Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Adi Junjunan's posts with tag: ramadhan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ramadhan
Blog EntryRenungan Akhir Ramadhan 1428Oct 11, '07 1:30 AM
for everyone
Sahabat MP sekalian, di penghujung Ramadhan 1428 (dan menjelang kami sekeluarga mudik), kami ucapkan:

Taqabballahu minnaa wa minkum,
semoga Allah swt menerima segenap
'amal sholih kita selama
Ramadhan ini.

Selamat Hari Raya Idul Fithri 1428H.
Mohon maaf lahir dan batin.

Adi J. Mustafa dan Keluarga.


Saya sempat menuliskan perenungan di bawah ini. Semoga menjadi perenungan yang juga bermanfaat bagi sahabat semua:

Renungan Akhir Ramadhan:
Mensyukuri Hidayah dari Allah

Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya belum sempat kita mereguk manisnya beribadah selama bulan Ramadhan di tahun 1428 Hijriyah. Syahrush-shiyaam ini pun akan segera meninggalkan kita. Di penghujung Ramadhan ini, patut kita renungkan firman Allah swt: “Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas hidayahNya kepada kalian dan agar kalian bersyukur.” (QS 2:185)

Kesempurnaan bilangan hari penunaian ibadah shaum menjadi gambaran ‘amal kebajikan yang ditunaikan secara utuh. Demikian pulalah sikap orang beriman dalam seluruh aktifitas kehidupannya.

Selanjutnya orang beriman diingatkan untuk bertakbir, mengagungkan Allah swt atas limpahan hidayah dariNya. Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menyebutkan beberapa bentuk hidayah yang Allah berikan kepada manusia. Tiga bentuk pertama adalah komunikasi Allah swt kepada para NabiNya, yaitu dengan berbicara langsung (QS 4:164), melalui wahyu (QS 4:163) dan dengan cara mengutus malaikat.

Adapun beberapa bentuk hidayah yang diberikan Allah swt kepada manusia pada umumnya berupa ifham (pemberian pengertian), bayanul-aam (ayat-ayat Allah), isma’ (pendengaran untuk mendengarkan seruanNya) dan ilham (bisikan kebenaran dalam hati).

Ifham

Ketika Dawud dan Sulaiman memberikan ketetapan hukum masalah ladang, maka Allah memberikan pengertian yang lebih tepat dibandingkan Dawud (QS 21:78-79). Ali bin Abi Thalib ketika ditanya tentang kelebihan dirinya dibandingkan orang lain di sisi Rasulullah menjawab, “Tidak ada kelebihan, kecuali diberiNya aku pengertian-pengertian tentang masalah agama dengan tepat.” Juga amat masyhur kisah tentang ‘Abdullah bin ‘Abbas yang memiliki ketajaman pengertian tatkala diminta Umar bin Khattab menafsirkan ayat awal pada surat an-Nashr: “Apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan.”  Ibnu ‘Abbas menjawab, “Ini adalah isyarat, bahwa Rasulullah akan segera wafat.” Sebuah penafsiran yang didasarkan pada pemahaman mendalam akan perjalanan dakwah Rasulullah saw.

Demikian pula kepada umat Islam, Allah swt memberikan ifham yang berbeda-beda akan ajaran agama Islam. Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, dijadikanNya orang tersebut fakih dalam memahami agama.” Oleh karenanya semangat seorang muslim untuk terus memperdalam ilmu tentang agamanya menjadi sebuah parameter seberapa besar ia bersungguh-sungguh menggapai hidayah Ilahi.

Selama bulan Ramadhan ini umat Islam mendapat kesempatan yang luar biasa besar untuk ber-tafaqquh fid dien, menggali ilmu keagamaan (QS 9:122) atau paling tidak memperbanyak ilmu dan wawasan tentang Islam. Tidak diragukan lagi ini adalah karunia hidayah dari Allah swt yang patut disyukuri kaum muslimin. Sudah sepatutnya limpahan pemahaman ini diteruskan pasca Ramadhan ini dengan terus bersemangat menggali ajaran Islam.

Bayaanul-aam

Bayannul-aam diberikan Allah swt melalui ayat-ayatnya, baik itu yang dapat dibaca atau didengar (ayaatul qauliyyah) ataupun ayat yang dapat disaksikan (ayaatul kauniyyah). Jelas bahwa al-Quran adalah bentuk hidayah yang amat besar dari Allah bagi manusia, khususnya orang-orang beriman dan lebih khusus lagi bagi orang-orang yang bertakwa kepadaNya. “Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, hidayah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 2:2). “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Quran, sebagai hidayah bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai hidayah itu dan pembeda (antara yang benar dan yang salah).” (QS 2:185).

Selama bulan Ramadhan umat Islam lebih banyak membaca al-Quran. Pada malam-malam Ramadhan pun kaum muslimin bershalat Tarawih, sebagai ibadah sunnah. Pada Tarawih ini pun dibacakan al-Quran oleh imam shalat. Maka selama Ramadhan pasokan hidayah dalam bentuk bayaanul-aam pun lebih banyak dibandingkan pada bulan-bulan lain. Ini adalah hal yang patut disyukuri umat Islam.

Demikianlah para Rasul ditugaskan Allah swt untuk memberikan penjelasan tentang bayaan ini. Nabi Muhammad saw sendiri bertugas membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan jiwa dan mengajarkan (implementasi) al-Quran dan sunnah beliau (QS 3:164). Tugas Nabi Muhammad ini diwariskan kepada para ulama Islam yang senantiasa mempelajari dan mengajarkan al-Quran. “… akan tetapi jadilah kalian orang-orang Rabbani, disebabkan kalian mengajarkan al-Kitab dan karena kalian mempelajarinya.” (QS 3:79). “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” (al Hadits).

Karenanya kaum muslimin lulusan “madrasah Ramadhan” akan terus membaca, mengkaji dan mengamalkan al-Quran pasca Ramadhan. Disamping itu kaum muslimin pun bersemangat menggali ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu-ilmu lainnya untuk kemaslahatan umat. Pada hakikatnya penggalian ilmu apapun yang bermanfaat bagi kehidupan adalah proses pembacaan ayat-ayat Allah. Dengan demikian akan bertambahlah hidayah yang diperoleh dari Allah swt.

Isma’

“Sungguh, Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (QS 35:22). Ayat ini menjadi sebuah penjelasan bahwa menjadikan seseorang itu mendengar seruan Allah, merupakan bentuk hidayah dariNya. Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri tidak bisa memberikan hidayah kepada seseorang (menjadikan seseorang sungguh-sungguh mendengarkan), kecuali atas ijinNya semata.

Di bulan Ramadhan, dalam kondisi bershaum dan dalam suasana penuh hikmah, hati kaum muslimin menjadi lembut untuk menerima kebenaran, yang pada hakikatnya adalah seruan dari Allah swt. Hendaknya kondisi ini terus dipertahankan pasca Ramadhan. Dengan demikian bertambah-tambahlah hidayah yang diterima kaum muslimin dengan pasokan nilai-nilai kebenaran yang dibenarkan oleh hatinya. Dan bertambah-tambah pula ‘amal kebajikan yang dihasilkan umat ini.

Ilham

Ilham atau bisikan ke dalam hati manusia itu dua jenis: ilham kebaikan dan ilham kejahatan. “Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” (QS 91:7-8). Maka hidayah dari Allah dibisikkan pada hati manusia dalam bentuk ajakan kepada kebaikan.

Para malaikat senantiasa membisikkan kebaikan kepada hati manusia. Diantara bisikan ini diberitahukan Allah swt pada al-Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka beristiqamah (meneguhkan pendirian), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dan (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang dijanjikan kepadamu.” (QS 41:30). Bisikan para malaikat ini akan menjadi energi yang amat besar bagi orang beriman untuk terus menambah amal-amal kebajikan. Ilham kebaikan ini juga akan menjadi pengokoh kesabaran dalam menjalankan amal kebajikan. Bisikan ini juga terus memperkokoh visi akhirat bagi orang-orang beriman, yaitu adanya surga dan keridhaan dari Allah swt kepada mereka atas segala amal kebajikan dan perjuangan selama hidup di dunia.

Perlu disadari bahwa, sebagaimana termaktub pada surat asy-Syams, ilham yang sampai kepada manusia juga berupa ilham kejahatan. Bisikan inilah yang selalu dihembuskan para setan. Manusia dibuat cinta berlebihan kepada kesenangan dunia, dibuat takut miskin jika berderma, panjang angan-angan dan lupa akan kematian yang pasti datang dan bisikan lainnya. Akan akar dari ilham jahat dari setan adalah membuat manusia lupa kepada Allah. “Setan telah menguasai mereka, lalu jadilah mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi.” (QS 58:19).

Maka pasca Ramadhan ini marilah kita terus sucikan hati kita, sehingga hati ini lebih mudah menerima ilham kebaikan dan kebenaran. Juga mari kita jaga, jangan kotori hati kita dengan perbuatan dosa dan maksiyat kepada Allah. Hati yang kotor ini yang akan membuat lengah dan mengikuti bisikan-bisikan kejahatan yang dihembuskan setan.

***

Demikianlah empat saluran hidayah: ifham, bayaanul-aam, isma’ dan ilham, yang insya Allah telah kita terima dalam jumlah besar selama bulan Ramadhan ini. Semoga kita dapat merasakan dan menghayati nilai besar dari hidayah Allah ini. Dan semoga kita senantiasa bersyukur kepadaNya dengan terus semakin taat kepadaNya dan semakin banyak beramal kebajikan. Aamiin.

Bogor, 29 Ramadhan 1428,
Adi Junjunan Mustafa


Sahabat sekalian tulisan yang saya buat di bawah ini adalah respon kesedihan ketika umat Islam mesti berbeda waktu dalam merayakan Hari Raya Idul Fithri. Idul Fithri adalah satu dari dua hari raya umat Islam, karenannya kebersamaan umat dalam merayakannya menjadi parameter kesolidan umat. Selepas mendengarkan ceramah dan diskusi dengan Dr.-Ing. Khafid, Peneliti Ahli Surveyor Pemetaan dan sekaligus anggota Tim Itsbat Hilal Depag RI (dari instansi Bakosurtanal), lahirlah tulisan ini. Semoga menjadi perenungan bermanfaat bagi kita semua.

Penentuan Waktu Idul Fitri dan Kepemimpinan Umat

Sebentar lagi hari raya Idul Fitri akan tiba. Dan sangat disayangkan sekarang sudah mulai terdengar akan adanya perbedaan hari berlebaran di antara umat Islam di Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Saudi Arabia, Mesir, Malaysia atau Pakistan, apa yang terjadi di Indonesia ini cukup unik dan sekaligus memprihatinkan. Di sana keputusan pemerintah tentang penentuan waktu awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri secara solid dikuti rakyat. Mengapa hal ini sulit terjadi di tanah air kita?

Tiga Faktor Penentu

Ada tiga faktor penentu dalam penetapan hilal  atau bulan baru, yaitu: masalah fikih, masalah ilmiah dan masalah kepemimpinan. Masalah fikih terkait dengan pemahaman terhadap teks-teks hukum yang dijadikan rujukan dalam penentuan awal bulan. Misalnya pada teks: "Mulailah puasa Ramadhan kalian dengan hilal dan makanlah (maksudnya "akhiri puasa") dengan hilal pula, jika kalian tidak melihat hilal, maka lengkapilah puasa kalian menjadi 30 hari (istikmal)". Apakah hilal itu cukup ditentukan dengan ilmu atau perhitungan astronomi atau hisab (bil ‘ilmi) atau mesti dengan betul-betul aktifitas melihat atau ru-yah (bil fi’li)? Jawaban dari pertanyaan ini menjadi salah satu titik simpang perbedaan dalam penentuan masuknya bulan baru. Yang berpendapat mesti dengan ru-yah mendasarkan pada teks hadits yang memang secara eksplisit menyebutkan kata ru-yah. Yang berpendapat cukup dengan hisab berargumentasi bahwa perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan perhitungan waktu hilal secara teliti. Kelompok ini pun mendasarkan pada teks yang mengisyaratkan, bahwa kondisi pengetahuan di jaman Nabi Muhammad hidup memang belum memungkinkan perhitungan seteliti sekarang.

Sementara itu dalam masalah ilmiah juga terjadi perbedaan pendapat. Diantara contoh praktis perbedaan ini adalah pada berbedanya perangkat lunak yang digunakan berbagai ormas keislaman. Pada Tim Itsbat Departemen Agama RI paling tidak terdapat sekitar 30 jenis perangkat lunak yang dikaji untuk menentukan waktu hilal. Perbedaan perangkat-perangkat lunak ini terkait dengan rumus yang digunakan untuk menentukan posisi bulan serta perbedaan parameter lain seperti pendefinisian sudut ketinggian bulan, prosentase pencahayaan, sudut elongasi bulan terhadap matahari dan lain-lain.

Apabila usia bulan saat meru-yah sudah cukup tua, dengan ketinggian sudah di atas 2 derajat serta pencahayaan di atas 4% (ini contoh angka-angka yang disepakati secara empiris), maka dipastikan metoda hisab murni dan ru-yah akan sama dalam penentuan bulan baru ini.

Permasalahannya, untuk tahun ini kebanyakan perangkat lunak menghitung akan terjadi ijtima’ (konjungsi) pada hari Kamis, tanggal 11 Oktober 2007, sekitar jam 12:00 WIB (hari ini). Artinya pada waktu magrib pada kawasan WIB, usia bulan baru sekitar 6 jam. Sudah dapat dihitung pula dengan beberapa perangkat lunak, bahwa ketinggian bulan masih sekitar 0,5 derajat dan pencahayaan bulan masih sekitar 0,15% atau 15/10.000 bagian bulan, sebuah ukuran yang sangat kecil. Maka dari sisi ilmiah (dan juga fikih) terdapat titik simpang berikut; Bagi mereka yang memperhitungkan kemungkinan terlihatnya hilal (imkanur ru-yah) hampir yakin bahwa sore tanggal 11 Oktober 2007 nanti hilal akan sulit sekali terlihat. Akan tetapi bagi mereka yang menyandarkan diri pada telah terjadinya ijtima’, maka cukuplah hitungan ini menunjukkan telah terjadi bulan baru (wujudul hilal).

Masih banyak lagi variasi pendangan atau interpretasi fikih terhadap teks-teks hadits Nabi Muhammad saw dan juga variasi atau pernik-pernik sisi ilmiah. Yang pasti baik pada sisi fikih maupun sisi ilmiah ruang di mana perbedaan interpretasi dan pandangan terjadi memang sangat terbuka. Akan sulit untuk menyamakan “suara” jika penentuan awal bulan hanya bersandar pada dua faktor ini.

Peran Faktor Kepemimpinan

Jika faktor fikih dan faktor ilmiah secara alami memang membawa perbedaan pandangan, maka faktor kepemimpinan lah yang bisa menjadi penengah untuk mengambil keputusan bersama. Ketaatan kepada Allah, kepada Rasul dan kepada pemimpin umat (ulil amri) menjadi suatu perintah di dalam al-Quran bagi orang-orang beriman (QS. An-Nisa:59). Ketika pemimpin umat mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang disampaikan segenap perwakilan umat dalam sebuah mekanisme syura, maka wajiblah keputusan ini ditaati. Utsman bin ‘Affan, khulafaur-rasyidin ke-3, pernah berucap, “Kepemimpinan itu menyelesaikan masalah yang tidak tuntas diputuskan al-Quran.” Jadi memang diakui ada masalah-masalah yang keputusan finalnya itu tidak bisa disandarkan pada faktor fikih dan ilmiah. Sebetulnya kalau permasalahan umat dan bangsa ini dirinci akan banyak ditemukan perlunya keputusan-keputusan kepemimpinan yang mesti diambil yang dalil eksplisitnya di dalam al-Quran atau al-Hadits memang tidak ditemukan.

Kembali ke permasalahan praktis dalam penentuan awal Syawal ini, Tim Itsbat Departemen Agama sebetulnya telah menghimpun berbagai ormas keislaman di tanah air. Di dalam Tim ini juga duduk para pakar astronomi dari berbagai instansi pemerintah yang memang berkompeten dalam masalah astronomi dan masalah geo-spasial (terkait keruangan di muka bumi). Maka Tim ini dapat memainkan peran yang amat strategis dalam mempersatukan umat Islam untuk merayakan hari rayanya, Idul Fitri, secara bersama-sama. Akan sangat elok apabila perwakilan berbagai ormas keislaman yang hadir betul-betul bersemangat untuk membawa suasana persatuan umat dan sedapat mungkin menghindari ego-kelompok masing-masing. Kalau bukan pada tingkat para pemimpin umat, maka di manakah lagi persatuan umat ini akan hadir?

Sudah pasti masing-masing perwakilan ormas akan mengajukan argumentasi yang diyakininya. Dan sudah pasti juga akan terjadi adu argumentasi dalam syura yang dilakukan. Dalam kondisi seperti ini peran pemimpin yang bijak, yang dapat memahami berbagai argumentasi yang disampaikan, serta mengambil pilihan terbaik diantara pilihan-pilihan yang ada amat vital. Pemimpin juga harus berani mengambil keputusan, walaupun misalnya ada peserta sidang syura yang membenturkan keputusan pemimpin dengan kebebasan menjalankan keyakinan ajaran agama, seperti tertulis pada UUD 45. Sesungguhnya pengambilan keputusan waktu Idul Fitri bukan wilayah keyakinan (aqidah). Masalah ini adalah masalah yang memang harus diputuskan diantara pilihan-pilihan yang ada.

Penyatuan waktu satu dari dua hari raya umat Islam ini memiliki nilai penting dalam membangun ruh persatuan umat yang dirasakan kian merapuh, apalagi ketika tubuh umat seolah terpotong-potong secara politis praktis. Padahal Allah berfirman, “Dan berpegang teguhlah pada tali Allah secara bersama-sama, dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS Ali Imran:103). Jika pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama, berani mengambil keputusan secara bijak, benar dan tegas, maka keputusan ini juga akan menjadi jurisprudensi yang positif di tengah-tengah umat Islam. Dan jika pun Menteri harus menanggung resiko yang tidak kecil atas keberaniannya mengambil keputusan, tetap akan tercatatlah hal ini sebagai bagian dari perjuangan riil dalam mempersatukan umat Islam di Indonesia. Sebuah perjuangan yang amat mulia.

Umat pun akan mendapatkan pembelajaran berharga dalam implementasi perintah untuk taat kepada pemimpin umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dan semoga penyatuan ini juga memberikan bekal kesadaran bagi umat Islam untuk terus menjadi pelopor dalam mempersatukan bangsa ini dalam derap perjuangannya.

Wallahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, 9 Oktober 2007 (27 Ramadhan 1428),
Adi Junjunan Mustafa


Blog EntryBerbuka bersama Anak YatimOct 4, '07 11:49 PM
for everyone
Ada beberapa momentum yang bisa membuat kita meneteskan air mata. Salah satu diantaranya adalah ketika mengenang duka atau penderitaan yang dialami orang lain. Saat itu instrumen kasih sayang di dalam hati bekerja. Rasa empati hadir. Pikiran dan hati kita hanyut terlibat dengan permasalahan dan kesulitan yang dialami orang lain. Inilah yang terjadi pada santunan kepada anak yatim yang dilakukan saat acara buka bersama di Bakosurtanal, kemarin, 22 Ramadhan 1428.

Sekitar 40 anak yatim diundang DKM al-Idrisi untuk hadir pada acara buka puasa. Berturut-turut Bapak Sukendra Martha (Sekretaris Utama), Bapak Aris Poniman (Deputi Survey Sumber Daya Alam) dan Bapak Suharto Widjojo (Kepala Pusat Atlas) mewakili hadirin menyerahkan santunan uang kepada anak-anak yatim. Selanjutnya Ibu Sari (Ketua Panitia Ulang Tahun  ke-38 Bakosurtanal) menyerahkan paket hadiah secara simbolis kepada 4 anak yatim. Ini adalah momentum yang syahdu. Sesekali nampak juga pemandangan lucu, misalnya ketika seorang anak mencoba menerawang isi amplop yang baru diterimanya. Mungkin si anak penasaran, berapa besar uang yang ia terima ... *smile*.

Ustadz Yassir Liputo yang hadir untuk memberikan tadzkirah menjelang buka langsung mengisi tadzkirahnya tentang santunan kepada anak yatim. Ada penggalan kalimat-kalimatnya yang membuat hati hanyut dalam perenungan mendalam. "... Kita mungkin bisa memberi mereka sebagian rejeki kita, tapi ada yang tidak bisa kita gantikan pada mereka ...." Lalu mengalirlah kisah di bawah ini:

Pada satu hari raya Idul Fitri, Rasulullah saw berjumpa dengan seorang anak yang sedang menangis sendirian. Demi melihat hal itu, beliaupun menghampiri si anak. Lalu dengan penuh kelembutan beliau bertanya, "Apa gerangan yang membuatmu bersedih. Apakah kamu belum makan?"

Si anak menggeleng. "Aku tidak lapar," katanya.

"Atau apakah kamu belum punya pakaian bagus di hari raya ini?" tanya Nabi kemudian.

Si anak kembali menggelang. "Aku tidak perlu baju. Sudah cukup baju yang aku miliki."

"Lalu apa yang membuatmu bersedih, Nak?" Rasulullah kembali bertanya.

"Aku bersedih, sebab aku melihat anak-anak lain hari ini berbahagia bersama ayah-ayah mereka ... Sementara aku ... kepada siapa aku bersimpuh berbagi kebahagiaan hari ini??!"

Demi mendengar hal itu, Nabi Muhammad saw meneteskan air mata. Padahal beliau melarang orang bersedih pada Idul Fitri. Ini adalah hari kemenangan. Tapi demi mendengar penuturan si anak tersebut, beliau tak mampu menahan empati yang hadir di lubuk hatinya.

Itulah yang tidak bisa kita gantikan. Ustadz Yassir menutup bagian kisahnya. Saya pun teringat, bahwa lanjutan kisah itu adalah sebuah tawaran dari Nabi kepada si anak, "Nak, jangan bersedih. Maukah kau jadikan Muhammad sebagai ayahmu dan Aisyah sebagai ibundamu ...?" Inilah tawaran yang kemudian mengobati kesedihan si anak. Allahumma shalli wasallim wa baarik 'alaa nabiyyinaa wa qudwatinaa Muhammad ... 

Beberapa hadirin mengungkapkan, bahwa acara buka puasa hari itu berbeda dengan acara sebelumnya. Acara penyantunan anak yatim membuat hati merasakan satu suasana kekhusyuan. Ya ... bisa jadi itulah rahmat yang diturunkanNya, ketika hati hadirin turut berempati dan mendoakan anak-anak yatim pada sore itu.

***

Begitu hebatnya pelajaran yang Allah hendak berikan kepada orang beriman dari sosok anak yatim ini. Bahkan parameter kejujuran atau kepalsuan seseorang dalam berislam dapat diukur pada sikap dan perilaku kepada anak yatim. Tahukah kalian siapa yang berdusta dalam beragama? Maka merekalah yang menghardik anak yatim! [Surat al-Maa'uun]

Sebaliknya kebaikan seorang muslim tidak pernah berhenti pada parameter kebaikan peribadahan ritual semata. Kebaikan seorang muslim selalu dikaitkan dengan kebaikannya kepada orang lain. Surga yang seluas angkasa dan bumi itu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang atau dalam kondisi sempit; Yang menahan marahnya; Yang senantiasa memafaankan orang lain. Dan Allah mencintai muhsiniin, orang-orang yang berbuat baik. [Surat Ali 'Imron]

Nabi Muhammad saw pun ketika mensifati kebaikan seorang muslim senantiasa dikaitkan dengan kebaikannya terhadap orang lain. Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya. Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik kepada istri-istri kalian. Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat kepada orang lain ...

***

Pekan lalu, pada acara santunan terhadap anak yatim di kompleks perumahan tempat saya tinggal, sekitar 100 anak yatim hadir. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di sekitar perumahan. Sungguh jumlah yang tidak sedikit. Seorang pengurus masjid mengatakan kepada saya bahwa jumlah ini sudah penyeleksian anak-anak yang usianya dibawah 13 tahun. Jadi masih lebih banyak lagi anak yang semestinya disantuni.

Sejak saya diminta pengurus untuk memberi anak-anak yatim ini motivasi agar mereka hidup sukses, saya langsung teringat surat adh-Dhuha. Walaupun surat ini terkait dengan lamanya ayat-ayat Quran tidak turun kepada Nabi Muhammad, saya menemukan perenungan lain. Perenungan akan seorang manusia paling sukses di dunia dan kelak di akhirat. Dia adalah Nabi Muhammad dan dia adalah seorang yatim di masa anak-anaknya!

Maka saya sampaikan dengan bahasa yang semoga dimengerti anak-anak yatim saat itu, "Anak-anak, kalian tidak boleh berputus asa sebab orang yang paling suskes di dunia dan akhirat pada masa anak-anaknya adalah seorang yatim ..."

Lalu saya sampaikan hiburan kepada mereka, masih dengan bahasa yang semoga mudah mereka cerna:
1. Jangan bersedih, sebab Allah tak pernah meninggalkan kalian dan Dia tak pernah membenci kalian;
2. Dan masa depan kalian akan lebih baik daripada masa lalu kalian;
3. Allah akan memberi karunia kepada kalian, sehingga kalian akan merasa bahagia;
4. Allah akan memberi kalian naungan perlindungan;
5. Kalau kalian kebingungan, Allah akan membimbing kalian;
6. Kalau kalian berkekuranga, maka Allah akan membuat kalian berkecukupan!

Lalu pembicaraan saya alihkan kepada hadirin:
7. Maka janganlah kita bertindak sewenang-wenang kepada anak yatim, sebaliknya kita harus senantiasa menyantuni dan membuat mereka tenteram;
8. Dan terhadap yang meminta, janganlah kita menghardik. Sungguh, tidak ada orang yang merasa senang dengan kondisi kekurangan mereka.
9. Dan marilah kita tunjukkan rasa terima kasih kita kepada Allah atas segala karuniaNya, dengan banyak berbuat baik kepada orang lain, khususnya anak yatim dan mereka yang hidupnya berkekurangan.

Kita harus yakinkan kepada para ibu anak-anak yatim atau para pengasuhnya, bahwa pintu masjid kita, pintu rumah kita, dan bahkan pintu hati kita selalu terbuka untuk menerima anak-anak yatim ini. Sistem sosial kita harus betul-betul memperhatikan anak-anak yatim ini, terutama masalah pendidikan dan kesehatan mereka. Jangan sampai mereka kesulitan untuk sekolah! Jangan sampai tubuh mereka tumbuh ringkih! Sebab dengan begitu kita berarti membiarkan mereka menderita.

***

Ya Allah berilah keberkahan pada mereka yang senantiasa menyantuni anak-anak yatim. Ya Allah berikanlah balasan yang baik kepada mereka yang senantiasa terlibat pada setiap usaha penyantunan anak-anak yatim. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk diantara kelompok mereka ... Aamiin, ya Rabb al-'aalamiin.

Bogor, 23 Ramadhan 1428,
Adi J. Mustafa

ddd
dThumbnaild
ddd
Di sela-sela waktu shaum Qanita dkk (kelas 5) pentas menyanyi di Botani Square, Bogor. Qanita memang tahun ini ikutan ekskul Bina Vokalia. Sejak tahun lalu grup vokal dari SDIT Ummul Quro diundang Botani Square untuk meramaikan paket acara Ramadhan mereka. Anak-anak Ummul Quro ini tampil lepas dan menarik membawakan lagu-lagu anak Islami bertemakan Salam, Puasa, dan Sholat. Jadi pertunjukan unik juga di tengah-tengah waktu puasa di mall besar di Bogor ini.

Sementara itu Maryam (kelas 2) sejak tanggal 1 sampai tanggal 4 Oktober mengikuti kegiatan SeNyUM, Sepekan Nyantri di Ummul Quro, yang merupakan paket kegiatan Ramadhan sekolah. Foto-foto di bawah ini adalah saat acara ceramah umum. Saya yang diundang berbicara terus terang agak gugup. Baru pertama kali soalnya berbicara dihadapan sekitar 500 anak kelas 1 sampai kelas 4 SD. Hebohnya luar biasa. "Saya betul-betul bisa merasakan hebatnya kesabaran bapa dan ibu guru dalam mendidik anak-anak, terutama yang masih kelas 1 dan 2 ...," kata saya kepada Pak Rijal, Guru SDIT Ummul Quro yang menjadi penanggung jawab acara.

Blog EntryMenjemput Lailatul QadrOct 1, '07 11:43 PM
for everyone
Sahabat sekalian, waktu magrib nanti menjadi awal sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan tahun ini. Di bawah ini saya sampaikan tulisan singkat seputar Lailatul Qadr. Semoga menjadi bagian bekal kita untuk mengintai dan meraih kemuliaan pada Malam yang lebih baik daripada 1000 bulan itu.

Menjemput Lailatul Qadr [1]


Terjemahan Surat al-Qadr

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Qur’an) ini pada Lailatil-Qadr
,

2. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui tentang kebesaran Lailatul-Qadr itu?


3. Lailatul-Qadr lebih baik daripada seribu bulan.


4. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka, dengan membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut);


5. Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!


Kebaikan Lailatul Qadr

Keterangan tentang lailatul qadr (malam yang mulia) terdapat pada Surat al-Qadr. Allah menyebutkan al-Quran turun pada lailatil qadr [2].

Mujahid berkata, “Rasulullah saw menceritakan seorang dari Bani Israil memanggul senjata untuk berjihad fii sabilillah selama seribu bulan. Cerita itu sangat membuat kaum muslimin kagum. Tiba-tiba Allah menurunkan Surat al-Qadr ini, yang menyebutkan bahwa ibadah pada malam ini lebih baik daripada seribu bulan (R. Ibn Hatim)

Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Mujahid, bahwa lailatul qadr yang lebih baik daripada seribu bulan itu adalah beribadah padanya seperti puasa dan bangun malam.

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang bangun pada lailatil qadr (untuk sholat atau berdzikir) dengan motivasi keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (R. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “... Di dalam bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, maka siapa yang tidak mendapatkannya berarti telah merugi/kecewa.” (R. Ahmad, An-Nasa’i)

Salaamun hiya hatta mathla’il fajr. Asy-Syabi’ berpendapat, salam yang diberikan para malaikat kepada orang-orang yang berada di masjid hingga terbit fajr.

Kapan Waktunya?

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw bersabda, “Lailatul qadr itu terjadi pada malam yang ganjil 21-23-25-27-29. Dan para malaikat di bumi lebih banyak daripada jumlah kerikil." (R. Ahmad)

Rasulullah saw bersabda, “Tanda lailatul qadr adalah suasana malam bersih hening terang seakan-akan ada bulan, tidak terasa dingin atau panas, dan tidak ada bintang yang dilemparkan kepada setan hingga terbit fajr dan paginya matahari terbit tiada bercahaya panas tajam, seakan-akan bagaikan bulan purnama.”

Apa yang Sunnah Dilakukan di Dalamnya?

Aisyah ra. berkata, “Adalah Rasulullah saw apabila masuk pada malam-malam akhir dari malam 21-30, bangun semalam suntuk dan membangunkan istri-istrinya, dan mengeratkan ikat pinggang (maksudnya tidak berkumpul dengan istri-istrinya).” Ditambahkannya pada hadits yang lain, “Biasanya Rasulullah saw. lebih rajin beribadah pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan lebih daripada malam yang lain.” (R. Muslim)

Aisyah bertanya, “Ya Rasulallah, jika aku mendapati lailatul qadr, maka doa apakah yang sebaiknya aku ucapkan?” Jawab Nabi saw, “Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu-anni.” (R. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibn Majah). Arti doa itu adalah: Ya Allah, Engkaulah Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Malam turunnya al-Quran dinamai lailatul qadr, sebab al-Quran adalah Kitab Allah yang merupakan rahmat yang besar yang sangat dihajatkan oleh umat manusia. Di dalamnya dijelaskan segala urusan agama, dunia dan akhirat. Karenanya membaca dan menghayati isi al-Quran menjadi ‘amal yang baik dilakukan pada malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini.

Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dalam praktek umat Islam sejak masa Nabi saw, dikaitkan secara erat dengan ibadah i'tikaf (QS al-Baqarah:187). Disukai untuk tidak banyak berbicara pada saat beri’tikaf itu. Pada siang hari hendaknya banyak membaca al-Quran, berdzikir dan berdoa. Adapun di waktu malam kerjakanlah Sholat Tarawih, Sholat Tahajjud, berdoa, bermunajat dan ber-istigfar, memohon ampunan kepada Allah swt. Jadikanlah beri’tikaf sebagai momen kita berhijrah kepada Allah. Sesungguhnya aku akan berhijrah kepada Rabb-ku. (QS al-Ankabut:26)

Wa Allahu a’lamu bish shawwab.

Bogor, 20 Ramadhan 1428,
Adi J. Mustafa

Bacaan

  1. Ibn Katsir, Tafsir Surat al-Qadr
  2. An-Nawawi, Riyadhush Shalihin, Bab Keutamaan Bangun, Lailatul Qadri dan Keterangan Malam yang Dapat Diharapkan Jatuhnya
  3. Raghib as-Sirjani dan Muhammad al-Muqaddam, Madrasah Ramadhan, Penerbit Aqwam Jembatan Ilmu, 2006


[1] Untuk disampaikan pada ceramah qabla Sholat Tarawih di Masjid Baitussalaam, Bogor Raya Permai, Bogor, 21 Ramadhan 1428.

[2] Pada surat ad-Dukhan disebutkan al-Quran diturunkan pada lailatin mubarakatin (malam yang diberkati). Dalam surat al-Baqarah disebutkan al-Quran diturunkan pada Bulan Ramadhan. Adapun pada surat al-Anfal disebutkan turunnya bertepatan pada hari pertemuan antara dua pasukan, yaitu pasukan muslim melawan pasukan kafir pada perang Badr. Ibn ‘Abbas ra. berkata, “Al-Quran diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzati di langit dunia sekaligus, kemudian diturunkan kepada Rasulillah saw terperinci selama dua puluh tiga tahun dari ayat pertama sampai ayat terakhir.”



Pada acara buka puasa dan tarawih bersama di rumah Ustadz Hidayat Nurwahid, Ketua MPR RI, hari Selasa kemarin, Ustadz Dr. Surachman menyampaikan tiga hal yang menjadi parameter peningkatan kualitas diri dengan ibadah selama bulan Ramadhan. Tiga hal ini untuk memudahkan diringkas dengan 3-Alif, yaitu:
1. Aqrobu ilaLlaahi  (semakin dekat dengan Allah swt)
2. Abshoru ila nafsihi  (semakin sadar dalam memahami diri sendiri)
3. Anfa'u li kholqiLlaahi  (semakin memberikan manfaat kepada ciptaan Allah swt)

Pesan Ustadz Surachman amat singkat dan padat. Saya akan sampaikan penjabaran secara singkat dalam redaksi berikut ini:

Shiyam dan qiyam, berikut tilawah al Quran, yang intensif akan membawa seorang beriman semakin dekat dengan Allah swt. Kedekatan ini juga tercermin pada pemahaman yang semakin baik terhadap ajaran yang Dia sampaikan. Pada akhirnya ajaran Allah senantiasa menjadi pedoman dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan orang beriman.

Selama berpuasa seorang beriman akan memiliki waktu banyak untuk bermuhasabah dan melakukan kontemplasi. Kesadaran akan segala kekurangan diri akan membawa seorang pada sebuah semangat untuk senantiasa mengoreksi dan memperbaiki dirinya.
Balil insaanu 'alaa nafsihi bashiirah, walau alqaa ma'aadzirah (QS. al-Qiyamah).

Buah dari pengenalan yang semakin baik terhadap Allah swt dan terhadap dirinya adalah dorongan untuk melakukan perbuatan yang membuat Allah ridho (senang). Dan Allah menghendaki orang beriman menjadi pelopor dalam memakmurkan bumi. Orang beriman mesti senantiasa berbuat ishlah terhadap alam. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat kepada sesamanya.

Demikian penjelasan singkat dari 3-Alif peningkatan diri. Semoga sahabat sekalian dapat menjabarkan pesan di atas dengan menggali kembali ayat-ayat al Quran dan sunnah Nabi Muhammad saw. Wallahu a'lamu bish shawwab.

***


Ini catatan tambahan yang ringan, tapi semoga bermakna.
Ustadz Hidayat selaku tuan rumah juga menjadi imam sholat Magrib, Isya dan tarawih. Pada saat akan memulai sholat tarawih, beliau bertanya kepada hadirin, "Mau berapa rakaat, 11 atau 23 rakaat ...?" Beliau tersenyum saat menanyakan ini seraya melanjutkan, "Sekarang kan era demokrasi ..." Hadirin lebih banyak memilih 11 rakaat. Lalu beliau bertanya lagi, "Mau empat rakaat empat rakaat atau dua rakaat dua rakaat ...?" Hadirin kembali terbawa suasana segar menyambut pertanyaan itu dan pilihan kebanyakan adalah empat-empat. Beliau pun memimpin sholat tarawih dengan membaca al-Mulk pada 4 bagian, lalu 'Abasa pada 4 bagian untuk setiap rakaat sholat.


Saat akan memulai sholat witir Ustadz Hidayat bertanya lagi, "Mau tiga langsung atau dua dan satu ...?" Ternyata pilihan hadirin adalah tiga rakaat langsung.

Saya melihat apa yang dilakukan Ustadz Hidayat adalah pembelajaran bagi hadirin untuk memahami adanya khilafiyat (perbedaan pendapat) di tengah-tengah umat Islam pada hal-hal cabang agama Islam ini. Sikap beliau bukan berarti beliau tidak memahami pilihan fikih yang paling tepat. Tentu beliau memahami. Tapi sekali lagi beliau hendak menunjukkan sikap yang semestinya dibawa seorang muslim di tengah-tengah saudara-saudara muslim lain, yaitu sikap at-tasaamuh (toleran). Tentu dalam hal-hal di mana ruang perbedaan memang dimungkinkan syariah. Wallahu a'lam bish shawwab.

Bogor, 14 Ramadhan 1428,
Adi Junjunan Mustafa


Blog EntryKetika Sementara Terputus Menikmati RamadhanSep 20, '07 10:42 PM
for everyone
Mestinya kejadian ini bukan kejadian pertama kali. Tapi entah kenapa kesan yang saya dapatkan sungguh lain. Saya merasakan empati yang mendalam ketika istri bersedih mesti terputus menikmati Ramadhan. Ya, terputus sekitar sepekan. Para ibu MP-ers tentu memahami apa yang sedang terjadi. Ini adalah siklus alami yang terjadi pada perempuan; Datangnya masa haid atau menstruasi.

Saya betul-betul berempati. Seperti kata istri, "Yaa ... padahal ini sedang nikmat-nikmatnya beribadah." Saya langsung membayangkan aktifitasnya sejak dini hari sekitar jam setengah tiga atau jam tiga-an. Bangun dan langsung menghangatkan makanan untuk sahur. Di sela-sela waktu itu ada kesempatan untuk berwudhu, sholat malam atau membaca al Quran. Setelah itu berangkat ke masjid untuk sholat Shubuh dan mendengarkan kuliah shubuh. Siang hari pun diisi dengan tilawah yang lebih banyak daripada hari-hari biasa. Sementara sore hari menyiapkan makanan untuk berbuka. Lalu menjelang Isya, bersama-sama sekeluarga pergi ke masjid untuk sholat Isya, mendengarkan ceramah tarawih dan bersholat tarawih.

Saya merasakan betul kehilangan suasana kenikmatan beribadah yang ia maksudkan. Saya hanya bisa menenangkannya dengan berkata, "Bersabarlah. Tentu kita harus ridho dengan ketentuanNya ..."

"Iya ... tentu kita harus ridho kepadaNya," katanya singkat.

"Allah pasti tetap memberikan kebaikan yang banyak kepadamu," kata saya.

"Doakan ya. Semoga Allah tetap memberikan pahala yang besar kepada saya. Mudah-mudahan dengan pekerjaan menyiapkan makanan seperti ini, Dia tetap memberikan pahala puasa ..."

"Insya Allah ... Dia Maha Pemurah dan Maha Bijaksana."

"Oya, saya pernah dengar, bahwa Allah akan tetap memberikan pahala kebaikan untuk 'amal ibadah yang rutin kita kerjakan, pada saat kita tidak bisa mengerjakannya. Betul, kan?" tanyanya.

"WaLlaahu a'lam untuk kasus haid. Tapi yang saya dengar adalah Dia berikan itu pada kasus mereka yang sakit atau sedang bersafar. Benar, Allah akan tetap memberikan pahala 'amal ibadah yang biasa dilakukan hambaNya pada saat dia sehat dan sedang mukim ... Berdoalah kepada Allah. Dia Maha Mendengar ..."

Itu sekelumit obrolan kami. Pada saat itu Qanita dan Maryam ikut mendengarkan. Qanita, pada usianya yang ke-10 saat ini, sepertinya bisa mengikuti apa yang sedang kami bicarakan. Adapun Maryam yang baru kelas dua nampak masih sulit menghayati hal ini.

Saat saya dan dua putri kami akan pergi ke masjid untuk sholat Isya dan tarawih, saya lihat di kursi ruang tengah ada buku Sirah Nabawiyah tulisan Syekh Shafiyur-Rahman Mubarakfury. Saya tatap mata istri saya dengan satu tatapan tertentu. Ia mengerti dan mengatakan, "Buat bacaan. Biar tetap bisa mengisi waktu dengan bermanfaat." Waktu saya tanya apakah saya matikan laptop yang sedang memutar tilawah juz 30 dari al-Quran, ia bilang, "Biar aja, jangan dimatikan ... Biar tetap bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci ..."

Saya dan anak-anak pun berpamitan. Anak-anak sudah lari duluan bersama teman-temannya yang menjemput. Istri sekali lagi bilang, "Doakan ya di waktu-waktu di masjid nanti ...!" Saya pun mengangguk dan dalam hati berjanji untuk melakukannya.

Saya berjalan sendirian menuju masjid yang berjarak 500 meteran dari rumah. Malam ini memang lain. Ada suasana sepi. Biasanya saya berjalan berdua dengan istri dan mengisi perjalanan ke masjid dengan obrolan-obrolan ringan yang menyegarkan jiwa.

Bogor, 9 Ramadhan 1428,
Adi Junjunan Mustafa

Ru-yatul hilal (tanda "-" untuk menunjukkan huruf hamzah yang dimatikan) atau dikenal dengan sebutan ru-yah adalah proses melihat hilal atau bulan baru (new moon) yang dilakukan dalam penentuan awal bulan. Bagi umat Islam, bagian dari cabang ilmu falaq atau astronomi ini selalu mengemuka di saat akan menentukan awal bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal, ba'da Ramadhan, dan juga pada saat menjelang ibadah haji.

Ru-yah dilakukan pada tanggal 29 pada kalender hijriyah. Untuk itsbat (penentuan) Ramadhan lalu, ru-yah ini dilakukan tanggal 29 Sya'ban *). Nah, pada hari itu TVRI mengadakan acara khusus dengan mengadakan wawancara dengan Mas DR-ing. Khafid, anggota Tim Itsbat Depag dari Bakosurtanal, dan juga meliput laporan ru-yah di beberapa tempat di tanah air, termasuk di stasiun astronomi Bosscha di Lembang, Bandung.

Saya sendiri tidak sempat melihat langsung tayangannya. Mas Khafid meminjami saya VCD tayangan itu yang diterima Mas Khafid dari TVRI. Saya melihat ini sebuah tayangan yang mencerdaskan umat. Mas Khafid menyampaikan permasalahan ru-yah dan hisab (penentuan hilal dengan perhitungan ilmu falaq) secara populer. Dia juga menyampaikan bahwa metoda yang diambil Depag saat ini merupakan paduan dari dua metode besar yang sama-sama kuatnya diyakini umat Islam: hisab dan ru-yah. Ide intinya, hisab menjadi sebuat alat bantu penting, agar ru-yah dapat dilakukan dengan lebih tepat.

Tayangan di TVRI ini, yang terselenggarakan atas kerjasama
Depkominfo, Depag, Bosscha ITB, LPP TVRI dan PT Telkom, juga menunjukkan sebuah  penerapan teknologi komunikasi pada lingkup nasional dalam usaha menyatukan pandangan umat mengenai masalah hilal. Artinya, sebagaimana disebutkan Mas Khafid dan juga Direktur Bosscha DR. Taufik, dengan acara seperti ini secara bertahap penyatuan umat Islam dalam penentuan awal puasa dan juga dua hari rayanya (Idul Fitri dan Idul Adha) dalam dipersatukan.

Pada wawancaranya Mas Khafid menyebutkan bahwa Tim Itsbat Depag berasal dari berbagai unsur dari pemerintah dan juga ormas. Dari pemerintah ada perwakilan dari institusi yang memback-up sisi ilmiah seperti dari Bakosurtanal dan dari LAPAN. Dari ormas Islam Muhammadiyah, NU dan organisasi lain ikut serta. Artinya Tim ini dapat mewakili segenap unsur yang berkepentingan dengan penetapan hilal.

Sebetulnya penentuan hilal bukan masalah yang terbatasi dalam lingkup batas politis negara. Masalah ini bagi umat Islam bisa ditinjau dari batasan geo-politis yang lebih luas, bisa dalam lingkup ASEAN atau bahkan secara global. Jika teknologi komunikasi bisa dioptimalkan pemanfaatannya tidak mustahil satu saat metoda "ru-yah global" dengan teori "free-horizon" dapat diterapkan, sehingga penyatuan penentuan waktu awal bulan bisa diterapkan pada skala yang lebih luas di bola dunia ini.

Masih banyak informasi berharga yang tertayang pada acara ini. Satu catatan penting yang ingin saya sampaikan adalah, DR. Khafid walaupun mewakili sisi "ilmiah" dari masalah ru-yah, nampak sangat memperhatikan dan menghormati sisi fikih. Ini menjadi satu model sinergi bidang keahlian  ilmu kauniyah dan ilmu syariah dalam memecahkan masalah umat.

Bogor, 6 Ramadhan 1428,
Adi Junjunan Mustafa

*) Hitungan satu bulan pada kalender hijriah  berjumlah 29 atau 30 hari. Jadi kalau pada tanggal 29 hilal tidak terlihat, dipastikan besoknya tanggal 30 dan baru esok lusa bulan baru dimulai.

Blog EntryCatatan Keberkahan Ramadhan di KeseharianSep 16, '07 11:23 PM
for everyone
Alhamdulillah umat Islam di tanah air sudah memasuki hari ke-5 Ramadhan 1428. Bulan puasa ini memang penuh keberkahan dari Allah swt. Saya mencatat beberapa keberkahan yang sempat saya amati, sebagai berikut.

1. Pendidikan Intensif bagi Anak-anak

Anak-anak jadi bisa relatif mudah bangun pagi. Mereka bisa ikutan bangun untuk sahur. Walaupun satu anak berbeda dengan anak lain dalam kemudahannya (atau kesulitannya ... hehehe) dibangunkan, tapi mereka bangun untuk makan sahur. Ini merupakan pembiasaan yang baik bagi kehidupan mereka.

Selain itu ada sebuah kegairahan yang berbeda pada mereka untuk pergi ke masjid, terutama untuk bersholat jamaah Shubuh dan 'Isya. Alasannya bisa saja karena teman-temannya pun bersemangat ke masjid. Di sini bertemu fitrah anak yang senang bermain dengan temannya dengan semangat kebersamaan untuk sholat di masjid. Ketika kegiatan mereka dikelola baik di masjid, maka akan membekas kecintaan pada sholat berjamaah dan kepada masjid.

Waktu-waktu pun terasa lebih berarti dalam pendidikan terhadap anak-anak. Suasana Ramadhan memberikan nuansa keagamaan yang lebih kental pada banyak hal. Obrolan di rumah atau di perjalanan banyak menyentuh sisi-sisi akhlak dan keislaman. Sungguh merupakan karunia kondisi yang amat besar bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak sejak dini.

2. Masjid-masjid Ramai Dikunjungi

Subhanallah. Pada bulan Ramadhan, masjid kompleks perumahan saya begitu ramai dikunjungi jamaah umat Islam untuk bersholat dan juga mendengarkan kajian-kajian keislaman. Sampai hari kelima ini untuk sholat Isya, masjid selalu full-house. Untuk sholat Shubuh jamaah memang agak berkurang, tetapi tetap saja masjid hampir penuh dihadiri jamaah sholat.

Selain sholat wajib, masjid juga menyelenggarakan kuliah tarawih dan kuliah shubuh. Pada akhir pekan, kuliah tarawih dilakukan lebih lama dalam bentuk kajian pekanan Ramadhan. Sungguh Ramadhan menjadi bulan pembelajaran umat Islam terhadap agamanya.

3. Lebih Banyak Membaca al-Quran

Umat Islam lebih terpacu untuk membaca dan mengkaji isi al-Quran. Mereka-mereka yang mengikuti program pendidikan Islam intensif (tarbiyyah Islamiyyah) memiliki target-target untuk mengkhatamkan bacaan al-Quran minimal 1 kali dalam sebulan ini. Pada tingkatan tarbiyyah tertentu bacaannya minimal 2 juz/hari atau 2 kali khatam dalam sebulan.

Anak-anak sekolah, terutama yang di pesantren, ternyata memiliki semangat yang lebih besar. Pada kesempatan bertelepon, kami mendapat kabar dari anak kami, bahwa di hari ke-4 puasa, anak-anak kelas 1 SMP (madrasah tsanawiyyah) di pesantren Husnul Khotimah sudah bertilawah sekitar 16 juz, atau rata-rata 4 juz sehari. Beberapa santri malah sudah mengkhatamkan al-Quran. Artinya, kondisi ini seperti mengulang kisah-kisah masa kejayaan Islam, di mana banyak di kalangan umat Islam yang dapat mengkhatamkan al-Quran dalam 3 hari! Walhamdulillah. 

Masyarakat secara umum pun bergairah mengkaji dan membaca al-Quran. Setidaknya dengan sholat sunnah tarawih, masyarakat lebih banyak mendengarkan bacaan al-Quran. Masjid kompleks kami juga menyelenggarakan pelajaran tahsin al-Quran atau memperbaiki bacaan.

Bersemangatnya umat Islam membaca dan mengkaji al-Quran akan menjadi keberkahan yang besar, karena pada al-Quran lah umat ini akan memperoleh bimbingan kehidupan dari Allah Yang Maha Memberi Petunjuk.

4. Meningkatnya Silaturahim dan Persaudaraan Umat Islam

Tak ada keharuan yang lebih besar bagi para penyeru persatuan umat Islam, kecuali menyaksikan umat Islam berbondong-bondong ke masjid dan saling bersilaturahim di sana. Wajah-wajah yang dihiasi senyuman bersalam-salaman saat bertemu dan juga saat selesai mengikuti kuliah keislaman.

Mereka yang hampir tak pernah berjumpa, karena sama-sama diliputi kesibukan urusan duniawi, di bulan ini begitu sering berjumpa di masjid. Ini semua karena karunia Allah swt semata. Di bulan ini hati-hati umat Islam menjadi lembut untuk memenuhi panggilanNya untuk datang ke masjid, rumahNya. Walhamdulillah.

5. Tayangan TV Lebih Terkontrol


Sebetulnya selama Ramadhan keinginan untuk menonton TV menurun drastis. Anggota keluarga merasa sayang menghabiskan waktu dengan menonton. "Lebih baik dipakai baca al-Quran." Begitulah alasannya.

Akan tetapi sesekali TV dinyalakan juga untuk mengisi waktu rehat. Nah, ternyata ada hal-hal yang patut disyukuri ketika melihat tayangan TV. Apapun alasan yang ada di balik dunia entertainment, tayangan di TV relatif lebih baik. Paling tidak siaran-siaran keislaman dominan di bulan Ramadhan ini. Penyiar-penyiar, terutama yang perempuan, lebih sopan dalam berpakaian. Begitu juga para artis tampil lebih menutup aurat di televisi. Sinetron-sinetron bernuansa keagamaan juga sepertinya sengaja disimpan untuk diputar di bulan Ramadhan.

Sekali lagi, meskipun dalam beberapa tayangan terasa kontradiktif dengan suasana khusyu' Ramadhan, secara umum tayangan TV ini relatif melindungi umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa.

***

Itulah beberapa catatan singkat tentang beberapa keberkahan bulan Ramadhan. Semoga Allah swt terus mencurahkan keberkahan dan kebaikanNya di bulan Ramadhan ini kepada umat Islam dan segenap bangsa Indonesia. Aamiin.

Bogor, 5 Ramadhan 1428,
Adi Junjunan Mustafa

Blog Entry"Membunyikan" Ketakwaan dalam KehidupanSep 11, '07 11:28 PM
for everyone
Mengapa harga bahan-bahan makanan menjelang Ramadhan naik? Jawaban dari pertanyaan ini jelas: karena demand akan bahan makanan meningkat! Yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah, apa bagaimana sebenarnya persepsi banyak orang tentang bulan puasa atau bulan Ramadhan?

Ustadz Baran Wirawan, dosen IPB yang juga tenaga ahli Mentan, mengupas masalah di atas dalam perspektif menarik. Semestinya umat Islam menjadikan bulan Ramadhan sebagai sarana peningkatan kecerdasan finansial, kecerdasan sosial dan sekaligus kecerdasan kultural hingga kecerdasan berperadaban*). Semestinya justru pada bulan Ramadhan umat Islam semakin bisa menata belanja konsumtif mereka. Lebih jauh selama Ramadhan kaum muslimin bisa lebih tenang meningkatkan kecerdasan sosial dengan menginfakkan sebagian hartanya bagi mereka yang memerlukan.

Siapa yang meraup keuntungan besar dengan pola hidup konsumtif (dan bukan produktif) umat Islam ini? Ustadz Baran memaparkan dengan penuh keprihatinan bahwa bangsa ini, yang nota bene mayoritasnya umat Islam, masih sangat bergantung pada pasokan import untuk kebutuhan pangan dan sandang.
[Secara jujur dikatakannya bahwa ini semua adalah pekerjaan yang menjadi pekerjaan Departemen Pertanian.] "Kacang kedele, yang Bapak dan Ibu konsumsi dalam bentuk tempe, tahu, kecap dan lain-lain, 60%-nya masih diimport. Gandum dan jagung juga sebagian besar masih diimport ... Luar biasa!" katanya sambil tersenyum penuh kesedihan. "Baju yang kita kenakan, sebagian besar kapasnya juga kita import ...!"  Masih belum selesai beliau melanjutkan, "Setiap tahun 350.000 ekor sapi diimport dari Australia dan Kanada!" Wal hasil sekitar 100 trilyun rupiah  (angka ini catatan saya, mesti divalidasi lagi) dibayarkan orang Indonesia tiap tahunnya untuk makanan dan sandang.

Sementara itu gurita kapitalistik terus merambah sumber-sumber perekonomian rakyat kecil. Para pedagang di desa-desa mulai banyak yang gulung tikar, karena banyak mini-market mulai masuk ke desa-desa. Diantara implikasinya adalah, makin sedikit anak desa yang dapat mengeyam pendidikan tinggi. Masalahnya statistik menyatakan, bahwa anak-anak desa yang dapat bersekolah tinggi adalah dari keluarga pedagang di desa. Kalau sudah bicara pendidikan, maka kita berbicara masalah penyiapan kepemimpinan di masa depan. Sangat mungkin pemimpin dimasa mendatang semakin tidak sensitif dengan permasalahan yang dihadapi rakyat kecil.

Jadi kembali ke pertanyaan, mengapa menjelang Ramadhan (dan juga menjelang lebaran Idul Fitri) harga-harga bahan makanan (dan juga pakaian) naik? Menjawab pertanyaan ini secara mendalam berarti menyatakan perlunya revitaliasi kemanusiaan umat Islam. Jawaban kuncinya adalah pada apakah karakter ketakwaan dapat diraih umat Islam secara individual dan komunal selama dan pasca Ramadhan? Untuk itu diperlukan usaha-usaha untuk "membunyikan" nilai ketakwaan dalam kehidupan.

Diperlukan definisi takwa yang bukan hanya konseptual tapi juga operasional. Ali ra. misalnya pernah mengungkapkan bahwa at-taqwa berarti takut kepada Allah, al-Jaliil, beraktifitas dengan Quran, at-Tanziil, ridho dengan pemberian yang qaliil (sedikit) dan senantiasa bersiap-siap menghadapi yaumir rakhiil (hari akhir).

Definisi di atas menjadi landasan moral yang operasional, yaitu menjadikan detik-detik kita merasakan adanya pengawasan Allah. Inilah yang dilatih oleh umat Islam selama berpuasa di bulan Ramadhan. Selama 12 sampai 14 jam berpuasa, dilanjutkan dengan shalat tarawih dan tilawah Quran. Keesokan harinya di ujung malam telah bersahur dan lalu bersholat jamaah Shubuh. Dan rangkaian aktifitas ini dilakukan setiap hari selama 30 hari! Sungguh latihan selama Ramadhan ini bila dijalani dengan baik, akan membekali kaum muslimin dengan rasa muraqabatullahi, merasa senantiasa diawasi Allah swt.

Beramal dengan Quran mengisyaratkan penerapan sistem yang islami. Dalam tataran praktik ini berarti melakukan transformasi sistem yang buruk ke arah yang lebih baik. Sistem monopoli dalam perdagangan mesti dihapuskan. Praktek-praktek broker atau calo perdagangan juga mesti direduksi ke titik minimal. Pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mesti dilakukan dengan terobosan sistem pendanaan yang baru. Sistem perbankan yang ada jelas tidak dapat diandalkan untuk mengangkat UMKM ini. Ini ditegaskan Muhammad Yunus, peraih nobel ekonomi, saat kunjungannya ke Indonesia. Pendek kata ketakwaan kepada Allah mesti terealisasikan secara nyata dalam kerja-kerja keras menegakkan aturan islami dalam kerja-kerja kenegaraan. Inilah al-'amalu bit tanziil. Dan untuk pelaksanaannya diperlukan para pemimpin yang sungguh-sungguh bertakwa kepada Allah swt.

Kerja-kerja merealisasikan ketakwaan adalah kerja panjang dan mesti dilalui dengan jalan terjal dan mendaki, karenanya para pekerjanya mesti memiliki kesabaran ekstra. Ini diwakili makna takwa "ridho dengan yang sedikit". Begitulah jalan perjuangan, senantiasa disertai berbagai ujian. Dan yang menjadi bahan bakar semangat bagi orang beriman dalam memikul pekerjaan-pekerjaan besar itu adalah dengan mengingat adanya balasan akhirat. Di sana tak ada kezhaliman. Yang ada hanyalah keadilan dari Hakim Yang Mahaadil, Yang Maha Mensyukuri terhadap hamba-hambaNya yang telah berkontribusi kebaikan selama kehidupan di dunia.

Inilah harapan kita kepada Allah swt. Kita berharap Ramadhan ini memberi kekuatan kepada kita untuk "membunyikan" takwa dalam diri kita, dalam keluarga kita dan juga dalam masyarakat dan negara kita ini. Dengan kekuatan massive umat Islam seperti ini, kita pun berharap ada jejak-jejak perubahan sosial yang signifikan sebagai buah dari madrasah Ramadhan yang sebulan ini.

Bogor, 30 Sya'ban 1428 (12 September 2007),
Adi Junjunan Mustafa.

*)  DKM al-Idrisi, Bakosurtanal mengangkat tema "Menjadi Semakin Cerdas dengan Ramadhan". Karena itu dalam acara Tarhib Ramadhan, Ustadz yang diundang mengupas masalah ini.


Blog EntryEmpat Nilai yang Mengiringi RamadhanSep 10, '07 10:40 PM
for everyone
BismiLlaahi  ...

Setiap kali menjelang memasuki Ramadhan saya selalu merenungi empat nilai yang Allah swt sebutkan pada rangkaian "ayat -ayat Ramadhan" pada al-Quran surat al-Baqarah:183-187. Nilai-nilai itu adalah:

1. At-Taqwa (ketakwaan kepada Allah)
2. Al-'Ilm (ilmu pengetahuan)
3. Asy-Syukr (ungkapan terima kasih kepada Allah)
4. Ar-Rusyd (petunjuk kebenaran dari Allah)

Ijinkanlah saya kupas secara singkat empat nilai atau empat pandangan dunia (world view or paradigm) di atas.

Ketakwaan kepada Allah swt menjadi tujuan pelaksanaan ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Ketakwaan ini mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Banyak sekali kebaikan yang menyertai ketakwaan, karena ia merupakan:
- Parameter utama kemuliaan seseorang di sisi Allah swt, inna akramakum 'indaLlaahi atqaakum.
- Kondisi yang membuat seseorang memperoleh furqaan, yaitu kondisi amat alert dalam membedakan kebenaran dan kebatilan.
- Kondisi yang membuat seseorang senantiasa memperoleh jalan keluar dari segala permasalahan kehidupan.
- Kondisi yang membuat seseorang terhindar dari khauf dan hazn (rasa takut dan rasa duka).
- Kondisi  agar diterimanya  'amal kebajikan oleh Allah swt.
- Kondisi untuk memperoleh magfirah dan jannahNya yang seluas langit dan bumi.

Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, ketakwaan adalah :
- rasa takut kepada al-Jaliil (Allah Yang Maha Agung);
- melakukan 'amal perbuatan berlandaskan at-Tanziil (al-Quran);
- ridho dengan pemberianNya yang qaliil (sedikit);
- senantiasa bersiap-siap menghadapi Yaumir Rakhiil (hari Akhirat).

Ketakwaan ini menjadi tujuan utama pensyariatan shaum. Ayat ke-187 bahkan ditutup juga dengan la'allahum yattaquun, yang menjadi penegas bahwa shaum Ramadhan dengan segala 'amaliyyaat shaalihaat di dalamnya akan menghantarkan orang-orang beriman pada derajat ketakwaan yang tinggi.

Ilmu pengetahuan pada ayat ke-184 menyertai frase "dan jika kalian bershaum, maka itu lebih baik bagimu". Ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang memang akan senantiasa menguak kebenaran. Dan bagi seorang mu'min, sejatinya ilmu pengetahuan dengan segenap usaha pencariannya akan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah swt, al-'Aliim, Yang Mata Mengetahui.

- Innamaa yakhsyaLlaaha min 'ibadihi al-'ulamaa!
- Yarfa'iLlaahu al-ladziina aamanuu minkum wa al-ladziina uutul 'ilma darajaat!

Maka patut direnungkan lanjutan pada ayat ke-185, ketika Allah swt mengaitkan waktu diperintahkan shaum ini dengan pensifatan syahrur Ramadhan al-ladzii unzilaa fiihi al-Quraan. Ini menjadi isyarat penting akan pentingnya orang beriman meningkatkan interaksi dengan  al-Quraan dalam bentuk tilawah, tadabbur dan tahfiizh. Dengan 'amaliyaat ini orang beriman akan memperoleh limpahan ilmu pengetahuan dari sisi Allah swt.

Rasa syukur, ungkapan terima kasih yang amat besar dan paling hakiki kepada Allah swt digapai dengan menyelami betapa besar arti hidayah dariNya. Wa li tukabbiraLlaaha 'alaa maa hadakum wa la'alakum tasykuruun. Tak terhitung besarnya nikmat dari Allah swt. Karenanya syukur kepadaNya setara dengan ma'rifah kepadaNya. Penulis Madarijus Saalikiin mengatakan syukur adalah maqam tertinggi seorang hamba di hadapan al-Khaaliq.

Ketika Rasulullah saw ditanya, mengapa beliau pada sholat malam sedemikian lama berdirinya, hingga kaki beliau bengkak, beliau saw menjawab: afalaa akuunu 'abdan syakuuran. Bukankah sepantasnya aku menjadi hamba yang senantiasa bersyukur (kepada Allah)? Semakin tinggi ma'rifah seorang hamba kepada Allah, al-Ma'buud, semakin besar ungkapan rasa syukur yang ia berikan ... Bukankah Allah swt sendiri Maha Mensyukuri atas perbuatan baik hamba-hambaNya. Saat Dia memberikan nikmat yang besar di JannahNya, Dia sampaikan inna haadzaa kana lakum jazaa-an, wa kaana sa'yukum masykuuran. Sesungguhnya ini semua balasan bagi kalian, dan semua amal perbuatan baik kalian disyukuri -diterima dan diakui (Allah)-. (QS al-Insan:22)

Kedekatan dengan Allah swt dalam bentuk 'amaliyaat ibadah akan menjadikan seorang hamba senantiasa mereguk petunjuk kebenaran (ar-Rusyd). Dan demikianlah, Allah itu dekat! Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadaMu, Muhammad, tentang Aku, jawablah "Maka sungguh Aku dekat!" (QS al-Baqarah:186).

Ar-raasyiduun, orang-orang yang mendapat dan mengikuti petunjuk kebenaran, adalah orang-orang yang Allah karuniai kecintaan terhadap keimanan, Allah jadikan keimanan itu indah dalam hati mereka, dan dijadikan Allah hati mereka membenci kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. (QS al-Hujurat:7)

Demikianlah sahabat sekalian uraian yang serba singkat dan pasti banyak kekurangannya. Akan tetapi saya berharap kita semua terus dapat mengelaborasi empat nilai yang disebutkan pada akhir "ayat-ayat Ramadhan" ini.

Akhirul kalaam, semoga kita dapat menggapai empat nilai utama di atas dengan ibadah kita selama bulan Ramadhan. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.

Bogor, 29 Sya'ban 1428 (11 September 2007),
Adi Junjunan Mustafa.

Blog EntryBuatlah Kami MerindukanMu ...Sep 10, '07 12:26 AM
for everyone
Ya Allah buatlah kami merindukanMu
betapa penatnya jiwa ini dengan berbagai urusan dunia
tak habis-habis dan terus berbaris
mengetuk pintu pagi
pintu siang
dan bahkan pintu petang
dan malam ...

Ya Allah tolong kami untuk merindukanMu
jiwa yang lelah mestinya merapat kepadaMu
tapi lemahnya ia, bahkan menjauh dariMu

Ya Allah benarkah ini urusan yang baik bagi kami
jika malah membuat menjauh dariMu?
Ya Allah jika tidak karena bimbinganMu
betapa jauh
langkah-langkah ini dari kebenaran
Ya Allah andaikan bukan karena kemurahanMu
betapa menderitanya jiwa dalam kegersangan yang melelahkan

Ya Allah ampuni dosa kami ...
maafkan atas segala kelemahan diri ini
nikmatMu tiada batas menyelimuti hidup kami
ada di setiap hembusan napas karuniaMu
ada di setiap detak jantung
pada setiap tetes darah yang membawa kekuatan kehidupan

Ya Allah tolong kami untuk merindukanMu
hati yang mestinya tak pernah berhenti bersyukur kepadaMu
bahkan lebih sering berpaling
terbutakan berbagai urusan sesaat
lemahnya ia, bagaimana menolak nikmatMu?
padahal
nikmatMu tiada batas menyelimuti hidup kami
ada di setiap karunia penciptaan
ada di setiap karunia pemeliharaan
pada setiap kepemurahanMu yang tiada batas

Ya Allah di penghujung Sya'ban ini
buatlah kami merindukanMu
demi memasuki Ramadhan yang penuh keberkahan
tolong kami untuk merindukanMu
menata kembali semua urusan dalam rahmatMu
untuk ridhoMu ...

Ya Allah, Engkau Maha Pemurah
tiada kebaikan kecuali dariMu semata
tiada daya dan kekuatan kecuali anugerahMu semata
tiada pujian kecuali milikMu semata

Bogor, 28 Sya'ban 1428 (10 September 2007),
Adi J. Mustafa

Keluarga yang Mengokohkan Ketakwaan kepada Allah

 Oleh: Adi J. Mustafa

AlhamduliLlaah. Pujian dan rasa syukur kepada Allah swt memenuhi lubuk hati kita sebagai orang-orang yang beriman, ketika Dia menghadirkan kembali bulan Ramadhan ke tengah-tengah kehidupan kita. Seruan untuk menjalankan ibadah shaum kembali menggema di mana-mana. Ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkanNya kembali menguat. Kita pun dengan penuh suka cita menghiasi hari-hari kita dengan peningkatan kualitas ruhani dan pensucian jiwa. Kita merasakan kedekatan diri dengan Allah Yang memberitahukan kepada yang bertanya tentangNya, bahwa diriNya amat dekat. Dia akan mengabulkan doa-doa mereka yang berdoa. Dan petunjuk akan Dia limpahkan kepada siapapun yang memenuhi seruan dan panggilanNya serta memenuhi relung hatinya dengan keimanan kepadaNya (QS. 2 - al Baqarah:186).

Inilah seruan agar kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah melalui berbagai amal ibadah selama bulan Ramadhan. Ketakwaan adalah buah dari peribadahan, sebagaimana difirmankanNya:

Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. 2 - al Baqarah:21)

Sebagaimana kita maklumi, peribadahan sendiri di dalam Islam bukan permasalahan ritual semata. Ibadah kepada Allah adalah tugas manusia dalam kehidupannya secara utuh. Demikianlah, kehidupan berkeluarga yang kita lakukan pun berada dalam kerangka ibadah kepadaNya.

Maka pada kesempatan ini, di bulan yang penuh keberkahan ini, marilah kita kembali merenung dan menguatkan ‘azzam untuk mengokohkan kembali aktifitas peribadahan dan sendi-sendi ketakwaan pada bangunan keluarga kita ini.

Kehidupan berkeluarga ini melalui berbagai liku-liku perjalanan. Kesibukan kehidupan dunia tidak jarang membuat hati kita lalai dan terlupa untuk tetap membaca makna dan tujuan hakiki kehidupan secara seksama. Tidak jarang waktu-waktu  kehidupan dilalui dengan keringnya sentuhan ruhani. Kehidupan menjadi rutinitas yang melelahkan. Dan begitulah kita sebagai manusia terkadang terseret pada suasana asing, sehingga kita seperti tidak mengenal diri sendiri.

Ada pula kondisi di mana tuntutan kehidupan dunia memalingkan hati nurani dari nilai-nilai kejujuran. Awalnya adalah panggilan kasih sayang yang fitrahi kepada istri dan anak-anak. Setiap suami pastilah ingin membahagiakan istrinya. Setiap orang tua pastilah menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang sukses. Untuk tujuan ini apapun dilakukan seorang suami dan ayah, hingga terkadang ada rambu-rambu Ilahi yang terlanggar. Pada saat seperti itu seolah istri dan anak-anak menjadi musuh yang menjerumuskan seorang suami atau ayah melanggar aturan-aturan agama. Padahal sejatinya seorang suami atau ayah senantiasa menjaga keluarga agar tidak terjerumus ke dalam kesengsaraan tiada terperi pada adzab api Neraka. (QS. 66 - at Tahrim:6)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 64 - at Taghabun:14)

Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Dia ingin memanggil mereka yang sempat lalai untuk segera kembali kepadaNya. Agar suami sebagai pemimpin keluarga segera menata kembali kehidupan keluarga. Agar keluarga kembali menapaki jalan-jalan kemuliaan.

Nilai-nilai ketakwaanlah yang dapat mengingatkan kita dari kondisi-kondisi kehidupan yang melalaikan, di mana seorang manusia melupakan jati dirinya, tatkala ia menjauh dan melupakan Allah swt. Mari kita simak firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. 59 - al Hasyr:18-19)

Dan marilah kita segarkan kembali bahwa keluarga kita pun dibangun di atas landasan ketakwaan kepada Allah, seperti tersirat pada firmanNya:

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur-rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. 4 - an Nisa:1)

***

AlhamduliLlaah. Kita diberiNya kesempatan memasuki bulan Ramadhan yang memberi kita banyak kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan, sebagaimana disampaikan Allah swt pada ayat yang mewajibkan kita berpuasa di dalamnya (QS. 2 - al Baqarah:183). Lalu apa sajakah nilai-nilai ketakwaan ini?

Ketakwaan tergambar pada ketaatan kepada Allah. Ketakwaan juga amat dekat dengan kesadaran kita untuk melakukan pengendalian diri dari hasrat buruk dan perbuatan dosa (maksiat) kepada Allah. Secara khusus di dalam bulan Ramadhan, kita dan keluarga mematuhi perintahNya untuk berpuasa. Walaupun tak ada seorang pun yang melihat kita, tetap kita tinggalkan makan dan minum di siang hari. Begitu juga hubungan intim dengan istri di siang hari, kita tinggalkan demi memenuhi perintah Allah. Kesemuanya itu kita laksanakan semata karena keimanan kepada Allah, karena kita yakin Dia Maha Melihat perbuatan kita dan karena kita yakin bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan ketaatan kita kepadaNya. Tergiang-ngiang di telinga kita sebuah Hadits Qudsi, ”Semua amal anak Adam (manusia) baginya, kecuali shiyam. Maka sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku membalasnya secara khusus.” (Hadits muttafaqun ‘alaihi)

Sebagai catatan penting, usaha ibu dan ayah dalam membimbing anaknya berlatih berpuasa seraya mengenalkan Allah, Sang Pemberi perintah ibadah ini, akan memperkaya spiritualitas anak dan membangun kekokohan hubungannya dengan Allah sejak dini.

Ketakwaan juga tercermin pada semangat seluruh keluarga untuk mendapatkan petunjuk (hidayah) Allah swt dengan menambah ilmu dan wawasan keislaman. Dan tiada lagi sumber ilmu dan wawasan yang lebih baik daripada Kitab Allah. Bulan Ramadhan ini amat dekat hubungannya dengan Kitab Allah al-Quran, sebab al-Quran diturunkan di bulan ini (QS. 2 - al Baqarah:185). 

Karenanya bersemangatnya keluarga untuk melakukan tilawah dan tadarrus al-Quran menjadi amaliyah utama di bulan Ramadhan. Kita dapat menghidupkan suasana Qurani di rumah dengan mengajar anak-anak membaca al-Quran dan saling mendorong untuk menambah hafalan serta mengkhatamkan bacaan al-Quran. Perginya kita sekeluarga melaksanakan sholat tarawih berjamaah pada hakikatnya adalah mendengarkan dan menyimak bacaan al-Quran dengan utuh dan seksama.

Keseluruhan kegiatan kita yang terkait dengan al-Quran di atas adalah usaha nyata untuk menjadikan al-Quran ini sebagai petunjuk kehidupan. Ini berarti pula menjadi orang-orang berkualifikasi takwa.

Alif laam miim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. 2 - al Baqarah:1-2)

Ketakwaan tergambar pula dalam sikap cinta kasih keluarga kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan (QS. 3 - Ali Imron:133-134). Selama bulan Ramadhan, kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, mulai dari yang sifatnya wajib hingga yang sunnah. Yang wajib adalah pembayaran fidyah, bagi mereka yang tidak sanggup berpuasa, karena sudah tua atau menderita sakit berat yang menahun. Yang sunnah dan terkait erat dengan shaum adalah pemberian makanan untuk berbuka kepada mereka yang menjalankan ibadah shaum. Dan secara umum sedekah di bulan ini amat dianjurkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw yang amat pemurah, semakin dermawan di bulan ini. Kedermawaannya bahkan digambarkan lebih cepat daripada angin yang berhembus.

Pada sikap empati dan kasih sayang yang ditunjukkan secara kolektif ini terdapat kekuatan besar untuk menghindarkan keluarga kita dari sikap kikir dan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan. Sebaliknya sikap empati dan kasih sayang yang dipupuk selama bulan Ramadhan akan mengangkat keluarga kita pada tempat yang mulia dengan digolongkan sebagai komunitas yang melakukan kebajikan (al-abrar). Allah swt menggambarkan model keluarga dermawan ini pada ayat-ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan (al-abrar)  minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (QS. 76 - al Insan:5-11)

Akhirnya ketakwaan adalah cerminan kepekaan jiwa untuk senantiasa menyempurnakan kesucian diri. Ini tergambar dari permohonan ampunan kepada Allah swt atas segala kesalahan dan kekhilafan kita dalam menjalani kehidupan.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (QS. 51 adz Dzariyat:15-18)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. 3 – Ali ‘Imron:135-136)

Diantara kebahagiaan terbesar yang kita damba-dambakan adalah ketika Allah swt mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita. Semogalah melalui ibadah shaum tahun ini kita memperoleh limpahan magfirahNya. ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukannya.” (HR Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Daud)

Inilah kondisi-kondisi yang akan menghantarkan kita pada makna kehidupan hakiki dalam ketakwaan kepada Allah, yaitu manakala kita senantiasa taat kepada Allah, senantiasa mengendalikan diri dari perbuatan dosa, senantiasa berusaha berada dalam naungan hidayahNya, senantiasa menebarkan kasih sayang di tengah-tengah umat manusia dan senantiasa memohon ampunanNya atas segala kesalahan dan kekhilafan.