Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Adi Junjunan's posts with tag: lingkungan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag lingkungan
Dari: http://geospasial.multiply.com/journal/item/4

Forum Ilmiah Bakosurtanal – April 2008

Balai Geomatika, BAKOSURTANAL, merintis forum diskusi ilmiah.  Nama forum ini Forum Ilmiah Bakosurtanal (FIB). Presentasi terutama disampaikan oleh teman-teman yang baru lulus sekolah (master atau doktor). FIB akan diadakan setiap bulan. Untuk bulan ini dilakukan hari ini, 29 April 2009. Di bawah ini disampaikan abstrak beberapa presentasi yang disampaikan.

ALOS: Satelit dari Jepang

DR. Ade Komara menyampaikan presentasi tentang citra DAIICHI Advance Land Observing Satellite (ALOS) yang diluncurkan tahun 2006. ALOS memiliki tiga sensor, PRISM (citra pankromatik 2,5m), AVNIR-2 (multispektral 10m), dan PALSAR (SAR, 15-100m).

Bakosurtanal melakukan riset pemanfaatan data ALOS ini bersama LAPAN. Di samping itu untuk keperluan pemetaan dasar rupabumi, para peneliti Bakosurtanal melakukan investigasi ekstraksi DEM dan unsur rupabumi dari PRISM bersama peneliti dari RESTEC dan JAXA, dua agensi yang masing-masing bertanggung jawab pada masalah pemasaran dan penelitian ALOS.

Untuk kawasan yang sering ditutupi awan seperti Indonesia, wahana satelit yang lengkap membawa sensor pankromatik, multispektral dan radar menawarkan solusi berarti untuk proses pemetaan dasar dan juga pemetaan tematik.

Banjir Pasang ROB: Faktor Lokal atau Global?

DR. Ibnu Sofyan menjelaskan masalah pemodelan arus laut global. Pemodelan ini menggunakan HYCOM dengan validasi data pasang surut dan data dari satelit altimetri. Pemodelan dilakukan pada skala global dan skala regional. Data hasil skala global  (resolusi spasial sekitar 100 km/grid) digunakan untuk pemodelan skala regional dengan resolusi spasial sekitar 10 km/grid.

Hasil pemodelan ini dapat diaplikasikan untuk menjelaskan mekanisme terjadinya banjir pasang laut (ROB) yang terakhir melanda pantai utara Jakarta pada tanggal 14-15 Juni 2007. Menurut penelitian ini, banjir pasang lebih banyak disebabkan faktor global, yaitu sebagai efek La-Nina, yang menyebabkan kuatnya arus air laut dari Samudra Pasifik menuju Nusantara terutama melalui Selat Makassar. Ibnu meyakinkan bahwa faktor global ini lebih besar daripada efek lokal, sebagaimana diyakini sebagian peneliti lain.

Penelitian Kerentanan dan Kapasitas Masyarakat dalam Menghadapi Banjir

Mone Iye, MSc. memaparkan penelitiannya tentang kerentanan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana banjir. Studi kasus dilakukan di Kampung Melayu, Jakarta. Dengan melakukan wawancara kepada 83 keluarga, Mone telah memetakan berbagai aspek sosial ekonomi mulai dari masalah kualitas rumah/pemukiman, pendidikan, kondisi finansial (pekerjaan), dan lain-lain. Selain itu bagaimana masyarakat merespon datangnya banjir pun termasuk masalah yang diteliti.

Hasil riset menunjukkan bahwa masyarakat tetap memilih tinggal di kawasan rawan banjir karena mereka tidak memiliki alternatif lain. Dengan kata lain, desakan faktor ekonomi memaksa mereka tinggal di tempat rawan banjir itu. Kerentanan terhadap banjir makin besar ketika pendapatan makin kecil, pendidikan makin rendah, dan kualitas rumah makin buruk. Anak-anak, orang tua dan perempuan terbukti lebih rentan terhadap bencana.

Analisa Pergeseran Garis Pantai di Jawa Timur

Habib, MSc. mempresentasikan penelitian tentang pergeseran garis pantai di dua kawasan studi: Delta Rungkut dan Delta Porong, Jawa Timur. Pada penelitiannya Habib menggunakan data peta tahun 1945 dan tahun 2006. Disamping itu pada selang waktu dua tahun tadi, digunakan juga berbagai data spasial (peta dan citra) untuk mengkaji perubahan secara time-series.

Hasil penelitian Habib menunjukkan bahwa pada Delta Rungkut terjadi pergeseran garis pantai dengan kecepatan rata-rata sekitar 57 m/tahun. Artinya pada selang waktu 1945-2006 pantai semakin menjorok ke laut sekitar 3 – 3,5 km. Pergeseran ini berlangsung bersamaan dengan pendangkalan pantai.

Cibinong, 29 April 2008.
Dikompilasi oleh Adi Junjunan Mustafa.



Photo AlbumGunung Ciremai (5 photos)Jan 18, '08 2:36 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Letaknya di Kabupaten Kuningan. Dari Kota Kuningan Ciremai ini letaknya di sebelah Barat.

Saat kami akan mengunjungi anak-anak yang bersekolah di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Jalaksana, Kuningan, kami sempat mengabadikan pemandangan Gunung Ciremai dari kejauhan.

Kalau dilihat pengambilan foto dari jalan raya di antara Sumedang-Kadipaten, maka Husnul Khotimah ada di balik Gunung Ciremai. Untuk mengambil pemandangan gunung atau bukit kecil tepat berlatar belakang Gunung Ciremai, kami sempat berbalik arah dahulu di jalan raya. Nikmat juga mengabadikan Gunung Ciremai ini. Butuh usaha mencari waktu dan posisi yang tepat.

Mahabesar Allah dengan ciptaanNya yang indah di alam semesta ini. Gunung Ciremai hanyalah satu dari keindahan cintaan Allah swt.

Kami bagi hasil jepretan sederhana kami ini kepada sahabat MP. Kalau meng-kopi dan menayangkan ulang tolong disebutkan sumbernya ya ... *smile*.

Salam,
Adi dan Lia

Blog EntrySikap Keimanan dalam Menghadapi Bencana BanjirJan 5, '08 8:28 PM
for everyone

Sikap Keimanan dalam Menghadapi Bencana Banjir[1]

Adi Junjunan Mustafa[2]

Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan ulah tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali. Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di muka bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS 30, Ar-Ruum:41-42)

Beberapa pekan belakangan ini, kita menyaksikan bencana banjir melanda tanah air kita. Luapan Bengawan Solo telah mengakibatkan banjir pada kabupaten-kabupaten dan kota-kota yang dilalui sungai ini di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara itu sebagian wilayah Jakarta pun terkena banjir akibat luapan sungai Ciliwung. Bencana banjir juga terjadi di Sumatera, Sulawesi dan wilayah-wilayah lain di tanah air.

Kita tentu berduka dengan bencana yang melanda tanah air ini. Kita senantiasa berdoa kepada Allah swt semoga bencana ini segera berakhir. Kita pun sedapat mungkin mesti memberikan bantuan kepada saudara-saudara yang tertimpa musibah. Sungguh berat beban derita yang mereka alami. Dalam beberapa kasus bahkan dilaporkan banjir telah menelan korban jiwa. Ditambah dengan bencana tanah longsor, kejadian yang juga berkorelasi kuat dengan musim penghujan, semakin banyak korban jiwa dan kerugian materil serta moril yang dialami bangsa ini.

Ulah Tangan Manusia

Pada kondisi ini, sebagai seorang yang beriman, kita sepatutnya melakukan kontemplasi dan perenungan. Keyakinan kita mengatakan bahwa Allah swt telah meletakkan neraca kesetimbangan di alam ini. Karenanya kita pun diperintahkan untuk menegakkan kesetimbangan dan jangan melabrak kesetimbangan itu (QS 55, ar-Rahmaan:7-9).

Pada surat ar-Ruum ayat ke-41 Allah swt mengangkat masalah kerusakan lingkungan hidup baik di daratan ataupun di lautan dan mengaitkannya dengan ulah tangah manusia. Ulah tangan manusia ini dapat ditafsirkan pada perilaku tidak sadar lingkungan. Ini dapat terjadi mulai dari skala sikap individu hingga sikap pemerintah dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.

Pada skala individu orientasi kehidupan yang materialistis membuat pengambilan keputusan yang ingin memperoleh keuntungan pribadi, tanpa menghiraukan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan. Sikap ini membuat seseorang sembarangan membuang sampah. Sikap ini juga dapat mewujud dalam bisnis yang tidak mengindahkan faktor lingkungan. Tidak sedikit individu yang ingin dan telah menguasai kawasan-kawasan yang menjadi penyangga lingkungan hidup, seperti kawasan pegunungan yang tangkapan air di hulu sungai-sungai. Di sana dibangun villa-villa peristirahatan demi mendapatkan kenyamanan individu dan keluarga.

Sikap-sikap individual ini akan semakin merusak ketika bekerja dalam skala kolektif dan ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang tidak sadar lingkungan dan korup. Keinginan individu mengusai kawasan penyangga lingkungan bertemu dengan bisnis properti yang didukung oleh para pemodal dan perbankan. Berdirilah perumahan-perumahan di kawasan yang mestinya tidak boleh dibangun. Terlalu banyak contoh untuk ini. Pembabatan hutan-hutan mangrove demi reklamasi pantai dan pembangunan perumahan di kawasan pantai, membuat kawasan rawan banjir pasang laut. Pembangunan kota yang membabi buta, membuat habisnya kawasan resapan air.

Pembabatan hutan di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) menyebabkan penggelontoran air di permukaan bumi semakin besar. Proses pendangkalan sungai akibat tergerusnya tanah pada DAS pun terjadi. Pada saat curah hujan tinggi ditambah lagi dengan anomali iklim yang besar, seperti saat ini terjadi, maka sungai tak lagi dapat menampung debit air yang mengalir. Terjadilah luapan air dan banjir.

Jadi ungkapan Allah swt tentang akibat ulah tangan manusia mesti kita tafsirkan sebagai akumulasi berbagai sikap manusia yang tidak sadar lingkungan hingga ambisi bisnis dan kebijakan pemerintah yang merusak lingkungan hidup. Jangan salahkan Bengawan Solo, jangan katakan ”banjir kiriman Bogor”. Alam ini mencari kesetimbangan yang saat ini tengah dilanggar manusia.

Terlewatinya kemampuan sungai menampung debit air di atasnya adalah cerminan terlabraknya batas life support system atau batas daya dukung lingkungan untuk menopang kehidupan manusia. Pada surat ar-Ruum:41, diungkapkan ”agar manusia merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka”. Demikianlah, manusia memiliki kecenderungan lalai dengan kekeliruan yang mereka lakukan, sampai mereka merasakan bencana. Bencana banjir yang tejadi di berbagai tempat saat ini memang diakibatkan curah hujan yang lebih tinggi daripada rata-rata. Akan tetapi di balik bencana banjir yang terjadi, kita dapat mengukur kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Derita akibat kerusakan lingkungan ini pun Allah firmankan hanya sebagian dari kerusakan yang mungkin lebih besar.

Allah selalu menghendaki kebaikan kepada hamba-hambaNya yang baik. Karenanya pada akhir ayat diungkapkan ”semoga manusia kembali (kepada Allah)”. Ungkapan ini mendorong manusia untuk mengoreksi kesalahan diri dan bertaubat kepada Allah swt. Ungkapan ini juga dapat ditafsirkan agar manusia kembali merujuk kepada aturan-aturan ilahiyah. Kata rujuk sendiri berasal dari bahasa Arab ra-ja-’a, kata yang digunakan pada akhir ayat di atas “yarji’uun”. Artinya bencana yang terjadi hendaknya membuat manusia kembali merumuskan berbagai sikap serta kebijakan dan implementasinya agar sesuai dengan naraca kesetimbangan yang telah Allah tetapkan di alam ini.

Terus Belajar dan Memperkokoh Akidah

Pengarahan qurani berlanjut pada ayat ke-42 dari surat ar-Ruum. Pada ayat ini kita diperintahkan untuk melakukan perjalanan atau penjelajahan sejarah untuk mempelajari kejadian-kejadian orang-orang sebelum kita. Sejarah ini bisa kejadian-kejadian yang telah lama berlalu, bisa juga kejadian yang masih relatif baru. Terkait bencana banjir, sebetulnya kejadian ini adalah kejadian tahunan yang selalu terjadi. Karenanya sepatutnya kita sungguh-sungguh belajar dari bencana banjir ini.

Ayat ke-42 ini mengungkap permasalahan mendasar di balik berbagai ulah manusia yang merusak lingkungan, yaitu permasalahan akidah. Allah memberi tahu kita bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang yang musyrik, orang yang tidak men-tauhid-kan Allah dalam kehidupannya. Mengesakan Allah ini memang terkait dengan keyakinan bahwa Allah lah al-Hakim, yang berhak menetapkan aturan atas manusia. Karenanya segenap aturan manusia mesti merujuk pada aturanNya. Mengesakan Allah juga berarti Allah adalah al-Malik, yang menguasai alam ini. Karenanya manusia tidak boleh berbuat sesuatu yang merusak alam ini. Akhirnya, al-Malik pun berarti bahwa Allah akan mengadili manusia atas perbuatan yang mereka lakukan selama kehidupannya di dunia. Karenanya, siapapun mestinya khawatir akan nasib dirinya di hadapannya pengadilanNya pada Yaumil Mizan kelak.

Wa Allahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, Ahad, 6 Januari 2007.



[1] Tulisan ini merupakan penuangan ringkas materi Khutbah Jum’at, tanggal 28 Desember 2007 di Masjid Komplek Perumahan Mutiara Sentul, Cibinong-Bogor dan tanggal 4 Januari 2008 di Masjid al-Kautsar, Komplek Griya Anggraini, Cibinong-Bogor.

[2] Salah seorang khutaba pada Lembaga Dakwah Khairu Ummah, Cabang Kabupaten Bogor; Peneliti pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

 

Blog EntryBe Spatial to be SpecialNov 18, '07 11:17 PM
for everyone
Motto yang tertulis pada judul tulisan ini adalah motto yang diangkat Bakosurtanal (1) pada ultahnya yang ke-38, tanggal 10 Oktober lalu. Maknanya amat luas, tapi kalau diringkas kurang lebih "milikilah kesadaran/kecerdasan masalah ruang, agar mendapatkan kenyamanan dalam hidup".

Informasi spasial atau keruangan saat ini semakin banyak dikenal dan digunakan masyarakat. Bentuk sajian yang umum digunakan adalah peta cetak dan atlas. Atlas bahkan sudah diakrabi anak-anak SD ketika belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS). Sebagian kalangan sudah mulai menggunakan teknologi penentuan posisi dengan satelit: GPS (Global Positioning System), yang diintegrasikan pada handphone misalnya. Sebagian perusahaan taksi sudah menggunakan GPS untuk memonitor dan memandu armada taksinya dalam beroperasi. Service kepada pelanggan pun bisa dilakukan lebih efisien. Pemilihan armada yang menerima panggilan dari pelanggan bisa dilakukan secara cepat, sebab semua armada taksi bisa termonitor posisinya dari kantor pusat.

Pada kalangan pemerintahan saat ini ada beberapa kerangka besar program yang mendorong pemanfaatan informasi spasial secara massive. Program e-Goverment punya misi melakukan transformasi penyelenggaraan pemerintahan dari manual menuju berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Salah satu data penting yang mesti bisa digunakan secara interoperabilitas adalah data spasial (2).

Departemen Dalam Negeri, melalui Ditjen Bina Pengembangan Daerah, menggulirkan program Sistem Informasi Profil Daerah (SIPD). Hasilnya lumayan banyak daerah yang sudah punya situs web untuk mempromosikan daerahnya. Mimpinya, SIPD ini jadi alat bantu untuk mengatur dan mengolah data dan informasi untuk kepentingan perencanaan pembangunan.

Sementara itu kantor-kantor Bappeda di provinsi dan kabupaten/kota, mesti makin teliti menyusun rencana tata ruangnya, sebab arahan UU Tata Ruang (nomor 26/2007) sudah harus ditepati dan sanksi atas penyimpangan terhadap UU ini sudah enggak main-main lagi. Hukumannya mulai 3 hingga 15 tahun dengan denda sebesar 500 juta sampai 500 milyar rupiah (pasal 70).

Bakosurtanal semakin memantapkan peran dalam program e-Govt dengan lahirnya Perpres 85/2007 tentang Jaringan Data Spasial Nasional (JDSN). Perpres ini intinya mengatur dan mendorong instansi pemerintah di pusat, provinsi hingga kabupaten kota untuk membangun jejaring data dan informasi spasial. Instansi-instansi pemerintah ini jadi simpul-simpul jaringan.

Sementara itu payung undang-undang untuk menata informasi geo-spasial masih terus diperjuangkan. Saat ini sebuah tim dari Bakosurtanal sedang terus menyusun draft RUU Tata Informasi Geografis (atau Geospasial). Dengan UU ini diharapkan data dan informasi spasial bisa betul-betul membuat penyelenggaraan pemerintahan kita makin cerdas spasial. Bukan hanya untuk sektor publik, sektor privat (swasta) juga diharapkan makin akrab dengan data spasial untuk memajukan bisnis mereka. Akhirnya, tentu saja rakyat makin nyaman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dengan kemudahan memperoleh informasi spasial, contohnya untuk memilih tempat tinggal, menikmati transportasi publik yang nyaman, air ledeng (PAM) dan listrik (PLN) yang makin mantep pelayanannya dll.

Sekarang tinggal kesungguhan dari para birokrat pemerintah yang terlibat pada pembangunan data dan informasi spasial untuk terus membangun sistem yang ada semakin sempurna dan yang penting: operasional.

***

Be spasial to be special. Lemahnya kecerdasan spasial, membuat bencana banjir tiap tahun selalu datang dan makin parah. Lemahnya kecerdasan spasial, membuat negeri yang subur ini malah mesti repot impor bahan makanan, daging juga susu. Lemahnya kecerdasan spasial, membuat hutan kita semakin hari semakin habis. Setiap tahun 1.9 juta hektar hutan dibabat. Angka ini setara dengan hilangnya hutan seluas 300 kali lapangan bola setiap menitnya!!! (3) Karena lemahnya kecerdasan spasial negeri yang kaya akan sumber daya mineral ini malah membiarkan kekayaannya dinikmati orang-orang asing (dan segelintir komprador asing di negeri ini).

Di tengah berbagai aktifitas pembangunan infrastruktur data spasial, saya dan beberapa teman memang agak pesimis. Etos kerja aparat pemerimtah memang masih naik turun. Kerja berdasarkan proyek (baca: ada uang honornya) masih terasa dominan. Saya juga membaca ada budaya kerja yang sangat bergantung pada SK (surat keputusan), sementara itu dalam tugas rutin sebenarnya sudah ada topoksi yang jelas. Pendeknya, tata kerja birokrasi masih lembam. Apakah ini disebabkan gaji pegawai pemerintah masih rendah? Bisa jadi. Tapi semangat dan idealisme pegawai pun memang ada pada posisi mengkhawatirkan.

Khusus tentang program e-Govt, SIPD, dan JDSN, saat ini bisa dibilang baru pada fase awal. Pada fase melukis mimpi. Ada beberapa success story sudah dilakukan kabupaten, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Kebanyakan Bappeda provinsi dan kota masih kebingungan menterjemahkan berbagai regulasi dan program yang digulirkan pemerintah pusat. Oalaa ... rupanya era otda masih belum beranjak dari proses adaptasi.

***

Pada kegiatan Rakortek SIG yang diadakan di Jakarta, tanggal 14 Nopember lalu, perwakilan dari Kabupaten Sragen diundang untuk menyampaikan presentasi. Rakortek bertajuk "Pemanfaatan Teknologi SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk Mendukung Terbangunnya Sistem Informasi Berbasis Web" ini memang dimaksudkan untuk jadi forum tukar menukar pengalaman. Nah, Kabupaten Sragen tahun ini memperoleh e-Govt Award yang diselenggarakan Dep-Kominfo untuk tampilan SIPD-nya.

Yang menarik saya catat adalah Pak Ir. Budi Sulihanto, dari Bappeda Kabupaten Sragen, membuka presentasi low-profile-nya dengan menyampaikan visi "Sragen Smart Regency" atau "Sragen menjadi Kabupaten Cerdas" (4). Pak Budi mengatakan, Bupatinya ingin rakyat jadi cerdas dan sejahtera. Apapun harus dilakukan agar rakyat makin sejahtera. Salah satunya dorongan untuk membangun sistem informasi yang handal di Sragen. Dan itulah yang terjadi ... Tim Pak Budi sampai saat ini sudah membantu paling tidak 17 Kabupaten/Kota untuk membangun sistem informasi seperti punya Sragen.

Saat menyampaikan komentar, saya sampaikan, pada buku "Geographic Information Management (GIM) for Local Authorities" yang mengupas kasus di UK, disebutkan bahwa pendorong utama beroperasinya GIM adalah keinginan untuk melakukan pelayanan publik yang baik! Untuk itu saya sampaikan apresiasi kepada Pak Budi dkk. Semata dorongan teknologi atau semata dorongan proyek pusat, tak bisa menggulirkan SIPD, JDSN atau e-Govt. Tapi dorongan praktis untuk memberikan kemudahan kepada rakyat adalah energi besar!

Untuk memberikan pelayanan publik yang baik. Untuk membangun negeri ini semakin makmur dan sejahtera ... Untuk ini semua kita perlu cerdas. Kecerdasan spasial adalah salah satunya. So, be spatial to be special!

Bogor, 19 November 2007,
Adi Junjunan Mustafa

Catatan Kaki:

(1) Untuk mengikuti sebagian kegiatan Bakosurtanal dapat meng-klik lin berikut http://www.bakosurtanal.go.id/

(2) Tahapan layanan e-Goverment adalah: layanan statik, layanan interaktif, layanan transaksi, dan layanan interoperabilitas. Kalau pada layanan statis fungsinya hingga sebatas distribusi informasi, pada layanan interoperabilitas para pengguna dapat melakukan pertukaran data hingga alat bantu virtual office. Layanan interoperabilitas dipandu berbagai standard dan dipagari sistem pengamanan yang ketat.

(3) Silakan periksa situs Greenpeace atau FAO untuk keterangan detil dan definisi teknis "hilangnya hutan".

(4) Untuk profil Kabupaten Sragen dapat meng-klik http://www.sragen.go.id/ (meskipun saat saya tulis artikel ini, sambungan ke situs ini tersendat)

Blog EntryWalaupun Engkau Berwudhu di Sungai!Oct 26, '07 3:43 AM
for everyone
Saya terkesan dengan sebuah dialog "sadar lingkungan" yang terjadi di masa Nabi Muhammad saw hidup. Beliau mengajarkan kepada para sahabatnya untuk bersikap sederhana, termasuk saat berwudhu. Beliau memberi pengarahan agar para sahabat menggunakan air dengan hemat. Waktu itu ada salah seorang sahabat yang bertanya, bagaimana apabila mereka berwudhunya di sungai. Jawaban Nabi adalah tetap bersikap hemat, meskipun berwudhu di sungai!

Subhanallahu. Logika kita bisa jadi mengatakan, bukankah tak mengapa kita menggunakan banyak air di sungai; Bukankah air sungai itu mengalir dengan debit hampir sama, meskipun kita berwudhu di sana atau tidak?! Rupanya arahan Nabi itu langsung menghujam ke pembentukan karakter. Yaitu karakter sederhana yang mesti melekat pada diri muslim. Karakter hemat, tanpa terpengaruh kondisi yang memungkinkan pemborosan dilakukan seolah tanpa pengaruh apapun.

Dialog tentang berwudhu di sungai ini amat baik kita perhatikan, sebab jebakan penipuan diri lewat pemborosan bisa terjadi kapan saja. Katakanlah kita sedang berwudhu di masjid, maka sensitifitas kita untuk berhemat menipis. Secara tidak disadari rasionalitas kita berkata, ah ini kan bukan air yang saya bayar! Atau ketika di kantor, kita biarkan lampu-lampu menyala terang benderang, padahal penyinaran sinar matahari sudah cukup menyinari ruang kerja 1). Rasionalitas kita berkata, toch bukan saya yang membayar rekening listriknya! 2)  Sebuah mekanisme kerja rasio yang mengarah pada cara berpikir picik dan curang.

Bagaimana kalau perilaku boros ini terjadi di rumah?  Ini tentu  menjadi cerminan karakter pemboros yang sudah akut; Kerugian diri sendiri yang harus membayar sesuatu yang tak perlu pun, tak mampu mengubah perilaku borosnya.

Saya teringat kisah seorang pemerhati lingkungan Jepang yang berkunjung ke Myanmar atau Vietnam. Dia pernah masuk ke salah satu pelosok negeri itu. Di satu tempat dia terkejut melihat pada sebuah rumah nampak anak-anak sedang menonton televisi. Dia pun berhenti dan turun dari mobilnya menuju rumah itu. Setelah permisi kepada orang di rumah dia bertanya, dari mana sumber listrik untuk televisi itu. Anak-anak pun menunjuk ke belakang rumah. Ternyata seorang lelaki (ayah anak-anak itu) sedang mengayuh sepeda yang rodanya dihubungkan dengan dinamo pembangkit listri.

Sang pemerhati lingkungan ini lalu mengingatkan orang-orang Jepang tentang perilaku pemborosan listrik yang terjadi di negeri Jepang. Dia katakan, "Anak-anak di sini tak pernah menyadari betapa berharganya energi listrik, sebab mereka tinggal tekan saklar, lalu menyala lah lampu di ruangan. Adapun beberapa anak Myanmar sana memiliki asosiasi, kalau mereka menonton teve, mereka mesti berterima kasih sekali kepada ayah mereka, sebab ayah mereka mesti kerja keras mengayuh sepeda di belakang rumah!"

Kisah di atas, terutama tentang kesulitan energi listrik tentu masih dengan mudah kita temui di Indonesia. Sebuah kondisi yang sulit dibayangkan oleh anak-anak perkotaan di pulau Jawa.

***

Kembali ke masalah air. Saya teringat juga kisah Imam Ahmad bin Hanbal, salah satu dari empat imam mahzab fikih Islam termasyhur.  Beliau setiap kali menimba air dan memperoleh air langsung mengucapkan rasa syukur dengan teramat khusyu'. Untuk setiap ember air yang beliau dapatkan, meluncur ungkapan rasa syukur mendalam kepada Allah swt. Saat itu salah seorang anak beliau menyaksikan perilaku ayahnya ini. Sang anak pun bertanya kepada ayahnya, mengapa sedemikian rupa ayahnya berterima kasih kepada Allah swt.

Imam Ahmad pun menjawab, "Wahai anakku, apakah engkau tidak memperhatikan ayat 'Katakanlah (Muhammad), terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?'" 3) Subhanallah. Sebuah perilaku yang amat indah. Imam Ahmad telah menjadikan tadabbur sebuah ayat Quran tercermin dalam perilaku keseharian.

Alhamdulillah, semenjak membaca kisah dari Hadits Nabi tentang "berwudhu di sungai" ditambah kisah tentang Imam Ahmad yang menimba air itu, saya cukup sensitif memanfaatkan air bersih. Tak segan-segan saya ingatkan anak-anak di rumah untuk berhemat dengan air. Dan tatkala anak-anak diminta menyalakan pompa air listrik untuk mengisi bak mandi atau keperluan lain, saya minta mereka ucapkan basmalah, untuk mengingat karunia air bersih yang amat berharga bagi kehidupan.

Dikaitkan dengan kondisi kontemporer, sungguh umat manusia diprediksi akan mengalami krisis air bersih. Sampai-sampai PBB mencanangkan perolehan air bersih sampai jumlah tertentu (kalau tidak keliru sekitar 10 liter) menjadi salah satu hak asasi manusia. Di beberapa tempat di tanah air krisis air bersih ini sudah dirasakan. Di perkotaan dikarenakan semakin sempitnya lahan terbuka, tempat air hujan meresap.  Ditambah lagi manajemen air bersih masih banyak mengalami kendala. Di kawasan hulu pun terjadi krisis, sebab kawasan berpepohonan sebagai kawasan "penangkap air" sudah semakin berkurang.

Karenanya, sangat relevan moral dari pesan Nabi agar kita berhemat dalam menggunakan air bersih. Semoga perilaku ini menjadi salah satu 'amal sholih kita dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kita penuhi perintah Allah untuk berbuat baik terhadap alam, sebagaimana Allah telah membuatnya baik!

Bogor, 26 Oktober 2007,
Adi Junjunan Mustafa.

1) Sangat disayangkan arsitektur banyak gedung di Indonesia, terutama perkantoran, masih memerlukan lampu yang menyala sepanjang waktu. Bukankah semestinya di negara dengan sinar matahari melimpah dapat dibangun gedung-gedung yang dapat menggunakan lampu listrik seminimum mungkin. Sebuah perenungan yang akan bermuara pada pertanyaan "sejauh mana arsitektur kita independen dari metodologi yang dikembangkan di kawasan lain di bumi ini, yang memang lebih butuh lampu listrik untuk penerangan gedung-gedungnya?".

2) Saya khawatir perilaku boros terhadap uang dan fasilitas negara ini sudah sedemikian melekat pada aparat negara. Termasuk diantara pemborosan ini sangat nampak pada kunjungan-kunjungan pejabat tinggi  dan pejabat negara ke luar negeri.

3) Al Quran surat al-Mulk:30.

Photo AlbumKawasan Delta Berau, Kalimantan Timur (14 photos)Jul 30, '07 12:55 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini adalah beberapa foto perjalanan ekspedisi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur dalam rangka penelitian Kawasan Delta Berau. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi lestari tidaknya kawasan Delta Berau. Pemanfaatan kawasan delta untuk area tambak seringkali dilakukan dengan mengabaikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Selain itu perubahan lahan delta dipengaruhi pula oleh perlakukan-perlakuan manusia di kawasan hulu sungai. Karenanya selain di kawasan delta, penelitian ini juga mencakup pengkajian dinamika tutupan lahan serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat sekitar DAS Berau.

Salam,
Adi JM.
Anggota tim survei dari Balai Penelitian Geomatika, Bakosurtanal.

Photo AlbumPerkebunan Gunung Mas - 2007 Juli (22 photos)Jul 2, '07 9:46 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Rihlah dan rekreasi keluarga ke Perkebunan Teh Gunung Mas, Puncak-Bogor. Ahad, 1 Juli 2007. Kisahnya dituliskan pada blog-entry berjudul "Tea Walk" di Perkebunan Gunung Mas.

Blog Entry"Tea Walk" di Perkebunan Gunung MasJul 2, '07 2:25 AM
for everyone

Suasana liburan sekolah tentu sedapat mungkin diisi kegiatan yang berkesan buat anak-anak. Saat makan malam hari Sabtu lalu kami di rumah berdiskusi mau berekreasi ke mana hari Ahad. Setelah membanding-bandingkan beberapa objek tujuan wisata, kami sepakat pergi ke Perkebunan Gunung Mas. Kami pun sepakat, supaya bisa lancar di perjalanan dan keliling di lokasi perkebunan lebih pagi, akan berangkat paling lambat jam 6 pagi.

Fathimah yang sedang berlibur di Bogor mengajak adik-adiknya bertekad untuk siap sebelum jam 6 pagi. Saya dan istri tersenyum melihat keceriaan anak-anak. Kami bisa merasakan bagaimana suasana hati anak-anak ketika mereka dalam keadaan senang.

***

Alhamdulillah kami bisa berangkat persis jam 6 pagi. Dibandingkan hari-hari ke sekolah, waktu sepagi ini memang lebih dini. "Ternyata bisa juga tuh anak-anak giat di pagi hari padahal suasana liburan ... Emang kalau ada maunya, mereka bisa jadi rajin ...!" Istri mengatakan itu kepada saya saat kami mulai keluar kompleks perumahan.

Alhamdulillah perjalanan ke Gunung Mas lancar. Sekitar jam 7-an kami tiba. Jarak dari rumah memang hanya sekitar 35 sampai 40 km-an. Dengan ongkos masuk Gunung Mas Rp. 4.500 untuk dewasa dan Rp. 3.000 untuk pelajar/mahasiswa plus ongkos masuk mobil, tiket yang kami bayar tidak lebih dari Rp. 30.000. Biaya yang tidak terlalu mahal.

Istri saya yang sudah pernah ke Gunung Mas menyarankan untuk parkir di dekat lapangan bola. Ternyata memang di dekat lapangan bola ada tempat parkir yang luas. Tapi setelah melihat tempat parkir lain yang lebih banyak ditumbuhi pepohonan, kami pun memilih tempat yang lebih teduh.

***

Kami bagi-bagi barang bawaan. Ransel berisi makanan ringan saya yang gendong. Istri membawa minuman gelas. Fathimah kebagian membawa kamera (pengen jadi fotografer kegiatan katanya). Hasan kebagian menjinjing martabak (hadiah dari saudara yang datang Sabtu malam ke rumah). Qanita dan Maryam bebas bawaan, sebab kami perhitungkan perjalanan akan cukup melelahkan.

Saat kami pergi dari dekat tempat parkir, saya menunjuk satu lokasi jauh di atas perkebunan teh. "Kita akan menuju ke sana!" Anak-anak reaksinya beda-beda. Qanita: "Jauh amat, Ayah!" Hasan: "Oke ... kita ke sana!" Fathimah: "Fathimah udah biasa kok jalan jauh ...!" Maryam diam saja. Dia memang belum punya pembanding apa-apa. Secara spontan saya sampaikan lokasi tujuan agar menjadi “visi” bersama tea walk … *smile*

Kemudian saya menawarkan kepada anak-anak untuk mengambil bukan jalan utama melainkan jalan-jalan pintas. Ternyata anak-anak setuju dan bersemangat. Kami pun melewati jalan-jalan agak sempit. Sesekali ada tanjakan agak terjal. Pada satu tempat, kami mesti melewati kali kecil yang tak berjembatan. Saya meminta anak-anak untuk memberi jalan. Saya berjalan ke depan untuk melihat keadaan. Biar bagaimana pun saya tetap mesti jadi penanggung jawab keselamatan buat keluarga, kan? *smile*

Saya berdiri di batu yang ada di tengah kali. Lalu satu per satu anak-anak menyeberang. Hasan dan Fathimah yang memakai sendal gunung memilih jalan pintas: masuk ke dalam kali! (hehehe). Adik-adiknya dan istri, karena memakai sepatu memilih melewati batu. Qanita bisa meloncat ke seberang dengan bantuan saya. Maryam saya pangku badannya untuk meloncat. Istri … tegang juga, karena ketakutan untuk loncat. Dan saya sendiri tak akan bisa menggendong seperti menggendong Maryam. Dengan susah payah dan disemangati anak-anak, akhirnya dia berani dan selamat ke seberang …. Anak-anak tampak senang dengan pengalaman menyeberang kali itu. Ada yang bilang, “Wah ini pengalaman paling menegangkan dan seru …!”

Kami terus berjalan melewati jalan-jalan non-konvensional. Pernah juga masuk ke area perkebunan teh. Rerumputan di sana masih berembun. Pepohonan teh itu setinggi Fathimah, sehingga anak-anak mengalami sensasi yang berbeda berada di antara pohon-pohon teh itu. Di jalan kami juga berjumpa seorang petani yang sedang membersihkan pohon teh dari rerumputan liar. Ternyata banyak juga teh yang diserang rerumputan. Sebagian area juga ditumbuhi benalu atau tumbuhan parasit.

Subhanallah, Maryam si bungsu yang  baru naik ke kelas 2 SD tidak nampak mengeluh walaupun perjalanan sudah sekitar 1 jam setengah. Dia lebih sering bersama Hasan yang selalu berjalan paling depan. Fathimah dan Qanita rupanya lebih nyaman bersama bunda mereka. Saya sendiri berjalan ke depan dan ke belakang bergantung kondisi. Di sepanjang perjalanan Fathimah dan saya banyak mengabadikan suasana perjalanan kami. Banyak juga foto-foto pemandangan yang diambil selama perjalanan*).

Sekitar pukul 9, kami sampai ke tempat yang tadi saya tunjuk waktu di bawah. Kami bisa melihat titik start kami berangkat tadi. Saya perkirakan jaraknya sekitar 1-2 km. Kami menikmati alam sekitar sambil membuka perbekalan minuman dan makanan. Kami sempat mendapatkan satu kejadian fisika pada bungkus makanan kecil. Bungkus-bungkus itu mengembang cukup keras. Istri menjelaskan bahwa kejadian itu disebabkan adanya tekanan udara yang semakin rendah pada saat kita naik ke tempat yang tinggi. Suasana istirahat di ketinggian itu kami isi dengan obrolan-obrolan ringan yang menyenangkan.

***

Untuk perjalanan pulang saya memutuskan melewati jalan biasa yang dilalui banyak orang. Saya melihat waktu menunjukkan pukul 10.00. Sinar matahari sudah mulai menyengat. Saya pun memperhitungkan anak-anak juga istri mulai lelah. Sejujurnya saya pun lumayan lelah setelah perjalanan mendaki tadi … *smile*

Perjalanan pulang memang lebih cepat. Kami hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai ke dekat tempat parkir. Lalu kami menggelar tikar dan duduk-duduk di bawah pepohonan di sekitar situ kecil buatan. Fathimah memilih menghabiskan novel yang dia bawa dari rumah. Hasan dan istri main badminton. Qanita dan Maryam saya antar ke lokasi dekat lapangan bola, sebab mereka ingin naik kuda. Penyewaan kuda ini kemarin minta dibayar Rp. 15.000 untuk perjalanan sekitar 15 menit.

Menjelang jam 12 kami berbenar untuk pulang. Tapi diperjalanan ke luar perkebunan, Fathimah terus mengingatkan bahwa dia ingin melihat pabrik tempat pemrosesan teh. Akhirnya kami mampir dahulu ke Pabrik Teh Gunung Mas. Meskipun waktu pabrikasi hari itu sudah hampir selesai, kami tetap masuk ke gedung pabrik. Untuk masuk orang dewasa mesti membayar Rp. 3000 dan pelajar/mahasiswa Rp. 2000. Di meja depan itu petugas juga meminta kami membayar Rp. 15.000 untuk guide atau pemandu.

Pak Toha, pemandu kami, langsung mengajak kami ke lantai tiga. Dia pun mulai menjelaskan dengan sangat baik proses pembuatan teh hingga siap saji. [Cerita detilnya saya skip ya, supaya sahabat MP bisa lihat langsung … *smile*]. Anak-anak nampak sangat antusias mengikuti perjalanan keliling pabrik. Sampai akhirnya Pak Toha memperlihatkan kepada kami sekitar 9 jenis produk teh dari mulai kualitas the best hingga kualitas terendah. Yang membuat anak-anak terkejut adalah, bahwa teh dengan kualitas-kualitas terbaik diekspor. Untuk konsumsi dalam negeri, termasuk yang dibuat teh-teh kotak atau teh botol, adalah kualitas paling rendah …!

Menutup tour di pabrik teh kami membeli sekotak teh dengan kualitas terbaik. Harganya hanya Rp. 6000 untuk 200 gr. Kami pun membeli beberapa kotak teh lain untuk sekedar oleh-oleh buat Bibi yang membantu kami di rumah dan para tetangga.

Hingga beberapa menit perjalanan anak-anak mengekspresikan pengalaman berkesan mereka melihat-lihat pabrik teh. Fathimah meminta saya dan istri berjanji untuk membawanya sekali lagi ke pabrik teh saat produksi sedang berlangsung.

Oya, produk teh dari Gunung Mas merknya Walini. Kata Pak Toha, itu singkatan dari wangi-alami-nikmat … *smile* (jadi seperti promosi nih).  Saya ingat Walini ini lagi sambil mengingat bahwa setiap tiket masuk Perkebunan Gunung Mas dapat ditukar dengan sebungkus kecil teh Walini.

***

Perjalanan pulang ternyata mesti menguji kesabaran. Jam satu siang itu rupanya jadwal macet berat perjalanan dari arah Puncak ke Bogor. Kami meminta anak-anak bersabar. Sebagian anak tidur. Fathimah masih terus membaca novel.

Sekitar pukul 3 sore, ketika kami ada di kawasan menjelang pertigaan Taman Safari, jalur turun pun dibuka untuk satu arah. Alhamdulillah kami sampai rumah sekitar pukul 4 sore.

Istri dan saya bersyukur kepada Allah sudah membawa anak-anak melakukan rekreasi yang relatif murah, akan tetapi tetap seru dan juga punya nilai edukasi. Qanita tanya kepada saya, apakah saya akan menuliskan kisah “tea walk”. Saya bilang, “Insya Allah.” Dan inilah tulisan itu. Semoga menjadi sharing bermanfaat buat sahabat semua. Siapa tahu jadi inspirasi berharga untuk mengajak anak-anak atau keponakan ke tempat serupa seperti Perkebunan Gunung Mas …

Bogor, 1 Juli 2007.
Adi J. Mustafa

*) Foto-fotonya kami bagi pada album di alamat ini: http://adijm.multiply.com/photos/album/22

===
Tulisan ini dimuat di situs www.lintasdaerah.com dengan link:
http://www.lintasdaerah.com/v2/modules/wisata/article.php?storyid=65
(11 Oktober 2007)


Blog EntryPilih Sehat atau Impoten?!Feb 7, '07 10:58 PM
for everyone
Ini tulisan seorang pakar ekologi, guru besar emeritus, Bapak Otto Soemarwoto. Judulnya provokatif. Saya enggak tahu apakah ini pilihan judul beliau sendiri atau hasil kompromi dengan redaksi opini Pikiran Rakyat. Yang pasti, seperti saya kenal saat beliau menyampaikan wejangan yang mencerahkan dalam acara ramah tamah di hadapan anggota PPI Delft-Belanda sekitar 12 atau 13 tahun lalu, pandangan Prof. Otto tetap lugas dan tajam. [Saat itu beliau diundang ke Belanda untuk menyampaikan rangkaian kuliah tentang hutan tropis. Dan salah seorang putra beliau sedang melakukan riset doktor di Fakulteit der Lucht en Ruimtevaart, Technische Universiteit Delft. Jadi kami kebagian waktu berharga untuk bertemu beliau. Alhamdulillah.]

Gagasan yang beliau hantarkan cukup jitu. Beliau ingin pendidikan tentang lingkungan di sekolah disampaikan secara praktis. Bahwa masalah lingkungan adalah masalah sehari-hari dan bahwa masalah lingkungan adalah masalah kehidupan umat manusia! Nah, ketika para siswa secara massal memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, beliau membayangkan akan terjadi gerakan massal masyarakat dan juga berbagai kebijakan yang pro-lingkungan.

Gagasan tentang timbal, bukan timbel, dijadikan contoh kasus. Tapi saya masih menemukan percikan obsesi Prof. Otto yang sudah dia gaungkan sejak 12-13 tahun lalu atau bahkan lebih, yaitu memasyarakatkan jalan kaki dan bersepeda! Saat itu, di tengah suasana Delft dan Belanda yang menjadi negeri bersepeda terbesar di dunia setelah China, kami mengatakan," ... Bersepeda memang nyaman, Pak. Tapi apakah mungkin untuk daerah berbukit-bukit seperti Bandung?"

"Tidak masalah. Bukankah bisa diproduksi sepeda dengan gigi-gigi yang memungkinkan dikayuh walaupun jalan menanjak!" jawab beliau tegas.

"Ya ... itu benar Pak. Tapi kan ngeri kalau naik sepeda di tanah air. Salah-salah bisa disabet angkot ...!"

Beliau tersenyum dan mengatakan,"Memang tugas bersama untuk membangun infrastruktur yang nyaman seperti di Belanda ini. Nampaknya berat, tapi kalau ada keinginan dari pemerintah semuanya bisa dilakukan."

Pada tulisan ini, saya kembali menemukan ilustrasi bersepeda ini. Rupanya masih panjang mewujudkan impian ini, ya Pak.

Terima kasih Pak Otto, untuk semangat dan konsistensi Anda terus meningkatkan kesadaran lingkungan.

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan

Pilih Sehat atau Impoten!
Oleh OTTO SOEMARWOTO

TIMBAL, bukan timbel. Kalau kita dapat timbel senang. Enak, kita menikmatinya. Akan tetapi kalau mendapat timbal, celaka! Bahasa kimianya plumbum. Disingkat Pb. Jika kadar timbal darah kita melampaui batas 10 mikrogram per dl (desiliter), waspadalah. Terutama pada balita.

Di Amerika Serikat, jika kadar timbal darah seorang anak melampaui ambang batas, ada kewajiban orang tersebut untuk melaporkannya kepada dinas kesehatan setempat. Petugas dinas kesehatan akan datang untuk memeriksa asal timbal itu dan menyarankan tindakan koreksinya. Pasalnya, timbal dalam darah menurunkan IQ anak. Anak itu juga mengalami kesulitan belajar. Akibatnya anak tidak akan mencapai prestasi potensialnya. Dia jadi bodoh.

Timbal juga mengancam ibunya. Risiko keguguran dan melahirkan bayi di bawah berat normal naik. Janin yang dikandungnya juga menyerap timbal dari ibunya. Maka sejak awal perkembangan IQ-nya sudah terhambat. Menginjak remaja, timbal mengubah perilaku. Tingkat kriminalitas remaja (juvenile delinquency) naik. Pada laki-laki dewasa yang masuk fase reproduksi, pembentukan sperma terganggu, baik kuantitas maupun kualitas. Dia menghadapi kenaikan risiko mandul (tidak dapat mempunyai anak) karena menurunnya kuantitas sperma. Menurunnya kualitas sperma meningkatkan risiko kelahiran bayi cacat. Risiko mengalami disfungsi ereksi juga naik. Mereka dapat jadi impoten.

Pada orang tua, timbal mempercepat proses penuaan. Berarti memperpendek umur. Jadi dampak timbal dimulai sejak janin sampai pada orang tua. Uraian dampak timbal ini bukanlah untuk membuat sensasi. Bukan pula untuk menakut-nakuti. Tetapi nyata. Terdapat informasi segudang dalam literatur ilmiah, maupun di internet tentang dampak timbal.

Dalam seminar tentang pendidikan lingkungan hidup (PLH) yang diselenggarakan Konus tanggal 30 Januari saya diminta untuk menguraikan pelajaran untuk mengubah perilaku dalam kaitannya dengan lingkungan hidup. Para pembicara sebelum saya menekankan perlunya pelajaran moral untuk bertanggung jawab. Saya setuju. Tapi pelajaran moral saja tidak cukup. Buktinya pelajaran moral telah banyak diberikan, misalnya, dalam mata pelajaran agama. Tetapi lingkungan hidup makin rusak.

Peredaran narkoba makin gawat. Perselingkuhan makin marak, sampai-sampai ke gedung DPR. Korupsi tak kunjung surut. Harus ditambah dengan pelajaran bahwa kerusakan lingkungan hidup mengancam keselamatan diri seseorang. Bahaya itu adalah riil. Saya ambil contoh timbal.

Para murid TK/SD diajari tentang pencemaran udara. Di sebuah tempat, misalnya Kota Bandung, semua orang menghirup udara yang secara umum dapat dikatakan sama. Dari pejabat tinggi sampai seorang pesuruh. Dari yang kaya sampai yang miskin. Udara itu mengandung zat pencemar timbal dari pembakaran bensin mobil. Setelah diterangkan dampak timbal terhadap IQ, ditanyakan pada murid TK/SD: "Maukah menjadi bodoh?" Jawabannya tentu tidak. Anak TK dan SD lalu diajak berdiskusi, apa solusinya yang dapat dilakukan oleh murid TK/SD. Jawabannya, kurangilah naik mobil dan berjalan kaki atau bersepedalah pulang pergi ke sekolah.

Akan tetapi anak-anak juga menyatakan, sukar melaksanakan solusi itu. Tidak ada trotoar yang nyaman dan aman. Banyak yang sempit dan terhalang oleh mobil yang diparkir di atasnya. Banyak pula yang berlubang besar menganga. Menyeberang jalan juga sulit, meskipun di bawah lampu lalu lintas ataupun di penyeberangan zebra. Naik sepeda pun berbahaya. Tidak ada lajur khusus untuk sepeda.

Anak-anak itu pun akan bercerita kepada ibunya: "Bu, Upik tidak mau jadi bodoh. Upik ke sekolah berjalan kaki saja. Tetapi jalan kaki juga susah, Bu. Adik juga akan menjadi bodoh, karena juga menghirup udara yang tercemar timbal." Ibu Upik terkejut. Mengapa anaknya takut jadi bodoh dan mau berjalan kaki? Diskusi timbal pun bergulir antara ibu dan anak yang melibatkan pula anggota keluarga lainnya.

Pencemaran udara bukan sekadar sebuah mata pelajaran, melainkan menjadi keprihatinan keluarga. Keprihatinan itu meningkat setelah mendengar dari dua kakak Upik. Yang seorang duduk di SMA. Seorang lagi menjadi mahasiswa. Anak-anak yang remaja dan dewasa tak ingin mengalami kenaikan risiko kelakuan kriminalitas dan setelah mereka kawin nanti menderita kemandulan serta impotensi. Bapak-ibunya pun tidak mau menghadapi risiko keguguran, kelahiran bayi cacat dan impotensi.

Dengan mengantar anaknya naik mobil ke sekolah, mereka meracuni anak mereka. Mereka tidak sadar sedang meracuni diri sendiri, istri dan anak-anak mereka. Kekhawatiran mereka makin besar akan dampak kesehatan timbal. Padahal solusi yang sederhana sebenarnya ada. Asal ada kemauan dan keberanian politik. Ayah Upik yang menjadi seorang pejabat teras di kantor gubernur membawa permasalahan timbal pada sebuah rapat pimpinan. Paparan Bapak Upik mendapat dukungan dari kepala dinas kesehatan yang karena profesinya mengetahui benar dampak kesehatan timbal. Polan, anak Bapak kepala Dinas Kesehatan juga mendapat pelajaran yang serupa di sebuah SD.

Pelajaran lingkungan hidup bergulir dari ruang kelas ke ruang pimpinan pemerintahan dan menjadi diskusi kebijakan pemerintah. Dr. Pudji dari ITB telah menunjukkan dengan jelas, persentase anak SMP di Bandung yang kandungan timbal darahnya melampaui batas ambang 10 mikrogram/dl adalah tinggi. Ancaman terhadap kesehatan adalah jelas.

Tetapi Wali Kota dan DPRD Kota Bandung cuek. Laporan dianggap sepi. Demikian pula di kalangan pemerintahan provinsi dan DPRD Jabar. Koran pun hanya berhenti sampai pada pemberitaan. Tak ada yang bertindak, karena mereka tidak merasa terancam. Karena ketidakpeduliannya terhadap lingkungan hidup, mereka tidak merasa berkepentingan untuk menanganinya, malahan merasa rugi jika menanganinya.

Mereka tidak mau mengorbankan pola hidup hedonik yang sedang mereka nikmati. Juga tidak mau PAD-nya turun. Akan tetapi jika mereka tahu dan sadar bahwa menggunakan kendaraan yang berlebihan merupakan ancaman serius bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka dan keluarganya, para pejabat eksekutif maupun legislatif tentunya akan menggariskan kebijakan yang mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Banyak pejabat eksekutif dan legislatif serta keluarganya yang menderita penyakit terkait pencemaran udara, seperti asma dan ISPA.

Mungkin sekali di antara mereka juga mengalami disfungsi ereksi. Betapa besar penderitaannya. Ditambah harus sering absen bekerja dan sekolah. Kebijakan di atas ramah terhadap pejalan kaki dan pengendara sepeda. Kebijakan itu bukanlah antikendaraan bermotor, melainkan memberi insentif agar orang menggunakan kendaraan bermotor dengan efisien. Berjalan kakilah kalau hanya bepergian sampai 1 km dan bersepedalah kalau bepergian 5-10 km.

Misalnya, untuk pulang-pergi sekolah dan kantor. Berjalan kaki dan bersepeda juga sehat. Mengurangi obesitas dan penyakit yang terkait padanya, seperti diabetes dan penyakit jantung. Juga menghemat anggaran belanja keluarga dan pemerintah. Pemacuan penggunaan sepeda juga menciptakan lapangan pekerjaan untuk produksi sepeda dan suku cadangnya, perakitan dan perdagangan sepeda.

IPM kota dan provinsi akan naik. Pada lain pihak siapa sih yang mau anaknya menjadi bodoh, menjadi kriminal serta anaknya dan dirinya mengalami impotensi, istrinya mengalami keguguran dan orang tuanya umurnya diperpendek? Silakan pilih, sekeluarga sehat dan sejahtera atau hidup hedonik dan sekeluarga sakit-sakitan.***

Penulis, guru besar emeritus, pakar ekologi.

===
Link sumber tulisan: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/07/0901.htm


Tulisan ini masih merupakan refleksi dari bencana banjir yang melanda Jadetabek pada awal bulan Februari 2007 ini.

Seperti diungkapkan banyak pemikir, bencana alam itu bisa kita bagi dua: yang pertama adalah bencana yang kita, manusia, bisa dikatakan "tinggal menerima" dan berusaha meminimalkan akibat bencananya. Pada kelompok ini misalnya gunung meletus, gempa bumi baik akibat aktifitas gunung berapi (vulkanik) ataupun akibat pergerakan lempeng-lempeng bumi (tektonik) dan tsunami yang diakibatkan gempa yang menghasilkan patahan raksasa di dasar lautan.

Jenis bencana alam yang kedua adalah bencana yang sedikit banyak ulah tangan manusia ikut bermain. Termasuk kelompok ini misalnya banjir dan tanah longsor. Meskipun keduanya merupakan gejala alam, akan tetapi ditemukan korelasi yang kuat misalnya antara penebangan hutan serampangan atau pembangunan fisik tanpa pertimbangan matang masalah lingkungan dengan banjir dan longsor.

Pada tulisan ini, kita ingin mengungkap butir pemikiran tentang keputusan-keputusan yang mendatangkan bencana sebagaimana disampaikan Jared M. Diamond dalam bukunya Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (link review bukunya bisa diklik di sini). Diamond merumuskan empat "peta" menuju keputusan membencana itu:

1. Kegagalan mengantisipasi sebuah masalah sebelum masalah itu datang.

Ini terjadi akibat lemahnya pengalaman. Atau bisa jadi masalah itu pernah dialami namun kejadiannya sudah lama berlalu, sehingga orang sudah melupakannya. Atau bisa juga karena kekeliruan mengambil analogi sebuah peristiwa dan karenanya kegagalanlah yang terjadi ketika sebuah strategi diterapkan.

2. Kegagalan memaknai sebuah masalah ketika masalah itu sudah terjadi.

Ada masalah-masalah yang memang tidak kasat mata, seperti masalah tingkat kesuburan atau ketidaksuburan tanah. Pengawasan dan manajemen yang dilakukan dari jarak jauh juga seringkali membuat persepsi terhadap sebuah permasalahan keliru atau terlambat dalam mengatasi masalah. Atau kadangkala ada masalah-masalah yang memiliki tren fluktuatif yang lambat, sehingga tidak terdeteksi secara intensif.

3. Kegagalan bahkan setelah ada usaha untuk memecahkan sebuah masalah ketika masalah itu sudah dipelajari.

Manusia punya kecenderungan bertindak "rational behaviour" dalam pengertian negatif. Tindakan ini terjadi karena adanya benturan kepentingan diantara mereka sendiri. Orang cenderung memilih bersikap rasional "baik buat saya, (meskipun) buruk buat kamu dan buat semua orang lain". Dengan kata lain ada kecenderungan besar untuk mementingkan diri sendiri (selfish). Tindakan seperti ini banyak mengakibatkan gagalnya manusia memecahkan sebuah masalah yang dihadapi masyarakatnya.

Kegagalan jenis ini juga terjadi ketika manusia melakukan eksploitasi berlebihan terhadap alam. Ini bisa dalam bentuk terlalu banyak mengambil ikan di laut (overfishing), terlalu banyak menebang hutan (deforestation) atau terlalu banyak mengambil air tanah (overpumping?).

Ketiadaan hukum atau lemahnya penegakkan hukum juga menjadi penyebab kegagalan jenis ini. Ketika satu pelanggaran aturan dibiarkan tanpa ada hukuman terhadapnya, maka pelanggaran yang sama akan dilakukan oleh orang lain. Kondisi ini akan melahirkan apa yang disebut "tragedy of the commons", bencana yang amat meluas dan akhirnya masyarakat menjadi tahanan berbagai dilema (the prisoner's dilemma) dan kesalahan itu seolah mendapatkan pembenaran kolektif (the logic of collective action). Orang tahu itu salah, tapi karena banyak pihak menikmati keadaan tersebut, permasalahan jadi semakin membesar dan tak lagi bisa diatasi.

Pada gilirannya "rational behaviour" tadi akan berkembang menjadi tindakan-tindakan "irrational behaviour", seperti kepala batu dalam kekeliruan, sikap "ah itu kan masalah orang lain" (ISEP = it's someone else problem), tindakan-tindakan jangka pendek yang justru berakibat buruk pada jangka panjang, dan permasalahan kejiwaan lain yang semakin kusut dan rumit.

4. Masalah sudah diantisipasi, sudah dipersepsi dengan baik dan sudah dicoba diselesaikan, akan tetapi masalah yang ada lebih besar daripada kemampuan kita untuk menyelesaikannya.

Solusi sebuah masalah kita ketahui, tapi kita tak bisa melakukan karena biaya yang dibutuhkan sangat besar, misalnya. Atau bisa juga usaha kita terlalu kecil dan sudah terlambat untuk mengatasi masalah yang datang.

Kegagalan pada jenis ini diakibatkan sudah berakumulasi-nya masalah, karena kegagalan-kegagalan sebelumnya.

***

Itu adalah beberapa catatan yang sempat saya buat. Sayang bukunya sudah saya kembalikan ke yang punya, jadi saya tidak bisa sampaikan detil-detil contoh yang disampaikan Diamond. Saya hanya ingin menutup catatan ini dengan beberapa paragraf berikut:

Dari empat peta di atas, kita bisa melakukan refleksi dalam menghadapi bencana banjir. Banjir (dan longsor) ini datang rutin setiap musim penghujan datang. Karenanya amat naif kalau kita cepat sekali lupa dengan bencana ini (peta no. 1). Mungkin kita memang kurang serius mempersepsi masalah yang rutin datang ini. Kita kurang serius melakukan akumulasi pengalaman dari banjir demi banjir yang datang setiap tahun. Atau kita malah menganggap itu peristiwa biasa yang datang tahunan (peta no. 2).

Jika melihat peta no. 3, penyakit ISEP nampaknya saat ini menghinggapi kebanyakan kita. Bagi orang-orang kaya (atau juga mungkin para pemimpin), mereka sibuk mengamankan rumah masing-masing dari banjir. Bisa jadi fondasi rumah mereka ditinggikan, sehingga kalau banjir datang yang penting rumah mereka tidak terendam. Bagi mereka yang miskin dan kurang mampu, dan karenanya banyak kelemahan pada kelompok masyarakat ini, sikap masa bodoh terhadap kepentingan umum, yang penting dirinya selamat, akan banyak juga dijumpai.

Juga masalah eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam mesti menjadi perhatian serius kita bersama. Kita menyaksikan kekurangan air bersih sekarang sudah melanda berbagai tempat di Indonesia. Orang yang tinggal di perkotaan sering kebingungan saat PDAM tidak mensuplai air bersih. Dan ini ironisnya bukan hanya terjadi di musim kemarau, akan tetapi juga di musim penghujan, saat air melimpah tapi dalam bentuk banjir! Orang-orang kaya mencoba memecahkan masalah dengan menggali sumur jauh ke kedalaman bumi. Ya, urusan mereka selesai. Mereka nyaman dengan air segar yang digali dari dalam sana. Akan tetapi jika "kelakuan" seperti ini semakin banyak terjadi, apakah kita tidak khawatir defisit air tanah akan terjadi? Bahkan bisa jadi satu saat deformasi atau penurunan permukaan tanah (amblas) bisa terjadi akibat pemompaan air tanah berlebihan.

Diamond memberikan resep untuk masalah di atas: learn to trust and communicate with each other and shape common future! Mesti ada yang serius memfasilitasi agar terjadi proses belajar dan komunikasi di antara berbagai kelompok masyarakat untuk membentuk masa depan bersama yang lebih baik!

Semogalah kita semua belajar dengan seksama dari bencana banjir yang melanda ini. Kita mesti semakin arif bertindak terhadap lingkungan. Sungguh kita mesti arif dalam bersikap dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat dan negara.

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan

Blog EntryPermasalahan Lingkungan: Kenapa Banjir?Feb 6, '07 6:20 AM
for everyone
Kita amat prihatin dengan banjir yang melanda kawasan Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek). Sampai hari ini, 6 Februari, diberitakan 29 orang tewas dan lebih dari 200 ribu orang harus mengungsi dari tempat tinggal. Kemacetan lalu lintas masih terjadi di ruas-ruas jalan utama di Jakarta. Sementara itu ratusan ribu hektar sawah di kawasan pantai utara propinsi Jawa Barat juga tergenang banjir. Sungguh merupakan kerugian materi yang amat besar. Belum lagi kerugian yang sifatnya immateri, seperti kesedihan, ketakutan dan juga berbagai potensi yang akan melemahkan masyarakat, termasuk penyakit yang sering mewabah seusai banjir. Sekali lagi kita sungguh bersedih dengan musibah yang terjadi ini.

Setiap kali terjadi bencana banjir, berbagai wacana penanggulangan banjir mencuat. Pemerintahan sibuk menjawab pertanyaan para wartawan seputar masalah banjir. Berbagai strategi pencegahan dan penanggulangan banjir pun mengemuka, mulai dari perlunya menyelamatkan kawasan resapan air di Bopunjur (Bogor, Puncak, Cianjur), memperketat ijin pendirian bangunan, pembangunan kanal-kanal, perbaikan situ-situ dan danau-danau, sampai perlunya penyusunan rencana tata ruang wilayah yang handal dan konsistennya semua pihak mengikuti aturan di dalamnya.

Memang di antara hikmah di balik musibah banjir ini adalah adanya perhatian banyak pihak tentang perlunya kita melakukan pembangunan dan aktifitas sehari-hari yang environmental-friendly. Ramah lingkungan berarti setiap program pembangunan fisik mesti memperhatikan masalah pelestarian lingkungan, jangan sampai mengotori dan merusak lingkungan secara tidak bertanggung jawab. Karenanya pemahaman akan lingkungan hidup menjadi amat vital di tengah percepatan pembangunan fisik yang dirasakan di mana-mana. Banjir hanyalah satu isyarat saja diantara sekian banyak bahasa alam yang menggugat ketidakarifan kita berinteraksi dengan lingkungan.

Kenapa Banjir?
Secara umum perpaduan curah hujan yang tinggi, ketinggian sebuah kawasan dan karakteristik ketinggian sekitarnya (topografi), pengaturan aliran air (sungai, kanal, gorong-gorong dll), dan kemampuan satu kawasan meresap air menjadi faktor penyebab banjir. Faktor-faktor yang sifatnya lokal seperti tersumbatnya kali atau selokan oleh sampah bisa kita kategorikan pada masalah pengaturan aliran air.

Seperti disampaikan Badan Metereologi dan Geofisika (BMG), banjir yang melanda Jadetabek diawali hujan dengan curah melebihi 200mm pada banyak tempat di Jakarta tanggal 2 Februari lalu. Padahal hujan digolongkan amat lebat dengan batas di atas 100mm. Sementara itu hujan dengan curah di atas 200mm juga turun pada kawasan hulu sungai yang bermuara di Jakarta, seperti kawasan Cisarua-Bogor. Akibatnya pada hari Sabtu dan Ahad, aliran air di atas rata-rata dari Bogor membuat banjir semakin meluas di Jakarta.

Kejadian hujan lebat sendiri dipengaruhi berbagai faktor baik faktor lokal seperti topografi satu kawasan. Bahwa Bogor dikenal sebagai kota hujan dikarenakan kombinasi berbagai faktor topografi, misalnya ketinggian lokasi ke arah Puncak. Dalam siklus lokal, air yang menguap di laut Jawa terus naik membentuk awan ke arah Selatan, dan proses pengembunan terjadi di kawasan Cisarua dan sekitarnya. Hujan ini seringkali sampai ke kota Bogor dan terhenti di sekitar Cibinong. Mereka yang sering melalui tol Jagorawi tentu sering mengalami "kejar-kejaran" dengan hujan ketika pergi menuju Jakarta; Atau kalau kembali dari Jakarta sering melihat mobil dari arah Bogor menggunakan wiper, sementara kendaraan kita masih kering.

Hujan lebat juga disebabkan faktor yang luasannya regional dan bahkan global. Sebagian pakar menyebutkan hujan lebat yang terjadi di Jadetabek disebabkan anomali arah angin dari Siberia. Seperti diketahui saat ini belahan bumi Utara sedang musim dingin. Maka angin global berhembus dari arah Utara ke Selatan, yang lebih hangat atau kerapatan udara lebih rendah (kita tentu ingat angin adalah udara yang bergerak dari yang bertekanan tinggi ke yang bertekanan rendah). Nah, biasanya angin muson (monsoon) ini berhembus ke Sumatera, akan tetapi kali ini angin langsung berhembus ke Filipina, Laut China Selatan dan langsung ke arah Pulau Jawa, termasuk Jadetabek.

Kalau kita terus menelusuri diskusi para peneliti masalah lingkungan global, maka masalah cuaca satu kawasan tidak bisa dilepaskan dari masalah iklim global. Curah hujan yang tak menentu ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfir (arah angin) dan pada gilirannya mempengaruhi suhu air laut dan arusnya dalam skala global. Kejadian banjir di Jadetabek saat ini misalnya, ternyata bersamaan dengan naiknya ketinggian permukaan Laut Jawa. Ini yang menjelaskan perlahannya penyurutan banjir, sebab air laut tempat bermuaranya sungai-sungai di Jakarta juga sedang mengalami pasang.

***

Selain faktor cuaca dan iklim, ada faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya banjir. Sudah pasti kawasan rendah di sekitar aliran sungai akan terendam air ketika terjadi luapan air sungai. Inilah perlunya masyarakat, terutama para pengembang perumahan, untuk mengetahui topografi suatu kawasan*. Selain itu sebagian penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan permukaan tanah di beberapa tempat di Jakarta (deformasi). Penurunan ini diantaranya diakibatkan oleh penyedotan air tanah secara berlebihan. Untuk kawasan Jakarta yang permukaan tanahnya rendah, paling tinggi sekitar 10 meter di atas permukaan laut, penurunan tanah ini amat berpengaruh dalam menimbulkan genangan-genangan air di musim penghujan.

Selanjutnya, debit dan banyaknya aliran air di permukaan bumi (surface run-off) mempengaruhi terjadinya banjir. Kalau air hujan semakin sedikit diserap tanah, maka air ini akan mengalir di permukaan bumi. Sebagaimana sifat air, ia akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah (sebetulnya ini pengaruh tarikan gravitasi bumi dan menunjukkan medan gravitasi). Maka air akan terus mengalir menggenangi kawasan-kawasan terendah. Semakin banyak air di sana, semakin tinggilah ia dan terjadilah banjir. Berbagai data menunjukkan, besarnya debit air ini terkait dengan semakin rendahnya daya serap air di kawasan hulu sungai. Dalam kaitan inilah saat ini ramai (lagi) dibicarakan masalah penataan kawasan Bopunjur, yang menjadi kawasan hulu sungai-sungai yang bermuara di Teluk Jakarta.

Untuk kawasan lokal, terkait masalah di atas, penulis sempat terkejut mendapatkan data bahwa di Jakarta saat ini hanya tersisa sekitar 30% kawasan yang bisa menyerap air. Selebihnya adalah kawasan bangunan, jalan dan lain-lain yang tidak bisa menyerap air. Maka kita tidak heran kalau di musim penghujan sebagian jalan-jalan di Jakarta "berubah fungsi" jadi sungai-sungai! Dalam kondisi begini, kita tentu betul-betul heran kalau ijin mendirikan bangunan masih terus dikeluarkan di Jakarta. Bersamaan dengan itu sungguh semakin susah mencari kawasan hijau dan kawasan lapangan rumput di Jakarta.

Akhirnya, penyebab banjir yang lain adalah semakin sempitnya sungai-sungai dan situ serta danau-danau di Jakarta. Sungai yang semakin sempit tentu membuat airnya cepat meluap ketika ada debit besar yang melaluinya. Adapun situ dan danau-danau itu adalah tempat-tempat keluarnya mata air dari tanah (discharge area). Selain itu diantara fungsi situ dan danau adalah untuk menampung air sungai ketika berlebih. Dengan diurugnya situ-situ untuk perumahan dan semakin menyempitnya situ-situ, maka berkurang pulalah daya tampung air. Akhirnya menggenanglah air dalam bentuk banjir.

***

Demikianlah serba singkat beberapa faktor yang menjadi faktor penyebab terjadinya banjir. Mudah-mudahan menjadi pengetahuan dan wawasan bermanfaat bagi kita semua. Bagi sahabat-sahabat peneliti dan pemerhati lingkungan, silakan ditambahkan atau dikoreksi kalau pemarapan saya di atas ada yang keliru.

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan

===
* Peta-peta topografi atau peta rupabumi memuat informasi ketinggian. Pada peta cetak ketinggian ditampilkan dengan kontur (garis isoline). Jika ada data dijital, maka data kontur ini dapat dikonversi dan ditampilkan dalam tayangan tiga dimensi

Blog EntryBerbagai Bencana Alam itu Mengingatkan KitaJan 16, '07 10:54 PM
for everyone
Pada dua posting terdahulu, meminjam intisari pemikiran Fritjop Capra, saya mengangkat pentingnya kita belajar dari alam untuk dapat menjaga kelestarian lingkungan hidup dan juga untuk dapat hidup dalam harmoni dalam komunitas besar umat manusia. Berbagai prinsip bekerjanya alam seperti saling keterkaitan dan kebergantungan, mengimplikasikan pentingnya umat manusia menjalin persahabatan dan kerja sama. Beginilah sistem kemasyarakatan mesti tumbuh.

Ada satu faktor kunci yang amat besar pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat ini, yaitu faktor kepemimpinan. Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang memiliki kekokohan moral, kecerdasan pikiran dan keterampilan manajerial. Terkait hal ini, Gatra online menyajikan sebuah reportase Nasional dalam sub-topik Bencana Alam dengan judul: PBNU: Bangsa Indonesia Harus Tobat. Berikut ini petikan reportase tersebut:

"Beruntunnya bencana sosial dan bencana alam yang sampai hari ini belum ada tanda-tanda peredaan menurut perhitungan rasional sudah berada di atas batas kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasinya," katanya [kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi].

Karena itu, tambah Hasyim, tidak ada cara lain kecuali meminta pertolongan Tuhan yang dimulai dengan bertobat secara nasional. "Ada ketidakberesan di negara ini yang dimulai secara kolektif yang oleh karenanya harus diakhiri secara kolektif pula," kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Hasyim mengaku telah berusaha mencari literatur mengenai asal-muasal bencana dan jawaban yang pas dengan situasi yang terjadi di Indonesia justru terdapat di kitab suci Alquran.

Ia lantas mengutip Alquran, Surat An Nahl, ayat 112. Di situ disebutkan "Dan Allah memberikan contoh sebuah negeri yang aman tenteram, rizki melimpah datang di negeri itu dari segala tempat, kemudian penduduk negeri itu durhaka dan ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat sendiri".

Dalam terminologi Alquran, kata Hasyim, ada dua macam bencana. Pertama, bencana yang memang semata-mata kehendak Allah. Kedua, bencana akibat kesalahan manusia, baik kesalahan fisik seperti perusakan hutan yang mengakibatkan banjir dan kekeringan serta kesalahan moral seperti kemaksiatan yang merajalela, pengkhianatan terhadap amanat, hukum, kebohongan dan kepura-puraan.

***

Seruan KH. Hasyim Muzadi agar kita berintrospeksi sudah sangat tajam dan melingkupi berbagai sisi kehidupan. Bahkan beliau sudah mengangkat sisi transendental, yaitu perlunya kita memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Penyayang atas berbagai kelalaian dan kesalahan kita. Saya hanya ingin lebih menekankan satu dari sekian kelalaian itu, yaitu permasalahan kebijakan perekonomian yang seringkali tidak ramah lingkungan.

Pada dimensi kesadaran dan pemikiran kolektif, masih banyak orang yang menganggap alam ini "wajar" dieksploitasi, sebab untuk itulah ia ada. Karenanya seringkali perhitungan bisnis dan ekonomi mengabaikan "pembayaran" terhadap alam yang telah dieksploitasi itu. Hal yang sama juga terjadi ketika berbagai kegiatan bisnis, industri dan ekonomi menghasilkan sampah (waste). Masih belum muncul kesadaran kolektif, bahwa membuang sampah itu menjadi beban bagi alam. Karenanya alam, setelah dieksploitasi habis-habisan, juga dipaksa menjadi tong sampah raksasa dengan berbagai polusi di dalamnya. Inilah yang terjadi pada pencemaran udara, sungai, tanah dan lautan.

Jared Diamond menyimpulkan dalam bukunya Collapse: How Societies Choose to Fail or to Succeed, bahwa diantara faktor yang membuat punahnya satu masyarakat adalah kerusakan lingkungan yang melewati ambang batas dan kelemahan kepemimpinan dalam menentukan pilihan-pilihan kebijakan.

Kiranya berbagai bencana alam yang datang silih berganti, khususnya yang disebabkan ulah tangan-tangan manusia, menyadarkan kita untuk lebih arif lagi dalam bersikap dan bertindak. Dan untuk para pemimpin, semogalah mereka lebih jujur dan bersungguh-sungguh menjalankan amanah di pundak mereka.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Alquran Surat al-A'raaf (7):56]


Chiba-Japan


Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.


Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.


[dari Kitab al-Quran, surat Al-A'raaf (7):56-58]


***

Ide utama Fritjof Capra pada artikelnya Ecology and Community adalah, bahwa ada satu hukum alam (natural law) yang masih banyak dilupakan orang, yaitu hukum kelestarian (the law of sustainability). Ketika hukum alam ini diabaikan dan bahkan dilabrak manusia, maka umat manusia akan merasakan akibat buruk dari perbuatannya.

Capra meminjam tulisan Robert Kaplan, The Coming Anarchy, untuk menjelaskan berbagai akibat buruk tingkah polah manusia memperlakukan alam. Tulisan Kaplan yang merekam catatan perjalanannya di Afrika ini konon membuat heboh para top politicians di Washington dan amat berpengaruh pada penentuan kebijakan (geo)politik luar negeri. Tapi saya lebih suka meminjam syair Ebiet G. Ade yang melihat bencana itu (di sekitar Jogjakarta) dan mengisahkannya pada bait-bait ini:

Berita Kepada Kawan

perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
banyak cerita yang mestinya kau saksikan
di tanah kering berbatuan

tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
hati tergetar menambah kering rerumputan
perjalanan ini seperti jadi saksi
gembala kecil menangis sedih

kawan coba dengar apa jawabnya
ketika kutanya mengapa
bapak ibunya telah lama mati
ditelan bencana tanah ini
sesampainya di laut kukabarkan semuanya
kepada karang kepada ombak kepada matahari
tetapi semua diam tetapi semua bisu
tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

barangkali di sana jawabnya
mengapa di tanahku terjadi bencana
mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang


Bagi Capra masalah alam dan lingkungan lebih dari sekedar masalah kebijakan luar negeri. Dari alam kita perlu banyak belajar. Kita mesti memahami bahasanya, memahami pelajaran-pelajarannya untuk membangun kearifan kita berinteraksi dengan alam dan kearifan kita menata kehidupan ini. Ini petikan kalimat Capra:

We can learn from nature how to create sustainable communities, because ecosystems are sustainable communities of plants, animals, and microorganisms. In over four billion years of evolution, ecosystems have developed the most intricate and subtle ways of organizing themselves so as to maximize sustainability. This is what we can learn.


Dan ia menutup essai-nya dengan meringkas prinsip-prinsip kerja alam yang membuatnya terus lestari:

So these are some of the basic principles of ecology - interdependence, recycling, partnership, flexibility, diversity, and, as a consequence of all those, sustainability. As our century comes to a close and we go toward the beginning of a new millennium, the survival of humanity will depend on our ecological literacy, on our ability to understand these principles of ecology and live accordingly.



What a Wonderful World

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I think to myself, what a wonderful world

I see skies of blue and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself, what a wonderful world

The colours of the rainbow, so pretty in the sky
Are also on the faces of people going by
I see friends shakin' hands, sayin' "How do you do?"
They're really saying "I love you"

I hear babies cryin', I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself, what a wonderful world
Yes, I think to myself, what a wonderful world

==
Written by: George Weiss / Bob Thiele
Popularized by: Louis Amstrong

Blog EntryFrom a Distance - Kita Perlu Belajar dari AlamJan 15, '07 1:52 AM
for everyone
Saya trenyuh dan prihatin dengan kondisi di tanah air yang dilanda berbagai permasalahan lingkungan. Berkelindan dengan latar belakang studi yang saya lakukan, yang mencoba mengurai bagian kecil dari hubungan manusia dan lingkungan, saya pun membaca artikel lama tulisan Fritjof Capra berjudul "Ecology and Community". Seperti Capra, saya melihat betapa perlunya kita belajar dari alam dan lingkungan, bagaimana mereka bekerja dalam satu web of life untuk menjaga kelestariannya.

Saya melihat masih sedikit seniman Indonesia yang memberikan perhatian serius pada masalah lingkungan hidup. Untuk menyebut beberapa nama, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua dan Uli Sigar Rusadi adalah beberapa nama diantara yang sedikit ini. Mereka telah menyelipkan pesan-pesan bermakna tentang alam dan lingkungan pada sebagian karya mereka.

Saya baru menemukan satu lirik yang mendengarkannya tak membuat saya bosan: From a Distance. Di dalamnya ada pesan bermakna. Liriknya merangkai perhatian pada masalah lingkungan, perdamaian, kesejahteraan, cinta dan persaudaraan, hingga pada masalah ketuhanan. Ya, ketika manusia sadar bahwa "God is watching us", ketika itu segenap harapan bagi kemanusiaan akan berkembang. Dan ini semua membutuhkan kontemplasi jiwa. Kita perlu melihat ini semua from a distance, menjauh dari egoisme yang sering menutupi kebenaran.


From a Distance


From a distance the world looks blue and green,

and the snow-capped mountains white.
From a distance the ocean meets the stream,
and the eagle takes to flight.

From a distance, there is harmony,
and it echoes through the land.
It's the voice of hope, it's the voice of peace,
it's the voice of every man.

From a distance we all have enough,
and no one is in need.
And there are no guns, no bombs, and no disease,
no hungry mouths to feed.

From a distance we are instruments
marching in a common band.
Playing songs of hope, playing songs of peace.
They're the songs of every man.
God is watching us. God is watching us.
God is watching us from a distance.

From a distance you look like my friend,
even though we are at war.
From a distance I just cannot comprehend
what all this fighting is for.

From a distance there is harmony,
and it echoes through the land.
And it's the hope of hopes, it's the love of loves,
it's the heart of every man.
It's the hope of hopes, it's the love of loves.
This is the song of every man.

And God is watching us, God is watching us,
God is watching us from a distance.
Oh, God is watching us, God is watching.
God is watching us from a distance.

(dari Bette Midler)

Blog EntryTanah Longsor: Pemantauan dan MitigasinyaDec 11, '06 10:43 PM
for everyone
Sebuah tulisan lama. Saya posting ulang di sini, mengingat musim penghujan yang tengah hadir di tanah air. Seperti biasanya, pada musim penghujan ini kita menghadapi masalah tanah longsor dan banjir. Mudah-mudahan tahun ini pemerintah dan masyarakat kita lebih mengantisipasi kedua jenis musibah yang rutin terjadi ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat.


Salam,
Adi JM.

===
Hari-hari belakangan ini kita mendengar musibah tanah longsor di berbagai tempat di tanah air. Kasus di Banjarnegara adalah salah satu yang mencuat pada pemberitaan nasional. Harian Jawa Pos edisi 5 Januari 2006 melaporkan, tanah longsor menimbun sedikitnya 102 rumah yang dihuni 180 kepala keluarga. Korban tewas diperkirakan sekitar 90 orang. Longsoran tanah menimbun kawasan seluas empat hektar yang terdiri atas permukiman penduduk, kebun, dan hutan. Tinggi timbunan mencapai tiga meter, bahkan ada yang mencapai enam meter sehingga rumah-rumah betul-betul rata dengan tanah atau menimbun keseluruhan rumah.

Besarnya kerugian akibat bencana ini menyadarkan kita akan pentingnya pembelajaran massal bagi para pejabat publik dan masyarakat untuk mengenal seluk-beluk masalah terkait musibah yang kerap melanda terutama di saat musim hujan ini. Tulisan ini mengupas secara singkat sebagian permasalahan terkait tanah longsor. Apa sebenarnya tanah longsor itu dan apa penyebab-penyebab terjadinya serta apa yang dapat dilakukan dalam memantau dan mengurangi dampaknya?

Gejala Alam Tanah Longsor
Tanah longsor sendiri merupakan gejala alam yang terjadi di sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan lereng satu kawasan, semakin besar kemungkinan terjadi longsor. Semua material bumi pada lereng memiliki sebuah "sudut mengaso" atau sudut di mana material ini akan tetap stabil. Bebatuan kering akan tetap di tempatnya hingga kemiringan 30 derajat, akan tetapi tanah yang basah akan mulai meluncur jika sudut lereng lebih dari 1 atau 2 derajat saja.

Longsor terjadi saat lapisan bumi paling atas dan bebatuan terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Hal ini biasanya terjadi karena curah hujan yang tinggi, gempa bumi, atau letusan gunung api. Dalam beberapa kasus, penyebab pastinya tidak diketahui. Longsor dapat terjadi karena patahan alami dan karena faktor cuaca pada tanah dan bebatuan. Kasus ini terutama pada iklim lembab dan panas seperti di Indonesia. Ketika longsor berlangsung lapisan teratas bumi mulai meluncur deras pada lereng dan mengambil momentum dalam luncuran ini, sehingga luncuran akan semakin cepat (sampai sekitar 30 meter/detik). Volume yang besar dari luncuran tanah dan lumpur inilah yang merusak rumah-rumah, menghancurkan bangunan yang kokoh dan menyapu manusia dalam hitungan detik.

Meskipun tanah longsor merupakan gejala alam, beberapa aktifitas manusia bisa menjadi faktor penyebab terjadinya longsor, ketika aktifitas ini beresonansi dengan kerentanan dan kondisi alam yang telah disebutkan. Contoh aktifitas manusia ini adalah penebangan pepohonan secara serampangan di daerah lereng; Penambangan bebatuan, tanah atau barang tambang lain yang menimbulkan ketidakstabilan lereng; Pemompaan dan pengeringan air tanah yang menyebabkan turunnya level air tanah, pengubahan aliran air kanal dari jalur alaminya, kebocoran pada pipa air yang mengubah struktur (termasuk tekanan dalam tanah) dan tingkat kebasahan tanah dan bebatuan (juga daya ikatnya); Pengubahan kemiringan kawasan (seperti pada pembangunan jalan, rel kereta atau bangunan), dan pembebanan berlebihan dari bangunan di kawasan perbukitan.

Para ilmuwan mengkatagorikan tanah longsor sebagai salah satu bencana geologis yang paling bisa diperkirakan. Ada tiga parameter untuk memantau kemungkinan terjadinya perpindahan massa tanah dalam jumlah besar dalam bentuk longsor, yaitu:

1. Keretakan pada tanah adalah ujud yang biasa ditemui pada banyak kasus. Bentuknya bisa konsentris (terpusat seperti lingkaran) atau paralel dan lebarnya beberapa sentimeter dengan panjang beberapa meter, sehingga bisa dibedakan dari retakan biasa. Formasi retakan dan ukurannya yang makin lebar merupakan parameter ukur umum semakin dekatnya waktu longsor;
2. Penampakan runtuhnya bagian-bagian tanah dalam jumlah besar;
3. Selanjutnya kejadian longsor di satu tempat menjadi parameter kawasan tanah longsor lebih luas lagi. Perubahan-perubahan ini seiring waktu mengindikasikan dua hal: kerusakan lingkungan (misalnya penggundulan hutan dan perubahan cuaca secara ekstrim) dan menjadi tanda-tanda penting bahwa telah terjadi penurunan kualitas landskap dan ekosistem.

Pemantauan Kawasan Rawan Longsor dan Langkah Mitigasi
Kegiatan survei dilakukan untuk mengidentifikasi pola-pola gerakan tanah di kawasan kawasan di mana longsor diperkirakan terjadi. Ini dilakukan dengan pengukuran geofisika dan geologi, dengan memasang alat-alat ukur gerakan tanah. Faktor-faktor yang membuat kawasan tertentu lebih rawan longsor dibandingkan kawasan lainnya diukur. Diantara faktor ini adalah jenis dan distribusi tanah dan bebatuan, kemiringan lereng, cara air mengalir di permukaan dan di bawah permukaan tanah, besaran pengaruh cuaca, dan kerentanan pecah pada bebatuan.

Sebagian pekerjaan survei, seperti kemiringan lahan (diturunkan dari data topografi dan kontur), deteksi aliran air permukaan, klasifikasi umum jenis tanah dapat dilakukan secara langsung menggunakan tehnik penginderaan jauh (remote sensing). Sebagian lainnya dilakukan dengan memadukan pekerjaan survei lapangan dan interpretasi citra satelit. Pekerjaan survei dapat dibatasi untuk mengambil kawasan-kawasan contoh (sampling) yang digunakan untuk pemetaan kawasan luas dengan tehnik pengolahan citra hasil penginderaan jauh.

Dari suvei di atas peta-peta tematis, seperti peta geomorfologis dan peta geologis tentang jenis-jenis bebatuan dan karakteristiknya, dapat diproduksi. Peta-peta ini menjadi dasar bagi penataan ruang dan langkah-langkah mitigasi, seperti penerapan sistem peringatan dini dan pengkajian tingkat resiko longsor pada kebijakan pertanahan. Hal ini menjamin berlangsungnya proses yang tepat pada pembangunan kawasan-kawasan baru dengan mengkaji hal-hal yang terkait dengan kestabilan lereng. Penataan ruang untuk pembangunan diarahkan pada kawasan dengan resiko ketidakstabilan longsor rendah atau sangat rendah.

Sistem informasi resiko longsor di atas juga dapat digunakan sebagai landasan praktis misalnya untuk pemindahan jalur jalan atau menentukan kawasan khusus tempat bebatuan jatuh, sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan gangguan pada arus lalu lintas.

Pada kasus lain bisa disarankan untuk memperbaiki kawasan lereng secara intensif, misalnya dengan mengokohkan permukaan tanah ke lapisan di bawahnya dengan melakukan pengecoran atau membangun sistem pengairan untuk mengurangi erosi air dan menjaga kestabilan tanah. Pekerjaan-pekerjaan ini menjadi tanggung jawab pemerintah, karena membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga-tenaga terampil di bidang tehnik sipil dan geologi.

Sebagai penutup, tak ada yang dapat menghentikan kekuatan alam yang berujud tanah longsor ini, tetapi kita bisa meminimalisasi akibat-akibatnya. Oleh karenanya informasi yang sudah dikompilasi melalui penelitian dan pengkajian di atas mesti disebarluaskan secara jelas dan populer kepada masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah rawan longsor. Pengetahuan dan informasi ini menolong masyarakat untuk melindungi diri dan harta mereka. Pendekatan-pendekatan pendidikan dan sosial terpadu amat diperlukan pada tahapan penginformasian ini.


Daftar bacaan


1. Longsor Banjarnegara Timbun 180 Rumah
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=205396
2. Seeking Solutions to Slides
http://www.xtreme.hawaii.edu/research-projects/slides/
3. Landslide: How do They Happen?