Adi Junjunan's posts with tag: peristiwa
Tadi malam saya sempat melihat berita di Metro TV yang menayangkan marahnya SBY kepada peserta yang (ter)tidur saat beliau berbicara di podium. Saya lihat raut wajah SBY sungguh menunjukkan ketidaksukaan dengan kejadian itu. Sambil menunjuk ke seorang peserta, SBY kurang lebih mengatakan, "Coba bangunkan yang tidur itu ... kalau mau tidur, di luar saja!" Lalu beliau melanjutkan, bahwa seharusnya ybs malu, karena sudah dipilih langsung oleh rakyat untuk jadi pemimpin. Bagaimana mungkin memikirkan permasalahan rakyat, kalau untuk membicarakan masalah rakyat saja tidur. Jangan main-main dengan tanggung jawab. Berdosa, bersalah kepada rakyat. Pemimpin yang kepribadiannya jelek akan menjadi racun, tegasnya.
Sebagian media massa cetak melaporkan hari ini, bahwa yang ditegur awalnya tetap tertidur. Ia baru bangun setelah teman sebelahnya menyenggol dan mengingatkan. Dilaporkan juga, peserta serentak duduk lebih tegak mendengar teguran Presiden yang disampaikan dengan nada suara tinggi.
Kejadian di atas tidak berlangsung dalam forum main-main, tapi pada forum konsolidasi pimpinan daerah di Lemhanas. Saat itu SBY sedang memberikan pembekalan pada acara penutupan forum yang sudah berlangsung sejak 4 Maret 2008.
Pak Muladi, Gubernur Lemhanas, mengatakan bahwa ia telah menyampaikan 3 larangan pada acara tsb, tidak boleh tidur, tidak boleh main SMS dan tidak melakukan interupsi selama Presiden berpidato. Rupanya sebagian peserta enggak bisa menahan kantuk dan tertidur juga. Ketika didesak wartawan kenapa hal itu terjadi Muladi menjawab, "... Yang tertidur itu mungkin kena kencing manis (diabetes). Atau mungkin malam sebelumnya mereka kelayapan, kita tidak tahu."
***
Saya melihat kejadian di atas adalah rekaman unik media massa pada forum "terhormat" di negeri ini. Teguran SBY sangat pantas dilakukan. Marahnya beliau juga layak muncul. Dan isi teguran beliau menyentuh permasalahan riil yang terjadi pada sebagian pemimpin negeri ini. "Pimpinan bagaimana dapat memimpin rakyat kalau tidur?! Malu dengan rakyat yang memilih. Untuk mendengar pembicaraan untuk rakyat saja tidur!"
Mohon saya diijinkan untuk menyampaikan unek-unek. Tentang jalan yang rusak yang bukan cuma membuat kaki-kaki mobil rusak, tapi sampai ulu hati juga merasa sakit. Tentang angkutan kereta api ekonomi yang tak jelas jadual datang perginya, juga panas dan pengap, menyiksa para penumpangnya. Tentang tangisan para PKL yang bertahan berjualan di tempat terlarang, karena pangsa pasar mereka diambil supermarket para pemodal besar. Tentang nelayan yang tak lagi lagi bisa menangkap ikan dan beralih profesi jadi "penangkap minyak", sebab pantai terkena polusi minyak dari perusahaan minyak di lepas pantai. Tentang para penghuni rumah gubuk yang rutin kebanjiran, sementara mereka datang ke kota sebab uang tak lagi mudah didapat di kampungnya; Sebab uang cuma berputar-putar di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Dan tentang banyak hal lain ...
Sedemikian banyak permasalahan rakyat itu. Tapi sangat sedikit pemimpin yang bisa merasakan betul bahwa rakyatnya masih banyak yang menderita. Karena mobil mereka kelewat nyaman dan menuju tempat tinggal pun tak pernah terkena macet apalagi jalan rusak berlubang. Karena mereka tak pernah naik KRL ekonomi. Karena keluarga mereka biasa belanja di supermall yang sejuk dan nyaman. Dan karena uang begitu mudah mereka peroleh ...
Saya ingin mengusulkan agar pendidikan Lemhanas itu menambah satu program: peserta ikut menginap di rumah rakyat jelata selama sebulan. Minta mereka ikut merasakan kehidupan rakyat itu secara langsung, seperti acara reality show "Seandainya Aku Jadi ...". Mudah-mudahan selepas program itu empati para peminpin terhadap rakyatnya tumbuh kuat. Hingga mereka menyayangi rakyatnya setulus hati.
Ada sebuah petuah penuh hikmah dari Nabi Muhammad saw. yang berisi, pemimpin yang tidak merasakan kebutuhan rakyatnya, tidak bergaul dengan mereka, dan tidak memenuhi keperluan mereka, kelak (di Hari Akhir) Allah pun tidak akan memperhatikan kebutuhan pemimpin tsb, tidak akan menyapanya dan tidak akan memenuhi keperluannya.
Dan untuk saya khususnya dan buat sahabat semua, semogalah Allah swt senantiasa menolong kita dalam kebaikan, terutama apabila amanah kepemimpinan terpikul di pundak kita.
Salam, Adi Junjunan Mustafa
Dalam kehidupan ini kita pasti pernah bertemu dengan orang-orang tertentu yang begitu memberi kesan positif. Saya hanya sekali berjumpa dengan Prof. Otto Soemarwoto, saat saya kuliah di Delft, Belanda, pada awal tahun 90-an. Pertemuan yang sekali ini begitu berkesan, hingga saya selalu bersemangat membaca tulisan-tulisan beliau pada opini HU Pikiran Rakyat.
Hari ini saya membaca berita wafatnya Prof. Otto. Pikiran saya kembali menerawang pada pertemuan dengan beliau di salah satu kelas di Fakultas Lucht en Ruimtevaart (LR), TU Delft. Putra beliau, Mas Bambang, saat itu sedang menyelesaikan kuliah di sana. Atas permintaan teman-teman PPI-Delft, Prof. Otto meluangkan waktu menyampaikan kuliah umum dengan santai untuk kami.
Lewat kuliah singkatnya kami bisa menangkap kecintaan beliau kepada dunia ilmu, hingga beliau mendedikasikan diri pada permasalahan lingkungan dengan sepenuh hati. Beliau pun menyampaikan pendidikan masalah lingkungan kepada anak-anaknya dengan praktis. Saya yakin ilmu tentang lingkungan bukan hanya teori bagi beliau. Kesaksian keluarga tentang kebiasaan beliau berjalan kaki untuk jarak perjalanan yang tidak terlalu jauh menunjukkan hal ini. Keluarganya pun sampai sekarang mengikuti kebiasaan beliau.
Kami juga mendapatkan kesan akan keteguhan hati beliau dalam menyampaikan kebenaran. Saat itu negara-negara maju mengeluarkan semacam konvensi agar negara-negara yang memiliki lahan hutan tropis mempertahankan kelestarian hutannya. Prof. Otto sepakat dengan tuntutan tersebut, akan tetapi menekankan bahwa bukan hanya hutan tropis yang mesti dilestarikan, tetapi juga hutan-hutan di kawasan lintang utara, seperti hutan di Siberia. Beliau pun membuat konferensi internasional tandingan di Bandung untuk perjuangannya ini. Usahanya ini juga sekaligus kritik terhadap negara-negara maju di Utara, yang banyak melepas karbon untuk proses industrinya dan kemudian meminta negara-negara berkembang untuk "menangkap" karbon itu dengan hutan-hutannya.
Kepada kami generasi muda, Prof. Otto meminta untuk semangat belajar dan bekerja. Kami diminta berbakti untuk membangun negeri setelah selesai belajar di luar negeri. Beliau mengisahkan, sepulang belajar dari Amerika beliau mengeluh, karena fasilitas lab di Indonesia amat minim. Saat itu salah seorang senior beliau berkata, "Saudara Otto, kami menyekolahkan Anda adalah untuk bekerja keras di sini. Bukan untuk mengeluh!" Pak Otto melanjutkan, sejak saat itu beliau tidak pernah lagi mengeluh.
Beliau pun memilih taksonomi menjadi bidang penelitiannya. "Cukup dengan kertas dan pensil saja modalnya," kata beliau sambil tertawa. Kenyataannya lewat penelitian-penelitian taksonomi tumbuhan inilah nama beliau semakin dikenal di dunia pendidikan lingkungan hidup. Belakangan saya makin memahami, bidang ilmu itu amat penting untuk Indonesia yang begitu kaya dengan keanekaragaman hayati (bio-diversity).
Dorongan beliau agar masyarakat Indonesia membiasakan bersepeda dalam keseharian sudah beliau lontarkan kepada kami. Bisa jadi beliau amat senang dengan kondisi di Belanda yang masyarakatnya amat senang bersepeda. Menurut catatan saat itu, Belanda adalah negeri yang prosentase bersepeda penduduknya kedua di dunia setelah Cina. Infrastruktur jalan bagi pengendara sepeda di kota dan juga untuk menghubungkan antar kota amat nyaman. Bahkan kereta api pun dilengkapi gerbong khusus untuk orang-orang yang bepergian dengan membawa sepeda.
Kami saat itu berkata, "Mungkin beda dengan di Belanda, Pak. Di Bandung kan topografinya berbukit-bukit. Jadi bisa keringetan kalau bersepeda ..." Beliau dengan penuh keyakinan berkata, "Tidak harus cape. Sekarang kan sudah ada teknologi membuat sepeda yang dengan multi-gigi yang membuat orang tetap nyaman walaupun jalannya nanjak! "
Lewat beberapa opini beliau di Pikiran Rakyat saya dapat mengikuti pemikiran demi pemikiran kreatif beliau tentang pembangunan yang harmonis dengan lingkungan. Beliau tidak setuju dengan rencana membangun mall di dekat Gedung Sate. Sebagai gantinya beliau usulkan agar kawasan sekitar lapangan Gazibu dijadikan kawasan "wisata" perbelanjaan yang ramah lingkungan setiap hari Ahad. Saya tidak tahu sejak kapan kawasan Gazibu akhirnya dijadikan tempat berjualan di setiap Ahad. Dan apakah ini terkait usulan Pak Otto.
Teman saya mengingatkan bahwa di akhir pertemuan kami di salah satu kelas LR, TU Delft, kami beri Prof. Otto hadiah al-Quran, sebagai ungkapan terima kasih kami kepada beliau. Beliau langsung mengangkat al-Quran itu dan mengucapkan, "Ini adalah sumber inspirasi utama bagi saya ...!"
Selamat jalan Prof. Otto. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Otto dalam memperhatikan dan memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup serta kebaikan-kebaikan beliau lainnya dengan balasan kebaikan yang besar. Semoga Allah juga mencurahkan magfirah kepada beliau. Akhirnya semoga kita yang masih diberiNya jatah hidup dapat meneruskan segala kebaikan yang beliau lakukan.
Bogor, 2 April 2008, Adi Junjunan Mustafa.
Berita dan tulisan terkait: 1. Otto Soemarwoto Telah Berpulang http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=17413 2. Otto, Pengabdian Tiada Henti 3. Riwayat Hidup Singkat http://id.wikipedia.org/wiki/Otto_Soemarwoto
Rasanya kita pantas mencatat dan mengapresiasi positioning yang bagus pada diplomasi luar negeri pemerintah belakangan ini. Momentumnya pada suara abstain RI saat DK-PBB akan memberi sanksi pada Iran atas kerja-kerja seputar energi nuklir, sementara seluruh negara anggota DK yang lain setuju dengan sanksi yang diberikan [1]. Sikap pemerintah ini menunjukkan kemandirian politik luar negeri kita yang bebas aktif. Bebas dalam arti tidak ikut blok sana blok sini dan aktif dalam mendukung terciptanya keadilan dan kedamaian dalam pergaulan internasional.
Sikap di atas pastilah melalui berbagai pertimbangan. Dalam diplomasi di DK, delegasi RI mengatakan Iran sudah berbeda dibandingkan saat resolusi (sanksi) pertama diberikan. Saat ini Iran lebih menunjukkan kooperasinya terhadap IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) [2]. Di balik ungkapan diplomasi kita melihat sikap Indonesia menjadi semacam perlawanan terhadap hegemoni ekonomi-politik Barat yang dimotori Amerika.
Menyusul sikap Indonesia di DK PBB, tentu saja Iran memberi apresiasi yang besar. Kunjungan SBY ke Iran, sebagai balasan kunjungan Ahmadinejad ke Jakarta beberapa waktu lalu, menjadi berita yang menunjukkan kerja cepat diplomasi LN kita. Kerjasama ekonomi dan industri yang dibangun dengan Iran dapat dipandang juga sebagai langkah strategis kerjasama "negara-negara Selatan", negara yang diberi atribut "developing countries" [3]. Semestinya kerjasama ini dilakukan juga dengan lebih bebas di antara negara-negara kawasan selatan planet bumi ini.
Posisi Indonesia di antara negara berkembang memang strategis. Di tengah sikap dan langkah-langkah devide et impera Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, usaha "ishlah" atau pendamaian yang dilakukan Indonesia memiliki arti penting. Karenanya kehadiran SBY yang langsung memimpin delegasi RI pada KTT OKI di Senegal tanggal 12-15 Maret ini menjadi momentum penting untuk lebih tegas menyuarakan sikap dan gagasan Indonesia tentang hubungan internasional yang adil dan damai. Di tengah tekanan negara-negara Barat tentu "negeri pengabstain di DK PBB" akan ditunggu-tunggu suaranya.
Selamat buat diplomasi LN yang memberikan kebanggaan buat bangsa ini!
Bogor, 12 Maret 2008, Adi Junjunan Musafa
[1] Berita terkait: http://www.eramuslim.com/berita/nas/8305113239-sikap-abstain-indonesia-dk-pbb-jadi-kejutan.htm.
[2] Berita terkait "Indonesia Nilai Iran Kooperatif" http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=161595
[3] Contoh kerjasama Indonesia-Iran diantaranya "RI dan Iran Sepakat Bangun Kilang di Banten" http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=326637&kat_id=23
|  | Bangsa Palestina, yang saat ini berada dalam salah satu puncak penderitaan, akibat ditutupnya (blokade) berbagai akses ekonomi dan sosial oleh penjajah Israel. Pasokan energi listrik diputuskan. Pasokan makanan dan minuman sangat dibatasi. Akses ke luar negeri pun ditutup. Bangsa Palestina, terutama anak-anak dan orang tua, menderita. Sementara itu pembunuhan dan penangkapan pejuang Palestina terus dilakukan.
Keadaan internal bangsa Palestina pun dirundung masalah. Akibat politik klasik "devide et impera", dua kubu besar di Palestina, Fatah dan Hamas, diceraiberaikan dari persatuan. Sungguh ini fitnah yang memilukan, karena sesungguhnya ada musuh bersama yang mesti dihadapi bersama untuk kemerdekaan Palestina.
Pada demo ini kembali digalang aksi "one man one dollar, to save Palestine". Umat Islam sedunia diajak untuk membangun solidaritas untuk membantu saudaranya di Palestina sana. Ini adalah ujud ukhuwah islamiyah yang tak dibatasi kawasan politik negara. Bahkan solidaritas ini menjadi simbol perjuangan global melawan penjajahan di muka bumi yang tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Bangsa Indonesia, dengan mayoritas penduduknya yang muslim, diajak untuk menjadi pelopor perjuangan ini. Bangsa Indonesia pasti mengetahui bagaimana pedihnya dijajah. Bangsa Indonesia pasti menyadari, betapa pentingnya arti kemerdekaan untuk melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara menuju keadilan dan kesejahteraan. Aksi solidaritas mendesak Pemerintah RI untuk memberikan dukungan nyata terhadap bangsa Palestina, sesuai janji yang pernah disampaikan Pemerintah kepada mereka melalui PM Palestina.
Bangsa Palestina menyampaikan salamnya kepada bangsa Indonesia. Mereka mohon didoakan agar tetap bersabar dan tabah dalam perjuangan. Meskipun listrik dimatikan, mereka tetap memenuhi masjid-masjid untuk sholat berjamaah Shubuh. Mereka tetap yakin bahwa Allah akan menolong hamba-hambaNya yang taat kepadaNya.
Semoga Allah swt terus menggelorakan semangat umat Islam di dunia ini untuk maju menuju kejayaan. Kemudian dengan kejayaan ini tersebarlah rahmat, kasih sayang kepada seluruh alam. Aksi solidaritas kepada Bangsa Palestina ini sesungguhnya menjadi momentum untuk mengokohkan jiwa dalam menebarkan kebajikan di mana pun berada. Dan itulah yang tengah dan mesti dilakukan umat Islam di mana pun. Saudara yang jauh di sana diperhatikan betul keadaannya oleh muslim Indonesia, maka pastilah keadaan di tanah air amat diperhatikan juga. Momentum ini digelar untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa umat Islam dan bangsa Indonesia terus memperhatikan dan mendukung perjuangan saudaranya di Palestina.
Bogor, 28 Januari 2008, Adi J. Mustafa
Link Berita: - Gaza Merintih, Di Mana Sisi Kemanusiaan? - Diam Sama Dengan Bunuh Rakyat Palestina
|
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Kami sekeluarga turut berduka cita atas wafatnya Ibu Kastina Indriawati, istri dari guru kami tercinta Ustadz Hidayat Nur Wahid. Semoga Allah swt mencurahkan magfirah dan rahmatNya, serta memberikan keselamatan dan pemaafan kepada Ibu Kastina. Semoga pula Allah swt memberikan kesabaran kepada Ustadz Hidayat serta putra-putri beliau, Innayati Dzil Izzati, Ruzaina, Alla Khairi dan Hubaib Shiddiqi, untuk menghadapi musibah ini. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana atas segala keputusannya. Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Wassalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Adi J. Mustafa dan keluarga.=== HNW Online: Jakarta - Istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ny Kastina Indriawati meninggal dunia. Menurut tim dokter yang menangani, Kastina meninggal pada Selasa (22/1/2008) dini hari pukul 01.00 WIB di RS Jogya International Hospital (JIH). "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal ibu Kastina, istri Hidayat Nurwahid, Ketua MPR ," kata Presiden PKS Tifatul Sembiring kepada detikcom. Tifatul mengatakan, saat ini jenazah Kastina masih berada di RS Jogja International Hospital (JIH) Yogyakarta. Rencananya akan dibawa ke rumah keluarga di Klaten, Jawa Tengah. Dari: http://hnw.or.id/ Sumber: DetikCom *** 22/01/2008 12:12 WIB Istri Hidayat Derita Gangguan TiroidBagus Kurniawan - detikcom Klaten - Sebelum meninggal dunia, Kastian Indriawati mengidap sakit yang disebabkan gangguan pada kelenjar tiroid. Istri Ketua MPR Hidayat Nurwahid ini rutin check up di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. "Selama ini Bu Hidayat menderita tiroid," kata Abdul Azis, staf Hidayat, yang menjadi wakil keluarga tersebut, di rumah duka, Dusun Kebondalem, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/1/2008). Harusnya, pada Senin 21 Januari kemarin Kastian ada jadwal check up. Namun ternyata perempuan berusia 45 tahun itu jatuh sakit duluan. "Menurut keterangan dokter, orang yang mengalami gangguan di kelenjar tiroid tidak boleh kelelahan berlebihan," ujar Abdul. Padahal sepulang dari ibadah haji Kastian banyak melakukan kegiatan. "Ibu dalam kondisi capai, kondisi tubuh menurun, sehingga terjadi banjir tiroid dan mengganggu metabolisme tubuh terutama di jantung, ginjal, dan organ dalam lainnya," beber Abdul. Pada Kamis 17 Januari sekitar pukul 23.00 WIB, Kastian merasa seperti masuk angin. Dia pun dikeroki. "Tapi karena drop, dibawa ke RSI Kalasan," kata Abdul. Karena keterbatasan alat, akhirnya Kastian dirujuk ke RS Jogjakarta International Hospital. Di RS ini, kondisi Kastian terus drop. "Semakin hari semakin turun. Sampai Senin kemarin kritis, akhirnya meninggal pukul 01.15 WIB," ujar Abdul. Kastian dimakamkan pukul 14.00 WIB nanti di TPU Tloyo, tak jauh dari rumah duka. ( nrl / umi). *** Tambahan:Bagi sahabat-sahabat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kelenjar tiroid, silakan membuka alamat di URL ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Thyroid
Beberapa hari belakangan ini pemberitaan tentang aliran sesat yang menamakan kelompoknya al-qiyadah al-islamiyyah amat sering muncul di televisi. Saya sendiri pertama kali mendengar tentang aliran ini dari Ustadz DR. Ibdalsyah pada salah satu Kuliah Subuh di Masjid Baitussalaam, Perumahan Bogor Raya Permai. Berita teve menayangkan proses pembacaan syahadatain (dua kalimat syahadat) dengan syahadat kedua berisi pengakuan bahwa Ahmad Moshaddeq, si pemimpin kelompok, adalah rasul utusan Allah. Sebuah pemikiran sesat, sebab ajaran Islam mengimani bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang diutus Allah swt*.
Dari berita juga diketahui bahwa kelompok yang dipimpin Moshaddeq ini tidak mengakui kewajiban sholat lima waktu. Mereka diajari bahwa saat ini anggota kelompok hanya wajib sholat malam. Sebuah pemikiran sesat yang berulang kali terjadi, disebabkan ketidaktahuan dan ketidakmengertian dalam memahami syariat Islam.
Memang benar ada dalam sejarah ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, di mana umat Islam belum menerima perintah sholat wajib lima waktu. Saat itu Nabi dan sahabat-sahabatnya melaksanakan kewajiban sholat malam (qiyamul lail). Akan tetapi tidak pernah ada dalam sejarah sahabat dan salafush sholih melakukan penarikan kesimpulan untuk kembali memasuki masa "tidak wajibnya sholat lima waktu"!
Masih ada ajaran-ajaran sesat yang diajarkan Moshaddeq kepada pengikutnya, seperti belum diwajibkannya berhaji dan lain-lain. Oleh karenanya MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang kesesatan aliran ini**. Pimpinan-pimpinan ormas Islam lainnya pun sudah menyampaikan peringatan akan kesesatan aliran ini. Beberapa ormas melakukan demonstrasi meminta pemerintah untuk segera menindak tegas pimpinan kelompok ini. Sebagiannya malah memberi ultimatum akan bertindak sendiri kalau pemerintah hanya berdiam diri saja. Yang ingin saya catat di sini adalah, pertama lahirnya aliran sesat seperti ini adalah "kecolongannya" para ulama dan pendakwah Islam, dengan merebaknya pemikiran dan keyakinan yang sesat ini. Sungguh tidak bisa dipercaya ada di kalangan umat Islam yang terpedaya dengan ajaran yang sangat bertentangan dengan aqidah mendasar, seperti adanya yang mengaku-ngaku sebagai Nabi baru! Tapi begitulah kenyataannya. Peristiwa ini semoga mengingatkan para ulama dan pendakwah ajaran Islam untuk tidak bosan-bosan mengajarkan akidah yang shohih di tengah-tengah umat ini.
Bagi para orang tua muslim, peristiwa ini juga semoga menyadarkan untuk telaten memberikan pengajaran dan pendidikan aqidah yang benar kepada anak-anak sejak dini.
Catatan kedua adalah tentang nama-nama kelompok sesat. Saya merasa heran dan curiga karena nama yang dipilih adalah nama yang baik yang justru hilang dari umat Islam. "Al-Qiyadah al-Islamiyyah" itu sesungguhnya berarti kepemimpinan Islam. Kepemimpinan ini menjadi salah satu pilar penting menuju kebangkitan umat Islam dalam menebarkan rahmat bagi seluruh manusia. Kelemahan kepemimpinan inilah yang menjadi salah satu penyebab terpuruknya negeri-negeri muslim, yaitu ketika pemimpin yang adil absen dari tengah-tengah umat. Nah, mengapa nama "al-qiyadah al-islamiyyah" ini yang dipilih? Skenario siapa sebenarnya yang menghadirkan nama ini? Jelas dalam pandangan keimanan ini adalah makar atau strategi dari iblis dan para syaithan, musuh abadi mereka yang beriman. Akan tetapi adakah oknum syaithan manusia yang sengaja menghembuskan pemilihan nama ini? Apakah ada tujuan justru supaya umat Islam yang lain kemudian "enggan" menyebut-nyebut tentang al-qiyadah al-islamiyyah yang dalam arti yang benar, yang amat dinanti-nantikan umat ini? Apakah penamaan ini dilakukan mereka yang memang tidak ingin umat ini mendapatkan kepemimpinan yang kuat, solid dan adil? Wallaahu a'lam. Mesti ada penelitian seksama tentang hal ini.
Saya jadi teringat juga dengan kelompok ekstrim yang menyebut dirinya "jama'ah islamiyyah". Sungguh nama ini pun merupakan nama mulia. Di dalamnya menyiratkan adanya komunitas yang saling memahami, bersikap rukun, berkasih sayang, tolong menolong dalam menebarkan kebaikan dan menegakkan kebenaran serta keadilan. Kondisi berjama'ah, bekerja secara kolektif dan harmonis, bahkan menjadi ciri kerja alam semesta. Unsur-unsur alam saling melengkapi dan menyempurnakan. Dari fenomena alam inilah lahir perumusan tentang rantai makanan hingga konsep ekosistem dan istilah webs of life, untuk menggambarkan keteraturan alam dalam kerja kolektifnya.
Ketika nama "jama'ah islamiyyah" ini sekonyong-konyong ditampilkan sebagai wujud sadis, tidak berperikemanusiaan, sikap nekad dan lain-lain, maka ada makna yang salah difahami sebagian umat Islam akan frase "jama'ah islamiyyah". Orang menjadi takut mendengar kata "jama'ah". Padahal umat Islam diperintahkan hidup berjama'ah. Sholat yang menjadi salah satu ibadah utama umat ini, yang penegakkannya menjadi simbol penegakkan ad-dien, akan berlipat ganda pahalanya ketika dilakukan dengan berjama'ah.
Siapa gerangan yang mengangkat dan menggembar-gemborkan nama-nama yang baik ini menjadi "simbol kejahatan"? Apakah ini dilahirkan mereka yang memang tidak ingin umat Islam ini kuat bersatu? Sungguh perlu penelitian seksama untuk mengungkap hal ini.
Catatan ketiga adalah tentang fenomena bisikan sesat yang dianggap wahyu (atau wangsit). Sejauh ini saya belum menemukan tulisan diantara para ulama muslim yang mengangkat masalah ini dalam menanggapi ajaran sesat yang tengah merebak. Sejauh yang saya pahami, memang ada kejadian dimana seseorang bisa memperoleh ilham, akan tetapi bisikan ini justru harus diuji dengan ajaran syariat Islam yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw. Apabila bisikan ini sesuai dengan ajaran Islam, maka bolehlah dikuti. Apabila bisikan ini bertentangan dengan ajaran Islam, maka tertolaklah ia untuk diamalkan.
Perlu diadakan investigasi seksama terhadap orang-orang seperti Ahmad Moshaddeq atau siapapun yang mengaku-ngaku mendapatkan wahyu kenabian. Bagaimana perilaku mereka sebenarnya? Kalau mereka bertapa, apa yang mereka lakukan sebenarnya? Investigasi seperti ini akan mengungkap, bagaimana modus syaithan ketika bersekutu dengan manusia melahirkan ajaran-ajaran yang amat sesat. Kepada mereka yang menjadi pimpinan kelompok sesat perlu diberikan tindakan yang tegas sesuai hukum yang berlaku. Penyesatan yang mereka lakukan sungguh amat besar dampak buruknya kepada umat. Bagaimanakah pendapat kita apabila ada ajaran yang mengajak orang terjun memasuki kobaran api yang menyala-nyala? Apa yang dilakukan para pemimpin kelompok sesat ini jauh lebih besar bahayanya daripada ilustrasi barusan, sebab dapat menyebabkan manusia kekal dibakar di neraka jahanam. Na'udzubillaah min dzaalik.
Terakhir, catatan keempat, saya sependapat dengan Ustadz Din Syamsuddin dan beberapa pemimpin umat lain, yang menyeru umat Islam untuk bersikap mengajak korban ajaran sesat agar kembali pada ajaran Islam yang benar. Sikap marah itu diarahkan pada kesesatan ajarannya. Adapun kepada mereka yang tergoda dengan ajaran sesat itu, maka diperlukan usaha-usaha untuk menjelaskan akan sesatnya ajaran yang telah mereka ikuti. Dan usaha dakwah ini tetap mesti mengikuti kaidah dan proses bijaksana, pendidikan dan argumentasi yang kokoh (QS an-Nahl:125).
Bisa jadi pada tersesatnya para pengikut ajaran sesat itu pun ada andil umat Islam yang lain. Wa bil khusus para ulama muslim, sekali lagi, karena mereka kurang intensif mendidik umat Islam. Dan bagi orang Islam lain, karena kurang giatnya membangun kesatuan umat dan saling memahami serta saling menolong.
Di balik setiap kejadian pastilah Allah swt menyimpan hikmah dan pelajaran bagi orang-orang beriman. Semoga lah merebaknya ajaran sesat di tengah umat Islam belakangan ini, mengingatkan umat Islam untuk memurnikan kembali aqidah. Untuk lebih mengkaji ajaran Islam dengan bimbingan ulama muslim yang sholih. Aamiin.
Wallahu a'lamu bish shawwab.
Bogor, 30 Oktober 2007, Adi Junjunan Mustafa.
* Dalam sejarah umat Islam permulaan, yaitu pada masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq, pernah ada yang mengaku Nabi. Maka Abu Bakr pun, dengan otoritasnya sebagai kepala pemerintahan, langsung memerangi Nabi palsu dan pengikut-pengikutnya yang tetap tidak mau disadarkan untuk kembali ke ajaran yang benar. ** http://www.eramuslim.com/berita/nas/7a04160133-mui-fatwakan-aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat.htm
Hari ini, 8 Agustus 2007, penduduk DKI Jakarta tengah melangsungkan pemilihan kepala daerah (pilkada) mereka. Calon yang akan dipilih adalah pasangan Adang-Dani (nomor pemilihan 1) dan Fauzi-Prijanto (nomor pemilihan 2). Karena bukan orang Jakarta, saya tidak terlalu aktif mengikuti pembicaraan tentang dua pasang kandidat ini. Hanya saja karena pilkada Jakarta yang ibukota negara, tetap saja saya curious: siapa sih mereka itu? Ada satu kesempatan dimana saya sempat mendengarkan Pak Adang dan Pak Fauzi berbicara, yaitu saat terjadi saat debat publik hari Sabtu lalu yang disiarkan Metro TV. Menilik janji-janji yang disampaikan, baik Pak Adang maupun Pak Fauzi jelas menyampaikan hal yang muluk-muluk. Pak Adang dan Bang Dani menonjolkan program mereka untuk menggratiskan biaya sekolah mulai SD sampai SMA. Mereka juga memprogramkan untuk menggratiskan layanan kesehatan sampai kelas tertentu. Pak Fauzi menjadikan posisinya sebagai pejabat pemda sebagai nilai lebih. Dia menjajikan untuk bekerja dari hari pertama jika terpilih. Pasangan ini bahkan mengatakan bahwa mereka tidak perlu lagi penyesuaian, sebab mereka memang sudah tune-in dengan sistem yang ada. Memang nuansa orang lama dan orang baru tidak bisa dilepaskan dari kedudukan Pak Fauzi dan Pak Adang. Karenanya Pak Fauzi jelas percaya diri sebagai orang yang punya pengalaman mengelola Jakarta. Sampai-sampai jargon "serahkan pada ahlinya" pernah dijadikan jargon utama. Belakangan jargon ini tidak lagi diangkat, ketika kubu Pak Adang berpantun kira-kira "john travolta minum kencur, jakarta kok makin ancur ... kemane aje ahlinya?". Pak Fauzi cs pun lebih mengangkat jargon "jakarta untuk semua". Saya menduga dukungan 20 partai menjadi latar belakang pemilihan jargon ini. Jelas kondisi ini kontras dengan Pak Adang yang didukung satu partai saja, yaitu PKS. Sementara itu Pak Adang dan Bang Dani justru menjadikan kebaruan mereka memasuki pemda kelak sebagai kelebihan. Mereka berjanji akan mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik. Karenanya jargon yang mereka angkat "ayo benahi jakarta!". Menghadapi kondisi dukungan partai yang lebih banyak dimiliki Pak Fauzi dan Pak Prijanto, mereka mengatakan, kami berkoalisi dengan rakyat! *** Saya tidak hendak menyoroti janji-janji, visi dan misi kedua pasang calon gubernur dan wakil gubernur ini. Sudah banyak media massa me-record masalah ini. Ada satu hal "kecil" yang saya catat ketika menonton debat publik lalu. Saya lihat Pak Adang tampil dengan santai dan cenderung tidak ngotot. Sebaliknya Pak Fauzi tampil penuh keyakinan dan cenderung over-confidence. Saat setiap calon diminta bertanya kepada pesaingnya, Pak Adang dengan santai menanyakan, "Kenapa Bung Fauzi siap ditusuk kumisnya? Ada kekhususan apa dengan kumis Bung Fauzi?" Sebuah pertanyaan ringan yang saya sendiri tak menangkap pesan lain kecuali kesantaian sikap Pak Adang. Adapun Pak Fauzi menanyakan, "Bagaimana sikap Pak Adang kalau kalah?" Sebuah pertanyaan yang buat saya sendiri terkesan sangat pede. Pak Adang menjawab, dia akan siap menerima kekalahan sebagai sebuah hal biasa dalam demokrasi.
***
Tadinya saya bayangkan Pak Adang itu seorang yang berpenampilan keras. Asumsi ini saya ambil, mengingat dia sebelumnya adalah wakapolri. Ternyata dugaan saya keliru. Tadi pagi sekitar jam 6:00, RCTI menyiarkan liputan dua reporternya yang berada di dekat rumah Pak Fauzi di Menteng dan yang berada di dekat rumah Pak Adang di Cipete. Pak Adang dan istrinya berhasil diwawancara, sedangkan Pak Fauzi tidak bisa diwawancara. Pak Fauzi akan memberikan pernyataan pada temu press jam 8:00, katanya (saya enggak tahu apakah ini terlaksana). Nah, saat Pak Adang diwawancara, kembali saya temukan sikapnya yang santai. Ketika ditanya reporter, apa yang akan dia kerjakan kalau kalah, dia senyum dan malah istrinya yang bicara. Kata istrinya, suaminya ini sudah banyak yang mengajak untuk bekerja. Ketika istrinya sedang berbicara, Pak Adang mencoba menghentikan dan mengatakan, "Yang ditanyakan, bagaimana kalau kalah ...." Lalu dia melanjutkan, "Ya ... saya akan bersabar dan menerima kekalahan itu. Ini hal biasa buat saya ... Kalau apa yang akan saya kerjakan berikutnya, ya seperti kata istri saya tadi, saya akan kerja ..." Saya melihat justru Bang Dani lah yang masih akan memiliki daya dorong yang kuat ketika mendampingi Pak Adang nanti. Maklum usianya masih relatif muda. *** Pak Fauzi punya kelebihan sebagai birokrat Pemda DKI yang bekerja dari bawah. Karenanya Pak Fauzi sangat mengenal orang-orang dan sistem yang bekerja saat ini. Tidak heran kalau para mantan gubernur DKI memberikan sokongan kepadanya. Di sisi lain akan menjadi tantangan buat Pak Fauzi untuk mengubah praktek-praktek buruk birokrasi, sebab manusia punya kecenderungan melakukan bussiness as usual (BaU). Sebaliknya buat Pak Adang, kalau dia terpilih, tantangan pertama adalah bagaimana dia memahami birokrasi yang ada? Bagaimana dia mengenal orang-orang di birokrasi dan bagaimana dia bekerja cepat membangun soliditas kerja? Pasti bukan hal yang mudah untuk membenahi birokrasi ini! Keuntungannya, sebagai orang baru Pak Adang akan punya sensitifitas lebih akan hal-hal buruk dibandingkan Pak Fauzi. *** Siapapun yang dipilih masyarakat Jakarta, agenda-agenda besar sudah menanti di depan mata. Banyak kalangan mengangkat masalah lingkungan seperti banjir, sampah dan kebutuhan air bersih sebagai masalah utama yang mesti segera ditangani. Masalah yang lebih elitis tentu menyangkut masalah efektifitas birokrasi dalam bekerja untuk mendukung aktifitas bisnis dan perekonomian di ibukota. Warga Jakarta, selamat memilih ... Semoga terpilih pemimpin terbaik! Bogor, 8 Agustus 2007, Adi Junjunan Mustafa
|  | Ini adalah beberapa foto perjalanan ekspedisi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur dalam rangka penelitian Kawasan Delta Berau. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi lestari tidaknya kawasan Delta Berau. Pemanfaatan kawasan delta untuk area tambak seringkali dilakukan dengan mengabaikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Selain itu perubahan lahan delta dipengaruhi pula oleh perlakukan-perlakuan manusia di kawasan hulu sungai. Karenanya selain di kawasan delta, penelitian ini juga mencakup pengkajian dinamika tutupan lahan serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat sekitar DAS Berau.
Salam, Adi JM. Anggota tim survei dari Balai Penelitian Geomatika, Bakosurtanal.
|
Kalau kita mencoba merinci permasalahan rakyat banyak pasti kita bisa dengan cepat menyebutkannya: masalah pelayanan kesehatan, masalah kualitas pendidikan, masalah transportasi publik, masalah tempat tinggal yang layak, masalah jalan umum yang bolong-bolong, sulitnya mencari pekerjaan (baca: uang) sampai ke masalah tidak ada biaya untuk makan sehari-hari. Begitu banyak masalah-masalah itu terpampang di depan mata kita. Bisa kita lihat langsung atau minimal lewat tayangan berita-berita di televisi. Masalah rakyat banyak yang beberapa hari ini sedang mencuat adalah harga minyak goreng curah yang melonjak naik (sengaja kata curah saya buat huruf miring, sebab nanti saya ingin angkat hal ini). Kita bisa baca di koran-koran atau lihat di televisi, betapa naiknya harga minyak goreng ini mempengaruhi kehidupan rakyat banyak. Usaha-usaha rakyat yang menggunakan minyak goreng terbebani. Para ibu rumah tangga enggak kurang pusing juga. Dan bahkan para pedagang minyak goreng eceran pun kebingungan, sebab walaupun harga naik, mereka tak mendapatkan keuntungan lebih besar. Margin keuntungan mereka malah makin kecil. Di mana sih permasalahannya? Dari beberapa berita yang saya baca, kenaikan harga ini disebabkan rendahnya pasokan bahan mentah pembuat minyak (CPO = crued palm oil) ke pabrik-pabrik minyak goreng. Ini terjadi sebab para pengusaha CPO lebih mendapatkan keuntungan besar bila menjual CPO ke luar negeri. Makanya sebelum krisis harga minyak goreng ini, BPS malah melaporkan meningkatnya jumlah CPO yang diekspor. Apakah ini murni kesalahan pengusaha penghasil CPO? Enggak juga, yang namanya pengusaha (apalagi yang sense of social-nya rendah) udah pasti ingin cari untung besar. Para pengusaha ini protes dengan perlakuan birokrasi yang tidak profesional. Pemerintah memang sudah mengeluarkan aturan agar sekian persen produk CPO dilepaskan di dalam negeri untuk memasok kebutuhan dalam negeri. Untuk itu akan diberikan insentif kepada pengusaha-pengusaha yang memenuhi tuntutan pemerintah ini. Nah pada prakteknya ternyata pengusaha yang komit dan yang tidak komit diperlakukan sama saja. Makanya para pengusaha yang komit jadi kesel. Gitu kira-kira protes para pengusaha itu. Sekarang pemerintah akan melakukan pressure supaya ekspor CPO dibatasi. Caranya dengan menerapkan bea khusus ekspor CPO. Satu rencana yang mulai menuai protes dari kalangan pengusaha. *** Pagi tadi ketika sarapan saya sempat ngobrol sama istri, apa ada pengaruh kenaikan harga minyak goreng untuk ekonomi rumah tangga. Istri menjawab, bahwa yang naik drastis itu adalah minyak goreng curah. Adapun di rumah, sudah sejak lama mengkonsumsi minyak yang dikemas dengan merk-merk dagang tertentu. Harganya memang sekitar Rp. 9.000 sampai 10.000-an sama dengan harga minyak goreng curah yang sedang melonjak naik itu. Saya belajar dua hal. Pertama, term minyak goreng curah. Ternyata itu minyak yang dijual dengan ditimbang atau literan. Yang kedua, ternyata gonjangan-goncangan ekonomi itu lebih dahsyat terasa pada rakyat kebanyakan. Terus terang saya baru ngeh kalau dalam masalah konsumsi minyak goreng keluarga kami termasuk yang berpola konsumsi berbeda dengan mereka yang saat ini tengah kesulitan dengan naiknya harga minyak. Saya secara tak sadar bertanya-tanya, lalu bagaimana pola konsumsi mereka yang secara finansial lebih mapan daripada kami? Saya lalu merenung, apakah para eksekutif dan pengusaha besar pernah merasakan langsung sulitnya kehidupan dengan naiknya harga minyak sekitar 2.000-3.000 rupiah per liternya? Saya terus merenung, apakah mereka juga tahu bagaimana tidak nyamannya jalan yang macet dan bolong-bolong? Bagaimana penatnya naik metro-mini atau bis kota di jam sibuk di siang hari? Bagaimana pelayanan kesehatan di kebanyakan puskesmas masih jauh dari standar layak? Bagaimana kualitas pendidikan masih di banyak tempat masih sangat rendah, belum lagi berbicara masalah financial reward bagi para pendidiknya? Saya memikirkan masalah empati para eksekutif dan pengusaha besar akan permasalahan rakyat banyak. Kalau gaya dan tuntutan hidup mereka sudah sangat berbeda dengan rakyat kebanyakan, kira-kira seberapa tulus dan seberapa serius mereka menyadari bahwa keputusan-keputusan yang diambil akan sangat berpengaruh pada hajat hidup orang banyak. Sungguh saya merenungkan empati para penguasa (pemerintah) terhadap rakyat banyak ini. Dugaan saya empati ini masih sangat rendah. Buktinya kesenjangan ekonomi dan kualitas kehidupan di negeri ini masih sangat kentara. Simbol kebijakan ekonomi makro hingga mikro kita mungkin bisa diwakili dengan makin banyaknya super-super mall (apapun namanya) yang jelas memanjakan segelintir penduduk saja. Mari bandingkan suasana super-super mall ini dengan pasar-pasar tradisional. Rasanya perbandingan ini mewakili fasilitas kesehatan, pendidikan, sarana transportasi dll dari dua kutub kondisi sosial-ekonomi yang senjang. *** Kalau saya memikirkan posisi para eksekutif, sesungguhnya saya sedang berusaha bermuhasabah (berintrospeksi). Saya adalah bagian dari pemerintahan ini. Jadi kalaupun ada keluhan-keluhan, ini adalah bagian dari otokritik buat saya. Dan walaupun tidak terkait langsung dengan masalah ekonomi praktis dan pelayanan publik, tapi kasus minyak goreng ini tak urung jadi bahan renungan. Siang ini saya sempat ngobrol dengan sahabat saya di kantor. Saya sampaikan bahwa saya teringat kata-kata seorang dari ulama dakwah yang mengatakan, "Hanya Allah yang mengetahui, berapa banyak malam-malam kami lalui dengan menangis karena memikirkan permasalahan yang dialami oleh umat ini ...!" Sungguh kita butuh para pemimpin yang sering memupuk rasa peduli kepada rakyat banyak. Mereka rutin mengisi waktu dengan membicarakan permasalahan rakyat banyak dengan serius dan tulus. Tatkala menyadari masih begitu banyak amanah yang belum terpenuhi, tetesan air mata di hadapan Allah adalah menjadi ungkapan dan permohonan ampun kepadaNya atas segala kekurangan yang ada. Mereka korbankan waktu, harta dan tenaga mereka untuk terus aktif mengentaskan permasalahan rakyat banyak ini ... Ya Allah, semoga Engkau hadirkan para eksekutif, para pengusaha dan para pemimpin di seluruh strata masyarakat yang Engkau bimbing dengan cahaya hidayahMu. Aamiin. Bogor, 12 Juni 2007, Adi J. Mustafa
Beberapa musibah beruntun masih menimpa bangsa Indonesia. Yang masih hangat di telinga kita adalah banjir di Jakarta, yang dikabarkan menggenangi sekitar 70% kawasan metropolitan. Sangat besar kerugian jiwa dan materi yang diakibatkan banjir ini. Keadaan pancaroba iklim mengakibatkan terjadinya angin puting beliung di beberapa kawasan di tanah air. Sementara itu curah hujan tinggi, banjir dan tanah longsor pada skala lokal terjadi di banyak kawasan. Di tengah suasana berkabung itu, kemarin berita tentang gempa yang menguncang beberapa kali kawasan propinsi Sumatera Barat sampai kepada kita. Antara melaporkan, gempa ini terjadi akibat pergeseran patahan Semangko. Kekuatan gempa sekitar 5.8 skala Richter dan pusat gempa memang di kawasan Sumatera Barat. Sekitar 70 orang dikabarkan meninggal dunia. Sampai saat ini proses pendataan korban dan pemulihan kawasan masih berlangsung. Dan hari ini kita mendapat berita mengejutkan lagi tentang terbakarnya pesawat Garuda di sekitar Lanud Adi Sutjipto, Jogjakarta. Sampai entry ini ditulis, Antara melaporkan, dari 133 penumpang dan 7 awak pesawat (total 140 orang), 91 orang selamat, 1 orang tewas dan 48 orang masih dicari. Mendengar berita kecelakaan ini, langsung mengingatkan kita pada beberapa musibah kecelakaan pesawat terbang dan kapal laut terjadi dalam bulan-bulan terakhir ini. Kita sungguh berharap kecelakaan transportasi di tanah air segera ditekan dan
dihentikan. Sudah terlalu banyak dan beruntun kecelakaan terjadi. Akhirnya sebagai manusia beriman kita ucapkan innaa liLlaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Semua musibah ini hakikatnya adalah untuk menguji kesabaran kita. Kesabaran untuk tetap berprasangka baik kepadaNya dan ridho dengan ketentuan dariNya. Juga kesabaran dalam pengertian lekas berintrospeksi atas musibah yang terjadi dan lekas memperbaiki keadaan diri kita masing-masing. Semoga keluarga para korban bersabar menerima musibah ini. Turut berduka cita, Adi JM.
Saya bukan pakar virologi, bukan juga ahli kesehatan yang menggeluti masalah epidemiologi. Saya hanya seorang yang prihatin dan sedikit memikirkan masalah unggas-unggas yang saat ini mesti dimusnahkan untuk memutus penyebaran flu burung (avian influenza) yang menyerang tanah air kita. Hari ini, dalam rubrik Ekonomi, Gatra mengangkat reportase berjudul Unggas Dibantai, Peternak Gontai. Laporan ini menyebutkan kebijakan beberapa propinsi yang diduga menjadi sentral penyebaran virus flu burung, yaitu DKI Jakarta dan Banten, dalam mengatasi masalah flu burung*. Memang bisa dibayangkan, dengan mobilitas manusia yang keluar masuk Jakarta yang luar biasa besar, betapa mudahnya virus flu burung akan menyebar di tanah air. Penyebaran virus ini bahkan bisa ke luar negeri. Kekhawatiran ini semakin kuat, karena ada dugaan virus-virus itu sudah bermutasi, hingga bisa ditularkan antar manusia. Kembali ke reportase Gatra, saya tetap berharap agar para pakar virologi dan epidemiologi cepat menyumbangkan pikiran mereka, jangan sampai kebijakan pemusnahan unggas dilakukan di mana-mana. Sampai sejauh ini, saya lihat masih sangat sedikit sumbangan pemikiran mereka dimuat di mass-media. Sudah jelas, para perternak unggas sekarang lemas dan gontai. Efek sosial-ekonomi akan terjadi, terutama pada daerah-daerah yang menggantungkan kehidupan dari peternakan. Selain itu, kalau kita nanti kekurangan unggas untuk dikonsumsi, akan ada efek sosial lainnya, yaitu bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan protein hewani. Ini akan berakibat buruk pada kualitas kesehatan masyarakat. Hal lain yang saya lihat belum menjadi wacana adalah prinsip keadilan bagi unggas-unggas. Saya melihat akan terjadi bentuk kezhaliman jika unggas-unggas itu, yang sakit dan yang sehat, dimusnahkan. Manajemen yang buruk bisa saja menyumbat ide-ide cerdas dari para pakar dan alih-alih dilakukan secara selektif, pemusnahan unggas ini dilakukan membabi buta. Semoga kebodohan seperti ini tidak terjadi di lapangan. Mari kita banyak berdoa agar Allah swt membantu kita semua, khususnya para pemimpin terkait, untuk mengatasi masalah flu burung ini. Salam, Adi JM. * Opini terkait pada Republika on Line (RoL), Flu Burung: Awas Wabah Besar!
|
 |
AGRESI militer Israel di Timur Tengah kian meluas. Setelah menyerbu Jalur Gaza, Palestina, Israel juga menginvasi Beirut dan kota-kota lain di Libanon dengan serangan udara besar-besaran. Ratusan warga sipil telah menjadi korban serangan.
Semakin sulit memahami tindakan agresi Israel di kedua wilayah Timur Tengah itu. Karena saat masa depan perdamaian di Palestina bertambah suram, Israel malah menambah persoalan baru dengan memperluas konflik di Libanon.
Memang di sana-sini ada upaya pembenaran. Israel menjustifikasi serangan di Gaza sebagai upaya pembebasan seorang serdadunya yang disandera oleh aktivis Hamas. Dan di Libanon ada Hezbollah yang telah melakukan apa yang oleh Israel disebut 'provokasi'.
Namun, justifikasi seperti itu sungguh sulit diterima. Apalagi, untuk merespons 'provokasi' itu, Israel secara sadar mengambil langkah sangat tidak proporsional, dengan mengerahkan kekuatan militer besar-besaran dan melanggar kedaulatan sebuah negara.
Fenomena itu pantas dicermati dan dikaji. Karena di balik serangan besar dengan alasan kecil itu tentu terdapat sebuah agenda. Agenda apakah yang sejatinya berada di balik aksi agresif itu? Jawabannya bervariasi tergantung siapa yang mengemukakan.
Namun, terlepas dari apa pun agenda itu, kita tetap menentang langkah militer Israel di Palestina maupun di Libanon. Karena, selain merupakan pelanggaran kedaulatan wilayah, permainan Israel itu jelas semakin mempersulit upaya perdamaian di Timur Tengah yang sudah sejak lama dirintis.
Sangat menyayangkan sikap negara-negara besar khususnya Amerika Serikat (AS) yang membenarkan langkah Israel dengan dalih 'membela diri'. Dukungan dari negara adikuasa bagi Israel memang bukan hal baru.
Soalnya adalah dukungan seperti itu telah membuat Israel makin berani. Itu jelas memperburuk situasi.
Semestinya, AS lebih menahan diri. Karena langkah agresinya di Irak dan Afghanistan telah menjadi model bagi Israel. Kalau Amerika yang selama ini menganakemaskan Israel boleh menyerang Irak dan Afghanistan, kenapa Israel tidak boleh menyerang Palestina, Libanon, atau Suriah?
Dunia, melalui PBB, patut mengambil langkah bersama untuk menentang kebengisan Israel. Bukan saja karena membunuh manusia tidak berdosa di Libanon, dan membahayakan eksistensi Palestina sebagai negara, melainkan juga telah menambah penderitaan global akibat harga minyak yang menggila akibat ulah Israel itu. |
Sumber: Editorial Media Indonesia, Rabu, 19 Juli 2006 (lewat http://www.mediaindo.co.id/)
| |