Adi Junjunan Mustafa Catatan:[1] Pernah saya tulisan pada http://adijm.multiply.com/journal/item/272/Peran_Orang_Tua_dalam_Mendukung_Sukses_Pendidikan_Anak tentang keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah.
[2] Silakan baca juga kisah putri sulung kami saat akan sekolah di Ponpes Husnul Khotimah pada http://adijm.multiply.com/journal/item/58.
[3] Quran surat Shoffat (37):102.
[4] Saya pernah catat kisah Ibrahim dan Ismail ini dalam manuskrip khutbah Idul Adha dan telah saya upload juga di MP ini. Pada catatan tersebut saya singgung peran penting seorang ibu (dalam hal ini Siti Hajar) dalam mendidik Ismail. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Ibrahim sendiri relatif jarang bertemu dengan Ismail anaknya.
Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu untuk segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami sekeluarga Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa hati kami berkumpul karena cinta kepada-Mu bahwa hati kami bertaut atas dasar ketaatan kepada-Mu bahwa hati kami bersatu untuk dakwah-Mu bahwa hati kami berjanji untuk membela syariat-Mu Ya Allah, eratkan ikatan hati kami kekalkanlah cinta diantara kami berilah petunjuk jalan untuk menggapai cita-cita kami terangilah dengan cahaya-Mu yang tak pernah pudar lapangkanlah dada kami dengan keutamaan iman kepada-Mu dan perindahlah dengan tawakkal kepada-Mu hidupkanlah hati kami dengan ma'rifah terhadap-Mu dan matikanlah dalam persaksian sejati di atas jalan-Mu sungguh Engkau Pelindung dan Penolong terbaik kami
Sembilan Februari lalu genap usia pernikahan kami 16-tahun. Ada beberapa menit khusus saat kami bersama dengan anak-anak berkumpul di mobil yang diparkir di halaman Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan.
Kami tahu anak-anak berempat sudah tahu arti hari itu. Maryam diberi isyarat oleh Qanita untuk mengambil sesuatu dari kursi belakang. Ternyata mereka berdua sudah menyiapkan hadiah. Satu tempat cincin dan hiasan beberapa kertas berbentuk jantung hati berwarna merah muda. Kertas-kertas jantung hati yang berbeda-beda ukuran ini dijalin dengan benang. Pada setiap kertas ada sebuah kata. Kalau dirangkaikan maka tulisan itu berbunyi: Bunda dan Ayah selamat ultah ke-16 pernikahan.
Fathimah minta maaf enggak memberikan hadiah khusus. Begitu juga Hasan. Tapi mereka berdua mendoakan kebaikan kepada istri dan saya. Anak-anak pun satu persatu bersalaman dan mencium tangan kami. Mereka kami peluk satu persatu. Suasana dekat dan mengharukan seperti ini tentu amat berharga bagi kami semua untuk merekat kasih sayang.
Saya dan istri berterima kasih untuk perhatian anak-anak. Tentu secara spesial kami berikan apresiasi kepada Maryam dan Qanita yang sudah "repot" menyiapkan hadiah*. Kami tegaskan bahwa bagi kami sudah merupakan kebahagiaan tiada tara apabila anak-anak bersikap baik dan bersungguh-sungguh untuk berprestasi dalam pendidikan.
Sesekali suasana ini diselingi tawa ceria. Saat membuka tempat cincin hadiah dari Maryam, saya bercanda, "Wah ... ini kosong. Mana isinya? Atau ini berarti ayah mesti membelikan Bunda kalian cincin ya ...!?" Kami semua tertawa bahagia**. ***
Pada kesempatan kunjungan kami ke Husnul Khotimah kali ini, entah kenapa hati saya sangat tersentuh dan rindu kepada Fathimah dan Hasan, lebih daripada kunjungan-kunjungan yang lain. Bagi istri tentu selalu ada momen berkaca-kacanya mata saat mengiringi pertemuan dengan anak-anak. Tapi buat saya berlinangnya air mata saat menghayati kasih sayang kepada mereka dan saat berbicara dengan mereka adalah momen spesial.
Kepada Fathimah yang saya minta duduk merapat, saya sampaikan betapa saya sering kangen dan amat menyayanginya. Saya menghargai segala upayanya dalam belajar. Saya juga memintanya untuk sungguh-sungguh meningkatkan porsi belajarnya menghadapi ujian akhir.
Kepada Hasan menjelang tidur saya sampaikan, saya bangga dengan prestasi belajarnya di semester pertama ia mondok. Secara khusus saya sampaikan penghargaan, karena ia bisa masuk program takhassus untuk menghafal al-Quran.
Istri juga memanfaatkan momentum pertemuan dengan seluruh anak untuk menyampaikan kepada mereka betapa kami amat menyayangi mereka. Kami berharap rasa cinta kami ini betul-betul mereka rasakan. Mungkin kami tidak bisa memenuhi segala keinginan mereka, tapi kami harapkan mereka mengetahui bahwa kami sudah berusaha memberikan yang terbaik.
Salam, Adi JM [9.2.92-9.2.08]
* Istri menyampaikan beberapa hari terakhir, Qanita nampak sibuk di kamarnya menyiapkan sesuatu. Kalau istri mau masuk, ia segera menutup kamar dan bilang, "Tunggu dulu ya kalau mau masuk!" Maryam juga ikut serta menahan istri saya kalau mau masuk kamar mendadak ... *smile*
** Kepada istri saya sempat berbisik, "Ntar ya hadiahnya, kalau udah ada uang ..." *smile*
Pada pekan pertama Januari lalu Fathimah menelepon bundanya, mengabari bahwa prestasi studinya meningkat. Secara khusus dia cerita nilai matematikanya bagus. Dia memang pernah mengalami masa-masa "sebel" dengan matematika. Rupanya sekarang Fathimah bisa mengatasi kesulitan deal with math ini. Fathimah juga bercerita, bahwa prestasi Hasan bagus. Peringkat Hasan berdasarkan Raport Pondok [1] juga dibandingkan Fathimah lebih baik. Tapi pada ceritanya ini ada embel-embel begini, "Nilai Teteh sama Hasan sebetulnya sama, cuma temen-temen Hasan aja yang payah dibandingkan temen-temen Teteh ... hehehe." Meskipun ada sedikit nada cemburu dengan prestasi Hasan, dari nada bicaranya, Fathimah menyimpan kebanggaan tersendiri dengan prestasi adiknya ini [2]. Qanita dan Maryam ikut menyimak obrolan Fathimah dan bunda mereka. Selepas obrolan di telepon itu, secara spontan Qanita bilang, "Bunda, aku sama Maryam mau ngasih hadiah buat Teteh sama Kakak." Dan mereka pun meminta bunda mereka mengantar ke toko sore harinya. Mereka bilang, mereka akan gunakan sebagian uang tabungan untuk membeli hadiah itu. *** Jum'at, 11 Januari 2008, kami sekeluarga menengok Fathimah dan Hasan. Kami tiba ke kompleks Ponpes Husnul Khotimah, Kuningan, jam 7:30 pagi. Ketika seluruh keluarga sudah berkumpul di dalam mobil (entah kenapa asyik juga ngumpul di mobil sembari parkir), saya persilakan Qanita dan Maryam menyampaikan hadiah mereka kepada Fathimah dan Hasan. Mereka berdua pun dengan ceria menyampaikan hadiah itu. Saya sendiri tidak tahu apa yang mereka beli untuk kakak-kakak mereka. Jadi saya juga penasaran apa isinya. Istri hanya mengabari bahwa hadiah itu dipilih Qanita dan Maryam setelah meminta sarannya. Dan karena uangnya kurang, maka istri juga menambah sedikit untuk bisa membeli kado yang mereka pilih. Fathimah dan Hasan nampak terharu dan bahagia menerima kado dari adik mereka. Kami sempat mengabadikan foto mereka berdua saat menerima kado.
"Apa sih 'Ta hadiah buat aku?" tanya Fathimah
"Buka aja, Teh ... Enggak usah tanya-tanya," jawab Qanita yang ditanya. "Apa ya ... Aku kan lagi butuh buku harian ...," gumam Fathimah. Qanita dan Maryam nampak senyum-senyum saja mendengar gumaman teteh mereka. 
Sementara itu Hasan udah enggak tahan juga membuka kadonya. "Kakak, sabar donk bukanya ...," kata Maryam. Hasan tertawa. "Apa sih isinya?" kata Hasan. Sebetulnya dia tidak membutuhkan jawaban, sebab tangannya terus sibuk membuka bungkusan kado. Beberapa saat kemudian Fathimah dan Hasan hampir bersamaan selesai membuka kado. Olala, ternyata hadiah buat Fathimah memang buku harian. "Iih ... cantik banget bukunya! Mahal ya ...?" kata Fathimah.
Qanita dan Maryam merespon, "Yaa, gitu deh ...!" Rupanya nyambung juga apa yang sedang diinginkan Fathimah dengan pilihan Qanita dan Maryam. Saya juga kagum dengan kepekaan pengertian adik-adik mereka terhadap tetehnya. Masih ada hadiah lain buat Fathimah; Seperti gantungan kunci dari balon plastik kecil berbentuk panda. Itu rupanya dipilih Maryam ... "Iih, lucuuu ...," kata Fathimah. "Makasih ya 'Ta. Makasih ya Maryam!" sambungnya.
Hasan sendiri sedang senyum-senyum cengengesan setelah tahu isi kadonya: mobil-mobilan sedan kecil dan gantungan kunci Mickey. Hasan memang hobi mengoleksi mobil-mobilan. "Makasih ya ..., " kata Hasan. Dia langsung pesan ke adik-adiknya untuk menyimpan mobil-mobilan itu di laci mejanya di rumah. Soalnya dia enggak boleh main mobil-mobilan di pondok *smile*. Oya ada pesan-pesan tertulis dari Qanita buat Fathimah dan Hasan. Buat Fathimah bunyinya begini: 
Assalaamu'alaikum. Teh, slamat atas prestasinya dari ranking ke-14 ke 12. KeRen! Aqw & KimByut ngasih kenang-kenangan, supaya teteh bisa mengisi hari2 dgn CeRia ... By Qanita M.
Kalau untuk Hasan pesannya: 
Kak, slamet ... atas prestasinya yang sudah masuk 5 BeSar. Aqw yakin di semester 2 kakak bisa ranking 1, ocey!! Doain qw juga ya ... By Qanita M
***
Alhamdulillah, saya dan istri sebagai orang tua merasa bahagia ketika anak-anak dapat saling memahami dan mencintai satu sama lain. Kami juga senantiasa memperhatikan sisi-sisi positif yang ada pada setiap anak. Pada sisi-sisi positif itu ada potensi besar untuk terus mengembangkan kepribadian mereka. Qanita dan Maryam telah menunjukkan perhatian yang besar pada teteh dan kakak mereka. Pemberian hadiah yang mereka lakukan menjadi cerminan kasih sayang mereka. Kami yakin momen-momen sederhana seperti ini akan menjadi modal yang baik untuk membangun keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. "Tahaadduu, tahaabbuu!" Saling berbagi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai. Demikian petuah hikmah dari Nabi Muhammad saw. Bogor, 16 Januari 2008, Adi Junjunan Mustafa [1] Di Husnul Khotimah, santri mendapatkan tiga buku raport: 1) Raport berisi penilaian mata pelajaran khas HK; 2) Raport berisi penilaian mata pelajaran kurikulum dari Depag; dan 3) Raport penilaian hafalan Quran. [2] Saya sesekali memacu anak-anak untuk meraih ranking kelas yang bagus. Akan tetapi dorongan saya dan istri adalah pada kesungguhan mereka dalam belajar. Kami juga memperhatikan betul kenyamanan dan kesenangan mereka untuk menuntut ilmu. Karenanya saya memberi perhatian betul waktu Fathimah mengatakan dia "enggak suka" matematika. Di masa liburan lalu, saya meluangkan waktu secara khusus untuk menemani Fathimah mengerjakan PR matematika. Pada saat itu saya tunjukkan bahwa matematika itu menyenangkan, asalkan kita sabar dan tahu trik-trik pengerjaan soalnya. Alhamdulillah dia nampak bisa menghadirkan lagi rasa percaya dirinya bahwa "dia bisa". Hasan bisa jadi lebih banyak mendapat dorongan dari saya dan istri untuk memperhatikan prestasi belajar, sebab ia baru saja lepas dari rumah untuk belajar di HK. Dia sempat bilang, kalau teman-teman di kelasnya itu rankingnya top-top di sekolah asalnya. Saya bilang, enggak apa-apa, yang penting Hasan belajar dengan giat dan pandai mengatur waktu. Ternyata Hasan mencapai nilai-nilai yang bagus, baik untuk "Raport Pondok", "Raport Hafalan" atau "Raport Depag". Walhamdu lillaah.
Di atas semua itu, istri dan saya memberikan penghargaan yang besar kepada Fathimah, Hasan dan juga Qanita dan Maryam untuk prestasi sekecil apapun yang mereka raih.
Sudah jelas pemenuhan kebutuhan materi pada anak adalah bagian dari tanggung jawab ayah dan ibu. Orang tua wajib memberi anak-anak asupan makanan dan minuman yang bergizi dan menyehatkan, sebatas kemampuan dan rezeki yang Allah berikan. Orang tua juga berkewajiban memenuhi kebutuhan sandang kepada anak-anak. Mereka butuh baju, celana, sepatu, dll. Kalau kita sudah penuhi kebutuhan di atas dengan baik, apakah berarti kita sudah memberikan kasih sayang kepada anak-anak? Tulisan di bawah ini adalah pengalaman keseharian kami seputar masalah ini. Ceritanya ada masa ketika Allah memberikan rezeki yang lumayan lapang di rumah tangga kami. Maka pada saat anak-anak kumpul (kebetulan yang sedang mondok pun sedang liburan), kami ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Fafa, si sulung, bilang dia butuh sepatu. Lucu juga, pas kami jemput dia bawa kardus sepatunya dan memperlihatkan sepatu yang udah agak sobek-sobek. Sementara sepatu yang satunya lagi lemnya lepas. Saya dan istri senyum aja melihat tingkah si sulung. “So what?” saya bilang. “Iih … ayah jangan pura-pura gitu donk …,” kata Fafa. Hasan, anak kedua kami relatif lebih tenang dalam masalah ini. Kami tahu justru dia lah yang paling lama sepatunya. Tapi dia memang cukup apik dalam memakai sepatunya. Saya dan istri pun menjanjikan akan membelikan Fafa dan Hasan sepatu. Dan … namanya anak-anak, saat kami pulang dari Bandung ke Bogor, di mobil mulai melakukan lobby-lobby, supaya langsung untuk cari sepatu. Meskipun masih agak lelah, saya dan istri akhirnya setuju dengan usulan mereka. Selepas makan mie di dekat Tugu Kujang, kami langsung hunting sepatu. Istri punya ide untuk cari sepatu di pertokoan Sukasari. Katanya, harga-harga di sana agak miring dan bisa ditawar. Singkat cerita sampailah kami ke pertokoan itu. Anak-anak, terutama Fafa terlihat happy, padahal saat itu turun hujan rintik-rintik … Di sepanjang trotoar jalan anak-anak berjalan di depan. Mereka nampak menyeleksi toko-toko itu. Sepertinya mereka punya selera tersendiri toko seperti apa yang menarik untuk dimasuki. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami memasuki sebuah toko. “Wah, asyik banyak pilihan …,” celetuk Fafa. Anak-anak pun berhamburan mencari pilihan masing-masing. Olala, Nitha dan Maryam pun ikut sibuk memilih sepatu. Istri dan saya tersenyum melihat kesibukan anak-anak. Istri berbisik, “Lihat ‘A, Nitha sama Maryam ikut sibuk …” Saya hanya mengangguk. “Ya, biarlah … ngiring bingah …,” timpal saya. Pada satu toko, anak-anak tampak sudah punya ancer-ancer, mana sepatu yang akan dipilih. Entah kenapa Fafa merasa cocok kosultasi dengan saya dalam pemilihan sepatu. Bisa jadi karena saya memang punya sense yang sama dengan dia dalam pemilihan sepatu. Bisa juga karena Fafa tahu saya lah penyandang dana … hehehe. Meskipun sudah ada pilihan-pilihan, saya menyarankan agar dicari satu toko lain supaya ada pembanding harga. Bisa jadi juga ada model-model lain yang lebih menarik. Anak-anak setuju. Istri juga sepakat. Benar saja, pada toko kedua, pilihan barangnya lebih banyak dan menarik. Pelayanan di toko ini juga berbeda. Masing-masing anak langsung didampingi seorang pelayan. Para pelayan ini juga interaktif memberikan saran. Sampai akhirnya masing-masing anak fixed dengan pilihannya. Istri bilang, “Alhamdulillah kalau udah pada cocok.” Kepada saya dia menambahkan, “Biasanya repot dan susah untuk dapat barang cocok untuk berempat sekaligus.” Saya menduga diantara rahasia kemudahan memilih kali ini adalah karena harga sepatu-sepatu yang dipilih memang relatif lebih mahal dibandingkan sepatu-sepatu anak-anak sebelumnya. Buat kami membeli sepatu di atas 100 ribu rupiah itu sudah tergolong mahal. Fafa bilang, “Wah, rekor nih harga sepatu teteh …” Rupanya yang sedang ngetrend di sekolahnya adalah sepatu seperti buat main basket. Kalau di jaman saya SMP ngetrend sepatu wariors, warnanya hitam dengan polesan putih sedikit. Kali ini corak sepatu lebih abstrak. Warnanya juga bervariasi. Fafa memilih warna coklat susu. Waktu saya tanya kenapa pilih yang begitu, Fafa menjawab, “Sepatu begini kuat, cocok untuk hiking …” Saya tanya alasan lain, dia bilang, “Sepatu model ini kayaknya belum ada yang pakai … hehehe.” Hmm, inilah uniknya anak perempuan. Nitha dan Maryam juga punya kriteria begitu. Sampai sekarang saya enggak mengerti tentang kriteria “enggak ada yang lain yang pakai” itu menjadi kriteria pemilihan barang. Hasan rasanya enggak pernah mengangkat masalah itu saat memilih sepatu atau keperluan lainnya. Adik-adik Fafa juga punya pilihan masing-masing. Maryam senang sekali dapet sepatu kets warna biru langit (tristan velcro). Pilihan Nitha berwarna blue savages. Sedangkan Hasan memilih putih dengan polesan hitam. Alhamdulillah, kami merasa senang melihat anak-anak berbahagia dengan sepatu baru mereka. *** Mengikuti masa liburan anak-anak kali ini agak berbeda. Saya amat sedikit bersama dengan mereka di rumah. Setiap hari saya hanya bertemu tidak lebih dari 3 jam. Pagi hari sebelum ke kantor dan malam hari sepulang dari kantor, sebelum saya keluar lagi untuk pekerjaan tambahan yang dikejar dead-line. Saya meminta istri memenuhi kebutuhan makanan, minuman atau sandang lain selain sepatu. Saya pernah dengar Fafa butuh pakaian panjang. Sehari-hari saya lebih banyak mendengar cerita istri tentang suasana liburan anak-anak. Saya merasakan ada satu kondisi komunikasi yang kurang nyaman di rumah. Fafa dan Hasan seperti kurang hangat dan seperti menyimpan pertanyaan. Waktu saya konfirmasikan kepada istri, dia mengatakan, “Benar, mungkin Fafa dan Hasan enggak terbiasa dengan kesibukan Aa yang luar biasa hari-hari belakangan ini. Hasan juga sempat beberapa kali nanya, Ayah sibuk banget ya, Bunda?” Istri melanjutkan, bahwa anak-anak sudah diberi pengertian tentang kesibukan saya ini. Tapi tetap saja mereka tidak bisa menyembunyikan kegundahan. Saya sempat merenung, kenapa komunikasi yang kurang hangat ini terjadi? Perasaan, saya udah mencoba memenuhi kebutuhan materi mereka. Saat liburan ini, makanan di rumah relatif enak-enak. Sepatu mereka sudah bagus-bagus. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, bahwa pemenuhan kebutuhan materi memang bagian dari kebutuhan mereka. Tapi mereka juga butuh suasana dialog yang tenang dan hangat. Mereka butuh suasana yang nyaman untuk ngobrol. Apalagi anak-anak yang memasuki usia remaja seperti Fafa, dia butuh sekali suasana enak untuk cerita. Kita sebagai orang tua tidak bisa memaksa mereka mengerti kondisi kita. Pada satu pagi, saya sampaikan kepada istri, bahwa saya melihat kita sekeluarga perlu suasana rehat bersama meskipun sejenak. Istri setuju dengan pendapat saya. Maka sore itu di perjalanan pulang kantor, saya minta ijin sama teman kerja sekaligus sahabat saya untuk tidak ngelembur malam itu. Dia mengerti kondisi saya, sebab dia pun merasakan hal yang sama di rumahnya. Saya kontak istri dan anak-anak, bahwa malam itu sekeluarga akan makan malam di luar. Alhamdulillah, malam itu saya, istri dan anak-anak berhasil menciptakan suasana komunikasi yang lumayan nyaman. Sepulang makan mie-baso, Hasan dan Fafa sempat beli kebab-Turki. Sore itu juga saya temani anak-anak pondok belanja keperluan sehari-hari mereka. Ya … masa liburan tinggal sehari lagi, mereka mesti mempersiapkan perbekalan untuk di pondok. *** Pada sebuah seminar keluarga, saya angkat kisah tentang perlunya orang tua bijak dan sadar dalam memberikan perhatian kepada anak-anak. Mesti ada waktu dan, yang lebih penting, suasana hati yang nyaman untuk berdialog dengan mereka. Saya sampaikan juga, orang tua, terutama yang selalu sibuk, jangan terkecoh dengan persepsi dan perasaan bahwa kebutuhan komunikasi yang hangat dengan anak-anak dapat dikompensasi apalagi disubstitusi dengan materi. Sama sekali tidak bisa! Setidaknya saya pernah merasakan pengalaman itu. Wallaahu a’lamu bish shawwab. Bogor, 10 Januari 2008, Adi Junjunan Mustafa.
Hari Ahad lalu saya dan istri (atas nama Yayasan Peduli Keluarga, Bogor) diundang untuk sebuah acara Dialog Interaktif Keluarga Samara yang diadakan Lembaga Pendidikan dan Dakwah Ishlahul Ummah, Bogor*). Acara diadakan di Gedung Diklat Yayasan Dharmais, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Panitia membuat setting ruang dan acara sedemikian rupa, sehingga suami-istri yang hadir akan merasakan suasana keberduaan. Selesai registrasi para suami istri ini berpose berdua, difoto oleh panitia. Saya dan istri juga difoto. Dan diakhir acara foto ini diserahkan kepada masing-masing pasangan. Tempat duduk di ruangan diset sepasang-sepasang. Hiasan kain pada dinding podium berwarna merah jambu. Bunga-bunga juga menghiasi ruangan. Pendeknya, panitia berusaha menciptakan suasana "mesra" yang dapat dinikmati masing-masing pasangan yang hadir. MC menyebutkan bahwa acara ini sengaja diselenggarakan oleh panitia untuk membangkitkan suasana segar bagi keluarga-keluarga yang hadir. Bahkan disebutkannya, acara ini semoga menjadi suasana "walimahan ulang" bagi peserta. Setelah pembacaan ayat-ayat Quran, acara diawali dengan pembacaan dialog dalam bentuk puisi yang dibawakan oleh sepasang suami-istri yang, kata MC, merupakan pasangan romatis. Cukup segar untuk semakin membawa nuansa harmoni ... *** Saya dan istri memang dipandu master of talk show untuk bercerita tentang membangun komunikasi harmonis di rumah dan juga dalam suasana (sibuk) berdakwah. Secara santai dan bergantian kami bercerita tentang peran suami-istri sebagai kekasih dan juga sebagai mitra dalam berdakwah (tulisan tentang ini sudah saya share di blog MP ini).
Kami tidak berteori-teori dalam memaparkan permasalahan di atas. Kebanyakan yang kami sampaikan adalah pengalaman sehari-hari. Rupanya dengan cara ini peserta yang hadir pun lebih terbawa menghayati permasalahan yang memang dihadapi sehari-hari. Tentang rumah yang hampir pasti berantakan kalau suami dititipi anak-anak oleh istrinya, yang mesti menghadiri atau mengisi seminar. Tentang istri yang sesekali berwajah masam, ketika menyambut suaminya pulang kerja.
Dalam tanya jawab pun pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah masalah keseharian. Suami yang cuek ketika diajak istrinya ngobrol tentang pendidikan anak. Ayah yang bingung menentukan perannya dalam pendidikan anak. Suami-istri yang meminta saran untuk memecahkan perbedaan pandangan dan cara dalam mendidik anak. Masalah-masalah seperti ini yang terungkap dan didiskusikan dalam sesi tanya jawab.
Tips menjaga kemesraan hubungan disampaikan dengan praktis. Saya sampaikan bahwa lelaki itu secara umum "pembosan". Karenanya perlu variasi dalam hubungan suami-istri. Istri saya mendetailkan contoh-contoh untuk para ibu, misalnya secara tak sadar seorang istri terus berpakaian daster yang "tidak menarik" di rumah. Padahal bisa diatur untuk bervariasi dalam pakaian dan dandanan di rumah untuk menyenangkan suami. Saya menambahkan, karena itu dalam memberi nafkah materi, suami yang baik akan memberikan alokasi khusus anggaran istri untuk ke salon kecantikan atau untuk ikut kursus senam dan lain-lain. Inilah sekelumit obrolan pada dialog tentang memelihara harmoni dalam komunikasi.
***
Ketika berbicara masalah kerjasama suami istri untuk memikul tugas-tugas dakwah, intinya kami sampaikan bahwa suami istri harus saling menolong. Suami tidak boleh sungkan membantu mencuci piring, memasak, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Begitu juga suami mesti secara alami siap mengajak anak-anak bermain, ketika istrinya memang memiliki kesibukan. Bahkan dalam keadaan normal pun, kebersamaan ayah dengan anak akan menjadi bekal kejiwaan yang baik bagi anak-anak. Tidak ada aturan fiqh yang tegas mengatakan bahwa tugas-tugas di atas adalah tugas perempuan!
Suami juga mesti memberi istri fasilitas yang memadai untuk belajar. Membeli buku-buku atau menyediakan fasilitas internet. Yang paling penting, suami mesti memberi waktu-waktu khusus bagi istri untuk menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih cerdas dan produktif bagi kebaikan keluarga dan masyarakat.
Sementara itu, istri pun mesti mendukung suami dalam memikul tugas-tugasnya. Istri mesti pandai membaca suasana hati suami. Kalau ada permasalahan yang ingin didiskusikan, mesti dicari waktu yang pas. Di sisi lain, istri mesti menjadi mitra diskusi yang menyenangkan bagi suami. Artinya mesti ada proses belajar yang baik.
Saya sempat menyelipkan pesan khusus bagi para muslimah yang terlibat aktif dalam dakwah. Pesan ini juga bagi para pengelola organisasi dakwah. Pesannya agar pelibatan atau keterlibatan muslimah dalam dakwah tetap menjaga dan mematuhi nilai-nilai dan aturan syariah Islam. Misalnya, pada pengaturan waktu, para muslimah ini mestinya tidak terlibat kegiatan-kegiatan hingga malam hari. Katakanlah, batas waktu aktifitas mereka paling telat itu sampai waktu magrib. Juga diperhatikan agar jangan sampai terjadi ikhtilat (percampuran) lelaki dan perempuan yang melampaui batas.
***
Demikian sepintas liputan acara dialog keluarga di Sukaraja. Di sela-sela waktu, panitia beberapa kali mem-break acara dengan kuis atau games untuk para peserta. Kuis dan games ini berupa pertanyaan dan simulasi peran suami-istri, seperti cara suami memanggil istrinya dengan panggilan sayang. Bagaimana sikap istri yang melihat pulang dari luar dengan wajah kusut dan permainan lainnya. Panitia juga generous dengan membagikan bingkisan-bingkisan bagi peserta yang "jadi korban" acara kuis atau games ...
Di akhir acara, panitia nodong saya membacakan puisi cinta untuk istri. Kata mereka biar peserta mendapat contoh ... *smile*. MC-nya bilang juga, bingkisan untuk pembicara akan disampaikan setelah pembacaan puisi ini. (Gawat juga nih panitia ... hehehe.)
Puisinya begini (saya tidak tahu siapa penulisnya, mungkin salah seorang panitia acara):
PUISI CINTA UNTUK KEKASIH HATIKU
senyummu adalah bahagiaku ceriamu adalah dambaku gelisahmu adalah kebimbanganku air matamu adalah kesedihanku
kau pelipur lara dukaku kau pengiring suka citaku bersama kita dalam hari-hari keberkahan
ikatan ini berawal dari hati atas nama cinta jalinan ini bermula dari rasa atas nama sayang pertautan ini berasal dari angan atas nama rindu sungguh ini adalah cinta, sayang dan rindu cinta, sayang dan rindu atas nama pengabdian kepada Rabbul 'Izzati
malam ini bintang bersinar cinta bulan tersenyum sayang angin mendesir rindu wahai bintang, bulan dan angin sampaikanlah salam cinta, sayang dan rinduku kepadanya "sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah"
Saya lihat mata istri berkaca-kaca mendengar puisi di atas. Waktu saya konfirmasikan di mobil, dia bilang, "Aku sangat menghayati puisi itu ... Terima kasih."
Bogor, 18 Desember 2007, Adi Junjunan Mustafa
*) Kami mengisi acara sesi pagi. Pada sesi ba'da Dhuhur, diundang Pak Mutamimul 'Ula dan istri untuk berdialog seputar pendidikan anak. Sebagaimana dimaklumi mereka termasuk keluarga yang Allah beri kelebihan dalam mendidik anak-anak mereka, sehingga beberapa anak mereka telah berhasil menghafalkan seluruh al-Quran dan masing-masing anak amat berprestasi dalam pendidikan di sekolah. Sayangnya kami tidak dapat mengikuti acara sesi siang, karena ada keperluan lain.
Istri bilang dia agak pusing. Cape ke sana ke mari siang tadi, katanya. Saya juga lelah, selain karena baru pulang dari kantor, pekan ini memang banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan. Setiap hari selesai sholat Isya, saya ke rumah teman sampai lewat tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan sambilan ...
Saya pun menawarkan ngobrol sambil rebahan santai. Kami minta ijin kepada anak-anak untuk ke kamar. Kami juga memberi tahu mereka, bahwa mereka boleh ikut ngobrol di kamar kalau mau. "Kang ... gimana tadi di kantor? Ada apa?" tanya istri. "Biasa lah ..." jawabku. Saya malah balik tanya, "Bagaimana kegiatan hari ini? Lancar?" "Alhamdulillah, tadi udah ganti oli. Enggak ada Pak Asep di bengkel. Jadi yang ngerjakan montir yang lain. Pesenan perbaikan lainnya yang Akang sampaikan enggak dikerjakan, karena enggak ada Pak Asep ..." "Hmm, ya sudah nanti aja ..." Saya menanggapi. "Trus abis itu ke Bank Muamalah, transfer uang SPP anak-anak ... Di dekat rel macet banget, jadi tadi ngambil jalan Kebon Pedes. Trus mobil di parkir di Jambu Dua. Jalan aja ke Bank-nya, soalnya kalau dibawa ke Bank kan muternya jauh ..." "Jauh donk jalannya!" kata saya. "Enggak apa-apa ... Daripada muter jauh ..."
"Mestinya pakai aja mobilnya ke Bank ..."
"Udah, enggak apa-apa kok jalan sedikit ..."
Saya kemudian masih mengikuti cerita istri, bahwa sepulang dari Bank, temannya datang ke rumah. Mereka menyelesaikan proposal kegiatan Yayasan Peduli Keluarga yang mesti disubmit akhir November ini. Saya masih mengikuti juga cerita bahwa mereka makan mie-goreng disela-sela kerja. Dan seterusnya ...
Sesekali Maryam dan Qanita masuk ke kamar dan menanyakan PR atau hal lain. Saya juga bercanda dengan anak-anak kalau mereka masuk.
"Bunda katanya pusing ... Masih enggak?" tanya Qanita.
"Hmm ... enggak pusing lagi tuh. Kenapa ya, kalau udah ngobrol sama Ayah kalian, pusing jadi hilang ..."
"Huh ... bilang aja pengen ngobrol," celetuk Qanita. Saya dan istri sama-sama tertawa mendengar godaan anak kami yang kelas 5 ini.
Istri lalu menceritakan hal lainnya yang ia lakukan hari ini. Saya senyum-senyum mendengar ceritanya yang hampir tak terputus. Rupanya istri sadar dengan kelakuan saya.
"Kenapa kok senyum-senyum, Kang?"
"Enggak ... ingat tulisan di buku."
"Buku tentang beda perempuan dan lelaki ya?"
"Iya ... bener juga yang ditulis di buku itu ya."
"Bagian mana?"
"Itu lho ... lelaki cenderung sedikit bercerita. Kalau perempuan diminta cerita, maka dia akan cerita sampai ke hal-hal detil ..."
Istri tertawa lepas sekali. "Wah ... bener juga. Jadi maluw nih. Tulisan itu memang aku banget ...!" Tawanya terus lepas.
***
Pada buku "Why Men Don't Listen and Women Can't Read Map" (WMDL-WCRM) memang disebutkan, bahwa bagi perempuan bercerita adalah salah satu cara melepaskan kelelahan jiwa. Ketika dia bercerita, maka yang dibutuhkan adalah ada seseorang yang menyimak. Mungkin itu sebabnya, istri bilang pusingnya hilang setelah bercerita banyak.
Lelaki punya kecenderungan sebaliknya. Dalam keadaan lelah, keheninganlah yang ia butuhkan. Maka kalau cerita yang disampaikan istri adalah masalah-masalah, suasana emosional lelaki tidak siap menerimanya. Apalagi bagi lelaki, saat dihadapkan pada masalah, maka instink-nya mengatakan, ia mesti membantu memberi solusi.
Kenyataannya, kata buku itu, perempuan sendiri seringkali enggak butuh solusi saat ia bercurhat *). Ketika ada seseorang menyimak, itu sudah cukup membantu perempuan. Nah, dengan teori ini, saya lebih tenang mendengar istri bercerita. Untungnya lagi, ia cukup baik memilih cerita yang memang "bukan masalah" *smile*.
Jadi di tengah kelelahan saya pulang kantor, saya mencoba menyimak cerita istri tanpa beban di kepala. Dengan begitu mudah-mudahan saya bisa sedikit membantu istri melepaskan ketegangan jiwanya hari ini. Saya yakinkan diri untuk menikmati dan bersabar dengan cerita yang ada. Saya juga yakinkan diri bahwa apa yang dikisahkan memang bagian dari pengetahuan yang harus saya ketahui sebagai suami. Meski begitu, kelelahan fisik seringkali membuat saya tak tuntas mendengarkan kisah sehari-hari ini ... Saya tertidur, entah pada bagian mana dari kisah istri ... *smile*
Bogor, 30 November 2007, Adi Junjunan Mustafa
*) Di kisah saya, ketika istri cerita dia enggak bawa mobil sampai ke Bank, saya tanggapi sebagai sebuah masalah (terpancing instink alami seorang lelaki yang mesti memberikan solusi). Saya bilang, mestinya mobil dibawa aja sampai Bank, daripada jalan agak jauh. Kenyataannya istri enggak merasa perlu solusi yang saya berikan.
Pada buku WMDL-WCRM disebutkan kisah serupa, seorang perempuan yang menceritakan bahwa saat pergi ke mall hak sepatunya patah. Pasangannya merespon ini sebagai "problem", makanya ia berkata, "Mestinya kamu jangan pakai sepatu berhak, pakailah sepatu kets kalau ke mall ..." Ia merasa memberikan tanggapan dan solusi yang tepat. Si perempuan dalam benaknya berkata, "Kenapa sih dia mesti bilang begitu. Aku enggak butuh sarannya itu. Yang aku butuhkan, cukuplah dia menyimak kata-kataku dengan baik ..."
Saya yakin banyak ayah yang mengalami pengalaman seperti saya ini. Pada pekan-pekan sibuk, sangat sedikit waktu untuk bisa bercengkrama dan berkomunikasi dengan anak-anak. Dalam sepekan kadang hanya tersisa dua malam saja di mana kita pulang ke rumah sekitar waktu magrib. Selebihnya entah kita mesti menginap di luar kota atau mesti pulang amat larut, saat anak-anak sudah tidur. Sementara itu kepergian kita ke luar rumah keesokan harinya pun sangat awal, sehingga praktis sangat singkat pertemuan dengan anak-anak.
Alhamdulillah pekan lalu "tersisa" hari Ahad. Qanita (kelas 5) sudah merajuk sejak beberapa hari terakhir. Pasalnya hari Sabtu lalu adalah hari istimewa buatnya. Ibu walikelasnya, Bu Soliha, menikah dan mengundang kami untuk hadir pada walimatul-ursy. Saya sudah sejak beberapa hari sebelumnya apologize kepada Qanita, karena Sabtu ada agenda ke luar kota. Sementara itu istri sakit flu, sehingga tidak bisa keluar rumah. Maka hari Ahad lalu kami "mengqodlo" hadir ke rumah Ibu Guru walikelas Qanita. Sebagai kompensasi, saya pun menjanjikan anak-anak untuk makan siang di luar rumah ...
Ibu Guru, yang tinggal di kawasan Gunung Batu, Bogor, bersama sang suami menyambut kami dengan ramah. Kami pun dapat leluasa berceritera dengan pasangan pengantin baru itu. Malahan kami dapat berta'aruf lebih dekat dengan mereka dan kami bisa tukar pengalaman bagaimana menghadapi masa-masa awal pernikahan. Qanita juga nampak senang bisa langsung mengunjungi rumah Bu Guru, meskipun hampir tak ada obrolan khusus antara murid dan guru pada kunjungan tersebut.
Selesai kunjungan, kami sempatkan makan siang di Botani Square. Tempat makan kami di Kafe Seberang. Sejauh yang kami ketahui, Kafe Seberang ini saja lah yang sudah mendapatkan sertifikasi halal MUI (tolong dikoreksi kalau keliru). Setelah itu kami sempat belanja beberapa keperluan rumah tangga di supermarket. Di sana, kami berjumpa beberapa sahabat yang juga sama-sama belanja.
Qanita masih punya request lain. Dia meminta kami mengantar ke Gramedia. Saya tentu senang saja, sebab memang menyenangkan buat saya bisa lihat-lihat buku baru yang dijajakan. Akhirnya malah saya duluan yang memilih buku untuk dibeli. Buku lama yang sudah saya baca beberapa kali resensinya, tapi ternyata mengasyikan juga untuk dibaca langsung: Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps. Qanita sendiri membeli DVD Operete Bobo. Babumba judulnya, kalau saya enggak keliru.
Alhamdulillah, masih Allah beri kami waktu luang untuk melakukan rehat. Bukan cuma untuk anak-anak saja suasana seperti itu menyenangkan. Bagi saya dan istri juga, suasana kebersamaan seperti itu jadi sebuah refreshing yang menyenangkan.
Bogor, 16 November 2007, Adi Junjunan Mustafa
|  | Alhamdulillah, seperti biasanya masa lebaran tahun ini dilalui dengan silaturahim dan kunjungan kepada orang tua dan sanak saudara. Satu budaya yang baik. Dengan silaturahim ini, kita berkesempatan "ngobrol-ngobrol" dengan orang tua dan saudara. Saling berbagi cerita, saling tertawa bahagia dan saling memahami kondisi mutakhir masing-masing. Terajut tali kasih sayang yang semakin dalam. Tersimpan cita-cita dan harapan untuk saling membantu, saling mengingatkan dan saling mendoakan.
Seperti biasa rute klasik masa lebaran kami adalah Bogor, Bandung, Kuningan, Ciamis. Masih di seputar Jawa Barat bagian Timur.
Salam, Adi, Lia, Fathimah, Hasan, Qanita dan Maryam (Bogor, 12 Syawwal 1428)
|
|  | Di sela-sela waktu shaum Qanita dkk (kelas 5) pentas menyanyi di Botani Square, Bogor. Qanita memang tahun ini ikutan ekskul Bina Vokalia. Sejak tahun lalu grup vokal dari SDIT Ummul Quro diundang Botani Square untuk meramaikan paket acara Ramadhan mereka. Anak-anak Ummul Quro ini tampil lepas dan menarik membawakan lagu-lagu anak Islami bertemakan Salam, Puasa, dan Sholat. Jadi pertunjukan unik juga di tengah-tengah waktu puasa di mall besar di Bogor ini.
Sementara itu Maryam (kelas 2) sejak tanggal 1 sampai tanggal 4 Oktober mengikuti kegiatan SeNyUM, Sepekan Nyantri di Ummul Quro, yang merupakan paket kegiatan Ramadhan sekolah. Foto-foto di bawah ini adalah saat acara ceramah umum. Saya yang diundang berbicara terus terang agak gugup. Baru pertama kali soalnya berbicara dihadapan sekitar 500 anak kelas 1 sampai kelas 4 SD. Hebohnya luar biasa. "Saya betul-betul bisa merasakan hebatnya kesabaran bapa dan ibu guru dalam mendidik anak-anak, terutama yang masih kelas 1 dan 2 ...," kata saya kepada Pak Rijal, Guru SDIT Ummul Quro yang menjadi penanggung jawab acara.
|
Hari Sabtu lalu, 22 September 2007, saya, bibi saya (adik mamah), istri dan anak-anak pergi ke Masjid at-Tin (dekat Taman Mini Indonesia Indah) untuk mengikuti acara seminar keluarga yang diadakan Komunitas Rumah Cinta (KRC). Mendidik dengan Cinta, demikian temanya. Ini sudah seminar ke-5 dengan tema yang sama.
KRC sendiri menurut cerita Bang Gim, salah seorang pengurusnya, didirikan menyambut antusias para pembaca buku "Mendidik dengan Cinta" yang ditulis Ibu Irawati Istadi. Para pembaca buku ini berhasil dihimpun menjadi sebuah komunitas: Komunitas Rumah Cinta. Sebuah modus silaturahim yang menarik, karena terbangun dari aktifitas yang baik, yaitu menulis dan membaca.
Acara seminar ke-5 lalu menghadirkan dua pembicara, Bu Sitaresmi dan Teh Ninih. Moderator acaranya Bu Irawati Istadi. Bu Sita menyampaikan materi yang sangat banyak points-nya. Yang paling berkesan buat saya adalah pemaparan problematika yang dialami anak-anak di era kontemporer. Mereka banyak mengalami distorsi dalam proses pertumbuhannya. Bu Sita misalnya mengangkat sebuah studi yang menunjukkan betapa imajinasi yang mengarah pada hubungan seks sudah ada pada banyak anak-anak kelas 4 sampai kelas 6 SD. Rupanya pengaruh media elektronik dengan VCD, hand phone, televisi dll sudah banyak merusak akal dan pikiran anak-anak ini. Tips menciptakan keluarga penuh berkah, terutama di bulan Ramadhan pun disampaikan. Intinya momen Ramadhan ini mesti dimanfaatkan untuk dekat dengan akan-anak dan membuat mereka dekat dengan Allah swt.
Berikutnya Teh Ninih mendapat giliran berbicara. Rupanya masalah poligami suami Teh Ninih, Aa Gym, tetap menjadi daya tarik tersendiri buat peserta yang hadir. Teh Ninih mengingatkan agar ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir memenuhi ruangan seminar meluruskan niat; Datang hanya karena Allah dan bukan karena ingin ketemu istri pertama Aa Gym ... Mukadimah ini membuat hadirin tersenyum dan tertawa segar.
Teh Ninih menyampaikan pesan yang dirangkum dalam 3-T: Taubat, Taat dan Tawakkal. Ia mengajak hadirin untuk bertaubat dalam bentuk evaluasi total dalam kehidupan rumah tangga. Masing-masing anggota keluarga hendaknya berlapang dada mengakui kesalahan selama ini dan bertekad untuk memperbaikinya. Kemudian seluruh anggota keluarga hendaknya saling menguatkan untuk semakin meningkatkan ketaatan kepada Allah swt. Rajin membaca al-Quran, berderma dll khususnya di bulan puasa ini. Dan akhirnya seluruh anggota keluarga senantiasa bertawakkal kepada Allah swt, karena dengan tawakkal inilah hati menjadi tenteram. Kita tidak lagi menyandarkan permasalahan kepada diri, dan ini sering membuat diri sakit dan berat. Kita sandarkan segala urusan kepada Allah Yang Maha Berkuasa.
Untuk forum pada acara seminar lalu, pesan-pesan Teh Ninih yang singkat, sederhana dan praktis saya rasakan lebih mengena pada peserta seminar.
***
Acara seminar ini mendapat dukungan cukup besar dari berbagai sponsor. Hadirin juga nampak antusias mengikuti sesi demi sesi acara, diantaranya pemberian santunan dan beasiswa kepada anak-anak berprestasi dari keluarga yang kurang mampu secara finansial. Acara juga dihibur grup rebana anak-anak yang mengiringi syair-syair sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Sementara itu di bagian lain ruang seminar diselenggarakan bazar buku-buku keislaman, produk boneka arrosa (boneka cantik berpakaian muslimah) dan produk-produk lain.
Kami sekeluarga juga sempat menikmati keindahan Masjid at-Tin di lantai atas. Semoga kebaikanlah yang Allah curahkan kepada mereka yang memakmurkan masjid ini.
Sebagai catatan akhir, kami ucapkan jazakumullahu khairan kepada Bang Gim yang sudah memperkenalkan KRC ini. Semoga KRC terus sukses mengemban amanah yang amat penting, yaitu masalah pendidikan anak. Saya kutip slogan KRC "Rumahku rumah cinta. Kubangun dunia dengan cinta". Sebuah slogan yang indah untuk menjadi visi rumah-rumah kita.
Bogor, 24 September 2007, Adi Junjunan Mustafa Untuk sahabat yang ingin mengenal lebih jauh tentang KRC, silakan klik situs ini: http://komunitasrumahcinta.org/index.php
Mestinya kejadian ini bukan kejadian pertama kali. Tapi entah kenapa kesan yang saya dapatkan sungguh lain. Saya merasakan empati yang mendalam ketika istri bersedih mesti terputus menikmati Ramadhan. Ya, terputus sekitar sepekan. Para ibu MP-ers tentu memahami apa yang sedang terjadi. Ini adalah siklus alami yang terjadi pada perempuan; Datangnya masa haid atau menstruasi.
Saya betul-betul berempati. Seperti kata istri, "Yaa ... padahal ini sedang nikmat-nikmatnya beribadah." Saya langsung membayangkan aktifitasnya sejak dini hari sekitar jam setengah tiga atau jam tiga-an. Bangun dan langsung menghangatkan makanan untuk sahur. Di sela-sela waktu itu ada kesempatan untuk berwudhu, sholat malam atau membaca al Quran. Setelah itu berangkat ke masjid untuk sholat Shubuh dan mendengarkan kuliah shubuh. Siang hari pun diisi dengan tilawah yang lebih banyak daripada hari-hari biasa. Sementara sore hari menyiapkan makanan untuk berbuka. Lalu menjelang Isya, bersama-sama sekeluarga pergi ke masjid untuk sholat Isya, mendengarkan ceramah tarawih dan bersholat tarawih.
Saya merasakan betul kehilangan suasana kenikmatan beribadah yang ia maksudkan. Saya hanya bisa menenangkannya dengan berkata, "Bersabarlah. Tentu kita harus ridho dengan ketentuanNya ..."
"Iya ... tentu kita harus ridho kepadaNya," katanya singkat.
"Allah pasti tetap memberikan kebaikan yang banyak kepadamu," kata saya.
"Doakan ya. Semoga Allah tetap memberikan pahala yang besar kepada saya. Mudah-mudahan dengan pekerjaan menyiapkan makanan seperti ini, Dia tetap memberikan pahala puasa ..."
"Insya Allah ... Dia Maha Pemurah dan Maha Bijaksana."
"Oya, saya pernah dengar, bahwa Allah akan tetap memberikan pahala kebaikan untuk 'amal ibadah yang rutin kita kerjakan, pada saat kita tidak bisa mengerjakannya. Betul, kan?" tanyanya.
"WaLlaahu a'lam untuk kasus haid. Tapi yang saya dengar adalah Dia berikan itu pada kasus mereka yang sakit atau sedang bersafar. Benar, Allah akan tetap memberikan pahala 'amal ibadah yang biasa dilakukan hambaNya pada saat dia sehat dan sedang mukim ... Berdoalah kepada Allah. Dia Maha Mendengar ..."
Itu sekelumit obrolan kami. Pada saat itu Qanita dan Maryam ikut mendengarkan. Qanita, pada usianya yang ke-10 saat ini, sepertinya bisa mengikuti apa yang sedang kami bicarakan. Adapun Maryam yang baru kelas dua nampak masih sulit menghayati hal ini.
Saat saya dan dua putri kami akan pergi ke masjid untuk sholat Isya dan tarawih, saya lihat di kursi ruang tengah ada buku Sirah Nabawiyah tulisan Syekh Shafiyur-Rahman Mubarakfury. Saya tatap mata istri saya dengan satu tatapan tertentu. Ia mengerti dan mengatakan, "Buat bacaan. Biar tetap bisa mengisi waktu dengan bermanfaat." Waktu saya tanya apakah saya matikan laptop yang sedang memutar tilawah juz 30 dari al-Quran, ia bilang, "Biar aja, jangan dimatikan ... Biar tetap bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci ..."
Saya dan anak-anak pun berpamitan. Anak-anak sudah lari duluan bersama teman-temannya yang menjemput. Istri sekali lagi bilang, "Doakan ya di waktu-waktu di masjid nanti ...!" Saya pun mengangguk dan dalam hati berjanji untuk melakukannya.
Saya berjalan sendirian menuju masjid yang berjarak 500 meteran dari rumah. Malam ini memang lain. Ada suasana sepi. Biasanya saya berjalan berdua dengan istri dan mengisi perjalanan ke masjid dengan obrolan-obrolan ringan yang menyegarkan jiwa.
Bogor, 9 Ramadhan 1428, Adi Junjunan Mustafa
Kiat Memperkenalkan Islam Sejak Dini kepada Anak Masjid Baitussalaam-BRP, Bogor Tadzkirah Singkat Ba’da ‘Isya, 8 Ramadhan 1428 Tarbiyyatul aulaad atau pendidikan anak menjadi salah satu kewajiban mulia dan utama bagi para orang tua. Pada makalah singkat ini akan dipaparkan tiga panduan dasar bagi para orang tua dalam melaksanakan tugas mulia ini. 1. Keteladanan Keteladanan yang baik memberi kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti anak adalah orang tuanya. Mereka pulalah yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak. “Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi,” kata Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw. memerintahkan agar para orang tua bersikap jujur dan menjadi teladan yang baik kepada anak-anak mereka. Abdullah Ibnu ‘Amir bercerita, bahwa suatu hari, saat Rasulullah berada di rumahnya, ibunya memanggil, “Kemari! Saya akan memberimu sesuatu.” “Apa yang akan kamu berikan?” tanya Nabi. “Saya akan memberinya kurma,” jawab Ibu Abdullah. Nabi bersabda, “Ingat, jika ternyata kamu tidak memberinya apa-apa, maka kamu akan tercatat sebagai pembohong.” [h.r. Abu Dawud] Anak-anak senantiasa memperhatikan perilaku orang tuanya. Jika mereka jujur, anak pun akan meniru. Begitulah dalam segala perkara. Begitulah si kecil Ibnu ’Abbas, tatkala melihat orang mengerjakan qiyamul lail, dia pun mengikutinya. Beliau mengenang masa kecilnya, ”Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah, dan melihat Rasulullah bangun malam. Setelah berada pada sebagian malam, beliau bangun dan berwudhu ringan dengan air dari dalam kantong kulit yang digantung di dinding kamarnya. Setelah itu beliau pun mengerjakan sholat malam. Aku pun ikut bangun dan berwudhu dari tempat air yang digunakan beliau. Kemudian aku berdiri sholat di samping kiri beliau. Lalu beliau memindahkanku ke samping kanannya ...” [h.r. Bukhari dan Ibnu ’Abbas] Orang tua dituntut agar menjalankan segala perintah Allah swt dan sunnah Rasul-Nya menyangkut perilaku dan perbuatan, karena anak mereka melihat mereka setiap waktu. Kemampuan mereka untuk meniru sangat besar, namun kita sering memandang anak-anak sebagai makhluk kecil saja. 2. Dialog yang Intensif Para orang tua yang menghendaki pendidikan berbasis al-Quran tentulah merasakan bahwa al-Quran mengajarkan kita untuk berdialog. Khusus mengenai dialog orang tua dan anak, Allah swt mengajarkan kisah dialog Lukman dengan anaknya [Q.S. Lukman:12-19] atau dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan anaknya Ismail [Q.S. Shaaffaat:102]. Dialog yang intensif dengan anak akan membantu mengembangkan pemikiran dan membangun jiwa mereka. Diantara panduan umum dalam dialog untuk pendidikan adalah sabda Rasulullah saw, “Ajarilah, permudahlah dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menakut-nakuti. Jika salah seorang diantara kalian marah, hendaklah berdiam diri.” [h.r. Ahmad dan Bukhari dari Ibnu ‘Abbas] 3. Kesadaran untuk Terus Mengembangkan Pemikiran dan Membangun Jiwa Anak Doa yang diajarkan Rasulullah saw untuk mendoakan orang tua adalah, ”Ya Rabbi ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka mendidik kami semasa kami kacil.” Bagi para orang tua kandungan doa ini menyiratkan bahwa sejauh mana semangat dan kesabaran dalam mendidik anak-anak, sejauh itu pulalah mereka akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt dengan doa yang dipanjatkan anak-anak mereka. Karenanya para orang tua akan terus berusaha keras dan cerdas dalam mengembangkan pemikiran dan membangun jiwa anak mereka. ”Didiklah anak-anak kalian tiga hal: tilawah al Quran, cinta Nabimu dan cinta keluarganya” adalah ungkapan Nabi Muhammad saw yang memberi arahan atau fokus kepada para orang tua dalam pengembangan pemikiran dan pembangunan jiwa anak sejak dini. Beberapa kiat praktis yang dicontohkan Nabi Muhammad dan para salafush shalih dalam pengembangan pemikiran adalah dengan: - menceritakan kisah-kisah,
- berbicara langsung menuju topik, mudah difahami dan sesuai fakta, - berbicara sesuai kemampuan akal anak, - berdialog dengan tenang, - menggunakan metode praktis-empiris, - mengangkat contoh keteladanan pada Rasulullah saw. Adapun dalam membangun jiwa anak, beberapa kiat efektifnya adalah: - menemani anak, - menggembirakan hati anak, - membangun kompetisi sehat dan memberikan apresiasi yang pantas, - memotivasi anak, - memberikan pujian, - bercanda dan bersenda gurau dengan anak, - membangun kepercayaan diri anak, - memanggil dengan panggilan yang baik, - memenuhi keinginan anak, - memberikan bimbingan terus-menerus, - bertahap dalam pengajaran, - memberikan imbalan dan ancaman (reward and punisment) secara seimbang. Bogor, 7 Ramadhan 1428, Adi Junjunan Mustafa
Anak kami yang kedua, Hasan, sudah sekitar dua bulan bersekolah pada pondok pesantren (boarding school) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Dia mulai masuk pertengahan Juli lalu dan kami menengok lagi pada pertengahan Agustus kemarin.
Ada hal menarik buat saya ketika menyaksikan bagaimana kuatnya hubungan emosional Hasan dengan bundanya. Ini terlihat menjelang kami pulang dari kunjungan. Saya sudah mulai merasakan ada perasaan haru tak tertahankan pada istri saat akan berpamitan. Pada kedua matanya sudah mulai ada genangan air mata. Dan yang terjadi pada Hasan juga demikian. Dia sepertinya enggak tahan untuk tidak menangis. Padahal kalau cuma berdua dengan saya, Hasan nampak teguh hati, walaupun memang ada raut kesedihan di wajahnya.
Begitulah, cinta seorang ibu sampai menyentuh sisi-sisi emosional kejiwaannya yang paling dalam. Ibulah yang lebih sensitif menanyakan apakah masih ada makanan tersimpan, apakah sehat, apakah masih cukup uang bekal dan pertanyaan-pertanyaan lain yang melekat pada keseharian. Ini saya rasa buah dari perhatian keseharian yang memang diberikan ibu kepada anak-anak saat hidup bersama.
Pada saat menelepon pun saya melihat istri saya mudah sekali berkaca-kaca saat berbicara dengan Hasan. Bisa jadi suasana emosional dalam melepas Hasan memang masih cukup kental. Ketika berbicara dengan Fathimah, kakak Hasan, istri nampak lebih tenang dalam berkomunikasi. Fathimah sudah duduk di kelas IX (kelas III Madrasah Tsanawiyah). Dia sudah lebih stabil dalam menghadapi kehidupan pondok. Itu jawaban istri, saat satu hari saya bertanya tentang sikapnya yang lebih tenang terhadap Fathimah.
Saya juga tentu kehilangan Hasan. Terutama kehilangan teman sholat berjamaah ke Masjid Baitussalam, masjid kompleks perumahan kami. Akan tetapi saya mungkin melihat jauhnya Hasan di pondok sana dari sisi-sisi yang lain. Saya lebih melihat sebagai kesempatan dia belajar keagamaan dan ilmu umum lebih intensif. Saya juga lebih melihat pondok sebagai tempat dan kondisi dia membangun kepribadian islami dan proses aktualisasi dirinya. Saya memperhatikan bagaimana pola hubungan dia dengan teman-temannya, kurikulum pendidikan di sana dan permasalahan lain terkait prospek perkembangan intelektual dan kepribadian. Saya kehilangan Hasan; Saya bersedih juga kadangkala. Tapi rasionalitas dan dorongan agar Hasan berkepribadian teguh, membuat saya dapat mengalihkan rasa sedih itu ...
Saya tahu bunda Hasan juga memikirkan hal-hal di atas. Tapi dia punya porsi perhatian secara emosional yang lebih kuat. Saya memang harus akui, itulah porsi hebat yang diberikan seorang ibu. Ibu mendorong anak-anaknya meraih kesuksesan dengan kasih sayang yang amat dalam.
***
Setiap kali saya melihat istri bercengkrama dengan anak-anak putri kami yang tinggal dua di rumah, saya selalu bertanya-tanya, hubungan seperti apakah yang mereka rajut. Dari hari ke hari mereka terus memupuk cinta.
Saat makan di sebuah restoran di Kuningan, istri dan anak-anak nampak asyik mengobrol. Sesekali gelak tawa terdengar dari meja mereka. Saya duduk agak jauh bersama dua orang sahabat saya yang juga sedang sama-sama ada di Kuningan. Salah seorang sahabat saya berkata, "'Di, istri kamu tuh sama anak-anak kayak temen ya ...?!"
"Maksud kamu gimana 'De?"
"Iya, istri kamu enggak bergaya seperti seorang ibu gitu loh ..."
"Ya, begitulah. Saya memang melihat, dia lebih banyak bersikap sebagai teman dengan anak-anak. Dan memang di usia anak-anak saat ini, mereka lebih nyaman diposisikan sebagai teman ... "
Akrab berdialog. Setiap ada kesempatan selalu membuka diri ketika anak hendak menyampaikan masalah. Saat di dapur, saat nonton tivi, saat di perjalanan. Pada setiap kesempatan saya perhatikan istri meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak. Ikatan yang kuat inilah yang saya duga membentuk hubungan emosional yang juga amat kokoh. Dan ini rahasia kekuatan kasih sayang bagi seorang ibu.
***
Sore kemarin saya sudah berada di rumah bersama anak-anak. Waktu sudah lewat magrib. Istri belum pulang, karena ada tugas yang mesti dikerjakannya di Ciawi. Qanita dan Maryam sedang asyik bermain-main di ruang tengah. Maryam sedang menutup matanya dan Qanita lari-lari dikejar-kejar. Tawa riang mereka sepanjang permainan saya ikuti dan nikmati saja.
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil. Dan Maryam secepat kilat membuka tutupan matanya seraya berteriak, "Ummiiiii ....!" Dia pun segera membuka pintu. Lalu bersama tetehnya, dia berlari membukakan pintu gerbang rumah.
Saya tersenyum dan berjalan ke arah pintu. Saya sungguh bisa merasakan kebahagiaan luar biasa pada anak-anak saat menyambut kedatangan bunda mereka.
Wa Allahu a'lamu bish shawwab.
Bogor, 28 Agustus 2007. Adi Junjunan Mustafa
Dalam sebuah acara family gathering seorang pembicara mengangkat masalah praktis dalam kehidupan rumah tangga. Masalah ini bisa diwakili dengan frase kunci: berdua dengan pasangan.
Ternyata banyak kegagalan berumahtangga dikarenakan suami-istri sangat jarang atau bahkan tidak pernah memiliki waktu berdua dan benar-benar hanya berdua! Tidak dengan orang tua. Tidak dengan anak. Tidak dengan mertua. Tidak dengan ustadz, murabbi, dan tidak dengan siapapun, kecuali BERDUA.
Apa yang diangkat ini seperti masalah sepele. Akan tetapi, ketika saya renungkan, benarlah bahwa kondisi dan waktu-waktu berdua sangat penting untuk memelihara keutuhan rumahtangga. Topik pembicaraan ketika berdua adalah bagaimana suami-istri membangun rencana dan visi keluarga. Apa cita-cita dan harapan istri? Apa impian dan obsesi suami? Kemudian dibangun dialog untuk menyatukan dan menajamkan visi bersama ini.
Obrolan saat berdua adalah tentang suami di hadapan istrinya dan tentang istri di hadapan suaminya. Tentang saling memberikan apresiasi diantara mereka. Tentang saling menasihati diantara mereka. Suasana humor segar berdua. Suasana diskusi cerdas berdua. Dan suasana kehangatan diantara mereka berdua.
Orang banyak membicarakan masalah paradigm shift dalam membangun better future. Sesungguhnya adalah bagian dari tanggung jawab suami-istri untuk senantiasa menyegarkan paradigma mereka dalam berkeluarga. Dan penyegaran ini hanya bisa dilakukan apabila terbangun dialog yang sinambung diantara mereka berdua.
Jadi tunggu apa lagi. Mari ciptakan suasana ke-berdua-an yang intensif diantara kita dan pasangan kita. Semoga Allah membantu kita untuk senantiasa mengokohkan mahligai rumah tangga kita. Dan semoga atas ijinNya, keluarga kita senantiasa terpelihara dalam ketenteraman, cinta dan kasih sayang.
Bogor, 13 Agustus 2007. Adi J. Mustafa
Menghitung hari. Hasan sebentar lagi akan pergi untuk bersekolah di Ponpes Husnul Khotimah. Fathimah juga sebentar lagi mesti kembali ke sana, seusai masa liburan kenaikan kelasnya.
Dalam obrolan-obrolan lepas, saya sering mengatakan bakal sepi rumah setelah Hasan menyusul tetehnya. Berarti di rumah hanya tinggal Qanita dan Maryam. Kami sudah merasakan sepinya rumah saat Hasan dan Qanita ikutan Training Spiritual Quotient (TSQ) di Masjid Baitussalam, Perumahan Bogor Raya Permai, tempat kami tinggal, mulai Jumat siang hingga Ahad siang lalu.
Karena saya tetap masuk kantor seperti biasa, praktis pertemuan dengan anak-anak hanya di malam dan pagi hari. Alhamdulillah waktu-waktu akhir pekan bisa kami isi juga bersama-sama. Ini kami syukuri. Kami tahu ada banyak sahabat-sahabat kami yang pada akhir pekan pun mesti menghadiri kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah. Semogalah kita semua diberiNya kebaikan dalam mengisi waktu-waktu bersama anak-anak sesempit apapun waktu itu.
***
Saya bisa merasakan, sebagai ayah saya relatif punya waktu sedikit berinteraksi dengan anak-anak. Menemukan momentum yang nyaman untuk ngobrol membutuhkan kesabaran dan kestabilan jiwa. Anak-anak perempuan, terutama pada usia remaja, punya kekhasan dalam bersikap. Ada yang sangat "sensi". Kondisi emosi juga terkadang agak meledak-ledak. Jika kita sebagai orang tua cepat terpancing emosional juga, maka bisa diduga komunikasi tidak akan berjalan lancar.
Sebagai orang tua kita sering ingin membangun dialog dengan terencana. Kita semua duduk manis. Lalu satu per satu bercerita dan menyampaikan perasaan, pendapat, ide dan lain-lain. Kenyataannya anak remaja lebih suka membangun obrolan secara spontan. Kalau mood-nya enggak muncul mereka lebih suka mengisi waktu dengan membaca, bermain game, main bola, atau bersepeda bersama teman-temannya. Kondisi ketiadaan mood jelas bukan kondisi yang tepat untuk ngobrol. Salah-salah obrolan malah jadi kontra produktif. Alih-alih menciptakan kohesi keluarga, anak-anak malah merasa tertekan ...
Jadi, salah satu kesabaran orang tua adalah bagaimana menciptakan momentum-momentum dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Suasana ini sejauh ini didapatkan pada saat makan malam bersama. Makan malam di luar rumah memberi suasana lebih kondusif. Suasana rekreasi keluarga juga jadi waktu-waktu nyaman untuk ngobrol.
Saya sendiri merasakan saat pulang kantor anak-anak sering menyambut dan langsung secara spontan bercerita keseharian mereka. Hanya saja lelahnya fisik seringkali membuat kesiapan saya menerima cerita-cerita mereka jadi kurang optimal.
Akhirnya untuk tetap bisa mengikuti perkembangan anak-anak, saya mesti meminta istri menyampaikan daily review-nya. Meskipun istri punya kegiatan sosial yang cukup intensif, dia lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak.
***
Hasan sudah diwanti-wanti oleh tetehnya supaya nanti jangan nangis kalau ditinggal di pesantren. Tentu saja Hasan menjawab pasti, bahwa dia tak akan nangis. Adik-adiknya menggoda, "Hmmm, pasti kakak nangis nanti ...!"
Istri sudah beberapa pekan terakhir mengingatkan Hasan agar berdisiplin dalam makan, membereskan pakaian, dan merapikan keperluan-keperluan pribadinya. Tentu ini pelatihan yang baik menjelang kehidupannya di pondok nanti.
Saya sendiri mendorong dia untuk berprestasi. Saya minta Hasan pandai-pandai membagi waktu. Ada waktu bermain dan ada waktu belajar mandiri. Saya pesankan ini sebab saya sering melihat anak-anak lelaki Husnul Khotimah main bola "futsal". Saya juga sudah mendialogkan dengan Hasan kemungkinan dia mengambil takhassus (spesialisasi) hafalan Quran. Saya sampaikan kerinduan saya punya anak yang bisa hafal Quran.
"Tapi Ayah juga mesti hafal Quran ...!" sergah Hasan.
"Ya Hasan. Ayah akan makin bersemangat juga menghafal Quran. Tapi Hasan jelas masih lebih muda kan. Jadi otaknya lebih fresh daripada ayah ...," jawab saya.
Saya juga memberikan dorongan-dorongan kepada Hasan dan juga Fathimah untuk terus meningkatkan prestasi akademis dan juga mendorong untuk aktif berorganisasi. Alhamdulillah Fathimah membawa dua majalah terbitan pondok. Di dalamnya dilaporkan banyak hal terkait aktifitas pondok termasuk prestasi-prestasi siswa-siswi pondok. Saya mencoba membicarakan lebih jauh tentang cita-cita mereka lebih spesifik di masa depan. Akan tetapi nampaknya obrolan ini masih perlu waktu lebih jauh untuk sampai pada kesimpulan ...
Selalu saja kami sebagai orang tua merasa tak cukup memberikan bimbingan dan bekal kepada anak-anak. Semoga Allah swt menyempurnakan segala kekurangan kami dalam mendidik mereka. Aamiin.
Bogor, 10 Juli 2007, Adi Junjunan Mustafa
|
|