Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Adi Junjunan's posts with tag: gagasan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag gagasan
Blog EntryAt-Takaatsur, Materialisme dan Budaya KorupsiJul 7, '08 12:18 AM
for everyone
Ada banyak kejadian dan fenomena yang membuat saya sangat khawatir dengan masa depan bangsa ini. Krisis energi yang melanda negeri ini, padahal masih banyak porsi sumber daya energi yang justru diekspor ke luar negeri. Melambungnya harga BBM yang melilit anggaran belanja negara yang nampaknya telah lalai menggagas dan menggulirkan kebijakan energi yang mantap. Sementara itu, seperti diangkat majalah Swa, segelintir pebisnis minyak dalam negeri justru meraih keuntungan berlipat ganda dengan melambungnya harga jajaan mereka. Seorang ekonom, yang pernah jadi birokrat, mengangkat statistik adanya komisi 2 US-dollar untuk setiap barrel impor minyak. Kalau negeri ini perlu impor 300.000 barrel per hari, maka angka komisi ini hampir senilai 6 milyar sehari! Yang menyedihkan adalah bahwa sebagian besar proses eksplorasi sumber daya mineral dilakukan oleh pihak asing. Dalih yang dipakai adalah, karena kita tidak punya uang untuk mengeksplorasi dan mengelolanya [1].

Di tengah krisis energi yang melanda negeri ini, ada badai lain yang mencuat ke tengah ruang publik; Terbelinya anggota legislatif dan penegak hukum pada lembaga puncaknya dengan uang. Benar, ini terkait kasus penyuapan dan korupsi. Kebanyakan masyarakat umum, termasuk saya, bertanya-tanya, apa sih yang dicari para anggota dewan yang penghasilannya perbulan ada pada kisaran 40-50 juta rupiah?! Apa juga yang masih dicari para penegak hukum, apalagi sudah duduk di eselon I, dengan menjual harga dirinya pada penjahat-penjahat yang jelas-jelas merugikan dan membuat negeri ini terus terpuruk perekonomiannya?!

Setelah masalah energi dan masalah korupsi di atas, saya mengamati masalah lain yang justru lebih membuat saya khawatir: pendidikan di dalam negeri. Di sini tercium arus komersialisasi dunia pendidikan. Tanyakanlah kepada para orang tua yang sibuk mencari jalan agar anak-anak mereka masuk sekolah berkualitas untuk tingkat SMP dan SMA, apa sih sekolah RSBI itu? Jawaban spontannya, "Oh, itu kan yang kelasnya ber-AC!" Maka sekolah rintisan bertaraf internasional pun diplesetkan menjadi bertarif internasional. Beberapa praktisi pendidikan pun mengakui, hingga saat ini RSBI masih berlatar prestise dan bertumpu pada sarana dan prasarana pendidikan yang berstandar global (istilahnya memilih standar internasional by class bukan by subject ). Akibatnya biaya sekolah RSBI itu memang dirasakan mahal. Disamping masalah biaya, pada tataran filosofis, RSBI pun diragukan kejelasan tujuannya dan bahkan menjadi cerminan rendahnya self-confidence untuk membangun sistem pendidikan yang menjunjung tinggi budaya nasional [2].

Masih di dunia pendidikan, ujian masuk perguruan tinggi pun tidak lepas dari tuntutan bayaran yang tinggi. Ini terjadi pada ujian-ujian mandiri yang dilakukan kampus-kampus. Masih ada yang murah? Oya ada yang relatif murah. Masih ada ujian masuk "reguler". Hanya patut jadi catatan, kursi yang diperebutkan hanya sekitar 10-20% dari seluruh bangku yang tersedia.

Ada yang menggagas, kalau mau ada keadilan dalam proses seleksi, mestinya jadual ujian itu dibalik. Pertama ujian bagi para lulusan SMA dengan betul-betul mengandalkan kemampuan akademis. Kalau proses ini selesai, barulah dibuka ujian-ujian yang mensyaratkan bayaran lebih tinggi bagi pesertanya. Ini nampaknya lebih appropriate untuk menjaga kewibawaan dunia pendidikan. Kalau para pebisnis sudah terbeli dengan uang, anggota dewan dan para penegak hukum juga demikian, maka janganlah dunia pendidikan pun tergadaikan dengan arus materialisme dan kapitalisme yang saat ini begitu dahsyat melanda.

***

Dalam gejolak perenungan ini, saya sampai pada sebuah surat pendek pada al-Quran. At-Takaatsur namanya. Alhakum at-takaatsur. Begitu bunyi ayat pertama. Pendek, tapi menyimpan pesan yang amat hebat. Ada perlombaan dalam berbanyak-banyakan, dalam bermegah-megahan yang telah melalaikan manusia dari sesuatu yang lebih hakiki.

Surat itu tidak menyebutkan secara eksplisit, apa jenis berbanyak-banyakan yang melalaikan itu. Akan tetapi ayat-ayat lain menjelaskan tentang hal ini lebih jauh. Ada gambaran, "Laki-laki yang perniagaan dan bisnis mereka tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah" (QS an-Nuur:37). Berarti perniagaan dan bisnis itu bisa termasuk objek dalam bermegah-megahan. Sebab pada sebagian orang harta dan bisnis ini bisa membuat lalai dari mengingatNya. Nabi Muhammad saw pernah mengungkapkan, "Andaikata anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia masih menginginkan dua lembah lagi. Dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat." (HR Bukhari).

Ada arahan Ilahi, "Biarkanlah  mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui"  (QS al-Hijr:3). Berarti angan-angan kosong dan bentuk-bentuk kesenangan yang berlebihan termasuk objek dalam bermegah-megahan. Dan inilah yang nampaknya saat ini terus dipromosikan ke dalam jiwa kebanyakan manusia, terutama lewat tontonan-tontonan dan bacaan-bacaan yang merebak ke ruang publik.

Ada bentuk peringatan, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kami dari mengingat Allah."  (QS al-Munafiqun:9). Berarti harta dan anak-anak, dan menurut sebagian ulama juga masalah pengikut, bisa menjadi objek dalam bermegah-megahan.

Semua perkara yang membuat manusia bermegah-megahan itu melalaikan dari sesuatu yang lebih hakiki, yaitu mengingat Allah swt. Mengingat Allah ini ada kristalisasi dari mengingat dan menghayati tujuan hakiki kehidupan. Untuk mengabdi kepadaNya dan menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia serta kepada lingkungan. At-takaatsur, bermegah-megahan, membuat manusia membangkang dan melabrak aturan Ilahi serta merasa tidak bersalah ketika membuat orang lain menderita. At-takaatsur juga membuat manusia merasa tak berdosa ketika merusak alam dan lingkungan.

Pesan pada surat at-takaatsur ini terasa begitu hidup dalam menjelaskan faktor paling mendasar pada fenomena kerakusan energi, korupsi, komersialisasi pendidikan dan permasalahan-permasalahan lain bangsa ini. Ada jiwa-jiwa yang dirasuki penyakit bermegah-megahan. Dan penyakit ini akan terus merasuki jiwa "hingga mereka mengunjungi kubur" ; Hingga maut menjemput.

Maka bagi yang ingin melakukan perbaikan. Melakukan pengobatan massal bagi penyakit at-takaatsur yang melanda bangsa ini, hendaknya meningkatkan kontemplasi tentang hari-hari Akhirat. "Jangan berbuat begitu, kelak mereka akan mengetahui (akibatnya). Kemudian jangan berbuat begitu, kelak mereka akan mengetahui."

Perenungan dan penghayatan terhadap pengetahuan yang Allah berikan sesungguhnya akan menyampaikan manusia pada 'ilmul yaqin, agar mengetahui adanya Neraka Jahim. Dan manusia pasti akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.

Dan manusia pasti kelak akan ditanyakan tentang nikmat-nikmat yang diberikan Allah selama hidupnya.

***

Bagi yang belum terkena ujian kesenangan dan keberlebihan dalam kehidupan dunia, surat at-Takaatsur menjadi pelajaran yang amat penting. Jangan sampai nanti terjebak dalam kondisi bermegah-megahan. Bagi yang sudah merasakan ada keterjebakan dalam diri dan keluarganya, masih ada kesempatan untuk melakukan koreksi. Sesungguhnya nikmat yang Allah berikan itu merupakan potensi besar bagi mereka untuk lebih banyak berbuat kebajikan kepada sesama. Dan meninggalkan kecurangan, keculasan, kezhaliman dalam segenap perbuatan, termasuk dalam berbisnis dan berbirokrasi, kemudian menggantinya dengan kejujuran, ketulusan dan kasih sayang kepada sesama, ada wujud nyata mengingat Allah dalam kehidupan ini. Ini adalah jalan kebahagiaan yang hakiki.

WalLaahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

[1] Silakan baca kolom Resonansi, Republika, tanggal 1 Juli 2008, yang ditulis Ahmad Syafii Maarif berjudul "Bangsa yang Kehilangan Rujukan Budaya", untuk menelusuri akar berbagai masalah sosial negeri ini.

[2] Untuk memahami kelemahan metoda pendidikan RSBI, silakan membaca tulisan pada link berikut: http://satriadharma.wordpress.com/2007/09/19/sekolah-bertaraf-internasional-quo-vadiz/


Blog EntryAktivitas Dakwah yang Muslimah FriendlyMay 27, '08 12:30 AM
for everyone
Saya sempat berdialog cukup hangat dengan istri di rumah seputar aktivitas dakwah yang melibatkan muslimah. Sejauh yang saya perhatikan, para aktivis muslimah masih belum dalam posisi seimbang dalam pengaturan waktu sesuai fitrahnya sebagai perempuan. Ada beberapa kondisi yang semestinya diperhatikan betul para pimpinan dakwah (baik pimpinan laki-laki ataupun pimpinan perempuan) ketika melibatkan muslimah dalam aktivitas dakwah:

1. Waktu
Hendaknya dijadwalkan secara sungguh-sungguh agar muslimah pada kegiatan-kegiatannya tidak melewati batas waktu Magrib, apalagi hingga larut malam.

Apabila diperkirakan kegiatan akan melewati batas waktu tersebut ada dua pilihan alternatif, tidak memaksakan melibatkan muslimah atau menjadwal ulang acara, sehingga muslimah bisa meninggalkan tempat acara lebih awal.

2. Agenda
Terkait erat dengan masalah waktu, hendaknya pada rapat-rapat atau pertemuan yang sifatnya massal, pengagendaan acara memperhatikan kebutuhan muslimah untuk berada di rumahnya sebelum malam. Dengan manajemen pertemuan yang matang hal ini tidak sulit untuk dilakukan.

Penyusunan agenda yang memperhatikan kondisi perempuan ini mesti jadi "produk" khas aktivitas dakwah Islam, termasuk pada ranah politik. Hal ini menjadi tuntutan penting dan urgen, sebab kebanyakan agenda-agenda pertemuan pada kantor-kantor pemerintahan (termasuk juga pada dewan perwakilan) masih menyamaratakan jadual bagi laki-laki dan perempuan.  Pada kondisi yang ada ini, dianggap wajar ketika perempuan masih aktif dalam rapat bersama peserta laki-laki hingga larut malam. Jika institusi dakwah tidak pernah memperkenalkan agenda pertemuan yang berbeda dengan kondisi umum, maka masyarakat umum pun akan menerima kondisi ini sebagai sebuah kebenaran.

3. Jarak

Terkait masalah jarak dari rumah, hendaknya diusahakan agar kegiatan muslimah tidak terlalu jauh. Jika harus bepergian jauh, maka yang paling ideal adalah dengan penyertaan mahram-nya.

Syarat di atas mengandung implikasi manajemen dakwah, yaitu agar pengkaderan dan penyebaran aktivis perempuan diusahakan sesuai dengan kebutuhan dakwah lapangan. Bisa jadi sebelum kondisi ini terpenuhi, ada muslimah yang mesti memikul amanah dakwah yang relatif jauh dari rumahnya. Kondisi ini hendaknya menjadi kondisi darurat dan sementara. Mesti ada langkah-langkah sigap dari pimpinan dakwah untuk mengubah keadaan seperti ini.

Syarat di atas juga menuntut manajemen dakwah yang terdesentralisasi untuk memenuhi kebutuhan aktivis muslimah. Konsolidasi pada ruang lingkup provinsi atau nasional yang sifatnya sosialisasi dan tidak menuntut partisipasi aktif muslimah, hendaknya seminimal mungkin mengharuskan kehadiran perempuan. Sosialisasi bisa dilakukan secara berantai untuk sampai kepada mereka.

4. Hijab
Masalah hijab termasuk masalah utama dalam pengaturan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Intinya adalah agar terjaga kebersihan hati dan kesucian jiwa ketika terjadi interaksi antara laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya manajemen kegiatan dakwah mesti mengusahakan adanya kondisi yang nyaman bagi muslimah ketika mereka mengekspresikan ide-ide mereka dalam rapat-rapat atau pertemuan massal.

Termasuk dalam masalah hijab ini adalah penghormatan peserta pertemuan laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya. Dalam landasan qurani ini direpresentasikan dengan sikap "menundukkan pandangan" (ghadhul bashar). Selain itu bagi muslimah terdapat juga panduan untuk menyampaikan ide dengan lugas, jauh dari kesan manja dan menggoda.

5. Fokus Aktivitas
Hendaknya manajemen dakwah melakukan kajian secara sungguh-sungguh, apa saja bidang-bidang pekerjaan yang membutuhkan perhatian optimal aktivis muslimah. Apalagi aktivitas dakwah pada ranah politik mau tidak mau terikat dengan konvensi pelibatan 30% perempuan*).

Secara spontan dapatlah disebutkan beberapa aktivitas yang membutuhkan kontribusi optimal muslimah, misalnya: kesehatan, pendidikan, permasalahan pangan (nutrisi) dan sandang, beberapa masalah perekonomian, farmasi, dll.

Dalam pandangan saya, masalah kesetaraan gender itu tidak berarti penyamaan laki-laki dan perempuan. Sikap responsif gender berarti menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi dan tugas yang paling tepat dan optimal dalam kehidupan ini.

Dan ketika memposisikan perempuan dalam kegiatan-kegiatan publik, mestilah diperhatikan benar keseimbangan bagi mereka untuk dapat menjalankan amanah mulia sebagai ibu dan istri di rumah masing-masing. Juga mesti diperhatikan secara sungguh-sungguh kondisi-kondisi fitrah yang melekat pada mereka, seperti masalah siklus menstruasi, kondisi hamil, menyusui serta masa-masa nifas setelah persalinan.

***

Demikian beberapa lintasan pemikiran tentang kondisi yang ramah bagi muslimah (muslimah friendly) dalam aktivitas dakwah. Gagasan ini masih membutuhkan elaborasi lebih jauh lagi. Yang pasti aktivis muslimah mesti menghadirkan trend baru keterlibatan perempuan dalam ranah publik dengan tetap menjaga identitas dan martabatnya sebagai perempuan.

Pesan dan harapan penting tulisan ini adalah agar para pimpinan dakwah memperhatikan betul permasalahan ini. Tidak tanggapnya manajemen dakwah pada hal ini adalah kelengahan dalam memandu marhalah atau tangga pembentukan keluarga islami dalam dakwah. Padahal marhalah ini adalah kesatuan integral dalam mendukung marhalah pembentukan masyarakat islami dan juga marhalah memperbaiki penyelenggaraan negara, diantaranya melalui aktivitas dakwah politik.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi percikan ide yang bisa memandu keterlibatan muslimah dalam aktivitas dakwah.

Bogor, 27 Mei 2008,
Adi Junjunan Mustafa.

*) Dalam masalah keterlibatan perempuan pada partai politik, yang sekarang semakin didorong dengan kuota 30%, saya sebetulnya punya telaah tersendiri. Saya masih akan menuliskan topik ini. Diantara sugesti awal yang bisa saya sampaikan adalah perlunya partai-partai berbasis ajaran Islam mengantisipasi kuota ini secara kritis. Hal ini perlu dilakukan mengingat program-program yang ada di dewan perwakilan negara kita mulai level pusat hingga kabupaten/kota masih belum memperhatikan kekhasan muslimah. Diantara buktinya adalah program-program pertemuan/rapat dan kunker yang secara sama rata mesti dikerjakan anggota legislatif perempuan.

Blog EntryMembangun Semangat Pembelajar (2)May 14, '08 11:21 PM
for everyone

Kelengkapan Pengetahuan Muslim*

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya tentang membangun semangat pembelajar [1]. Diantara pemacu semangat dalam proses pembelajaran adalah pemahaman tentang peta pengetahuan atau kelengkapan pengetahuan. Inilah yang akan menjadi pengarah bagi pribadi muslim untuk terus melengkapi akalnya dengan pengetahuan yang mampu memandu jalan hidupnya. Pembicaraan tentang kelengkapan pengetahuan ini terkait erat dengan pengetahuan tentang klasifikasi pengetahuan [2]. Beberapa ilmuwan muslim lain menggagas masalah kelengkapan ilmu bagi seorang muslim secara praktis dan dalam kerangka dakwah. Ustadz Sa’id Hawwa misalnya menulis buku Jundullah Tsaqafaatan wa Akhlaaqan [3]. Demikian juga Ustadz Yusuf al-Qardhawi pernah menulis buku tentang kelengkapan tsaqafah bagi para pendakwah Islam.

Saya sendiri tertarik dengan pengklasifikasian pengetahuan (ats-tsaqafah) menjadi tiga kelompok, sebagai berikut [4]:

  1. Ats-Tsaqafah adz-Dzatiyyah (pengetahuan inti/utama)
  2. Ats-Tsaqafah al-Ijtima’iyyah (pengetahuan sosial)
  3. Ats-Tsafaqah at-Takhashushiyah (pengetahuan khusus).

Ats-tsaqafah adz-dzatiyyah adalah pengetahuan yang menjadi bekal paling penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan. Ini pengetahuan tentang hakikat-hakikat terbesar dalam hidup, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, “siapakah saya?”, “dari mana saya berasal?”, “untuk apa saya hadir di alam wujud ini?” atau “apa misi dan tugas saya dalam hidup ini?”, “bagaimana saya memahami keseluruhan wujud yang ada di alam raya ini?” dan “apa yang akan saya alami setelah saya meninggalkan kehidupan ini?”. Ini yang disebut para ulama dengan haqaaiqul kubra, atau hakikat-hakikat terbesar dalam kehidupan. Ketika manusia gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan hampalah kehidupannya. Sebaliknya bila permasalahan ini telah tergambar dalam benaknya, telah difahami dengan baik, dan telah mewarnai sikapnya, maka akan sukseslah manusia dalam hidupnya.

Bolehlah diringkas, bahwa pengetahuan inti ini akan menjawab pertanyaan “who am I?” secara tuntas. Dan sebuah ungkapan hikmah menyatakan “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu”, barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Rabb-nya. Jadi pengenalan jati diri ini akan menghantarkan pada pengenalan hakikat ketuhanan atau tauhid (pengesaan Allah), yang merupakan inti dari ajaran agama Islam. Di atas hakikat inilah terbangun seluruh sistem dan ajaran keagamaan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab tuntas dalam Quran dan pada Hadits-hadits Rasulullah saw. Karenanya bagi seorang muslim, merupakan kewajiban untuk memahami isi Quran dengan sebaik-baiknya dan juga merupakan keutamaan yang besar untuk memahami hadits-hadits Rasulullah saw. Isi Quran yang memuat jawaban-jawaban hakikat terbesar itu terutama ada pada ayat-ayat Makiyyah. Maka dapat difahami bahwa selama hampir 13 tahun Rasulullah saw menyampaikan risalahnya di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah, wahyu yang beliau terima dan beliau ajarkan kepada umat Islam sebagian besar menyangkut masalah aqidah atau keyakinan yang menjawab permasalahan terbesar kehidupan manusia.

Ats-tsaqafah al-ijmima’iyyah adalah pengetahuan yang menyangkut manusia sebagai makhluk sosial. Quran dan Sunnah juga menyampaikan panduan bagi muslim untuk dapat menyelenggarakan kehidupan masyarakat secara harmonis. Diajarkan kepada umat manusia untuk saling mengenal dan menjadi manusia-manusia paling berbakti kepada Allah, Tuhan sekalian manusia. Diajarkan kepada orang beriman untuk hidup saling menyayangi, saling menolong dan saling memikul beban dalam menegakkan kebenaran.

Dalam peristilahan kontemporer, pengetahuan yang mencakup ats-tsaqafah ini adalah sosiologi, ekonomi, politik, dan sejarah serta keilmuan humaniora lainnya. Termasuk dalam pengetahuan ini juga psikologi, komunikasi, kepemimpinan, organisasi dll yang akan menjadi bekal penting agar terampil menjalani kehidupan bermasyarakat.

Pengetahuan sosial ini menjadi hajat kebutuhan muslim untuk melakukan positioning yang tepat dalam kehidupan. Dengan demikian ia akan dapat bersikap secara tepat dalam hidup ini. Pada setiap permasalahan sosial, ia mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang memiliki perhatian, sikap dan kesiapan untuk memecahkan masalah tersebut dengan tepat.

Jadi pengetahuan sosial ini akan menjawab pertanyaan “where am I?”. Dan sebagaimana pentingnya alat navigasi dalam sistem transportasi, pengetahuan sosial ini akan menjadi alat navigasi kehidupan muslim dalam melangkah.

Adapun ats-tsaqafah at-takhashashiyyah adalah pengetahuan spesialisasi yang ditempuh seseorang. Ia bisa menjadi ahli, tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli kejiwaan, hingga menjadi arsitektur ahli, akuntan ahli, insinyur ahli, dan lain sebagainya. Masing-masing orang bisa memilih, spesialisasi apa yang ia ingin miliki.

Pengetahuan spesialisasi ini akan menjadi bekal penting bagi seorang muslim untuk memberikan kontribusi terbesar bagi umat manusia. Jadi pengetahuan ini akan menjawab pertanyaan “what can I do for others?”.  Dengan kata lain, melalui pengetahuan ini seorang muslim berpotensi besar mengikuti ajaran hikmah yang diungkapkan Nabi Muhammad saw "khayrunnaasi anfa'uhum linnaas", sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak kontribusi kebaikannya kepada sesama manusia.

***

Yang jadi permasalahan orang muslim saat ini adalah ketika menghadapi sistem pendidikan yang memisahkan ketiga kategori pengetahuan di atas. Adapun generasi muslim yang pernah membangun peradaban tinggi di dunia ini, menjalani proses pendidikan yang utuh. Apakah dia seorang yang menjadi ahli fiqih atau ahli sosiologi, mereka sama-sama hafal Quran di masa kanak-kanaknya [5]. Mereka pun sama-sama menyerap ilmu hadits secara optimal di masa kanak-kanak dan remajanya.

Oleh karenanya, menjadi tugas bagi kita semua untuk terus melengkapi diri dengan pengetahuan-pengetahuan di atas secara seimbang. Wa bil khusus, bagi kita yang sudah menjadi orang tua, menjadi kewajiban untuk merencanakan secara matang pendidikan anak-anak kita agar mereka memperoleh pengetahuan-pengetahuan di atas secara tepat sejak masa kanak-kanaknya.

Hanya kepada Allah sajalah kita memohon bimbingan dan pertolongan.

WalLaahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, 16 Mei 2008,
Adi Junjunan Mustafa

Catatan:
* Pointers taushiyah pada acara penyerahan beasiswa prestatif kepada beberapa siswa dan juga mahasiswa alumni SMA 2 Kuningan, Jawa barat, di MQ-Cafe, Jln. Citarum, Bandung, Sabtu, 10 Mei 2008. Juga pada acara Ta’lim Bulanan Biotek, LIPI-Cibinong, Kamis, 15 Mei 2008.

[1]
http://adijm.multiply.com/journal/item/299/Membangun_Semangat_Pembelajar

[2] Ada banyak tulisan tentang klasifikasi pengetahuan dalam Islam. Yang sederhana misalnya ulama seperti Imam al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu pada dua kelompok: ilmu yang fardhu 'ain dan ilmu yang fardhu kifayah. Tentu saja ada pengklasifikasian yang lebih rinci. Sebagai bahan rujukan awal silakan membuka link di bawah ini, diambil dari resensi buku tulisan Dr. Osman Bakar: http://www.fonsvitae.com/islamic-science-bakar.html

[3] Dalam buku Jundullah Tsaqaafatan wa Akhlaaqan (Keadaan Pengetahuan dan Akhlak Prajurit Allah), Sa’id menyebutkan bahwa tsaqafah seorang muslim harus mencakup materi-materi itu bisa diringkas menjadi sepuluh: ilmu Al-Qur`an, ilmu hadis, ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fiqih, ilmu akidah, ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu sejarah, ilmu tentang tiga pokok (Allah, Rasul, dan Islam), dan ilmu fiqih dakwah.

[4] Klasifikasi ini saya serap dari sebuah forum dialog dengan budayawan muslim Anis Matta, pada kunjungannya ke Eropa pada pertengahan tahun 90-an. Seingat saya, Anis menisbahkan klasifikasi ini dari seorang ilmuan terkemuka Mesir, Mahmud Abbas al-‘Aqad. Saya belum sempat menggali langsung klasifikasi pengetahuan ini dari sumbernya, walaupun sudah mencoba browsing di internet.

[5] Salah satu contoh ilmuwan muslim yang dikenal sebagai ahli filsafat, juga ahli kedokteran di dunia Barat adalah Ibnu Rusyd atau Averroes (1126-1198M). Beliau juga adalah penulis kitab berjudul Bidayat al-Mujtahid, yang masih digunakan sebagai buku referensi mahasiswa yang hendak mempelajari fiqih syariah Islam.


Blog EntryMembangun Semangat PembelajarMay 14, '08 2:22 AM
for everyone
Membangun Semangat Pembelajar*

Allah swt menyatakan bahwa Dia akan mengangkat
beberapa derajat kedudukan sebagian orang-orang beriman dan orang-orang yang menggali ilmu (QS. Al Mujadilah:11). Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di balik kewajiban ini ada jaminan pahala dan kedudukan mulia bagi mereka yang menjalankannya. Bagaimana tidak, dengan ilmulah umat manusia akan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya [1]. Maka amat mulialah mereka yang terus-menerus gigih menggali ilmu untuk kemashalahatan umat manusia.

Diantara profil pembelajar yang luar biasa adalah Imam Syafi'i [2]. Beliau adalah salah satu dari empat imam dalam mahdzab fiqih Islam, yang pemikirannya hingga saat ini menjadi ilmu yang terus bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya.

Imam Syafi'i terlahir dalam keadaan yatim pada tahun 150H. Kehidupan beliau di masa kecil relatif sulit. Akan tetapi beliau sudah hafal Qur'an pada usia 9 tahun. Imam Syafi'i pun tetap gigih belajar ilmu tafsir dan ilmu hadits kepada para imam/ulama di Makkah, seperti Imam Sufyan bin Unayyah dan Imam Muslim bin Khalid al-Zinji [3]. Untuk mencatat ilmu yang dipelajarinya, beliau sering memungut kertas-kertas bekas di kantor pemerintahan kala itu. Pada akhirnya catatan-catatan ini pun tidak lagi beliau perlukan, sebab dengan kebulatan tekadnya beliau berhasil menghafal semua ilmu yang beliau pelajari.

Pada usia 15 tahun Imam Syafi'i sudah memiliki ilmu yang amat mendalam, hingga sudah memperoleh ijazah untuk memberikan fatwa bersama para imam di Masjidil Haram. Beliau ditawari menjadi mufti di Makkah, tetapi menolak. Bahkan beliau sampaikan kepada para gurunya untuk mengijinkan beliau belajar ke Madinah, untuk berguru kepada Imam Malik yang amat termashur. Para guru dan juga Walikota Makkah pun merestui keinginan Imam Syafi'i. Imam Syafi'i memang memiliki obsesi untuk menjadi murid penulis kitab Al-Muwaththa yang amat terkenal. Bahkan sebelum beliau berangkat ke Madinah, dengan meminjam kepada sahabatnya, beliau telah berhasil menghafalkan al-Muwaththa di luar kepala [4].

Demikianlah, ketika Imam Malik yang amat berwibawa itu menerima kunjungan pertama dari Imam Syafi'i, Imam Malik pun berkata, " ... datanglah lagi besok untuk aku bacakan al-Muwaththa." Imam Syafi'i pun menjawab, "Saya sudah menghafalnya di luar kepala." Imam Malik pun meminta Imam Syafi'i membuktikan hafalannya. Itu lah kisah pertemuan dua imam terkemuka di kalangan umat Islam.

Imam Syafi'i pun mereguk ilmu dari Imam Malik selama beberapa tahun. Beliau amat dicintai gurunya. Beliau pun mendapatkan kedudukan khusus, karena ketekunan dan kecerdasannya, hingga seringkali menggantikan Imam Malik dalam mengajarkan al-Muwaththa kepada para ulama yang datang ke Madinah seiring perjalanan haji mereka. Dari sini lah nama Imam Syafi'i semakin dikenal oleh para ilmuwan dari berbagai negeri, termasuk Mesir.

Setelah belajar dari Imam Malik, Imam Syafi'i pun meminta ijin kepada gurunya untuk meneruskan belajar ke Kuffah (Baghdad saat ini), karena di sana pernah hidup seorang imam terkemuka, Imam Hanafi. Di Kuffah, Imam Syafi'i selama beberapa waktu saling belajar dengan dua orang murid dan sahabat Imam Hanafi, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.

Demikianlah seterusnya Imam Syafi'i tak pernah berhenti belajar dan mengamalkan ilmunya. Tercatat bahwa beliau mengembara lagi ke Yaman, lalu kembali ke Kuffah, ke Mekkah dan ke Madinah dan lagi ke Kuffah, pusat kekhalifahan Islam saat itu, hingga akhirnya beliau pergi ke Mesir hingga wafatnya pada tahun 204H. Pada setiap halte pengembaraannya, beliau terus produktif belajar dan menghasilkan pemikiran-pemikiran keilmuan cemerlang yang menerangi umat untuk dapat memutuskan berbagai masalah kehidupan berlandaskan syariah Islam.

Demikianlah sekilas kehidupan Imam Syafi'i, sang pembelajar. Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah kehidupan beliau.

Untuk terus membangun jiwa pembelajar, kita perlu mengetahui peta pengetahuan yang mesti memenuhi akal kita. Insya Allah permasalahan ini akan disampaikan pada tulisan mendatang [5].

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

Catatan:
* Pointers taushiyah pada acara
penyerahan beasiswa prestatif kepada beberapa siswa SMA 2 dan juga mahasiswa alumni SMA 2 di MQ-Cafe, Jln. Citarum, Bandung, Sabtu, 10 Mei 2008. Beasiswa diberikan oleh Dr. Edi Siswadi, salah seorang alumni SMAN 2 Kuningan. Hadir pada acara ini pengurus Ikatan Alumni SMAN 2 Kuningan (Ikasmanda), termasuk ketuanya Fajar dan Ade Kadarisman, dosen FIKOM-Unpad, yang amat gigih membesarkan Ikasmanda. Kepala SMAN 2 Kuningan, Pak Bambang Sri Sadono, juga berkesempatan hadir di tengah acara workshop beliau di Lembang.

[1] Semakin hari saya semakin menyadari bahwa untuk mengelola berbagai masalah kehidupan, mulai dari masalah pribadi, masalah keluarga, hingga masalah negara kita amat berhajat dengan ilmu pengetahuan. Diperlukan aturan-aturan dan kebijakan yang tepat dan jitu untuk mengatur negara dan pemerintahan. Ini semua memerlukan SDM yang memiliki bidang keahlian pada masing-masing persoalan. Mereka semua pun mesti dikoordinir oleh orang-orang yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang handal.

[2] Dalam perjalanan mengantar Hasan dan sekaligus menengok Fafa di Husnul Khotimah, Kuningan, saya membawa bekal buku berjudul "Biografi Empat Serangkai Imam Mahdzab" karya K.H. Moenawir Cholil. Isi buku yang amat inspiratif ini jadi teman saya di perjalanan. Sebagian isinya saya sampaikan pada acara di atas. Silakan juga dibuka link berikut:
http://islam.blogsome.com/2006/01/26/riwayat-hidup-imam-syafii/
http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Syafi'i

[3] Saya membayangkan kedudukan para imam saat itu ibarat para professor di masa kini. Adapun keilmuan yang saat itu tengah dibangun pesat pada peradaban muslim meliputi ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih. Di samping itu terdapat juga perkembangan ilmu sastra, dengan pelajaran bahasa yang direpresentasikan dengan kemahiran bersya'ir. Pada saat itu institusionalisasi ilmu mengacu pada para imam sesuai bidang keahliannya. Pusat belajar mereka di masjid. Bandingkan dengan penyebutan laboratorium modern saat ini yang juga sering dinisbahkan pada nama professor, seperti di Jepang, dengan tempat-tempat studi di universitas.

[4] Terbayang betapa hebatnya budaya keilmuan saat itu. Imam Syafi'i telah menghafal al-Muwaththa sebelum beliau langsung belajar dari penulisnya. Ini ibarat kita akan belajar keilmuan tertentu dari seorang professor, padahal ilmunya itu sudah kita fahami secara utuh sebelum berjumpa professor yang dituju. Tentu waktu-waktu belajar akan diisi dengan pendalaman dan pengembangan keilmuan yang dipelajari. Bisa jadi Imam Malik pun banyak mendapatkan masukan berarti selama proses belajar Imam Syafi'i ini.

[5] Pada kesempatan acara di atas, saya memang sempat sampaikan masalah piramida ilmu untuk melengkapi akal muslim.

Blog EntryKecurangan UAN, Keresahan Siswa dan Orang TuaMay 12, '08 3:05 AM
for everyone
Saya menengok Fafa yang baru mengikuti UAN untuk SMP tanggal 4-7 Mei lalu. Dia bilang lumayan bisa mengerjakan soal-soal ujian. Dia optimis untuk Matematika dan Bahasa Inggris. Yang agak sulit adalah Bahasa Indonesia dan IPA. Begitu laporan singkatnya.

Di tengah obrolan itu Fafa bercerita bahwa soal-soal latihan dari DKI-Jakarta amat dekat dengan soal-soal yang keluar di UAN. Dia merasa beruntung bisa berlatih dengan soal-soal yang dibawa salah seorang temannya. Sampai di sini saya merasa senang mendengarkan ceritanya, sebab usaha-usaha yang dilakukan masih dalam koridor bekerja dan belajar. Saya dan istri amat mengikuti hari-hari persiapan Fafa menjelang UAN. Kami sangat tahu betapa intensif bimbingan ujian diberikan di sekolahnya.

Fafa punya cerita yang sedikit mengganjal. Dia mensinyalir ada juga teman-temannya yang dapat bocoran jawaban soal ujian. Tanda-tandanya, beberapa temannya (terutama yang pria), begitu cepat keluar dari ruang ujian. Ujian dimulai jam 8 pagi. Jam 8:30 atau jam 9-an teman-temannya sudah pada keluar. Mendengar bagian ceritanya yang ini, saya pun merasa tidak nyaman. Timbul rasa kesal dalam diri saya.

Saya mencoba menenangkan diri dan terutama menenangkan Fafa. Kepada Fafa, dan Hasan adiknya yang ikut mendengar, saya sampaikan, "Fafa, jangan merasa iri dengan teman-teman yang berbuat curang seperti itu. Kita punya keimanan kepada Allah. Bisa jadi mereka yang curang merasa senang dan sukses. Bisa jadi mereka tak pernah mendapatkan hukuman. Tapi kita yakin, Allah akan mengadili mereka. Bukankah kita tidak selamanya hidup di dunia ini? Bukankah kita akan mengalami kehidupan kekal abadi di akhirat kelak ...?"

Saya kemudian memberikan apresiasi kepada Fafa atas kerja kerasnya dalam belajar menjelang UAN dan dalam mengerjakan ujian yang baru lalu itu.

***

Obrolan tentang kecurangan UAN memang menyesakkan dada. Siswa yang jujur pasti kesal melihat teman-temannya bisa lulus UAN dengan mudah dengan cara tidak jujur. Orang tua pun demikian. Yang berbahaya adalah bila akhirnya mereka yang jujur menyerah kalah dengan arus kecurangan. Mereka berpikir, kalau jujur terus pasti tidak bisa lulus.

Dalam skala yang lebih besar, kecurangan yang terjadi pada UAN akan melahirkan ketidakpercayaan pada sistem pendidikan. Ini terjadi pada fase akhir pendidikan yang diintrodusir pemerintah, yaitu UAN. Kalau masyarakat tidak lagi mempercayai institusi pendidikan, maka hancurlah salah satu pilar penting sebuah bangsa. Bukankah pendidikan adalah sebuah proses penting dalam membina generasi muda pelanjut pelaku peradaban sebuah bangsa?

Di sisi lain, kecurangan UAN yang dibiarkan secara tidak langsung meluluskan manusia-manusia picik. Manusia-manusia yang terus akan melanjutkan kehidupan dalam kebohongan dan dusta. Mereka yang tidak berani melalui kegagalan, kalau memang mereka mesti mengalaminya. Dan manusia-manusia jenis ini bukan saja para siswa, tapi juga segenap aparat pemerintah (khususnya yang berada di dunia pendidikan). Mereka yang karena takut dianggap "gagal", dengan culas melakukan berbagai manipulasi untuk meluluskan anak didik mereka sendiri dengan cara tidak jujur.

Bagaimana kira-kira perasaan kita ketika mendengar bahwa di antara para guru antar sekolah melakukan kecurangan "mengkatrol" nilai anak-anak didik mereka? Apakah yang mereka lakukan adalah ungkapan sayang kepada murid, ataukah mereka secara sadar telah menjerumuskan murid mereka ke dalam jurang kehancuran? Bagaimana pula perasaan kita ketika mendengar bahwa para guru melakukan itu akibat tekanan kepala dinas pendidikan, yang takut konditenya turun kalau di kabupatennya banyak siswa yang tidak lulus UAN? Kalau bagi mereka yang secara tersembunyi atau terang-terangan membuat kisi-kisi jawaban atau bahkan jawaban, lalu menjualnya, saya tidak tahu lagi, hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada mereka?

***

Kita tentu merasa bersyukur dengan adanya tindakan-tindakan hukum yang tegas terhadap para pelaku kecurangan UAN. Tapi kita masih terus berharap aparat pemerintah di dunia pendidikan, para guru, para orang tua dan tentu saja para siswa untuk tetap berpegang pada nilai-nilai profesional dan kejujuran.

Para guru dan aparat pendidikan, mestinya bisa melakukan investigasi pada hasil UAN. Ketika beberapa siswa bisa memperoleh nilai spektakuler, bisa saja capaian ini dibandingkan dengan prestasi rata-rata yang mereka peroleh dalam ulangan-ulangan harian. Begitu juga penilaian secara kolektif pada sekolah atau kawasan tertentu, bisa dilakukan dengan referensi penilaian prestasi yang ada selama ini. Ini beberapa contoh saja, bagaimana hasil UAN bisa divalidasi dengan penilaian prestasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Saya sempat ngobrol dengan seorang saudara yang bekerja di bisnis informasi dan telepon selular. Apakah mungkin para pengusaha telepon selular melakukan filter bila ada kiriman SMS yang punya pattern aneh? Bukankah aneh pesan yang isinya: abbcd ddcea acdbe ...? Saya yakin teknologi komunikasi bisa melacak pesan ber-pattern janggal itu. Maka Depdiknas dan Depkominfo bisa saja membuat kerjasama untuk mencegah penyebaran jawaban bocoran soal lewat SMS.

Berbagai cara bisa dipikirkan untuk mencegah kecurangan UAN. Akan tetapi saya sepakat dengan pendapat beberapa pakar dan orang tua; Cara paling ampuh adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah kepada semua pengelola pendidikan, kepada para orang tua dan juga kepada para siswa. Selanjutnya dibangun pendidikan yang betul-betul berkualitas, secara adil di seluruh negeri ini. Dan akhirnya dipikirkan sistem ujian yang baik. Ujian yang betul-betul telah memperhatikan keseluruhan proses pendidikan yang telah diberikan kepada para siswa.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

Blog EntryKerudung untuk BeraktingApr 29, '08 10:39 PM
for everyone
Filem Ayat-ayat Cinta (AAC) sudah membukukan suksesnya di pasaran. Tak kurang HNW (Hidayat Nur Wahid), SBY, JK dan para petinggi lain negeri ini ikut menyemarakan hadirnya filem cinta* bernuansa islami.

Saya sendiri termasuk yang menyambut senang hadirnya filem tersebut. Sambutan masyarakat Indonesia pada filem AAC menunjukkan bahwa pasar siap menyambut hangat gagasan-gagasan sineas dengan tawaran budaya islami. Ini bisa mengimbangi life-style kebarat-baratan yang lebih banyak diekspose lewat filem atau sinetron.

Di tengah sukses AAC ini, ada satu hal yang saya pikir mesti jadi pertimbangan penting buat para sineas dan budayawan muslim, yaitu agar para pemain filem atau sinetron bisa menampilkan kepribadian yang selaras pada saat main filem dan di luar filem. Terus terang buat saya AAC yang sukses itu menjadi semu dan bahkan palsu, saat kemudian melihat para pemeran Aisha, Maria dan yang lainnya tak berkerudung di keseharian.

Saya teringat tentang ucapan Rasulullah saw. saat ditanya para sahabat ketika beliau bercanda. Kata beliau, "... akan tetapi yang aku sampaikan adalah kebenaran." Artinya dalam canda pun seorang muslim disunnahkan untuk tidak berbohong. Nah, sunnah ini mesti menjadi rujukan bagi para artis muslim dan muslimah. Semestinya mereka menjaga keselarasan kepribadian yang baik yang mereka tampilkan saat berakting dan dalam keseharian.

Hal yang sama saya pikir berlaku juga pada para produsen kerudung. Saat mereka memilih selebritis untuk pada iklan, sebaiknya diperhatikan betul kepribadian para selebritis itu. Saya perhatikan pada beberapa iklan kerudung Majalah Ummi, masih ada selebritis yang di keseharian tidak berkerudung tampil sebagai model. Saya berbaik sangka, barangkali ini adalah jalan dari para produsen kerudung untuk perlahan mengajak para modelnya akhirnya berbusana muslimah.

Ada beberapa permasalahan yang bisa ditampilkan memenuhi tuntutan peran dalam filem atau sinetron. Akan tetapi untuk masalah kerudung atau masalah menutup aurat, saya melihat mesti ada perlakuan yang berbeda. Menutup aurat bagi muslimah dan muslim bukanlah permasalahan sederhana. Ini adalah kewajiban penting, sebab terkait dengan jati diri pribadi dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi J. Mustafa

* Saat berdiskusi dengan beberapa teman, ada yang bertanya di mana sih letak ayat-ayat cintanya? Tentu saja maksudnya adalah ayat-ayat Quran yang menjadi inspirasi cinta. Terus terang saya sendiri tidak menemukan kuatnya pesan ayat-ayat Quran ini dalam filem. Kalau membaca novelnya, buat saya ayat-ayat cinta itu justru terasa pada Maria saat membaca hafalan surat Maryam di trem. Atau bisa jadi, ayat-ayat itu tersirat pada semangat Fakhri belajar qira'ah sab'ah -sisi penting yang juga tak terasa dalam filem-. Lewat Syaikh yang mengajar qira'ah inilah Fakhri akhirnya bisa bertemu dengan Aisha.

Bebarapa kali saya terlibat obrolan intensif dengan seorang sahabat yang akhirnya menyinggung terminologi spontaneous-sociability (SS). Obrolan kami ini dipicu oleh pemilu dan kampanye yang sedang menghangatkan kondisi perpolitikan Indonesia. Secara khusus, kami tertarik pada fenomena PK-Sejahtera (PKS), yang baru lahir menjelang pemilu 1999 dari sebuah basis massa yang belum dikenal sebelumnya, tetapi semakin mendapat sambutan luas menjelang pemilu 2004 ini. Ketertarikan ini adalah bentuk harapan dan sekaligus juga sumbang saran kepada pegiat-pegiat politik baru untuk memperbaiki perpolitikan negeri yang masih terseok-seok mengusung agenda reformasi.

Sebagaimana disebutkan dalam platform mereka, PKS adalah partai kader. Mereka memiliki sistem kaderisasi yang cukup mapan dalam membangun soliditas pendukungnya. Tantangan yang mesti dilalui PKS justru bagaimana mereka mengusung perjuangan politik berjargon "bersih dan peduli" di tahun 2004 ini dalam konstalasi kehidupan berbangsa yang plural. Kyai Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, dalam satu wawancara di Majalah Saksi, memberi nasihat agar PKS pandai-pandai membawakan agama di dalam kerangka kebangsaan, kalau agama ini harus dituangkan dalam dunia politik. Barangkali Kyai Muzadi melihat kuatnya proses kaderisasi dalam tubuh PKS sedikit banyak membuat komunitas ini menampilkan ciri-ciri eksklusifitas. Disinilah saya dan sahabat saya menemukan SS menjadi sebuah wacana menarik yang barangkali bermanfaat untuk PKS dan juga secara umum untuk seluruh pemain politik yang saat ini tengah berkompetisi dalam pemilu.

Adalah Francis Fukuyama (1995) yang berbicara tentang korelasi antara kemakmuran ekonomi sebuah negara dengan besarnya modal sosial (social capital) yang ada di negara tersebut. Modal sosial ini dapat meningkatkan efisiensi, karena membuka berbagai kemungkinan aksi-aksi kerjasama. Fukuyama menyatakan, semakin besar modal sosial dimiliki sebuah negeri, semakin berkembang dan sejahteralah perekonomiannya.

Modal sosial pada sebuah masyarakat sendiri ditentukan oleh dua faktor utama: tingkat kepercayaan umum (generalized trust) yang tinggi dan tingkat SS diantara anggota masyarakat tersebut. Trust adalah harapan akan keteraturan, kejujuran, dan sikap bekerjasama yang muncul pada sebuah kelompok dalam satu masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang disebarkan dan difahami dengan baik oleh kelompok-kelompok lain dari masyarakat itu. Adapun SS berarti kemampuan untuk membangun sebuah persatuan baru dan bekerjasama berdasarkan aturan main yang sama-sama dibuat. Teori Fukuyama ini menjadi wacana mendunia, karena ia mengklasifikasi beberapa negara sebagai low-trust societies dan sebagian lain sebagai high-trust societies. Katagori pertama gagal membangun korporasi perusahaan besar dan yang kedua berhasil melakukannya.

Meminjam teori Fukuyama ini, dalam bahasa yang lebih sederhana SS berarti kemampuan satu komunitas untuk secara spontan menerima pihak lain dalam rangka membangun kerjasama. Sikap ini dibangun atas dasar saling mempercayai dan komitmen pada kesepakatan bersama. Kesepakatan inilah "ruang bermain" yang membuat semua pihak tentram bermain di dalamnya. Diantara keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun SS di tengah masyarakat adalah tidak bersikap apriori menolak pihak lain dan malah ditunjukkan dengan adanya kesiapan menerima kebenaran dari pihak lain itu.

Dalam wacana politik di tanah air, adalah sangat mungkin bagi satu komunitas muslim untuk membangun komitmen bersama dengan komunitas muslim yang lain, sebab ajaran pokok Islam akan merekat mereka. Asas ukhuwah (persaudaraan) dikenal dan diterima luas oleh umat Islam sebagai salah satu pilar kekuatan umat.

Bahkan ajaran Islam yang universal membuka peluang menerima kebenaran dari hikmah yang dihadirkan oleh siapapun. "Kalimat yang bijak (hikmah) itu milik orang beriman yang hilang. Dimana saja ia menemukannya, maka ia paling berhak atasnya" (HR. Tirmidzi). Karenanya irisan-irisan nilai kemanusiaan menjadi landasan lain dalam membangun komitmen bersama politik umat Islam dengan ideologi lain, selama bertujuan menegakkan kebenaran dan keadilan. Penyampaian aturan main dan komitmen terhadapnya ini yang akan menjadi kunci bangunan SS di tengah masyarakat. Sejarah Islam mencatat penulisan Piagam Madinah dimana di dalamnya termaktub aturan sosial-politik yang adil bagi seluruh masyarakat kota Madinah yang majemuk secara kultural dan agama.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana politik umat Islam Indonesia bermain elegan di wilayah publik atau sebagaimana Kyai Muzadi mengistilahkan bermain dalam kerangka kebangsaan. Dalam wilayah publik ada dua nilai yang mesti diperhatikan, yaitu asas manfaat dan objektifikasi nilai. Orang Sunda bisa menyebut dua faktor ini dalam paduan kata karaos-kahartos, terasa dan dimengerti. Publik akan memahami komitmen-komitmen yang disampaikan jika mereka merasakan kemanfaatannya. Kemudian komitmen-komitmen ini disampaikan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dilandasi agumentasi yang objektif.

PKS dan seluruh komponen sosial-politik negeri mesti berlomba membangun SS ini. Dalam pandangan saya, kelompok yang paling terampil membangun SS, dan berkontribusi membangun trust serta modal sosial inilah, yang akan menjadi pilihan sejati masyarakat Indonesia untuk memimpin membangun negeri. Dalam perjuangan ini umat Islam bisa menemukan konteks sosial-politis ungkapan Nabi saw, "Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak mulia." Akhlak mulia adalah sumber bahasa universal yang karaos-kahartos. Akhlak mulia ini pula yang menjadi modal dasar SS.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa

Sebuah tulisan lama:
Kamis, 25 Maret 2004
- Sorotan KAMMI-Jepang
(http://www.kammi-jepang.net/sorotan.php?id=53)


Blog Entry[Telaah PKS] Tentang Objektifikasi Nilai IslamApr 24, '08 12:43 AM
for everyone
Pada kolom Resonansi Republika hari ini, Kamis, 24 April 2009, Prof. Azyumardi Azra mengangkat tulisan berjudul "PKS". Beliau menyatakan pengalamannya membedah buku Memperjuangkan Masyarakat Madani: Falsafah Dasar dan Platform Kebijakan Pembangunan PK Sejahtera (2008) menjadi sebuah pengalaman  bernilai baginya. Pada Resonansi-nya, Prof. Azra menyampaikan ulang garis besar isi buku tersebut. Beliau juga mengutip utuh beberapa bagian penting dari buku tersebut, seperti Tujuan Pendirian PKS, definisi Masyarakat Madani menurut PKS, bagaimana PKS memandang 'negara Islam', dan tentang Objektifikasi Nilai-nilai Islam. Beliau percaya, tidak banyak parpol memiliki platform yang selengkap dan serinci PKS; meskipun dalam segi-segi tertentu tidak banyak membahas tentang 'bagaimana' cara dan langkah sistematis mewujudkan platform tersebut.

***

Sebetulnya pada bagian awal buku Platform PKS sudah disampaikan bahwa pengalaman PKS ikut serta secara aktif dalam kerja-kerja publik sektor belumlah lama. Kerja pada medan legislatif lebih dahulu dibandingkan dengan medan eksekutif, walaupun sebagian pemikirnya aktif di dunia riset, pendidikan dan juga birokrasi. Justru pengalaman mendapatkan amanah kepemimpinan pada eksekutif diharapkan menjadi tempat bereksperimen untuk melakukan objektifikasi nilai-nilai Islam pada praktek-praktek riil.

Buku platform yang diluncurkan Ahad lalu itu pun bukan merupakan produk akhir dalam domain pemikiran dan transformasi nilai-nilai Islam dalam mengelola negara. Akan ada revisi-revisi dan juga pendetilan-pendetilan pemikiran seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang diperoleh. Materi Platform ini sendiri, meskipun disebutkan ditulis selama kurang lebih 3 tahun ke belakang, sebetulnya merupakan kristalisasi pemikiran yang telah didiskusikan sekitar 10 tahun ke belakang.

Saya ingat wacana tentang masyarakat madani yang naik daun sebelum dan seiring gerakan reformasi di negeri ini, disambut oleh kader-kader dakwah cikal bakal kader PKS dengan diskusi-diskusi intensif. Tak kurang DR. Hidayat Nur Wahid mengangkat tema 'Masyarakat Madani' pada Khutbah Idul Fitri tahun 1998.

Gagasan industrialisasi pada platform ekonomi untuk membangun industri berbasis pertanian pernah diangkat
DR. Sritua Arief (Allahu yarham) pada buku 'Pembangunanisme'. Tulisan beliau ini hadir lebih dari 10 tahun yang lalu. Sritua Arief menyimpulkan bahwa negara-negara maju tidaklah meloncat dalam melakukan kebijakan industrinya. Bahkan yang terjadi adalah 'agricultural-led industrialization'. Maka ide ini kembali diangkat PKS dalam platform-nya.

Begitu juga gagasan tentang kluster-kluster industri, menurut DR. Sohibul Iman ide tentang kluster ini pernah diangkat Departemen Perindustrian  dan Perdagangan ketika dipimpin Pak Luhut Panjaitan. PKS memandang gagasan ini gagasan yang baik, akan tetapi tidak pernah direalisasikan secara optimal.

Ketika membaca masalah objektifikasi nilai-nilai Islam, saya pun teringat buku tulisan DR. Kuntowijoyo yang sempat dikaji beberapa tahun ke belakang. Pada buku itu diungkap gagasan tentang 'objektifikasi nilai Islam'. Sebuah strategi yang amat indah dalam menerapkan nilai Islam secara smooth, balance tapi juga clear dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kunto sendiri pernah menterjemahkan objektifikasi dalam tiga hal: 1) artikulasi politik dikemukakan melalui kategori-kategori objektif, 2) pengakuan penuh pada keberadaan segala sesuatu secara objektif; dan 3) tak lagi berpikir kawan-lawan, tapi perhatian ditujukan pada permasalahan bersama.

Dalam bahasa Kang Harna, Ketua MPP-PKS, dalam berdakwah pada fase kelembagaan, kita tidak bisa mengatakan 'pokoknya begini' atau 'pokoknya begitu'. Kita harus bekerja berbasiskan standar-standar keilmuan yang objektif. Sebutlah masalah ekonomi, kita mengatakan posisi kita 'bukan  kapitalis, bukan pula sosialis', tapi kita tak sebutkan mana pemikiran kita. Jangan-jangan pemikiran kita memang masih yang 'bukan-bukan' *smile*. Karenanya Kang Harna sangat mendorong para pemikir muda PKS untuk membaca pemikiran-pemikiran modern dari Barat, disamping menggali khazanah pemikiran para ulama Islam. Inilah yang kemudian tercermin pada referensi yang digunakan dalam buku platform.

Wal hasil, apa yang tertuang pada buku platform ini adalah akumulasi pembelajaran PKS hingga saat ini. Dan sebagaimana sifat alami ilmu pengetahuan, di dalamnya tersimpan pemikiran dari banyak pemikir. Platform ini mencoba mengkristalisasikan pemikiran-pemikiran terbaik yang pernah ada.

Diantara pandangan yang saya pikir sangat penting buat para kader PKS adalah, pemunculan platform mesti diikuti dengan SDM yang siap menterjemahkan platform tersebut dalam pengelolaan negara. Mesti disiapkan ikon-ikon SDM yang siap mewujudkan setiap materi platform dalam kerja-kerja riil. Ini tantangan besar dalam proses penyiapan dan pemberdayaan SDM! Sebab objektifikasi nilai Islam berarti penyiapan SDM yang memahami betul agamanya (faqih fid dien) dan siap menterjemahkan agamanya dalam kerja-kerja kebajikan (fi'lul khayr) di keluarga, masyarakat dan juga pada pemerintahan negara.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

Blog Entry[Pilkada Jabar] Masa Krusial Pasca PemilihanApr 18, '08 12:18 AM
for everyone
Ternyata pasca hari H pemilihan bukanlah hari-hari tenang. Quick count yang semakin diterima menjadi bagian pemilihan umum mengundang pro dan kontra. Bisa dipastikan mereka yang kontra adalah yang kalah, merasa dirugikan atau terpukul dengan hasil quick-count. Sementara itu pihak yang menang, serta merta bersuka cita dengan hasil quick-count. Yang paling baik bagi semua pihak adalah menahan diri hingga penghitungan KPUD selesai. Secara aturan hukum, hasil KPUD itulah yang akan dijadikan dasar keputusan pemenang pilkada.

Saya melihat pihak yang diprediksi menang mesti menahan diri untuk merayakan kemenangannya. Ini adalah cerminan sikap rendah hati dan tawadhu. Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk banyak bertasbih mensucikan Allah, bertahmid memujiNya dan beristigfar memohon ampunan kepada Yang Menerima Taubat dalam mensikapi kemenangan. Kemenangan itu hakikatnya adalah nashrun minalLaahi atau pertolongan Allah.

Adapun tasbih adalah cerminan dari pengakuan bahwa dalam diri kita banyak sekali kekurangan, sehingga kita mesti terus memperbaiki diri, melakukan tazkiyyatunnafs atau pensucian jiwa. Tahmid adalah pengembalian segala keagungan hanya kepada Allah. Sikap ini akan meredam dan meruntuhkan segala sikap keakuan dan sombong. Dan taubat adalah refleksi dari jiwa yang senantiasa mengawasi dirinya agar tidak melenceng dari tuntunan dan perintah Allah swt.

Sikap-sikap di atas adalah sikap yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau dalam mensikapi Fathu Makkah, terbukanya Mekkah dalam berdakwah (lihat al Quran, surat an-Nashr). Diriwayatkan bahwa Nabi saat memasuki Makkah lebih banyak menundukkan wajahnya dan bahkan posisi tubuh beliau digambarkan merunduk. Diriwayatkan pula bahwa beliau banyak bertasbih, bertahmid dan beristigfar sejak peristiwa itu, bahkan hingga akhir hayat beliau. Sikap berendah diri kepada Allah swt dan berendah hati kepada manusia itulah yang kemudian membuat penduduk Makkah mengakui keunggulan Nabi dan sahabatnya. Para sejarawan mencatat begitu sedikit terjadi perlawanan fisik dari penduduk Makkah.

Karenanya sikap berlebihan dalam kemenangan, apalagi "merayakan" kemenangan dengan pesta pora, bukanlah sikap islami. Sikap memasang ucapan selamat pada spanduk-spanduk juga malah kontra produktif untuk memelihara suasana psikologis yang menenteramkan di tengah masyarakat. Bahkan dari substansi "memberi selamat" saja sudah menyimpang dari sikap islami yang sesungguhnya. Sebab kemenangan ini berarti amanah dan taklif atau beban kewajiban berat yang mesti dipikul nantinya.

Alih-alih tenggelam dalam merayakan kemenangan, sebaiknya dilakukan segera konsolidasi untuk mengisi kepemimpinan yang betul-betul berkualitas dan profesional. Bukankah ada perintah "fa idzaa faraghta fanshob!"  Apabila engkau telah selesai (dengan satu urusan), tetaplah bekerja keras (dengan urusan yang lain)!

***

Sementara itu bagi mereka yang diprediksi kalah dalam pilkada lalu, alangkah baiknya apabila mensikapi kekalahan ini dengan wajar. Saya yakin semua kontestan pilkada lalu memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi Jawa Barat. Kesempatan berkontribusi ini mesti diawali dengan sikap menginginkan hadirnya ketenteraman di tengah masyarakat.

Kekecewaan berlebihan apalagi kemarahan bukanlah sikap pemimpin sejati. Sikap pemimpin yang uring-uringan dan menyalahkan bawahannya, hanya akan menghasilkan kondisi dan suasana resah di kalangan bawahan. Pada gilirannya keresahan ini akan menular pada masyarakat umum.

Masa-masa penantian hasil pilkada justru masa-masa yang baik untuk melakukan introspeksi. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang akan tetap memberikan apresiasi kepada bawahannya yang telah bekerja keras, walaupun hasilnya belum berupa kemenangan. Tentu saja apabila ada kelemahan-kelemahan terjadi pada proses kampanye atau bergeraknya mesin politik ada ruang-ruang evaluasi.

***

Yang terpenting menurut saya adalah adanya kerendahan hati bagi pihak yang diprediksi menang dan kebesaran hati pada pihak yang diprediksi kalah. Kemuliaan seseorang itu hakikatnya bukan pada jadi tidaknya ia gubernur atau wakil gubernur. Kemuliaan itu ada pada ketakwaan dan kontribusi kebaikan seseorang, di mana pun posisi dan amanah itu terpikul pada pundaknya.

Untuk seluruh masyarakat Jawa Barat, mari kita ciptakan suasana yang aman, damai dan tertib. Suasana chaos dan pertengkaran hanya akan merugikan kita bersama. Semoga Allah swt senantisa membimbing kita.

Wallahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa
# warga Bogor #


Blog EntryKetika Thalut Dipilih Menjadi PemimpinMar 17, '08 3:27 AM
for everyone
Dalam sebuah diskusi, saya mengangkat kisah Thalut yang diangkat menjadi raja bagi Bani Israil untuk memimpin perjuangan melawan musuh*). Kisah ini diawali dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi mereka untuk dipilihkan seorang pemimpin. Nabi mereka pun memberi tahu bahwa Allah telah memilih Thalut untuk menjadi pemimpin mereka. Kisah ini menarik, sebab di dalamnya terkuak beberapa aspek dalam pemilihan seorang pemimpin dan kondisi mereka yang dipimpin. Saya akan sampaikan secara ringkas aspek-aspek tersebut:

1. Tentang Kekayaan Pemimpin
Bani Israil memprotes Nabi mereka, kenapa Thalut yang dipilih. Mereka memandang Thalut tidak layak menjadi pemimpin, karena ia tidak memiliki kekayaan yang banyak. Alasan ini tidak diterima oleh Nabi mereka.

Jadi jelaslah bahwa kekayaan itu bukan parameter utama untuk dipilihnya seseorang menjadi pemimpin.

2. Kekuatan Ilmu dan Fisik Pemimpin
Kriteria pemimpin itu harus memiliki kelebihan ilmu dan fisik (basthatan fil 'ilmi wal jismi). Jelas kepemimpinan memerlukan wawasan yang luas, cara berpikir yang sistematis dan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Untuk ini prasyarat keilmuan menjadi amat penting. Seorang pemimpin juga mesti sehat secara fisik, karena tugas kepemimpinan memang memerlukan fisik yang kuat. Tidak mungkin seorang yang sakit-sakitan akan optimal dalam kepemimpinannya. Apalagi kalau penyakitnya penyakit berat seperti pernah terkena stroke akibat tekanan darah tinggi, penyakit jantung dll.

3. Sifat Malas Berjuang
Nabi Bani Israil menanyakan kesungguhan Bani Israil untuk berperang kalau pemimpin mereka sudah terpilih. Jangan-jangan mereka hanya bicara saja ingin berperang, tapi akan mundur pada waktu perang. Bani Israil meyakinkan Nabi mereka. "Mana mungkin kami tidak berperang, padahal harta mereka telah dihancurkan dan kami pun terpisah dari anak-anak kami, " kata mereka.

Ternyata firasat Nabi mereka benar. Saat terjadi perang mereka mundur dari medan perang. Jadi perjuangan itu memang hanya diikuti oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh saja.

4. Tanda-tanda Kepemimpinan
Kerajaan Thalut dimulai dengan tanda datangnya Tabut yang dibawa malaikat. Pada Tabut ini ada peninggalan keluarga Musa dan Harun.

Kepemimpinan itu memang disertai dengan kelebihan-kelebihan yang Allah swt berikan kepada sang pemimpin. Dalam hal Bani Israil, mereka amat hormat dan takut kepada Nabi Musa a.s. Karenanya peninggalan keluarga Musa efektif untuk membuat Bani Israil lebih mentaati Thalut.

5. Pengujian Pasukan
Thalut memiliki kiat untuk menguji dan menyeleksi pasukannya dengan "air sungai". Dia melarang pasukannya minum dari sungai, kecuali sebatas yang dapat diciduk dengan tangan. Ternyata sebagian besar pasukannya tidak mengindahkan perintah Thalut. Mereka minum sepuasnya dari sungai dan ternyata mereka memang orang-orang yangberjiwa lemah. Mereka mundur saat pasukan Thalut mulai berhadapan dengan pasukan Jalut.

Penulis "Zhilaal" mengatakan, sungai adalah perumpamaan "harta dunia". Kelemahan jiwa hinggap pada mereka yang terlena dengan kenikmatan dunia. Kenikmatan dunia akan membuat seseorang berubah orientasi perjuangan. Semula hanya karena Allah, berubah menjadi karena harta dunia.

6. Sifat Kelompok Kecil dengan Kekuatan Iman
Sisa pasukan Thalut yang sedikit amat yakin dengan bantuan Allah. Merekapun yakin akan pertemuan dengan Allah. Mereka berkata, "Betapa banyak pasukan yang sedikit dapat mengalahkan pasukan yang banyak dengan ijin Allah!" Mereka adalah contoh orang-orang yang bersabar dalam perjuangan.

Pasukan Thalut pun Allah bantu hingga menggapai kemenangan. Kemenangan atas pasukan Jalut ini menjadi bagian dari hikmah (kebijaksanaan) Allah untuk melindungi umat manusia dari kehancuran karena kejahatan sekelompok manusia yang lain.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa

*) Al Quran surat al-Baqarah:246-252. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat ini, kejadian pemilihan Thalut sebagai pemimpin terjadi setelah masa Nabi Musa a.s. Dalam rangkaian kisah ini juga muncul seorang prajurit yang dapat membunuh Jalut (Goliath), pemimpin pasukan musuh. Prajurit ini bernama Daud (David), yang kelak menjadi seorang Nabi dan Rasul.

Blog EntryRefleksi tentang Peringatan Maulid NabiMar 13, '08 11:40 PM
for everyone

Sahabat sekalian,

Saya hantarkan sebuah tulisan dari KH Hasyim Muzadi yang beliau tulis di kolom Refleksi Republika. Beliau menyampaikan keprihatinannya karena saat ini syiar-syiar agama untuk mencintai Nabi Muhammad saw semakin luntur. Di satu sisi beliau mengingatkan betapa anak-anak kita semakin menjauh dari menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai sosok teladan yang harus terus dipelajari kehidupannya. Anak-anak kita malah lebih akrab dengan sosok-sosok produk industri hiburan dan bisa jadi secara tidak sadar "meneladani" mereka. Di sisi lain ada sementara kalangan umat Islam yang begitu gencar menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah bid'ah, hingga orang-orang muslim kebanyakan kehilangan momentum untuk mengingat kehidupan Nabi Muhammad saw. Padahal kecintaan kepada Nabi Muhammad adalah diantara bagian utama dalam berislam.

Seperti kita maklumi, kecintaan kepada dan ittiba' (mengikuti dan meneladani) Nabi Muhammad saw adalah bagian inti dari keimanan umat Islam. Ini adalah wujud dari syahadat "dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Semestinya hari-hari umat Islam selalu diwarnai dengan ungkapan cinta kepada Nabi. Paling tidak sembilan kali dalam sehari semalam umat Islam mengucapkan shalawat Nabi dalam shalat wajib mereka. Akan tetapi pada prakteknya, kita masih perlu terus mendalami makna dari shalawat Nabi ini. Kecintaan mendalam itu hadir karena pengenalan yang mendalam juga. Di sinilah perlunya kita terus mempelajari dan menggali kehidupan Nabi Muhammad saw. Dan bagi saya, tak ada salahnya momentum Maulid Nabi dijadikan sarana pembelajaran massal kepada umat Islam akan pribadi teladan ini.

Maka merupakan tantangan bagi para 'ulama, para asaatidz dan para muballighiin untuk mengenalkan tradisi-tradisi yang telah berkembang sekian lama seperti pembacaan shalawatan atau barzanji disertai makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian masyarakat pun semakin cerdas memahami arti acara-acara yang mereka ikuti. Tradisi ini pun tidak boleh berhenti sampai pada acara-acara serupa bertahun-tahun hingga menjadi tradisi tanpa makna. Ada baiknya acara shalawatan dan barzanji diperkaya dengan bedah buku Sirah Nabawiyyah misalnya. Berbagai buku Sirah ini belakangan sudah semakin banyak beredar di toko-toko buku. Lebih bagus lagi apabila ditampilkan bedah ayat-ayat Quran seputar kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad. Atau bahkan acara ini dipadukan dengan menonton filem ar-Risalah atau filem-filem lain yang menggambarkan perjuangan Nabi Muhammad saw. Kalau hal ini memasyarakat bisa jadi akan menarik para sineas muslim tanah air untuk memproduksi filem bermutu yang akan diminati umat Islam.

Sementara itu kalau ada pihak-pihak tetap berkeras tidak menerima peringatan Maulid untuk tujuan dakwah, maka pihak-pihak ini mesti menghadirkan cara lain yang memasyarakat untuk bisa mengenalkan dan mengingatkan pribadi Nabi Muhammad saw secara kontinyu. Sebab melarang tanpa memberikan alternatif yang baik malah merugikan umat Islam sendiri.

WalLaahu a'lamu bish shawwab.

Jumat, 14 Maret 2008.
Salam,
Adi J. Mustafa

***

Minggu, 09 Maret 2008

Mas Rofiq dan Maulidun Nabi

Oleh : KH A Hasyim Muzadi

Menurut hitungan kalender Hijriyah, hari Ahad ini kita tengah memasuki bulan baru, bulan paling menentukan sejarah kehidupan manusia. Ahad ini adalah tanggal 1 bulan Rabi'ul Awwal. Dua belas hari kemudian, hampir satu setengah abad yang lalu, Allah SWT mengejawantahkan titah-Nya. Maka kuasa-Nya yang telah ada sejak wujud-Nya, dan iradah-Nya yang ada bersama qidam-Nya, lahirlah seorang kekasih bernama Muhammad.

Sesosok manusia yang yang pengaruhnya sungguh tak tertandingi dan rasa empati dan cintanya menyebar entah sampai di mana. Laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum, 'azzizun alaihi ma'anittum hariishun 'alaikum bil mu'miniina ra-uufun rahiim Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan [keimanan dan keselamatan] bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Demikian antara lain sebuah penggalan ayat dalam Alquran yang mendeklarasikan kehadiran Baginda Rasul di alam semesta. Sebuah penggambaran yang sungguh menyejukkan dan mengharubiru kamanusiaan kita.

Syahdan, karena ingin menunjukkan rasa cinta kepada junjungan yang mulia ini, kaum Muslimin di kampung-kampung nan udik, selalu melakukan persiapan khusus menyambut hari kelahiran Sang Baginda. Para orangtua mengajar anak-anaknya untuk membuat ancak dari pelapah daun pisang. Dirangkai membentuk kubus dan diisi dengan aneka ragam makanan khas kampung.

Nasi kuning, telur rebus, macam-macam buah hingga lauk sekadarnya. Menjelang sore hari, jalan-jalan kecil menuju masjid setempat sudah ramai dengan aliran panjang anak manusia menjinjing ancak sebelum akhirnya dipertukarkan dengan ancak-ancak lainnya milik tetangga dekat dan tetangga jauh. Malam hari, adalah saat di mana puja-puji dalam rangkaian kalimat barzanji mengalun nari mulut-mulut mungil nan suci manusia kampung. Mereka pulang dengan ancak yang isinya sudah berbeda dengan sebelumnya karena mereka mendapatkan ancak hasil pertukaran. Pulang membawa berkah kecintaan mereka keada Baginda Rasul.

Arkian, Mas Rofiq Hadi termasuk salah seorang di antara anak-anak kecil masa lalu di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, yang kini sudah tinggal di Jakarta. Sekali waktu, ia sempat mengeluh karena kehidupan modern telah membuat semua tradisi masa lalu seperti sengaja dipinggirkan bahkan dihilangkan dengan berbagai dalih dan motivasi. Memperingati hari kelahiran Baginda Rasul dianggap tradisi tanpa dasar dan tak memiliki rujukan dalil agama.

Beberapa malah menilainya sebagai bid'ah. Karena alasan itu pulalah, maka kini kita merasa kesulitan menikmati alunan shalawatan dan barzanji saat seorang bayi lahir, dan saat dia akan dikhitankan. Bahkan menjelang akil baligh hingga memasuki masa pernikahannya, puja-pujian kepada Baginda Rasul seperti lenyap entah ke mana. Padahal, katanya mengenang, bila bayi lahir, lalu menjadi pengantin sunat, hingga ia menikah dan lalu meninggal, hanya satu yang setia menemaninya; pembacaan shalawat. Itu dulu. Kini, ke manakah gerangan tradisi yang sejatinya merupakan percikan cinta terdahsyat kepada Sang Rasul ini?

Hari Maulidun Nabi atau Miladur Rasul, kini tak lebih dari sekadar sebuah angka pada kalender dengan warna merah. Anak-anak kita sudah tak terbiasa mendengar lantunan shalawat. Pada memori mereka boleh jadi sudah tak terdapat indeks soal nama besar Nabi Muhammad SAW. Dunia kita benar-benar telah mengantarkan generasi Muslim masa kini kepada dunia yang sungguh kering tanpa cinta.

Kita bahkan terbiasa mendidik anak-anak kita untuk menjadi megaloman sehingga tak pernah lewat satu tahun pun untuk tidak mengenang tanggal kelahiran mereka sendiri. Maka mengalunlah melauki sound system atau organ tunggal lagu wajib Selamat Ulang Tahun sebagai pengganti shalawatan. Setelah itu, maka sudah terhidangkan di hadapan anak-anak yang lucu-lucu ini sebuah situasi di mana mereka siap mencari bentuk jati dirinya. Maka tak heran kalau kader-kader entertainer jauh lebih banyak jumlahnya dibanding kader-kader dalam profesi lainnya.

Sains modern menyebutkan bahwa bayi-bayi dan anak-anak yang masih suci itu memiliki daya rekam yang sangat kuat dalam memori mereka. Dokter spesialis dan pertumbuhan anak, kadang menyarankan para orangtua untuk memperdengarkan alunan lagu klasik versi Mozart atau Beethoven agar dapat membantu pembentukan kepribadian.

Kedua komponis ini memang telah melahirkan karya cipta yang luar biasa tetapi Baginda Rasul jauh lebih luar biasa dari keduanya. Para orangtua kita dahulu, di kampung, sejatinya telah membuatkan sebuah medium yang mengasyikkan bagaimana kita mencinta Rasulullah. Kalau sedari kecil pendengaran kita sudah terbiasa dengan shawatan dan salam kepada orang yang paling kita cinta, maka ke depan, cermin kita adalah apa yang menjadi tempat curahan cinta kita.

Manusia modern, lalu secara sistematis, mendegradasi bentuk-bentuk cinta kepada Rasul sebagai sebuah stigma yang sangat negatif. Setelah dianjurkan untuk ditinggalkan, memperingati Maulidun Nabi, bahkan dianggap sebagai sebuah tindakan kultus individu. Sebuah stigma yang sungguh menyakitkan. Tetapi begitu anak kita hafal beberapa lagu dan nama seorang penyanyi, maka kita akan memberikan tempat khusus kepada anak kita. Duh Gusti!

Stigma ini semakin menjadi pukulan telak begitu kita mencinta Baginda Rasul lalu dianggap sebagai sebuah bid'ah. Setiap bid'ah adalah menyesatkan dan setiap yang sesat di neraka. Kalau kategori ini dijadikan alat justifikasi dan labelisasi, maka tentu tak terbilang berapa jumlahnya muslimin-muslimat 'kampung' yang tak mengenal Mozart dan Beethoven, bakal terhantam julukan menyakitkan sebagai pelaku praktik bid'ah.

Dunia kini, bukan saja telah sukses membuat kita semakin jauh dari cinta kepada Baginda Rasul, tetapi juga telah merasa berkuasa menentukan kapling-kapling surga dan neraka. Cinta kita di dunia ini sejatinya adalah cinta tak berbalas sedang cinta kepada Rasul adalah cinta sejati. Kata-kata seperti apalagi yang dapat menjelaskan betapa agungnya kecintaan Rasul kepada kita, sampai-sampai menjelang tarikan napasnya yang terakhir, yang muncul justru desahan ummati-ummati [umatku-umatku] dari dua belahan bibir beliau. Karena itu, sebuah riwayat menjelaskan, jika seorang ummat Islam berziarah lalu menyampaikan salam, maka Baginda Rasul akan memohon kepada Allah agar mengembalikan rohnya untuk menjawab salam tersebut.

Sekali waktu menjelang shalat berjamaah di Masjidin Nabi, seorang badui Arab bertanya kepada Rasulullah kapan kiamat datang. Karena shalat terlanjur dididirikan, pertanyaan tak sempat dijawab. Begitu selesai, Rasululullah menanyakan apa persiapan yang telah dilakukan menghadapi kiamat. ''Hamba tidak mempersiapkan bekal yang memadai kecuali bahwa hamba mencinta Allah dan Rasul-Nya,'' ujar Si Badui. Jawaban Rasulullah singkat, ''Anta ma'a man ahbabta. (Engkau akan bersama dengan yang engkau cinta)''

Sahabat Anas Bin Malik menggambarkan, ''Aku belum pernah melihat kaum Muslimin berbahagia setelah masuk Islam karena sesuatu seperti bahagianya mereka ketika mendengar sabda Nabi itu.'' Kita semestinya sadar bahwa amal sebesar apa pun tak akan mampu mengantar kita bertemu Allah. Hanya cinta kepada-Nya dan kepada Rasulullah, maka hidup ini sampai ke titik kulminasinya. Selamat menyambut Maulidun Nabi Muhammad SAW. Wallaahu a'lamu bishshawaab.

Blog EntryPositioning Bagus Indonesia pada Politik LNMar 11, '08 11:08 PM
for everyone
Rasanya kita pantas mencatat dan mengapresiasi positioning yang bagus pada diplomasi luar negeri pemerintah belakangan ini. Momentumnya pada suara abstain RI saat DK-PBB akan memberi sanksi pada Iran atas kerja-kerja seputar energi nuklir, sementara seluruh negara anggota DK yang lain setuju dengan sanksi yang diberikan [1]. Sikap pemerintah ini menunjukkan kemandirian politik luar negeri kita yang bebas aktif. Bebas dalam arti tidak ikut blok sana blok sini dan aktif dalam mendukung terciptanya keadilan dan kedamaian dalam pergaulan internasional.

Sikap di atas pastilah melalui berbagai pertimbangan. Dalam diplomasi di DK, delegasi RI mengatakan Iran sudah berbeda dibandingkan saat resolusi (sanksi) pertama diberikan. Saat ini Iran lebih menunjukkan kooperasinya terhadap IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) [2]. Di balik ungkapan diplomasi kita melihat sikap Indonesia menjadi semacam perlawanan terhadap hegemoni ekonomi-politik Barat yang dimotori Amerika.

Menyusul sikap Indonesia di DK PBB, tentu saja Iran memberi apresiasi yang besar. Kunjungan SBY ke Iran, sebagai balasan kunjungan Ahmadinejad ke Jakarta beberapa waktu lalu, menjadi berita yang menunjukkan kerja cepat diplomasi LN kita. Kerjasama ekonomi dan industri yang dibangun dengan Iran dapat dipandang juga sebagai langkah strategis kerjasama "negara-negara Selatan", negara yang diberi atribut "developing countries" [3]. Semestinya kerjasama ini dilakukan juga dengan lebih bebas di antara negara-negara kawasan selatan planet bumi ini.

Posisi Indonesia di antara negara berkembang memang strategis. Di tengah sikap dan langkah-langkah devide et impera Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, usaha "ishlah" atau pendamaian yang dilakukan Indonesia memiliki arti penting. Karenanya kehadiran SBY yang langsung memimpin delegasi RI pada KTT OKI di Senegal tanggal 12-15 Maret ini menjadi momentum penting untuk lebih tegas menyuarakan sikap dan gagasan Indonesia tentang hubungan internasional yang adil dan damai.
Di tengah tekanan negara-negara Barat tentu "negeri pengabstain di DK PBB"  akan ditunggu-tunggu suaranya.

Selamat buat diplomasi LN yang memberikan kebanggaan buat bangsa ini!

Bogor, 12 Maret 2008,
Adi Junjunan Musafa

[1] Berita terkait: http://www.eramuslim.com/berita/nas/8305113239-sikap-abstain-indonesia-dk-pbb-jadi-kejutan.htm.

[2] Berita terkait "
Indonesia Nilai Iran Kooperatif"
http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=161595

[3] Contoh kerjasama Indonesia-Iran diantaranya "RI dan Iran Sepakat Bangun Kilang di Banten"
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=326637&kat_id=23


Blog EntryPadi-padi Itu Tak Pernah BerkhianatFeb 21, '08 10:26 PM
for everyone
Sahabat sekalian,

Perenungan dan pencarian hikmah itu bisa dari mana saja dan dari siapa saja. Buat seorang muslim tentu saja al-Quran dan as-Sunnah merupakan sumber utama pencerahan jiwa dan akal pikiran. Setelah itu ada banyak hikmah yang bisa kita petik di sekeliling kita. Seperti kisah yang disampaikan sahabat saya yang bekerja di Departemen Pertanian tentang kebahagiaan jiwa seorang petani yang sarjana IT.

Kisahnya saya bagi kepada sahabat semua. Semoga kita bisa memetik manfaat.

Salam,
Adi JM.

=====
"As you sow, so will you reap" (pepatah Inggris)

Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan
anda petik, demikian pepatah inggris itu mengatakan.
Kalau kita menanam kebaikan dengan ikhlas yang kita
petik pastilah juga kebaikan sebaliknya jika kita
menanam keburukan, selalu menebar benih kebencian dan
kekacauan meskipun dengan dalih ilmiah yang mumpuni
dan sehebat apapun kelak, yang kita dapat pastilah
juga keburukan.

Dalam sebuah kunjungan lapangan saya bertemu seorang
petani muda yang sukses di Cianjur. Ia begitu
menikmati hidup dengan bercocok tanam padi,
kesuksesannya coba disosialisasikan kepada para pemuda
yang tidak mau turun ke sawah karena becek dan kotor
tapi malah memilih ngojek dengan penghasilan yang
tidak juga besar. Di rumah saungnya yang besar di tengah
hamparan padi dan sawah demplotnya, ada yang menarik
yang dia katakan ketika saya bertanya, "Bagaimana
rasanya seorang lulusan universitas jurusan IT dapat
menikmati pekerjaan tani?" Jawabnya, "Intinya semua
pekerjaan itu sama, dia akan menghasilkan yang terbaik
buat kita asal kita menyenanginya. Saya menyenangi
bertanam padi dan berhubungan dengannya karena apapun
yang saya lakukan kepadanya, jika itu sesuai dengan hak-
haknya maka padi-padi itu akan melaksanakan
kewajibannya memberikan hasil yang terbaik buat saya,
seperti yang selama ini saya dapatkan. Tanaman-tanaman
berbeda dengan manusia, mereka tidak pernah
mengkhianati kita". Ia mengatakan ini sambil tersenyum.

Seandainya setiap petani punya mind-set seperti dia, maka
banyaknya petani yang sejahtera tentu tidak perlu
menunggu waktu yang terlalu lama.

Membangun negeri kita adalah membangun masyarakat dan
orang-orangnya yang 60% lebih diantaranya adalah para
petani. Merubah mind-set petani untuk menjadi sejahtera
memang bukan perkara mudah. Subsidi 8 triliyunan
rupiah dari pemerintah untuk para petani tidak akan
berarti apa-apa jika mind-setnya tetap tidak mau
berubah. Yang lebih penting lagi tentu saja mindset
kita semua, yang jadi penggeraknya. Mind-set yang
membuat kita percaya bahwa negeri ini akan bangkit dan
bahwa harapan itu masih ada.

"Keep the spirit high"

RL

----- )|( - )|( - )|( -----

Blog EntryBukan Poligaminya, tapi Prosesnya!Feb 3, '08 10:55 PM
for everyone
Bismillaahi wassalaamu'alaikum.

Poligami memang masih menjadi masalah sosial di tanah air. Setiap kali masalah ini mencuat, ia menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Kalau kejadiannya mengenai public figure yang dikenal luas, maka semakin luas juga masyarakat yang memperbincangkan.

Terus terang obrolan masalah poligami bukan menjadi prioritas obrolan saya tentang keluarga. Saya lebih tertarik membicarakan topik bagaimana membangun keluarga yang dapat berkomunikasi secara harmonis. Masalahnya, dalam pengamatan saya, pengetahuan dan skill dalam berumah tangga menjadi hal yang masih kurang mendapat perhatian di masyarakat kita. Permasalahan ini baru menjadi perhatian seksama ketika terjadi problem dalam rumah tangga.

Akan tetapi pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan catatan singkat  tentang poligami dari beberapa kejadian yang ada di sekeliling saya, yang semoga menjadi pelajaran berharga buat kita semua.

Pertama, secara aturan syariat Islam, kebolehan seorang muslim lelaki menikah dengan maksimal empat orang perempuan sudah tersurat dalam Kitab al-Quran (QS an-Nisa, 4:3). Tidak mungkin Allah swt membolehkan suatu tindakan kecuali ada kemaslahatan yang tersimpan di dalamnya.

Terkait ayat di atas, konteksnya adalah arahan Ilahi agar seorang muslim berhati-hati apabila menikahi anak perempuan yatim dan tidak berlaku adil (ada tendensi buruk dengan menikahinya). Untuk itu dipersilakan bagi seorang muslim lelaki menikahi dua, tiga atau empat orang perempuan lain (selain anak yatim itu). Kemudian dipesankan agar berlaku adil dalam poligami. Dan jika tak dapat berlaku adil, maka diarahkan agar menikah dengan seorang perempuan saja.

Kedua,  di dalam sejarah, tercatat bahwa Rasulullah saw menikahi seorang perempuan, yaitu Siti Khadijah ra. dalam waktu yang lama, yaitu dari usia beliau sekitar 25 th hingga usia sekitar 50 th, atau sekitar tahun ke-10 setelah beliau menjadi Rasul Allah. Setelah itu beliau menikahi perempuan-perempuan lain. Para sejarawan muslim mencatat banyak hikmah di balik pernikahan beliau dengan para istri beliau, diantaranya:
  • Pernikahan dengan Aisyah binti Abubakr ra, melahirkan berbagai catatan hadits Rasulullah saw, yang sebagiannya (misalnya hadits-hadits tentang adab berhubungan intimnya suami-istri) tidak mungkin tercatat, kecuali dari seorang istri. Para ilmuwan hadits pun mengakui bahwa Aisyah menjadi salah satu dari mata rantai (sanad) penggalian hadits (sumber hukum kedua setelah al-Quran) yang amat diandalkan.
  • Pernikahan dengan Ummu Salamah ra, adalah demi membantu seorang mukminah yang telah banyak berjuang yang ditinggal suaminya yang gugur di medan perang demi kejayaan Islam. Ummu Salamah sendiri termasuk diantara istri Nabi saw yang cukup banyak meriwayatkan hadits dari beliau.
  • Pernikahan dengan Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab ra adalah demi menghibur hatinya yang telah ditinggalkan ayahnya (yang seorang pimpinan Yahudi Bani Quraizhah) dan sanak keluarganya dalam peperangan Kaum Muslimin dengan Bani Quraizhah. Dengan dinikahinya Shafiyyah kedudukannya menjadi terhormat di kalangan Umat Islam.
  • Dst.
Kita dapat mendalami kajian tentang hikmah pernikahan Rasulullah dengan para istrinya ini, karena telah banyak dikupas oleh para ilmuwan muslim, termasuk dari kalangan muslimah, seperti Prof. Aisyah Abdurrahman yang menulis buku "Istri-istri Nabi". Pada buku ini disebutkan bahwa beberapa istri beliau seperti Aisyah, Ummu Salamah atau Syafiyyah adalah perempuan-perempuan yang cantik. Pada sisi ini nampaklah bahwa kesukaan pada kecantikan merupakan hal yang alami ada pada lelaki manapun. Akan tetapi kita mendapatkan catatan yang amat tegas, bahwa Nabi Muhammad saw secara sempurna meletakkan pernikahannya dalam bingkai dakwah. Allah selalu membimbing beliau untuk meletakkan dakwah di atas masalah lain, termasuk dalam mengelola rumah tangganya. Untuk masalah ini Said Hawwa mencatatnya dengan amat baik dalam bukunya "Ar-Rasul saw".

Ketiga, jika ada diantara lelaki muslim yang telah siap berpoligami, maka menjadi hak baginya untuk melakukan itu. Tentu saja mesti melekat dalam pemilihan berpoligami ini kesiapan untuk berbuat adil kepada istri dan anak-anaknya terdahulu. Akan lebih mulia apabila pernikahan kedua hingga keempatnya ini juga dilandasi motivasi keislaman yang kuat dan bukan semata karena dorongan syahwat biologis. Apabila ia seorang pimpinan dakwah, perlu diperhatikan juga kemaslahatan bagi dakwah dan umat Islam yang pasti akan mengamati kehidupan keluarganya secara seksama (saya sampaikan lebih detil pada akhir tulisan).

Dalam beberapa kasus, kita menemukan berpoligami adalah sikap mulia. Ini misalnya terjadi pada saat seorang perempuan ditinggal suaminya, sementara ia mesti membimbing anak-anaknya yang masih kecil. Lelaki yang menikahinya untuk membantu melanjutkan kehidupan dan membina anak-anaknya jelas seorang lelaki yang mulia dan berani mengambil tanggung jawab berat dan besar. Pada masyarakat yang masih aktif melakukan peperangan demi meraih dan menegakkan kemerdekaan, pastilah kondisi banyaknya perempuan yang suaminya gugur di medan perang, menghajatkan betul poligami. Ini adalah contoh di mana poligami menjadi sebuah solusi sosial yang amat penting.

Keempat, amat disayangkan banyak lelaki muslim berpoligami dengan entry point yang tidak baik.

Diantara entry point yang cukup sering terjadi adalah kegagalan dalam membangun rumah tangga harmonis dan ini diikuti dengan perselingkuhan. Beginilah kasus-kasus yang langsung saya amati terjadi.

Ketika perselingkuhan terjadi, pastilah terjadi kebohongan-kebohongan. Acara pendekatan kepada lawan jenis, bisa jadi ditutupi dengan "ada rapat mendadak". Berkurangnya nafkah finansial ditutupi dengan "ada alokasi lain mendadak" atau "ada infak yang amat urgent". Dan pada kebohongan-kebohongan ini jelas terdapat dosa, apalagi terhadap istri dan anak-anak yang mestinya ia sayangi. Kebohongan ini akan menjadi dosa besar kalau menjadi sebuah kebiasaan berbohong.

Sesuatu yang diawali dengan kebohongan dalam berumah tangga pastilah tak akan membawa keberkahan. Kebohongan pastilah membuat dada resah dan berguncang. Maka kebohongan ini membawa sikap-sikap turunannya yang juga tidak terpuji. Dalam kasus poligami, diantara sikap ini adalah ketidakadilan terhadap istri terdahulu dan terhadap anak-anaknya.

Poligami yang disebabkan karena gagalnya membangun rumah tangga yang harmonis, hampir pasti akan melahirkan ketidakharmonisan berikutnya. Untuk memenej satu keluarga saja sudah gagal, maka bagaimana hendak memenej dua, tiga atau empat keluarga?

Jadi kesimpulan saya, bukan pada poligaminya terdapat masalah. Masalah terjadi apabila proses menuju poligami itu tidak baik. Dan ini sangat terkait dengan kualitas kepemimpinan seorang suami dan kesetiaan seorang istri dalam membangun keluarga harmonis.

***

Saya ingin sampaikan catatan khusus untuk para lelaki muslim yang aktif dalam dakwah.
Seorang muslim, apalagi seorang da'i, pastilah akan memperhatikan permasalahan sosial dalam langkah hidupnya. Pemasalahan poligami di tanah air ini merupakan persoalan yang "asing". Masyarakat kita pun masih terlalu banyak menemukan poligami yang berimpit dengan kegagalan dalam membina rumah tangga. Istilah bagi istri yang dinikahi lagi setelah istri pertama adalah "istri muda". Istilah ini muncul di masyarakat, karena kenyataannya itulah yang mereka temukan. Seorang suami menikah lagi, karena tertarik pada perempuan yang lebih muda. Inilah sekelumit potret bagaimana masyarakat kita memandang poligami.

Sementara itu masih sangat sedikit contoh-contoh yang dapat diteladani dari para lelaki muslim yang berpoligami. Masih sedikit muncul pembelajaran bagi masyarakat tentang keluarga-keluarga yang harmonis dalam kondisi poligami.

Dalam kondisi sosial di atas para lelaki muslim, khususnya para du'at, sepatutnya memperhatikan dengan sungguh seksama tatkala ingin mengambil kebolehan poligami dalam berumahtangga. Mesti membangun diri untuk memenuhi kriteria pemimpin rumah tangga yang baik (fungsi ke-qawwam-an). Mesti ada persiapan manajemen keluarga yang amat matang, termasuk masalah finansial. Mesti terjalin komunikasi yang harmonis dan baik terhadap istri, anak-anak dan keluarga dekat. Mesti ada komunikasi, dialog seksama dan syura dengan sahabat-sahabat seperjuangan dalam dakwah tentang pilihannya ini. Dan yang paling penting, mesti menata hati untuk meluruskan niat sebelum mengambil keputusan untuk berpoligami. Ini tuntutan yang amat layak bagi seorang da'i, sebab sikapnya pasti akan memiliki pengaruh terhadap umat Islam.

Wallaahu a'lamu bish shawwab.

Bogor, 4 Februari 2008,
Adi Junjunan Mustafa.


Blog EntrySikap Keimanan dalam Menghadapi Bencana BanjirJan 5, '08 8:28 PM
for everyone

Sikap Keimanan dalam Menghadapi Bencana Banjir[1]

Adi Junjunan Mustafa[2]

Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan ulah tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali. Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS 30, Ar-Ruum:41-42)

Beberapa pekan belakangan ini, kita menyaksikan bencana banjir melanda tanah air kita. Luapan Bengawan Solo telah mengakibatkan banjir pada kabupaten-kabupaten dan kota-kota yang dilalui sungai ini di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara itu sebagian wilayah Jakarta pun terkena banjir akibat luapan sungai Ciliwung. Bencana banjir juga terjadi di Sumatera, Sulawesi dan wilayah-wilayah lain di tanah air.

Kita tentu berduka dengan bencana yang melanda tanah air ini. Kita senantiasa berdoa kepada Allah swt semoga bencana ini segera berakhir. Kita pun sedapat mungkin mesti memberikan bantuan kepada saudara-saudara yang tertimpa musibah. Sungguh berat beban derita yang mereka alami. Dalam beberapa kasus bahkan dilaporkan banjir telah menelan korban jiwa. Ditambah dengan bencana tanah longsor, kejadian yang juga berkorelasi kuat dengan musim penghujan, semakin banyak korban jiwa dan kerugian materil serta moril yang dialami bangsa ini.

Ulah Tangan Manusia

Pada kondisi ini, sebagai seorang yang beriman, kita sepatutnya melakukan kontemplasi dan perenungan. Keyakinan kita mengatakan bahwa Allah swt telah meletakkan neraca kesetimbangan di alam ini. Karenanya kita pun diperintahkan untuk menegakkan kesetimbangan dan jangan melabrak kesetimbangan itu (QS 55, ar-Rahmaan:7-9).

Pada surat ar-Ruum ayat ke-41 Allah swt mengangkat masalah kerusakan lingkungan hidup baik di daratan ataupun di lautan dan mengaitkannya dengan ulah tangah manusia. Ulah tangan manusia ini dapat ditafsirkan pada perilaku tidak sadar lingkungan. Ini dapat terjadi mulai dari skala sikap individu hingga sikap pemerintah dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.

Pada skala individu orientasi kehidupan yang materialistis membuat pengambilan keputusan yang ingin memperoleh keuntungan pribadi, tanpa menghiraukan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan. Sikap ini membuat seseorang sembarangan membuang sampah. Sikap ini juga dapat mewujud dalam bisnis yang tidak mengindahkan faktor lingkungan. Tidak sedikit individu yang ingin dan telah menguasai kawasan-kawasan yang menjadi penyangga lingkungan hidup, seperti kawasan pegunungan yang tangkapan air di hulu sungai-sungai. Di sana dibangun villa-villa peristirahatan demi mendapatkan kenyamanan individu dan keluarga.

Sikap-sikap individual ini akan semakin merusak ketika bekerja dalam skala kolektif dan ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang tidak sadar lingkungan dan korup. Keinginan individu mengusai kawasan penyangga lingkungan bertemu dengan bisnis properti yang didukung oleh para pemodal dan perbankan. Berdirilah perumahan-perumahan di kawasan yang mestinya tidak boleh dibangun. Terlalu banyak contoh untuk ini. Pembabatan hutan-hutan mangrove demi reklamasi pantai dan pembangunan perumahan di kawasan pantai, membuat kawasan rawan banjir pasang laut. Pembangunan kota yang membabi buta, membuat habisnya kawasan resapan air.

Pembabatan hutan di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) menyebabkan penggelontoran air di permukaan bumi semakin besar. Proses pendangkalan sungai akibat tergerusnya tanah pada DAS pun terjadi. Pada saat curah hujan tinggi ditambah lagi dengan anomali iklim yang besar, seperti saat ini terjadi, maka sungai tak lagi dapat menampung debit air yang mengalir. Terjadilah luapan air dan banjir.

Jadi ungkapan Allah swt tentang akibat ulah tangan manusia mesti kita tafsirkan sebagai akumulasi berbagai sikap manusia yang tidak sadar lingkungan hingga ambisi bisnis dan kebijakan pemerintah yang merusak lingkungan hidup. Jangan salahkan Bengawan Solo, jangan katakan ”banjir kiriman Bogor”. Alam ini mencari kesetimbangan yang saat ini tengah dilanggar manusia.

Terlewatinya kemampuan sungai menampung debit air di atasnya adalah cerminan terlabraknya batas life support system atau batas daya dukung lingkungan untuk menopang kehidupan manusia. Pada surat ar-Ruum:41, diungkapkan ”agar manusia merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka”. Demikianlah, manusia memiliki kecenderungan lalai dengan kekeliruan yang mereka lakukan, sampai mereka merasakan bencana. Bencana banjir yang tejadi di berbagai tempat saat ini memang diakibatkan curah hujan yang lebih tinggi daripada rata-rata. Akan tetapi di balik bencana banjir yang terjadi, kita dapat mengukur kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Derita akibat kerusakan lingkungan ini pun Allah firmankan hanya sebagian dari kerusakan yang mungkin lebih besar.

Allah selalu menghendaki kebaikan kepada hamba-hambaNya yang baik. Karenanya pada akhir ayat diungkapkan ”semoga manusia kembali (kepada Allah)”. Ungkapan ini mendorong manusia untuk mengoreksi kesalahan diri dan bertaubat kepada Allah swt. Ungkapan ini juga dapat ditafsirkan agar manusia kembali merujuk kepada aturan-aturan ilahiyah. Kata rujuk sendiri berasal dari bahasa Arab ra-ja-’a, kata yang digunakan pada akhir ayat di atas “yarji’uun”. Artinya bencana yang terjadi hendaknya membuat manusia kembali merumuskan berbagai sikap serta kebijakan dan implementasinya agar sesuai dengan naraca kesetimbangan yang telah Allah tetapkan di alam ini.

Terus Belajar dan Memperkokoh Akidah

Pengarahan qurani berlanjut pada ayat ke-42 dari surat ar-Ruum. Pada ayat ini kita diperintahkan untuk melakukan perjalanan atau penjelajahan sejarah untuk mempelajari kejadian-kejadian orang-orang sebelum kita. Sejarah ini bisa kejadian-kejadian yang telah lama berlalu, bisa juga kejadian yang masih relatif baru. Terkait bencana banjir, sebetulnya kejadian ini adalah kejadian tahunan yang selalu terjadi. Karenanya sepatutnya kita sungguh-sungguh belajar dari bencana banjir ini.

Ayat ke-42 ini mengungkap permasalahan mendasar di balik berbagai ulah manusia yang merusak lingkungan, yaitu permasalahan akidah. Allah memberi tahu kita bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang yang musyrik, orang yang tidak men-tauhid-kan Allah dalam kehidupannya. Mengesakan Allah ini memang terkait dengan keyakinan bahwa Allah lah al-Hakim, yang berhak menetapkan aturan atas manusia. Karenanya segenap aturan manusia mesti merujuk pada aturanNya. Mengesakan Allah juga berarti Allah adalah al-Malik, yang menguasai alam ini. Karenanya manusia tidak boleh berbuat sesuatu yang merusak alam ini. Akhirnya, al-Malik pun berarti bahwa Allah akan mengadili manusia atas perbuatan yang mereka lakukan selama kehidupannya di dunia. Karenanya, siapapun mestinya khawatir akan nasib dirinya di hadapannya pengadilanNya pada Yaumil Mizan kelak.

Wa Allahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, Ahad, 6 Januari 2007.