Adi J. Mustafa - Membaca Kehidupan

Adi Junjunan's posts with tag: rehat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag rehat
Blog EntryHADE (Jilid 2)Apr 15, '08 11:04 PM
for everyone
Seolah meredam ketegangan antara pendukung HADE (Heriyawan-Dede) dan AMAN (Agum-Nu'man)* pada pilkada Jawa Barat, ada kisah HADE jilid 2. HADE jilid 2 adalah kisah Hidayat-Diana (HD) ... -smile-.

Sebagaimana dilansir berbagai media massa (termasuk detik.com yang rajin meliput), Ustadz Hidayat Nurwahid telah melakukan khitbah atau melamar seorang dokter bernama Diana tanggal 14 April kemarin. Ustadz Hidayat, yang pernah menjadi Presiden PKS dan saat ini menjadi Ketua MPR, telah ditinggal wafat istrinya tercinta karena sakit pada bulan Januari lalu. Nampaknya rekan-rekan beliau di PKS dan juga di MPR memperhatikan betul kesendirian beliau. Salah seorang rekan beliau di FPKS, Ustadzah Yoyoh Yusroh, akhirnya menjadi perantara memperkenalkan dokter Diana kepada Ust. Dayat. Begitulah yang terjadi, hingga proses khitbah berlangsung.
Rencananya proses akad nikah akan berlangsung tanggal 10 Mei mendatang.

Ust Dayat sendiri telah berkomunikasi dengan baik kepada empat orang anak beliau sebelum melakukan khitbah. Seorang anak laki-laki beliau yang duduk di SD malah ikut dalam acara tersebut. Perlunya sentuhan seorang ibu dalam pengasuhan anak-anak memang menjadi salah satu pertimbangan penting beliau segera menikah lagi. Pak AM Fatwa, salah seorang Wakil Ketua MPR, sempat berkomentar, Bu Diana yang seorang dokter insya Allah bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anak calon suaminya itu.

Semoga Allah swt membantu Ust Dayat dan dokter Diana untuk membangun keluarga yang diliputi sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin.

Salam,
Adi Junjunan Mustafa.

* Kabar terhangat adalah pada marahnya pendukung AMAN, karena muncul spanduk-spanduk berisi ucapan selamat atas kemenangan HADE. Menurut saya ini adalah kondisi psikologis massa yang wajar terjadi. Sebaiknya pendukung HADE memang menahan diri, jangan membuat panas suasana, sambil terus memantau dan mengawal intensif proses penghitungan KPUD. Cukuplah pendapat para pengamat yang sudah menyampaikan hampir pastinya HADE memenangkan pilgub, karena berbagai lembaga menunjukkan hal itu pada quick-count mereka.

Photo AlbumGunung Ciremai (5 photos)Jan 18, '08 2:36 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Letaknya di Kabupaten Kuningan. Dari Kota Kuningan Ciremai ini letaknya di sebelah Barat.

Saat kami akan mengunjungi anak-anak yang bersekolah di Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Jalaksana, Kuningan, kami sempat mengabadikan pemandangan Gunung Ciremai dari kejauhan.

Kalau dilihat pengambilan foto dari jalan raya di antara Sumedang-Kadipaten, maka Husnul Khotimah ada di balik Gunung Ciremai. Untuk mengambil pemandangan gunung atau bukit kecil tepat berlatar belakang Gunung Ciremai, kami sempat berbalik arah dahulu di jalan raya. Nikmat juga mengabadikan Gunung Ciremai ini. Butuh usaha mencari waktu dan posisi yang tepat.

Mahabesar Allah dengan ciptaanNya yang indah di alam semesta ini. Gunung Ciremai hanyalah satu dari keindahan cintaan Allah swt.

Kami bagi hasil jepretan sederhana kami ini kepada sahabat MP. Kalau meng-kopi dan menayangkan ulang tolong disebutkan sumbernya ya ... *smile*.

Salam,
Adi dan Lia

Blog EntryMemburu Waktu Kebersamaan dengan Anak-anakNov 16, '07 4:20 AM
for everyone
Saya yakin banyak ayah yang mengalami pengalaman seperti saya ini. Pada pekan-pekan sibuk, sangat sedikit waktu untuk bisa bercengkrama dan berkomunikasi dengan anak-anak. Dalam sepekan kadang hanya tersisa dua malam saja di mana kita pulang ke rumah sekitar waktu magrib. Selebihnya entah kita mesti menginap di luar kota atau mesti pulang amat larut, saat anak-anak sudah tidur. Sementara itu kepergian kita ke luar rumah keesokan harinya pun sangat awal, sehingga praktis sangat singkat pertemuan dengan anak-anak.

Alhamdulillah pekan lalu "tersisa" hari Ahad. Qanita (kelas 5) sudah merajuk sejak beberapa hari terakhir. Pasalnya hari Sabtu lalu adalah hari istimewa buatnya. Ibu walikelasnya, Bu Soliha, menikah dan mengundang kami untuk hadir pada walimatul-ursy. Saya sudah sejak beberapa hari sebelumnya apologize kepada Qanita, karena Sabtu ada agenda ke luar kota. Sementara itu istri sakit flu, sehingga tidak bisa keluar rumah. Maka hari Ahad lalu kami "mengqodlo" hadir ke rumah Ibu Guru walikelas Qanita. Sebagai kompensasi, saya pun menjanjikan anak-anak untuk makan siang di luar rumah ...

Ibu Guru, yang tinggal di kawasan Gunung Batu, Bogor, bersama sang suami menyambut kami dengan ramah. Kami pun dapat leluasa berceritera dengan pasangan pengantin baru itu. Malahan kami dapat berta'aruf lebih dekat dengan mereka dan kami bisa tukar pengalaman bagaimana menghadapi masa-masa awal pernikahan. Qanita juga nampak senang bisa langsung mengunjungi rumah Bu Guru, meskipun hampir tak ada obrolan khusus antara murid dan guru pada kunjungan tersebut.

Selesai kunjungan, kami sempatkan makan siang di Botani Square. Tempat makan kami di Kafe Seberang. Sejauh yang kami ketahui, Kafe Seberang ini saja lah yang sudah mendapatkan sertifikasi halal MUI (tolong dikoreksi kalau keliru). Setelah itu kami sempat belanja beberapa keperluan rumah tangga di supermarket. Di sana, kami berjumpa beberapa sahabat yang juga sama-sama belanja.

Qanita masih punya request lain. Dia meminta kami mengantar ke Gramedia. Saya tentu senang saja, sebab memang menyenangkan buat saya bisa lihat-lihat buku baru yang dijajakan. Akhirnya malah saya duluan yang memilih buku untuk dibeli. Buku lama yang sudah saya baca beberapa kali resensinya, tapi ternyata mengasyikan juga untuk dibaca langsung: Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps. Qanita sendiri membeli DVD Operete Bobo. Babumba judulnya, kalau saya enggak keliru.

Alhamdulillah, masih Allah beri kami waktu luang untuk melakukan rehat. Bukan cuma untuk anak-anak saja suasana seperti itu menyenangkan. Bagi saya dan istri juga, suasana kebersamaan seperti itu jadi sebuah refreshing yang menyenangkan.

Bogor, 16 November 2007,
Adi Junjunan Mustafa

Blog EntryKebiasaan Buruk Sebagian Sopir MobilNov 7, '07 3:03 AM
for everyone
Ini catatan yang nampak ringan tentang perilaku para sopir mobil, setidaknya yang saya amati di Bogor dan sekitarnya. Saya bilang nampak ringan, sebab kenyataannya perilaku ini justru menjadi penyebab kemacetan atau keruwetan lalu lintas. Beberapa perilaku malah berpotensi menyebabkan kecelakaan orang lain atau minimal diri sendiri. Silakan sobat MP perhatikan poin-poin ini:

1. Tidak menyisakan ruang kosong pada perempatan jalan.
Contoh kasus adalah ketika pada jalur yang kita lalui ada rel kereta api. Tentu saat kereta api lewat melintasi jalur, kita mesti berhenti. Nah, ketika ada jalan sejajar rel kereta kita llalui, kita tutup lintasan ini. Akibatnya mobil dari jalan yang melintasi jalan kita dari kiri dan kanan ikut tertutup aksesnya.

Semestinya, saat lintasan kita terhenti, kita mesti biarkan jalan yang
melintasi jalur kita kosong. Atau gampangnya: jangan hentikan mobil kita di perempatan jalan!

2. Ketika nampak pejalan kaki akan menyeberang, malah membunyikan klakson.
Ini sering terjadi, bahkan ketika penyeberang akan melintas pada zebra-cross! Kasihan pejalan kaki. Mereka benar-benar tidak mendapat perhatian yang pantas dari para sopir. Mau nyeberang malah diklakson. Seolah si sopir berteriak, "Minggir, gua mau lewat!"

Bagus juga ketika di Kabupaten Nunukan, Kaltim, saya temukan pada lokasi zebra-cross tertulis secara ringkas peraturan lalu lintas yang menyuruh sopir memprioritaskan pejalan kaki yang akan menyeberang. Bahkan di peraturan itu tertulis apa sanksi bagi sopir yang tidak mematuhi aturan ini. Daerah lain mestinya bisa meniru hal ini sebagai bentuk edukasi lapangan buat para sopir.

3. Di kompleks perumahan menjalankan mobil dengan kencang.
Semestinya ketika sopir masuk kawasan perkotaan kecepatan maksimal adalah 40 km/jam. Ketika masuk kompleks perumahan (bukan cuma kompleks perumahan militer), mungkin sekitar 30 km/jam. Kenyataannya masih banyak mobil yang "ngebut" sampai 60 km/jam di kompleks perumahan.

Yang lebih gawat, kompleks perumahan dipakai untuk belajar nyopir ... Maka kejadianlah di kompleks rumah saya, seorang ibu pembantu rumah tangga tertabrak mobil yang disopiri orang yang sedang belajar!

Saya kadang agak kesal kalau sebuah kompleks banyak "polisi tidur"-nya.  Apalagi polisi-polisi tidur ini sadis bentuknya. Terasa bener "gejlug"-nya ke ban mobil. Belakangan saya mulai bisa memaklumi, bahwa bisa jadi orang di kompleks itu udah lebih kesel sama sopir yang tidak beradab, dengan ngebut di kompleks.

4. Pada jalan macet, hobi bikin jalur baru.
Ini penyakit yang benar-benar akut. Yang pasti nyerobot jalan dan bikin jalan baru (seseleket kalau kata orang Sunda mah) adalah penyebab terjadinya bottle-neck alias leher-botol, titik tempat kemacetan terjadi.

Saking enggak tahan dengan kelakukan sopir yang sering main serobot, saya sengaja pernah enggak ngasih jalan sebuah mobil, sampai si mobil itu mesti minggir ke kanan, karena ternyata jalur dari arah berlawanan mulai terisi oleh mobil lagi. Tentu tindakan saya seperti ini tidak nyaman dan buat kita juga berbahaya (jangan diikuti ya sobat MP ... hehehe).

Coba setiap sopir bersabar pada jalurnya. Kalau jalan itu berjalur satu, ya tetaplah di satu jalur itu. Kalau dua, tetaplah pada dua jalur saja. Kalau begini, tentu arus lalu lintas akan lebih lancar.

5. Tidak memberi jalan pada mobil yang baru masuk high-way.
Aturannya adalah, ketika ada mobil baru masuk lintasan high-way (jalan bebas hambatan atau jalan tol), maka mobil yang datang dari belakang mesti pindah satu jalur ke kanan. Jika jalur kanan padat, maka mobil dari arah belakang ini mesti memperlambat lajunya, untuk memberi kesempatan mobil yang baru masuk jalan tol itu memasuki jalurnya.

Saya pernah alami, ketika akan masuk jalur tol (sudah dengan kecepatan lumayan, sekitar 70 km/jam, dan sudah ngasih lampu sen), eh malah dikasih lampu dim sama mobil dari belakang. Saya cuma bisa senyum aja di lampuin begitu. Lah, saya mesti jalan ke mana lagi, wong jalur lintasan persiapan masuk sudah hampir habis!

6. Begitu jalur agak macet, masuk ke bahu jalan.
Ini masih kejadian di jalan tol.  Sobat MP yang sering melintasi jalan tol Jkt-Cikampek terutama, pasti sering melihat mobil-mobil yang nyeruduk ke bahu jalan, kalau jalur cepat (paling kanan) mulai agak melambat.

Saya mengecam keras perilaku sopir seperti itu. Teman saya ada yang bilang, "Ah, itu kan karena Pak Adi baru datang lagi ke Indonesia ... Nanti juga ikutan seperti itu!"
Alhamdulillah, sampai sekarang saya tetap anti masuk ke bahu jalan, bagaimana pun keadaannya. Hanya saja pada ruas yang sudah berjalur 4, sesekali memang kita perlu menyusul dari jalur yang lebih kiri (tapi bukan bahu jalan!). Ini disebabkan ada sopir-sopir yang berjalan lambat, tapi ada di jalur sebelah kanan.

6. Senang nyorot dengan lampu jauh.
Saya agak heran juga, belakangan ini kok sering menemui mobil (rata-rata mobil bagus) yang seneng nyorot dengan lampu jauh di malam hari. Ketika kita berpapasan, maka betul-betul kita merasa silau. Ini jelas berbahaya, sebab visibility kita terganggu dengan sorotan lampu mobil dari arah berlawanan ini.

Ketika sebuah mobil menyorotkan lampu jauh ada di belakang mobil kita, kita pun akan merasa terganggu, sebab sorotan lampu ini terlihat pada kaca spion dalam mobil kita.

Saya menduga penyebabnya adalah, karena para sopir ini baru jadi sopir (nembak pula SIM-nya kemungkinan). Mereka belum biasa jalan malam, sehingga mesti selalu menyorotkan lampu jauhnya. Attitude mengemudi mereka bener-bener jongkok! Ketika saya beri isyarat dengan memberikan lampu dim, mereka tetep aja menyorotkan lampu jauhnya. Untuk kasus ini  para pengemudi truk atau bis yang rata-rata lebih mengerti. Mereka  menurunkan lampunya ke lampu dekat ketika saya beri peringatan dengan lampu dim.

7. Enggak sabar pengen nyusul di jalan tol.
Ini juga kelakuan banyak sopir dengan mobil bagus di jalan tol. Mereka betul-betul enggak bisa bersabar untuk segera nyusul. Padahal mereka (mestinya) tahu, mobil di depan mereka memang mesti masuk jalur cepat untuk menyusul kendaraan lain yang memang lambat jalannya.

Ketidaksabaran mereka ini nampak dengan lampu sen arah kanan yang terus berkedip-kedip. Lebih parah lagi adalah dengan menyorotkan lampu dim berkali-kali. Sungguh kelakuan yang tidak sabaran dan terkesan angkuh.

Itu lah sobat MP beberapa perilaku pada sopir yang buruk yang sering ditemukan di keseharian. Patut dicatat bahwa yang berperilaku seperti itu bukan hanya sopir angkot, tapi juga mobil-mobil bagus dan mahal. Yang jelas contoh-contoh perilaku jelek di jalan tol itu rata-rata dilakukan sopir mobil bagus.

Saya lantas teringat ungkapan "budaya berlalu lintas cermin budaya bangsa". Wah wah ... jadi bangsa kita (attention: yang berperilaku seperti sopir sambleng itu) memang masih mesti banyak membenahi budayanya yang:
- enggak sabaran,
- maen serobot,
- pengen menang sendiri,
- meremehkan orang lain,
- enggak peduli keselamatan orang lain,
- enggak taat aturan,
- arogan
- dll

Moga-moga catatan ini jadi bahan renungan buat kita semua. Semoga kita bisa jadi pelopor kebaikan di jalan raya ... Sabar-sabar wahai para sopir! *smile*

Bogor, 7 November 2007.
Salam,
Adi Junjunan Mustafa

Blog EntryKisah Ikan Galak, Kutu Loncat dan Anak ElangSep 28, '07 5:06 AM
for everyone
1.  Kisah Ikan Galak
Ada seekor ikan yang terkenal galak. Ikan ini selalu menyerang ikan lain dan melukainya. Kemudian diadakan suatu eksperimen. Ikan ini ditempatkan di sebuah aquarium dengan beberapa ikan lain. Yang agak berbeda, ikan ini ditempatkan di satu sisi aquarium sementara ikan-ikan lain ditempatkan pada bagian lain. Dua bagian itu disekat dengan kaca jernih.

Ikan galak ini begitu melihat ikan lain agak mendekat langsung menyerang, tapi tentu saja ikan galak ini membentur kaca. Beberapa saat kemudian ada ikan lain agak mendekat. Ikan galak ini kembali menyerang dan kembali ia membentur kaca. Begitulah pada hari itu ikan galak beberapa kali membentur kaca.

Setelah berhari-hari, kaca penyekat itu dibuka. Dan apa yang terjadi? Ikan galak itu tak lagi menyerang ikan lain yang ada di aquarium itu!

2. Kisah Kutu Loncat
Ada sejenis kutu yang bisa meloncat dengan ketinggian 50 kali tinggi badannya. Lalu dilakukanlah eksperimen. Kutu ini ditempatkan pada kotak korek api selama tiga hari berturut-turut.

Setelah tiga hari, kutu ini dikeluarkan dari kotak korek api itu. Apa yang terjadi? Ternyata kutu tadi tidak lagi meloncat dengan tinggi!

3. Kisah Seekor Elang
Syahdan ada sebutir telur elang yang karena satu dan lain hal terkumpul dengan telur-telur ayam yang sedang dierami induk ayam. Telur elang pun kemudian ikut menetas di lingkungan anak-anak ayam. Ia dibesarkan oleh induk ayam seperti anak-anaknya yang lain. Begitulah kejadiannya, si anak elang ini tumbuh makin besar, akan tetapi perilakunya persis seperti anak-anak ayam.

Pada satu hari si anak elang kagum melihat ada seekor elang sedang terbang dengan gagahnya di angkasa. Anak elang ini bertanya kepada induk ayam, "Apakah itu wahai Induk?" Induk ayam menjawab, "Itulah yang disebut burung elang." Si anak elang itu bergumam, "Gagah sekali elang itu. Andaikan aku ini anak elang ..."

***

Sahabat sekalian, kisah-kisah di atas adalah bagian dari obrolan saya dengan beberapa jamaah Masjid al-Idrisi, Bakosurtanal, selepas sholat Zhuhur. Kami sedang membicarakan mengapa berbagai aturan yang baik sangat susah diimplementasikan di tanah air. Mengapa banyak orang terbiasa dengan sikap dan perbuatan buruk, dalam
praktek-praktek bisnis dan perdagangan, di jalanan, di kantor, atau bahkan di rumah sendiri?

Diantara kesimpulan kami adalah, kebanyakan orang Indonesia tumbuh dalam kultur di mana mereka sudah hilang kepercayaan pada kebaikan dan kebenaran. Karenanya banyak orang sudah apatis dengan usaha-usaha perbaikan di tengah masyarakat.

Sekarang siapakah orang-orang yang siap bekerja keras untuk mengingatkan si anak elang tadi, bahwa ia sebenarnya bisa terbang tinggi? Siapakah orang-orang yang mengingatkan kutu loncat untuk kembali meloncat setinggi-tingginya? Dan siapakah yang mau mengingatkan ikan tadi untuk tidak loyo dan kembali kuat? Tentu kekuatan yang diarahkan untuk kebaikan ...

Bogor, 28 September 2007,
Adi Junjunan Mustafa

Blog EntryCatatan dari Seminar "Mendidik dengan Cinta"Sep 23, '07 11:55 PM
for everyone

Hari Sabtu lalu, 22 September 2007, saya, bibi saya (adik mamah), istri dan anak-anak pergi ke Masjid at-Tin (dekat Taman Mini Indonesia Indah) untuk mengikuti acara seminar keluarga yang diadakan Komunitas Rumah Cinta (KRC). Mendidik dengan Cinta, demikian temanya. Ini sudah seminar ke-5 dengan tema yang sama.

KRC sendiri menurut cerita Bang Gim, salah seorang pengurusnya, didirikan menyambut antusias para pembaca buku "Mendidik dengan Cinta" yang ditulis Ibu Irawati Istadi. Para pembaca buku ini berhasil dihimpun menjadi sebuah komunitas: Komunitas Rumah Cinta. Sebuah modus silaturahim yang menarik, karena terbangun dari aktifitas yang baik, yaitu menulis dan membaca.

Acara seminar ke-5 lalu menghadirkan dua pembicara,  Bu Sitaresmi dan Teh Ninih. Moderator acaranya Bu Irawati Istadi. Bu Sita menyampaikan materi yang sangat banyak points-nya. Yang paling berkesan buat saya adalah pemaparan problematika yang dialami anak-anak di era kontemporer. Mereka banyak mengalami distorsi dalam proses pertumbuhannya. Bu Sita misalnya mengangkat sebuah studi yang menunjukkan betapa imajinasi yang mengarah pada hubungan seks sudah ada pada banyak anak-anak kelas 4 sampai kelas 6 SD. Rupanya pengaruh media elektronik dengan VCD, hand phone, televisi dll sudah banyak merusak akal dan pikiran anak-anak ini. Tips menciptakan keluarga penuh berkah, terutama di bulan Ramadhan pun disampaikan. Intinya momen Ramadhan ini mesti dimanfaatkan untuk dekat dengan akan-anak dan membuat mereka dekat dengan Allah swt.

Berikutnya Teh Ninih mendapat giliran berbicara. Rupanya masalah poligami suami Teh Ninih, Aa Gym, tetap menjadi daya tarik tersendiri buat peserta yang hadir. Teh Ninih mengingatkan agar ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir memenuhi ruangan seminar meluruskan niat; Datang hanya karena Allah dan bukan karena ingin ketemu istri pertama Aa Gym ... Mukadimah ini membuat hadirin tersenyum dan tertawa segar.

Teh Ninih menyampaikan pesan yang dirangkum dalam 3-T: Taubat, Taat dan Tawakkal. Ia mengajak hadirin untuk bertaubat dalam bentuk evaluasi total dalam kehidupan rumah tangga. Masing-masing anggota keluarga hendaknya berlapang dada mengakui kesalahan selama ini dan bertekad untuk memperbaikinya. Kemudian seluruh anggota keluarga hendaknya saling menguatkan untuk semakin meningkatkan ketaatan kepada Allah swt. Rajin membaca al-Quran, berderma dll khususnya di bulan puasa ini. Dan akhirnya seluruh anggota keluarga senantiasa bertawakkal kepada Allah swt, karena dengan tawakkal inilah hati menjadi tenteram. Kita tidak lagi menyandarkan permasalahan kepada diri, dan ini sering membuat diri sakit dan berat. Kita sandarkan segala urusan kepada Allah Yang Maha Berkuasa.

Untuk forum pada acara seminar lalu, pesan-pesan Teh Ninih yang singkat, sederhana dan praktis saya rasakan lebih mengena pada peserta seminar.

***

Acara seminar ini mendapat dukungan cukup besar dari berbagai sponsor. Hadirin juga nampak antusias mengikuti sesi demi sesi acara, diantaranya pemberian santunan dan beasiswa kepada anak-anak berprestasi dari keluarga yang kurang mampu secara finansial. Acara juga dihibur grup rebana anak-anak yang mengiringi syair-syair sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Sementara itu di bagian lain ruang seminar diselenggarakan bazar buku-buku keislaman, produk boneka arrosa (boneka cantik berpakaian muslimah) dan produk-produk lain.

Kami sekeluarga juga sempat menikmati keindahan Masjid at-Tin di lantai atas. Semoga kebaikanlah yang Allah curahkan kepada mereka yang memakmurkan masjid ini.

Sebagai catatan akhir, kami ucapkan jazakumullahu khairan kepada Bang Gim yang sudah memperkenalkan KRC ini. Semoga KRC terus sukses mengemban amanah yang amat penting, yaitu masalah pendidikan anak. Saya kutip slogan KRC "Rumahku rumah cinta. Kubangun dunia dengan cinta". Sebuah slogan yang indah untuk menjadi visi rumah-rumah kita.

Bogor, 24 September 2007,
Adi Junjunan Mustafa

Untuk sahabat yang ingin mengenal lebih jauh tentang KRC, silakan klik situs ini:
http://komunitasrumahcinta.org/index.php


Blog EntryPerayaan 17 Agustus, Ponsel dan RokokAug 20, '07 11:58 PM
for everyone
Ada banyak cara untuk membangun antusias rakyat dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-62, tanggal 17 Agustus 2007 lalu. Di Ciamis beberapa perusahaan telepon seluler (ponsel) berlomba memberikan sumbangan kepada masyarakat untuk perayaan 17-an. Di balik sumbangan ini saya lihat ada dua motivasi, pertama pemanfaatan momentum hari kemerdekaan yang pasti ramai dirayakan dan kedua sebagai ucapan terima kasih perusahaan kepada konsumen. Masyarakat sudah cukup berterima kasih dengan sumbangan yang tidak seberapa besar itu (dibandingkan keuntungan perusahaan). Mereka lumayan terhibur selama akhir pekan kemarin dengan beberapa permainan dan juga sound system yang dipakai untuk melantunkan lagu-lagu hiburan.

Sementara itu perusahaan-perusahaan rokok pun berlomba-lomba memanfaatkan momentum hari kemerdekaan untuk mendanai acara konser musik. Tentu saja perspektif promosi tak bisa dilepaskan dari acara-acara ini. Wal hasil, masyarakat terhibur di hari perayaan kemerdekaan RI.

Kita memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang rela mengucurkan dana sosial untuk menghibur masyarakat. Di tengah berbagai himpitan ekonomi, mereka memang butuh hiburan. Pemanfaatan momentum ini setidaknya menunjukkan rasa sosial perusahaan.

Di balik itu, tetap saja saya mencatat ada ironi yang tercermin di balik sponsorship perusahaan ponsel dan rokok itu. Saya menduga dua jenis usaha ini memang termasuk yang terus mendapatkan keuntungan saat ini. Perusahaan pertama menjual produk yang menjadi semacam identitas kemajuan. Perang murah-murahan ongkos jasa komunikasi menggunakan ponsel terus merebak. Produk-produk terbaru ponsel juga terus mengintegrasikan berbagai fasilitas pada layanan mereka, mulai kamera, musik, sarana navigasi, internet dan lain-lain.

Sejatinya berbagai kecanggihan ponsel dan segala fasilitasnya akan membuat bangsa ini makin produktif. Kenyataan yang terjadi, pemanfaatan produktif ini barangkali diperoleh segelintir orang saja. Mayoritas pengguna menggunakan ponsel ini sebatas amusement. Dalam beberapa kasus yang terjadi malahan penyalahgunaan ponsel. Maraknya peredaran gambar porno dan perselingkuhan lewat SMS adalah contoh-contoh nyata.

Di sebuah lapangan terbang kecil di kawasan Kalimantan, saya mendengar musik yang diputar keras-keras dari ponsel. Bukan hanya dari sebuah ponsel, tapi dari beberapa ponsel sekaligus. Saya tersenyum menyaksikan kejadian itu. Di Jepang, anak-anak muda kerajingan mendengarkan musik karena stress akibat ritme kehidupan yang demikian keras dan padat. Ternyata di Indonesia bukan hanya anak muda yang senang dengan musik pada ponsel, orang-orang setengah baya pun secara massal menggemarinya. Bukan didengarkan lewat ear-phone tapi diputar keras-keras pula.

Tapi itulah trend-nya. Perusahaan ponsel pun menjadi sponsor-sponsor hiburan di hari perayaan kemerdekaan.

Yang kedua perusahaan rokok. Siapapun pasti menyaksikan dalam keseharian betapa mudahnya menemukan perokok. Buat saya yang sedih adalah apabila mendapatkan orang-orang yang hidupnya pas-pasan, akan tetapi menghabiskan tidak sedikit uang untuk merokok! Kalau melihat mereka yang mapan secara ekonomi merokok, paling-paling saya menggumam, di mana rasionalitas mereka. Dalam setiap iklan dituliskan merokok itu menyebabkan bla bla bla ... termasuk sakit kanker, jantung dll. Toch mereka yang perokok tak menghentikan kebiasaaan itu. Nah, bagi mereka yang ekonominya pas-pasan, apalagi yang bisa kita katakan selain, bahwa mereka memang terjerat dalam kebodohan. Saya yakin konsumsi rokok mereka itu akan sangat bermanfaat bila dialihkan untuk meningkatkan belanja makanan keluarga atau fasilitas pendidikan anak-anak.

Itulah yang terjadi. Saya sering tersenyum geli menyaksikan paradoks ini. Kita senang dengan tayangan olah raga, tapi di balik itu perusahaan-perusahaan rokok lah yang menjadi sponsor utama. Pada perayaan HUT RI kali ini pun, ribuan orang senang dengan hiburan para artis yang manyanyi dan menari. Lagu-lagu yang dibawakan pun didominasi lagu-lagu yang membangkitkan semangat perjuangan. Tapi di balik itu, terbayang jutaan orang yang menjadi pensponsor sejati dengan bertahun-tahun merusak paru-paru mereka dengan racun nikotin!

Tapi itulah kenyataannya. Kita merayakan kemerdekaan di tengah berbagai paradoks kehidupan bangsa yang telah 62 tahun merdeka. Rakyat ini masih harus rela merayakan kemerdekaannya di tengah berbagai kesulitan kehidupan. Hiburan di akhir pekan kemarin lumayan membuat mereka sejenak melupakan kesulitan hidup ...

***

Alhamdulillah masyarakat masih bersemangat mengenang kemerdekaan. Tidak sedikit pula yang merayakan kejadian penting ini dengan swadaya. Perayaan ini akan menjadi modal sosial penting untuk memelihara kesadaran berbangsa dan bernegara. Berkumpulnya warga masyarakat, terutama yang hidup di perkotaan, dalam keceriaan dan kebersamaan sungguh merupakan sesuatu yang amat mahal.

Semogalah perayaan dan peringatan ini memberikan bekas dalam benak kita semua. Bahwa kemerdekaan ini adalah atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Bahwa kemerdekaan ini berarti kesempatan bagi kita untuk membangun bangsa yang kuat, yang cerdas dan sehat ...

Bogor, 21 Agustus 2007,
Adi Junjunan Mustafa

Blog EntryMemperpanjang SIM, Serem Enggak Sih?Jun 28, '07 5:00 AM
for everyone

Bertepatan dengan hari ultah SIM-A saya habis masa berlakunya. Saya datang ke kantor polres tempat saya tinggal.  Untuk pengurusan perpanjangan SIM ini saya membawa SIM lama dan KTP (pada kasus saya surat keterangan dari kelurahan, sebab KTP masih sedang diurus perpanjangannya juga).

Untuk pengurusan ini saran teman-teman terbagi dua jenis:
1.  Ambil jalan pintas dengan membayar pada "calo" orang dalam kantor polres;
2. Ikuti prosedur "normal".

Teman-teman yang memberi saran pertama lebih banyak jumlahnya daripada cara kedua. Saya sendiri lebih suka mengikuti cara kedua. Alasannya, pertama, karena saya ingin tahu serunya mengurus ini dengan "normal". Kedua, saya sangat ingin meyakinkan diri sendiri untuk menghilangkan kesan "serem" polisi. Terkait alasan kedua ini, terus terang saya terobsesi dengan kesan ramah pada polisi yang ada di Jepang. Orang di Jepang biasa datang ke koban atau kantor polisi untuk meminta bantuan kalau kesulitan, misalnya ketika mencari sebuah alamat di tempat yang baru didatangi.

***

Saya tiba di kantor polisi sekitar jam 9:00 pagi. Sengaja saya pilih waktu pagi supaya urusannya bisa diselesaikan cepat dan bisa lebih awal ke kantor (so, saya pakai seragam kantor saat itu). Sejak dari meja penerima tamu di dekat gerbang masuk, saya sudah membaca "tawaran" pengurusan SIM "cara cepat", tapi saya bilang saya akan urus sendiri aja.

Petugas di loket awal memberi tahu bahwa saya mesti membawa fotokopi SIM lama dan KTP ke petugas kesehatan. Di ruang kesehatan saya "tidak dicek". Petugas cuma tanya tinggi dan berat badan saya. Setelah selesai dia meminta saya bayar Rp. 10.000,- Sebelum keluar ruang, petugas tanya ke saya apakah mau di urus sendiri atau "tinggal duduk aja". Sambil tersenyuum saya jawab, "Saya urus saja, Pak. Waktu saya luang kok!"

Setelah itu saya datang ke petugas penerima uang administras. Petugas meminta uang sebanyak Rp. 150.000,-. Saya pernah dengar dari teman saya yang mengurus SIM secara "normal" ongkosnya memang Rp. 150.000,-. Jadi saya bayar uang sebesar itu. Yang terlupa adalah, saya enggak minta tanda terima atau kuitansi. Petugas mempersilakan saya tunggu di ruang Uji Teori.

Saya duduk di ruang Uji Teori. Ternyata semestinya saya duduk di luar. Tapi kepalang tanggung saya tetap duduk di dalam. Saya sempat menyaksikan beberapa orang masuk membawa berkas-berkas map ke petugas di dalam ruang itu. Saya juga menyaksikan seorang perempuan yang mendiktekan nama-nama orang dengan data-datanya. Selama waktu menunggu saya baca dokumen kantor yang memang harus saya periksa.

Petugas memanggil saya dan menyerahkan map. Saya pun ke depan dan mengisi daftar hadir. Lalu petugas mempersilakan saya mengisi form isian. Sambil mengisi form isian, yang datanya tak lebih dari data SIM dan data dasar kependudukan, saya sempat membuka isi map. Ternyata salah satu isinya adalah kuitansi bank. Di situ tertera tanda terima uang untuk pembuatan atau perpanjangan SIM. Pembuatan SIM ongkosnya Rp. 75.000,- dan perpanjangan Rp. 60.000,-. Duh ... saya baru tahu ada "mark up" dari Rp. 60.000 jadi Rp. 150.000 setelah baca kuitansi itu. Tapi saya enggak punya tanda pembayaran yang Rp. 150.000!

Seusai mengisi formulir, saya lihat seorang petugas membubuhkan tanda "LULUS" pada selembar kertas ujian, yang tidak saya lakukan! Pada map juga diberi cap LULUS dan tanda tangan petugas. Saya senyum-senyum saja dalam hati. Buat saya yang pernah mengalami ujian teori dan praktek mendapatkan SIM di Jepang, sebetulnya tak apa kalau memang mesti ada ujian. Akan tetapi pengalaman saya di Jepang, untuk perpanjangan SIM memang tak ada lagi ujian teori dan praktek. Yang ada adalah cek mata (penglihatan) dan difoto.

Saya kemudian masuk ke ruang sidik jari. Di sana petugas membantu menyidikkan jempol tangan. Kayak ke anak kecil aja sih perlakuannya. Padahal kita tentu bisa sendiri menyidik jari ini. Petugas bilang saya mesti ke belakang. Di belakang meja ada petugas yang membuka map (saya lupa dia ngasih paraf atau enggak). Yang jelas dia bilang, "Untuk sidik jari perlu bayar sepuluh ribu, Pak!"

Saya pun akhirnya nunggu di depan ruang foto. BTW, untuk mengurus SIM "cara pintas" ada kalimat yang biasa dipakai orang yaitu "saya mau difoto". Artinya kita memberi uang sebanyak Rp. 250.000 atau lebih dan kita tinggal "duduk manis" menunggu difoto! *smile*. Untuk kasus saya, saya sudah jalani proses sampai difoto secara "normal".

Waktu menunjukkan pukul 10:00. Agak lama juga saya menunggu dipanggil untuk difoto. Tapi ... kenapa berkali-kali ada kelompok-kelompok orang dipanggil difoto terlebih dahulu??! Saya menduga, bisa jadi mereka udah mengurus sejak kemarin sore. Saya pun ngobrol dengan sesama penunggu lain. Sebagiannya mereka yang sama-sama di ruang Uji Teori pagi tadi.

Makin banyak yang dipanggil, saya makin enggak sabar. Akhirnya saya masuk ke ruangan. Beberapa petugas di dalam melihat saya dengan sorot mata bertanya-tanya. Salah seorangnya berkata, "Yang masuk hanya yang dipanggil!"

"Saya cuma mau bertanya, Pak ...," kata saya. Saya melihat ada sampai lima atau enam orang yang berada di ruang itu.

"Yang masuk hanya yang dipanggil saja!" kata petugas itu lagi. Dari tempatnya duduk saya tahu petugas ini bukan yang memotret atau menuliskan data untuk SIM.

"Pak ... saya tadi pagi termasuk orang yang antri paling pagi di ruang Uji Teori dengan beberapa orang lain. Tapi kenapa kok yang difoto banyak orang-orang yang saya tidak pernah lihat ada di ruang Uji Teori?" tanya saya dengan tenang. "Atau apakah mereka sudah mengurus sejak kemarin?"

"Iya, ada yang sejak kemarin ...," kata salah seorang mereka.

Petugas yang mengetik data SIM berkata dengan tenang, "Siapa nama Bapak?"

"Adi Junjunan, Pak."

Dia membuka map-map yang menumpuk di sampingnya. "Mohon bersabar, Pak. Map Bapak nomor 37. Saya sekarang masih mengetik nomor 33."

Mendengar jawaban yang baik itu saya pun berkata, "Oke Pak, kalau begitu saya tunggu lagi di luar." Saya memang tidak mau mempermasalahkan lebih panjang lagi dengan urusan "percaloan untuk difoto" ini. Saat keluar saya lihat ada seorang perempuan muda yang masuk ke ruang foto dengan ditemani seorang "calo".

Akhirnya pada pemanggilan berikutnya saya pun dipanggil untuk diambil sidik jari digital dan foto (nah lho ... kalau ada sidik jari digital, kenapa juga ada pengambilan sidik jari manual ... hehehe).

Setelah menunggu di luar, sekitar jam 11:00 SIM baru saya pun jadi. Not bad lah, dua jam menunggu saat mengurus perpanjangan SIM ini.

***

Saya melihat pada cara-cara percaloan dalam pelayanan publik ini ada budaya yang sudah akut "dinikmati" banyak pihak. Pertama, tentu petugas yang melayani. Mereka akan mendapatkan "margin" keuntungan lebih besar dengan praktek percaloan. Entah sampai level mana yang menikmati hasil percaloan ini. Bukan cuma dalam masalah pengurusan SIM. Dari pengalaman dan pengamatan, saya mencatat percaloan luar biasa pada pemberian "exit permit" bagi pegawai negeri yang akan berangkat ke luar negeri di kantor Deplu, Pejambon.

Alasan kedua ada pada pihak masyarakat. Masyarakat ini nampaknya sudah "takut" duluan dengan urusan yang njelimet kalau mereka mesti mengurus secara prosedural, yaitu sesuai aturan yang TERTERA, termasuk dalam hal pembayaran. Walhasil, di tengah suasana takut, para calo justru merajalela. Dan para calo ini memang sudah berkolusi kuat dengan petugas pelayanan publik. Sementara itu para bos bisa jadi menutup mata dengan praktek-praktek seperti ini, sebab mereka pun bisa jadi kebagian uangnya.

***

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melakukan blaming kepada siapapun. Tulisan ini sekedar bahan renungan bersama buat bangsa Indonesia. Sungguh dengan mentalitas dan praktek-praktek percaloan pada pelayanan publik, bangsa kita hanya menunjukkan kerendahan dalam adab. Dengan kata lain cara-cara seperti ini menunjukkan bangsa kita belum beradab mulia.

Apa yang saya kisahkan hanyalah potongan kecil dari gambar besar betapa lemahnya daya saing bangsa ini. Betapa tidak efektif dan efisiennya aparat pemerintahan bekerja. Dan betapa lemahnya nilai-nilai mulia seperti kejujuran ditegakkan dalam pemerintahan.

Saya tentu sadar, insentif finansial bagi aparat pemerintah saat ini masih sangat rendah. Adanya pungutan liar (pungli) pada pelayanan publik tidak terlepas dari rendahnya gaji dan insentif bagi aparat pemerintah, terutama para pegawai rendah dan menengah. Jadi penyelesaian masalah percaloan ini memang merupakan kerja besar juga untuk mensejahterakan pegawai negeri selain tentunya pembinaan mental mereka.

***

Untuk menutup tulisan ini. Dalam pengurusan SIM, ternyata prosesnya tak seseram yang dibayangkan. Saya merasakan, masih ada para polisi yang menjunjung tinggi hati nurani mereka. Mereka tulus dalam memberikan pelayanan. Berkali-kali sayapun berterima kasih atas bantuan mereka dalam melayani dengan baik. Cuma memang ada satu saran: tak apa kita agak sedikit cerewet apabila kita merasa pelayanan yang diberikan tidak proper.

Buitenzorg, 28 Juni 2007,
Adi J. Mustafa


Blog EntryMembuka Celah-celah Mengalirnya KebaikanJun 7, '07 3:42 AM
for everyone

Selesai menghadiri seminar (video conference) di World Bank Office, Jakarta, saya menemui seorang sahabat. Dia bekerja di sebuah bank milik pemerintah. Buat saya pertemuan dengan sahabat-sahabat lama menghadirkan kesenangan batin tersendiri. Saya sering memanfaatkan pertemuan-pertemuan itu untuk belajar. Kalau dapat, saya pun bisa berbagi pengalaman tentang kehidupan.

Dia bercerita bahwa tugasnya saat ini adalah menyusun program-program funding (yang saya fahami, program supaya nasabah bank semakin banyak). Program-program ini lalu diimplementasikan di lapangan pada kantor-kantor cabang. Dia lalu mengevaluasi implementasi tersebut. Kadang dia melakukan monitoring langsung ke lapangan untuk mengukur keberhasilan program yang diluncurkan. Hasil evaluasi dan monitoring itu menjadi feedback baginya untuk memperbaiki program awal.

Dia sampaikan kepada saya untuk dapat berkompetisi dalam prestasi kerja hampir setiap hari dia pulang kantor lewat jam 9 malam. Saya sentil apakah itu sebuah keharusan atau pilihan? Dia menjawab itu memang pilihan. Tapi kalau tidak begitu, dia akan kehilangan banyak informasi. Waktu pagi hingga siang diisi dengan meetings. Sore hari lah dia dan rekan-rekannya berbagi informasi dan meng-update berbagai pengetahuan. Jadi, bisa saja dia pulang sore sesuai jam kantor, tapi harganya adalah dia kehilangan banyak informasi. Itu artinya dia akan ketinggalan dalam berkompetisi.

Dia pun berbagi cerita untuk planning kehidupannya. Apakah dia akan terus bekerja dengan ritme seperti itu? Bagaimana dia berusaha untuk mampu memenej keluarga dengan baik? Dia katakan, dia tidak mau mengalami kejadian-kejadian "cultural shock" setelah dia usai bekerja nanti. Katanya banyak seniornya yang ketika memasuki masa pensiun justru diterpa berbagai penyakit seperti jantung, tekanan darah tinggi, lever dll. Karenanya dia sedang memikirkan untuk memulai sebuah usaha. Satu ide yang secara prinsip saya setujui. Akan tetapi nuansa obrolan ini lebih terasa sebagai identifikasi permasalahan kehidupan.

Dari sekian lama mengobrol saya merasakan ada satu hal yang hilang dari obrolan: memikirkan orang lain. Saya tersadar kalau obrolan barusan lebih banyak didominasi untuk memikirkan "saya" dan "kebahagiaan saya". Karena itu untuk melengkapi obrolan saya sampaikan kepada sahabat itu," Sebetulnya ada hal lain yang dapat kita lakukan untuk menyempurnakan kebahagiaan jiwa kita ... Apalagi buat orang seperti kamu, yang saya pandang sudah cukup mapan dalam masalah ekonomi."

"Apa itu?" tanya sahabat saya.

"Bagaimana kita mulai mengalokasikan waktu untuk berbagi kebaikan kepada orang lain. Ini adalah investasi sosial yang akan melengkapi kebahagiaan kita ..."

"Itu benar sekali ...," timpalnya. "Aku sebenarnya sudah memikirkan hal itu, cuma sampai sekarang masih belum tahu bagaimana memulainya ..."

"Alhamdulillah. Bagus lah kalau begitu," kata saya. "Saya malah cemburu dengan seorang tetangga yang sungguh-sungguh memikirkan masalah sosial dengan membangun yayasan yang dia beri nama Yayasan Mbah Kliwon. Yayasan itu bergerak di bidang pendidikan dan santunan sosial lainnya."

"Boleh tuh ... Cobalah kalau kamu punya ide atau kenalan yang bisa mengelola yayasan seperti itu dimulai. Insya Allah dengan teman-teman lain kita bisa mulai menggalang dananya." Sahabat itu menyambut dengan antusias.

Saya tersenyum dan bersyukur dalam hati. Obrolan dengan sahabat saya akhirnya diisi dengan porsi untuk berbuat kebaikan kepada orang lain. Saya tahu pasti bahwa sahabat saya termasuk seorang yang berjiwa hanif; Punya kecenderungan besar kepada kebaikan. Jadi walaupun baru sebatas niat dan rencana, semoga Allah mencatat ini sebagai bagian dari amal kebajikan. Aamiin.

Sekali lagi saya mendapatkan kebahagiaan batin. Saya belajar, bahwa semakin kita terjebak pada kondisi memikirkan diri sendiri, maka secara tidak disadari kita terperangkap dalam sempitnya memandang kehidupan. Sehebat apapun kiprah kita, kita hanya fokuskan untuk kebahagiaan diri atau paling jauh kebahagiaan keluarga terdekat.

Sebaliknya ketika kebahagiaan yang kita dapatkan, sekecil apapun itu, kita bagikan kepada orang lain, maka saat itu kita sedang berinvestasi sosial. Kebaikan kita memasuki dimensi kehidupan yang lebih luas. Semakin besar kontribusi kebaikan kita berikan semakin besar pula pengaruh baik kita berikan kepada masyarakat. Bahkan kebaikan itu akan tercatat dalam sejarah, meskipun kita sudah meninggal dunia, meskipun kita tak pernah berkeinginan untuk mencatat sejarah. Demikianlah adanya. Seorang pembuat sejarah tak pernah menyengaja dan mengklaim dirinya demikian. Itu hanyalah catatan yang secara alami lahir karena kontribusi kebaikan yang melimpah yang diberikannya kepada masyarakat banyak.

Satu pelajaran lagi. Saya makin yakin bahwa sebetulnya banyak orang yang punya potensi kebaikan besar akan tetapi belum menemukan channel untuk menyalurkan kebaikan itu. Karenanya ada satu celah amal kebajikan, yaitu mengajak dan menuntun orang untuk menemukan saluran-saluran membagi kebaikan itu. Ini adalah satu tugas mulia.

***

Saya teringat kata-kata hikmah Nabi Muhammad saw: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia." Dan juga ajaran beliau: "Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, manakala si hamba dalam keadaan menolong saudaranya."

Wa Allahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi JM
@Bogor-Indonesia
 


Blog EntryKerja Tim: Membuat Nyaman Orang LainApr 26, '07 3:40 AM
for everyone

Ajax-Amsterdam adalah klub sepak bola yang menorehkan prestasi amat mengesankan di awal hingga pertengahan tahun 90-an. Keberhasilan tim ini tidak lepas dari sentuhan pelatihnya Van Gaal.

Pada satu laporan majalah Voetbal di masa kejayaan Ajax tersebut, saya pernah membaca profil Van Gaal. Ada satu kisah yang masih saya ingat. Satu hari selepas berlatih Van Gaal melihat para asuhannya melemparkan baju kaos, kaos kaki, celana dan sepatu secara berantakan, padahal di kamar ganti itu sudah disediakan kotak-kotak khusus untuk menyimpan masing-masing jenis pakaian dan sepatu itu.

Melihat hal di atas, Van Gaal pun mengumpulkan para pemain. Ia lalu berkata kurang lebih," Apa yang kalian telah lakukan? Mengapa kalian tidak merapikan pakaian kalian sesuai tempat yang telah disediakan."

Para pemain menanggapi," Ah ... bukankah sudah ada petugas yang akan membereskan ini semua!"

Van Gaal terkejut dan menjawab," Ini permasalahan serius dalam kerja tim. Bukankah tidak membutuhkan waktu lama bagi kalian untuk menempatkan pakaian itu secara teratur? Bukankah dengan demikian kalian sudah membuat petugas yang akan membersihkan pakaian itu nyaman!" Ia masih melanjutkan," Ini adalah sebuah prinsip dalam kerja tim. Masing-masing anggota tim mesti membuat anggota lainnya nyaman. Dengan begitu setiap orang akan senang dan akan tim pun akan bisa bekerja dengan optimal ..."

***

Membuat nyaman orang lain yang bekerja dalam tim. Ini satu prinsip yang amat indah. Justru di keseharian kita sering menemukan kejadian "kalau bisa mempersulit, kenapa mesti dipermudah"; Sebuah ungkapan yang sering dilontarkan untuk mengritik public services di negeri ini. Masing-masing orang terjebak dalam ego-nya. Masing-masing merasa paling penting dalam kerja tim. Masing-masing orang lebih mendahulukan kepentingan dirinya tanpa peduli bahwa sikapnya merugikan dan membuat orang lain sakit hati.

Perhatikanlah fenomena main serobot jalan pada praktek lalu lintas di tanah air. Perhatikan pula betapa sulitnya praktek antrian diterapkan. Tak peduli sebagai akibat main serobot di jalan itu akan menimbulkan bottle-neck pada satu titik jalanan, tak peduli orang lain tersikut atau terinjak ... Persis seperti sindiran Iwan Fals pada salah satu lagunya "Bento".

yang penting aku senang,
aku menang,
persetan orang susah karena aku,
yang penting asyik,
sekali lagi asyik!

Pada skala institusional ketidakpedulian pada orang lain menampak pada fenomena ego-sektoral, saling berebut proyek secara tidak sehat, atau menyembunyikan data-data yang semestinya saling dipertukarkan dan dimanfaatkan. Akibatnya proses pembangunan berjalan dengan tidak efektif dan tidak efisien. Tumpang tindih kegiatan yang tidak perlu terjadi di sana-sini. Keborosan anggaran pun terjadi. Yang repot, ketika ada kegagalan pembangunan justru yang terjadi adalah saling melemparkan masalah kepada sektor lain.

***

Sikap membuat nyaman orang lain menjadi salah satu kunci sukses kerja tim, seperti pernah diperlihatkan Ajax. Sikap ini juga mesti terus kita bangun untuk membangun "tim besar" masyarakat dan bangsa ini. Operasionalnya, sikap ini mesti dibangun dari mulai lingkungan keluarga. Setiap anggota keluarga mesti diberikan pengertian agar mereka memiliki sensitifitas untuk membuat nyaman orang di lingkungannya. Pada saat satu pekerjaan dapat dilakukan sendiri, tak usahlah merepotkan orang lain. Pada saat terjadi kejadian yang mengganggu orang lain, hendaklah secepatnya memohon maaf dan mengoreksi kekeliruan yang terjadi.

Sikap individu yang ingin membuat nyaman orang lain ini akan menjadi landasan yang kuat bagi terciptanya masyarakat yang saling menghargai dan saling menolong. Ditambah dengan aturan yang baik dan konsisten, sikap ini pun akan mampu membangun kerja-kerja institusional yang efektif dan efisien. Kelak idiom tentang public-service akan berubah "jika bisa mudah, kenapa mesti dipersulit"!

Salam,
Adi JM.
@Bogor-Indonesia


Blog EntryIcha, Profil Remaja BerprestasiMar 27, '07 11:57 PM
for everyone
Anak-anak perlu diperkenalkan dengan tokoh-tokoh yang telah memberikan sumbangan kebajikan bagi umat manusia. Kisah manusia-manusia besar ini pasti berkaitan dengan cita-cita besar yang mereka miliki dan usaha-usaha besar yang mereka lakukan dalam kehidupan. Semakin kaya perbendaharaan pengetahuan pada anak-anak, semakin besar pula vision yang akan mereka miliki dalam menyongsong masa depan.

Sosok Trustia "Icha" Rizqandaru pada tulisan di bawah ini bisa menjadi inspirasi berharga buat anak-anak. Bukan untuk menyama-nyamakan diri dengan orang lain, tapi untuk menambah wawasan bahwa ada kiprah seperti itu dalam kehidupan seorang remaja. Paling tidak menjadi penyeimbang terhadap profil-profil selebritis yang lebih banyak diangkat media massa.

Semoga menjadi bacaan bermanfaat bagi kita semua, terutama dalam proses pendidikan anak.

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan

Icha, ”Jangan Takut untuk Bersuara”

USIANYA boleh saja belia, 18 tahun. Namun, siapa sangka gadis kelahiran 10 September itu cukup aktif menyuarakan hak-hak anak. Bahkan, kiprahnya telah diakui secara nasional, hingga mengantarkannya menjadi duta anak perempuan Indonesia pada Sidang Komisi Kedudukan Wanita (Commission on the Status of Women-CSW) ke-52 di New York, Amerika Serikat, 23 Februari-8 Maret 2007.

Kiprah gadis bernama Trustia Rizqandaru dalam menyuarakan hak anak bermula saat ia duduk di kelas III SMP. Saat itu, gadis yang akrab disapa Icha itu, mewakili sekolahnya untuk mengikuti Pelatihan Konvensi Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak Jabar.

“Dari kegiatan itu, saya bertemu dengan anak-anak dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, mulai dari anak jalanan sampai anak pengungsi. Dari sana, mata saya mulai terbuka melihat realita yang ada. Ternyata, di luar sana masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan haknya,” ujar Icha saat ditemui di SMAN 3 Bandung, Jln. Sumatra, Bandung, Selasa (27/3).

Awalnya, ia hanya merasa kasihan terhadap anak-anak yang haknya terenggut. Sebut saja mereka menjadi buruh pada usia dini atau dipaksa mengakhiri masa lajang pada usia yang masih belia. Namun, seiring dengan seringnya berkumpul dengan alumni pelatihan itu, pikiran Icha pun mulai terbuka.

“Kami harus melakukan sesuatu untuk menyuarakan hak anak yang tertindas,” kata gadis yang masih tercatat sebagai siswa kelas XII SMAN 3 Bandung itu.

Dari sana, tercetuslah ide untuk membentuk forum anak yang secara khusus menyuarakan hak-hak anak. Pada September 2002, Forum Anak Daerah Jawa Barat pun didirikan.

Tak disangka, aktivitasnya dalam organisasi tersebut menarik perhatian UNESCO dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Pada 23 Juli 2006, bertepatan dengan peringatan Hari Anak, ia mendapatkan penghargaan sebagai pemimpin muda. Penghargaan tersebut diberikan bagi anak yang dinilai aktif dalam menyuarakan hak anak.

“Dari seluruh Indonesia, dipilih tiga pemimpin muda, termasuk saya,” ujar siswi yang sempat meraih penghargaan sebagai pelajar SMP teladan tingkat Jabar itu.

Dari sanalah awal keikutsertaan Icha dalam delegasi Indonesia untuk Sidang Komisi Kedudukan Wanita. Ia terpilih dari tiga pemimpin muda tersebut.

Dalam kegiatan tingkat dunia itu, delegasi dari 192 negara membicarakan lima isu besar yang dihadapi anak-anak, khususnya perempuan. Mulai dari sunat perempuan, trafficking, buruh anak, penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, hingga pernikahan di bawah umur.

“Ternyata, di dunia ini masih banyak hak-hak anak, khususnya anak perempuan, yang masih terpasung. Mulai dari maraknya sunat perempuan di Afrika, penjualan anak, sampai pada pengguguran janin perempuan hanya karena menginginkan anak laki-laki,” katanya.

Pengalaman itu, pada akhirnya semakin mengokohkan niat Icha untuk menapaki jalan sebagai aktivis anak. Satu pesan yang dititipkan Icha bagi seluruh anak Indonesia, “Jangan takut untuk bersuara.” (Rika/”PR”)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/28/0105.htm


Beberapa hari belakangan ini detik.com bertubi-tubi menyampaikan berita tentang gonjang ganjing menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI), Jakarta. Sementara ini fokus berita adalah pada koaliasi 15 partai versus PKS. Koaliasi terbentuk di antara partai Golkar, PD, PPP, PBR, PDS, PDI-P plus 9 partai-partai kecil. Tokoh yang diusung sebagai calon gubernur adalah Fauzi Bowo atau biasa dipanggil Foke. PKS sendiri sudah sejak jauh hari mengusung Adang Daradjatun sebagai calon gubernur.

Yang masih tersisa adalah PAN dan PKB. Kedua partai ini belum menentukan pilihan. Karenanya nama calon gubernur yang lain, Agum Gumelar dan Sarwono Kusumaatmadja masih punya kans untuk masuk bursa. Sementara itu Faisal Basri yang tadinya disebut-sebut dijagokan PDI-P mesti rela undur dari bursa calon.

***

Saya sempat sekilas sempat bertanya-tanya, kenapa PKS dikucilkan sendirian. Jawaban paling sederhana dan spontan adalah karena PKS sudah punya calon sendiri sejak jauh hari. Kemudian belakangan semakin kuat indikasi bahwa PKS akan mengambil jatah wakil gubernur untuk kadernya. Tiga nama disebut-sebut paling kuat: Ahmad Heriawan, Dani Anwar dan Igo Ilham. Jelaslah partai-partai lain tidak ada hak suara apapun pada calon gubernur ataupun wakilnya.

Ada pertanyaan tersisa, mengapa untuk kasus Foke 15 partai, terutama 6 yang relatif besar, bisa bersatu padu? Ada beberapa teori yang bisa diajukan. Teori pertama, partai-partai ini bisa dikategorikan sebagai partai nasionalis dibandingkan PKS yang cenderung dipetakan sebagai partai Islam. Sebuah pertarungan klasik. Tapi bagaimana dengan PPP dan PBR? Agak sulit menjawab alasan masuknya dua partai ini ke dalam koalisi besar, kecuali kita memunculkan teori lain.

Teori kedua adalah teori yang diangkat Anis Matta, sekjen DPP-PKS, yaitu adanya kepentingan kelompok elite di belakang koalisi 15 partai. Melihat tokoh yang diusung sebagai calon gubernur, teori ini cukup masuk akal. Tidak bisa dipungkiri bahwa di belakang Foke berjejer sederet elite birokrasi pemerintah daerah (pemda) DKI yang "nasib"-nya sangat bergantung pada terpilih atau tidaknya Foke. Melihat sejarah panjang dominasi partai-partai pendukung Foke dalam birokrasi pemda DKI, elite birokrat itu tentunya ingin mempertahankankewenangan dan kekuasaan mereka*.

Ada sub-teori pada teori kedua ini untuk menjelaskan masuknya PPP dan PBR dalam koaliasi 15 partai. Kita tahu kedua partai ini berasal dari PPP. Dan PPP adalah pemenang pemilu berkali-kali di DKI pada masa sistem "3 partai": PPP, Golkar dan PDI. Karenanya saya menduga masih banyak kader-kader PPP di pemerintahan DKI. Itu sebabnya kedua partai ini pun bisa ikut mendukung Foke.

Teori kedua ini kalau diurai akan sangat panjang. Akan tetapi cukuplah disampaikan di sini, bahwa birokrasi itu terkait dengan aktifitas bisnis di DKI. Perubahan kepemimpinan akan membawa implikasi pada kebijakan dan tidak mustahil akan berpengaruh besar pada arah bisnis di ibu kota negeri. Banyak sudah bukti-bukti lapangan yang menunjukkan "uang", sebagai representasi kekuatan kerja bisnis selama ini, telah mengalahkan pertimbangan masalah sosial, lingkungan, budaya dan agama pada pembangunan DKI.

Dari ilustrasi sederhana di atas kita bisa memahami mengapa Anis Matta mengangkat analogi kisah "bawang merah dan bawang putih" untuk menggambarkan pertarungan PKS di pilkada Agustus 2007 nanti. Anis tegas melihat yang terjadi bukan pertarungan ideologis, akan tetapi pertarungan hari nurani.

Teori ketiga, sepak terjang kader-kader PKS pada DPRD DKI membuat gerah anggota dari partai-partai lain. Saya tidak tahu detil-detil pertarungan ide di ruang parlemen sana, akan tetapi hal yang nampak nyata adalah PKS yang dianggap sebagai common-enemy pada pilkada nanti. Di sisi lain, secara psikologis wajar kalau partai-partai besar seperti Golkar dan PDI-P berhati-hati terhadap PKS terutama di Jakarta. PKS adalah pemenang pemilu di DKI dan dalam banyak pilkada di tanah air memenangkan pemilihan atas Golkar dan PDI-P.

Teori keempat, masih banyak pihak yang khawatir jika PKS memimpin. Ini bisa karena keraguan mereka akan kemampuan PKS yang memang di mana-mana baru muncul dalam lingkungan eksekutif. Bisa juga ada kekhawatiran PKS membawa Jakarta pada kebijakan-kebijakan ekstrim, karena pemahaman yang kurang proporsional terhadap PKS dan terhadap ajaran Islam, yang memang cukup kental diidentikan dengan partai ini.

***

Sekarang kita masih menunggu keputusan dari PAN dan PKB. Beberapa pengamat mengatakan dua partai ini bisa berkoaliasi.

Kita juga menunggu "nasib" dua calon gubernur yang masih punya kans: Sarwono dan Agum. Saya pribadi lebih suka kedua calon ini, terutama Sarwono, masuk ke dalam bursa. Saya melihat Sarwono punya kemampuan dan kepemihakan lebih besar pada masalah lingkungan. Setidaknya kalau kita melihat track-recordnya sebagai mantan menteri lingkungan.

Catatan penting juga adalah tuntutan kepada Foke untuk mundur. Kalau Foke ksatria dan mau membaca trend buruk penyalahgunaan birokrasi untuk kepentingan partai, maka dia mestinya mundur. Alasannya jelas, kalau dia tidak mundur menjelang pilkada nanti, orang akan susah memisahkan aktifitas dia, sebagai birokrat atau aparat pemerintah atau sebagai seorang calon gubernur. Mundurnya Foke juga akan memberi dia jeda waktu untuk keluar dari birokrasi. Ini bagus buat dia dan kebijakannya kelak. Kalau tak ada jeda, cukup besar kemungkinannya kebijakan-kebijakan Foke nanti tidak akan banyak berbeda dengan kebijakan Sutiyoso.

Catatan lain tentang koalisi 15 partai adalah implikasi bagi-bagi kekuasaan yang kompleks. Saya melihat akan ada fragmentasi luar biasa pada birokrasi. Kita bisa membayangkan bagaimana proses tawar menawar pos-pos strategis di birokrasi ini. Di belakangnya kepentingan-kepentingan bisnis juga akan membonceng. Ini catatan penting buat koalisi 15 partai.

Catatan untuk PKS. Partai ini partai yang relatif baru muncul di kancah politik negeri. Aktifitas partai ini unik, yaitu kesibukan pimpinan partai dan para kadernya berlangsung sepanjang tahun dan bukan hanya menjelang pemilu atau pilkada. Akan tetapi bagaimana pun menjelang pilkada akan terjadi mobilisasi aktifitas yang jauh lebih besar daripada hari-hari sebelumnya. Kita sangat berharap agar para kader PKS memanfaatkan momentum ini untuk lebih intensif "mendengar" suara rakyat di Jakarta. Penyusunan "janji-janji kampanye" juga disertai upaya sungguh-sungguh dalam menyusun program-program jitu, jelas tahapan-tahapannya, dan terukur untuk membangun Jakarta. Karenanya segenap potensi kader di berbagai pusat-pusat pengetahuan mesti diberdayakan dalam penyusunan visi dan misi Jakarta ke depan. Semoga visi memimpin dan melayani secara jujur diwujudkan PKS.

Chiba, 16 Maret 2007,
Adi J. Mustafa

---
*
Semestinya aparat pemerintah atau birokrasi tidak terganggu dengan gonjang-ganjing pilkada. Tapi realitas sosial politik di tanah air memang menunjukkan perubahan pada puncak kepemimpinan seringkali disertai terganggunya stabilitas kerja roda birokrasi. Bisa jadi ini disebabkan pemilihan posisi kepemimpinan masih cukup besar dipengaruhi faktor "like dislike" daripada faktor profesionalitas kerja.

VideoBengawan SoloFeb 17, '07 3:51 AM
for everyone
Ceritanya kami sedang mengikuti Conference of The Remote Sensing Society of Japan ke-41 yang diadakan di Okinawa, Desember 2006 lalu. Prof. Tateishi (supervisor saya) ternyata ulang tahun di tengah kegiatan tersebut. Teman-teman yang se-lab yang mengikuti konferensi secara spontan mengadakan kumpul-kumpul untuk mengucapkan selamat kepada Tateishi-sensei. Hadir juga di sana keluarga pemilik hotel dan beberapa tamu yang sudah cukup umur. Kami menginap di hotel sederhana. Suasananya jadi seperti losmen. Ada ruang keluarga di mana para tamu dan pemilik hotel bisa ngobrol-ngobrol santai.

Tiba-tiba saya ditanya oleh pemilik hotel dan seorang bapak tua tamu hotel apakah bisa menyanyikan lagu Bengawan Solo. Tateishi-sensei termasuk yang menyampaikan request itu. Lagu ciptaan Gesang ini memang populer di Jepang. Kata pemilik motel lagu itu diajarkan di SD Jepang, sehingga mereka, terutama yang sudah cukup tua, kenal betul lagu ini.

Karena diminta, akhirnya saya pun menyumbangkan Bengawan Solo. Seorang teman merekamnya. Jelas saya enggak siap. Buktinya di satu kata saya terlupa "nelayan" atau "pedagang", akhirnya jadi "pelayan". Untung orang-orang Jepang enggak ngerti ... hehehe. Dan saat mengulang saya memilih "nelayan". Yang betul ternyata "pedagang". Jadi baris itu mestinya:

... kaum pedagang slalu naik itu perahu ...

Jadi membayangkan, dahulu sungai-sungai itu menjadi urat nadi perdagangan. Hingga sungai-sungai itu dikenal mendunia. Begitulah Bengawan Solo. Dan malah saya baca begitu pula Sungai Ciliwung dahulu kala. Para pedagang yang masuk dari Laut Jawa (Teluk Jakarta) konon bisa berlayar sampai ke ibukota Kerajaan Pakuan atau Bogor saat ini.

Baik sahabat sekalian, inilah Bengawan Solo yang dibawakan seorang amatir. Semoga membuat kita cinta lingkungan dan sungai-sungai kita di tanah air.

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan


bengawan_solo.MPG (17.3 MB)

Tulisan singkat ini dibuat setelah saya membaca journal entry berjudul: Ibu RT: Ingin Dihargai Berapa?. Keteguhan dan kebanggaan seorang perempuan berdedikasi untuk keluarganya memang patut mendapatkan apresiasi.

Ada dua kisah yang pernah saya dengar dari Ustadz Anis Matta yang mengangkat peran besar istri bagi suaminya. Kalau saya tidak keliru ini disampaikan pada pertemuan di Berlin pada tahun 1995. Karena hanya mengandalkan ingatan saya, yang sudah banyak lupanya, maka untuk detil-detil nama dan lain-lain, sahabat sekalian semoga bisa menggalinya lebih jauh.

Ada seorang 'alim (ilmuwan) yang amat terkenal. Ilmu dan wawasannya luas. Kemampuan artikulasi bicaranya menawan. Banyak orang terpikat bila mendengar ceramah-ceramahnya.

Pada satu hari raya, ia diminta menjadi khatib 'ied. Ketika akan berangkat dari rumah, istrinya memanggilnya. Ia menghampiri. Istrinya berkata dengan lembut, "Suamiku, maaf mengganggumu. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa hari ini kita tidak punya persiapan bahan untuk membuat kue lebaran ..."

Sang suami tertegun sejenak. Ia kemudian mengatakan, "Baiklah, setelah sholat nanti aku akan pikirkan masalah ini."

Istrinya kembali memohon maaf sudah mengganggu suaminya. Sang suami pun pergi ke tempat sholat.

Sesuai dengan kemampuannya, 'alim ini menyampaikan khutbah 'ied dengan indah. Orang-orang begitu terkesan dengan materi khutbah. Hingga pada satu bagian khutbahnya sang khotib berucap, " ... dan yang penting dalam hari raya ini, kita harus menyiapkan kue lebaran!" Jama'ah sholat terperanjat. Bagaimana mungkin 'alim sekalibernya mengungkit masalah kue lebaran dalam khutbah yang penting ini. Dan sang 'alim tidak kalah kagetnya ... bagaimana mungkin ia kepeleset lidah menyebut "kue lebaran".

Sholat usai, semua orang kembali ke rumah masing-masing, termasuk sang khotib. Ketika sampai ke rumahnya, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu kepada istrinya, sang istri berkata, "Suamiku, sekali lagi maafkan saya. Ternyata ucapan saya tadi pagi telah mengganggumu." Ia diam sejenak, kemudian melanjutkan," ... akan tetapi, sesungguhnya saya menyampaikan masalah kue lebaran itu, karena saya ingin mengingatkanmu. Engkau, suamiku, bisa dengan tenang mengerjakan berbagai pekerjaan di luar rumah, termasuk menyampaikan ceramah-ceramah yang bermanfaat, karena saya menjaga suasana tenteram di rumah ... Itu yang ingin saya sampaikan."

Nah, sahabat sekalian, bahasa Arab dari kue lebaran itu: daqiqul'ied. Maka kita akan menemukan nama Ibnu Daqiqul 'Ied (atau ditulis Ibnu Daqil al-Ied) dalam literatur klasik keislaman, karena ia memang salah seorang dari 'ulama besar umat Islam. Kisah di atas menjadi awal mula panggilan "si kue lebaran" itu.

***

Ada kisah lain yang juga disampaikan Ustadz Anis Matta. Yang ini terkait seorang 'alim dari dalam negeri: Buya Hamka. Pada satu hari, Buya diundang menyampaikan ceramah dalam satu acara lumayan besar. Ia hadir bersama istrinya.

Tibalah acara inti, seperti sering diucapkan para MC, yaitu acara ceramah dari Buya. Akan tetapi MC pada saat itu kurang lebih mengatakan, "Sebelum kita mendengarkan ceramah Buya Hamka, kami mengundang istri beliau untuk naik ke atas podium dan menyampaikan sepatah dua patah kata kepada kita semua ..."

Deg ... terkejutlah Buya Hamka mendengar nama istrinya dipanggil ke podium. Sepengetahuannya istrinya bukanlah seorang orator yang biasa berbicara di hadapan publik. Akan tetapi dilihatnya istrinya berjalan ke arah podium dengan tenang.

Sesampainya di podium, setelah mengucapkan salam, istri Buya Hamka berkata, "Saya bukanlah seorang yang pandai berpidato atau berceramah. Akan tetapi saya memastikan, bahwa saya selalu merawat dan menyiapkan masakan paling lezat untuk seorang yang pandai berpidato ..." Orang-orang pun terkesiap mendengar kalimat-kalimat yang diucapkannya.

Saya yakin, yang paling terharu dan bangga dengan ucapan perempuan itu adalah suaminya sendiri: Buya Hamka!

***

Menutup kajian saat itu, Ustadz Anis mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa pada peradaban besar manapun, di balik para pahlawan besar dari kalangan lelaki ada perempuan-perempuan besar yang mendukungnya.

Dan demikianlah, kita pun mendapati di sisi Muhammad ar-Rasul saw ada Khadijah, semoga Allah meridhainya, yang senantiasa mendukung beliau dalam perjuangannya, bahkan dalam kondisi sesulit apapun. Maka saya menegaskan, bahwa secara umum di sisi setiap lelaki hebat ada perempuan hebat yang mendukungnya.

Wa Allahu a'lamu bish shawwab.

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan

Blog EntryKisah-kisah Lucu Pengantin BaruFeb 10, '07 11:24 AM
for everyone

Beberapa kisah pendek pengantin baru yang enggak pacaran dulu sebelum menikah ... Selamat menikmati.


1. Panggilan (1)

Beberapa hari setelah hari pernikahan, tiba saatnya pasangan ini berkunjung ke rumah orang tua pengantin lelaki. Setiba di rumah, pengantin perempuan meminta tolong suaminya mengambilkan koper dari ruang tengah.

"Heh ... tolong ambilkan koper dong ...!" Sang suami pun mengambilkan koper yang diminta dan membawanya ke kamar.

Saat itu ayah pengantin lelaki memperhatikan. Mimik wajahnya menunjukkan rasa heran. Ia bertanya kepada anaknya,"'Sep ... istrimu itu memanggilmu bagaimana?"

Si anak menjawab sambil mesem-mesem,"Ya ... dengan "heh" itu tadi, Pak."

Sang ayah pun geleng-geleng kepala. Mimik heran semakin nampak di raut mukanya.

2. Panggilan (2)

Pengantin lelaki dari pasangan ini adalah sahabat saya. Pernikahannya dengan saya hanya berselang bulan. Saya lebih dulu. Hari itu saya dan istri membantu mereka pindahan ke apartemen baru.

Sahabat saya berjalan menaiki tangga lebih dulu. Saya mengikuti. Tiba-tiba saya mendengar teriakan istrinya dari bawah.

"Akhi ... ini barang yang besar tolong sekalian bawain ...."

Saya agak kebingungan. Kok bisa ya istri teman saya meminta tolong sama saya tanpa canggung, padahal belum kenal sama sekali. Belum sempat saya mengolah rasa heran, sahabat saya turun agak buru-buru. Lalu saya lihat dia naik lagi dengan membawa jinjingan agak besar. Oooo, ternyata bukan saya yang dipanggil tadi.

Ketika suasana agak tenang seusai beres-beres apartemennya, hati-hati saya tanya sabahat saya,"Akhi, bagaimana istri antum memanggil antum?"

"Akhi." Sahabat saya menjawab santai.

"Hehhh?! Lalu bagaimana antum memanggil dia?"

"Ukhti ...," jawabnya masih dengan santai.

"Ya ampun, akheeee ...!?" Cuma itu yang saya ucapkan sebagai tanda heran saya.

[Akhi artinya saudara laki-lakiku dan ukhti artinya saudara perempuanku. Biasanya panggilan akrab dalam aktifitas dakwah. Saya tidak tahu kapan panggilan akhi-ukhti dari pasangan pengantin itu berganti jadi "kang-neng", "mas-dek", "schaatje", "darling" atau "yayank" ... hehehe.]

3. Saat Berfoto

Sudah menjadi tradisi, di akhir acara walimahan diadakan acara foto bersama. Pengantin baru, tentu saja menjadi bintang dalam acara berfoto ini. Giliran berfoto pertama adalah bersama keluarga pengantin perempuan.

Pengantin pria melihat istrinya berdiri agak jauh. Dia pun meraih tangan istrinya dan menariknya agar mendekat. Tiba-tiba tangan sang istri menghentak keras pegangan tangan suaminya. Pengantin pria kaget ... Sementara itu pengantin perempuan tampak menunduk dan dari wajahnya rona merah menampak.

Pengantin pria agak mendekatkan wajahnya kepada sang istri, lalu berbisik,"Sekarang saya sudah halal menyentuh, kan? Jarak berdiri kita terlalu jauh ..."

Sang istri masih menunduk, tapi dia pun bergeser perlahan mendekat pada suaminya. Hmmmmm.

4. Waktu Ngopi

Ini adalah pagi kedua setelah akad nikah. Buat pengantin lelaki rasanya seperti mimpi, dia tiba-tiba berada di sebuah rumah yang menyambutnya menjadi bagian keluarga dengan hangat.

Jam 7 pagi.

"Ayo kita ngopi dulu ..." Ah, suara Mamah mertuaku, kata pengantin lelaki dalam hati. Ia pun tersenyum. Seperti mimpi. Tapi ... apa? Ngopi?

Dia pun melihat si Mamah membawa goreng singkong dipotong tipis-tipis dalam piring agak besar. Kemudian si Mamah masuk kembali ke dapur dan membawa keler berisi kripik. Dari dapur istrinya membawa baki berisi beberapa gelas kopi-susu. Ah, istriku ... Seperti mimpi.

Hmm, jadi ini prosesi ngopi itu, kembali pengantin lelaki itu berbicara dalam hati. Ia pun larut dalam ngopi bersama si Apa, ayah mertuanya, si Mamah dan tentu saja istrinya. Seperti mimpi.

"Ayo, 'Cep ... yang banyak makan singkongnya ...," kata si Mamah.

"Iya 'Mah ..." Lebih baik aku enggak makan banyak-banyak, sebab sebentar lagi sarapan, katanya dalam hati.

Jam 8. Kok belum sarapan ya? Jam 9. Masih belum ada tanda-tanda persiapan sarapan.

"Neng ... bentar donk!" Pengantin lelaki memanggil istrinya.

"Ya, ada apa?"

"Hmmm ... maaf ya、mau tanya. Sarapan biasanya jam berapa di sini?"

"Heehhh? Kan tadi udah?"

"Heehhh? Tadi?"

"Iya, ngopi itu sarapan ..."

"Ooooo, gitu ya ..." Wajah penganten lelaki itu bengong abizz!

Esoknya prosesi ngopi masih berlangsung, jam 7. Tapi si Mamah ternyata menyiapkan juga sarapan nasi sekitar jam 8. Hmm, Mamah memang baik hati, kata pengantin lelaki dalam hati.

Pernikahan sudah berlangsung sekian tahun. Setiap kunjungan saat berlibur tak ada sarapan pagi di rumah si Mamah. Yang ada adalah NGOPI! Dan memang begitulah tradisinya. Sang menantu pun selalu makan banyak-banyak saat ngopi. Ia senang dengan hidangan saat ngopi, apakah itu goreng singkong, buras, ubi rebus, atau apapun juga. Ia senang sekali.

[Saya tahu pasti bahwa sang menantu itu sangat menikmati suasana ngopi. Sungguh saya tahu pasti, sebab sang menantu itu adalah saya sendiri!]

***

Diposting di milis Forum Lingkar Pena (FLP)-Jepang, 11 November 2005. Saat itu untuk menyambut salah seorang fungsionaris FLP Wilayah Jepang yang segera mengakhiri masa lajangnya.


Blog EntryRahasia Kebahagiaan -Sebuah Kisah Hikmah-Feb 5, '07 4:15 AM
for everyone
Terkadang kita amat membutuhkan nasihat. Tapi, karena satu dan lain alasan, sangat sulit kita mendapatkan nasihat itu. Orang-orang malah cenderung mengambil jarak. Mungkin maksudnya memberi kita waktu untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Saat itu kita berada dalam kondisi sendirian, dan saat itu dengan penuh kesabaran dan kepekaan kita mesti berdialog dengan hati kita sendiri; Hati yang tak pernah sepi dari bisikan ketakutan, kekhawatiran, keraguan akan kegagalan meraih cita-cita ... Tapi hati ini juga yang membisikkan cinta dan membantu kita membangun kekuatan dan keberanian lagi untuk melangkah mengejar impian, seberat apapun tantangannya.

Kisah-kisah hikmah seringkali membantu kita berdialog dengan hati kita sendiri. Seperti yang saya kutipkan di bawah ini:

===
Seorang penjaga toko mengirimkan anaknya untuk belajar tentang rahasia kebahagiaan dari orang yang paling bijak di muka bumi. Anak laki-laki itu menempuh perjalanan selama empat puluh hari melewati padang pasir dan akhirnya sampai ke sebuah istana yang indah. Di sanalah orang paling bijak tinggal.

Ketika akan memasuki ruang utama istana, alih-alih mencari orang suci, anak lelaki itu mendapatkan hingar bingar aktifitas di sekelilingnya: para pedagang yang datang dan pergi, orang-orang yang mengobrol di sudut-sudut tempat itu, satu orkestra kecil memainkan musik lembut, dan ada sebuah meja yang diatasnya terletak piring-piring besar berisi makanan yang paling enak di sana. Orang bijak yang dicari berbicara dengan setiap orang, dan anak lelaki itu mesti menunggu selama dua jam sebelum ia mendapatkan perhatian dari orang bijak.

Orang bijak itu mendengarkan dengan seksama penjelasan anak lelaki tentang mengapa ia datang, akan tetapi orang bijak itu menyampaikan bahwa ia saat itu tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Ia pun menyarankan si anak lelaki untuk berkeliling melihat-lihat sekeliling istananya dan kembali lagi setelah dua jam.

"Sementara itu, saya ingin memintamu melakukan sesuatu," kata orang bijak sambil menyerahkan sebuah sendok teh yang diisi dua tetes minyak. "Kalau nanti kamu berkeliling, tolong bawa sendok ini bersamamu dan jangan sampai minyak di dalamnya tumpah."

Anak lelaki itu mulai menaiki dan menuruni tangga istana, sementara itu matanya terus memperhatikan minyak di sendok. Waktu berjalan. Setelah dua jam ia kembali ke ruangan di mana ia dan orang bijak bertemu tadi.

"Hmm ... ," Orang bijak mengajukan pertanyaan kepada si anak lelaki, "Apakah kamu melihat permadani-permadani hiasan buatan Persia yang tertempel di ruang makan istanaku? Apakah kamu juga sudah melihat tamanku, yang untuk membuatnya para ahli taman butuh waktu sepuluh tahun? Apakah kamu memperhatikan kertas-kertas indah di perpustakaanku?"

Anak lelaki itu merasa malu dan mengaku bahwa ia tidak mengamati apapun. Perhatiannya hanya tertuju pada sendoknya, agar tidak menumpahkan minyak yang dipercayakan orang bijak kepadanya.

"Kalau begitu pergilah lagi dan amati keajaiban yang ada dalam 'duniaku'," kata orang bijak. "Kamu tidak akan dapat mempercayai seseorang yang tidak kamu ketahui rumahnya."

Dengan perasaan lega anak lelaki itu mengambil sendok dan kembali menjelajahi istana, kali ini mengamati semua karya-karya seni yang ada di langit-langit dan dinding. Ia melihat taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan bunga-bunga, dan semua nilai rasa dan keindahan yang menyertai semua yang diamatinya. Tatkala kembali menemui orang bijak, ia kisahkan semua detil yang ia telah lihat.

"Tapi, mana minyak yang tadi saya titipkan kepadamu?" tanya orang bijak.

Ketika si anak lelaki melihat sendoknya, ternyata dua tetes minyak itu telah hilang dari sendok.

"Baiklah, hanya ada sebuah nasihat yang bisa saya berikan kepadamu," kata orang paling bijak di antara orang-orang bijak. "Rahasia kebahagiaan itu adalah melihat seluruh keajaiban yang ada di dunia, dan jangan sekali-kali melupakan tetes-demi-tetes minyak pada sendok."

(Diterjemahkan dari The Alchemist tulisan Paulo Coelho, pages 32-34)
===


Pelajaran apa yang sahabat sekalian dapatkan dari kisah di atas? Insya Allah, saya akan sampaikan apa kesan saya nanti ...

Salam,
Adi JM.
@Chiba-Japan

Blog EntryJika Programmer Berkisah tentang Rumah TanggaJan 31, '07 12:01 AM
for everyone
Saya tersenyum membaca postingan seorang sobat di Chiba. Saya pikir postingan serieus, karena sobat ini biasa serius. Ternyata memang serius sih masalahnya, tapi isinya membuat tersenyum.

Karena anonim, maka untuk siapapun penulisnya, arigatou ... Anda pasti pasti seorang humoris yang kreatif dan memegang nilai. Anda sudah menyelipkan pesan-pesan bagus lewat Customer Support dan ini sangat membantu mengingatkan Pak Ucup atau siapapun, termasuk saya.

Salam,
Adi JM.

===
Seorang programmer mengirimkan surat berikut:

Yth. Customer Support:

Saya sangat membutuhkan bantuan. Baru-baru ini saya melakukan upgrade program Girlfriend 7.0 ke Wife 1.0 dan diluar perkiraan saya ternyata program baru ini mulai melakukan proses pembuatan sub program Child 1.0 dan juga mulai memakan waktu dan sumber berharga lainnya. Hal ini tidak dicantumkan di brosur produknya.

Sebagai tambahan Wife 1.0 juga mengacaukan program lainnya, memasukkan dirinya ke dalam proses start up harian dimana secara otomatis memonitor semua aktivitas system seperti sebuah Virus.

Program saya lainnya seperti Hang Out Café 2.5 atau Friday Nite Party 3.11 tidak lagi bisa berjalan dan menyebabkan system menjadi crash setiap kali dilakukan. Saya mencoba menjalankan Lazy Saturday 5.0 atau Sleepy Sunday 4.2 namun juga tidak dapat dijalankan, bahkan program Saturday Shopping 3.0 atau Sunday Home Cleaning 3.11 yang muncul.

Sepertinya saya tidak bisa membuat Wife 1.0 bekerja di background sementara saya mencoba menjalankan aplikasi favorit saya lainnya. Saat ini saya sedang berfikir untuk kembali ke Girlfriend 7.0 dan melakukan uninstall program Wife 1.0 namun tidak bisa.

Mohon bantuannya.

Ucup

Sehari setelah dia kirim email itu, dia dapat jawabannya yang isinya:

Yth. Bapak Ucup,

Ini adalah masalah yang sering muncul dari kesalahpahaman yang mendasar sekali. Banyak orang yang melakukan upgrade program Girlfriend 7.0 ke Wife 1.0 berfikir bahwa Wife 1.0 adalah tipe Utility & Entertainment Program.

Sedangkan hal yang sebetulnya Wife 1.0 adalah Operating System, dirancang oleh Programmer kami di HEAVEN UNLIMITED COMPANY untuk menjalankan semuanya.

Anda tidak bisa menghapus Wife 1.0 dan kembali ke Girlfriend 7.0. Wife 1.0 tidak dirancang untuk ini karena jika dipaksakan untuk dilakukan dapat menyebabkan system anda berantakan.

Kami merekomendasikan tetap menggunakan program Wife 1.0 dan coba menghadapi beberapa hal yang Anda anggap sebagai kesulitan sebaik mungkin.

Beberapa tips dari kami jika ada suatu masalah, coba jalankan semua recovery program yang ada di folder C:\APOLOGIZE, seperti Say Sorry 8.0 or Hug & Kiss 9.0.

Walaupun beberapa orang menganggap Wife 1.0 adalah suatu program yang butuh perawatan tinggi, banyak juga orang yang tahu bahwa program ini dapat menjadi sangat menyenangkan. Untuk memperoleh manfaat maksimal program Wife 1.0 ini, Anda dapat mencoba membeli add-on program seperti Listening 5.0, Flowers 2.5 atau Chocolates 1.3.

Dalam hal apapun kami sangat tidak merekomendasikan untuk install program Secretary 1.0 (Short Skirt Version) karena program ini sangat tidak kompatibel dengan Wife 1.0 dan hampir dipastikan akan menyebabkan system menjadi crash.

Semoga dapat membantu,

Customer Support


Blog EntryYa Ampun, Harga Sayuran Melambung!Jan 9, '07 10:12 PM
for everyone
Ini sepenggal cerita istri yang mewakili banyak ibu-ibu yang makin hari makin bingung mengatur uang belanja. Sudah sepekan ini harga sayur mayur pada abang penjual yang biasa muter kompleks naik. Harga tomat naik jadi dua kali lipat alias naik 100%. Begitu juga harga sayuran lain, seperti wortel, mengalami kenaikan.

Saya tanya apa sebabnya? Dia bilang kemungkinan karena ada gagal panen, sebab harga meninggi ini berimpitan waktunya dengan curah hujan di Bogor dan sekitarnya yang sempat memuncak. Apa enggak mungkin karena para pemodal besar memasok sayur mayur ke supermarket dan bukan ke pasar tradisional, pancing saya. Dia bilang, nah itu yang juga bisa jadi penyebab. Pasalnya, beberapa hari ke belakang harga wortel di supermarket malah lebih murah daripada di abang penjual sayur.

Pikiran saya menerawang. Memang bisa jadi para pedagang perantara yang notabene pemodal besar mengalihkan pasokan sayuran ke supermarket. Mereka bisa memperoleh margin keuntungan lebih besar. Akibat supply yang lebih banyak, harga di supermarket jadi murah. Sebaliknya hal ini mengakibatkan harga sayuran naik pada pasar-pasar tradisional karena kekurangan supply ...

Obrolan kami akhirnya menyinggung masalah empati terhadap para pedagang di pasar tradisional, para penjual sayur keliling, dan tentu saja kebanyakan masyarakat Indonesia yang daya belinya masih rendah. Mereka yang meneliti perekonomian, khususnya masalah pasar sayur mayur, tentu bisa mengurai masalah ini lebih sistematis.

Harapan saya, dan tentu para ibu yang menjadi manajer ekonomi rumah tangga, semoga kestabilan harga sayur mayur ini terjaga baik, sebab siapapun tahu betapa pentingnya sayuran bagi kesehatan tubuh. Juga semoga kebijakan dan praktek ekonomi menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat banyak dan bukan pada segelintir orang yang penghasilannya jauh di atas rata-rata ...

Chiba-Japan

Photo AlbumMatsushima - Awal 2007 (16 photos)Jan 5, '07 5:58 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Matsushima, one of the three most beautiful sights in Japan, terletak di satu kawasan pantai di Propinsi Miyagi, daerah Tohoku, Jepang. Pantai ini mengarah ke Samudra Pasifik. Beberapa situs menyebutkan Matsushima merupakan salah satu dari tiga kawasan berpemandangan terindah di Jepang. Matsushima dihiasi tidak kurang dari 260 pulau-pulau kecil. Keunikan pemandangan laut ini mulai terlihat dari bibir pantainya. Dan pemandangan itu semakin terlihat indah ketika kita mengelilingi kawasan dengan cruise boat ... Satu lagi, pada kawasan pantai Matsushima kita dapat mengunjungi berbagai toko yang menjajakan makanan serta souvenir khas.

Special note:
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Dokter Jamal yang bersedia direpotkan menerima kami menginap. Ucapan terima kasih juga buat Mas Suntoyo dan istri untuk makan malamnya. Dan tak lupa terima kasih kepada Mas Nonot dan istri yang menyiapkan okonomiyaki yang enak. Moga-moga kebaikan sahabat sekalian dibalas Allah swt dengan balasan yang lebih baik. Buat Bang Jamal dan Mas Nonot semoga sukses riset doktornya dan buat Mas Suntoyo semoga sukses juga dengan post-doctoral research-nya. Salam untuk sahabat-sahabat lain di Sendai. Mohon maaf kami enggak bisa bertemu, karena sempitnya waktu. (Adi, Rahmat, Bayu, Romi, Kelik, Yasser dan Basyarie)

Photo AlbumInawashiro-ko - Awal 2007 (12 photos)Jan 3, '07 7:52 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Inawashiro-ko: Salah satu tempat bermigrasi unggas-unggas dari Rusia

Bersama beberapa teman PPI-Chiba mengadakan trip awal tahun ke Gunma-Sendai, sekalian mengunjungi beberapa teman dan sahabat di dua kota itu. Pada perjalanan Gunma-Sendai kami mampir di Inawashiro-ko atau Danau Inawashiro di Fukushima-ken. Kawasan ini cukup tinggi dan masih bersalju. Pemandangan Inawashiro yang indah bertambah cantik dengan kehadiran banyak angsa dan bebek yang bermigrasi dari satu kawasan di Rusia. Inawashiro-ko yang dingin itu rupanya "cukup hangat" bagi gerombolan unggas ini untuk mencari makan ...

===
Special note:
Terima kasih buat Kang Yana yang udah secara hangat menerima kedatangan kami bertujuh untuk menginap. Punten udah ngarerepot. Semoga Allah swt membalas kebaikan Kang Yana dan semoga sukses selalu dengan post-doctoral research-nya di Gunma-daigaku. (Dari: Rahmat, Kelik, Romi, Bayu, Yasser, Basyarie dan Adi)

Pages:123