Adi Junjunan's posts with tag: insan dakwah
Saya sempat berdialog cukup hangat dengan istri di rumah seputar aktivitas dakwah yang melibatkan muslimah. Sejauh yang saya perhatikan, para aktivis muslimah masih belum dalam posisi seimbang dalam pengaturan waktu sesuai fitrahnya sebagai perempuan. Ada beberapa kondisi yang semestinya diperhatikan betul para pimpinan dakwah (baik pimpinan laki-laki ataupun pimpinan perempuan) ketika melibatkan muslimah dalam aktivitas dakwah:
1. Waktu Hendaknya dijadwalkan secara sungguh-sungguh agar muslimah pada kegiatan-kegiatannya tidak melewati batas waktu Magrib, apalagi hingga larut malam.
Apabila diperkirakan kegiatan akan melewati batas waktu tersebut ada dua pilihan alternatif, tidak memaksakan melibatkan muslimah atau menjadwal ulang acara, sehingga muslimah bisa meninggalkan tempat acara lebih awal.
2. Agenda Terkait erat dengan masalah waktu, hendaknya pada rapat-rapat atau pertemuan yang sifatnya massal, pengagendaan acara memperhatikan kebutuhan muslimah untuk berada di rumahnya sebelum malam. Dengan manajemen pertemuan yang matang hal ini tidak sulit untuk dilakukan.
Penyusunan agenda yang memperhatikan kondisi perempuan ini mesti jadi "produk" khas aktivitas dakwah Islam, termasuk pada ranah politik. Hal ini menjadi tuntutan penting dan urgen, sebab kebanyakan agenda-agenda pertemuan pada kantor-kantor pemerintahan (termasuk juga pada dewan perwakilan) masih menyamaratakan jadual bagi laki-laki dan perempuan. Pada kondisi yang ada ini, dianggap wajar ketika perempuan masih aktif dalam rapat bersama peserta laki-laki hingga larut malam. Jika institusi dakwah tidak pernah memperkenalkan agenda pertemuan yang berbeda dengan kondisi umum, maka masyarakat umum pun akan menerima kondisi ini sebagai sebuah kebenaran.
3. Jarak Terkait masalah jarak dari rumah, hendaknya diusahakan agar kegiatan muslimah tidak terlalu jauh. Jika harus bepergian jauh, maka yang paling ideal adalah dengan penyertaan mahram-nya.
Syarat di atas mengandung implikasi manajemen dakwah, yaitu agar pengkaderan dan penyebaran aktivis perempuan diusahakan sesuai dengan kebutuhan dakwah lapangan. Bisa jadi sebelum kondisi ini terpenuhi, ada muslimah yang mesti memikul amanah dakwah yang relatif jauh dari rumahnya. Kondisi ini hendaknya menjadi kondisi darurat dan sementara. Mesti ada langkah-langkah sigap dari pimpinan dakwah untuk mengubah keadaan seperti ini.
Syarat di atas juga menuntut manajemen dakwah yang terdesentralisasi untuk memenuhi kebutuhan aktivis muslimah. Konsolidasi pada ruang lingkup provinsi atau nasional yang sifatnya sosialisasi dan tidak menuntut partisipasi aktif muslimah, hendaknya seminimal mungkin mengharuskan kehadiran perempuan. Sosialisasi bisa dilakukan secara berantai untuk sampai kepada mereka.
4. Hijab Masalah hijab termasuk masalah utama dalam pengaturan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Intinya adalah agar terjaga kebersihan hati dan kesucian jiwa ketika terjadi interaksi antara laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya manajemen kegiatan dakwah mesti mengusahakan adanya kondisi yang nyaman bagi muslimah ketika mereka mengekspresikan ide-ide mereka dalam rapat-rapat atau pertemuan massal.
Termasuk dalam masalah hijab ini adalah penghormatan peserta pertemuan laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya. Dalam landasan qurani ini direpresentasikan dengan sikap "menundukkan pandangan" (ghadhul bashar). Selain itu bagi muslimah terdapat juga panduan untuk menyampaikan ide dengan lugas, jauh dari kesan manja dan menggoda.
5. Fokus Aktivitas Hendaknya manajemen dakwah melakukan kajian secara sungguh-sungguh, apa saja bidang-bidang pekerjaan yang membutuhkan perhatian optimal aktivis muslimah. Apalagi aktivitas dakwah pada ranah politik mau tidak mau terikat dengan konvensi pelibatan 30% perempuan*).
Secara spontan dapatlah disebutkan beberapa aktivitas yang membutuhkan kontribusi optimal muslimah, misalnya: kesehatan, pendidikan, permasalahan pangan (nutrisi) dan sandang, beberapa masalah perekonomian, farmasi, dll.
Dalam pandangan saya, masalah kesetaraan gender itu tidak berarti penyamaan laki-laki dan perempuan. Sikap responsif gender berarti menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi dan tugas yang paling tepat dan optimal dalam kehidupan ini.
Dan ketika memposisikan perempuan dalam kegiatan-kegiatan publik, mestilah diperhatikan benar keseimbangan bagi mereka untuk dapat menjalankan amanah mulia sebagai ibu dan istri di rumah masing-masing. Juga mesti diperhatikan secara sungguh-sungguh kondisi-kondisi fitrah yang melekat pada mereka, seperti masalah siklus menstruasi, kondisi hamil, menyusui serta masa-masa nifas setelah persalinan.
***
Demikian beberapa lintasan pemikiran tentang kondisi yang ramah bagi muslimah (muslimah friendly) dalam aktivitas dakwah. Gagasan ini masih membutuhkan elaborasi lebih jauh lagi. Yang pasti aktivis muslimah mesti menghadirkan trend baru keterlibatan perempuan dalam ranah publik dengan tetap menjaga identitas dan martabatnya sebagai perempuan.
Pesan dan harapan penting tulisan ini adalah agar para pimpinan dakwah memperhatikan betul permasalahan ini. Tidak tanggapnya manajemen dakwah pada hal ini adalah kelengahan dalam memandu marhalah atau tangga pembentukan keluarga islami dalam dakwah. Padahal marhalah ini adalah kesatuan integral dalam mendukung marhalah pembentukan masyarakat islami dan juga marhalah memperbaiki penyelenggaraan negara, diantaranya melalui aktivitas dakwah politik.
Mudah-mudahan tulisan ini menjadi percikan ide yang bisa memandu keterlibatan muslimah dalam aktivitas dakwah.
Bogor, 27 Mei 2008, Adi Junjunan Mustafa.
*) Dalam masalah keterlibatan perempuan pada partai politik, yang sekarang semakin didorong dengan kuota 30%, saya sebetulnya punya telaah tersendiri. Saya masih akan menuliskan topik ini. Diantara sugesti awal yang bisa saya sampaikan adalah perlunya partai-partai berbasis ajaran Islam mengantisipasi kuota ini secara kritis. Hal ini perlu dilakukan mengingat program-program yang ada di dewan perwakilan negara kita mulai level pusat hingga kabupaten/kota masih belum memperhatikan kekhasan muslimah. Diantara buktinya adalah program-program pertemuan/rapat dan kunker yang secara sama rata mesti dikerjakan anggota legislatif perempuan.
Membangun Semangat Pembelajar*
Allah swt menyatakan bahwa Dia akan mengangkat beberapa derajat kedudukan sebagian orang-orang beriman dan orang-orang yang menggali ilmu (QS. Al Mujadilah:11). Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Di balik kewajiban ini ada jaminan pahala dan kedudukan mulia bagi mereka yang menjalankannya. Bagaimana tidak, dengan ilmulah umat manusia akan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan. Dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya [1]. Maka amat mulialah mereka yang terus-menerus gigih menggali ilmu untuk kemashalahatan umat manusia.
Diantara profil pembelajar yang luar biasa adalah Imam Syafi'i [2]. Beliau adalah salah satu dari empat imam dalam mahdzab fiqih Islam, yang pemikirannya hingga saat ini menjadi ilmu yang terus bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya.
Imam Syafi'i terlahir dalam keadaan yatim pada tahun 150H. Kehidupan beliau di masa kecil relatif sulit. Akan tetapi beliau sudah hafal Qur'an pada usia 9 tahun. Imam Syafi'i pun tetap gigih belajar ilmu tafsir dan ilmu hadits kepada para imam/ulama di Makkah, seperti Imam Sufyan bin Unayyah dan Imam Muslim bin Khalid al-Zinji [3]. Untuk mencatat ilmu yang dipelajarinya, beliau sering memungut kertas-kertas bekas di kantor pemerintahan kala itu. Pada akhirnya catatan-catatan ini pun tidak lagi beliau perlukan, sebab dengan kebulatan tekadnya beliau berhasil menghafal semua ilmu yang beliau pelajari.
Pada usia 15 tahun Imam Syafi'i sudah memiliki ilmu yang amat mendalam, hingga sudah memperoleh ijazah untuk memberikan fatwa bersama para imam di Masjidil Haram. Beliau ditawari menjadi mufti di Makkah, tetapi menolak. Bahkan beliau sampaikan kepada para gurunya untuk mengijinkan beliau belajar ke Madinah, untuk berguru kepada Imam Malik yang amat termashur. Para guru dan juga Walikota Makkah pun merestui keinginan Imam Syafi'i. Imam Syafi'i memang memiliki obsesi untuk menjadi murid penulis kitab Al-Muwaththa yang amat terkenal. Bahkan sebelum beliau berangkat ke Madinah, dengan meminjam kepada sahabatnya, beliau telah berhasil menghafalkan al-Muwaththa di luar kepala [4].
Demikianlah, ketika Imam Malik yang amat berwibawa itu menerima kunjungan pertama dari Imam Syafi'i, Imam Malik pun berkata, " ... datanglah lagi besok untuk aku bacakan al-Muwaththa." Imam Syafi'i pun menjawab, "Saya sudah menghafalnya di luar kepala." Imam Malik pun meminta Imam Syafi'i membuktikan hafalannya. Itu lah kisah pertemuan dua imam terkemuka di kalangan umat Islam.
Imam Syafi'i pun mereguk ilmu dari Imam Malik selama beberapa tahun. Beliau amat dicintai gurunya. Beliau pun mendapatkan kedudukan khusus, karena ketekunan dan kecerdasannya, hingga seringkali menggantikan Imam Malik dalam mengajarkan al-Muwaththa kepada para ulama yang datang ke Madinah seiring perjalanan haji mereka. Dari sini lah nama Imam Syafi'i semakin dikenal oleh para ilmuwan dari berbagai negeri, termasuk Mesir.
Setelah belajar dari Imam Malik, Imam Syafi'i pun meminta ijin kepada gurunya untuk meneruskan belajar ke Kuffah (Baghdad saat ini), karena di sana pernah hidup seorang imam terkemuka, Imam Hanafi. Di Kuffah, Imam Syafi'i selama beberapa waktu saling belajar dengan dua orang murid dan sahabat Imam Hanafi, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.
Demikianlah seterusnya Imam Syafi'i tak pernah berhenti belajar dan mengamalkan ilmunya. Tercatat bahwa beliau mengembara lagi ke Yaman, lalu kembali ke Kuffah, ke Mekkah dan ke Madinah dan lagi ke Kuffah, pusat kekhalifahan Islam saat itu, hingga akhirnya beliau pergi ke Mesir hingga wafatnya pada tahun 204H. Pada setiap halte pengembaraannya, beliau terus produktif belajar dan menghasilkan pemikiran-pemikiran keilmuan cemerlang yang menerangi umat untuk dapat memutuskan berbagai masalah kehidupan berlandaskan syariah Islam.
Demikianlah sekilas kehidupan Imam Syafi'i, sang pembelajar. Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah kehidupan beliau.
Untuk terus membangun jiwa pembelajar, kita perlu mengetahui peta pengetahuan yang mesti memenuhi akal kita. Insya Allah permasalahan ini akan disampaikan pada tulisan mendatang [5].
Salam, Adi Junjunan Mustafa.
Catatan: * Pointers taushiyah pada acara penyerahan beasiswa prestatif kepada beberapa siswa SMA 2 dan juga mahasiswa alumni SMA 2 di MQ-Cafe, Jln. Citarum, Bandung, Sabtu, 10 Mei 2008. Beasiswa diberikan oleh Dr. Edi Siswadi, salah seorang alumni SMAN 2 Kuningan. Hadir pada acara ini pengurus Ikatan Alumni SMAN 2 Kuningan (Ikasmanda), termasuk ketuanya Fajar dan Ade Kadarisman, dosen FIKOM-Unpad, yang amat gigih membesarkan Ikasmanda. Kepala SMAN 2 Kuningan, Pak Bambang Sri Sadono, juga berkesempatan hadir di tengah acara workshop beliau di Lembang.
[1] Semakin hari saya semakin menyadari bahwa untuk mengelola berbagai masalah kehidupan, mulai dari masalah pribadi, masalah keluarga, hingga masalah negara kita amat berhajat dengan ilmu pengetahuan. Diperlukan aturan-aturan dan kebijakan yang tepat dan jitu untuk mengatur negara dan pemerintahan. Ini semua memerlukan SDM yang memiliki bidang keahlian pada masing-masing persoalan. Mereka semua pun mesti dikoordinir oleh orang-orang yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang handal.
[2] Dalam perjalanan mengantar Hasan dan sekaligus menengok Fafa di Husnul Khotimah, Kuningan, saya membawa bekal buku berjudul "Biografi Empat Serangkai Imam Mahdzab" karya K.H. Moenawir Cholil. Isi buku yang amat inspiratif ini jadi teman saya di perjalanan. Sebagian isinya saya sampaikan pada acara di atas. Silakan juga dibuka link berikut: http://islam.blogsome.com/2006/01/26/riwayat-hidup-imam-syafii/ http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Syafi'i
[3] Saya membayangkan kedudukan para imam saat itu ibarat para professor di masa kini. Adapun keilmuan yang saat itu tengah dibangun pesat pada peradaban muslim meliputi ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih. Di samping itu terdapat juga perkembangan ilmu sastra, dengan pelajaran bahasa yang direpresentasikan dengan kemahiran bersya'ir. Pada saat itu institusionalisasi ilmu mengacu pada para imam sesuai bidang keahliannya. Pusat belajar mereka di masjid. Bandingkan dengan penyebutan laboratorium modern saat ini yang juga sering dinisbahkan pada nama professor, seperti di Jepang, dengan tempat-tempat studi di universitas.
[4] Terbayang betapa hebatnya budaya keilmuan saat itu. Imam Syafi'i telah menghafal al-Muwaththa sebelum beliau langsung belajar dari penulisnya. Ini ibarat kita akan belajar keilmuan tertentu dari seorang professor, padahal ilmunya itu sudah kita fahami secara utuh sebelum berjumpa professor yang dituju. Tentu waktu-waktu belajar akan diisi dengan pendalaman dan pengembangan keilmuan yang dipelajari. Bisa jadi Imam Malik pun banyak mendapatkan masukan berarti selama proses belajar Imam Syafi'i ini.
[5] Pada kesempatan acara di atas, saya memang sempat sampaikan masalah piramida ilmu untuk melengkapi akal muslim.
Bebarapa kali saya terlibat obrolan intensif dengan seorang sahabat yang akhirnya menyinggung terminologi spontaneous-sociability (SS). Obrolan kami ini dipicu oleh pemilu dan kampanye yang sedang menghangatkan kondisi perpolitikan Indonesia. Secara khusus, kami tertarik pada fenomena PK-Sejahtera (PKS), yang baru lahir menjelang pemilu 1999 dari sebuah basis massa yang belum dikenal sebelumnya, tetapi semakin mendapat sambutan luas menjelang pemilu 2004 ini. Ketertarikan ini adalah bentuk harapan dan sekaligus juga sumbang saran kepada pegiat-pegiat politik baru untuk memperbaiki perpolitikan negeri yang masih terseok-seok mengusung agenda reformasi. Sebagaimana disebutkan dalam platform mereka, PKS adalah partai kader. Mereka memiliki sistem kaderisasi yang cukup mapan dalam membangun soliditas pendukungnya. Tantangan yang mesti dilalui PKS justru bagaimana mereka mengusung perjuangan politik berjargon "bersih dan peduli" di tahun 2004 ini dalam konstalasi kehidupan berbangsa yang plural. Kyai Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, dalam satu wawancara di Majalah Saksi, memberi nasihat agar PKS pandai-pandai membawakan agama di dalam kerangka kebangsaan, kalau agama ini harus dituangkan dalam dunia politik. Barangkali Kyai Muzadi melihat kuatnya proses kaderisasi dalam tubuh PKS sedikit banyak membuat komunitas ini menampilkan ciri-ciri eksklusifitas. Disinilah saya dan sahabat saya menemukan SS menjadi sebuah wacana menarik yang barangkali bermanfaat untuk PKS dan juga secara umum untuk seluruh pemain politik yang saat ini tengah berkompetisi dalam pemilu. Adalah Francis Fukuyama (1995) yang berbicara tentang korelasi antara kemakmuran ekonomi sebuah negara dengan besarnya modal sosial (social capital) yang ada di negara tersebut. Modal sosial ini dapat meningkatkan efisiensi, karena membuka berbagai kemungkinan aksi-aksi kerjasama. Fukuyama menyatakan, semakin besar modal sosial dimiliki sebuah negeri, semakin berkembang dan sejahteralah perekonomiannya. Modal sosial pada sebuah masyarakat sendiri ditentukan oleh dua faktor utama: tingkat kepercayaan umum (generalized trust) yang tinggi dan tingkat SS diantara anggota masyarakat tersebut. Trust adalah harapan akan keteraturan, kejujuran, dan sikap bekerjasama yang muncul pada sebuah kelompok dalam satu masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang disebarkan dan difahami dengan baik oleh kelompok-kelompok lain dari masyarakat itu. Adapun SS berarti kemampuan untuk membangun sebuah persatuan baru dan bekerjasama berdasarkan aturan main yang sama-sama dibuat. Teori Fukuyama ini menjadi wacana mendunia, karena ia mengklasifikasi beberapa negara sebagai low-trust societies dan sebagian lain sebagai high-trust societies. Katagori pertama gagal membangun korporasi perusahaan besar dan yang kedua berhasil melakukannya. Meminjam teori Fukuyama ini, dalam bahasa yang lebih sederhana SS berarti kemampuan satu komunitas untuk secara spontan menerima pihak lain dalam rangka membangun kerjasama. Sikap ini dibangun atas dasar saling mempercayai dan komitmen pada kesepakatan bersama. Kesepakatan inilah "ruang bermain" yang membuat semua pihak tentram bermain di dalamnya. Diantara keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun SS di tengah masyarakat adalah tidak bersikap apriori menolak pihak lain dan malah ditunjukkan dengan adanya kesiapan menerima kebenaran dari pihak lain itu. Dalam wacana politik di tanah air, adalah sangat mungkin bagi satu komunitas muslim untuk membangun komitmen bersama dengan komunitas muslim yang lain, sebab ajaran pokok Islam akan merekat mereka. Asas ukhuwah (persaudaraan) dikenal dan diterima luas oleh umat Islam sebagai salah satu pilar kekuatan umat. Bahkan ajaran Islam yang universal membuka peluang menerima kebenaran dari hikmah yang dihadirkan oleh siapapun. "Kalimat yang bijak (hikmah) itu milik orang beriman yang hilang. Dimana saja ia menemukannya, maka ia paling berhak atasnya" (HR. Tirmidzi). Karenanya irisan-irisan nilai kemanusiaan menjadi landasan lain dalam membangun komitmen bersama politik umat Islam dengan ideologi lain, selama bertujuan menegakkan kebenaran dan keadilan. Penyampaian aturan main dan komitmen terhadapnya ini yang akan menjadi kunci bangunan SS di tengah masyarakat. Sejarah Islam mencatat penulisan Piagam Madinah dimana di dalamnya termaktub aturan sosial-politik yang adil bagi seluruh masyarakat kota Madinah yang majemuk secara kultural dan agama. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana politik umat Islam Indonesia bermain elegan di wilayah publik atau sebagaimana Kyai Muzadi mengistilahkan bermain dalam kerangka kebangsaan. Dalam wilayah publik ada dua nilai yang mesti diperhatikan, yaitu asas manfaat dan objektifikasi nilai. Orang Sunda bisa menyebut dua faktor ini dalam paduan kata karaos-kahartos, terasa dan dimengerti. Publik akan memahami komitmen-komitmen yang disampaikan jika mereka merasakan kemanfaatannya. Kemudian komitmen-komitmen ini disampaikan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dilandasi agumentasi yang objektif. PKS dan seluruh komponen sosial-politik negeri mesti berlomba membangun SS ini. Dalam pandangan saya, kelompok yang paling terampil membangun SS, dan berkontribusi membangun trust serta modal sosial inilah, yang akan menjadi pilihan sejati masyarakat Indonesia untuk memimpin membangun negeri. Dalam perjuangan ini umat Islam bisa menemukan konteks sosial-politis ungkapan Nabi saw, "Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak mulia." Akhlak mulia adalah sumber bahasa universal yang karaos-kahartos. Akhlak mulia ini pula yang menjadi modal dasar SS. Salam, Adi Junjunan Mustafa
Sebuah tulisan lama: Kamis, 25 Maret 2004 - Sorotan KAMMI-Jepang (http://www.kammi-jepang.net/sorotan.php?id=53)
Pada kolom Resonansi Republika hari ini, Kamis, 24 April 2009, Prof. Azyumardi Azra mengangkat tulisan berjudul "PKS". Beliau menyatakan pengalamannya membedah buku Memperjuangkan Masyarakat Madani: Falsafah Dasar dan Platform Kebijakan Pembangunan PK Sejahtera (2008) menjadi sebuah pengalaman bernilai baginya. Pada Resonansi-nya, Prof. Azra menyampaikan ulang garis besar isi buku tersebut. Beliau juga mengutip utuh beberapa bagian penting dari buku tersebut, seperti Tujuan Pendirian PKS, definisi Masyarakat Madani menurut PKS, bagaimana PKS memandang 'negara Islam', dan tentang Objektifikasi Nilai-nilai Islam. Beliau percaya, tidak banyak parpol memiliki platform yang selengkap dan serinci PKS; meskipun dalam segi-segi tertentu tidak banyak membahas tentang 'bagaimana' cara dan langkah sistematis mewujudkan platform tersebut.
***
Sebetulnya pada bagian awal buku Platform PKS sudah disampaikan bahwa pengalaman PKS ikut serta secara aktif dalam kerja-kerja publik sektor belumlah lama. Kerja pada medan legislatif lebih dahulu dibandingkan dengan medan eksekutif, walaupun sebagian pemikirnya aktif di dunia riset, pendidikan dan juga birokrasi. Justru pengalaman mendapatkan amanah kepemimpinan pada eksekutif diharapkan menjadi tempat bereksperimen untuk melakukan objektifikasi nilai-nilai Islam pada praktek-praktek riil.
Buku platform yang diluncurkan Ahad lalu itu pun bukan merupakan produk akhir dalam domain pemikiran dan transformasi nilai-nilai Islam dalam mengelola negara. Akan ada revisi-revisi dan juga pendetilan-pendetilan pemikiran seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang diperoleh. Materi Platform ini sendiri, meskipun disebutkan ditulis selama kurang lebih 3 tahun ke belakang, sebetulnya merupakan kristalisasi pemikiran yang telah didiskusikan sekitar 10 tahun ke belakang.
Saya ingat wacana tentang masyarakat madani yang naik daun sebelum dan seiring gerakan reformasi di negeri ini, disambut oleh kader-kader dakwah cikal bakal kader PKS dengan diskusi-diskusi intensif. Tak kurang DR. Hidayat Nur Wahid mengangkat tema 'Masyarakat Madani' pada Khutbah Idul Fitri tahun 1998.
Gagasan industrialisasi pada platform ekonomi untuk membangun industri berbasis pertanian pernah diangkat DR. Sritua Arief (Allahu yarham) pada buku 'Pembangunanisme'. Tulisan beliau ini hadir lebih dari 10 tahun yang lalu. Sritua Arief menyimpulkan bahwa negara-negara maju tidaklah meloncat dalam melakukan kebijakan industrinya. Bahkan yang terjadi adalah 'agricultural-led industrialization'. Maka ide ini kembali diangkat PKS dalam platform-nya.
Begitu juga gagasan tentang kluster-kluster industri, menurut DR. Sohibul Iman ide tentang kluster ini pernah diangkat Departemen Perindustrian dan Perdagangan ketika dipimpin Pak Luhut Panjaitan. PKS memandang gagasan ini gagasan yang baik, akan tetapi tidak pernah direalisasikan secara optimal.
Ketika membaca masalah objektifikasi nilai-nilai Islam, saya pun teringat buku tulisan DR. Kuntowijoyo yang sempat dikaji beberapa tahun ke belakang. Pada buku itu diungkap gagasan tentang 'objektifikasi nilai Islam'. Sebuah strategi yang amat indah dalam menerapkan nilai Islam secara smooth, balance tapi juga clear dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kunto sendiri pernah menterjemahkan objektifikasi dalam tiga hal: 1) artikulasi politik dikemukakan melalui kategori-kategori objektif, 2) pengakuan penuh pada keberadaan segala sesuatu secara objektif; dan 3) tak lagi berpikir kawan-lawan, tapi perhatian ditujukan pada permasalahan bersama.
Dalam bahasa Kang Harna, Ketua MPP-PKS, dalam berdakwah pada fase kelembagaan, kita tidak bisa mengatakan 'pokoknya begini' atau 'pokoknya begitu'. Kita harus bekerja berbasiskan standar-standar keilmuan yang objektif. Sebutlah masalah ekonomi, kita mengatakan posisi kita 'bukan kapitalis, bukan pula sosialis', tapi kita tak sebutkan mana pemikiran kita. Jangan-jangan pemikiran kita memang masih yang 'bukan-bukan' *smile*. Karenanya Kang Harna sangat mendorong para pemikir muda PKS untuk membaca pemikiran-pemikiran modern dari Barat, disamping menggali khazanah pemikiran para ulama Islam. Inilah yang kemudian tercermin pada referensi yang digunakan dalam buku platform.
Wal hasil, apa yang tertuang pada buku platform ini adalah akumulasi pembelajaran PKS hingga saat ini. Dan sebagaimana sifat alami ilmu pengetahuan, di dalamnya tersimpan pemikiran dari banyak pemikir. Platform ini mencoba mengkristalisasikan pemikiran-pemikiran terbaik yang pernah ada.
Diantara pandangan yang saya pikir sangat penting buat para kader PKS adalah, pemunculan platform mesti diikuti dengan SDM yang siap menterjemahkan platform tersebut dalam pengelolaan negara. Mesti disiapkan ikon-ikon SDM yang siap mewujudkan setiap materi platform dalam kerja-kerja riil. Ini tantangan besar dalam proses penyiapan dan pemberdayaan SDM! Sebab objektifikasi nilai Islam berarti penyiapan SDM yang memahami betul agamanya (faqih fid dien) dan siap menterjemahkan agamanya dalam kerja-kerja kebajikan (fi'lul khayr) di keluarga, masyarakat dan juga pada pemerintahan negara.
Salam, Adi Junjunan Mustafa.
Seperti diberitakan beberapa media massa cetak, hari Ahad lalu (20 April 2008) bertempat di Binakarna, Bidakara-Jakarta, diadakan acara diskusi terbatas tentang Buku Platform Kebijakan Pembangunan, yang diterbitkan Majelis Pertimbangan Pusat PKS. Selain platform pembangunan, buku ini juga memuat falsafah dasar dan AD/ART PKS.
Pada catatan ini, saya akan menyampaikan gambaran umum pengantar dan tanggapan atas Buku Platform ini. Substansi isi buku semoga bisa dituliskan pada blog-entry berikutnya.
Buku ini diberi judul Memperjuangkan Masyarakat Madani. Ketua Majelis Syura PKS, K.H. Hilmi Aminudin, pada sambutannya menegaskan bahwa Buku Platform ini menjelaskan cara PKS memandang permasalahan bangsa dan negara Indonesia secara komprehensif. Dalam bahasa lebih populer, Presiden PKS Ir. Tifatul Sembiring mengatakan dengan membaca buku ini orang tidak perlu bertanya-tanya lagi apa isi amplop PKS itu? Sementara itu pada sambutan tertulis pada Buku Platform, K.H. Hilmi menegaskan bahwa buku ini menjadi bacaan wajib para kader, aleg, dan para pengurus PKS. Sebab buku ini memuat pesan-pesan pemikiran PKS untuk dikomunikasikan kepada segenap bangsa Indonesia dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera yang diridhoi Allah swt dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bertindak sebagai pembahas buku DR. Sohibul Iman (bagian Ekonomi dan Industri), Ir. Untung Wahono, MSi. (bidang Politik dan Hukum) dan Drs. Sapto Waluyo (bidang Sosial Budaya). Adapun penanggap adalah Menkeu, DR. Sri Mulyani (untuk bidang Ekuin), Prof. Jimly Asshidiqie (bidang Polhuk) dan Prof. Azyumardi Azra (bidang Sosbud). Secara umum ketiga penanggap memberikan apresiasi dengan diluncurkannya Buku Platform ini. Mereka juga sepakat PKS bisa dikatakan menjadi pelopor dalam menyampaikan program-programnya secara sistematis dan ilmiah. Ini menunjukkan keseriusan dalam bersiap mengurus negara. Akan tetapi ketiganya juga menyampaikan bahwa buku ini masih belum cukup untuk disebut platform. Dalam bahasa Sri Mulyani, buku ini lengkap memuat "what to achieve" tapi masih sangat kurang dalam membahas "how to achieve".
Kalau Tifatul Sembiring mengingatkan para kader untuk jangan menjadikan Buku Platform ini sebagai bantal (karena tebalnya), Sri Mulyani justru mengatakan buku ini membuatnya tak bisa tidur di pesawat terbang dalam perjalanan ke Amerika. Ia sangat menikmati buku itu, karena alur logika yang disampaikan begitu runut. "Sebagai tulisan ilmiah, isi buku ini saya beri nilai 100!" tegasnya, yang kemudian disambut dengan tepuk tangan hadirin.
Sesuatu yang amat disukai Sri Mulyani adalah penyebutan kata "bermartabat" dalam visi PKS: membangun masyarakat yang adil, sejahtera dan bermartabat. Adil adalah dalam kaitan pemenuhan amanah Ilahi, sejahtera dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan bangsa, dan bermartabat dalam pergaulan dengan masyarakat dunia. Sri Mulyani, dengan pengalaman pergaulan internasional yang luas, mengatakan "martabat" ini adalah sesuatu yang amat mahal dan saat ini memang masih belum secara optimal dimiliki bangsa ini.
Moderator diskusi, Syunmanjaya Rukmandis (alias Kang Syunman), mengatakan bahwa dengan persetujuan dua penanggap lain, Sri Mulyani sudah menggunakan waktu 35 menit dalam menanggapi buku ini. Masalahnya Sri Mulyani sendiri mengatakan dia tidak secara khusus diberi tahu penyelenggara untuk membahas sisi Ekonomi, makanya ia sudah membaca juga bidang polhuk dan sosbud. Lagi pula masalah ekonomi tidak bisa dipisahkan dari bidang-bidang pembangunan lainnya.
Prof. Jimly memang sepakat sebagian masalah polhuk sudah dibahas Sri Mulyani. Jimly menambahkan bahwa buku ini mencerminkan sikap dan kultur politik yang baik dari PKS. Ia menganjurkan agar partai-partai dan organisasi lain pun mesti memiliki platform yang jelas dalam kerjanya. Selanjutnya, untuk lebih memperkaya sisi-sisi praktis bidang polhuk, Jimly menyatakan kesiapannya apabila dimintai pandangannya dalam diskusi-diskusi yang lebih intensif.
Prof. Azyumardi menyampaikan apresiasi, bahwa PKS telah menyusun platform yang kaya dan lengkap. Ia bahkan terkejut dengan referensi bacaan yang disampaikan dalam Buku Platform, yang memuat pemikiran-pemikiran kontemporer dari penulis mancanegara (bukan hanya dari buku-buku penulis Timur Tengah) dan juga memetakan permasalahan lokal hingga global secara komprehensif. Ia juga sangat mengapresiasi usaha perumusan objektifikasi nilai-nilai Islam dalam membangun bangsa Indonesia. Baginya penerapan syariat Islam di tanah air adalah sesuatu yang amat alami, apabila itu dilakukan melalui proses objektifikasi nilai dan penelaahan mendalam (pada buku dituliskan platform yang ditawarkan amat memperhatikan aspek "kekinian" dan "kedisinian").
Azyumardi lebih jauh menyarankan agar buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, sebab informasi tentang PKS masih cukup bias di kalangan ilmuwan dunia (padahal para pemimpin di dunia akan membaca PKS dari para ilmuwan ini). Ia mengatakan, membaca buku ini menjadi pencerahan tentang siapa dan apa yang dimaui PKS di Indonesia.
***
Buku Platform Kebijakan Pembangunan "Membangun Masyarakat Madani" telah diluncurkan PKS. Buku ini menjadi semacam ensiklopedi permasalahan Indonesia dan ide mengentaskannya. Semoga para kader PKS segera mampu memahami dengan optimal isi buku ini untuk kemudian mendetilkan setiap agenda yang termuat dalam proses pembangunan di tanah air. Buku ini disebutkan untuk memandu perjalanan dakwah lewat PKS hingga tahun 2025. Sebuah tawaran visi dan pemikiran yang bukan main-main dan pastinya juga bukan hal ringan untuk mewujudkannya.
Salam, Adi Junjunan Mustafa
Sengaja saya tidak tuliskan judul "agenda urgen HADE", sebab penyebutan HADE itu melekat pada masa kampanye. Hari ini sudah keluar hasil resmi pilkada Jabar dari KPUD. Pasangan Ahmad Heriyawan - Dede Yusuf dinyatakan sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur baru Jawa Barat. Artinya harus mulai disosialisasikan bahwa Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf adalah milik semua orang di Jawa Barat. Mereka berdua mesti menjadi pengayom seluruh masyarakat. Mereka bukan lagi milik PKS atau PAN semata! Karenanya biarlah penyebutan HADE tidak lagi dibicarakan, sebab itu hanya akan mengingatkan sebagian besar rakyat Jabar (sekitar 60% pemilih pada pilkada) mengingat dua nama lain: DAI dan AMAN.
Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf (AH dan DY) mesti memulai hidupnya sebagai negarawan. PKS dan PAN boleh berbangga telah menghantarkan pemimpin baru yang masih muda untuk memimpin Jawa Barat. Akan tetapi PKS dan PAN tidak boleh berketerusan mengklaim bahwa mereka berdua adalah milik kedua partai ini semata.
Sementara KPUD menyelesaikan urusan pengukuhan terpilihnya AH dan DY, gubernur dan wagub ini mesti mempersiapkan langkah-langkah paling urgen menjelang hari-hari kepemimpinan mereka. Menurut saya agenda urgen bagi mereka adalah:
1. Kompilasi kembali janji-janji mereka selama kampanye, karena janji adalah hutang.
2. Melakukan kajian seksama bagaimana strategi pencapaian janji-janji di atas. Untuk ini perlu sungguh-sungguh memperhatikan faktor kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku. Dengan demikian pembaharuan kelembagaan dan peraturan, jika dirasa perlu, dapat dilakukan secara sistematis.
3. Berkenalan secara mendalam dengan segenap jajaran birokrasi Pemda Jabar. Termasuk mengenal dan mengevaluasi program-program yang selama ini dijalankan. Semoga melalui perkenalan ini terbangun jalinan pengertian. Tentu sebagai pemimpin baru, gubernur dan wagub mesti membangun mutual trust atau tsiqah mutabadilah dan kecintaan kepada anak buah yang mereka pimpin.
4. Berkenalan dan menjalin partnership yang baik dengan DPRD Jawa Barat untuk membangun Jawa Barat.
5. Melakukan perkenalan dan koordinasi dengan berbagai institusi pemerintah dan masyarakat yang bekerja pada level propinsi di Jawa Barat, termasuk kalangan Muspida Jabar. Termasuk dalam poin ini adalah bersilaturahim dengan segenap sesepuh Jawa Barat. Dari para sesepuh ini akan didapat kearifan menjadi pemimpin bagi masyarakat Jawab Barat.
6. Melakukan koordinasi dengan para kepala daerah (kabupaten/kota) dalam menjalankan fungsi-fungsi pemda propinsi secara optimal. Saat ini pemerintah daerah memiliki kewenangan yang besar lewat otda. Realisasi janji-janji pembangunan gubernur dan wagub baru pun pasti membutuhkan dukungan yang optimal dari para kepala daerah.
7. Pada skala individu Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf harus makin dekat dengan Allah swt. Sebab hanya dengan pertolonganNya mereka berdua akan memperoleh taufiq berupa keikhlasan, kelembutan hati, kecerdasan, ketegasan pada saat diperlukan, serta kemampuan untuk mempersatukan berbagai kalangan dalam membangun keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat.
Wallahu a'lamu bish shawwab.
Salam, Adi Junjunan Mustafa
Ternyata pasca hari H pemilihan bukanlah hari-hari tenang. Quick count yang semakin diterima menjadi bagian pemilihan umum mengundang pro dan kontra. Bisa dipastikan mereka yang kontra adalah yang kalah, merasa dirugikan atau terpukul dengan hasil quick-count. Sementara itu pihak yang menang, serta merta bersuka cita dengan hasil quick-count. Yang paling baik bagi semua pihak adalah menahan diri hingga penghitungan KPUD selesai. Secara aturan hukum, hasil KPUD itulah yang akan dijadikan dasar keputusan pemenang pilkada. Saya melihat pihak yang diprediksi menang mesti menahan diri untuk merayakan kemenangannya. Ini adalah cerminan sikap rendah hati dan tawadhu. Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk banyak bertasbih mensucikan Allah, bertahmid memujiNya dan beristigfar memohon ampunan kepada Yang Menerima Taubat dalam mensikapi kemenangan. Kemenangan itu hakikatnya adalah nashrun minalLaahi atau pertolongan Allah. Adapun tasbih adalah cerminan dari pengakuan bahwa dalam diri kita banyak sekali kekurangan, sehingga kita mesti terus memperbaiki diri, melakukan tazkiyyatunnafs atau pensucian jiwa. Tahmid adalah pengembalian segala keagungan hanya kepada Allah. Sikap ini akan meredam dan meruntuhkan segala sikap keakuan dan sombong. Dan taubat adalah refleksi dari jiwa yang senantiasa mengawasi dirinya agar tidak melenceng dari tuntunan dan perintah Allah swt. Sikap-sikap di atas adalah sikap yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau dalam mensikapi Fathu Makkah, terbukanya Mekkah dalam berdakwah (lihat al Quran, surat an-Nashr). Diriwayatkan bahwa Nabi saat memasuki Makkah lebih banyak menundukkan wajahnya dan bahkan posisi tubuh beliau digambarkan merunduk. Diriwayatkan pula bahwa beliau banyak bertasbih, bertahmid dan beristigfar sejak peristiwa itu, bahkan hingga akhir hayat beliau. Sikap berendah diri kepada Allah swt dan berendah hati kepada manusia itulah yang kemudian membuat penduduk Makkah mengakui keunggulan Nabi dan sahabatnya. Para sejarawan mencatat begitu sedikit terjadi perlawanan fisik dari penduduk Makkah. Karenanya sikap berlebihan dalam kemenangan, apalagi "merayakan" kemenangan dengan pesta pora, bukanlah sikap islami. Sikap memasang ucapan selamat pada spanduk-spanduk juga malah kontra produktif untuk memelihara suasana psikologis yang menenteramkan di tengah masyarakat. Bahkan dari substansi "memberi selamat" saja sudah menyimpang dari sikap islami yang sesungguhnya. Sebab kemenangan ini berarti amanah dan taklif atau beban kewajiban berat yang mesti dipikul nantinya. Alih-alih tenggelam dalam merayakan kemenangan, sebaiknya dilakukan segera konsolidasi untuk mengisi kepemimpinan yang betul-betul berkualitas dan profesional. Bukankah ada perintah "fa idzaa faraghta fanshob!" Apabila engkau telah selesai (dengan satu urusan), tetaplah bekerja keras (dengan urusan yang lain)! *** Sementara itu bagi mereka yang diprediksi kalah dalam pilkada lalu, alangkah baiknya apabila mensikapi kekalahan ini dengan wajar. Saya yakin semua kontestan pilkada lalu memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi Jawa Barat. Kesempatan berkontribusi ini mesti diawali dengan sikap menginginkan hadirnya ketenteraman di tengah masyarakat. Kekecewaan berlebihan apalagi kemarahan bukanlah sikap pemimpin sejati. Sikap pemimpin yang uring-uringan dan menyalahkan bawahannya, hanya akan menghasilkan kondisi dan suasana resah di kalangan bawahan. Pada gilirannya keresahan ini akan menular pada masyarakat umum. Masa-masa penantian hasil pilkada justru masa-masa yang baik untuk melakukan introspeksi. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang akan tetap memberikan apresiasi kepada bawahannya yang telah bekerja keras, walaupun hasilnya belum berupa kemenangan. Tentu saja apabila ada kelemahan-kelemahan terjadi pada proses kampanye atau bergeraknya mesin politik ada ruang-ruang evaluasi. *** Yang terpenting menurut saya adalah adanya kerendahan hati bagi pihak yang diprediksi menang dan kebesaran hati pada pihak yang diprediksi kalah. Kemuliaan seseorang itu hakikatnya bukan pada jadi tidaknya ia gubernur atau wakil gubernur. Kemuliaan itu ada pada ketakwaan dan kontribusi kebaikan seseorang, di mana pun posisi dan amanah itu terpikul pada pundaknya. Untuk seluruh masyarakat Jawa Barat, mari kita ciptakan suasana yang aman, damai dan tertib. Suasana chaos dan pertengkaran hanya akan merugikan kita bersama. Semoga Allah swt senantisa membimbing kita. Wallahu a'lamu bish shawwab. Salam, Adi Junjunan Mustafa # warga Bogor #
Beberapa quick count atau perhitungan cepat hasil pilkada gubernur dan wagub Jawa Barat menunjukkan kemenangan pasangan HADE (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf) di atas AMAN (Agum-Nu'man) dan DAI (Danny-Iwan). Angka capaian HADE pada kisaran 39-40%, sementara AMAN dan DAI masing-masing sekitar 35-36% dan 24-25%. Sebagian pengamat melihat kemenangan HADE sebagai kejutan. Sebagian bahkan menyebut sebagai ketiban durian runtuh. Apa sebenarnya rahasia di balik kemenangan HADE ini? Saya melihat paling tidak ada lima faktor kunci di balik keunggulan HADE: 1) rakyat yang ingin perubahan, 2) jaringan kader partai yang kuat dan dinamis, 3) faktor popularitas Dede Yusuf, 4) dukungan kaum muda dan 5) bertemunya PAN dan PKS. (1) Kalau kita ngobrol dekat dengan masyarakat umum, mereka sungguh merindukan hadirnya pemimpin yang betul-betul memperhatikan mereka. Rakyat terus-menerus dirundung kesulitan hidup. Ketika keluhan dan rintihan mereka tak pernah sampai pada satu titik dimana mereka sudah "pasrah". Maka momentum pilkada menjadi kesempatan para calon pemimpin untuk merasakan penderitaan rakyat. Mereka juga mengekspresikan janji untuk mengisi program pembangunan pro-rakyat. Dari beberapa obrolan dengan masyarakat di sekitar perumahan saya dan juga teman-teman kerja, terungkap janji HADE tentang penyediaan 1 juta lapangan kerja sungguh mereka nantikan. Begitu juga janji untuk menggratiskan sekolah sampai tingkat SMA amat mereka tunggu-tunggu. Pada masalah janji ini HADE punya comparative-advantage, sebab mereka adalah pendatang baru di ranah kepemimpinan publik. Rakyat tidak buta dan tidak tuli. Mereka mengetahui bahwa dua pasang kontestan lain sudah pernah punya kesempatan mempimpin dalam skala propinsi bahkan nasional. Sementara itu sampai saat ini kesulitan rakyat semakin menghimpit. Saya terus penasaran, kenapa masyarakat umum yang berpenghasilan relatif rendah banyak memilih HADE. Ternyata kerja-kerja sosial yang dilakukan kader-kader PKS amat berkesan di hati mereka. Dalam bahasanya yang sederhana bibi yang membantu di rumah kami berkata, "Kapan yang suka ngadain pasar murah, kesehatan gratis dari PKS ... Orang-orang kampung mah butuh dan seneng kalau ada acara gituan, Pak!" Jadi nampaknya pilihan kepada HADE dari masyarakat umum terkait dengan harapan mereka pada kepemimpinan baru. (2) Sementara itu jaringan kader yang kokoh saya lihat menjadi kekuatan besar yang dimiliki HADE. Yang saya amati langsung adalah teman-teman dari PKS. Mereka memiliki soliditas kerja hingga ke level ranting atau level desa. Bukan cuma itu, kegiatan-kegiatan pengajian hingga kelompok-kelompok kecil menjadi saluran komunikasi yang amat efektif untuk menyamakan persepsi, mengokohkan kesatuan spiritual serta menyamakan derap langkah. Kader yang terbina baik mentalitas, pemikiran dan teruji dalam kerja-kerja nyata berbeda dengan seonggok tubuh yang bergerak hanya kalau ada uang. Kader yang memiliki cita-cita luhur untuk mengorbankan apa yang mereka miliki demi kebaikan masyarakat dan menggapai ridho Ilahi berbeda dengan mereka yang orientasi hidupnya hanyalah masalah duniawi. Kader seperti inilah yang siap melakukan rapat konsolidasi hingga larut malam dan cukup disuguhi konsumsi martabak dan gorengan pinggir jalan. Kader seperti ini yang siap secara tulus berjalan hingga ke pelosok-pelosok kampung untuk menyapa masyarakat dan memperkenalkan pemimpin yang insya Allah akan memegang amanah, walaupun tak ada uang transportasi. Kader seperti ini yang sungguh-sungguh menabung walau hanya mampu 1000 rupiah sehari, hingga saatnya diinfakkan untuk dakwah. Atau ketika keadaan amat urgen, siap kokoreh uang yang mestinya buat belanja dapur untuk mensuplai biaya akomodasi para saksi, yang memang tak ada budget-nya. Atau pada sikap sigap dan senang hati para ibu untuk menyiapkan makan siang bagi para saksi di lapangan. Dan bahkan pada seorang yang karena lelahnya mengalami musibah kecelakaan serius di jalan, tapi berkata kepada ibunya, "Bu, jangan sedih ... insya Allah ini semua dicatat Allah sebagai perjuangan!" Pada mobilisasi tenaga dan dana-dana pribadi kader terukur soliditas mental, pemikiran dan gerak sebuah komunitas. Soliditas ini nampak pada penyiapan saksi-saksi secara sistematis (bukan sakatimu di jalan). Bahkan para saksi ini terus mengikuti kotak suara hingga ke kantor desa/kelurahan, padahal mereka tidak mendapatkan bayaran apapun untuk tugas itu. Soliditas juga nampak pada penyiapan proses quick-count dan real-count. Mereka siap datang menyampaikan data lapangan walaupun harus menempuh perjalanan selama 2-3 jam dan tiba tengah malam di tempat perhitungan. Faktor-faktor di atas nampaknya yang berada di luar jangkauan pemikiran para pengamat politik umumnya. Bisa jadi dalam praktek politik yang berlaku umum, berputarnya mesin politik selalu identik dengan uang yang disuplai "orang berduit". Atau dengan daya tarik artis yang sekedar mengumbar nafsu masyarakat yang sebetulnya harus diobati hatinya. Pada praktek politik yang ada amat sulit menemukan kekuatan cita-cita dan ideologis sebagai motor utama. Juga sangat sulit menemukan persaudaraan dalam perjuangan sebagai perekat hati saat bekerja. Bisa jadi ini yang membuat ungkapan "menangnya HADE adalah kejutan" terlontar. Yang sebenarnya, bergeraknya mesin politik ini didukung kuat oleh jaringan kader yang kokoh. Pemenuhan finansial di lapangan adalah adalah kebutuhan alami dalam proses sosialisasi calon pemimpin, tapi ia bukanlah faktor kunci kesuksesan. (3) Dede Yusuf adalah publik figur yang amat dikenal di masyarakat. Bisa jadi ia lebih dikenal daripada Danny, Iwan, Nu'man atau bahkan Ahmad Heriyawan sendiri. Mungkin hanya Agum yang relatif sama dikenalnya seperti Dede Yusuf. Saya melihat faktor popularitas Dede menjadi salah satu faktor kemenangan HADE. Akan tetapi ada sisi lain yang saya yakin bisa diamati masyarakat luas pada diri Dede Yusuf, yaitu kemampuannya berkomunikasi secara santun tapi tajam. Jawabannya akan memberdayakan mahasiswa-mahasiswa terpandai untuk menjadi think-tank HADE sungguh brilyan (mudah-mudahan benar akan dilakukan). Ketika ditanya Yudi Latif, bagaimana HADE akan menghadapi mayoritas anggota DPRD Jabar? Dede menyampaikan, bahwa yang akan ditawarkan adalah program bagi kesejahteraan rakyat. Maka ia yakin semua pihak akan sejalan. Ia juga sampaikan, dirinya dan Ahmad Heriyawan masih muda, maka mereka akan bersilaturahim, berkomunikasi dengan para senior di Jabar untuk meminta masukan-masukan. Faktor popularitas Dede bertemu dengan santunnya komunikasi, menjadi sebuah faktor penentu kemenangan HADE. Saya sempat ngobrol ringan dengan teman-teman di kantor, bisa jadi Dede ini serupa dengan Rano. Mereka artis tapi matang dan cerdas. Bukan artis yang sibuk dengan gonjang-ganjing rumah tangga, misalnya. Saya berharap Dede menjadi contoh artis yang sungguh-sungguh berhasil mendedikasikan dirinya bagi masyarakat lewat kerja-kerja birokrasi dan politiknya. Ada lagi obrolan ringan lainnya, yaitu yang terjadi di Jabar bukan masalah artis an-sich. Kalau cuma itu, mengapa hal ini tak terjadi di Banten (dengan Marissa Haque-nya) atau di Tangerang (juga dengan pasangan perempuan yang cantik)? Bisa jadi soliditas kader terutama kader akhawat terbangun, karena di Jabar ini meskipun pilihan jatuh pada artis, tapi ia adalah lelaki. Ini lebih dekat pada kebaikan ditinjau dari kesiapan menunaikan amanah dan juga ditinjau dari sisi nilai-nilai keislaman. (4) HADE adalah pasangan muda. Usia mereka baru 40-an. Meskipun belum ada survei tentang ini, saya yakin dukungan kaum muda kepada mereka amat besar. Yang pasti, tim pemenangan mereka di tingkat propinsi, tingkat kabupaten kota, hingga ke tingkat desa bahkan RT/RW mayoritasnya adalah orang-orang berusia 20 hingga 40 tahunan. Anak-anak SMA atau mahasiswa dugaan saya memberikan dukungan besar kepada HADE. Belum lagi para remaja putri menurut saya tidak sedikit yang pilihan pada HADE amat dipengaruhi dengan menawannya penampilan Dede Yusuf. Satu alasan yang sangat mungkin terjadi di lapangan ... *smile*. Sebetulnya sejarah memang membuktikan, perubahan-perubahan besar pada suatu komunitas lebih banyak ditentukan oleh anak-anak muda mereka. Tentu anak muda yang membuat perubahan adalah yang cerdas, berani dan siap bekerja keras. Tak usah jauh-jauh, bahkan di negeri ini, anak-anak muda lah yang mendorong agar proklamasi cepat dilakukan lewat peristiwa Rengasdengklok. Tokoh seperti Soekarno dan Hatta yang masih 40 tahunan usianya sudah termasuk "golongan tua" saat itu. Dalam perjuangan dakwah Islam, Nabi Muhammad berusia 40 tahun saat diangkat menjadi Rasul Allah. Dan para sahabat beliau kebanyakan berusia 20-30 tahunan. Hanya sedikit yang usianya dekat dengan Nabi. Maka bisa jadi pada usia muda ini adalah harapan bagi generasi muda untuk lebih besar berkontribusi dalam mengelola negeri ini, khususnya untuk propinsi Jawa Barat. (5) Last but not least, pada HADE ada senyawa PAN-PKS. Saya termasuk yang merindukan senyawa seperti ini. Para aktifis reformasi tahun 97-98 pasti merindukan hal yang sama. PAN dan PKS adalah dua partai di antara sekian partai lain yang lahir dengan semangat reformasi di negeri ini. Semogalah kesuksesan di Jawa Barat membuat tokoh-tokoh PAN dan PKS semakin erat berkomunikasi dan bersilaturahim. Dari komunikasi ini cita-cita reformasi yang masih banyak PR-nya bisa diselesaikan lebih cepat lagi. Saya yakin PKS dan PAN masing-masing punya kelebihan dan bisa saling mengisi dalam menyusun berbagai rencana strategis membangun negeri ini ke arah lebih maju dan lebih baik lagi. *** Masih banyak catatan tersisa dari pilkada Jabar, misalnya tentang langkah strategis apa yang mesti disiapkan HADE untuk membangun kepemimpinan yang smart dan efektif. Akan tetapi untuk tulisan tentang rahasia suskes HADE saya cukupkan sampai di sini dulu. Untuk masyarakat Jabar, selamat atas terselenggaranya pilkada yang secara umum berjalan lancar dan aman. Semoga pilihan kita di bilik suara hari Ahad lalu berujung pada terpilihnya pemimpin yang betul-betul jujur, amanah dan siap bekerja keras untuk rakyat. Dan semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin. Salam, Adi Junjunan Mustafa # warga Kota Bogor, yang jari kelingking kirinya masih berwarna biru tinta # Kamus Kata kokoreh = Bahasa Sunda, aslinya kata yang digunakan untuk menggambarkan kaki ayam yang sedang mencari makanan di tanah (kalau saya enggak salah *smile*). sakatimu = Bahasa Sunda, seketemunya. akhawat = Bahasa Arab, penyebutan bagi kader dakwah perempuan.
Dalam sebuah diskusi, saya mengangkat kisah Thalut yang diangkat menjadi raja bagi Bani Israil untuk memimpin perjuangan melawan musuh*). Kisah ini diawali dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi mereka untuk dipilihkan seorang pemimpin. Nabi mereka pun memberi tahu bahwa Allah telah memilih Thalut untuk menjadi pemimpin mereka. Kisah ini menarik, sebab di dalamnya terkuak beberapa aspek dalam pemilihan seorang pemimpin dan kondisi mereka yang dipimpin. Saya akan sampaikan secara ringkas aspek-aspek tersebut:
1. Tentang Kekayaan Pemimpin Bani Israil memprotes Nabi mereka, kenapa Thalut yang dipilih. Mereka memandang Thalut tidak layak menjadi pemimpin, karena ia tidak memiliki kekayaan yang banyak. Alasan ini tidak diterima oleh Nabi mereka.
Jadi jelaslah bahwa kekayaan itu bukan parameter utama untuk dipilihnya seseorang menjadi pemimpin. 2. Kekuatan Ilmu dan Fisik Pemimpin Kriteria pemimpin itu harus memiliki kelebihan ilmu dan fisik (basthatan fil 'ilmi wal jismi). Jelas kepemimpinan memerlukan wawasan yang luas, cara berpikir yang sistematis dan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Untuk ini prasyarat keilmuan menjadi amat penting. Seorang pemimpin juga mesti sehat secara fisik, karena tugas kepemimpinan memang memerlukan fisik yang kuat. Tidak mungkin seorang yang sakit-sakitan akan optimal dalam kepemimpinannya. Apalagi kalau penyakitnya penyakit berat seperti pernah terkena stroke akibat tekanan darah tinggi, penyakit jantung dll.
3. Sifat Malas Berjuang Nabi Bani Israil menanyakan kesungguhan Bani Israil untuk berperang kalau pemimpin mereka sudah terpilih. Jangan-jangan mereka hanya bicara saja ingin berperang, tapi akan mundur pada waktu perang. Bani Israil meyakinkan Nabi mereka. "Mana mungkin kami tidak berperang, padahal harta mereka telah dihancurkan dan kami pun terpisah dari anak-anak kami, " kata mereka.
Ternyata firasat Nabi mereka benar. Saat terjadi perang mereka mundur dari medan perang. Jadi perjuangan itu memang hanya diikuti oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh saja.
4. Tanda-tanda Kepemimpinan Kerajaan Thalut dimulai dengan tanda datangnya Tabut yang dibawa malaikat. Pada Tabut ini ada peninggalan keluarga Musa dan Harun.
Kepemimpinan itu memang disertai dengan kelebihan-kelebihan yang Allah swt berikan kepada sang pemimpin. Dalam hal Bani Israil, mereka amat hormat dan takut kepada Nabi Musa a.s. Karenanya peninggalan keluarga Musa efektif untuk membuat Bani Israil lebih mentaati Thalut.
5. Pengujian Pasukan Thalut memiliki kiat untuk menguji dan menyeleksi pasukannya dengan "air sungai". Dia melarang pasukannya minum dari sungai, kecuali sebatas yang dapat diciduk dengan tangan. Ternyata sebagian besar pasukannya tidak mengindahkan perintah Thalut. Mereka minum sepuasnya dari sungai dan ternyata mereka memang orang-orang yangberjiwa lemah. Mereka mundur saat pasukan Thalut mulai berhadapan dengan pasukan Jalut.
Penulis "Zhilaal" mengatakan, sungai adalah perumpamaan "harta dunia". Kelemahan jiwa hinggap pada mereka yang terlena dengan kenikmatan dunia. Kenikmatan dunia akan membuat seseorang berubah orientasi perjuangan. Semula hanya karena Allah, berubah menjadi karena harta dunia.
6. Sifat Kelompok Kecil dengan Kekuatan Iman Sisa pasukan Thalut yang sedikit amat yakin dengan bantuan Allah. Merekapun yakin akan pertemuan dengan Allah. Mereka berkata, "Betapa banyak pasukan yang sedikit dapat mengalahkan pasukan yang banyak dengan ijin Allah!" Mereka adalah contoh orang-orang yang bersabar dalam perjuangan.
Pasukan Thalut pun Allah bantu hingga menggapai kemenangan. Kemenangan atas pasukan Jalut ini menjadi bagian dari hikmah (kebijaksanaan) Allah untuk melindungi umat manusia dari kehancuran karena kejahatan sekelompok manusia yang lain.
WaLlaahu a'lamu bish shawwab.
Salam, Adi Junjunan Mustafa
*) Al Quran surat al-Baqarah:246-252. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat ini, kejadian pemilihan Thalut sebagai pemimpin terjadi setelah masa Nabi Musa a.s. Dalam rangkaian kisah ini juga muncul seorang prajurit yang dapat membunuh Jalut (Goliath), pemimpin pasukan musuh. Prajurit ini bernama Daud (David), yang kelak menjadi seorang Nabi dan Rasul.
Sahabat sekalian, Saya hantarkan sebuah tulisan dari KH Hasyim Muzadi yang beliau tulis di kolom Refleksi Republika. Beliau menyampaikan keprihatinannya karena saat ini syiar-syiar agama untuk mencintai Nabi Muhammad saw semakin luntur. Di satu sisi beliau mengingatkan betapa anak-anak kita semakin menjauh dari menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai sosok teladan yang harus terus dipelajari kehidupannya. Anak-anak kita malah lebih akrab dengan sosok-sosok produk industri hiburan dan bisa jadi secara tidak sadar "meneladani" mereka. Di sisi lain ada sementara kalangan umat Islam yang begitu gencar menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah bid'ah, hingga orang-orang muslim kebanyakan kehilangan momentum untuk mengingat kehidupan Nabi Muhammad saw. Padahal kecintaan kepada Nabi Muhammad adalah diantara bagian utama dalam berislam. Seperti kita maklumi, kecintaan kepada dan ittiba' (mengikuti dan meneladani) Nabi Muhammad saw adalah bagian inti dari keimanan umat Islam. Ini adalah wujud dari syahadat "dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah". Semestinya hari-hari umat Islam selalu diwarnai dengan ungkapan cinta kepada Nabi. Paling tidak sembilan kali dalam sehari semalam umat Islam mengucapkan shalawat Nabi dalam shalat wajib mereka. Akan tetapi pada prakteknya, kita masih perlu terus mendalami makna dari shalawat Nabi ini. Kecintaan mendalam itu hadir karena pengenalan yang mendalam juga. Di sinilah perlunya kita terus mempelajari dan menggali kehidupan Nabi Muhammad saw. Dan bagi saya, tak ada salahnya momentum Maulid Nabi dijadikan sarana pembelajaran massal kepada umat Islam akan pribadi teladan ini. Maka merupakan tantangan bagi para 'ulama, para asaatidz dan para muballighiin untuk mengenalkan tradisi-tradisi yang telah berkembang sekian lama seperti pembacaan shalawatan atau barzanji disertai makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian masyarakat pun semakin cerdas memahami arti acara-acara yang mereka ikuti. Tradisi ini pun tidak boleh berhenti sampai pada acara-acara serupa bertahun-tahun hingga menjadi tradisi tanpa makna. Ada baiknya acara shalawatan dan barzanji diperkaya dengan bedah buku Sirah Nabawiyyah misalnya. Berbagai buku Sirah ini belakangan sudah semakin banyak beredar di toko-toko buku. Lebih bagus lagi apabila ditampilkan bedah ayat-ayat Quran seputar kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad. Atau bahkan acara ini dipadukan dengan menonton filem ar-Risalah atau filem-filem lain yang menggambarkan perjuangan Nabi Muhammad saw. Kalau hal ini memasyarakat bisa jadi akan menarik para sineas muslim tanah air untuk memproduksi filem bermutu yang akan diminati umat Islam. Sementara itu kalau ada pihak-pihak tetap berkeras tidak menerima peringatan Maulid untuk tujuan dakwah, maka pihak-pihak ini mesti menghadirkan cara lain yang memasyarakat untuk bisa mengenalkan dan mengingatkan pribadi Nabi Muhammad saw secara kontinyu. Sebab melarang tanpa memberikan alternatif yang baik malah merugikan umat Islam sendiri. WalLaahu a'lamu bish shawwab. Jumat, 14 Maret 2008. Salam, Adi J. Mustafa *** Minggu, 09 Maret 2008 Mas Rofiq dan Maulidun Nabi Oleh : KH A Hasyim Muzadi Menurut hitungan kalender Hijriyah, hari Ahad ini kita tengah memasuki bulan baru, bulan paling menentukan sejarah kehidupan manusia. Ahad ini adalah tanggal 1 bulan Rabi'ul Awwal. Dua belas hari kemudian, hampir satu setengah abad yang lalu, Allah SWT mengejawantahkan titah-Nya. Maka kuasa-Nya yang telah ada sejak wujud-Nya, dan iradah-Nya yang ada bersama qidam-Nya, lahirlah seorang kekasih bernama Muhammad. Sesosok manusia yang yang pengaruhnya sungguh tak tertandingi dan rasa empati dan cintanya menyebar entah sampai di mana. Laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum, 'azzizun alaihi ma'anittum hariishun 'alaikum bil mu'miniina ra-uufun rahiim Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan [keimanan dan keselamatan] bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Demikian antara lain sebuah penggalan ayat dalam Alquran yang mendeklarasikan kehadiran Baginda Rasul di alam semesta. Sebuah penggambaran yang sungguh menyejukkan dan mengharubiru kamanusiaan kita. Syahdan, karena ingin menunjukkan rasa cinta kepada junjungan yang mulia ini, kaum Muslimin di kampung-kampung nan udik, selalu melakukan persiapan khusus menyambut hari kelahiran Sang Baginda. Para orangtua mengajar anak-anaknya untuk membuat ancak dari pelapah daun pisang. Dirangkai membentuk kubus dan diisi dengan aneka ragam makanan khas kampung. Nasi kuning, telur rebus, macam-macam buah hingga lauk sekadarnya. Menjelang sore hari, jalan-jalan kecil menuju masjid setempat sudah ramai dengan aliran panjang anak manusia menjinjing ancak sebelum akhirnya dipertukarkan dengan ancak-ancak lainnya milik tetangga dekat dan tetangga jauh. Malam hari, adalah saat di mana puja-puji dalam rangkaian kalimat barzanji mengalun nari mulut-mulut mungil nan suci manusia kampung. Mereka pulang dengan ancak yang isinya sudah berbeda dengan sebelumnya karena mereka mendapatkan ancak hasil pertukaran. Pulang membawa berkah kecintaan mereka keada Baginda Rasul. Arkian, Mas Rofiq Hadi termasuk salah seorang di antara anak-anak kecil masa lalu di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, yang kini sudah tinggal di Jakarta. Sekali waktu, ia sempat mengeluh karena kehidupan modern telah membuat semua tradisi masa lalu seperti sengaja dipinggirkan bahkan dihilangkan dengan berbagai dalih dan motivasi. Memperingati hari kelahiran Baginda Rasul dianggap tradisi tanpa dasar dan tak memiliki rujukan dalil agama. Beberapa malah menilainya sebagai bid'ah. Karena alasan itu pulalah, maka kini kita merasa kesulitan menikmati alunan shalawatan dan barzanji saat seorang bayi lahir, dan saat dia akan dikhitankan. Bahkan menjelang akil baligh hingga memasuki masa pernikahannya, puja-pujian kepada Baginda Rasul seperti lenyap entah ke mana. Padahal, katanya mengenang, bila bayi lahir, lalu menjadi pengantin sunat, hingga ia menikah dan lalu meninggal, hanya satu yang setia menemaninya; pembacaan shalawat. Itu dulu. Kini, ke manakah gerangan tradisi yang sejatinya merupakan percikan cinta terdahsyat kepada Sang Rasul ini? Hari Maulidun Nabi atau Miladur Rasul, kini tak lebih dari sekadar sebuah angka pada kalender dengan warna merah. Anak-anak kita sudah tak terbiasa mendengar lantunan shalawat. Pada memori mereka boleh jadi sudah tak terdapat indeks soal nama besar Nabi Muhammad SAW. Dunia kita benar-benar telah mengantarkan generasi Muslim masa kini kepada dunia yang sungguh kering tanpa cinta. Kita bahkan terbiasa mendidik anak-anak kita untuk menjadi megaloman sehingga tak pernah lewat satu tahun pun untuk tidak mengenang tanggal kelahiran mereka sendiri. Maka mengalunlah melauki sound system atau organ tunggal lagu wajib Selamat Ulang Tahun sebagai pengganti shalawatan. Setelah itu, maka sudah terhidangkan di hadapan anak-anak yang lucu-lucu ini sebuah situasi di mana mereka siap mencari bentuk jati dirinya. Maka tak heran kalau kader-kader entertainer jauh lebih banyak jumlahnya dibanding kader-kader dalam profesi lainnya. Sains modern menyebutkan bahwa bayi-bayi dan anak-anak yang masih suci itu memiliki daya rekam yang sangat kuat dalam memori mereka. Dokter spesialis dan pertumbuhan anak, kadang menyarankan para orangtua untuk memperdengarkan alunan lagu klasik versi Mozart atau Beethoven agar dapat membantu pembentukan kepribadian. Kedua komponis ini memang telah melahirkan karya cipta yang luar biasa tetapi Baginda Rasul jauh lebih luar biasa dari keduanya. Para orangtua kita dahulu, di kampung, sejatinya telah membuatkan sebuah medium yang mengasyikkan bagaimana kita mencinta Rasulullah. Kalau sedari kecil pendengaran kita sudah terbiasa dengan shawatan dan salam kepada orang yang paling kita cinta, maka ke depan, cermin kita adalah apa yang menjadi tempat curahan cinta kita. Manusia modern, lalu secara sistematis, mendegradasi bentuk-bentuk cinta kepada Rasul sebagai sebuah stigma yang sangat negatif. Setelah dianjurkan untuk ditinggalkan, memperingati Maulidun Nabi, bahkan dianggap sebagai sebuah tindakan kultus individu. Sebuah stigma yang sungguh menyakitkan. Tetapi begitu anak kita hafal beberapa lagu dan nama seorang penyanyi, maka kita akan memberikan tempat khusus kepada anak kita. Duh Gusti! Stigma ini semakin menjadi pukulan telak begitu kita mencinta Baginda Rasul lalu dianggap sebagai sebuah bid'ah. Setiap bid'ah adalah menyesatkan dan setiap yang sesat di neraka. Kalau kategori ini dijadikan alat justifikasi dan labelisasi, maka tentu tak terbilang berapa jumlahnya muslimin-muslimat 'kampung' yang tak mengenal Mozart dan Beethoven, bakal terhantam julukan menyakitkan sebagai pelaku praktik bid'ah. Dunia kini, bukan saja telah sukses membuat kita semakin jauh dari cinta kepada Baginda Rasul, tetapi juga telah merasa berkuasa menentukan kapling-kapling surga dan neraka. Cinta kita di dunia ini sejatinya adalah cinta tak berbalas sedang cinta kepada Rasul adalah cinta sejati. Kata-kata seperti apalagi yang dapat menjelaskan betapa agungnya kecintaan Rasul kepada kita, sampai-sampai menjelang tarikan napasnya yang terakhir, yang muncul justru desahan ummati-ummati [umatku-umatku] dari dua belahan bibir beliau. Karena itu, sebuah riwayat menjelaskan, jika seorang ummat Islam berziarah lalu menyampaikan salam, maka Baginda Rasul akan memohon kepada Allah agar mengembalikan rohnya untuk menjawab salam tersebut. Sekali waktu menjelang shalat berjamaah di Masjidin Nabi, seorang badui Arab bertanya kepada Rasulullah kapan kiamat datang. Karena shalat terlanjur dididirikan, pertanyaan tak sempat dijawab. Begitu selesai, Rasululullah menanyakan apa persiapan yang telah dilakukan menghadapi kiamat. ''Hamba tidak mempersiapkan bekal yang memadai kecuali bahwa hamba mencinta Allah dan Rasul-Nya,'' ujar Si Badui. Jawaban Rasulullah singkat, ''Anta ma'a man ahbabta. (Engkau akan bersama dengan yang engkau cinta)'' Sahabat Anas Bin Malik menggambarkan, ''Aku belum pernah melihat kaum Muslimin berbahagia setelah masuk Islam karena sesuatu seperti bahagianya mereka ketika mendengar sabda Nabi itu.'' Kita semestinya sadar bahwa amal sebesar apa pun tak akan mampu mengantar kita bertemu Allah. Hanya cinta kepada-Nya dan kepada Rasulullah, maka hidup ini sampai ke titik kulminasinya. Selamat menyambut Maulidun Nabi Muhammad SAW. Wallaahu a'lamu bishshawaab.
Dalam sebuah obrolan santai paman saya yang tinggal di Kuningan, Jabar, menyampaikan sebuah pernyataan dalam bentuk pertanyaan. "Bukankah sebuah urusan itu kalau tidak diserahkan kepada ahlinya akan menimbulkan kerusakan?" Saya dan istri yang belum tahu arah pembicaraan mengiyakan pernyataan itu, karena memang seingat kami itu pernyataan yang pernah diungkapkan Nabi Muhammad saw. Ternyata obrolan berkembang ke masalah pilkada Jabar.
Yang disoroti paman saya pembandingan antara pasangan DA'I (Danny-Iwan) dan HADE (Ahmad Heriyawan-Dede Yusuf). Danny, yang saat ini menjabat gubernur, katanya merintis karir di pemerintahan dari mulai level desa (atau kecamatan?). Sedangkan Dede Yusuf, background-nya artis. "Ahmad Heriyawan, apa background-nya?" tanya paman. Yang menjawab kemudian adalah istri. Ia mengatakan bahwa Ahmad Heriyawan itu lulusan syariah, tapi sudah dua periode jadi anggota legislatif DKI-Jakarta dari PKS. Dede Yusuf sendiri berpolitik bersama PAN dan jadi anggota legislatif pusat.
Saya senyum-senyum aja mendengar obrolan antara istri dan paman. Paman sampai sekarang sering diminta jadi penasihat hukum Partai Golkar. Meskipun dia sendiri sudah apatis dan kehilangan trust pada proses pencalegan di PG atau partai manapun. "Cuma maen uang aja, 'A!" katanya kepada saya berkali-kali. Ketika tahu istri saya aktif dalam kegiatan kaderisasi dakwah di PKS, obrolan tentang politik cukup mewarnai kunjungan-kunjungan kami, meskipun porsinya tak banyak.
Saya ketika mendengar pernyataan tentang "pengalaman dan keahlian" Danny, tidak bisa memberikan tanggapan kecuali mengatakan, "Saya tidak pernah mengkaji secara khusus prestasi atau kegagalan Danny dalam kepemimpinannya." Hanya saya sampaikan ada sebuah adagium kekuasaan yang berbunyi "power tends to corrupt, absolute power corrupts absulutely". Artinya kalau Danny menang, maka mesti ada pengawasan yang ketat, sebab birokrasi yang dia bangun dalam 5 tahun belakangan tentu birokrasi yang makin mengokohkan "power"-nya [1].
Di sisi lain, Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf adalah pendatang baru di kancah eksekutif. Backround pendidikan kepemerintahan jelas kalah dibandingkan Danny Setiawan, apalagi dibantu Iwan Sulanjana yang mantan Pangdam III Siliwangi.
Apa yang lebih dari HADE? Menurut saya kelebihannya adalah bahwa mereka berusia muda dan pendatang baru. Pantas kalau pada poster mereka diangkat frase "harapan baru Jawa Barat". Orang berusia muda itu punya potensi mendobrak stagnasi birokrasi dan budaya korup birokrasi. Ini masih sangat relevan dengan peringkat Indonesia yang masih terpuruk dalam hal korupsi birokrasi [2].
Usia muda juga menyimpan kelemahan, yaitu pada kurangnya pengalaman dalam eksekutif, meskipun mereka berdua pasti lumayan belajar banyak dari kealegannya. Mereka juga mesti menghadapi tantangan konsolidasi birokrasi yang bisa jadi menyimpan resistensi pada usaha-usaha perubahan budaya yang buruk pada birokrasi, termasuk masalah korupsi. Belum lagi tantangan yang sifatnya alami, yaitu seperti apa kelak pola komunikasi "anak-anak muda" ini kepada para birokrat senior yang sudah berkarir sekian lama menuju eselon II dan I di propinsi Jabar [3].
Di balik persaingan DA'I, HADE, dan juga AMAN (Agum-Nu'man), saya sebetulnya lebih konsern dengan upaya-upaya pencerdasan masyarakat agar mereka punya "bashiroh" atau daya nalar yang kuat dalam memilih pemimpin. Dan ini adalah peran dari third sector in the society dalam meneliti dan mengangkat informasi tentang tiga pasang calon gubernur dan wagub Jabar. Untuk ini perlu lembaga-lembaga yang betul-betul berusaha keras objektif dalam melakukan pemberdayaan dan pencerdasan masyarakat [4].
Konsern penting saya lainnya adalah pada mentalitas dan attitude para birokrat pemerintahan. Sudah sangat "mutawatir" (sangat diketahui publik) bahwa segelintir diantara para pejabat pemda itu sangat kaya. Memiliki tanah puluhan atau ratusan hektar itu bukan hal aneh di kalangan mereka. Padahal mereka adalah para pimpinan dari sebuah komunitas "aparatuur" negara. Kita merindukan birokrasi yang bersih dan profesional. Siapapun pemimpinnya, birokrasi berjalan efektif dan memiliki kepedulian serta etos kerja dalam melayani publik. Ini yang harus dibangun.
Dan rakyat, masyarakat Jawa Barat khususnya, mesti sungguh-sungguh memanfaatkan momentum pilkada 13 April 2008 nanti untuk memilih pemimpin paling tepat. Di tengah berbagai kelebihan dan kekurangan pasangan-pasangan cagub-cawagub, semoga Allah swt memberikan kejernihan hati dan pikiran kepada masyarakat Jabar untuk memilih yang terbaik.
Bogor, 11 Maret 2008, Adi Junjunan Mustafa = urang sunda asli, just an ordinary citizen of Jabar =
[1] To some extent hal yang sama juga berlaku buat Nu'man Abdul Hakim, wagub Jabar saat ini, yang akan maju sebagai cawagub mendampingi Agum Gumelar sebagai cagub.
[2] Sindo hari ini (11 Maret 2008) melaporkan hasil survei PERC (Political and Economic Risk Consultancy) tentang masih buruknya peringkat Indonesia pada masalah korupsi, bahkan pada pemeringkatan di antara negara Asia. (Sindo 12 Maret 2008, melaporkan kritik pemerintah RI thd hasil survei PERC. Biar both cover story ... hehehe).
[3] Setahu saya masih sangat sedikit simpatisan dan pendukung PKS dan PAN yang menduduki posisi-posisi penting pada birokrasi pemda Jabar. Lagi pula, siapa yang bisa mengalahkan banyaknya orang PG di birokrasi? Mereka sudah masuk ke sana puluhan tahun *smile*, meskipun di era reformasi ini mulai terbuka kesempatan lebih luas untuk orang non-PG "memasuki" birokrasi.
[4] Menurut saya usaha pencerdasan masyarakat ini masih merupakan usaha amat berat dalam iklim perpolitikan di tanah air. Usaha pencerdasan masyarakat butuh dana, sedangkan para penyandang dana cenderung lebih tertarik mengucurkan kapitalnya untuk para calon penguasa. Investasi yang lebih "tokcer" keuntungannya. Hal ini pernah diangkat La Ode (pimpinan DPD), bahwa proses pilkada cenderung menjadi ajang pertarungan para pemegang kapital besar. Jadi mereka yang mencurahkan perhatian pada percerdasan masyarakat (termasuk kerja-kerja dakwah) yang tulus-ikhlas adalah orang-orang langka yang sangat dibutuhkan bangsa ini.
Sahabat sekalian,
Perenungan dan pencarian hikmah itu bisa dari mana saja dan dari siapa saja. Buat seorang muslim tentu saja al-Quran dan as-Sunnah merupakan sumber utama pencerahan jiwa dan akal pikiran. Setelah itu ada banyak hikmah yang bisa kita petik di sekeliling kita. Seperti kisah yang disampaikan sahabat saya yang bekerja di Departemen Pertanian tentang kebahagiaan jiwa seorang petani yang sarjana IT.
Kisahnya saya bagi kepada sahabat semua. Semoga kita bisa memetik manfaat.
Salam, Adi JM.
=====
"As you sow, so will you reap" (pepatah Inggris)
Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik, demikian pepatah inggris itu mengatakan. Kalau kita menanam kebaikan dengan ikhlas yang kita petik pastilah juga kebaikan sebaliknya jika kita menanam keburukan, selalu menebar benih kebencian dan kekacauan meskipun dengan dalih ilmiah yang mumpuni dan sehebat apapun kelak, yang kita dapat pastilah juga keburukan.
Dalam sebuah kunjungan lapangan saya bertemu seorang petani muda yang sukses di Cianjur. Ia begitu menikmati hidup dengan bercocok tanam padi, kesuksesannya coba disosialisasikan kepada para pemuda yang tidak mau turun ke sawah karena becek dan kotor tapi malah memilih ngojek dengan penghasilan yang tidak juga besar. Di rumah saungnya yang besar di tengah hamparan padi dan sawah demplotnya, ada yang menarik yang dia katakan ketika saya bertanya, "Bagaimana rasanya seorang lulusan universitas jurusan IT dapat menikmati pekerjaan tani?" Jawabnya, "Intinya semua pekerjaan itu sama, dia akan menghasilkan yang terbaik buat kita asal kita menyenanginya. Saya menyenangi bertanam padi dan berhubungan dengannya karena apapun yang saya lakukan kepadanya, jika itu sesuai dengan hak- haknya maka padi-padi itu akan melaksanakan kewajibannya memberikan hasil yang terbaik buat saya, seperti yang selama ini saya dapatkan. Tanaman-tanaman berbeda dengan manusia, mereka tidak pernah mengkhianati kita". Ia mengatakan ini sambil tersenyum.
Seandainya setiap petani punya mind-set seperti dia, maka banyaknya petani yang sejahtera tentu tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama.
Membangun negeri kita adalah membangun masyarakat dan orang-orangnya yang 60% lebih diantaranya adalah para petani. Merubah mind-set petani untuk menjadi sejahtera memang bukan perkara mudah. Subsidi 8 triliyunan rupiah dari pemerintah untuk para petani tidak akan berarti apa-apa jika mind-setnya tetap tidak mau berubah. Yang lebih penting lagi tentu saja mindset kita semua, yang jadi penggeraknya. Mind-set yang membuat kita percaya bahwa negeri ini akan bangkit dan bahwa harapan itu masih ada.
"Keep the spirit high"
RL ----- )|( - )|( - )|( -----
Bismillaahi wassalaamu'alaikum.
Poligami memang masih menjadi masalah sosial di tanah air. Setiap kali masalah ini mencuat, ia menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Kalau kejadiannya mengenai public figure yang dikenal luas, maka semakin luas juga masyarakat yang memperbincangkan.
Terus terang obrolan masalah poligami bukan menjadi prioritas obrolan saya tentang keluarga. Saya lebih tertarik membicarakan topik bagaimana membangun keluarga yang dapat berkomunikasi secara harmonis. Masalahnya, dalam pengamatan saya, pengetahuan dan skill dalam berumah tangga menjadi hal yang masih kurang mendapat perhatian di masyarakat kita. Permasalahan ini baru menjadi perhatian seksama ketika terjadi problem dalam rumah tangga.
Akan tetapi pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan catatan singkat tentang poligami dari beberapa kejadian yang ada di sekeliling saya, yang semoga menjadi pelajaran berharga buat kita semua.
Pertama, secara aturan syariat Islam, kebolehan seorang muslim lelaki menikah dengan maksimal empat orang perempuan sudah tersurat dalam Kitab al-Quran (QS an-Nisa, 4:3). Tidak mungkin Allah swt membolehkan suatu tindakan kecuali ada kemaslahatan yang tersimpan di dalamnya.
Terkait ayat di atas, konteksnya adalah arahan Ilahi agar seorang muslim berhati-hati apabila menikahi anak perempuan yatim dan tidak berlaku adil (ada tendensi buruk dengan menikahinya). Untuk itu dipersilakan bagi seorang muslim lelaki menikahi dua, tiga atau empat orang perempuan lain (selain anak yatim itu). Kemudian dipesankan agar berlaku adil dalam poligami. Dan jika tak dapat berlaku adil, maka diarahkan agar menikah dengan seorang perempuan saja.
Kedua, di dalam sejarah, tercatat bahwa Rasulullah saw menikahi seorang perempuan, yaitu Siti Khadijah ra. dalam waktu yang lama, yaitu dari usia beliau sekitar 25 th hingga usia sekitar 50 th, atau sekitar tahun ke-10 setelah beliau menjadi Rasul Allah. Setelah itu beliau menikahi perempuan-perempuan lain. Para sejarawan muslim mencatat banyak hikmah di balik pernikahan beliau dengan para istri beliau, diantaranya:
- Pernikahan dengan Aisyah binti Abubakr ra, melahirkan berbagai catatan hadits Rasulullah saw, yang sebagiannya (misalnya hadits-hadits tentang adab berhubungan intimnya suami-istri) tidak mungkin tercatat, kecuali dari seorang istri. Para ilmuwan hadits pun mengakui bahwa Aisyah menjadi salah satu dari mata rantai (sanad) penggalian hadits (sumber hukum kedua setelah al-Quran) yang amat diandalkan.
- Pernikahan dengan Ummu Salamah ra, adalah demi membantu seorang mukminah yang telah banyak berjuang yang ditinggal suaminya yang gugur di medan perang demi kejayaan Islam. Ummu Salamah sendiri termasuk diantara istri Nabi saw yang cukup banyak meriwayatkan hadits dari beliau.
- Pernikahan dengan Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab ra adalah demi menghibur hatinya yang telah ditinggalkan ayahnya (yang seorang pimpinan Yahudi Bani Quraizhah) dan sanak keluarganya dalam peperangan Kaum Muslimin dengan Bani Quraizhah. Dengan dinikahinya Shafiyyah kedudukannya menjadi terhormat di kalangan Umat Islam.
- Dst.
Kita dapat mendalami kajian tentang hikmah pernikahan Rasulullah dengan para istrinya ini, karena telah banyak dikupas oleh para ilmuwan muslim, termasuk dari kalangan muslimah, seperti Prof. Aisyah Abdurrahman yang menulis buku "Istri-istri Nabi". Pada buku ini disebutkan bahwa beberapa istri beliau seperti Aisyah, Ummu Salamah atau Syafiyyah adalah perempuan-perempuan yang cantik. Pada sisi ini nampaklah bahwa kesukaan pada kecantikan merupakan hal yang alami ada pada lelaki manapun. Akan tetapi kita mendapatkan catatan yang amat tegas, bahwa Nabi Muhammad saw secara sempurna meletakkan pernikahannya dalam bingkai dakwah. Allah selalu membimbing beliau untuk meletakkan dakwah di atas masalah lain, termasuk dalam mengelola rumah tangganya. Untuk masalah ini Said Hawwa mencatatnya dengan amat baik dalam bukunya "Ar-Rasul saw".
Ketiga, jika ada diantara lelaki muslim yang telah siap berpoligami, maka menjadi hak baginya untuk melakukan itu. Tentu saja mesti melekat dalam pemilihan berpoligami ini kesiapan untuk berbuat adil kepada istri dan anak-anaknya terdahulu. Akan lebih mulia apabila pernikahan kedua hingga keempatnya ini juga dilandasi motivasi keislaman yang kuat dan bukan semata karena dorongan syahwat biologis. Apabila ia seorang pimpinan dakwah, perlu diperhatikan juga kemaslahatan bagi dakwah dan umat Islam yang pasti akan mengamati kehidupan keluarganya secara seksama (saya sampaikan lebih detil pada akhir tulisan).
Dalam beberapa kasus, kita menemukan berpoligami adalah sikap mulia. Ini misalnya terjadi pada saat seorang perempuan ditinggal suaminya, sementara ia mesti membimbing anak-anaknya yang masih kecil. Lelaki yang menikahinya untuk membantu melanjutkan kehidupan dan membina anak-anaknya jelas seorang lelaki yang mulia dan berani mengambil tanggung jawab berat dan besar. Pada masyarakat yang masih aktif melakukan peperangan demi meraih dan menegakkan kemerdekaan, pastilah kondisi banyaknya perempuan yang suaminya gugur di medan perang, menghajatkan betul poligami. Ini adalah contoh di mana poligami menjadi sebuah solusi sosial yang amat penting.
Keempat, amat disayangkan banyak lelaki muslim berpoligami dengan entry point yang tidak baik.
Diantara entry point yang cukup sering terjadi adalah kegagalan dalam membangun rumah tangga harmonis dan ini diikuti dengan perselingkuhan. Beginilah kasus-kasus yang langsung saya amati terjadi.
Ketika perselingkuhan terjadi, pastilah terjadi kebohongan-kebohongan. Acara pendekatan kepada lawan jenis, bisa jadi ditutupi dengan "ada rapat mendadak". Berkurangnya nafkah finansial ditutupi dengan "ada alokasi lain mendadak" atau "ada infak yang amat urgent". Dan pada kebohongan-kebohongan ini jelas terdapat dosa, apalagi terhadap istri dan anak-anak yang mestinya ia sayangi. Kebohongan ini akan menjadi dosa besar kalau menjadi sebuah kebiasaan berbohong.
Sesuatu yang diawali dengan kebohongan dalam berumah tangga pastilah tak akan membawa keberkahan. Kebohongan pastilah membuat dada resah dan berguncang. Maka kebohongan ini membawa sikap-sikap turunannya yang juga tidak terpuji. Dalam kasus poligami, diantara sikap ini adalah ketidakadilan terhadap istri terdahulu dan terhadap anak-anaknya.
Poligami yang disebabkan karena gagalnya membangun rumah tangga yang harmonis, hampir pasti akan melahirkan ketidakharmonisan berikutnya. Untuk memenej satu keluarga saja sudah gagal, maka bagaimana hendak memenej dua, tiga atau empat keluarga?
Jadi kesimpulan saya, bukan pada poligaminya terdapat masalah. Masalah terjadi apabila proses menuju poligami itu tidak baik. Dan ini sangat terkait dengan kualitas kepemimpinan seorang suami dan kesetiaan seorang istri dalam membangun keluarga harmonis.
***
Saya ingin sampaikan catatan khusus untuk para lelaki muslim yang aktif dalam dakwah. Seorang muslim, apalagi seorang da'i, pastilah akan memperhatikan permasalahan sosial dalam langkah hidupnya. Pemasalahan poligami di tanah air ini merupakan persoalan yang "asing". Masyarakat kita pun masih terlalu banyak menemukan poligami yang berimpit dengan kegagalan dalam membina rumah tangga. Istilah bagi istri yang dinikahi lagi setelah istri pertama adalah "istri muda". Istilah ini muncul di masyarakat, karena kenyataannya itulah yang mereka temukan. Seorang suami menikah lagi, karena tertarik pada perempuan yang lebih muda. Inilah sekelumit potret bagaimana masyarakat kita memandang poligami.
Sementara itu masih sangat sedikit contoh-contoh yang dapat diteladani dari para lelaki muslim yang berpoligami. Masih sedikit muncul pembelajaran bagi masyarakat tentang keluarga-keluarga yang harmonis dalam kondisi poligami.
Dalam kondisi sosial di atas para lelaki muslim, khususnya para du'at, sepatutnya memperhatikan dengan sungguh seksama tatkala ingin mengambil kebolehan poligami dalam berumahtangga. Mesti membangun diri untuk memenuhi kriteria pemimpin rumah tangga yang baik (fungsi ke-qawwam-an). Mesti ada persiapan manajemen keluarga yang amat matang, termasuk masalah finansial. Mesti terjalin komunikasi yang harmonis dan baik terhadap istri, anak-anak dan keluarga dekat. Mesti ada komunikasi, dialog seksama dan syura dengan sahabat-sahabat seperjuangan dalam dakwah tentang pilihannya ini. Dan yang paling penting, mesti menata hati untuk meluruskan niat sebelum mengambil keputusan untuk berpoligami. Ini tuntutan yang amat layak bagi seorang da'i, sebab sikapnya pasti akan memiliki pengaruh terhadap umat Islam.
Wallaahu a'lamu bish shawwab.
Bogor, 4 Februari 2008, Adi Junjunan Mustafa.
|  | Bangsa Palestina, yang saat ini berada dalam salah satu puncak penderitaan, akibat ditutupnya (blokade) berbagai akses ekonomi dan sosial oleh penjajah Israel. Pasokan energi listrik diputuskan. Pasokan makanan dan minuman sangat dibatasi. Akses ke luar negeri pun ditutup. Bangsa Palestina, terutama anak-anak dan orang tua, menderita. Sementara itu pembunuhan dan penangkapan pejuang Palestina terus dilakukan.
Keadaan internal bangsa Palestina pun dirundung masalah. Akibat politik klasik "devide et impera", dua kubu besar di Palestina, Fatah dan Hamas, diceraiberaikan dari persatuan. Sungguh ini fitnah yang memilukan, karena sesungguhnya ada musuh bersama yang mesti dihadapi bersama untuk kemerdekaan Palestina.
Pada demo ini kembali digalang aksi "one man one dollar, to save Palestine". Umat Islam sedunia diajak untuk membangun solidaritas untuk membantu saudaranya di Palestina sana. Ini adalah ujud ukhuwah islamiyah yang tak dibatasi kawasan politik negara. Bahkan solidaritas ini menjadi simbol perjuangan global melawan penjajahan di muka bumi yang tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Bangsa Indonesia, dengan mayoritas penduduknya yang muslim, diajak untuk menjadi pelopor perjuangan ini. Bangsa Indonesia pasti mengetahui bagaimana pedihnya dijajah. Bangsa Indonesia pasti menyadari, betapa pentingnya arti kemerdekaan untuk melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara menuju keadilan dan kesejahteraan. Aksi solidaritas mendesak Pemerintah RI untuk memberikan dukungan nyata terhadap bangsa Palestina, sesuai janji yang pernah disampaikan Pemerintah kepada mereka melalui PM Palestina.
Bangsa Palestina menyampaikan salamnya kepada bangsa Indonesia. Mereka mohon didoakan agar tetap bersabar dan tabah dalam perjuangan. Meskipun listrik dimatikan, mereka tetap memenuhi masjid-masjid untuk sholat berjamaah Shubuh. Mereka tetap yakin bahwa Allah akan menolong hamba-hambaNya yang taat kepadaNya.
Semoga Allah swt terus menggelorakan semangat umat Islam di dunia ini untuk maju menuju kejayaan. Kemudian dengan kejayaan ini tersebarlah rahmat, kasih sayang kepada seluruh alam. Aksi solidaritas kepada Bangsa Palestina ini sesungguhnya menjadi momentum untuk mengokohkan jiwa dalam menebarkan kebajikan di mana pun berada. Dan itulah yang tengah dan mesti dilakukan umat Islam di mana pun. Saudara yang jauh di sana diperhatikan betul keadaannya oleh muslim Indonesia, maka pastilah keadaan di tanah air amat diperhatikan juga. Momentum ini digelar untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa umat Islam dan bangsa Indonesia terus memperhatikan dan mendukung perjuangan saudaranya di Palestina.
Bogor, 28 Januari 2008, Adi J. Mustafa
Link Berita: - Gaza Merintih, Di Mana Sisi Kemanusiaan? - Diam Sama Dengan Bunuh Rakyat Palestina
|
Bismillaahi wal hamdu lillaahi. Assalaamu'alaikum.
Diantara kerinduan para orang tua yang aktif dalam kegiatan dakwah adalah terwariskannya semangat berdakwah kepada anak cucu keturunan mereka. Ini adalah kondisi alamiah yang bahkan diabadikan dalam al-Quran dalam munajat Nabi Zakaria as:
"... yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya'qub; dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai" (QS Maryam, 19:6)
dan juga tersurat dalam do'a hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah:
"Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS al-Furqan, 25:74)
atau pada do'a seorang hamba yang mencapai kematangan spiritual ketika usianya menginjak 40 tahun:
''Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'' (QS al-Ahqaf, 46:15)
Tentu saja harapan, doa dan pewarisan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran ini hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan (at-tarbiyyah).
Pada prakteknya secara tidak disadari saat ini tengah terjadi ketidakseimbangan porsi perhatian pada pendidikan anak. Ketidaksadaran orang tua ini bisa terjadi paling tidak karena tiga faktor:
- Kesibukan;
- Kesalahan persepsi;
- Kesulitan ekonomi.
Kesibukan Aktifitas dakwah saat ini memang memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan pada era tahun 80-an atau 90-an. Pada era 80-an dakwah masih berdimensi pembinaan internal para kadernya. Pada era 90-an perluasan sasaran dakwah baru berkembang pada masyarakat lewat pendekatan kultural. Saat ini dimensi kerja dakwah selain melingkupi apa yang telah dikerjakan sejak tahun 80-an, mesti memikul juga tugas-tugas struktural kenegaraan lewat aktifitas politik.
Ada banyak imbas pada kehidupan keluarga aktifis dakwah dengan semakin luasnya bidang garapan dakwah. Dalam konteks pendidikan anak imbas ini berupa semakin sedikitnya waktu teralokasi untuk pendidikan anak-anak.
Kesalahan Persepsi Sebagian orang tua secara tidak sadar beranggapan bahwa pewarisan nilai dakwah terjadi karena hubungan darah semata. Kemudian terlupakanlah bahwa proses pendidikan membutuhkan perhatian seksama, dialog, keteladanan, hingga pemilihan institusi pendidikan formal tempat anak-anak bersekolah. Terkait dengan pemilihan sekolah anak. Alhamdulillah seiring tumbuhnya anak-anak kader memasuki usia sekolah, berdiri sekolah-sekolah dengan kurikulum pendidikan Islam secara terpadu. Makna terpadu diantaranya adalah memadukan muatan-muatan 'ulum diniyyah dan 'ulum kauniyyah (ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu alam/sosial). Ini satu pendekatan yang baik. Pada pendekatan ini bukan hanya faktor pragmatis memenuhi kebutuhan sekolah bagi anak-anak muslim. Akan tetapi di dalamnya tersimpan motivasi kuat untuk mengimplementasikan ide besar para ilmuwan dunia Islam untuk melakukan islamization of knowledge. Sampai pendirian institusi pendidikan tidak ada masalah, walaupun mesti diakui melahirkan kurikulum islami dan realisasi praktisnya bukanlah pekerjaan mudah. Butuh kerja keras dan usaha untuk senantiasa memperbaharui kurikulum ini. Yang menjadi masalah adalah, sebagian orang tua merasa ketika mereka sudah mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah islam terpadu, mereka merasa selesai dengan tugas mendidik. Diantara parameter kejadian ini adalah dengan jarangnya mereka menghadiri pertemuan-pertemuan orang tua dan wali kelas yang diselenggarakan sekolah. Walaupun belum menjadi trend umum, ada pengelola pondok pesantren yang bercerita, bahwa ada orang tua (yang nota bene aktifis dakwah senior) yang selama tiga tahun belum pernah hadir dalam pembagian raport anaknya. Inilah contoh kesalahan persepsi orang tua yang mengakibatkan anak-anak merasa diabaikan. Tentu kondisi seperti ini akan melahirkan suasana kejiwaan yang labil pada anak. Tidak heran kalau kemudian terjadi kasus-kasus anak seorang aktifis dakwah yang "bandel"-nya melebihi proporsi yang semestinya. Kesulitan Ekonomi Seiring pertumbuhan usia anak-anak kader dakwah, kebutuhan ekonomi pun meningkat. Ditambah lagi suasana perekonomian negara membuat laju inflasi sering tidak terkendali. Harga-harga semakin mahal. Termasuk biaya pendidikan pun semakin hari semakin mahal. Pada sekolah islam terpadu terdekat dari rumah kami saja, uang pangkal masuk SD hampir mencapai 7 juta rupiah tahun ini. Dibandingkan 5 tahun ke belakang, uang pangkal ini sudah hampir dua kali lipat lebih mahal.
Kesulitan ekonomi ini tentu saja bukan hanya terasa pada biaya pendidikan anak. Berbagai kebutuhan primer pangan, papan dan sandang pun semakin membutuhkan biaya besar. Akibatnya, kondisi kejiwaan para kader dakwah, sebagai suami-istri ataupun sebagai orang tua, sering tidak stabil. Pada kondisi ini keharmonisan komunikasi rumah tangga terganggu. Demikian juga pemenuhan peran sebagai orang tua tidak dapat dilakukan secara optimal. Orang tua, terutama suami, dipacu untuk mencari penghasilan yang mencukupi. Sementara itu kesibukan dakwah pun tidak dapat ditinggalkan. Keadaan seperti ini, langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak kader dakwah.
***
Sejak awal dakwah ini dicanangkan, disadari bahwa marahilul 'amal (tahapan-tahapan 'amal) mesti melalui jenjang perbaikan pribadi muslim, perbaikan keluarga-keluarga muslim, perbaikan masyarakat, hingga perbaikan kondisi negara dan bahkan dunia. Karenanya kesibukan memperbaiki negara, diantaranya melalui aktifitas dakwah pada dimensi kepartaian akan menjadi semu, ketika proses perbaikan keluarga terabaikan.
Sekarang, bagaimana perasaan para orang tua yang aktif dalam dakwah mendapatkan ucapan anak mereka,"Kalau sudah besar aku enggak mau seperti abi dan ummi?" Tentu secara kejiwaan orang tua akan terpukul dengan ucapan ini. Apalagi, sebagaimana disampaikan pada mukadimah tulisan, kerinduan untuk mewariskan nilai-nilai dakwah adalah fitrah para orang tua.
Sebetulnya perkataan anak-anak ini bisa dianggap wajar sebagai respon ketidaksenangan dengan sibuknya orang tua mereka. Akan tetapi pernyataan ini bisa berarti serius, ketika kalimat ini tersimpan dalam benak terdalam mereka dan akan terus melekat hingga usia dewasa nanti.
Lalu bagaimana kita meneropong permasalahan pendidikan anak kader dakwah dalam konteks sosial di tanah air, yang memang tidak kondusif dalam masalah pendidikan anak dan remaja? Cukupkah pendidikan anak hanya mengandalkan institusi sekolah, sementara penciptaan lingkungan masyakarat yang "ramah pendidikan anak/remaja" terabaikan? Mengapa pada era 80-an dan 90-an begitu marak aktifitas remaja masjid, sedangkan sekarang tidak ada lagi kemarakan itu? Bagaimana pula langkah-langkah sistematis yang harus ditempuh gerakan dakwah untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi pendidikan anak? Insya Allah pada seri tulisan mendatang permasalahan di atas akan kita diskusikan.
--- bersambung ---
Bogor, 24 Januari 2008, Adi Junjunan Mustafa |
|