Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Adi Junjunan's posts with tag: pendidikan anak

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pendidikan anak
Blog EntryGaji Papa Berapa?Jun 12, '08 11:34 PM
for everyone
Sebuah kisah yang patut menjadi renungan para ayah -termasuk saya di dalamnya- dan juga para calon ayah.

Terima kasih untuk Pak Jasmo yang tulisannya saya kutip. Saya dapatkan pada milis alumni sekolah.

Salam,
Adi JM.

Gaji Papa Berapa?


Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka
di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya,
Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu
untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa
dalam satu bulan berapa, hayo?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo
satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa
digaji Rp. 40.000,- dong," katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur," perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam
begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur!" hardiknya mengejutkan
Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.
5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.
15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka
setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.
5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa... ," kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan
harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan
anaknya.


Thanks & B' Regards
Jasmo W.S
.

Blog EntryMendidik Anak dalam KeprihatinanJun 9, '08 3:15 AM
for everyone
Diantara ujian bagi orang tua dalam pendidikan anak adalah pada sikap:" Cukuplah saya dulu yang hidup prihatin. Anak-anak kalau bisa tidak usah mengalami kesulitan sebagaimana saya alami." Sikap ini amat terkait erat dengan rasa kasih sayang orang tua kepada anak, yang memang Allah tetapkan pada fitrahnya.

Lalu apakah orang tua harus bersikap hemat dan melakukan rekayasa tertentu agar anak-anak mengalami kesulitan dalam proses pendidikannya? Saya yakin akan sulit bagi orang tua melakukan tindakan seperti ini. Apalagi kalau kondisi ekonomi keluarga relatif baik, tentulah orang tua akan memberikan fasilitas terbaik bagi anak-anak. Kecenderungan yang ada orang tua bahkan akan melakukan berbagai usaha agar anaknya hidup dalam kenyamanan dan kecukupan.

Yang saya alami dan amati, kondisi tertentulah yang membawa seorang anak ada pada kesulitan, yang membuat jiwa mereka tertempa mengatasi masalah kehidupan. Dalam kondisi sulit seperti ini, bahkan orang tua pun berada dalam kondisi tidak dapat melakukan apapun kecuali berdoa dan bertawakkal kepada Allah swt. Orang tua dapat membantu anak dengan menguatkan jiwa mereka dalam menghadapi kesulitan hidup.

Dalam buku Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab ada penggalan kisah keprihatinan Imam Ahmad bin Hambal. Ia menjadi anak yatim sejak kecil, sehingga hanya ibunya yang membesarkannya di masa kanak-kanak. Suasana prihatin menyertai dirinya saat menempuh pendidikan di Bagdad, ibukota negeri Islam saat itu. Setelah belajar pada para ilmuwan di Bagdad, pada usia 16 tahun Imam Ahmad pergi ke Yaman untuk menempuh ilmu. Di perjalanan bekalnya habis. Ia pun kemudian bekerja sebagai pelayan sebuah kafilah dagang. Dengan begitu ia bisa sampai ke Yaman.

Di Yaman pun diriwayatkan ia terus bekerja "part time" selama menempuh pendidikan. Ia tetap menjadi murid paling cemerlang. Tidak sedikit di antara gurunya yang menawarkan bantuan finansial kepadanya. Akan tetapi jiwanya yang teguh menjawab tawaran ini dengan ucapannya yang senantiasa dikenang, "Terima kasih. Aku dalam kebaikan."

Dalam buku 50 Tahun Habibie, mantan menristek di masa pemerintahan Presiden Soeharto, ada sepenggal kisah tulisan Ibu Ainun, istri Prof. Habibie. Bu Ainun bercerita, bahwa Habibie menikahinya segera setelah lulus insinyur (Dipl.-Ing). Saat itu, Habibie melanjutkan sekolah doktor. Di samping sekolah ia mesti bekerja pada sebuah pabrik kereta demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Jadi ia datang ke kampus dan sekaligus bekerja seharian. Seringkali ia bekerja sampai malam hari. Karena keterbatasan biaya, ia tidak jarang pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Padahal rumahnya berjarak sekitar 10 km dari tempatnya bekerja. Rumahnya memang terletak di pedesaan (rural area),  di mana ongkos sewanya agak murah dibandingkan di kota.

Membaca kisah-kisah di atas membuat saya yakin bahwa keprihatinan itu bukan "nasib sial". Bahkan bisa jadi ia menjadi tadbir Rabbani, rekayasa Allah swt, untuk menempa orang-orang maraih kesuksesan.

Sementara itu saya melihat anak-anak zaman sekarang agak dimanjakan dengan keadaan yang ada. Saya masih ingat, pada tahun 80-an, di kota Kuningan tempat saya jalani pendidikan SMP dan SMA, anak-anak sekolah berjalan kaki untuk pergi dan pulang bersekolah. Jarak rumah saya sendiri sekitar dua setengah kilometer ke sekolah. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 6:15, sehingga bisa sampai sebelum jam 7:00. Saat ini saya perhatikan tak ada lagi kebiasaan itu. Anak-anak pergi dan pulang sekolah dengan angkot atau naik motor. Bahkan untuk menempuh jarak sekitar 700 meter dari gerbang pintu perumahan ke depan rumah pun, banyak anak-anak yang menggunakan jasa ojeg ...!

Saya tinggal bersama nenek dan kakek. Sebagai seorang pelajar, saya tentu perlu meja belajar. Waktu saya sampaikan ke nenek, ia mengatakan saya bisa memakai salah satu meja di dapur. Saya tahu yang nenek maksud adalah sebuah meja sederhana, yang kadang dipakai untuk menyimpan bumbu atau peralatan dapur. Saya pun mengambil meja itu. Kemudian untuk membuat meja menjadi nyaman digunakan, saya membeli semacam kertas kado polos berwarna hijau. Saya tutupi meja dengan kertas hijau itu. Saya tulisi kertas itu dengan beberapa moto dan visi pembawa semangat. Lalu saya lapisi dengan plastik transparan di atasnya. Itulah meja belajar yang menemani masa-masa SMP dan SMA saya.

Nenek dan kakek punya halaman di sekeliling rumah yang cukup luas. Pada halaman itu ditanami pohon cengkih. Sebagai kombinasi olah raga dan latihan bela diri silat, menyapu halaman dan menyirami pohon cengkih dengan air kolam menjadi bagian dari pag-pagi hari Ahad. Dengan senang hati pada hari Ahad saya pun mengantar nenek ke pasar, membantu membawakan belanjaan. Atau di rumah, mengepel menjadi waktu-waktu yang saya lalui sebagai tugas rutin.

Tentu saja ada kondisi-kondisi indah yang saya dapatkan. Nenek selalu menyiapkan sarapan dan makanan lezat. Rumah yang dekat tajug atau surau, membuat saya dapat melaksanakan sholat berjamaah dengan rutin dan juga belajar mengaji di dalamnya. Pengalaman masa remaja seperti ini akan selalu dikenang dalam hidup saya.

Cerita-cerita di atas saya sampaikan kepada anak-anak dalam suasana santai. Saya sangat berharap anak-anak mendapatkan sebuah gambaran kehidupan yang seimbang dalam menjalani proses pendidikan.

Saat ini anak-anak semakin sulit memperoleh informasi dan kondisi yang membuat jiwa mereka tertempa. Terlalu banyak arus informasi yang membuat anak-anak hanya membayangkan kesenangan. Apa yang mereka ketahui seolah hanyalah "bagaimana menikmati hidup". Kehidupan glamour yang tertayang di televisi, di mall-mall, di tempat-tempat hiburan, seolah membius mereka. Mereka pun menghadapi kesulitan hidup sebagai sebuah keterpurukan dan kesedihan yang parah.

Saya pernah mendapat cerita seorang kawan, kalau anak-anaknya susah hidup di pesantren, sebab enggak betah dengan kondisi kamar mandi dan WC-nya. Saya juga mendengar ada seorang anak yang kebingungan mau pergi bersama teman-temannya, kalau enggak memegang uang minimal lima puluh ribu rupiah.

Kita sebagai orang tua, terutama yang hidup di perkotaan, memang menghadapi ujian yang lumayan berat dalam memandu perkembangan kejiwaan anak-anak. Mereka hidup dalam lingkungan yang mengajarkan amusement dan cenderung hedonis. Jiwa anak-anak tidak pernah atau sangat sedikit mengalami kondisi pedih. Karenanya jiwa mereka rapuh dan cepat menyerah ketika menghadapi tantangan hidup.

Pada kondisi tantangan di atas, saya pribadi memaknai kondisi sulit yang dialami dalam kehidupan sebagai sebuah kesempatan untuk memberi warna keprihatinan dalam pendidikan anak-anak. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi orang tua, agar kesempatan ini menjadi sesuatu yang positif. Syarat itu adalah menyertai kondisi ini dengan dialog dan obrolan dengan anak-anak. Kondisi sulit jangan sampai membuat anak-anak jadi lemah jiwanya apalagi sampai pesimis menjalani kehidupan. Kondisi sulit justru mesti digunakan untuk menyiapkan mereka untuk memiliki keteguhan hati dan kekuatan jiwa. Mendidik mereka untuk terus berusaha dan memohon bantuan Allah. Bukankah beserta kesulitan ada sebuah kemudahan? Sungguh beserta kesulitan ada kemudahan lainnya!

Bogor, 9 Juni 2008,
Adi Junjunan Mustafa.

Obrolan semalam cukup unik. Para ayah -termasuk saya di dalamnya- sedang agak mumet mengikuti perkembangan pendidikan anak-anak perempuan mereka yang menginjak remaja di masa-masa SMP. Supaya konteks tulisan ini tergambar jelas, saya akan mulai tulisan ini dari latar belakang pilihan pendidikan untuk anak.

Seiring kesadaran kami untuk menghantarkan anak-anak mereka pada suatu sistem pendidikan yang islami, anak-anak pun disekolahkan pada pondok-pondok pesantren; Istilah lainnya: Islamic Bording School. Pada prakteknya tentu sebagai orang tua, kami tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak. Bahkan dalam banyak kasus, pilihan masuk pondok itu didasarkan pada keinginan anak. Meskipun dilanda kebimbangan, karena akan terpisah jauh dari anak, kami pun dengan senang hati mendorong dan mendukung mereka untuk menempuh pendidikan di pondok.

Suasana pondok sendiri bagi sebagian kami bukan suasana yang kami kenal langsung. Sebagian kami malahan memiliki latar belakang pendidikan yang normal-normal saja berdasarkan kurikulum nasional, yang belakangan kami rasakan memang miskin dari penekanan masalah akhlak dan keagamaan. Sebagian kami juga malah melanjutkan pendidikan tinggi di negara-negara yang menganut faham sekuler, apakah itu negara-negara Barat atau negara Asia, seperti Jepang.

Kami menaruh kepercayaan mengirimkan anak-anak ke pondok atas dasar kepercayaan pada konsep pendidikan yang ditawarkan dan juga pengenalan personal kepada para pembina (para ustadz dan ustadzah). Ya, kami memang secara langsung dan tak langsung ikut serta mendorong lahirnya sistem pendidikan yang memadukan kejernihan ajaran-ajaran agama dan kemajuan capaian-capaian peradaban modern. Para ustadz dan ustadzah kami hargai dan hormati sebagai pendidik yang berkompeten dalam masalah keagamaan.

Kami percaya bahwa lingkungan pondok kondusif untuk menumbuhkan akhlak dan pemikiran mulia berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Mereka terbiasa sholat berjamaah, mereka terbiasa melakukan shaum sunnah, dan mereka pun didorong untuk memiliki kualitas memadai dalam membaca dan menghafal Quran. Mereka dilatih untuk memiliki keterampilan berbahasa Arab dan Inggris, mempelajari ilmu-ilmu aqidah, hadits, akhlak dll. Mereka juga difasilitasi mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler olah raga, jurnalistik, dll.

Di sisi lain pengajaran ilmu-ilmu pasti alam dan sosial di pondok disampaikan oleh para guru yang juga memiliki kompetensi bagus. Mereka lulusan kampus-kampus pendidikan, pertanian dan juga kampus-kampus tehnik ternama. Pondok juga secara aktif mengirimkan para santri pada perlombaan dan olimpiade matematika, IPA ataupun IPS.

Kami sadar masih perlu peningkatan kualitas pondok pada pengajaran keilmuan IPA atau IPS. Para pengurus pondok pun cukup sering meminta dukungan para orang tua yang ber-background pendidikan ilmu-ilmu modern. Kami tentu punya obsesi agar lulusan pondok tidak hanya bersaing untuk masuk universitas-universitas syariah di dalam dan luar negeri, tapi juga berdaya saing tinggi untuk memasuki universitas-universitas ilmu-ilmu alam dan sosial di dalam dan luar negeri. Ini memang butuh perjuangan sungguh-sungguh para pengelola pondok dan dukungan optimal para orang tua santri.

***

Lalu ada apa dengan pendidikan anak perempuan di pondok? Ternyata yang mencuat dalam obrolan adalah masalah akhlak dan masalah kebetahan mereka di pondok.

Kami agak kaget dengan "perubahan" perilaku anak-anak gadis kami yang dalam beberapa hal tidak seperti yang kami harapkan.  Dalam masalah ketaatan beribadah, anak-anak ternyata tidak "sehebat" ketika mereka di pondok.  Dalam masalah kesopanan, kadang terlihat mereka agak cuek terhadap orang tua. Tidak jarang mereka terlibat semacam pertengkaran kecil dengan ibu mereka. Dalam pola komunikasi (lewat telepon, sms dll), mereka gunakan bahasa-bahasa gaul. Mereka juga ngobrol tentang lawan jenis, meskipun sepertinya mereka hati-hati sekali ngobrol tentang ini di depan orang tua. Dan satu lagi, terkadang mereka merasa "terbuang" dengan menjadi santri pondok. Apalagi ketika mereka mendapati keluarga besar mereka dari pihak ayah dan ibu (seperti nenek, tante, dll), kebanyakan mempertanyakan kenapa mereka mesti mondok. Walaupun pertanyaan-pertanyaan keluarga besar ini didasarkan pada rasa sayang, tapi buat seorang anak hal ini membuat bimbang, apakah mereka betul-betul di-support oleh saudara-saudara mereka?

Pada paragraf di atas, sengaja saya beri tanda kuot pada kata perubahan, sebab bisa jadi kami lah yang memang tidak intensif mengikuti perubahan mereka. Dan memang inilah yang sementara ini kami simpulkan.

Kami mesti menyadari bahwa anak-anak kami sedang mengikuti proses pendidikan yang unik pada zamannya. Mereka memang "berbeda" dengan remaja pada umumnya yang mengalami pergaulan relatif bebas dengan lawan jenis atau bahkan berpacaran, tidak dibebani berbagai pelajaran keagamaan intensif seperti hafalan Quran, bahasa Arab, aqidah dll, bebas punya hand-phone -oh ini baru kami sadari merupakan masalah penting buat anak pondok yang memang enggak boleh pegang hand-phone, karena alasan yang bisa kami terima-, bisa santai memelototi tayangan-tayangan teve seperti acara musik, infotainment alias gosip-gosip selebritis dll ... dll.

Kami mesti menyadari bahwa mereka berada pada masa pubertas. Mereka sedang mencari jatidiri, misalnya yang cukup dominan melalui kesan kepada/dari lawan jenis. Mereka menduga-duga ... hmm asyiknya kalau aku bebas hidup seperti mereka-mereka yang tidak di pondok. Mereka memang tidak merasakan itu, maka mereka tidak tahu apa untung ruginya berada dalam dunia yang tidak mereka kenal.

Lalu bagaimana kami mesti bersikap? Saya sendiri menawarkan pola komunikasi sebagai teman dengan mereka. Sebagai orang tua, kami mesti mau nonton bareng sinetron-sinetron SMA di teve (meskipun terus terang kami susah untuk berapresiasi dengan tayanga-tayangan itu). Sesekali lihat tayangan infotainment. Kalau anak kita senang baca novel "teenlit", tak apalah kita ikuti kemauannya. Istri saya pernah bilang, biarlah anak kami mengeksplorasi kehidupan luar pondok lewat bacaan-bacaannya. Yang penting kami bisa terus berdialog dengannya dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran dalam bahasa yang bisa diterima dan dicerna anak remaja.

Saya pernah sarankan anak kami agar dia membaca-baca tentang peri kehidupan sahabat Nabi. Anak kami menjawab, bahwa di pondok itu jadi pelajaran. Para santri malah membaca langsung kitab Hayatush Shahabah. Malahan sifat-sifat fisik para shahabat pun dipelajari hingga detil-detilnya. Mendengar hal itu, saya bisa maklumi kalau di masa-masa liburan anak kami ingin suasana bacaan yang berbeda.

Saya memang berharap banyak kepada istri agar bisa memandu perkembangan anak kami yang menginjak usia remaja ini. Peran sebagai ibu mesti diperkaya juga dengan peran sebagai sahabat.
Pada beberapa kesempatan saya dan istri bercerita pengalaman melewati masa-masa remaja dulu. Anak kami nampaknya menikmati cerita-cerita itu. Dia bisa tertawa lepas dan terlibat dalam obrolan. Sejauh ini lewat peran sebagai sahabatlah obrolan-obrolan menyangkut kepribadian dan jatidiri bisa mengalir lumayan lancar.

***

Masih ada PR kami sebagai orang tua. Terus berdialog dengan para pengasuh pondok. Kami jelas tidak boleh "melepas tanggung jawab" pendidikan anak kepada pihak pondok. Bagaimanapun pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua. Yang kami lakukan adalah memberi mandat kepada para ustadz dan ustadzah untuk mendidikan mereka pada bagian-bagian yang memang kami sendiri tak mampu memberikannya.  Artinya kami mesti terus berkomunikasi intensif dan secara berkala bertemu dengan anak-anak untuk melengkapi kebutuhan pendidikan mereka.

Kami mesti terus berdialog dengan anak-anak, terus membina keyakinan bersama, bahwa pilihan sekolah di pondok itu adalah sebuah pilihan yang diambil secara sadar. Kami juga mesti meyakinkan diri, bahwa kualitas pendidikan di pondok akan melahirkan manusia-manusia berkualitas, siap untuk melanjutkan pendidikan berkualitas pada jenjang yang lebih tinggi dan berdarma bakti bagi masyarakat.

Dan permasalahan anak-anak remaja perempuan kami adalah permasalahan alami pada manusia di masa remaja, di masa pubertas, di masa awal menuju kedewasaan mereka. Kami mesti terus memandu mereka, agar terbangun identitas diri yang kokoh. Agar mereka melangkah mantap menyongsong masa depan mereka.

Dan hanya kepada Allah lah, kami para orang tua, mesti memohon pertolongan dan petunjuk dalam mendidik anak-anak kami. Kami pun sadar banyak sekali kekurangan dan kekeliruan kami dalam mengambil keputusan dan bersikap pada pendidikan anak-anak kami. Karenanya kami memohon ampunan kepada Allah untuk semua kesalahan kami. Semoga Dia Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, mengganti kesalahan kami dalam bentuk bimbingan langsung kepada anak-anak kami. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Itulah sekelumit obrolan kami, para ayah, tentang pendidikan putri-putri kami. Ini tentu hanya satu potret sosial, pada lingkungan sosial tertentu pula. Tapi saya yakin seorang ayah pasti akan mengalami masa-masa lumayan pelik dalam berinteraksi dengan anak-anak perempuannya, terutama di masa remaja. Semoga tulisan ini menjadi sharing yang bemanfaat.

Bogor, 5 Juni 2008,
Adi Junjunan Mustafa

Ahad pagi kemarin istri mesti pergi ke Bandung untuk keperluan aktifitas dakwah politiknya. Seperti biasa ia meminta ijin saya. Saat itu anak-anak meminta saya agar tidak memberi ijin. Biasalah, namanya anak-anak, tetap saja merasakan hal yang berbeda kalau mesti ditinggal bunda mereka, walau hanya beberapa jam. Apalagi secara psikologis, bunda mereka akan pergi ke luar kota.

Saya sendiri kali ini cenderung untuk mengijinkan istri pergi. Pertimbangannya, dia akan berangkat bersama cukup banyak ibu-ibu lainnya ikut dalam rombongan tiga buah bis. Bagaimana pun juga, dengan amanah dakwah yang ia pikul, diperlukan penyegaran intelektual dan sekaligus konsolidasi untuk memperkuat gerak dakwah.

Sejak Sabtu malam, istri sudah memikirkan persiapan makan anak-anak -dan juga untuk saya tentunya-. Begitu juga pagi harinya, ia masih risau karena enggak sempat menyiapkan makanan itu, sebab mesti berangkat cukup pagi dari rumah. Saya bilang, "Sudahlah ... Gampang kalau masalah makanan." Maka saya antar ia ke tempat pemberangkatan. Di lokasi saya sempatkan ngobrol-ngobrol ringan dengan beberapa orang yang saya kenal, dan saya pun kembali ke rumah.

Sampai di rumah, anak-anak ternyata sudah "SOS". Mereka bilang udah laper ... Saya pun mengajak mereka berembug, mau sarapan apa? Akhirnya semua sepakat beli mie instant *smile*. Saya bersama tiga anak gadis pun pergi ke toko terdekat.

Saat kami di toko ada celetukan ringan dari si sulung Fafa. "Ayah, kalau ada bunda, pasti aku dikomentari kalau keluar pakai jaket begini. Kalau sama Ayah, kok enggak ditanya sih?"

Saya tertawa mendengar celetukan Fafa. "Kalau buat Ayah, enggak masalah tuh dengan jaket begitu. Yang penting nutup aurat ... No problem!"

"Kalau bunda kan memperhatikan matching apa enggak ...," Qanita menimpali.

"Lho, baju teteh kan matching dengan bawahannya," sergah saya. Anak-anak pun tertawa. Saya melanjutkan, "Ya ... tapi itulah beda Ayah dengan bunda kalian. Pasti bunda punya pertimbangan kalau ia memberikan masukan tentang pakaian kalian."

Belanjaan utama kami adalah mie instant sesuai pilihan masing-masing. Ternyata semua memilih mie goreng, meskipun beda-beda rasanya. Saya sendiri agak jarang makan mie instan. Kemarin saya memilih rasa ayam bakar ... *smile*. Kami juga sempat beli logistik makanan lain buat menemani hari Ahad siang itu.

Sepulang dari toko, kami mampir beli es buah. Qanita memang sudah mengingatkan saya bahwa dia pengen es buah. Tiga porsi nampaknya cukup buat berempat, sebab salah seorang putri kami enggak terlalu suka es buah.

Sesampai di rumah Fafa membuka lemari es. Dia bilang, "Ayah, ternyata telor habis ...". "Katanya tadi masih ada ...?!" tanya saya. "Iya, ternyata udah dipakai. Baru inget, tadi malam bunda pakai telor waktu bikin nasi goreng ...," jawab Fafa.

Akhirnya, saya yang sudah siap istirahat pun siap-siap lagi ke warung dekat rumah. Sekitar 500 meteran jaraknya dari rumah. Saya ditemani si bungsu Maryam ke warung.

Sepulang dari warung, Fafa dibantu Qanita ternyata sudah selesai merebus empat piring mie dicampur bumbu mie goreng. Saya pun mulai menyiapkan penggorengan untuk membuat goreng telur. Fafa dan Qanita request telur ceplok, alias telur mata sapi. Yang satu ingin kering kuning telurnya. Seorang lagi ingin mata sapinya masih bulet dan agak setengah matang. Maryam lebih suka didadar telurnya. Dan sebelum kering, dia ingin telurnya dihancur-hancurkan. Saya penuhi request dari anak-anak ini. Mereka nampak puas dengan sajian yang saya buat.

Di sela-sela masak Fafa bilang, "Enggak apa-apa Ayah masak telur ...?"

"Lho emang kenapa? Ayah biasa kok masak sendiri waktu di Jepang."

Anak-anak nampak mendapatkan suasana yang berbeda saat melihat ayah mereka masak. Sebetulnya ini bukan pertama kali saya memasak untuk mereka. Tapi kali ini suasasanya agak lain, sebab bunda mereka enggak menyertai saya memasak.

Kami pun makan dengan lahap, karena memang lapar ... *smile*. Rupanya porsi mie goreng masing-masing cukup banyak, sehingga kami cukup kenyang juga.

Selepas makan mie goreng, kami tutup makan pagi menjelang siang itu dengan minum es buah. Saya baru tahu kalau es buah yang dibeli itu sangat lezat. Isinya ketimun suri, melon, alpukat, rumput laut dan dicampur susu.

"Mantep juga juga ya rasanya ...," kata saya saat menikmati es buah.

"Bener Ayah ... bagus juga kalau tiap Ahad kita minum es buah." Qanita menimpali. Fafa nampak setuju. Maryam netral ...

"Boleh ... kalau kita ada rezekinya, " timpal saya.

Siang itu kami lalui dengan obrolan-obrolan ringan. Ada yang sesekali bermain game di komputer. Ada yang membaca buku. Ada juga yang bermain-main dengan bonekanya. Saya sendiri selepas sholat Zhuhur meminta ijin kepada anak-anak untuk tidur siang. Saya memang agak lelah, mungkin karena sebelumnya sejak Jumat siang hingga Sabtu siang baru melakukan raker kantor.

***

Sore hari selepas sholat Ashar, Qanita dan Maryam mengajak saya main badminton. Saya menyambut senang ajakan mereka. Tapi sebelum badminton saya sempatkan lari sedikit, mengelilingi satu blok perumahan tempat kami tinggal. Setelah itu hampir 1 jam saya temani dan latih Qanita dan Maryam main badminton. Qanita nampak senang mendapatkan sparing partner berlatih. Wajar saja, sebab kalau dia main dengan Maryam, dia merasa kurang mendapat "lawan main" yang sepadan.

Maryam pun saya latih sesuai kemampuannya. Dia sebetulnya lebih ngotot dalam bermain. Hanya saja pukulannya masih harus dilatih dan disempurnakan.

Cukup berkeringat juga saya bermain badminton dengan mereka berdua. Sampai Senin ini, saya masih merasakan pegal-pegal sedikit dikaki, karena memang sudah lama jarang berolah raga ... hehehe.

***

Malam hari selepas sholat Isya, kami sudah janjian untuk makan malam di luar. Seperti siang tadi kami sudah berembug menentukan tujuan kami. Di antara tiga putri kami, Qanita rupanya punya preferensi yang lebih siap. Dia mengusulkan makan soto. Dia meyakinkan teteh dan adiknya, bahwa soto yang pernah dia makan di Warung Mas Ari, di kompleks Bogor Indah Plaza (BIP), rasanya maknyus ... Saya setuju dengan pilihan Qanita. Yang lain pun nampaknya tidak punya alternatif yang lebih meyakinkan. Hanya saja Fafa bilang kalau dia sekali waktu pengen makan pizza ... *smile*.

Kami pun makan soto di Warung Mas Ari. Dan ... oke. Rasanya memang maknyus. Qanita memilih soto babat. Fafa dan saya soto paru. Adapun Maryam pilihannya soto mie.

Begitulah kami isi acara makan malam dengan menyenangkan. Saat kami makan, alarm sms saya berbunyi. Ternyata istri saya pengirim sms itu. Isinya, "Aa, punten ... Lia baru keluar dari kota Bandung sekarang. Mungkin makan dulu bareng rombongan. Agak malam sampai Bgr. Makan malam aja ya sama anak-anak. Sun."

Saya baca sambil tersenyum, lalu saya suruh Fafa membalas sms itu. Fafa menulis, "Makan dmn mak? Qt lg d rest0ran t'qren s'dunya,,hahaha,, tapi bo0ng! Eh, bnr d g' boonk! Masa phapha b0onk? Jgn lp bw idung, tkut ktinggalan, krikkrik,,"

Saya senyum-senyum aja baca sms Fafa. Cara mereka berkomunikasi memang membuat saya sering geleng-geleng kepala. Tapi begitulah ekspresi keakraban mereka dengan bunda mereka. Saya yakin istri juga senyum-senyum sendiri baca sms di atas.

Seusai makan, anak-anak masih ingin lihat-lihat pertokoan di BIP. Ada toko baru yang menjual pakaian-pakaian batik. Qanita nampak bersemangat mengamati model-model yang dijajakan. Dia memang punya hasrat untuk jadi desainer baju. Makanya setiap melihat model-model baju, dia seperti sedang mengabsorpsi ide ke kepalanya. Seusai itu, saya mengajak mereka memilih bekal roti atau donat untuk besok ke sekolah.

Sebelum pulang, kami mampir ke tempat photocopy dan penjilidan untuk menjilid PR Qanita. Dia mesti mengumpulkan PR pembuatan proposal hari Senin ini.

***

Saya merasa senang bisa mengisi hari Ahad ini secara intensif dengan anak-anak. Saya tidak tahu bagaimana kesan mereka dengan Ahad ini. Yang pasti saya merasakan suasana dekat dengan mereka. Mereka pun nampak lepas ngobrol pada waktu-waktu kebersamaan kami Ahad ini. Pada obrolan-obrolan ringan kami, semoga ada nilai-nilai kebaikan yang bisa mereka serap.

Demikian sahabat MP sekalian. Sebuah tulisan sederhana. Mungkin tak ada yang istimewa di dalamnya. Tapi saya sendiri mereka perlu menuangkan tulisan ini sebagai rasa syukur saya kepada Allah, atas segala karuniaNya kepada keluarga kami ... Kalau boleh saya ingin sampaikan kepada sesama ayah, "Cobalah resapi kebersamaan dengan anak-anak, tanpa kehadiran bunda mereka. Insya Allah akan ada 1001 cerita di dalamnya ...!"

Salam,
Adi Junjunan Mustafa
# ayah 4 anak. Hasan enggak ikutan, karena sedang di pondoknya #

Blog EntryMembangun Semangat Pembelajar (2)May 14, '08 11:21 PM
for everyone

Kelengkapan Pengetahuan Muslim*

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya tentang membangun semangat pembelajar [1]. Diantara pemacu semangat dalam proses pembelajaran adalah pemahaman tentang peta pengetahuan atau kelengkapan pengetahuan. Inilah yang akan menjadi pengarah bagi pribadi muslim untuk terus melengkapi akalnya dengan pengetahuan yang mampu memandu jalan hidupnya. Pembicaraan tentang kelengkapan pengetahuan ini terkait erat dengan pengetahuan tentang klasifikasi pengetahuan [2]. Beberapa ilmuwan muslim lain menggagas masalah kelengkapan ilmu bagi seorang muslim secara praktis dan dalam kerangka dakwah. Ustadz Sa’id Hawwa misalnya menulis buku Jundullah Tsaqafaatan wa Akhlaaqan [3]. Demikian juga Ustadz Yusuf al-Qardhawi pernah menulis buku tentang kelengkapan tsaqafah bagi para pendakwah Islam.

Saya sendiri tertarik dengan pengklasifikasian pengetahuan (ats-tsaqafah) menjadi tiga kelompok, sebagai berikut [4]:

  1. Ats-Tsaqafah adz-Dzatiyyah (pengetahuan inti/utama)
  2. Ats-Tsaqafah al-Ijtima’iyyah (pengetahuan sosial)
  3. Ats-Tsafaqah at-Takhashushiyah (pengetahuan khusus).

Ats-tsaqafah adz-dzatiyyah adalah pengetahuan yang menjadi bekal paling penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan. Ini pengetahuan tentang hakikat-hakikat terbesar dalam hidup, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, “siapakah saya?”, “dari mana saya berasal?”, “untuk apa saya hadir di alam wujud ini?” atau “apa misi dan tugas saya dalam hidup ini?”, “bagaimana saya memahami keseluruhan wujud yang ada di alam raya ini?” dan “apa yang akan saya alami setelah saya meninggalkan kehidupan ini?”. Ini yang disebut para ulama dengan haqaaiqul kubra, atau hakikat-hakikat terbesar dalam kehidupan. Ketika manusia gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan hampalah kehidupannya. Sebaliknya bila permasalahan ini telah tergambar dalam benaknya, telah difahami dengan baik, dan telah mewarnai sikapnya, maka akan sukseslah manusia dalam hidupnya.

Bolehlah diringkas, bahwa pengetahuan inti ini akan menjawab pertanyaan “who am I?” secara tuntas. Dan sebuah ungkapan hikmah menyatakan “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu”, barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Rabb-nya. Jadi pengenalan jati diri ini akan menghantarkan pada pengenalan hakikat ketuhanan atau tauhid (pengesaan Allah), yang merupakan inti dari ajaran agama Islam. Di atas hakikat inilah terbangun seluruh sistem dan ajaran keagamaan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab tuntas dalam Quran dan pada Hadits-hadits Rasulullah saw. Karenanya bagi seorang muslim, merupakan kewajiban untuk memahami isi Quran dengan sebaik-baiknya dan juga merupakan keutamaan yang besar untuk memahami hadits-hadits Rasulullah saw. Isi Quran yang memuat jawaban-jawaban hakikat terbesar itu terutama ada pada ayat-ayat Makiyyah. Maka dapat difahami bahwa selama hampir 13 tahun Rasulullah saw menyampaikan risalahnya di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah, wahyu yang beliau terima dan beliau ajarkan kepada umat Islam sebagian besar menyangkut masalah aqidah atau keyakinan yang menjawab permasalahan terbesar kehidupan manusia.

Ats-tsaqafah al-ijmima’iyyah adalah pengetahuan yang menyangkut manusia sebagai makhluk sosial. Quran dan Sunnah juga menyampaikan panduan bagi muslim untuk dapat menyelenggarakan kehidupan masyarakat secara harmonis. Diajarkan kepada umat manusia untuk saling mengenal dan menjadi manusia-manusia paling berbakti kepada Allah, Tuhan sekalian manusia. Diajarkan kepada orang beriman untuk hidup saling menyayangi, saling menolong dan saling memikul beban dalam menegakkan kebenaran.

Dalam peristilahan kontemporer, pengetahuan yang mencakup ats-tsaqafah ini adalah sosiologi, ekonomi, politik, dan sejarah serta keilmuan humaniora lainnya. Termasuk dalam pengetahuan ini juga psikologi, komunikasi, kepemimpinan, organisasi dll yang akan menjadi bekal penting agar terampil menjalani kehidupan bermasyarakat.

Pengetahuan sosial ini menjadi hajat kebutuhan muslim untuk melakukan positioning yang tepat dalam kehidupan. Dengan demikian ia akan dapat bersikap secara tepat dalam hidup ini. Pada setiap permasalahan sosial, ia mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang memiliki perhatian, sikap dan kesiapan untuk memecahkan masalah tersebut dengan tepat.

Jadi pengetahuan sosial ini akan menjawab pertanyaan “where am I?”. Dan sebagaimana pentingnya alat navigasi dalam sistem transportasi, pengetahuan sosial ini akan menjadi alat navigasi kehidupan muslim dalam melangkah.

Adapun ats-tsaqafah at-takhashashiyyah adalah pengetahuan spesialisasi yang ditempuh seseorang. Ia bisa menjadi ahli, tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli kejiwaan, hingga menjadi arsitektur ahli, akuntan ahli, insinyur ahli, dan lain sebagainya. Masing-masing orang bisa memilih, spesialisasi apa yang ia ingin miliki.

Pengetahuan spesialisasi ini akan menjadi bekal penting bagi seorang muslim untuk memberikan kontribusi terbesar bagi umat manusia. Jadi pengetahuan ini akan menjawab pertanyaan “what can I do for others?”.  Dengan kata lain, melalui pengetahuan ini seorang muslim berpotensi besar mengikuti ajaran hikmah yang diungkapkan Nabi Muhammad saw "khayrunnaasi anfa'uhum linnaas", sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak kontribusi kebaikannya kepada sesama manusia.

***

Yang jadi permasalahan orang muslim saat ini adalah ketika menghadapi sistem pendidikan yang memisahkan ketiga kategori pengetahuan di atas. Adapun generasi muslim yang pernah membangun peradaban tinggi di dunia ini, menjalani proses pendidikan yang utuh. Apakah dia seorang yang menjadi ahli fiqih atau ahli sosiologi, mereka sama-sama hafal Quran di masa kanak-kanaknya [5]. Mereka pun sama-sama menyerap ilmu hadits secara optimal di masa kanak-kanak dan remajanya.

Oleh karenanya, menjadi tugas bagi kita semua untuk terus melengkapi diri dengan pengetahuan-pengetahuan di atas secara seimbang. Wa bil khusus, bagi kita yang sudah menjadi orang tua, menjadi kewajiban untuk merencanakan secara matang pendidikan anak-anak kita agar mereka memperoleh pengetahuan-pengetahuan di atas secara tepat sejak masa kanak-kanaknya.

Hanya kepada Allah sajalah kita memohon bimbingan dan pertolongan.

WalLaahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, 16 Mei 2008,
Adi Junjunan Mustafa

Catatan:
* Pointers taushiyah pada acara penyerahan beasiswa prestatif kepada beberapa siswa dan juga mahasiswa alumni SMA 2 Kuningan, Jawa barat, di MQ-Cafe, Jln. Citarum, Bandung, Sabtu, 10 Mei 2008. Juga pada acara Ta’lim Bulanan Biotek, LIPI-Cibinong, Kamis, 15 Mei 2008.

[1]
http://adijm.multiply.com/journal/item/299/Membangun_Semangat_Pembelajar

[2] Ada banyak tulisan tentang klasifikasi pengetahuan dalam Islam. Yang sederhana misalnya ulama seperti Imam al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu pada dua kelompok: ilmu yang fardhu 'ain dan ilmu yang fardhu kifayah. Tentu saja ada pengklasifikasian yang lebih rinci. Sebagai bahan rujukan awal silakan membuka link di bawah ini, diambil dari resensi buku tulisan Dr. Osman Bakar: http://www.fonsvitae.com/islamic-science-bakar.html

[3] Dalam buku Jundullah Tsaqaafatan wa Akhlaaqan (Keadaan Pengetahuan dan Akhlak Prajurit Allah), Sa’id menyebutkan bahwa tsaqafah seorang muslim harus mencakup materi-materi itu bisa diringkas menjadi sepuluh: ilmu Al-Qur`an, ilmu hadis, ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fiqih, ilmu akidah, ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu sejarah, ilmu tentang tiga pokok (Allah, Rasul, dan Islam), dan ilmu fiqih dakwah.

[4] Klasifikasi ini saya serap dari sebuah forum dialog dengan budayawan muslim Anis Matta, pada kunjungannya ke Eropa pada pertengahan tahun 90-an. Seingat saya, Anis menisbahkan klasifikasi ini dari seorang ilmuan terkemuka Mesir, Mahmud Abbas al-‘Aqad. Saya belum sempat menggali langsung klasifikasi pengetahuan ini dari sumbernya, walaupun sudah mencoba browsing di internet.

[5] Salah satu contoh ilmuwan muslim yang dikenal sebagai ahli filsafat, juga ahli kedokteran di dunia Barat adalah Ibnu Rusyd atau Averroes (1126-1198M). Beliau juga adalah penulis kitab berjudul Bidayat al-Mujtahid, yang masih digunakan sebagai buku referensi mahasiswa yang hendak mempelajari fiqih syariah Islam.


Blog EntryKecurangan UAN, Keresahan Siswa dan Orang TuaMay 12, '08 3:05 AM
for everyone
Saya menengok Fafa yang baru mengikuti UAN untuk SMP tanggal 4-7 Mei lalu. Dia bilang lumayan bisa mengerjakan soal-soal ujian. Dia optimis untuk Matematika dan Bahasa Inggris. Yang agak sulit adalah Bahasa Indonesia dan IPA. Begitu laporan singkatnya.

Di tengah obrolan itu Fafa bercerita bahwa soal-soal latihan dari DKI-Jakarta amat dekat dengan soal-soal yang keluar di UAN. Dia merasa beruntung bisa berlatih dengan soal-soal yang dibawa salah seorang temannya. Sampai di sini saya merasa senang mendengarkan ceritanya, sebab usaha-usaha yang dilakukan masih dalam koridor bekerja dan belajar. Saya dan istri amat mengikuti hari-hari persiapan Fafa menjelang UAN. Kami sangat tahu betapa intensif bimbingan ujian diberikan di sekolahnya.

Fafa punya cerita yang sedikit mengganjal. Dia mensinyalir ada juga teman-temannya yang dapat bocoran jawaban soal ujian. Tanda-tandanya, beberapa temannya (terutama yang pria), begitu cepat keluar dari ruang ujian. Ujian dimulai jam 8 pagi. Jam 8:30 atau jam 9-an teman-temannya sudah pada keluar. Mendengar bagian ceritanya yang ini, saya pun merasa tidak nyaman. Timbul rasa kesal dalam diri saya.

Saya mencoba menenangkan diri dan terutama menenangkan Fafa. Kepada Fafa, dan Hasan adiknya yang ikut mendengar, saya sampaikan, "Fafa, jangan merasa iri dengan teman-teman yang berbuat curang seperti itu. Kita punya keimanan kepada Allah. Bisa jadi mereka yang curang merasa senang dan sukses. Bisa jadi mereka tak pernah mendapatkan hukuman. Tapi kita yakin, Allah akan mengadili mereka. Bukankah kita tidak selamanya hidup di dunia ini? Bukankah kita akan mengalami kehidupan kekal abadi di akhirat kelak ...?"

Saya kemudian memberikan apresiasi kepada Fafa atas kerja kerasnya dalam belajar menjelang UAN dan dalam mengerjakan ujian yang baru lalu itu.

***

Obrolan tentang kecurangan UAN memang menyesakkan dada. Siswa yang jujur pasti kesal melihat teman-temannya bisa lulus UAN dengan mudah dengan cara tidak jujur. Orang tua pun demikian. Yang berbahaya adalah bila akhirnya mereka yang jujur menyerah kalah dengan arus kecurangan. Mereka berpikir, kalau jujur terus pasti tidak bisa lulus.

Dalam skala yang lebih besar, kecurangan yang terjadi pada UAN akan melahirkan ketidakpercayaan pada sistem pendidikan. Ini terjadi pada fase akhir pendidikan yang diintrodusir pemerintah, yaitu UAN. Kalau masyarakat tidak lagi mempercayai institusi pendidikan, maka hancurlah salah satu pilar penting sebuah bangsa. Bukankah pendidikan adalah sebuah proses penting dalam membina generasi muda pelanjut pelaku peradaban sebuah bangsa?

Di sisi lain, kecurangan UAN yang dibiarkan secara tidak langsung meluluskan manusia-manusia picik. Manusia-manusia yang terus akan melanjutkan kehidupan dalam kebohongan dan dusta. Mereka yang tidak berani melalui kegagalan, kalau memang mereka mesti mengalaminya. Dan manusia-manusia jenis ini bukan saja para siswa, tapi juga segenap aparat pemerintah (khususnya yang berada di dunia pendidikan). Mereka yang karena takut dianggap "gagal", dengan culas melakukan berbagai manipulasi untuk meluluskan anak didik mereka sendiri dengan cara tidak jujur.

Bagaimana kira-kira perasaan kita ketika mendengar bahwa di antara para guru antar sekolah melakukan kecurangan "mengkatrol" nilai anak-anak didik mereka? Apakah yang mereka lakukan adalah ungkapan sayang kepada murid, ataukah mereka secara sadar telah menjerumuskan murid mereka ke dalam jurang kehancuran? Bagaimana pula perasaan kita ketika mendengar bahwa para guru melakukan itu akibat tekanan kepala dinas pendidikan, yang takut konditenya turun kalau di kabupatennya banyak siswa yang tidak lulus UAN? Kalau bagi mereka yang secara tersembunyi atau terang-terangan membuat kisi-kisi jawaban atau bahkan jawaban, lalu menjualnya, saya tidak tahu lagi, hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepada mereka?

***

Kita tentu merasa bersyukur dengan adanya tindakan-tindakan hukum yang tegas terhadap para pelaku kecurangan UAN. Tapi kita masih terus berharap aparat pemerintah di dunia pendidikan, para guru, para orang tua dan tentu saja para siswa untuk tetap berpegang pada nilai-nilai profesional dan kejujuran.

Para guru dan aparat pendidikan, mestinya bisa melakukan investigasi pada hasil UAN. Ketika beberapa siswa bisa memperoleh nilai spektakuler, bisa saja capaian ini dibandingkan dengan prestasi rata-rata yang mereka peroleh dalam ulangan-ulangan harian. Begitu juga penilaian secara kolektif pada sekolah atau kawasan tertentu, bisa dilakukan dengan referensi penilaian prestasi yang ada selama ini. Ini beberapa contoh saja, bagaimana hasil UAN bisa divalidasi dengan penilaian prestasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Saya sempat ngobrol dengan seorang saudara yang bekerja di bisnis informasi dan telepon selular. Apakah mungkin para pengusaha telepon selular melakukan filter bila ada kiriman SMS yang punya pattern aneh? Bukankah aneh pesan yang isinya: abbcd ddcea acdbe ...? Saya yakin teknologi komunikasi bisa melacak pesan ber-pattern janggal itu. Maka Depdiknas dan Depkominfo bisa saja membuat kerjasama untuk mencegah penyebaran jawaban bocoran soal lewat SMS.

Berbagai cara bisa dipikirkan untuk mencegah kecurangan UAN. Akan tetapi saya sepakat dengan pendapat beberapa pakar dan orang tua; Cara paling ampuh adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah kepada semua pengelola pendidikan, kepada para orang tua dan juga kepada para siswa. Selanjutnya dibangun pendidikan yang betul-betul berkualitas, secara adil di seluruh negeri ini. Dan akhirnya dipikirkan sistem ujian yang baik. Ujian yang betul-betul telah memperhatikan keseluruhan proses pendidikan yang telah diberikan kepada para siswa.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

Blog EntryDunia Anak yang TerampasMay 5, '08 3:50 AM
for everyone
Kalau kita perhatikan dengan seksama, akan kita dapati bahwa tayangan-tayangan televisi kita banyak merampas anak-anak dari dunianya. Anak-anak sangat sedikit mendapatkan tayangan yang pas dan cocok dengan perkembangan kejiwaan mereka. Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa "acara anak" mereka justru tidak lagi menjadi anak-anak. Mereka dipaksa menjadi "orang dewasa". Contoh hal yang terakhir disebutkan ini adalah pada acara "Idola Cilik" atau yang lebih kentara pada acara "Mama Mia".

Pada dua acara di atas, anak-anak seringkali dipaksakan bergaya seperti orang dewasa, mulai dari berpakaian hingga make-up yang mereka pakai. Kemudian mereka pun seringkali menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Sebagai orang tua, apa kesan kita melihat anak-anak membawakan syair lagu seperti ini: O o kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan si dia, teman baikku ...? Kalau kita berpikir jernih, tentu kita merasa miris mendengar ini. Tapi, saksikanlah bagaimana para penonton acara live itu, termasuk juga para orang tua anak-anak yang sedang tampil; Mereka tertawa-tawa dan bersorak-sorai melihat dan mendengar anak-anak itu beraksi.

Pada acara "Mama Mia" eksploitasi anak-anak usia antara 12-15 tahunan juga terjadi. Acara tersuguh dengan mempermainkan kondisi kejiwaan remaja yang senang menjadi populer, senang meraih prestasi, dan bisa jadi -karena berbagai faktor pemicu- senang mendapatkan uang dalam jumlah besar. Pakaian yang dikenakan para kontestan dan lagi-lagi lagu-lagu yang dibawakan, banyak menyimpang dari nilai-nilai luhur yang mestinya dipupuk pada jiwa remaja.

Efek dari tayangan-tayangan di atas di masyarakat sungguh dahsyat. Acara-acara itu ditayangkan dalam alokasi waktu yang panjang. Waktunya pun pada jam-jam yang strategis (prime-time). Maka wajar kalau tontonan berjam-jam itu menyita perhatian banyak keluarga. Di dalamnya dikemas setting sedemikian rupa, sehingga para pemirsa turut hanyut dengan "perjuangan" para kontestan. Misalnya diperlihatkan bahwa para kontestan ini mesti berlatih keras, hingga mereka bisa mencapai "prestasi" dan tampil memukau.

Ketika menyaksikan acara-acara di atas, para penonton sudah sulit memfilter, bahwa yang sedang di"perjualbeli"kan pada tayangan itu adalah anak-anak dan remaja, yang semestinya dipelihara kepribadiannya untuk memiliki sifat-sifat mulia. Yang terjadi adalah putaran roda bisnis entertainment yang mewarnai atau menguasai obsesi orang tua dan anak-anak untuk memperoleh sukses di dunia pentas dan hiburan.

Acara seperti di atas meraih rating tinggi di dunia pertelevisian. Rating yang tinggi ini tentu memiliki nilai jual tinggi untuk mengundang iklan. Belum lagi acara seperti ini seringkali berkolaborasi dengan bisnis telekomunikasi lewat kiriman SMS. Tidak heran acara-acara serupa terus diproduksi. Dan sesuatu yang sering melintas dalam benak dan pikiran  akhirnya menjadi obsesi dan nilai yang dianggap baik dan benar di tengah masyarakat.

Tanpa menjelaskan secara panjang lebar, pada tayangan-tayangan sinetron pun banyak ditemukan eksploitasi anak-anak. Sangat sedikit

***

Menghadapi kecenderungan terampasnya dunia anak lewat tayangan televisi, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan berbagai pihak:

1. Pihak Orang Tua
Orang tua mesti memberikan bimbingan kepada anak-anak pada saat mereka mulai tertarik dengan tayangan-tayangan yang tidak menguntungkan mereka. Kalau anak-anak punya bakat dan kecerdasan musikal, orang tua mesti bisa mengarahkan mereka. Akan tetapi ketika ada lagu-lagu yang belum layak mereka nyanyikan orang tua mesti memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak.

Sementara itu, sedapat mungkin orang tua pun memberikan alternatif tontonan atau hal-hal lain yang bersifat menarik dan mendidik. Kalau memungkinkan, jadikan perhatian mereka pada membaca meningkat. Kalau anak-anak suka membaca, mereka tak akan menjadi orang-orang yang kecanduan menonton TV.

Kemudian menimbang fitrah anak yang sedang memiliki sifat suka dipuji dan ingin dikenal, maka orang tua dapat mengarahkan mereka pada prestasi-prestasi pada pelajaran, olah raga, seni dan lain-lain secara seimbang. Perkenalkan kepada anak-anak biografi orang-orang sukses yang banyak memberi manfaat kepada masyarakat dan dunia. Ini akan mengisi ruang kejiwaan mereka untuk mengukir prestasi pada kehidupan mereka kelak.

2. Pihak Pemerintah
Pemerintah, terutama yang mengurusi masalah pendididikan, informasi & komunikasi, agama, dan pemberdayaan perempuan, mesti memiliki sensitifitas tinggi dalam memfilter acara-acara yang mengeksploitasi anak-anak.

Pemerintah dapat mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari kerugian akibat tayangan TV tertentu atau malah mereka dilibatkan pada acara-acara yang merugikan.

3. Para Pendidik, Budayawan dan Seniman
Para pakar pendidikan dan budayawan mesti terus menyuarakan nilai-nilai luhur yang hendak dituju pada pendidikan anak dan remaja. Kritik yang sifatnya membangun tak boleh berhenti disampaikan mereka dalam menanggapi acara-acara yang ditujukan kepada dan melibatkan anak-anak.

Para seniman dan ilmuwan mesti bekerja keras menghadirkan acara-acara yang berorientasi pada kebaikan dan kecerdasan anak-anak. Contoh acara seperti acara iptek untuk anak, acara belajar menggambar, acara bina vokalia, mengenal permainan tradisional dan budaya anak-anak nusantara acara cerdas-cermat atau cepat-tepat dan lainnya patut untuk semakin banyak diproduksi. Begitu juga acara yang mengeksplorasi flora dan fauna, masalah lingkungan, ilmu pengetahuan populer dan lain-lain juga mesti banyak diproduksi.

4. Production House dan Pengelola TV
Para pengusaha dunia tayangan TV mesti memiliki visi yang jelas pada pangsa pasar anak-anak. Visi ini adalah visi mencerdaskan mereka. Ini mesti tercermin pada alokasi waktu khusus untuk tayangan anak-anak.

Seorang kawan saya yang lama tinggal di Amerika untuk studinya bercerita, bahwa di Amerika tayangan TV publik (non-TV kabel) untuk anak-anak itu jelas waktunya, yaitu sampai jam 6 sore. Anak-anaknya yang lahir di Amerika tahu bahwa sampai jam 6 itulah tayangan untuk mereka. Ini diperoleh melalui pendidikan di rumah dan di sekolah. Maka setelah anak-anaknya pulang ke tanah air, sudah menjadi refleks mereka untuk tidak menyetel TV setelah pukul 6 sore. Kalau pun seorang anaknya mengetahui ada tayangan sepak bola di malam hari, ia tidak akan menyetel TV kecuali setelah meminta ijin ayah atau ibunya.

Tentu saja untuk menghasilkan produksi tayangan TV yang berkualitas ini dibutuhkan kesadaran dan kreatifitas yang tinggi dari para pengusaha TV. Yang pasti mereka adalah juga orang tua dari anak-anak, yang tentu mereka ingin dorong meraih sukses dalam kehidupan.

Salam,
Adi J. Mustafa
# ayah dari 4 orang anak #

Blog EntryMenengok Anak-anak ke Husnul KhotimahApr 28, '08 2:08 AM
for everyone

Hari Jum'at hingga Sabtu lalu kami menengok, Fathimah dan Hasan, anak-anak kami yang bersekolah di Ponpes Husnul  Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Sungguh satu kebahagiaan yang sulit dilukiskan ketika kami bersua dengan Fafa dan Hasan. Apalagi sudah hampir satu setengah bulan kami tidak berjumpa mereka.

Setiap kali berjumpa, agenda kami sederhana saja. Ada waktu ngobrol-ngobrol santai. Ada acara belanja beli makanan. Pastinya jadi keasyikan tersendiri buat anak pondok: pergi ke supermarket, pilih-pilih makanan, dan ... dibayarin sama orang tua *smile*. Ada pelaporan kebutuhan barang khusus. Yang satu butuh ikat pinggang dan pengen kaos untuk main bola. Yang satu lagi perlu jam tangan. "Kan penting buat menghadapi UAN ...!" Begitu celotehnya.

Ada yang spesial pada kunjungan kali ini. Tepat hari Sabtu, 26 April 2008, Qanita berulang tahun ke-11 dan Maryam, meskipun agak telat, berultah ke-8 pada tanggal 2 April lalu. Jadilah acara belanja juga jadi acara cari kado buat Qanita dan Maryam. Tentu Fafa dan Hasan mesti sembunyi-sembunyi pesan kadonya, supaya surprise buat adik-adik mereka.

Acara ngobrol-ngobrol bisa di mana saja. Di pelataran parkir Husnul yang sejuk ditumbuhi pepohonan rindang; Di dalam mobil dalam perjalanan ke sana ke mari; Atau di rumah paman dan bibi saya di Cijoho-Kuningan, tempat kami menginap setiap kali berkunjung ke Kuningan.

Fafa melaporkan, alhamdulillah dia pada pra-UN ke-3 sudah melampaui batas kelulusan dengan nilai yang baik. Dia sempat memperlihatkan daftar nilai pra-UN seluruh santri-santriwati Husnul. Kami menyarankan agar dia jangan berpuas hati, tapi terus berusaha meningkatkan lagi penguasaan pelajaran yang masih ditingkatkan. Fafa sempat bilang, ingin punya rata-rata 9 pada UAN nanti. Kami mengaminkan harapannya dan mendorong untuk itu.

Hasan relatif tidak banyak bicara. Tapi dia menyampaikan bahwa program khusus hafalan Quran-nya terus mengalami kemajuan. Sekarang hafalan juz 28-nya sampai surat at-Taghabun. Grup "olimpiade" matematika juga dia ikuti. Ini istilah untuk grup yang disiapkan sekolah untuk mengikuti lomba-lomba matematika. Selain itu dia masih terus asyik mengikuti kegiatan olah raga, terutama sepak bola (futsal), baik yang formal atau yang main-main bersama teman-temannya. Kami mengingatkan agar Hasan menjaga kondisi tubuh dengan baik untuk menopang berbagai kegiatan yang melelahkan fisik dan pikiran. Khusus untuk masalah ini kami belikan Hasan (dan juga Fafa), vitamin C dan multivitamin yang bisa mereka konsumsi.

Jum'at malam, selepas belanja kebutuhan anak-anak, kami tiba di rumah paman. Sebelum makan malam, saya meminta anak-anak semua berkumpul dan berdoa bersama. Paman dan Bibi ikut menyaksikan acara ini. Dengan memohon keberkahan surat al-Fatihah, berturut-turut kami berdoa untuk:

1. Kebaikan Qanita dan Maryam. Semoga mereka menjadi anak sholihat dan cerdas;

2. Buat Fathimah, semoga Allah memudahkannya dalam menempuh UAN. Semoga bisa mencapai nilai yang bagus sesuai cita-citanya; Buat Hasan semoga juga terus berprestasi bagus dalam pendidikan di Husnul Khotimah.

3. Untuk para orang tua kami, termasuk Paman dan Bibi, juga para nenek dan kakek kami yang telah tiada, yang telah membimbing kami semua, semoga Allah berikan kebaikan dan kesehatan di dunia ini dan juga kelak di akhirat.

Kemudian kami bacakan doa kami kepada Allah swt. Kami yakin Allah Maha Mendengar segala doa. Dia bahkan mengetahui segala hasrat dan bisikan hati kami. Selesai itu kami saling bersalaman. Kami peluk dan sun anak-anak untuk mengokohkan jiwa mereka.

***

Seperti berkali-kali kami sampaikan, menitipkan anak-anak ke pondok pesantren telah menjadi pilihan kami. Di sela-sela waktu keterpisahan dengan anak-anak sering kali merasa rindu. Kadang terpikir, apakah ini adalah jalan terbaik buat pendidikan anak-anak.

Lalu setiap kali kami menengok mereka, kami saksikan anak-anak pondok riang gembira berolah raga. Kami saksikan bagaimana mereka serempak menuju masjid kala adzan memanggil. Kami saksikan pula prestasi-prestasi belajar anak-anak yang membanggakan baik sisi keagamaan dan sisi pengetahuan umum. Kami dengarkan bagaimana mereka menceritakan kehidupan pondok. Mereka bercerita dengan biasa-biasa saja, tapi bagi kami banyak hal unik di dalamnya.

Setelah kami renungkan ulang, kami sadar betul bekalan pendidikan akhlak dan keagamaan (termasuk bahasa Arab di dalamnya) itu sangat mahal harganya. Maka kami pun memantapkan lagi hati untuk melepas anak-anak belajar, meskipun untuk menengok mereka kami mesti menempuh lebih dari 300 km perjalanan.

Hari Sabtu lalu, kami tidak pulang jam 9 pagi dari Husnul, seperti biasa. Kami hadir lagi ke pondok jam 13:30. Kami sempatkan mengobrol lagi dengan anak-anak sebelum meluncur ke Bandung dan lalu ke Bogor. Kami biarkan mereka melepaskan kangen lebih lama. Kami teguhkan lagi doa-doa yang selalu dipanjatkan untuk kebaikan mereka.

Jam 15:30an, barulah kami tinggalkan anak-anak. Kami tahu rasa rindu untuk bersama tidak akan pernah hilang. Tapi kami juga sadar, keterpisahan dalam menuju cita-cita pastilah menyimpan banyak hikmah. Untuk keteguhan jiwa anak-anak dan kemandirian mereka. Juga untuk keteguhan jiwa kami sebagai orang tua dalam mendukung sukses mereka dalam pendidikan.

Bogor, 28 April 2008,
Adi Junjunan Mustafa & Liawati Pridi

 

Blog EntryUAN dan BimbelApr 14, '08 11:52 PM
for everyone
Ada permasalahan pendidikan anak yang cukup intensif kami pikirkan, yaitu masalah bimbingan belajar (bimbel)? Apakah bimbel merupakan pilihan terbaik buat anak kita untuk lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) dengan baik?

Ketika UAN diterapkan pemerintah sebagai syarat kelulusan siswa, maka para orang tua dan guru gelisah. Hasil proses pendidikan yang 6 tahun (untuk SD) atau 3 tahun (untuk SMP dan SMA) ditentukan kelulusannya dalam beberapa pelajaran! Sisi positifnya, akan ada standar kelulusan secara nasional. Sekolah, dan termasuk orang tua siswa, akan berupaya keras agar para siswa bisa lulus dalam UAN. Sisi negatifnya, konsentrasi pendidikan jadi lebih terfokus pada beberapa mata pelajaran yang diujikan. Beberapa pengamatan pendidikan bahkan khawatir terjadi semacam reduksi tujuan pendidikan yang mestinya membangun karakter baik pada diri siswa, jadi mengejar kelulusan pada beberapa mata pelajaran UAN.

Pada kondisi di atas muncullah peluang bisnis bimbel. Bimbel sendiri seingat saya sudah marak sejak masa saya SMA. Saat itu yang pasar bimbel lebih banyak pada siswa SMA yang bersiap masuk perguruan tinggi. Bimbel juga mulai dikenal pada siswa SMP, terutama pada pelajaran-pelajaran yang memang relatif "ditakuti" siswa, seperti matematika. Nah, fenomena bimbel saat ini rupanya sudah merambah ke siswa SD. Untuk menghadapi UAN sebagian orang tua malah sudah memasukkan anaknya ke bimbel sejak kelas 4 SD.

Sejujurnya, saya bukan termasuk orang tua pro-bimbel. Bisa jadi karena saya sendiri tidak pernah ber-bimbel-ria pada SMA dulu, apalagi masa SMP dan SD. Buat saya, kasihan anak-anak itu sudah capek menghabiskan waktu di sekolah (anak kami belajar di full-day school). Maka biarlah mereka menikmati waktu-waktu pulang sekolah dan week-end untuk refreshing jiwa. Beri mereka waktu-waktu untuk menikmati masa anak-anak. Ini saya dan istri yakini menjadi kebutuhan buat anak-anak.

Anak saya yang kelas 5 SD pernah beberapa kali menyampaikan, bahwa temannya yang dulu nilainya biasa-biasa saja, sejak ikutan bimbel jadi bagus-bagus nilainya. Saya sampaikan kepada anak saya, bahwa yang jadi masalah bukan bimbelnya, tapi banyaknya latihan. Ini berlaku terutama pada pelajaran yang memang butuh banyak latihan seperti matematika. Teman-teman yang bimbel itu dipaksa mengerjakan latihan-latihan soal. Maka kami sampaikan kepada anak-anak, ayo kita banyak-banyak latihan soal.

Untuk pelajaran-pelajaran hafalan, kami menekankan pentingnya senang membaca. Bahkan pelajaran-pelajaran itu sebetulnya enggak perlu dihafalkan. Asalkan sering dibaca, pelajaran itu akan nempel di kepala. Begitu kata kami kepada anak-anak, di sela-sela obrolan dan laporan mereka tentang perkembangan di sekolah.

Yang menjadi konsekuensi bagi orang tua adalah betul-betul menemani mereka belajar. Terus terang, saya dalam hal ini memang rely-on istri yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak di rumah. Sesekali sebagai ayah, saya menemani anak-anak belajar. Sepertinya mereka enjoy juga ditemani ayah mereka dalam belajar. Agak beda mungkin pendekatannya dengan bunda mereka.

***

UAN memberi berbagai efek di dunia pendidikan. Salah satunya adalah semakin menjamurnya bimbel. Statistik memang menunjukkan, bimbel menjadi faktor penting sukses siswa lolos UAN. Fakta lain menunjukkan, hanya kelompok orang-orang berkemampuan finansial lebih yang mampu memasukkan anak-anak ke bimbel, sebab biaya bimbel memang relatif mahal.

Saya tetap menghargai rekan-rekan yang berbisnis di dunia bimbel. Saya berharap mereka menjadi bagian pendukung terwujudnya tujuan pendidikan. Semoga mereka bukan cuma menggantungkan capaian prestasi bimbel pada angka kelulusan -yang unfortunately, memang ini hal terpenting yang dikejar para ortu-. Semoga bimbel juga bukan cuma jadi bagian dari penyeleksian "hanya siswa yang orang tuanya kaya saja yang lolos ke pendidikan lebih tinggi".

Untuk para orang tua, mari kita ukur kemampuan anak-anak kita untuk lulus UAN dengan baik. Kita bisa juga berkoordinasi pada forum persaudaraan orang tua murid (FPOM) atau sejenisnya untuk membicarakan hal ini dengan pihak sekolah. Saya malah lebih cenderung  untuk memberdayakan kemampuan sekolah dalam penyelenggaraan semacam "bimbel" di sekolah. Kalau untuk ini orang tua mesti memberi kontribusi dana, kita bisa obrolkan. Kita bisa berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Semoga kita terus bisa berpikir kreatif dalam mendukung sukses pendidikan anak-anak. Dan hanya kepada Allah swt kita memohon pertolongan.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa
# ortu 2 anak SMP dan 2 anak SD #

Blog EntryPendampingan Belajar AnakApr 4, '08 12:39 AM
for everyone
Wajah Qanita berseri-seri saat saya pulang ke rumah. Dia sudah pulang sekolah jam setengah lima sore, adapun saya sedini-dininya sampai rumah sekitar jam 5-an.

"Ada apa kok senyum-senyum ...?" tanya saya, ketika Qanita menyambut sambil bersalaman dan mencium tangan saya. Di belakangnya Maryam antri menyambut saya juga.

"Nilai PKN aku 100, Ayah ...!" kata Qanita.

"Alhamdulillah ... Ayah senang ...," kata saya sambil mengusap-usap rambutnya. "Banyak yang seratus, 'De?" tanya saya lagi.

"Enggak. Cuma 5 orang. Aku perempuannya sendiri, yang lain anak laki-laki."

"Gitu ya ... Bagus, sayang. Kelihatannya hasil belajar keras kemarin-kemarin kelihatan ya ...," sambung saya.

Saya lalu masuk rumah dan melanjutkan obrolan dengan anak-anak.

***

Dua pekan lalu suasana belajar di rumah memang lebih intensif daripada biasanya. Ada 5 hari liburan menjelang ujian tengah semester (UTS). Pada 5 hari liburan itu, saya juga kebagian 2 hari liburan di tengah pekan, liburan Paskah dan Maulid Nabi. Maka saya bisa mengikuti suasana belajar itu.

Libur 5 hari lalu itu memang tidak kami gunakan untuk mengunjungi dua anak kami yang mondok di Kuningan. Jadi Qanita dan Maryam bisa full memanfaatkan hari-hari libur untuk persiapan ujian. Mereka amat bersemangat belajar. Latihan-latihan soal amat cepat mereka lahap. Yang kerepotan adalah bunda mereka. Seringkali Qanita dan Maryam berebut bunda mereka untuk mendampingi belajar.

"Aduh ... sampai udah giung rasanya menemani mereka belajar ...," kata istri satu ketika. Giung itu sebetulnya istilah bahasa Sunda ketika kita makan makanan yang terlalu manis. Tapi istri alhamdulillah diberiNya kesabaran untuk telaten mendampingi anak-anak belajar.

Rupanya anak-anak merasa butuh dan senang dengan proses tanya-jawab, setelah mereka membaca bahan pelajaran. Dan untuk itu, bunda mereka yang mesti menanyai mereka. Pada tanya jawab ini sekaligus mereka juga dikoreksi dan diminta membuka lagi bagian-bagian yang belum mereka kuasai dengan baik.

Saya sering mendengar pesan istri kepada anak-anak, "Kalau kalian sudah belajar dengan sungguh-sungguh, tak ada lagi penyesalan apapun hasil dari ujian nanti. Sebaliknya kalau males-malesan belajar, nanti akan timbul penyesalan-penyesalan kalau hasilnya jelek ..." Karena pesan ini terus menerus diulang, nampaknya pesan ini cukup melekat kuat di benak anak-anak.

***

Sejujurnya saya tidak termasuk yang telaten mendampingi anak-anak belajar. Dalam hal pendampingan ini saya dan istri memang agak berbeda pendapat. Saya cenderung membiarkan anak-anak belajar dan berlatih sendiri. Kalau ada yang tidak mengerti, barulah mereka bisa bertanya kepada orang tua. Istri punya pandangan berbeda. Baginya proses tanya-jawab langsung menjadi semacam keharusan. Di situlah kita bisa tahu kemampuan anak kita, katanya.

Bisa jadi perbedaan pendekatan istri dan saya disebabkan kami punya pengalaman yang berbeda saat bersekolah dulu. Saya relatif mandiri, karena saya anak sulung dan Mamah-Bapa juga agak sibuk. Istri punya kakak-kakak perempuan. Mereka lah yang menemani istri belajar saat masa-masa sekolah semasa SD.

Di tengah perbedaan itu, saya tetap menemani anak-anak khususnya ketika mereka belajar matematika dan IPA. "Itu bagian Ayah ...," kata istri kepada anak-anak, kalau mereka punya pertanyaan soal Matematika dan IPA, terutama bagian fisika.

***

Setiap hari pulang sekolah di hari-hari UTS, Qanita selalu nampak ceria. Sepertinya dia menikmati ujian demi ujian. Istri dan saya tentu amat senang dengan keadaan ini. "Itulah hasilnya kalau kita belajar dengan bagus, Qanita," kata istri. Qanita mengangguk-ngangguk sambil tersenyum.

Maryam juga nampak happy dengan ujian yang dihadapi. Hanya baginya tak ada yang istimewa dengan suasana ujian. Mungkin karena beban buat anak kelas 2 masih belum terlalu berat. Dan itu pula sebabnya istri dan saya memberikan perhatian sedikit lebih kepada Qanita. Selain beban kelas 5 kami rasakan mulai banyak dan berat, pada usia Qanita kami melihat ada kondisi psikologi yang memang butuh perhatian lebih.

Lembar penilaian siswa pun dibagikan. Istri memperlihatkan LPS itu kepada saya beberapa hari lalu sepulang kantor. Saya baca dengan seksama baris-demi-baris nilai. Alhamdulillah nilai Qanita dan Maryam bagus-bagus. Pada lembar Qanita ada pesan dari Bu Guru Kelasnya, "... prestasi Qanita luar biasa ... Pertahankan dan tingkatkan terus prestasi belajarnya! " Qanita menjawab kurang lebih, "Terima kasih Bu. Aku juga enggak nyangka nilai-nilainya bisa sebaik ini. Insya Allah aku akan pertahankan nilai yang baik ini ... "

Maryam juga mendapat apresiasi dari Guru Kelasnya. Istri cerita bahwa Bu Guru berkomentar, "Maryam sih tidak usah dikhawatirkan, Bu. Dia dapat mengikuti pelajaran dengan baik."

***

Pada satu sore, dalam suasana santai, saya duduk di samping istri. Saya ungkapkan rasa syukur saya kepada Allah dengan prestasi belajar anak-anak yang bagus-bagus. Dia pun mengungkapkan rasa syukur ini.

"Tuh 'A ... ternyata memang perlu menemani anak belajar itu ...!" kata istri.

"Iya memang perlu ... Tapi maksudnya apa, nih?" tanya saya.

"Kan Aa bilang, anak-anak enggak usah ditemani. Tapi sekarang terbukti, kalau mereka memang cocok ditemani dalam belajar ...," kata istri.

"Oh itu ... Ya ok lah ... ," kata saya mulai mengerti kalau istri meminta pengakuan akan kehandalan metodanya menemani belajar anak. "Oya ... jazakillahi khayran, ya say, untuk kerja kerasnya menemani anak-anak belajar ..." kata saya memberikan apresiasi.

Kami sepakat untuk terus membimbing anak-anak, terutama membuat mereka tetap tekun belajar dan jangan berpuas diri dengan prestasi yang diperoleh. Kami juga sepakat untuk mengajak mereka jajan ke warung Bakso Keju sebagai hadiah atas prestasi yang mereka peroleh ...

Bogor, 4 April 2008,
Adi Junjunan Mustafa

Blog EntryMendidik Anak dengan Kasih SayangMar 9, '08 11:10 PM
for everyone
Diantara prinsip penting dalam pendidikan anak adalah rasa kasih sayang yang harus kita berikan kepada mereka [1]. Ketika kita sebagai orang tua memiliki keinginan dan harapan terhadap anak, maka kita harus sampaikan keinginan itu dalam bentuk dialog yang nyaman. Kita harus beri ruang kepada mereka untuk juga dapat mengutarakan keinginan mereka.

Saya teringat bagian dari puisi Gibran "mereka memang lahir melaluimu, tapi mereka bukan milikmu/ kau dapat berikan tempat bagi raga mereka, tapi bukan bagi jiwa mereka ..."  [2] Begitulah, pesan-pesan yang ingin kita sampaikan pada akhirnya mesti keluar dari lubuk hati mereka sendiri. Sebab merekalah yang kelak akan menjalani hari-hari penempaan jiwa dan kepribadian mereka sendiri.

Kemampuan orang tua untuk berdialog dengan tenang, bahkan pada permasalahan yang amat berat digambarkan Allah swt pada kisah Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Ismail [3]. Saat itu Ibrahim diperintahkan Allah swt untuk mengorbankan Ismail dengan cara menyembelihnya demi membuktikan kecintaan dan ketaatan kepada Allah swt melebihi kecintaan kepada selainNya. Ibrahim, sang ayah, menyampaikan hal ini dalam bahasa yang amat indah dan lembut, "Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, aku menyembelihmu. Maka sampaikanlah bagaimana pendapatmu?" Pada kalimat sang ayah ini ada dialog yang paling tidak mencakup tiga hal: a) ungkapan sayang dengan panggilan "yaa bunayya", b) substansi masalah "perintah Allah untuk mengorbankan anaknya", dan c) membuka ruang bagi anak untuk menyatakan pandangan dan sikapnya.

Ismail pun menjawab, "Wahai ayahku sayang, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah). Insya Allah engkau akan dapati aku termasuk diantara mereka yang bersabar!" Demikianlah sikap Ismail, seorang yang masih muda belia, tapi telah matang jiwanya untuk mendukung ayahnya mentaati Allah swt [4].

Maka orang tua yang baik memberi ruang kenyamanan dan keceriaan kepada anak pada proses pendidikan mereka. Nuansa pendidikan semestinya jauh dari membuat anak tertekan secara kejiwaan. Mendidik mereka untuk tahan memikul beban kehidupan adalah bagian dari pendidikan. Akan tetapi membuat mereka tertekan bukanlah cara yang yang baik.

***

Pada saat kami berkunjung menengok anak-anak yang mondok di pesantren, kami sempat menyaksikan seorang ayah yang sedang menasihati anaknya (teman putri kami). Ada hal yang buat kami agak ganjil. Ayah ini duduk terpisah di satu kursi. Di seberangnya, kira-kira berjarak satu setengah meter duduk putrinya, istrinya dan anaknya yang masih kecil. Kami bisa mendengar jelas ucapan-ucapan sang ayah, karena memang duduk agak dekat. Nasihat-nasihat yang disampaikan sangat bergaya ceramah. Betul-betul seperti seorang yang berceramah. Intonasi kata-katanya amat tegas. Tidak terasa suasana hangat dialog antara ayah dan anak. Di tempat duduk seberang tampak sang putri berwajah tegang. Begitu juga ibunya.

Putri kami nampaknya tidak betah dengan suasana di tempat itu. Ia meminta saya dan istri untuk pindah ke tempat lain. Kami pun berpindah sebagian-sebagian, agar tak terlalu mencolok. Di tempat baru, putri kami bercerita kalau temannya yang sedang dinasihati tadi sehari-harinya sering berwajah murung. Malah pernah temannya itu cerita, kalau dia baru saja menutup telepon dari ayahnya saat mereka berbincang di telepon. Suatu gambaran ada pola komunikasi yang kurang tepat antara ayah dan anaknya.

Buat saya fragmen di atas jadi sebuah pelajaran. Lagi, saya menemukan benarnya pengajaran dari Allah swt dan dari RasulNya tentang pentingnya rasa kasih sayang dan kelembutan dalam mendidik anak. Saya ingin sekali menasihati ayah putri teman putri kami itu. Sayangnya saya tidak berkesempatan, sebab waktu kami pun amat terbatas. Insya Allah satu saat saya akan sampaikan pesan kepada pihak ponpes, agar mereka memfasilitasi orang tua santri untuk belajar tentang psikologi pendidikan dalam mendidik anak.

Alangkah indahnya kalau dialog orang tua dan anak dilakukan dengan penuh keceriaan. Biarkan anak mencerna pelajaran-pelajaran kehidupan dengan suasana hati yang terbuka. Dialog itu disampaikan dalam suasana kedekatan hati, bukan dengan menjaga jarak hati. Dan tatapan mata penuh kasih sayang pasti lebih baik daripada tatapan dan sorot mata yang tegang.

Sungguh indah sikap Nabi Muhammad saat mendidik anak-anak, cucu dan anak-anak sahabat beliau. Anas berkisah selama lebih dari 10 tahun menyertai Nabi, tak pernah ia mendapatkan teguran Nabi yang menyinggung hatinya. Beliau sering menggunakan cara-cara permainan untuk mendidik anak-anak, sebab jiwa anak-anak memang masih senang dengan keceriaan.

Salah satu kebahagiaan terbesar orang tua adalah ketika anak-anak bisa merasakan betapa kita mencintai mereka. Lalu mereka mengucapkan kata, "Terima kasih yaa Ummii. Terima kasih yaa Abii ..." Pesan kasih sayang itu insya Allah akan membantu mereka tumbuh cerdas. Cerdas ruhaninya, cerdas jiwanya, cerdas pikiranya dan juga cerdas untuk menyehatkan tubuhnya.

Yaa Allah, karuniakanlah kami dari istri-istri dan anak-anak kami sesuatu yang menyejukkan hati kami. Dan jadikanlah kami pimpinan orang-orang yang bertakwa kepadaMu.

Bogor, 10 Maret 2008,
Adi Junjunan Mustafa

Catatan:
[1] Pernah saya tulisan pada http://adijm.multiply.com/journal/item/272/Peran_Orang_Tua_dalam_Mendukung_Sukses_Pendidikan_Anak tentang keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah.

[2] Silakan baca juga kisah putri sulung kami saat akan sekolah di Ponpes Husnul Khotimah pada http://adijm.multiply.com/journal/item/58.

[3] Quran surat Shoffat (37):102.

[4] Saya pernah catat kisah Ibrahim dan Ismail ini dalam manuskrip khutbah Idul Adha dan telah saya upload juga di MP ini. Pada catatan tersebut saya singgung peran penting seorang ibu (dalam hal ini Siti Hajar) dalam mendidik Ismail. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Ibrahim sendiri relatif jarang bertemu dengan Ismail anaknya.

Sahabat sekalian,

Hari Sabtu lalu saya diundang Forum Persaudaraan Orang-tua Murid (FPOM) SD-Islam Terpadu (SDIT) Ummul Quro, Bogor, untuk menjadi pembicara pada acara Kajian Sabtu. Pada acara ini diperkenalkan pula metoda baru dalam pengajaran membaca al-Quran, yaitu Metoda Ummi. Metoda ini menggantikan metoda Qiroati yang sebelumnya digunakan.

Alhamdulillah para orang tua yang hadir cukup banyak (sekitar 80 orang saya tebak). Saya sendiri bersama istri adalah bagian dari FPOM. Jadi kehadiran kami juga sekaligus sebagai bagian dari usaha untuk ikut aktif dalam mendukung anak-anak kami yang bersekolah di SDIT Ummul Quro.

Saya bagi kepada sahabat sekalian makalah yang disampaikan pada acara tersebut. Sebetulnya saya hanya sedikit menyampaikan gagasan orisinil. Makalah ini lebih merupakan kompilasi tulisan yang saya pandang cukup erat kaitannya dengan tema yang dibahas. Pada penyampaian kajian juga disampaikan ilustrasi-ilustrasi praktis keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Penekanan dan elaborasi cukup panjang tentang pentingnya orang tua membangun keshalihan dirinya dalam mendukung sukses pendidikan anak juga disampaikan.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Adi JM.

===

Peran Orang Tua dalam Mendukung Sukses Pendidikan Anak[1]

Adi Junjunan Mustafa[2]

Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua (orang tua) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (QS al-Isra, 17:24)

Sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ” Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Ayat pada surat al-Isra di atas menggambarkan betapa besarnya arti pendidikan orang tua kepada anak-anak semasa mereka kecil, hingga Allah swt mengabadikan dalam lafazh doa pada al-Quran. Sementara itu, pada surat al-Ahqaf:15 tergambar bahwa kematangan kepribadian seorang beriman tercermin dalam usaha dan permohonan kepada Allah agar kebaikan pada dirinya menjadi washilah kebaikan yang akan diperoleh anak cucunya. Oleh karenanya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anak semasa kecil menjadi sebuah kewajiban dalam ajaran Islam.

Orang tua hendaknya memiliki pengetahuan dan visi yang shahih (benar) dan jelas akan arah pendidikan anak. Ayat di atas memberi bekal para orang tua agar mengarahkan pendidikan anak pada sikap bersyukur kepada Allah dan pada perbuatan-perbuatan kebajikan (’amal shalih) yang diridhai Allah. Visi ini harus melekat pada orang tua di tengah berbagai tarikan-tarikan materialisme dalam tujuan kehidupan [1].

Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak [2]. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Korupsi masih ada di mana-mana, sikap tidak sportif merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.

Menimbang hal-hal di atas, makalah ini akan dibuka dengan sifat pendidik suskes menurut arahan Nabi Muhammad saw. Kemudian dikupas secara singkat bentuk-bentuk pelibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Dan pada bagian akhir disampaikan kiat-kiat orang tua dalam membangun jiwa (kepribadian) anak yang merupakan bagian paling mendasar dalam pendidikan.

Sifat-sifat Pendidik Sukses dalam Pengarahan Nabi saw.

Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid mencatat beberapa sifat pendidik sukses sebagai berikut [3]

  1. Penyabar dan tidak pemarah, karena dua sifat ini dicintai Allah swt. (h.r. Muslim dari Ibnu ’Abbas)
  1. Lemah lembut (rifq) dan menghindari kekerasan.

Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya (h.r. Muslim dari ’Aisyah). Tidaklah kelemahlembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk. (h.r. Muslim)

  1. Hatinya penuh rasa kasih sayang

Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat penyayang. (h.r. Ibnu Bazzar dari Ibnu ’Umar)

  1. Memilih yang termudah di antara dua perkara selama tidak berdosa

Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua perkara melainkan akan dipilihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. (Mutafaq ‘alaih)

  1. Fleksibel (layyin)

Bukanlah fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada di dalam koridor syariah. Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sederhana, fleksibel (lembut) dan mudah –qariib, hayyin, layyin, sahlin- (h.r. Al Kharaiti, Ahmad dan Thabrani)

  1. Ada senjang waktu dalam memberi nasihat

Ibnu Mas’ud hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dahulu, karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih).

Dasar dari sifat-sifat mulia di atas adalah keshalihan orang tua. Keshalihan orang tua ini akan memiliki pengaruh positif terhadap anak-anak. Firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, Kami akan pertemukan keturunan mereka dengan mereka. Dan Kami sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”  [QS ath-Thur, 52:21]. Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah akan mengangkat derajat keturunan manusia bersama orang tuanya di Surga nanti walaupun kedudukannya tidak setinggi orang tuanya.”

Keikutsertaan Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Sekolah

Beberapa peneliti mencatat bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut [4].

Ø  Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri

Ø  Meningkatkan capaian prestasi akademik

Ø  Meningkatkan hubungan orang tua-anak

Ø  Membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah

Ø  Menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah

Pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak, diantaranya dengan:

Ø  Acara pertemuan guru-orang tua

Ø  Komunikasi tertulis guru-orang tua

Ø  Meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR

Ø  Mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua

Ø  Kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah

Ø  Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll)

Ø  Dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak

Diantara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan [5]. Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.

Cara Efektif Membangun Jiwa Anak

Sesungguhnya tugas utama pendidikan anak adalah membangun jiwa mereka agar siap menerima berbagai pelajaran dan kelak mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh demi kebaikan sesama. Ustadz Muhammad mengupas pengarahan Nabi Muhammad saw dalam membangun jiwa anak [6], sebagai berikut.

  1. Menemani anak

Persahabatan punya pengaruh besar dalam jiwa anak. Teman adalah cermin bagi temannya yang lain. Satu sama lain saling belajar dan mengajar. Rasulullah saw berteman dengan anak-anak hampir di setiap kesempatan. Kadang-kadang menemani Ibnu ’Abbas berjalan, pada waktu lain menemani anak paman beliau, Ja’far. Juga menemani Anas. Begitulah Rasulullah berteman dengan anak-anak tanpa canggung dan tidak merasa terhina.

  1. Menggembirakan hati anak

Kegembiraan punya kesan mengagumkan dalam jiwa anak. Sebagai tunas muda yang masih bersih, anak-anak menyukai kegembiraan. Bahkan orang tua merasakan kegembiraan dengan riangnya mereka. Oleh karena itu, Rasulullah saw selalu membuat anak-anak bergembira, antara lain dengan cara:

Ø  Menyambut anak dengan baik

Ø  Mencium dan mencandai anak

Ø  Mengusap kepala mereka

Ø  Menggendong dan memangku mereka

Ø  Menghidangkan makanan yang baik

Ø  Makan bersama mereka

  1. Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya

Umumnya manusia, apalagi anak-anak, suka berlomba. Rasulullah pun suka membuat anak-anak berlomba, misalnya ketika beliau membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak ‘Abbas lainnya, lalu bersabda, “Siapa yang mampu membalap saya, dia bakal dapat ini dan itu …” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah saw sehingga berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka diciumi dan dipegangi oleh beliau.

  1. Memberi pujian

Pujian punya pengaruh penting dalam diri anak, sebab dapat menggerakkan perasaan dan emosinya sehingga cepat memperbaiki kesalahannya. Mereka bahkan menunggu-nunggu dan mendambakan pujian.

  1. Bercanda dan bersenda gurau

Canda dan senda gurau akan membantu perkembangan jiwa anak dan melahirkan potensinya yang terpendam. Rasulullah saw menyerukan, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah diajak bersenda gurau!” (h.r. Ibnu Asakir)

  1. Membangun kepercayaan diri anak

Ini dilakukan dalam bentuk:

Ø  Mendukung kekuatan ‘azzam pada anak, misalnya melatih menjaga rahasia dan membiasakan anak berpuasa

Ø  Membangun kepercayaan sosial

Ø  Membangun kepercayaan ilmiah

Ø  Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan

  1. Memanggil dengan panggilan yang baik

Bermacam-macam cara Rasulullah saw memanggil anak, tujuannya untuk menarik perhatian dan membuat anak siap mendengar apa yang hendak dipesankan. Panggilan ini misalnya “nughair” atau si burung pipit, “ghulam” yang berarti anak, atau “wahai anakku”. Sementara para sahabat memanggil anak-anak dengan “wahai anak saudaraku”.

  1. Memenuhi keinginan anak

Adakalanya orang tua harus memenuhi permintaan anak. Ini juga merupakan cara efektif untuk menumbuhkan emosinya dan menambat jiwanya terhadap orang tua. "Sesungguhnya barangsiapa berusaha menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang, Allah akan membuatnya merasa senang sehingga di akhirat ia benar-benar akan merasa senang." (h.r. Ibnu Asakir)

  1. Bimbingan terus-menerus

Anak, sebagaimana manusia lazimnya, sering salah dan lupa. Dibanding semua makhluk lain, masa anak-anak manusia adalah yang paling panjang. Ini semua kehendak Allah, agar cukup sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menerima taklif  (kewajiban memikul syariat). Orang tua harus secara telaten membimbing anak pada masa kanak-kanaknya. Ibnu Mas’ud berkata, “Biasakanlah mereka (anak-anak) dengan kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan menjadi adat (kebiasaannya).”