Workshop Survei dan Pemetaan (5 Agustus 2007)
Seorang Guru mata pelajaran geografi SMA dari Aceh dengan sangat bersemangat mengatakan, " ... Kami ini sering mengajar di kelas bagaikan penyair Rendra ...!"
Saya terkejut dan sambil menoleh kepada Pak Sirait, moderator acara, saya tanggapi Pak Guru itu dengan kalimat, "Bukankah bagus Pak, jika bisa mengajar seperti Rendra?!"
Pak Guru cepat menyergah, "Maksud saya, kami mengajar geografi tapi kami mesti lebih banyak bercerita tanpa alat peraga! Jadilah kami seperti penyair saja ... mengajak para murid untuk membayang-bayangkan apa yang kami sampaikan ..."
Saya baru mengerti maksud dari pembicaraan Pak Guru ini.
Kami memang sedang berada pada kegiatan Workshop dan Sosialisasi Produk Survei dan Pemetaan di kota Medan. Kegiatan ini diadakan oleh Pusat Pelayanan Jasa dan Informasi, Bakosurtanal. Sasaran kegiatan adalah guru-guru SMA dan SMP di kota Medan, Sumatera Utara. Sebagai penyelenggara lokal adalah Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Medan (Unimed). Kegiatan ini adalah bagian dari usaha Bakosurtanal untuk memasyarakatkan penggunaan data geospasial. Dipilihnya sasaran para guru bukan tanpa alasan. Bakosurtanal melihat para pendidik geografi ini sebagai sasaran strategis. Dari merekalah pemahaman masalah data geografi dan geospasial akan tersebar secara efektif kepada para murid SMP dan SMA.
Apa yang disampaikan Pak Guru dari Aceh, yang juga diundang pada acara tersebut, menjadi sebuah gambaran betapa masih hausnya para guru geografi untuk meningkatkan pengetahuan dan juga sarana pengajaran di sekolah mereka.
Acara demi acara diikuti para guru dan peserta dengan antusias. Pada acara pembukaan Pak Heru Warsito dari Bakosurtanal menyampaikan tujuan-tujuan umum kegiatan workshop. Beliau juga menyampaikan betapa data geospasial amat penting dalam pembangunan. Mulai dari perencanaan tata ruang sampai masalah penempatan lokasi ATM yang tepat tidak lepas dari pemanfaatan data geospasial.
Sementara itu Pak Restu, Dekan FIS, Unimed, yang mewakili Rektor Unimed sebelum membuka acara menyampaikan misi dari Jurusan Geografi untuk mencetak para guru yang handal. Untuk itu Pak Restu juga mengundang segenap guru dalam memanfaatkan berbagai sarana di Unimed untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMP dan SMA.
Pada sesi kuliah umum, saya diminta untuk menyampaikan kuliah umum tentang remote sensing (penginderaan jauh). Pak Ali, dosen Unimed, kemudian memandu peserta ke Laboratorium Geografi, untuk mengajak peserta praktek masalah sistem informasi geografi (SIG). Pada sesi selepas dhuhur, rekan dan senior saya Pak Priambodo menyampaikan kuliah tentang pembacaan peta dasar rupabumi dan sekaligus praktikum penggunaan alat Global Positioning System (GPS) untuk penentuan posisi.
Meskipun banyak dari para guru adalah lulusan Unimed, mereka nampak sangat antusias mendapatkan materi-materi di atas. Maklum sebagian mereka adalah lulusan lama. Pada saat mereka kuliah, materi yang ada belum semaju saat ini. Begitu juga sarana di kampus masih belum selengkap saat ini. Tidak heran kalau banyak dari peserta yang meminta agar kegiatan seperti ini secara rutin diadakan, minimal setahun dua kali.
Kami dari Bakosurtanal jelas tidak memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengajar kepada para guru. Oleh karenanya aspirasi para peserta ini kami serahkan kepada pihak Unimed untuk menindaklanjuti. Karena diantara peserta hadir juga pegawai dari Dinas Pendidikan, Penanggung jawab Mata Pelajaran Geografi, dan juga Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), kami berharap kegiatan upgrading pengetahuan para guru geografi bisa dilakukan secara rutin. Kegiatan yang diselenggarakan Bakosurtanal (mengambil dana APBN Bakosurtanal) semoga menjadi pemicu yang positif. Kegiatan ini sendiri telah dan akan dilakukan Bakosurtanal di seluruh propinsi di tanah air.
Pada kesempatan Workshop ini Bakosurtanal pun mendistribusikan peta, album foto udara dan CD berisi materi pelajaran penginderaan jauh, SIG dan pemetaan sebagai bagian dari workshop-kit.
Rehat: Jalan-jalan di Kota Medan
Yang saya dengar Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Pada malam-malam di Medan kami sempat keliling kota.
Saya memang mendapatkan keramaian Medan. Cara mengemudi di Medan luar biasa. Mobil sangat biasa berpindah-pindah jalur tanpa lampu sen. Di Jakarta juga begitu sih, tapi di Medan ini lebih seru!
Kota Medan banyak dihiasi air mancur. Saya lihat setiap air mancur punya "kuncen", alias sponsor yang bisa jadi ikut membiayai operasional air supaya tetap memancar sampai malam hari.
Karena lokasi hotel tempat kami menginap di dekat Masjid Raya, saya sempat sholat Shubuh di sana dan mengikuti kuliah shubuh yang disampaikan Imam Besar masjid, Ustadz Jalaluddin. Saya cukup terkesan karena sholat yang dilakukan membacakan surat as-Sajdah di rakaat pertama dan surat al-Insan di rakaat kedua. Bacaan yang lumayan panjang. Adapun pada kuliah shubuhnya, Ustadz Jalaluddin menyampaikan kajian tafsir.
Yang disayangkan tak nampak pemuda pada jamaah sholat ini. Sebuah catatan penting yang mesti diperhatikan kaum muslimin.
Saya lalu sempat berkenalan dan berbincang dengan Ustadz Jalaluddin sebentar. Dari beliau saya tahu makna al-Mashun yang dijadikan nama masjid. Ustadz yang berusia 66 tahun dan lulusan al-Azhar, Mesir ini menjelaskan, "Asal katanya shona, yashunu, shounan yang artinya suci ... Al Mashun bermakna yang dijaga kesuciannya." Di pelataran mesjid terdapat penjelasan bahwa masjid ini dibangun tahun 1906 pada masa Kerajaan Deli yang dipimpin Sultan Maimoen. Karenanya letak masjid ini hanya sekitar 200m dari Istana Maimoen. Tempat ini sampai sekarang masih terpelihara sebagai objek wisata bersejarah.
***
Kami sempat makan ikan bakar dan juga makan duren. Rupanya ada banyak warung yang khusus menyediakan sajian duren.
Buat saya yang unik adalah makan duren. Saya bukan maniak makan duren. Tapi bapak-bapak lain rupanya membatasi mengkonsumsi duren. "Kita udah mesti mengendalikan diri," kata salah seorang mereka. Karena itu saya akhirnya makan cukup banyak. Saya diberitahu ada duren yang manis, yang tawar dan agak pahit ... Setiap orang punya pilihan. Yang pasti Pak Ali bilang yang paling enak itu yang "rasa duren"! Saya pikir istilah itu benar. Ternyata saya hanya jadi "korban" candaan Pak Ali. Teman-teman dari Bakosurtanal dan tiga orang dosen yang ikut saat itu tertawa mendengar pertanyaan saya, "Yang 'rasa duren' itu yang bagaimana, Pak Ali?!"
Satu lagi kenangan dari Medan: Bika Ambon dan Sirup Marquisa dan Terung Belanda. Kami sempat mampir di Toko Zulaikha (orang banyak menyebutnya Lekha) di jalan Majapahit untuk membeli oleh-oleh.
Duh, maaf buat sobat MP, cuma kebagian ceritanya aja ya ... Paling enggak kalau ke Medan sobat semua bisa merasakan sendiri pengalaman menarik di Medan.
Bogor, 7 Agustus 2007,
Adi Junjunan Mustafa
Catatan:
Terima kasih buat Mbak Tari dan Mbak Ninuk yang sudah menjadi administrator kegiatan. Juga terima kasih buat para dosen dan staf Unimed yang sudah menyambut kami dengan hangat. Kita seperti sudah kenal sekian lama, karena disatukan kerja-kerja di dunia geografi ini. Tak lupa kepada para mahasiswa yang sudah membantu kelancaran acara, terima kasih.
Spesial terima kasih buat Rachmad van Binjai, salah seorang sobat MP yang menyempatkan diri berkunjung ke hotel untuk bersilaturahim. Semoga persahabatan kita semakin erat setelah pertemuan kemarin. Salam buat keluarga. Sayang saya enggak sempat berkunjung ke Binjai dan merasakan rambutannya yang terkenal itu.